Cinta Di Balik Layar

"Cinta di Balik Layar: Kisah Sebuah Kebohongan"


Namanya Rino, pria 32 tahun asal Lampung, kini tinggal dan bekerja di Magelang sebagai karyawan pabrik herbal. Sehari-hari ia terlihat biasa saja seorang ayah dari dua anak, suami dari seorang istri yang setia, dan karyawan yang tekun. Namun di balik semua itu, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui siapa pun, hingga akhirnya semuanya terbongkar.

Tujuh bulan lalu, Rino membuka kembali akun Facebook lamanya. Di antara banyak notifikasi dan pesan lama, matanya tertumbuk pada komentar seorang wanita bernama Sari, 35 tahun, asal Lampung juga. Awalnya hanya saling membalas komentar, lalu berpindah ke inbox. Dari sekadar basa-basi menjadi obrolan setiap hari. Sari adalah perempuan bersuami, namun hatinya terasa sepi. Suaminya dingin, dan hari-harinya diliputi rutinitas yang mengeringkan perasaan.

Rino tidak pernah jujur sejak awal. Ia tidak pernah bilang bahwa ia masih hidup serumah dengan istrinya. Ia hanya mengaku "pernah menikah dan punya dua anak." Sari, yang sedang haus perhatian, percaya saja. Hatinya tergerak oleh kelembutan kata-kata Rino, oleh perhatian kecilnya di pagi dan malam hari, oleh pesan-pesan yang selalu datang saat ia merasa paling sendiri.

Mereka belum pernah bertemu. Telepon pun jarang. Tapi hubungan mereka tumbuh dengan cepat meski tanpa suara, tanpa sentuhan, hanya lewat layar. Ada rasa nyaman, ada harapan samar, bahkan ada khayalan tentang "suatu saat nanti." Rino mulai berani mengucap kata-kata cinta, dan Sari, meski tahu dia bersuami, tak mampu menyangkal bahwa hatinya mulai berbelah.

Namun semua indah itu tiba-tiba runtuh. Entah dari mana, Sari mendapatkan informasi bahwa Rino ternyata masih beristri dan mereka tinggal dalam satu atap. Saat ditanya, Rino tak bisa mengelak. Ia terdiam lama, lalu akhirnya mengaku. “Maafkan aku, aku takut kamu pergi kalau tahu kebenarannya,” katanya lirih di chat malam itu.

Sari hancur. Bukan hanya karena dibohongi, tapi karena ia merasa telah menjalin rasa dengan orang yang tak jujur, uyang bermain hati di balik statusnya sebagai suami dan ayah. Ia marah, kecewa, namun juga bingung karena hatinya sudah terlalu jauh melangkah.

Rino tidak ingin kehilangan Sari. Dalam pesannya, ia memohon-mohon, “Tolong jangan tinggalkan aku. Aku sayang kamu. Aku butuh kamu. Jangan lihat aku dari kesalahanku, tapi lihat dari bagaimana aku mencintaimu selama ini…”

Sari diam. Ia tahu ini salah, sangat salah. Tapi rasa memang tidak bisa diatur semudah logika. Di satu sisi, ia ingin pergi. Di sisi lain, ia rindu Rino setiap hari.

Cinta mereka adalah cinta yang lahir dari celah luka, tumbuh dalam ruang kelabu, dan sekarang berada di persimpangan antara meninggalkan untuk menyelamatkan diri, atau bertahan dalam kebohongan yang tak tahu akan ke mana.

Apakah Sari akan memilih pergi demi menyelamatkan harga dirinya dan rumah tangganya?

Atau tetap tinggal dalam cinta yang ia tahu tidak sepenuhnya miliknya?

Itu kisah cinta yang tak pernah dimulai dengan baik dan mungkin tak akan pernah berakhir dengan bahagia.

Beberapa hari setelah kebohongan itu terbongkar, Sari menarik diri. Ia tak lagi membalas pesan-pesan Rino yang terus datang setiap malam. Ada rasa sakit yang tidak bisa diredakan hanya dengan kata “maaf”. Di matanya, Rino adalah pria yang sudah menghancurkan kepercayaan yang susah payah ia bangun.

Namun seperti bayangan yang tak bisa diusir, nama Rino selalu kembali terngiang.

Pagi itu, saat suaminya sibuk dengan ponsel dan tak menatap wajahnya sama sekali, Sari membuka kembali pesan terakhir dari Rino.

“Aku tahu aku salah. Tapi aku gak pura-pura sayang sama kamu. Semua yang aku katakan selama ini, semua perhatian, semuanya nyata…”

Sari menutup matanya. Ia teringat bagaimana Rino mengingat hari ulang tahunnya, bagaimana pria itu pernah mengirim foto pemandangan Magelang hanya karena ia tahu Sari suka langit sore. Betapa ironis, perhatian seperti itu tidak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.

Tapi... apakah itu alasan untuk melanjutkan hubungan terlarang?

Di Magelang, Rino gelisah. Istrinya tak tahu apa-apa, hidupnya tetap seperti biasa. Tapi dalam hati, ia merasa terpecah. Ia mulai merasa bersalah bukan hanya karena kebohongannya terungkap, tapi karena ternyata, ia benar-benar mencintai Sari.

Bukan cinta yang lahir dari nafsu, tapi dari rasa nyaman. Dari celah sunyi yang ia sendiri tak tahu kapan mulai terbuka.

Malam itu, Rino mengirim pesan panjang:

“Aku gak bisa janji ninggalin rumahku, aku gak bisa bohong tentang itu. Tapi aku juga gak bisa bohong bahwa aku butuh kamu. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk buktiin bahwa perasaanku sungguh…”

Sari membaca pesan itu dalam diam. Ia tidak tahu harus merasa tersanjung atau semakin terluka. Di satu sisi, ada ego yang menuntut keadilan. Di sisi lain, ada rasa yang terlalu dalam untuk dihapuskan begitu saja.

Ia menulis balasan, lalu menghapusnya. Berkali-kali.

Akhirnya ia mengetik:

 “Kamu sudah punya rumah. Aku juga. Tapi kenapa kita malah cari pelarian di luar rumah kita sendiri? Mungkin yang kita butuhkan bukan cinta baru… tapi keberanian untuk memperbaiki yang sudah ada.”

Pesan terkirim.

Dan setelah itu… hening.

Tak ada balasan dari Rino malam itu. Entah karena ia terdiam, atau sedang berpikir. Tapi satu hal yang pasti, hubungan mereka berada di ujung batas. Bukan karena rasa itu hilang, tapi karena kenyataan tak pernah bisa mereka lawan.

Karena kadang, cinta datang di waktu yang salah.

Dan sekuat apapun rasa itu tumbuh, ia tetap tidak punya tempat untuk pulang.

Seminggu setelah pesan terakhir itu, Rino kembali memberanikan diri menghubungi Sari.

 “Kalau kamu pergi, aku akan kehilangan satu-satunya cahaya dalam hidupku.”

Pesan itu tak panjang, tapi cukup untuk membuat hati Sari runtuh lagi. Ia mencoba melawan. Berkali-kali ia meyakinkan diri bahwa cinta mereka tak seharusnya ada. Tapi berkali-kali pula, hatinya tetap mencari suara Rino suara yang tak pernah terdengar, tapi selalu terasa dekat.

Dan akhirnya... mereka kembali terhubung.

Obrolan demi obrolan kembali hidup. Kali ini lebih hati-hati, lebih sadar. Mereka tahu hubungan ini salah. Tapi keduanya juga tahu: mereka merasa saling hidup saat bersama, meski hanya lewat kata-kata.

Sari tak lagi berharap Rino meninggalkan keluarganya. Ia hanya ingin dimengerti, didengarkan, diperhatikan. Sesuatu yang tidak ia temukan dalam rumah sendiri. Dan Rino meski pulang ke rumah setiap malam, pikirannya sering melayang ke pesan-pesan Sari.

Mereka membangun dunia kecil sendiri. Dunia yang tak diizinkan tumbuh, tapi terus bernafas diam-diam.

Rino mulai menyisihkan sedikit gajinya, berharap suatu hari bisa bertemu langsung. Ia tak berani berharap lebih. Tapi Sari… sudah mulai menata hatinya agar tidak menggantungkan masa depan pada pria yang tak bisa ia miliki sepenuhnya.

Mereka mulai belajar membatasi tak saling mengganggu jika salah satu sedang bersama keluarga. Tapi di malam-malam sepi, saat dunia mulai tenang, mereka kembali menjadi satu: dua jiwa yang saling menguatkan lewat layar kecil dan suara lirih.

Suatu malam, Sari bertanya:

“Kalau suatu hari aku pergi duluan, kamu masih akan simpan cerita ini?

”Rino menjawab cepat:

 “Kamu bukan cerita, Sar. Kamu adalah bagian hidupku yang paling aku simpan rapi… meski gak pernah bisa aku pamerkan.”

Dan malam itu, keduanya menangis diam-diam. Masing-masing tahu hubungan ini tak bisa diteruskan selamanya. Tapi untuk sekarang… mereka tetap bertahan.

Dalam diam. Dalam bayang. Dalam cinta yang hanya mereka tahu betapa nyatanya.

“Pertemuan yang Tak Sempurna”

Bulan ke delapan. Hubungan Rino dan Sari semakin dalam, meski tetap tersembunyi dalam bayang. Hari-hari mereka dihiasi pesan-pesan yang tidak lagi sekadar basa-basi. Ada rindu yang semakin nyata, ada keinginan yang tak bisa lagi hanya ditahan lewat teks.

Dan akhirnya, keputusan itu dibuat: mereka akan bertemu.

Rino mengatakan ia akan “pulang ke Lampung” untuk menjenguk orangtuanya yang sedang sakit itu alasan yang ia pakai untuk izin libur dari pabrik. Sementara Sari, dengan segala ketakutan dan rasa bersalah, memutuskan mengambil cuti satu hari dengan alasan keperluan pribadi.

Mereka memilih bertemu di sebuah kota kecil di antara Magelang dan Lampung tempat netral, tak terlalu mencolok, cukup asing agar tak menimbulkan kecurigaan. Sebuah penginapan sederhana, kafe kecil, dan waktu yang terbatas: itulah rencana mereka.

Ketika Sari turun dari mobil travel dan melihat sosok pria berkemeja biru berdiri di dekat pintu masuk kafe kecil itu, jantungnya hampir berhenti. Itu Rino. Wajah yang selama ini hanya ia bayangkan, kini berdiri nyata di depan mata.

Rino tersenyum gugup, kikuk, dan terlihat seperti anak kecil yang baru pertama kali bertemu pujaan hatinya.

“Assalamualaikum…” katanya pelan.

“Waalaikumsalam…” jawab Sari, hampir berbisik.

Tak ada pelukan. Tak ada genggaman tangan. Hanya tatapan yang begitu lama, seolah ingin memastikan, “Apakah ini benar-benar kamu?”

Mereka menghabiskan waktu dua jam di kafe itu. Ngobrol, tertawa kecil, saling memperhatikan tanpa kata. Tak ada rayuan, tak ada janji baru. Hanya dua orang dewasa yang sama-sama tahu: mereka sedang bermain dengan waktu dan batas.

Sebelum berpisah, Rino mengeluarkan sebuah kotak kecil. Di dalamnya, ada cincin imitasi berwarna emas.

“Ini gak berarti apa-apa… cuma simbol bahwa kamu pernah ada dalam hidupku dengan cara yang paling dalam.”

Sari menatap cincin itu lama. Ia tak tahu harus tertawa atau menangis. Tapi ia menerimanya.

Sore itu, mereka berpisah.

Tidak ada pelukan perpisahan. Hanya kalimat sederhana dari Rino:

“Kalau hidup ini adil, mungkin kamu adalah rumahku.”

Dan Sari menjawab:

 “Tapi hidup kita nyata, Rin. Dan rumah kita… bukan kita.”

Malam itu, Sari menangis dalam bisu. Rino menatap langit Magelang dalam diam.

Mereka tahu, pertemuan itu tidak akan terulang mudah. Tapi mereka juga tahu: perasaan mereka nyata.

Cinta mereka tak sempurna. Tapi sesaat, cinta itu terasa sangat hidup.

Setelah pertemuan itu, hubungan Rino dan Sari berubah.

Bukan renggang. Justru… lebih dalam.

Karena setelah melihat satu sama lain, merasakan kehadiran nyata yang selama ini hanya dibayangkan, keduanya semakin sulit lepas. Rino menjadi lebih sering mengirim pesan suara. Sari menjadi lebih mudah merindukan. Ada rasa baru yang muncul: keterikatan emosional yang lebih kuat dari sebelumnya.

Namun, rasa yang tumbuh itu mulai berubah menjadi tekanan.

Setiap kali Rino pulang ke rumah dan melihat istrinya tertidur di kamar mereka, hatinya dicekam rasa bersalah. Istrinya memang tidak sempurna, tapi ia adalah ibu dari anak-anaknya. Dan kini, ia hidup dalam dua dunia yang berlawanan.

Di sisi lain, Sari mulai merasa lelah menunggu pesan yang kadang datang terlambat. Ia mulai menyadari: ia mencintai seseorang yang hanya bisa ia miliki sebagian.

Suatu malam, mereka kembali berbicara lewat suara. Sari terdengar berbeda. Lebih tenang, tapi juga lebih kosong.

 "Rin… kamu sadar gak sih, kita makin hari makin tenggelam?"

 "Aku sadar. Tapi aku juga sadar, aku gak bisa jauh dari kamu."

 "Aku juga, Rin. Tapi aku juga gak bisa terus kayak gini. Aku capek harus berpura-pura biasa, padahal hatiku penuh kamu."

Suara Sari bergetar. Di balik kata-katanya, Rino tahu: ada perang batin yang mulai pecah dalam diri wanita itu.

Rino diam. Ingin memeluknya, tapi hanya bisa menggenggam ponsel.

 "Kalau suatu hari kamu milih pergi, aku gak akan salahin kamu. Tapi jangan minta aku buat ngelupain kamu."

Sari terisak pelan. Lalu menjawab:

 "Aku gak akan minta kamu lupa. Aku cuma minta kamu hidup… benar. Dengan jujur. Karena kamu lelaki yang aku sayang, dan aku gak mau kamu hancur."

Sejak malam itu, intensitas mereka berkurang. Bukan karena tak cinta, tapi karena cinta itu sendiri terlalu menyakitkan untuk terus dirawat tanpa kepastian.

Hari-hari mulai berjalan tanpa kabar. Pesan-pesan mulai jarang masuk. Tapi hati mereka, diam-diam… masih saling menunggu.

Hingga suatu pagi, Sari mengirim satu pesan:

 “Aku gak kuat lagi, Rin. Aku mau sembuh. Bukan karena kamu gak berarti, tapi karena kamu terlalu berarti.”

Dan itu adalah pesan terakhir.

Rino tidak membalas. Ia hanya menatap layar ponselnya, lama.

Air matanya jatuh. Di saat yang sama, dari kamar sebelah, terdengar tawa anaknya yang sedang bermain dengan ibunya. Dan saat itu, ia tahu: dunia tempat ia tinggal tidak akan pernah bisa menyatu dengan dunia tempat Sari berada.

Cinta itu nyata. Tapi tidak semua cinta ditakdirkan untuk memiliki.

 Sari kembali menjalani hidupnya dengan luka yang perlahan sembuh.

Rino kembali menjadi ayah dan suami, tapi dengan bagian hati yang selalu kosong.

Dan di antara dua kota yang berbeda, tersimpan satu kisah cinta… yang tak pernah selesai, tapi takkan pernah benar-benar hilang.

Sudah dua bulan sejak pesan terakhir itu dikirimkan oleh Sari.

Rino membaca ulang pesan itu hampir setiap malam, seperti orang yang menolak kenyataan. Ia masih menyimpan foto profil Sari di galeri ponselnya, diam-diam. Masih mengingat suara tawanya saat mereka saling bercanda lewat pesan suara. Tapi sekarang, tak ada notifikasi dari nama itu lagi.

Ia mencoba mengalihkan. Fokus pekerjaan. Bermain dengan anak-anak. Bahkan mencoba bersikap lebih manis pada istrinya. Tapi tidak ada satu pun yang benar-benar bisa menutup ruang kosong yang ditinggalkan oleh Sari.

Suatu malam, saat gerimis jatuh di Magelang, Rino duduk di beranda rumahnya. Ia menatap langit yang basah, lalu membuka galeri ponselnya dan memutar pesan suara lama dari Sari.

 “Rin… kamu itu aneh ya. Jauh, tapi bikin aku ngerasa deket. Aku gak tahu ini cinta atau ilusi. Tapi aku senang bisa kenal kamu.”

Suara itu membuat dadanya sesak.

“Apa kabarmu sekarang, Sar? Kamu masih senyum setiap pagi? Atau kamu juga masih suka menangis dalam diam?” gumam Rino dalam hati.

Ia ingin mengirim pesan. Hanya satu kalimat: "Aku kangen."

Tapi ia tahu, Sari sudah memilih untuk sembuh. Dan Rino tidak ingin menjadi luka yang dibuka kembali.

Semenjak itu, Rino menulis surat-surat yang tidak pernah dikirimkan. Disimpan di aplikasi catatan, dihapus, lalu ditulis lagi. Seperti ini salah satunya:

 “Sar… kamu tahu? Aku masih simpan cincin yang kamu pakai waktu itu. Imitasi, tapi bagiku itu nyata. Sama seperti hubungan kita, mungkin palsu di mata dunia… tapi asli di dalam hati.”

Hidup terus berjalan. Tapi tidak ada hari yang benar-benar bebas dari bayangan Sari.

Setiap kali melihat wanita berambut panjang dari belakang, Rino selalu berharap itu Sari. Setiap kali melihat papan travel Lampung, ia selalu terdiam lebih lama. Dan setiap malam… ia tetap membuka pesan terakhir itu, tanpa membalas, tanpa melupakan.

Di kota lain, Sari pun tak benar-benar melupakan.

Ia sudah kembali ke rutinitas rumah tangganya. Tidak bahagia, tapi juga tidak hancur. Ia hanya… menjalani.

Dan terkadang, di sela sunyi sore hari, ia membuka folder tersembunyi di HP-nya: berisi tangkapan layar percakapan dengan Rino, foto Rino tersenyum malu, dan rekaman suara Rino mengucap, “Aku sayang kamu.”

Sari menutup folder itu dengan senyum kecil. Lalu berkata lirih:

 “Kita gak pernah selesai, Rin. Tapi kita harus berhenti.”

Karena cinta mereka seperti hujan di musim panas  datangnya tak tepat waktu, tapi meninggalkan bekas yang tak pernah benar-benar kering.

Lima tahun telah berlalu sejak pesan terakhir itu.

Rino kini berusia 37 tahun. Ia tetap bekerja di pabrik herbal, tapi sudah naik jabatan menjadi supervisor. Anaknya yang sulung sudah masuk SMP. Kehidupan rumah tangganya terlihat stabil dari luar. Namun di dalam dirinya, ada bagian yang tetap kosong   ruang yang tidak pernah bisa diisi oleh siapa pun… sejak kepergian Sari.

Ia tak pernah lagi menghubungi Sari. Tidak mencoba mencari tahu kabarnya, tak berani bertanya pada siapa pun. Ia hanya menyimpan semuanya di dalam dada dalam diam yang menjadi kebiasaan.

Namun dunia ternyata tak sesederhana itu.

Suatu hari, Rino diundang menghadiri seminar pengembangan UMKM herbal di Bandar Lampung. Awalnya ia ingin menolak, tapi ada dorongan aneh dari dalam hatinya. Seperti sesuatu yang tak selesai, mendorongnya kembali ke tempat asal.

Dan takdir, memang suka bermain diam-diam.

Saat Rino sedang berdiri di dekat booth pameran produk, ia mendengar suara yang sangat ia kenal.

 “Rino…?”

Suara itu membuat tubuhnya menegang.

Ia berbalik.

Di depannya berdiri seorang wanita dengan blouse putih dan rok hitam. Wajahnya sedikit lebih matang, tapi matanya masih sama… mata yang dulu selalu menenangkan hatinya.

Itu Sari.

Rino terdiam. Dadanya sesak. Ingin bicara, tapi tak ada kata keluar.

Sari tersenyum… pelan… lalu berkata:

“Kamu gak berubah ya.”

Rino akhirnya menjawab dengan suara pelan, gemetar:

 “Kamu berubah… makin kuat.”

Mereka tak peluk. Tak menyentuh. Tapi pandangan mereka seperti dua dunia yang kembali menyatu.

Mereka bicara sebentar di sudut ruangan. Ternyata Sari kini menjadi bagian dari koperasi wanita pengrajin tapis. Ia tak lagi bekerja dari rumah, dan katanya... rumah tangganya sudah lama berakhir.

 “Aku bercerai dua tahun lalu. Tapi bukan karena kamu, Rin. Jangan pikir gitu. Memang sudah seharusnya selesai.”

Rino hanya mengangguk. Lalu dengan suara nyaris berbisik:

 “Aku gak pernah bisa lupa kamu, Sar.”

Sari menatapnya… mata itu sedikit berair.

 “Aku juga gak pernah bener-bener sembuh. Tapi aku belajar jalan lagi.”

Mereka tidak bicara tentang masa lalu terlalu lama. Tidak menyesali. Tidak menyalahkan.

Di akhir pertemuan, Rino hanya berkata:

 “Kalau saat itu kita bertemu dalam kondisi seperti sekarang… mungkin ceritanya beda ya?”

Sari menjawab pelan:

 “Mungkin. Tapi kalau kita punya kesempatan kedua… kita harus pastikan bukan lagi dalam bayang-bayang.”

Hari itu mereka berpisah lagi. Tapi kali ini tanpa luka. Tanpa tangis.

Hanya senyum, dan rasa yang belum padam.

Dan untuk pertama kalinya sejak lima tahun lalu… Rino merasa, mungkin... cinta itu akan punya tempatnya sendiri. Di waktu yang tak salah lagi.

 Karena cinta yang nyata tidak selalu harus dimiliki saat itu juga. Tapi jika memang ditakdirkan… ia akan kembali. Dalam bentuk yang lebih dewasa. Lebih jujur. Lebih layak untuk diperjuangkan.Setelah pertemuan itu di Lampung, Rino dan Sari tidak langsung memulai kembali apa pun. Mereka hanya saling bertukar nomor baru, saling menyapa… perlahan.

Tidak terburu-buru seperti dulu.

Minggu-minggu berjalan. Mereka mulai sering bertukar kabar. Rino berbicara lebih jujur kali ini. Ia mengaku bahwa rumah tangganya sebenarnya sudah lama hanya formalitas. Istrinya pun telah lama merasa mereka hanya sekadar tinggal bersama, bukan lagi bersama.

Dan akhirnya… keputusan besar itu datang.

Rino mengajukan cerai.

Ia tak menyalahkan siapa pun. Ia bertanggung jawab atas semua pilihannya. Ia ingin menjadi pria yang tidak lagi hidup dalam dua dunia. Ia ingin jujur. Untuk dirinya. Untuk anak-anaknya. Dan untuk cinta yang selama ini ia pendam dalam diam.

Sari sempat menolak, takut disebut sebagai alasan rumah tangga Rino hancur. Tapi Rino meyakinkannya, bahwa pernikahan itu memang sudah lama rapuh  dan ia ingin membangun hidup baru bukan untuk melarikan diri… tapi untuk memperbaiki hidup yang jujur sejak awal.

Tahun itu menjadi masa yang penuh perubahan.

Rino pindah ke Bandar Lampung, mengambil pekerjaan baru di sebuah perusahaan herbal yang bekerja sama dengan koperasi tempat Sari bernaung. Awalnya banyak yang bertanya, mencibir, berprasangka. Tapi Rino tidak peduli. Ia sudah terlalu lama hidup berpura-pura. Kali ini, ia ingin menjalani hidup dengan tenang  meski harus kehilangan reputasi.

Dan perlahan…

Hari-hari mereka menjadi lebih sederhana. Tidak ada lagi pesan diam-diam. Tidak ada lagi rasa bersalah tiap kali saling bicara. Hanya ada dua orang dewasa… yang memilih untuk mencintai dengan sadar.

Hingga suatu sore di tepi pantai Pahawang, Rino melamar Sari  bukan dengan cincin emas, tapi dengan secarik kertas berisi tulisan tangannya sendiri:

 “Bersamamu dulu adalah kesalahan yang aku nikmati dalam sembunyi.

Kini, aku ingin menjadikanmu benar… di dunia nyata.

Boleh aku mencintaimu, sebagai lelaki yang utuh… di siang hari, bukan hanya di malam sunyi?”

Sari menangis. Dan untuk pertama kalinya… ia menjawab tanpa ragu:

 “Ya. Kali ini,ya”.

Akhirnya… Mereka Menikah.

Tanpa pesta besar. Hanya akad sederhana. Anak-anak Rino hadir, begitu juga keluarga Sari. Tidak semua orang setuju, tapi mereka tak peduli lagi dengan persetujuan dunia. Mereka sudah terlalu lama menyimpan cinta dalam sunyi  dan kali ini, mereka ingin menjalaninya dalam terang.

 Karena cinta yang tumbuh dalam kesalahan…

bisa menjadi benar,

jika dijalani dengan keberanian, kejujuran, dan ketulusan yang tak lagi menuntut untuk disembunyikan.

Pernikahan Rino dan Sari berjalan sederhana, tapi sarat makna.

Tidak ada pesta mewah. Tidak ada tamu ratusan. Hanya keluarga terdekat, sahabat yang tahu kisah mereka, dan suasana syahdu di sebuah aula kecil di pinggiran Bandar Lampung.

Hari itu, Rino memandangi Sari dalam balutan kebaya putih sederhana, dengan mata yang sedikit berkaca.

Ia tak menyangka, wanita yang dulu hanya hadir lewat teks dan suara… kini duduk di sampingnya, sebagai istri sah. Bukan lagi cinta bayangan. Bukan lagi rasa bersalah. Tapi sebagai rumah.

Tahun Pertama: Cinta yang Nyata Bukan Selalu Indah

Hari-hari awal mereka sebagai suami istri tidak seindah dongeng.

Rino membawa serta dua anaknya mereka tinggal bersama. Sari, meski sudah berpisah bertahun-tahun dari suaminya, belum pernah benar-benar menjadi ibu sambung. Tugas baru itu mengejutkan hatinya.

Anak pertama Rino sulit menerima kehadiran Sari. Ia diam. Dingin. Kadang menolak makan jika bukan ayahnya yang menyuapi. Sari tersenyum di depan Rino, tapi sering menangis diam-diam di kamar mandi.

“Mungkin aku bukan ibu yang baik,” katanya suatu malam.

Rino memeluknya dan menjawab:

“Kamu bukan pengganti ibunya. Kamu cukup jadi dirimu. Sisanya biar waktu yang meluluhkan.”

Pekerjaan pun tak selalu mudah. Sari yang dulunya aktif di koperasi kini lebih banyak di rumah, dan kadang merasa kehilangan dirinya sendiri. Sedangkan Rino mulai sibuk karena dipercaya memimpin tim distribusi.

Keduanya mulai sadar: cinta setelah menikah adalah kerja harian, bukan sekadar rasa.

Tapi setiap kali masalah datang, mereka duduk bersama. Saling bicara. Kadang marah. Kadang menangis. Tapi tidak pernah pergi seperti dulu. Karena kini, mereka belajar untuk tidak lari dari kenyataan.

Setahun Kemudian: Cinta yang Bertumbuh

Anak-anak Rino mulai menerima kehadiran Sari. Anak sulungnya, yang dulu dingin, mulai memanggil Sari dengan sebutan “Bu.” Bukan karena dipaksa. Tapi karena Sari tak pernah berhenti hadir  dengan sabar, walau sering disalahpahami.

Suatu malam, saat Sari sakit dan terbaring lemah, anak itu mendekatinya dan berkata:

“Bu, besok jangan masak. Aku bantu Ayah ya.”

Sari tak kuat menahan tangis. Bukan karena sakit, tapi karena hatinya hangat.

Dan malam itu, Rino menggenggam tangannya dan berbisik:

“Kita sampai juga ya… di bagian hidup yang dulu kita cuma berani khayalkan.”

Sari menjawab pelan:

 “Dan ternyata… nyata itu gak selalu sempurna. Tapi nyata itu bisa kita peluk, selama kita saling pegang.”

Cinta Mereka Tak Lagi Rahasia

Kini mereka hidup biasa saja. Tidak glamor. Tidak viral. Tapi damai.

Sari kadang menulis di blognya, tentang cinta yang tidak selalu datang di waktu tepat, tapi bisa tumbuh jadi benar jika dijaga dengan jujur.

Rino sesekali mengantar anak-anak sekolah, lalu mencium kening istrinya sebelum berangkat kerja kebiasaan kecil yang tak pernah ia lakukan di pernikahan sebelumnya.

Dan di setiap malam sunyi, ketika dunia tertidur, mereka berbagi cerita  bukan tentang masa lalu yang menyakitkan, tapi tentang masa depan yang mereka bangun bersama… perlahan, tapi pasti.

 Mereka dulu cinta yang salah. Kini… mereka adalah cinta yang diperjuangkan.

Bukan sempurna. Tapi nyata. Dan itu sudah cukup.



Tamat 



Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa