Rembulan Yang Menyimpan Namamu
"Rembulan yang Menyimpan Namamu"
Namanya Alya, seorang wanita sederhana, berhati lembut, yang lebih suka memendam rasa daripada mengganggu bahagia orang lain. Ia mencintai dalam diam cinta yang tak pernah ia ucapkan, bahkan kepada sahabat terdekatnya sekalipun.
Lelaki itu bernama Rafka. Seorang laki-laki yang dikenal karena akhlaknya yang baik, pemahaman agamanya yang dalam, dan keteduhannya yang menenangkan siapa saja yang berada di dekatnya. Ia tidak banyak bicara, tapi satu senyumannya bisa membuat dada Alya bergetar hebat. Sosoknya selalu menjadi pusat perhatian dikejar banyak wanita, dipuji banyak orang. Tapi tidak dengan Alya. Ia hanya mengagumi dari jauh, cukup dari sela-sela pandangan dan doa yang lirih setiap malam.
Rafka adalah rembulan bagi Alya. Jauh, indah, dan tak tergapai.
Mereka pernah satu kelompok dalam kegiatan sosial di kampus dulu. Saat itu, mereka sempat banyak berinteraksi. Membahas pembagian tugas, kegiatan dakwah, hingga masalah kecil seperti siapa yang lupa bawa spidol untuk presentasi. Kebersamaan itu singkat, tapi cukup untuk menyimpan kenangan di hati Alya. Saat Rafka dengan tenang memimpin rapat sambil menahan tawa karena mic mati, atau ketika ia membantu seorang ibu tua yang jatuh di pinggir jalan saat perjalanan pulang semua itu terpatri di hati Alya, seperti ukiran yang tak bisa dihapus.
Namun, seiring waktu, semuanya berubah. Rafka lulus lebih dulu. Kesibukannya bertambah, komunikasi makin renggang. Alya hanya bisa melihatnya lewat unggahan story kajian, potret senja, dan kutipan-kutipan bijak yang Rafka bagikan di media sosial. Dan setiap Alya melihat bulan, ia selalu teringat Rafka karena dulu mereka pernah duduk di bawah rembulan yang sama saat menunggu angkot pulang dari acara kampus, dan berbicara tentang cita-cita serta pentingnya menjaga hati.
Sejak saat itu, rembulan menjadi saksi bisu rindunya.
Banyak wanita mencoba mendekat pada Rafka. Bahkan salah satu teman Alya pun pernah bercerita ingin menjadikan Rafka sebagai suami. Alya hanya tersenyum, meski hatinya mencelos. Ia tahu, Rafka bukan miliknya. Dan cinta, bagi Alya, bukan soal memiliki. Tapi soal mendoakan dalam diam, agar orang yang dicintainya selalu dalam lindungan Allah.
Setiap malam, sebelum tidur, Alya berbisik pelan pada langit:
"Ya Allah, jika memang dia bukan untukku, jangan hapus rasa ini... tapi ubahlah ia menjadi kekuatan untukku menjadi lebih baik."
Dan bulan di langit, entah kenapa, seperti ikut menangis bersamanya.
Waktu berjalan pelan, tapi pasti. Alya sudah bekerja sebagai guru di sebuah sekolah Islam terpadu. Lingkungannya mendukung ketenangan batinnya, tapi tetap saja, bayang-bayang Rafka masih kerap hadir di sela-sela doa dan kesendiriannya. Bahkan, ketika sedang mengajar anak-anak tentang rukun iman atau ketika duduk sendiri di ruang guru saat istirahat, hatinya kadang terhanyut ke masa lalu ke saat-saat ia dan Rafka berbagi cerita di bawah cahaya bulan.
Hingga suatu malam, rembulan kembali bersinar terang di langit.
Alya duduk di balkon rumahnya. Angin malam berhembus pelan, membawa kenangan yang perlahan datang menyusup. Tangannya menggenggam cangkir teh hangat, tapi pikirannya melayang jauh.
Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Notifikasi dari Instagram. Seseorang menandainya di sebuah postingan.
Dengan jantung yang berdetak aneh, Alya membuka tag tersebut. Ternyata itu adalah unggahan dari teman lamanya di kampus. Sebuah foto reuni kecil, dan di sana di salah satu sudut foto ada Rafka. Masih sama. Tatapan yang meneduhkan, senyum yang tenang. Namun ada satu hal yang membuat dada Alya sesak.
Rafka menggandeng tangan seorang wanita.
"Alhamdulillah, akhirnya Rafka menemukan tambatan hatinya," tulis caption di foto itu.
Alya terdiam. Matanya mematung pada layar. Lalu turun perlahan ke lantai langit-langit yang diterangi cahaya rembulan. Rasanya seperti rembulan ikut memudar bersama kenyataan bahwa harapan yang selama ini ia rawat... telah patah.
Malam itu, Alya tidak menangis. Tapi ia diam. Diam yang sunyi. Diam yang berat.
Esoknya, ia datang ke sekolah seperti biasa. Senyumnya tetap ada, tapi ada sesuatu yang berubah dalam tatapannya. Bukan sedih... tapi lebih tenang. Seolah, kehilangan yang tak pernah dimiliki itu justru membuatnya lebih ikhlas. Lebih kuat.
Dalam hati, Alya berkata:
"Ternyata mencintai dalam diam juga mengajarkan keikhlasan yang dalam. Bukan untuk melupakan, tapi untuk merelakan. Bahwa tidak semua yang kita harapkan adalah takdir terbaik untuk kita."
Sejak malam itu, rembulan tak lagi menyakitkan. Kini, ia menjadi teman sunyi, yang menyimpan rahasia cinta yang tak pernah terucap. Cinta yang tumbuh tanpa pamrih, dan akhirnya mekar sebagai doa yang ikhlas.
Dan mungkin... suatu hari nanti, Allah akan hadirkan seseorang yang juga mencintai Alya dalam diam. Seseorang yang akan melihat dirinya seperti ia dulu melihat Rafka dengan penuh kagum dan hormat, tanpa harus merebut.
Karena cinta yang disimpan rapi dalam doa, tak akan pernah hilang sia-sia. Ia akan kembali entah dalam bentuk yang sama, atau dalam bentuk cinta yang lebih baik.
Beberapa bulan telah berlalu sejak malam itu. Sejak Alya benar-benar melepaskan Rafka, ia menjadi lebih damai. Ia fokus pada pekerjaannya, murid-muridnya, dan terutama pada dirinya sendiri. Ia lebih rajin membaca Al-Qur'an, mengikuti kajian, dan menata hidupnya agar lebih tenang dan penuh makna.
Namun seperti kata pepatah: "Ketika kamu melepaskan sesuatu dengan ikhlas, kadang Allah mengirimkan yang lebih indah tanpa diduga."
Hari itu, sekolah tempat Alya mengajar kedatangan guru baru. Namanya Fahri, guru tahfidz yang dipindahtugaskan dari cabang pesantren pusat. Usianya sebaya dengan Alya, karakternya santun dan lembut, namun juga punya selera humor yang membuat suasana jadi hidup. Berbeda dengan Rafka yang tenang dan dingin, Fahri punya cara tersendiri menyentuh hati lewat kebaikan-kebaikan kecil.
Alya awalnya biasa saja. Ia sudah cukup kenyang dengan urusan hati, dan tidak ingin berharap lagi. Tapi entah kenapa, kehadiran Fahri membawa perasaan yang... tenang.
Fahri tidak banyak bertanya, tapi ia peka. Ia tahu kapan harus membantu tanpa diminta. Saat Alya kerepotan membawa buku-buku, Fahri membantu tanpa banyak bicara. Saat murid Alya menangis karena ujian, Fahri membantu menenangkan dengan sabar. Dan yang paling menyentuh… saat ia pernah berkata setelah rapat guru,
"Orang baik memang kadang terlambat datang, karena Allah ingin kita lebih siap menerimanya."
Kata-kata itu menghantam hati Alya.
Tanpa sadar, ia mulai memperhatikan Fahri. Bukan karena kagum semata, tapi karena hati kecilnya merasa: ada ketulusan di balik sikap Fahri. Bukan pesona seperti Rafka dulu, tapi kedalaman jiwa yang memberi rasa nyaman.
Dan ternyata, bukan hanya Alya yang merasakan itu.
Suatu sore, kepala sekolah memanggil
Alya ke ruangannya. Dengan senyum hangat, beliau berkata:
"Alya, maaf kalau ini mengejutkan. Tapi Fahri datang ke saya… katanya dia ingin taaruf denganmu. Sudah istikharah katanya. Katanya, kamu perempuan baik yang insyaAllah bisa jadi pasangan dalam kebaikan."
Alya tertegun.
Jantungnya berdebar, bukan karena rasa
takut, tapi karena rasa syukur yang meluap-luap. Ia tidak menyangka bahwa setelah segala luka diam, setelah ia menyerahkan seluruh rasa hanya pada Tuhan, justru cinta datang... bukan sebagai khayalan, tapi sebagai kepastian.
Malam itu, ia kembali memandang rembulan.
Namun kali ini ia tersenyum, bukan menangis.
"Terima kasih ya, rembulan... kau pernah menyimpan rasa sedihku. Sekarang, kau jadi saksi kebahagiaan yang Allah hadiahkan padaku."Tak butuh waktu lama, proses taaruf antara Alya dan Fahri berjalan dengan lancar. Keduanya menjalani masa perkenalan yang sederhana namun penuh makna. Mereka tidak saling bertanya "apa makanan favoritmu", tapi lebih sering berdiskusi tentang visi hidup, cara mendidik anak, dan impian membangun rumah tangga yang Allah ridai.
Fahri bukan sosok romantis seperti di novel. Tapi ia selalu jujur dan tenang.
"Aku tidak mencari istri sempurna, Alya. Aku mencari teman hidup yang bisa bersamaku memperbaiki diri, sampai sama-sama pulang ke surga."
Kalimat itu cukup untuk membuat Alya yakin. Ini bukan cinta yang menggebu, tapi cinta yang menenangkan. Cinta yang tidak membuat jantung berdebar kencang seperti dulu saat memikirkan Rafka melainkan membuat hati merasa pulang.
Hari itu tiba juga.
Dengan kebaya sederhana berwarna krem, dan senyum yang gemetar menahan haru, Alya duduk di samping Fahri. Di depan saksi dan keluarga, ijab kabul dilafalkan dengan tenang. Hanya butuh beberapa detik untuk mengubah statusnya dari gadis yang dulu mencintai dalam diam, menjadi istri yang kini dicintai dalam terang.
Air mata Alya menetes. Bukan karena sedih, tapi karena syukur yang tak mampu ia rangkai dalam kata.
Malam harinya, Fahri mengajak Alya ke atap rumah kontrakan sederhana mereka. Di sana, rembulan menggantung di langit yang bersih. Seolah menyambut cinta baru yang lahir dalam ridha-Nya.
"Kamu suka bulan, ya?" tanya Fahri pelan.
Alya hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Dulu, rembulan sering jadi tempatku menitipkan luka..." katanya lirih.
Fahri meraih tangan Alya, menggenggamnya hangat.
"Mulai malam ini, semoga rembulan jadi saksi bahwa kamu tak akan sendiri lagi. Aku nggak janji jadi suami yang sempurna, tapi aku janji akan selalu berusaha menjadi tempat kamu pulang."
Alya tak berkata apa-apa. Ia hanya memeluk pelan... dan malam itu, rembulan tak lagi menyedihkan. Ia bersinar, bukan untuk mengingatkan luka lama, tapi untuk menyinari cinta baru yang tumbuh dengan ridha-Nya.
Dan cinta itu… terus tumbuh.
Dalam tawa sederhana saat memasak mie bareng, dalam obrolan panjang tentang nama calon anak, dalam lelah yang ditanggung berdua, dan dalam doa yang tak pernah absen di sepertiga malam.
Karena ternyata, cinta paling indah bukan yang paling awal, bukan yang paling berdebar…
tapi yang hadir terakhir, dengan ketulusan paling dalam.
Sudah enam bulan sejak akad suci itu diucap. Alya dan Fahri tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Rumah itu sederhana lantai keramik putih polos, kamar hanya dua, dan dapur mungil yang kadang bocor saat hujan deras. Tapi rumah itu penuh tawa, zikir, dan harapan.
Alya belajar bahwa menikah bukan soal senyuman manis tiap pagi, tapi tentang saling menenangkan saat lelah datang. Bukan hanya soal "aku cinta kamu", tapi juga tentang sabar saat Fahri pulang larut karena urusan sekolah atau saat gajinya tak cukup untuk beli blender impian Alya.
Namun, di setiap kekurangan itu, ada cinta yang tumbuh perlahan.
Fahri selalu menyempatkan diri mengimami Alya. Meski terkadang hanya isya berjamaah karena sama-sama kelelahan. Tapi dalam sujud yang sama itu, hati mereka saling mengikat lebih kuat. Kadang, usai sholat, Fahri menggenggam tangan Alya dan berdoa dalam bisik:
“Ya Allah, jaga wanita ini untukku, dan jaga aku untuknya. Jadikan rumah ini tempat turunnya rahmat dan keberkahan.”
Dan malam itu, ketika mereka duduk di teras, rembulan menggantung di langit.
“Alya,” kata Fahri, memecah keheningan.
“Apa kamu pernah menyesal menikah denganku?”
Alya menoleh pelan. Ia tersenyum tipis.
“Tidak. Bahkan jika harus mengulang hidup dari awal... aku ingin tetap sampai ke titik ini. Titik di mana aku bisa melihat rembulan tidak lagi dengan luka… tapi dengan syukur.”
Fahri menarik napas panjang, lalu berkata,
“Aku tahu aku bukan laki-laki yang paling kamu dambakan dulu…”
Alya terkejut.
“Tapi aku ingin jadi laki-laki yang membuat kamu lupa rasanya menunggu dalam diam.”
Alya tak bisa menahan air matanya.
Ia tahu… cinta sejatinya bukan soal siapa yang kita kagumi, tapi siapa yang Allah kirimkan untuk menyembuhkan. Dan Fahri, datang bukan hanya membawa cinta tapi juga pengampunan, pengertian, dan ketenangan.
Kini, rembulan yang dulu jadi lambang luka… telah berubah menjadi simbol syukur.
Karena cinta sejati tak selalu hadir saat jantungmu bergetar hebat. Kadang ia datang dalam bentuk pelukan hangat di tengah malam, doa yang lirih, atau secangkir teh manis yang disiapkan suami saat istrimu lelah.
Dan malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, mereka memandang rembulan berdua.
Tapi kali ini, Alya tidak lagi berkata dalam hati.
Ia berbisik lembut ke telinga Fahri:
“Terima kasih sudah datang... saat aku nyaris menyerah pada cinta.”
Setahun usia pernikahan Alya dan Fahri.
Hari-hari mereka diisi dengan rutinitas sederhana: mengajar di sekolah, mengurus rumah, dan sesekali menikmati sore bersama secangkir kopi dan camilan singkong goreng. Tak ada kemewahan, tapi selalu ada rasa cukup cukup karena ada cinta dan keimanan yang menjadi pondasi.
Namun, satu hal yang membuat hati Alya mulai hampa:
ia belum juga hamil.
Awalnya ia tenang. Tapi seiring waktu, pertanyaan mulai datang dari tetangga, dari rekan guru, bahkan dari keluarga sendiri.
“Kapan punya momongan, Alya?”
“Kamu sehat, kan? Sudah periksa belum?”
“Jangan ditunda-tunda, nanti keburu umur…”
Pertanyaan-pertanyaan itu menyayat hatinya. Kadang ia senyum palsu. Kadang ia hanya mengangguk. Tapi saat malam tiba, ia menangis dalam diam lagi.
Fahri tahu, tapi ia tak pernah memaksa Alya bicara. Ia hanya memeluknya erat setiap kali Alya mulai merasa kecil karena tak juga menjadi seorang ibu.
“Jangan merasa gagal,” ucap Fahri suatu malam.
“Allah tidak mengukur nilai seorang wanita dari rahimnya. Tapi dari kesabaran dan keimanannya.”
Kata-kata itu menguatkan Alya. Tapi tetap, sebagai seorang perempuan, ia ingin merasakan menjadi ibu. Ingin menggendong bayi, mendengar tangis kecil di rumah mungil mereka. Ingin ada suara tawa di pagi hari, dan kaki-kecil berlari di ruang tamu.
Mereka mencoba pengobatan. Menjalani terapi herbal. Menjaga makanan. Berdoa setiap malam.
Tapi belum juga ada tanda.
Sampai suatu malam, ketika bulan kembali bulat sempurna di langit, Alya keluar ke teras sendiri. Ia menatap rembulan seperti dulu, saat mencintai dalam diam. Tapi kini, bukan untuk seseorang. Melainkan untuk takdir yang tak bisa ia ubah.
“Ya Allah… jika memang bukan anak yang Engkau titipkan… berilah aku hati yang tetap bersyukur. Jangan cabut harapan kami, tapi jika pun tak Kau beri… ajarkan aku menerima dengan lapang.”
Di belakangnya, Fahri berdiri diam. Lalu memeluknya dari belakang.
“Alya… jika kita hanya berdua sampai tua, aku tak akan menyesal. Karena aku mencintaimu bukan karena apa yang kamu bisa beri… tapi karena siapa kamu di mataku, dan di hadapan Allah.”
Alya menangis malam itu. Tapi tangisnya bukan karena sedih. Tapi karena cinta ini… benar-benar telah menjadi cahaya yang tak tergantung apa pun, selain keikhlasan.
Minggu berikutnya, Alya jatuh sakit. Mual, pusing, dan tubuh lemah. Awalnya ia kira masuk angin. Tapi setelah diperiksa…
“Selamat, Bu Alya. Usia kandungan Anda sudah 6 minggu.”
Dunia seolah berhenti.
Alya memejamkan mata, lalu meneteskan air mata bahagia.
Ia tak lari ke dalam rumah, tak langsung menelepon Fahri. Ia keluar, berdiri di bawah langit.
Dan memandang rembulan.
“Lihat, Bulan… akhirnya aku tidak hanya menyimpan luka di hadapanmu. Hari ini… aku menyimpan keajaiban.”
Usia kandungan Alya terus bertambah. Hari-hari dilalui dengan rasa syukur yang tak berhenti. Setiap pagi, Fahri membacakan ayat suci di perut Alya. Ia berbicara pada sang janin dengan penuh kasih, seolah sedang berbincang dengan sahabat kecil yang belum pernah ia temui.
“Nak… kami tunggu kamu, dengan cinta dan sabar.”
Alya merasakan kehidupan kecil itu bergerak dalam dirinya. Tendangan-tendangan lembut yang membuatnya sering tersenyum sendiri. Tapi juga lelah yang kadang membuatnya terisak diam-diam di kamar mandi. Namun, berbeda dari luka-luka dulu, kini ia tahu: ini lelah yang bermakna.
Sampai akhirnya, malam itu tiba.
Hujan turun deras. Angin kencang menggetarkan jendela. Alya menggenggam lengan Fahri kuat-kuat.
“Fahri… sakitnya... luar biasa…”
Peluh membasahi wajahnya, tubuhnya gemetar.
Fahri mengecup kening Alya sambil berdoa tak henti. Di rumah sakit, suara tangisan bayi bersahutan, tapi yang mereka tunggu belum juga terdengar.
“Sabar, sayang. Sedikit lagi. Kamu kuat,” bisik Fahri.
Dan beberapa menit kemudian…
Tangisan itu pecah.
Tangisan pertama yang memenuhi kamar bersalin malam itu. Tangisan yang tak pernah Alya bayangkan bisa ia dengar dari anaknya sendiri.
“Anak perempuan, sehat, kuat, dan cantik. Masya Allah…” kata bidan sambil tersenyum.
Alya menangis. Tapi bukan seperti dulu, bukan karena luka.
Ini tangis kemenangan. Tangis rasa syukur. Tangis cinta yang menemukan wujudnya.
Fahri mengazankan sang bayi di telinga kanan. Suaranya gemetar, tapi penuh haru.
“Namanya... Nayla Zahira. Artinya cahaya kecil yang bersinar indah.”
Malam pertama Nayla di rumah, mereka tak banyak tidur. Tangis, popok, dan gendongan silih berganti. Tapi di tengah semua itu, Alya duduk di kursi goyang, memangku bayinya yang baru saja tidur. Cahaya bulan masuk dari jendela, menerpa wajah Nayla.
Alya memandangi rembulan… dan berkata lirih,
“Dulu aku mencintai dalam diam... sekarang aku mencintai dengan suara, pelukan, dan air susu…”
“Terima kasih, ya Allah… Engkau jadikan luka-luka itu jalan menuju kebahagiaan yang tak pernah ku bayangkan.”
Fahri duduk di sampingnya. Menyender di bahu istrinya. Dalam diam, mereka menatap rembulan bersama.
Kini, rembulan bukan lagi tempat menyimpan kenangan yang menyakitkan.
Tapi menjadi saksi… bahwa cinta yang bersabar, akan selalu menemukan jalannya.
Tahun demi tahun berlalu. Nayla tumbuh menjadi gadis kecil yang ceria. Matanya bersinar seperti ayahnya, tapi senyumnya hangat seperti ibunya. Suaranya riang, kadang cerewet, dan seringkali membuat Alya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Setiap malam, sebelum tidur, Nayla selalu punya satu kebiasaan yang tak pernah berubah:
menatap rembulan dari jendela kamarnya.
“Bunda… Bulan itu kok selalu ada ya?”
“Kadang dia penuh, kadang cuma sepotong. Tapi dia nggak pernah benar-benar hilang.”
Alya tersenyum dan menjawab,
“Karena dia seperti cinta… meski bentuknya berubah-ubah, tapi kalau tulus… dia nggak pernah pergi.”
Nayla memeluk ibunya erat.
Alya tak pernah menyangka, cinta yang dulu ia pendam dalam diam… kini tumbuh dalam wujud seorang anak kecil yang memanggilnya Bunda.
Mendidik Nayla bukan hal mudah. Kadang Alya kelelahan. Apalagi ketika Fahri harus dinas luar kota atau mengurus kegiatan pesantren. Tapi setiap kali ia mulai merasa lelah, ia hanya perlu mengingat perjalanan panjang yang pernah ia lalui: dari mencintai dalam sunyi, sampai menjadi ibu dari cinta yang nyata.
Alya dan Fahri sepakat untuk membesarkan Nayla dengan kelembutan dan tauhid. Mereka tidak membesarkannya dengan ancaman, tapi dengan pelukan dan pengertian.
Jika Nayla menangis karena nilai matematikanya jelek, Alya tidak memarahinya. Ia hanya duduk, mendekap putrinya, dan berkata:
“Kamu boleh gagal… tapi kamu tidak boleh menyerah. Karena Allah tak melihat nilaimu, tapi usahamu.”
Jika Nayla marah dan membanting pensilnya, Fahri tidak langsung membentak. Ia mengajaknya wudhu, lalu berkata:
“Kalau hatimu gelap, basuhlah dengan air. InsyaAllah tenang.”
Dan malam-malam mereka… tetap sama.
Rembulan selalu hadir. Tapi kini, bukan hanya menjadi saksi cinta Alya dan Fahri.
Tapi juga menjadi teman tidur Nayla yang kadang berkata pelan sebelum tidur:
“Bulan... doakan aku ya, supaya bisa sayang sama Ayah dan Bunda seperti mereka sayang aku.”
Suatu malam, Nayla bertanya pada ibunya:
“Bunda… dulu Bunda pernah sedih banget gak, sebelum ketemu Ayah?”
Alya terdiam. Menatap wajah kecil itu. Dan sambil mengelus rambut putrinya, ia berkata:
“Iya, Nayla. Bunda pernah mencintai seseorang dalam diam. Tapi ternyata, Allah nggak kasih dia ke Bunda. Allah kasih yang lebih baik, yang lebih sabar… dan dari Ayah lah, kamu lahir.”
“Jadi... kamu itu adalah jawaban dari semua tangis Bunda yang dulu.”
Nayla tidak sepenuhnya paham. Tapi ia tersenyum dan memeluk ibunya.
Dan malam itu, seperti biasa…
rembulan bersinar diam-diam.
Tak berkata apa-apa. Tapi cukup menjadi saksi, bahwa cinta sejati... tidak lahir dari kata-kata manis,
tapi dari kesabaran yang tak pernah mengeluh,
dari doa yang tak pernah putus,
dan dari hati yang tak pernah menyerah.
Nayla kini berusia 10 tahun. Cerdas, berani, dan mulai tumbuh menjadi pribadi yang menyerap segala hal di sekitarnya. Tapi bukan hanya Nayla yang berubah… Alya dan Fahri pun mulai menghadapi perubahan dalam rumah tangga.
Fahri kini memikul lebih banyak tanggung jawab sebagai kepala sekolah di pesantren. Waktunya tak sebanyak dulu. Pulang lebih malam, sering dinas luar kota. Sementara Alya yang dulu merasa cukup dengan cinta dan pelukan perlahan mulai merasa sunyi.
Bukan karena Fahri tak cinta. Tapi karena realita membuat mereka jarang bicara, jarang duduk berdua menatap rembulan seperti dulu.
Alya mulai bertanya-tanya dalam hati:
"Apakah ini yang disebut puncak rumah tangga? Saat cinta tidak lagi berbunga, tapi harus dirawat seperti akar yang mulai mengering?"
Suatu malam, Nayla jatuh sakit. Demam tinggi, menggigil. Alya panik, dan Fahri sedang di luar kota. Ia begadang semalaman, mengompres kepala Nayla sambil menangis pelan.
Di sela-sela rasa lelah dan khawatir, tiba-tiba Alya berkata lirih:
“Ya Allah… ini mungkin cara-Mu mengingatkanku… bahwa cinta bukan soal selalu bersama, tapi soal tetap kuat walau sendirian…”
Di pagi harinya, Fahri datang. Langsung memeluk Alya dan Nayla. Ia meminta maaf karena tak bisa di samping mereka saat dibutuhkan. Tapi yang membuat Alya benar-benar tersentuh bukan permintaan maaf itu…
Melainkan saat Fahri membentangkan sajadah dan berkata,
“Alya… aku ingin kita sholat malam lagi, seperti dulu. Aku rindu menyebut namamu dalam doa, bersama-sama.”
Malam itu, mereka kembali duduk berdua di teras. Menatap bulan yang masih setia menggantung di langit.
“Dulu aku takut kehilanganmu karena laki-laki lain,” kata Fahri tiba-tiba.
“Tapi sekarang aku sadar… yang paling sering membuat seseorang menjauh bukan orang ketiga, tapi jarak yang dibiarkan tumbuh dalam diam.”
Alya mengangguk pelan.
“Kita terlalu sibuk bertahan, sampai lupa untuk saling merawat.”
Fahri menggenggam tangan istrinya. “Mari kita mulai lagi, ya. Bukan dari awal… tapi dari titik hari ini, dengan hati yang lebih dewasa.”
Dan malam itu…
rembulan kembali menyinari dua hati yang dulu dipertemukan dalam sunyi, lalu disatukan dalam sabar.
Kini, Alya tak lagi hanya melihat rembulan sebagai kenangan masa lalu.
Tapi sebagai pengingat, bahwa cinta tidak selalu hangat… tapi harus dipelihara.
Bukan hanya dengan pelukan, tapi dengan pengertian.
Bukan hanya dengan kata manis, tapi dengan waktu dan doa.
Nayla kini duduk di bangku SMA. Seorang gadis manis yang tidak hanya cerdas, tapi juga punya hati yang halus dan dalam. Alya sering melihat putrinya termenung, menulis di buku harian, atau diam-diam menatap langit malam dari jendela kamarnya sesuatu yang sangat akrab bagi Alya…
Karena dulu, ia pun begitu.
Suatu malam, Nayla duduk di samping ibunya di dapur.
> “Bunda…” katanya pelan.
“Pernah nggak, Bunda suka sama seseorang… tapi nggak pernah bisa bilang?”
Alya terdiam. Hatinya seperti disentuh waktu. Ia memandang wajah putrinya, dan seakan melihat dirinya sendiri dua puluh tahun lalu.
“Pernah,” jawab Alya lirih.
“Dan itu adalah bagian yang paling sunyi dalam hidup Bunda.”
Nayla mengangguk, seolah memahami lebih dari yang terlihat.
Lalu berkata,
“Aku juga suka seseorang, Bun. Tapi dia anak yang agamis, sholeh, dan tenang. Bukan tipe yang mudah didekati. Banyak teman yang suka dia. Aku… hanya bisa lihat dari jauh. Diam-diam doain dia.”
Alya tersenyum bukan karena senang, tapi karena ia tahu persis rasa itu.
Rasa mencintai tapi tak bisa mengungkapkan, karena takut kehilangan kehormatan dan keindahan rasa itu sendiri.
“Sayang,” kata Alya sambil mengusap rambut Nayla,
“Cinta dalam diam itu bukan kelemahan. Justru kekuatan. Kalau kamu bisa mendoakan dia tanpa mengganggu langkahnya, tanpa melukai dirimu sendiri, itu artinya kamu sudah tumbuh dewasa.”
Nayla menangis pelan. Tapi bukan tangis kesedihan melainkan rasa lega. Ia merasa dipahami, didengar, dan tidak dihakimi.
Beberapa hari kemudian, Nayla meninggalkan sebuah catatan di atas meja ibunya:
“Bunda… dulu Bunda pernah sembuh dari cinta diam-diam. Aku tahu itu bukan karena waktu, tapi karena Allah kasih cinta yang lebih baik lewat Ayah. Kalau nanti aku pun harus merelakan, doakan aku ya… agar kuat seperti Bunda.”
Alya menangis membaca itu. Tapi malamnya, saat rembulan muncul di langit, ia berkata dalam hati:
“Terima kasih ya Allah… dulu aku mencintai dalam diam, sekarang aku bisa membimbing anakku mencintai dengan kehormatan.”
Dan di teras rumah itu, Alya dan Nayla duduk berdua. Menatap langit. Menatap rembulan yang sama.
Tapi kali ini, tidak lagi sebagai tempat menyimpan luka,
melainkan sebagai cermin,
bahwa cinta dalam diam… jika disikapi dengan sabar, akan selalu berubah menjadi berkah.
Tahun-tahun berlalu seperti desir angin yang tak terasa.
Nayla kini telah dewasa. Ia bukan lagi gadis pemalu yang menatap langit diam-diam.
Kini ia seorang wanita, guru muda yang hangat seperti ibunya… dan sebentar lagi, akan menikah.
Fahri dan Alya menua bersama. Rambut Fahri mulai memutih, tangan Alya tak sekuat dulu. Tapi cinta mereka tak pernah melemah. Tak lagi diwarnai bunga dan kejutan, tapi dalam bentuk perhatian kecil: secangkir teh di pagi hari, selimut yang diselimutkan pelan saat malam, dan pelukan diam-diam saat salat tahajud bersama.
Malam sebelum akad Nayla, Alya duduk sendiri di kamar. Mengenakan mukena putih yang dulu ia pakai saat pertama kali menjadi istri. Matanya menatap rembulan di balik jendela.
“Bulan… malam ini anakku akan menikah. Kau tahu? Aku pernah mencintai seseorang dalam diam… dan Allah ganti dia dengan laki-laki terbaik. Dan dari laki-laki itu, lahir anak perempuan yang kini siap memulai kisah cintanya sendiri.”
Fahri masuk, duduk di samping Alya.
“Besok anak kita jadi pengantin, ya…” katanya lembut.
Alya menatapnya, matanya berkaca-kaca.
“Kita sudah sejauh ini, ya, Fahri? Dari cinta yang sederhana, sampai jadi rumah buat orang lain.”
Fahri menggenggam tangan istrinya. Lalu berbisik, seperti dulu:
“Aku tidak pernah janji jadi suami terbaik. Tapi aku janji… akan terus mencintaimu, bahkan ketika waktu tak lagi berpihak pada kita.”
Dan malam itu, rembulan bersinar sangat terang seakan ingin memberi salam perpisahan.
Beberapa tahun kemudian…
Alya duduk di bangku taman rumahnya. Rambutnya kini benar-benar memutih. Langkahnya sudah pelan. Tapi wajahnya tenang. Tangannya memegang mushaf, bibirnya tetap melantunkan ayat yang sama yang dulu ia baca ketika jatuh cinta dalam diam.
Tapi hari itu berbeda. Nafasnya sesak. Dadanya berat. Dan ketika azan maghrib berkumandang, ia berbaring pelan di pangkuan Fahri… dan berkata,
“Aku ingin pulang, Fahri… tapi janji ya… kita ketemu lagi, di surga nanti.”
Fahri menahan air matanya, meski tubuhnya gemetar. Ia menggenggam tangan istrinya erat, dan menjawab:
“Tunggu aku di sana… di sisi kanan taman surga, di bawah cahaya rembulan. Aku pasti datang.”
Dan di bawah langit yang senyap… Alya pulang.
Dengan tenang, dengan damai.
Seorang wanita yang pernah mencintai dalam diam, mencintai dalam sabar, lalu mencintai dalam ketulusan sampai akhir hayatnya.
Di malam ketiga kepergian Alya, Nayla duduk di teras rumah. Anak perempuannya di pangkuannya. Ia menunjuk ke langit.
“Itu, Nak… rembulan.”
“Dulu, Nenek sering bilang… di sanalah ia menyimpan cinta-cinta yang tak bisa diucap. Tapi sekarang, kita menatap bulan… untuk mengingat cinta yang paling tulus, dan paling setia.”
Anak itu mengangguk polos.
Dan malam itu, rembulan bersinar lembut.
Menjadi saksi bahwa cinta sejati tak pernah benar-benar berakhir…
hanya berpindah bentuk: dari pelukan, menjadi doa. Dari doa, menjadi cahaya.
Cahaya yang tetap bersinar, bahkan setelah tubuh tiada.
TAMAT.