Jalan menuju Baitullah
Jalan Menuju Baitullah Di sebuah kampung kecil di pinggiran kota Lampung, hiduplah seorang perempuan paruh baya bernama Bu Siti Maryam. Orang-orang di kampung biasa memanggilnya dengan sebutan Bu Siti. Sehari-hari ia berjualan nasi goreng di sebuah gerobak sederhana di pinggir jalan raya dekat pasar. Gerobak itu sudah berumur belasan tahun, catnya mulai mengelupas, dan rodanya sering berdecit setiap kali didorong. Namun, bagi Bu Siti, gerobak itulah saksi hidup dari perjuangannya membesarkan anak-anaknya. Bu Siti bukanlah orang yang bergelimang harta. Suaminya sudah meninggal lima tahun lalu akibat sakit jantung. Sejak saat itu, Bu Siti menjadi tulang punggung keluarga. Ia harus menghidupi dua anaknya, Yahya yang masih duduk di bangku SMA dan Aisyah yang sudah lulus SMK namun belum mendapat pekerjaan tetap. Meskipun hidupnya serba pas-pasan, Bu Siti punya sebuah cita-cita yang begitu tinggi: ia ingin sekali bisa naik haji. Sejak muda ia selalu menabung sedikit demi sed...