Postingan

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Kisah Revan: Pemuda Yatim Piatu yang Terlilit Hutang Keluarga hingga Nyaris Bunuh Diri

Gambar
Perjalanan Sunyi Seorang Pemuda Menanggung Hutang Bukan Miliknya, Dijauhi Keluarga, dan Bertahan di Titik Terendah Hidup  Malam itu, Revan duduk sendirian di sudut kamar sempit yang bahkan tak pantas disebut rumah. Lampu redup menggantung lelah di langit-langit, seolah ikut menyerah bersama pikirannya. Di tangannya bukan pisau, bukan tali—melainkan tagihan demi tagihan yang tak pernah ia buat, namun harus ia tanggung. Angka-angka di kertas itu tidak hanya menggerogoti dompetnya, tapi perlahan menggerus kewarasannya. Usianya baru dua puluh lima tahun. Usia di mana sebagian orang sibuk mengejar mimpi, membangun masa depan, atau setidaknya masih punya tempat pulang. Tapi Revan tidak punya itu semua. Ia yatim piatu. Dan setelah orang tuanya pergi, yang tersisa bukan pelukan keluarga—melainkan hutang atas nama orang tuanya, hutang yang dibuat oleh saudara-saudara sendiri, lalu ditinggalkan begitu saja seolah hidup Revan tidak pernah berarti. Tidak ada yang datang ketika ia m...

Kisah Nyata Istri yang Lelah Menghadapi Suami Manipulatif dan Memilih Kesehatan Mental

Gambar
Perjalanan Seorang Ibu Bertahan dalam Pernikahan yang Menguras Jiwa Demi Anak-Anaknya Opening Kisah Tidak semua perempuan yang diam itu lemah. Sebagian dari mereka hanya terlalu lelah untuk menjelaskan apa yang tidak pernah ingin dipahami. Sari adalah salah satunya. Ia adalah seorang istri, juga ibu dari tiga anak, yang setiap harinya bangun dengan tubuh yang terus bergerak, tetapi jiwa yang perlahan kehilangan tenaga. Di luar, ia tampak baik-baik saja. Senyumnya rapi. Tangisnya disimpan. Tidak ada teriakan, tidak ada drama. Namun di dalam dirinya, ada kelelahan panjang yang tidak pernah benar-benar selesai. Pernikahannya tidak penuh luka yang terlihat. Tidak ada pukulan. Tidak ada bentakan setiap hari. Yang ada adalah kata-kata yang dipelintir, tanggung jawab yang selalu dialihkan, dan konflik yang selalu berakhir dengan satu kesimpulan: ia yang salah. Setiap kali Sari mencoba berbicara dengan logika, ia justru semakin terpojok. Setiap kali ia menuntut hak, kemarahan dan d...