Postingan

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

“Kisah Ibu yang Bangkit dari Kekurangan: Dari Tak Mampu Servis Sepeda Anak hingga Sukses Jualan Kue Tradisional”

Gambar
Sebuah kisah tentang air mata, keteguhan hati, dan perjuangan seorang ibu yang memilih bangkit demi senyum anak-anaknya Opening Kisah Tidak semua tangis seorang ibu terdengar keras. Sebagian justru jatuh diam-diam, terserap lantai dapur, atau larut bersama doa yang tak pernah selesai. Ada ibu yang menangis bukan karena ia tak punya apa-apa, melainkan karena ia merasa tak mampu memberi kebahagiaan kecil kepada anaknya. Kemiskinan, bagi sebagian orang, hanyalah soal angka. Namun bagi seorang ibu, kemiskinan adalah perasaan sesak setiap kali anak bertanya, “Ibu, bisa nggak…?” Lalu hati harus memilih: menjawab dengan harapan, atau menelan perih karena belum mampu. Kisah ini bukan tentang ibu yang sempurna. Bukan pula tentang keluarga yang tiba-tiba kaya. Ini adalah kisah tentang seorang ibu biasa, yang hidup dalam keterbatasan, yang suaminya sudah berusaha sekuat tenaga, namun hidup tetap saja terasa berat. Di tengah rumah sederhana, doa-doa panjang, dan kebutuhan yang tak pern...

Pak Sony Penjual Daging yang Terlihat Kaya Karena Sedekah, Jalan Ikhlas Menuju Baitullah

Gambar
Ketika hidup sederhana, akhlak mulia, dan sedekah yang istiqamah menjadi wasilah Allah membukakan pintu impian Opening Kisah Tidak semua orang yang disebut kaya memiliki banyak harta. Sebagian dari mereka justru hidup sederhana, bangun pagi dengan langkah yang sama setiap hari, pulang dengan tangan yang tak selalu penuh, namun meninggalkan jejak kebaikan di hati banyak orang. Pak Sony adalah salah satunya. Di pasar kecil tempat ia menjajakan daging setiap pagi, namanya dikenal bukan karena besarnya lapak, bukan pula karena timbangan yang mewah. Ia dikenal karena tutur katanya yang santun, senyum yang tak pelit, dan tangan yang ringan menolong—bahkan saat ia sendiri sedang membutuhkan. Orang-orang sering menyebut Pak Sony kaya raya. Ia hanya tersenyum mendengarnya. Sebab ia tahu, tabungannya tak seberapa, hidupnya jauh dari kemewahan, dan hari-harinya dijalani dengan kesederhanaan yang nyaris tak berubah dari tahun ke tahun. Pagi ia berdagang. Siang berkebun seadanya. Sore p...