Tiga hati,Satu Luka

Judul: Tiga Hati, Satu Luka


Mereka bertiga bersahabat sejak SMA: Dina, Alya, dan Rani. Mereka seperti saudara, tak terpisahkan. Saling mendukung dalam suka dan duka, berbagi rahasia, dan bermimpi masa depan bersama. Hingga akhirnya, dunia mereka mulai retak oleh satu hal: cinta.

Di awal kuliah, Dina mengenal Arfan, pria sederhana namun perhatian. Mereka mulai dekat, dan tanpa banyak cerita, Dina jatuh hati. Tapi karena sifatnya yang tertutup, ia belum sempat mengungkapkan perasaannya kepada Alya dan Rani.

Namun tanpa diduga, suatu hari Rani datang membawa kabar bahagia. “Kalian tahu Arfan? Dia nembak aku kemarin!” katanya dengan senyum lebar. Dina terdiam. Dadanya sesak, tapi ia tersenyum palsu.

Alya yang tak tahu apa-apa ikut bahagia, bahkan membantu Rani menyiapkan hadiah untuk Arfan. Dina memilih diam, menyembunyikan lukanya, berharap rasa itu akan hilang.

Waktu berlalu. Persahabatan mereka mulai terasa hambar. Dina semakin menjauh, dan Rani sibuk dengan dunianya bersama Arfan. Alya mencoba menjaga agar mereka tetap kompak, tapi tak berhasil.

Hingga suatu hari, Alya menemukan sesuatu yang mengejutkan: chat pribadi antara Dina dan Arfan, penuh kenangan lama dan rasa yang belum selesai. Ternyata Arfan pernah juga dekat dengan Dina, sebelum akhirnya pindah hati ke Rani. Dan Dina, menyimpan semua itu dalam diam.

Rani marah besar. Baginya, Dina telah menusuk dari belakang. “Kenapa nggak bilang dari awal kalau kamu pernah dekat sama dia?! Kamu pura-pura jadi sahabat!” teriaknya.

Dina menangis. Ia hanya tak ingin kehilangan semuanya sahabat dan cinta. Tapi semuanya sudah hancur. Kepercayaan rusak. Luka terlalu dalam.

Alya pun tak sanggup memihak. Ia kecewa pada keduanya pada Dina karena menyembunyikan, pada Rani karena membiarkan emosi menghancurkan segalanya.

Persahabatan mereka kandas.

Kini, tiga hati yang dulu saling menjaga, berjalan di jalan masing-masing. Tak lagi saling menyapa. Hanya kenangan yang tersisa, dan satu pertanyaan di hati masing-masing: "Apa semua ini sepadan?"

Bab: Aku yang Diam, Aku yang Disalahkan

Setiap kali aku melihat mereka tertawa Alya dan Rani aku berusaha ikut tersenyum. Tapi tak ada yang tahu, di dalam hatiku, aku sedang sibuk meredam rasa sakit.

Aku mengenal Arfan lebih dulu. Kami sering bertukar cerita lewat pesan singkat. Waktu itu, aku merasa dia mulai menyukaiku. Tapi aku ragu. Aku takut jika aku bercerita ke Rani dan Alya, mereka akan menggodaku, atau lebih buruk… mereka juga menyukainya.

Aku terlalu takut kehilangan.

Saat Arfan perlahan menjauh dan mulai dekat dengan Rani, aku cuma bisa menatap dari jauh. Dan ketika Rani datang dengan wajah bahagia, mengabarkan bahwa Arfan menyatakan cinta padanya, aku tahu… aku kalah. Tapi lebih dari itu, aku merasa terkhianati oleh nasib. Bukan oleh Rani. Bukan oleh Arfan. Tapi oleh keadaan yang tak pernah memihakku.

Aku memilih diam. Aku mencoba mengikhlaskan, berusaha menjadi sahabat yang baik. Tapi hatiku mulai berubah. Aku lebih sering menghindar. Rani mengira aku sibuk. Alya bertanya-tanya, tapi tak pernah benar-benar mendesakku.

Lalu, semuanya pecah saat Alya menemukan isi pesan lama antara aku dan Arfan.

"Jadi kalian dulu pernah dekat?!" seru Rani dengan mata merah. "Kenapa kamu diam, Din? Kenapa kamu biarin aku jatuh cinta sama orang yang kamu suka?!"

Aku tak bisa menjawab. Lidahku kelu. Air mataku jatuh, tapi tak ada satu pun yang peduli. Rani marah. Alya kecewa. Dan aku… hancur.

Mereka bilang aku pengkhianat. Mereka menuduhku munafik, egois, menyimpan rahasia.

Tapi… bukankah aku hanya diam? Diam karena takut kehilangan semuanya?

Hari itu, aku berjalan pulang sendiri, untuk pertama kalinya tanpa mereka di sampingku. Persahabatan yang aku jaga bertahun-tahun runtuh dalam satu malam.

Sejak itu, tak ada lagi pesan di grup kami. Tak ada lagi tawa bersama. Bahkan jika kami bertemu di jalan, hanya tatapan kosong yang saling dilempar.

Bab: Tiga Hati, Tiga Jalan

Kini, setahun berlalu.

Rani sudah putus dengan Arfan. Katanya, dia tak bisa lagi percaya sepenuhnya. Arfan pun memilih pindah kota. Alya sibuk dengan kuliahnya dan teman-teman baru.

Dan aku? Aku sedang belajar memaafkan diriku sendiri. Memaafkan karena telah terlalu lama menahan, terlalu lama takut, dan akhirnya menghancurkan segalanya.

Kadang, aku duduk sendiri di taman tempat dulu kami bertiga sering mengobrol. Aku memandang bangku kosong di sebelahku, dan dalam hati, aku berkata, "Maafkan aku... aku terlalu mencintai kalian, sampai tak tahu cara mempertahankan kalian.”

Hari ini aku kembali ke kampus, bukan sebagai mahasiswa, tapi sekadar melepas rindu pada kenangan. Aku duduk di bangku taman yang dulu jadi tempat kami berbagi cerita, tawa, bahkan air mata.

Kupandangi langit yang mulai kelabu, seperti hati yang belum sembuh. Aku membuka catatan kecil di ponselku dulu tempatku menulis puisi diam-diam untuk Arfan.

"Kalau aku mencintaimu diam-diam, itu karena aku lebih takut kehilangan sahabatku daripada kehilanganmu."

Satu pesan yang tak pernah kukirim, satu rasa yang tak pernah kusuarakan.

Alya menghubungiku seminggu lalu. Dia hanya mengirim pesan singkat:

 “Dina, aku rindu kita bertiga. Tapi aku juga masih bingung. Harus mulai dari mana?”

Aku tak balas. Bukan karena aku tak rindu tapi karena aku takut harapan akan membawa luka baru. Entah kenapa, pertemanan yang dulu terasa abadi, kini seperti pecahan kaca yang tak bisa disatukan lagi. Bahkan jika dicoba, tetap akan melukai.

Rani juga pernah mengirim pesan, hanya satu kalimat:

 “Andai kamu jujur dari awal…”

Aku membaca pesan itu berkali-kali, hingga malam. Tapi aku tahu, tak ada yang bisa kujelaskan. Karena penyesalan selalu datang terlambat, dan kejujuran yang ditunda terlalu lama hanya akan dianggap kebohongan.

Bab: Apakah Masih Bisa Kembali?

Aku berjalan ke lorong fakultas, dan di dinding koridor, kutemukan foto lama kami bertiga saat mengikuti lomba debat. Wajah kami masih utuh di sana bahagia, tak ternoda.

Aku tersenyum kecil. Lalu seseorang menyapa dari belakang.

“Dina?”

Aku menoleh. Alya.

Dia berdiri dengan canggung, membawa dua gelas kopi dalam tangan. Sejenak hening. Lalu ia berkata:

“Kamu masih suka kopi manis, kan?”

Aku hanya mengangguk.

Dia duduk di sebelahku, seperti dulu.

“Kadang, aku mikir… kita ini cuma salah paham. Tapi masing-masing terlalu gengsi buat memperbaiki.”

Aku menunduk. Suara angin seperti menggiring perasaan yang sudah lama terpenjara.

“Menurutmu,” tanyaku pelan, “kalau aku jujur dari awal… kita masih bisa seperti dulu?”

Alya diam. Lama. Lalu menjawab lirih, “Mungkin iya, mungkin juga nggak. Tapi setidaknya kita nggak akan saling diam seperti ini terlalu lama.”

Hari itu, kami bicara banyak. Tentang Rani, tentang Arfan, tentang luka dan penyesalan. Tidak ada air mata. Tidak ada pelukan. Hanya dua hati yang sama-sama pernah kecewa… mencoba berdamai.

Kami belum bertiga lagi. Belum tahu apakah bisa kembali seperti dulu. Tapi satu langkah sudah dimulai.

Dan aku sadar…

Terkadang, pertemanan bukan soal selalu bersama. Tapi tentang seberapa besar kita bisa saling memaafkan… ketika semuanya sudah tidak sama.

Namaku Rani.

Aku bukan gadis sempurna. Aku keras kepala, mudah tersinggung, dan mungkin terlalu jujur saat marah. Tapi satu hal yang kupikir tidak pernah kulakukan: mengkhianati sahabat sendiri.

Dina dan Alya adalah dua orang yang paling aku percaya di hidupku. Kami bertiga seperti segitiga kokoh. Aku percaya pada mereka seperti aku percaya pada keluargaku sendiri.

Lalu datang Arfan.

Cinta datang tanpa izin. Aku tahu, sejak pertama kali kami kenal, Arfan bukan pria biasa. Ia dewasa, punya wawasan, dan tenang. Dan aku pikir… aku beruntung ketika dia menyatakan perasaan.

Kupikir sahabat-sahabatku akan bahagia untukku.

Tapi yang aku dapat dari Dina bukan senyum, melainkan jarak. Bukan pelukan hangat, tapi tatapan kosong. Awalnya aku tak peduli. Aku pikir mungkin dia sedang sibuk, atau punya masalah lain. Tapi semakin hari, hatiku terus merasa ada yang aneh.

Hingga akhirnya... aku tahu.

Alya yang menunjukkan

padaku pesan-pesan lama antara Dina dan Arfan. Tertanggal sebelum aku jadian dengan dia. Di sana ada tawa, ada kode cinta yang belum selesai. Ada masa lalu yang sengaja disimpan rapat.

Dan di situlah aku merasa dikhianati bukan cuma oleh Arfan… tapi oleh sahabatku sendiri.

Bab: Jika Kau Sahabatku... Kenapa Kau Diam?

"Aku cuma takut kehilangan kalian..." kata Dina saat aku memarahinya.

Tapi aku merasa kehilangan justru karena dia diam. Karena dia memilih bungkam, padahal setiap hari kami bertiga berbagi cerita. Mengapa rasa sedalam itu tak dibagikan?

Apa aku terlalu egois jika aku merasa Dina harusnya jujur?

Apa aku terlalu jahat jika aku kecewa?

Aku mulai menjauh. Alya juga. Kami bertiga hanya tinggal nama dalam foto. Grup chat kami kini sunyi. Dan aku... aku terluka bukan karena Arfan aku bisa melupakan laki-laki. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya melupakan sahabat yang kucintai seperti saudara sendiri.

Bab: Bertanya dalam Sepi

Aku sering bertanya pada diri sendiri…

 “Kalau aku tahu dari awal, apakah aku masih akan menerima Arfan?”

Mungkin tidak.

 “Kalau Dina bilang lebih dulu, apakah aku akan mengerti?”

Mungkin iya. Mungkin aku akan sakit… tapi setidaknya tidak sekecewa ini.

Sekarang aku tahu, kadang luka tidak berasal dari penghianatan terang-terangan. Tapi dari kejujuran yang disembunyikan terlalu lama.

Suatu sore, Alya mengirim pesan.

“Aku bertemu Dina. Dia masih menyimpan puisi tentang Arfan di catatannya. Tapi sekarang dia lebih menyalahkan dirinya sendiri daripada siapa pun.”

Aku tak tahu bagaimana harus merespons. Tapi malam itu, aku membuka kembali foto lama kami bertiga. Foto yang selama ini kutolak untuk kulihat.

Dan aku sadar...

Aku belum siap memaafkan. Tapi aku juga tak ingin membenci.

Mungkin kami bertiga tak akan pernah bisa kembali seperti dulu. Tapi aku ingin mengingat masa itu tanpa dendam. Tanpa getir. Hanya sebagai bagian dari hidup, bagian dari proses menjadi dewasa.

Lima tahun telah berlalu.

Waktu berjalan cepat, tetapi luka tak selalu sembuh secepat itu.

Dina kini menjadi penulis lepas. Ia menulis cerpen di berbagai media online dan sebagian tulisannya tentang sahabat dan cinta tak terucap. Orang-orang mengira itu fiksi, padahal… sebagian berasal dari hatinya sendiri.

Rani bekerja di sebuah NGO, sering berpindah kota untuk membantu perempuan korban kekerasan. Ia belajar bahwa luka tak selalu tampak di kulit ada luka di hati yang tak terdeteksi, kecuali oleh diri sendiri.

Sementara Alya… dia memilih menjadi guru di kota kecil. Mungkin karena di sanalah, dia bisa memulai ulang dengan tenang. Tapi satu hal yang tak pernah ia lupakan: kedua sahabatnya.

Pertemuan Tak Terduga

Sore itu, di sebuah acara reuni kecil kampus, tak ada yang menyangka mereka bertiga akan hadir bersamaan.

Dina datang lebih dulu, canggung. Rani muncul kemudian, lebih tenang tapi waspada. Alya menjadi penengah, seperti biasa.

Tak ada pelukan. Tak ada tawa keras seperti dulu. Tapi mata mereka saling bicara dan dalam diam itu, ada getaran yang tak bisa disembunyikan: rindu.

Alya memecah keheningan. “Lima tahun terlalu lama buat marah. Tapi tidak terlalu lama untuk memulai ulang.”

Dina menunduk, matanya berkaca. “Aku nggak pernah benar-benar bisa minta maaf dengan baik…”

Rani menarik napas panjang, lalu berkata, “Aku juga bukan orang yang paling benar saat itu. Tapi... kamu tetap bagian dari hidupku, Din.”

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka bertiga duduk bersama, tanpa beban, tanpa dendam. Hanya hati yang mulai sembuh perlahan.

Akhir yang Tidak Sempurna, Tapi Nyata

Tidak, mereka tidak kembali seperti dulu. Waktu telah mengubah banyak hal.

Tapi kini, mereka saling menyapa lagi. Kadang bertukar kabar. Kadang saling mengingatkan ulang tahun. Tak sesering dulu, tak sedekat dulu… tapi cukup.

Karena persahabatan yang pernah hancur, jika diperjuangkan dengan hati yang jujur, masih bisa menemukan jalan pulang.

Setelah pertemuan itu, tak banyak kata yang terucap di antara mereka. Tapi perlahan, komunikasi yang sempat mati… kembali bernyawa.

Mereka tak lagi membahas Arfan. Nama itu kini hanya bagian dari masa lalu yang pernah menyakitkan, namun juga mendewasakan. Mereka menyadari bahwa masalah terbesar mereka bukanlah laki-laki itu, melainkan kejujuran yang tertunda dan gengsi yang tak mau mengalah.

Suatu malam, Dina menulis di blog pribadinya:

 “Persahabatan bukan tentang siapa yang selalu ada saat bahagia. Tapi tentang siapa yang masih bisa kamu lihat di mata, meski kalian pernah saling melukai.”

Tulisan itu dibaca oleh Alya dan Rani.

Rani meninggalkan komentar:

 “Terluka bukan alasan untuk menghapus semua kenangan. Kita pernah hancur, tapi setidaknya kita tak saling membenci.”

Alya membalas:

“Mungkin kita tidak akan pernah sedekat dulu, tapi aku percaya... kita lebih dewasa sekarang.”

Dan begitulah…

Mereka bertiga kini berjalan di jalan yang berbeda, tapi hati mereka tak lagi saling menjauh. Mungkin tidak ada lagi tawa setiap hari, atau janji untuk selalu bersama.

Tapi ada yang jauh lebih berharga: pengampunan.

Karena dalam hidup, beberapa hal memang tak bisa kembali seperti semula. Tapi bukan berarti tak bisa menjadi lebih baik.


TAMAT 




Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa