Di Balik Dinding Rapuh
Judul: “Di Balik Dinding Rapuh”
Di sebuah gang sempit di pinggiran kota, tinggal sepasang suami istri bernama Darto dan Siti. Mereka hidup dalam keterbatasan rumah kecil berdinding papan lapuk, atap bocor jika hujan, dan dapur yang lebih sering kosong daripada penuh bahan makanan.
Darto bekerja serabutan, kadang jadi kuli bangunan, kadang ngojek jika ada pinjaman bensin dari tetangga. Siti, yang awalnya hanya ibu rumah tangga, mulai menjual gorengan untuk sekadar menyambung hidup. Tapi karena penghasilan Darto tak menentu, tekanan hidup makin kuat.
Setiap malam, rumah mereka diwarnai pertengkaran. Darto mudah marah, melempar piring jika nasi tidak enak, menyalahkan Siti karena penghasilan kecil, padahal ia sendiri jarang pulang membawa uang.
"Aku capek, Siti! Semua serba kurang!" teriak Darto suatu malam.
"Kalau capek, kerja lebih keras! Jangan marah terus!" balas Siti dengan mata berkaca.
Pertengkaran makin sering. Cinta mereka terkikis, hanya menyisakan kewajiban dan kemarahan. Siti mulai merasa kehilangan dirinya sendiri. Ia lelah hidup dalam kekerasan, lelah dipersalahkan, lelah menahan tangis tiap malam.
Suatu hari, saat menjual gorengan di pinggir jalan, Siti bertemu Bu Rina seorang pemilik warung makan sederhana yang melihat kegigihan Siti.
“Kamu jago masak. Kenapa nggak bantu aku di warung? Nanti bisa dapat upah harian,” tawar Bu Rina.
Itu titik balik hidup Siti. Ia menerima tawaran itu. Sejak hari itu, ia pulang lebih malam, dan sedikit demi sedikit ia mulai mandiri. Darto tak suka. Ia menuduh Siti berubah, mencurigainya macam-macam, bahkan menyebutnya tak tahu diri.
Tapi Siti tak peduli. Ia mulai menabung diam-diam. Ia ingin keluar dari rumah yang tak lagi jadi tempat aman. Ia ingin bebas, dan menemukan arti hidupnya sendiri.
Suatu malam, setelah Darto menamparnya karena uang belanja kurang, Siti diam. Ia masuk kamar, mengemas baju dan pergi tanpa sepatah kata.
Ia memilih tinggal di warung Bu Rina, yang memberinya tempat di atas warung. Di sana, untuk pertama kalinya, ia tidur tanpa takut dibentak. Ia menangis bukan karena sedih, tapi karena lega.
Bulan demi bulan berlalu. Siti mulai merintis warung sendiri di gang lain, dengan tabungan kecilnya. Pelanggan suka masakannya. Ia mulai punya penghasilan tetap, bisa beli baju baru, dan bahkan membiayai sekolah keponakannya.
Darto? Ia tetap di rumah itu, sendiri. Setelah kepergian Siti, hidupnya makin berantakan. Ia sempat mencoba mencari Siti, tapi wanita itu sudah menemukan dirinya kembali dan tak ingin kembali pada luka yang sama.
Siti tak pernah menikah lagi. Ia memilih hidup sederhana, tapi damai. Karena ia tahu, kebahagiaan tak harus bersama siapa pun. Terkadang, kebahagiaan adalah ketika seorang wanita berani memilih dirinya sendiri.
Tiga tahun telah berlalu sejak Siti meninggalkan rumah rapuh yang dulu ia tinggali bersama Darto. Warung makannya kini makin ramai, berdiri di pojok jalan strategis, dekat sekolah dan kantor kelurahan. Setiap pagi, ia sudah mulai menanak nasi sejak subuh, mengolah lauk-lauk sederhana yang diracik dengan cinta sambal teri, sayur asem, ayam goreng, dan tempe mendoan hangat.
Ia mempekerjakan dua orang tetangga yang dulu senasib dengannya: janda muda dan ibu tunggal. Siti tahu betul rasanya disalahkan, diremehkan, lalu ditinggalkan. Maka ia ingin menjadi cahaya bagi perempuan lain yang masih terjebak dalam gelap.
Di tengah kesibukan itu, hidup Siti tak pernah lepas dari bayangan masa lalu. Meski luka sudah mengering, kadang kenangan tentang Darto menghampiri saat ia duduk sendirian di sore hari, menyeduh teh hangat. Bukan karena cinta, tapi karena luka yang pernah ia telan terlalu dalam untuk dilupakan begitu saja.
Suatu hari, saat hujan deras membasahi bumi, seorang lelaki tua datang ke warungnya. Tubuhnya lusuh, matanya sembab. Siti sempat tak mengenalinya. Tapi saat lelaki itu bicara, ia tahu itu Darto.
“Sit…” suara parau itu membuat suasana jadi beku.
Siti meletakkan centongnya. Tangannya gemetar, tapi wajahnya tegas.
“Aku cuma mau makan, kalau masih boleh.”
Tanpa kata, Siti menyajikan sepiring nasi hangat, tempe goreng, dan sayur asem. Ia duduk di bangku panjang, menghadap lelaki yang dulu membuatnya merasa tak berharga.
“Kamu makin kuat, Sit. Dulu aku anggap kamu cuma perempuan lemah. Ternyata aku yang lemah,” ucap Darto, lirih, penuh penyesalan.
Siti menatapnya. Ada simpati di matanya, tapi bukan kasih sayang.
“Aku nggak dendam, Dar. Tapi aku juga nggak lupa. Aku sudah memaafkan, tapi aku nggak mau kembali ke masa itu.”
Darto mengangguk, pasrah. Ia tahu tak bisa memutar waktu. Ia makan dalam diam, sementara Siti kembali ke dapurnya. Bukan karena membenci, tapi karena ia tak ingin hidup dalam lingkaran luka lagi.
Setelah makan, Darto pamit. Siti memberinya jas hujan plastik.
"Ini, biar nggak kehujanan."
Darto memegangnya dengan tangan gemetar. “Terima kasih, Sit. Kamu tetap wanita baik.”
Dan Darto pun pergi tertunduk di bawah hujan, mungkin dengan penyesalan yang akan ia bawa seumur hidup.
Siti menatap langit. Hujan masih turun, tapi hatinya tak lagi mendung. Ia tahu, luka masa lalu telah selesai. Kini hidupnya miliknya sendiri dan ia bahagia.
Enam bulan setelah pertemuan itu, kabar datang dari seseorang yang tak disangka Bu Rina, sahabat Siti sekaligus pemilik warung yang dulu menolongnya di masa paling gelap.
“Sit, kamu tahu Darto?” tanya Bu Rina pagi itu saat membantu mengisi etalase warung.
Siti menoleh perlahan. “Kenapa, Bu?”
“Dia sakit. Parah. Kena komplikasi, katanya... tinggal di pos ronda sekarang, nggak punya siapa-siapa.”
Siti terdiam. Ia tak tahu harus merasa apa. Antara iba dan bekas luka yang masih membekas samar. Tapi malamnya, ia tak bisa tidur. Ingatan demi ingatan datang bertubi-tubi sakit, marah, lalu perjuangan. Tapi juga ingat, dulu mereka pernah saling mencintai, meski akhirnya cinta itu mati karena luka.
Keesokan harinya, Siti datang ke pos ronda tempat Darto terbaring. Tubuh lelaki itu kurus, matanya cekung. Saat melihat Siti, matanya berkaca.
“Kamu datang?”
Siti hanya duduk di tepi tikar.
“Aku nggak nyari simpati, Sit. Cuma... kalau ini akhirku, aku pengen pamit baik-baik.”
Siti menggenggam jemarinya sendiri, erat. Ia menatap Darto.
“Kita pernah saling menyakiti. Tapi kamu juga bagian dari perjalanan hidupku. Tanpa kamu, mungkin aku nggak pernah berdiri seperti ini.”
Air mata jatuh dari sudut mata Darto. Ia tahu, ia bukan pria yang baik. Tapi mendapat maaf dari wanita yang paling ia sakiti... itu lebih dari cukup.
Siti tak tinggal lama. Ia pulang, tapi ia titipkan makanan hangat setiap hari melalui anak-anak tetangga. Tak untuk balas budi, tapi karena ia manusia. Yang pernah disakiti, tapi tak ingin jadi penyakiti.
Beberapa minggu kemudian, kabar duka datang. Darto meninggal dalam tidur. Siti datang ke pemakaman, berdiri paling belakang, tanpa air mata. Tapi dalam hatinya, ia menabur doa dan maaf.
Sepeninggal Darto, hidup Siti terus berjalan. Ia memperluas warungnya jadi kedai makan sederhana. Ia sering diundang bicara tentang pemberdayaan perempuan di kampung-kampung.
Siti kini dikenal bukan hanya sebagai janda kuat, tapi sebagai simbol harapan. Bahwa wanita boleh memilih pergi, jika tinggal hanya membuatnya terluka. Bahwa dari luka, bisa tumbuh kekuatan. Dan bahwa perempuan bisa berdiri tegak bukan di balik bayang-bayang lelaki, tapi atas namanya sendiri.
Warung makan Siti kini sudah berubah menjadi sebuah rumah makan kecil yang diberi nama “Warung Harapan”. Nama itu bukan tanpa alasan karena bagi banyak orang di sekitarnya, warung itu bukan cuma tempat makan, tapi tempat bangkit, tempat sembuh, tempat belajar bertahan.
Siti tidak hanya mempekerjakan ibu-ibu yang butuh penghasilan, tapi juga membimbing mereka. Ia mengajari mereka cara mengatur keuangan sederhana, cara berjualan dengan jujur, bahkan kadang menyelipkan motivasi kecil tiap pagi sebelum warung buka.
Di sudut kota yang dulunya muram itu, Siti menjadi cahaya.
Suatu siang, datanglah seorang pria paruh baya ke warungnya. Berpakaian sederhana, matanya ramah. Ia memesan nasi padang lengkap dan duduk diam, memperhatikan suasana.
Setelah makan, ia mendekat ke kasir, tempat Siti sedang mencatat bahan yang harus dibeli besok.
“Bu Siti, ya?”
“Iya. Maaf, kita kenal?” tanya Siti sopan.
“Saya Pak Bagas. Dulu saya teman Darto, sempat kerja bareng di proyek bangunan. Waktu Darto sakit, dia cerita banyak soal Ibu. Dia bangga... walau dengan cara yang telat.”
Siti tersenyum kecil. Luka itu memang sudah lama ia terima. Ia tak menghindar.
“Saya juga dengar, Ibu banyak bantu warga sini. Saya punya program UMKM dari dinas sosial. Kalau Ibu berkenan, kami ingin ajak Ibu jadi narasumber pelatihan di kampung sebelah.”
Siti terdiam sesaat. Bukan karena ragu, tapi karena tak pernah membayangkan namanya akan dipanggil sebagai orang yang bisa menginspirasi.
“InsyaAllah saya bersedia, Pak. Kalau memang bisa bermanfaat.”
Hari-hari berikutnya, Siti mulai keluar dari zona nyaman warungnya. Ia mulai bicara di hadapan ibu-ibu rumah tangga yang dulu senasib dengannya. Ia bercerita bukan sebagai motivator, tapi sebagai seseorang yang pernah jatuh dan bangkit lagi.
Satu sore, saat duduk di depan warungnya yang mulai sepi, Siti memandang langit.
Ia memeluk dirinya sendiri. Bukan karena dingin, tapi karena bahagia. Bahagia karena ia tak lagi bergantung pada siapa pun untuk merasa cukup.
Di sampingnya duduk seorang gadis kecil, anak tetangga, yang tiap sore membantu beres-beres. Namanya Anya, 10 tahun, yatim piatu.
“Bu Siti, kalau aku gede nanti... aku pengen kayak Ibu,” katanya polos.
Siti tersenyum, mengelus rambut Anya. “Jangan jadi kayak Ibu. Kamu harus jadi lebih hebat dari Ibu.”
Siti tahu hidup belum selesai. Tapi kali ini, ia tidak sendiri. Ia punya harapan dan harapan itu bukan lagi luka, tapi masa depan.
Anya kini bukan hanya pembantu kecil di warung, tapi sudah seperti anak bagi Siti. Tiap pagi, ia ikut ke pasar, membantu menata sayur, dan malamnya belajar di ruang belakang warung dengan penerangan seadanya. Siti menyekolahkannya dengan uang hasil warung, diam-diam membayar semua kebutuhan Anya tanpa meminta balas jasa.
Satu malam, saat Siti sedang membereskan pembukuan harian, Anya datang membawa raport.
“Bu Siti, aku juara kelas…” suaranya pelan, tapi matanya berbinar penuh bangga.
Siti menatap raport itu. Tangannya bergetar saat membolak-balik halaman. Nilai-nilai Anya tinggi, semua guru memberi catatan baik. Siti menahan air mata.
“Kamu hebat, Nak. Kamu akan jadi orang besar suatu hari nanti.”
Anya memeluk Siti erat. “Aku nggak punya ibu kandung, tapi aku bersyukur Allah kasih aku Ibu Siti.”
Hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Siti merasa jadi seorang ibu. Bukan karena darah, tapi karena kasih yang tak bersyarat.
Suatu hari, undangan datang dari dinas sosial kota.
Siti dinobatkan sebagai “Perempuan Inspiratif Daerah” atas kontribusinya membantu puluhan perempuan bangkit dari kemiskinan. Ia hampir tak percaya saat namanya disebut dalam upacara resmi, dengan tepuk tangan dari banyak orang yang dulu tak mengenalnya sama sekali.
Di atas panggung, saat diminta memberi sepatah dua patah kata, Siti hanya berkata:
“Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma pernah hidup dalam gelap, dan berusaha mencari cahaya. Hari ini saya berdiri di sini bukan karena saya kuat, tapi karena saya tidak menyerah.”
Tepuk tangan bergema. Tapi bagi Siti, yang paling penting bukan sorotan kamera, bukan piagam. Tapi ketika pulang, ia melihat Anya berlari kecil memeluknya dengan senyum lebar.
Beberapa bulan kemudian...
Siti membuka cabang warung kedua, dikelola oleh ibu-ibu binaannya. Ia mulai mengadakan pelatihan rutin bagi para janda muda dan perempuan korban KDRT. Ia mendirikan komunitas kecil bernama “Langkah Perempuan”.
Dan saat orang-orang bertanya apa yang membuatnya bertahan dulu, ia menjawab:
“Karena aku tahu, jika aku tumbang, tak akan ada yang menolongku. Tapi jika aku berdiri, aku bisa menolong orang lain”
Suatu malam, di depan warung yang mulai sepi, Siti dan Anya duduk berdua.
“Bu, kalau nanti aku kuliah, Ibu masih jagain warung?” tanya Anya.
Siti tertawa kecil. “Mungkin Ibu udah tua, duduk aja di kursi depan, sambil nyuruh kamu kerja.”
Anya memeluk Siti. “Kalau gitu, aku yang lanjutkan warung kita ya, Bu.”
Dan di bawah langit malam itu, dua perempuan berbeda usia tapi satu hati yang pernah kehilangan, pernah bertahan, dan kini tumbuh bersama.
Karena dari luka, bisa tumbuh cinta.
Dari kehilangan, bisa tumbuh harapan.
Dan dari gelap, bisa tumbuh terang.
warung, tapi sudah seperti anak bagi Siti. Tiap pagi, ia ikut ke pasar, membantu menata sayur, dan malamnya belajar di ruang belakang warung dengan penerangan seadanya. Siti menyekolahkannya dengan uang hasil warung, diam-diam membayar semua kebutuhan Anya tanpa meminta balas jasa.
Satu malam, saat Siti sedang membereskan pembukuan harian, Anya datang membawa raport.
“Bu Siti, aku juara kelas…” suaranya pelan, tapi matanya berbinar penuh bangga.
Siti menatap raport itu. Tangannya bergetar saat membolak-balik halaman. Nilai-nilai Anya tinggi, semua guru memberi catatan baik. Siti menahan air mata.
“Kamu hebat, Nak. Kamu akan jadi orang besar suatu hari nanti.”
Anya memeluk Siti erat. “Aku nggak punya ibu kandung, tapi aku bersyukur Allah kasih aku Ibu Siti.”
Hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Siti merasa jadi seorang ibu. Bukan karena darah, tapi karena kasih yang tak bersyarat.
Suatu hari, undangan datang dari dinas sosial kota.
Siti dinobatkan sebagai “Perempuan Inspiratif Daerah” atas kontribusinya membantu puluhan perempuan bangkit dari kemiskinan. Ia hampir tak percaya saat namanya disebut dalam upacara resmi, dengan tepuk tangan dari banyak orang yang dulu tak mengenalnya sama sekali.
Di atas panggung, saat diminta memberi sepatah dua patah kata, Siti hanya berkata:
“Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma pernah hidup dalam gelap, dan berusaha mencari cahaya. Hari ini saya berdiri di sini bukan karena saya kuat, tapi karena saya tidak menyerah.”Tepuk tangan bergema. Tapi bagi Siti, yang paling penting bukan sorotan kamera, bukan piagam. Tapi ketika pulang, ia melihat Anya berlari kecil memeluknya dengan senyum lebar.
Beberapa bulan kemudian...
Siti membuka cabang warung kedua, dikelola oleh ibu-ibu binaannya. Ia mulai mengadakan pelatihan rutin bagi para janda muda dan perempuan korban KDRT. Ia mendirikan komunitas kecil bernama “Langkah Perempuan”.
Dan saat orang-orang bertanya apa yang membuatnya bertahan dulu, ia menjawab:
“Karena aku tahu, jika aku tumbang, tak akan ada yang menolongku. Tapi jika aku berdiri, aku bisa menolong orang lain.”
Suatu malam, di depan warung yang mulai sepi, Siti dan Anya duduk berdua.
“Bu, kalau nanti aku kuliah, Ibu masih jagain warung?” tanya Anya.
Siti tertawa kecil. “Mungkin Ibu udah tua, duduk aja di kursi depan, sambil nyuruh kamu kerja.”
Anya memeluk Siti. “Kalau gitu, aku yang lanjutkan warung kita ya, Bu.”
Dan di bawah langit malam itu, dua perempuan berbeda usia tapi satu hati yang pernah kehilangan, pernah bertahan, dan kini tumbuh bersama.
Karena dari luka, bisa tumbuh cinta.
Dari kehilangan, bisa tumbuh harapan.
Dan dari gelap, bisa tumbuh terang.
Tahun-tahun kembali bergulir.
Anya kini sudah menjadi guru muda, membuka “Rumah Belajar Harapan” tepat di belakang rumah makan Siti. Di rumah kecil itulah anak-anak kampung yang tak mampu bayar sekolah bisa belajar membaca, berhitung, bahkan diajarkan kepercayaan diri. Bukan sekadar pelajaran akademis, tapi juga pelajaran tentang kehidupan tentang bagaimana menjadi manusia yang tak menyerah.
Siti sendiri sudah menua. Rambutnya memutih, jalannya mulai pelan, tapi semangatnya tetap menyala. Ia tak lagi sering turun ke dapur, tapi setiap pagi ia selalu duduk di kursi rotan di depan rumah makannya, menyapa siapa pun yang lewat.
Ibu-ibu yang dulu ia latih, kini punya warung sendiri, ada yang jualan online, bahkan ada yang sudah menyekolahkan anaknya ke luar kota. Semua selalu menyebut satu nama jika ditanya dari mana mereka belajar bertahan:
Siti.
Suatu hari, Anya duduk di samping Siti sambil membawa sebuah bingkisan kecil.
“Ibu,” katanya pelan. “Aku punya hadiah.”
Siti menoleh, tersenyum.
“Apa itu, Nak?”
Anya menyerahkan sebuah map cokelat dan di dalamnya ada surat dan dokumen legal. Siti membaca pelan-pelan. Matanya membesar. Tangannya bergetar.
“Ini…?”
“Iya, Bu. Aku resmikan ‘Rumah Belajar Harapan’ atas nama Ibu. Dan tanah belakang warung ini aku wakafkan sebagai pusat belajar. Tempat ini akan terus hidup… bahkan nanti kalau aku pun sudah tak ada.”
Siti tak kuasa menahan tangis. Ia tak pernah mengira hidupnya yang dulu penuh luka, bisa berbuah sebesar ini. Bahwa cinta tanpa darah bisa menumbuhkan warisan yang abadi.
Beberapa minggu kemudian…
Siti sakit. Usianya sudah tua, tubuhnya mulai melemah. Tapi setiap hari ia tetap tersenyum, tetap menyapa, tetap jadi cahaya kecil bagi sekitar.
Di hari terakhirnya, ia memanggil Anya ke samping ranjang.
“Nak… Ibu nggak ninggalin harta… tapi Ibu mau kamu teruskan hidup ini dengan cahaya. Jangan jadi kuat hanya untuk diri sendiri. Jadilah kuat untuk orang lain.”
Anya menangis sambil menggenggam tangan wanita yang membesarkannya tanpa hubungan darah, tapi penuh cinta yang lebih dari ibu kandung.
“Iya, Bu… aku janji.”
Dan dengan napas terakhirnya, Siti pergi dalam damai.
Warung Harapan
Beberapa tahun kemudian, Warung Harapan menjadi bagian dari cerita kampung, sekolah, dan bahkan program nasional. Namanya disebut di banyak seminar pemberdayaan perempuan, dan kisahnya dijadikan buku motivasi.
Di dinding utama rumah belajar, tergantung besar sebuah bingkai berisi foto Siti dengan tulisan di bawahnya:
"Saya bukan siapa-siapa. Tapi saya memilih untuk tidak menyerah. Dan itu cukup untuk mengubah dunia kecil saya."
Siti
Dan di depan kelas, Anya berdiri dengan senyum lebar, mengajar anak-anak kecil membaca, seperti dulu ia diajari oleh sosok yang mengubah hidupnya.
Siti mungkin telah tiada. Tapi jiwanya hidup dalam setiap perempuan yang ia bangkitkan.
Dalam setiap anak yang berani bermimpi.
Dan dalam setiap harapan yang ditanam di tanah kehidupan.
Beberapa tahun setelah kepergian Siti, nama Warung Harapan tidak hanya dikenal di kampung mereka. Ia menjadi pusat perhatian media, aktivis perempuan, bahkan tokoh-tokoh nasional. Banyak yang datang jauh-jauh hanya untuk melihat di mana kisah Siti dimulai—dari dapur kecil, dari air mata, dari kekuatan seorang wanita biasa.
Anya, kini dikenal sebagai Anya Siti Harapan, sengaja menambahkan nama “Siti” sebagai bentuk penghormatan. Ia percaya, nama itu bukan sekadar nama, tapi warisan kekuatan.
Suatu hari, di sebuah seminar nasional bertema “Perempuan Penopang Masa Depan Bangsa”, Anya berdiri di hadapan ratusan peserta.
Di tangannya ada buku lusuh catatan harian almarhum Siti yang dulu ia temukan di laci kamar.
Anya membuka lembar pertama, lalu membacakan isi tulisan tangan Siti:
“Hari ini aku jualan hanya dapat 8 ribu. Tapi aku tetap hidup. Mungkin ini bukan tentang uang. Tapi tentang keberanian untuk tetap bangun, meski tak ada yang menyambut.”
Hening. Semua mata tertuju pada Anya. Ia melanjutkan:
“Perempuan seperti Ibu Siti bukan dilahirkan untuk dikasihani. Tapi untuk diteladani. Bukan karena ia sempurna. Tapi karena ia tetap berjalan, meski seluruh dunia ingin dia berhenti.”
Tepuk tangan pecah. Beberapa bahkan menangis.
Di akhir pidatonya, Anya menunjuk layar besar yang menampilkan foto Siti sedang duduk di depan warung dengan senyum lelah tapi hangat.
“Dia bukan tokoh buku sejarah. Tapi dia adalah sejarah bagi hidup saya. Dan saya di sini… karena dia memilih untuk tidak menyerah.”
Beberapa bulan kemudian...
Warung Harapan menjadi yayasan resmi. Cabangnya menyebar ke berbagai daerah, fokus membantu perempuan korban kekerasan rumah tangga, janda muda, anak putus sekolah, dan remaja perempuan yang kehilangan arah. Semuanya berawal dari satu warung kecil, dari satu nama: Siti.
Anya tak menikah. Bukan karena tidak laku, tapi karena ia memilih untuk membaktikan hidupnya dulu bagi warisan yang dititipkan padanya. Ia selalu berkata:
“Saya sudah menikah dengan perjuangan. Dan anak-anak saya adalah mereka yang belajar bertahan hidup.”
Suatu malam, saat hujan rintik turun, Anya duduk di depan makam sederhana di atas bukit kecil. Di sana tertulis:
SITI
Perempuan yang Tidak Pernah Padam
Anya menaruh setangkai melati, lalu berbisik:
“Bu… aku lanjutkan apa yang Ibu mulai. Dunia kini tahu siapa Ibu. Tapi bagiku, Ibu tetap cahaya kecil di malam yang gelap. Terima kasih karena dulu Ibu memilih untuk tidak lari dari hidup.”
Akhir kisah? Tidak.
Karena selama masih ada perempuan yang berani bangkit…
Selama masih ada anak yang belajar membaca meski lapar…
Dan selama dunia masih butuh harapan…
Nama Siti akan terus hidup.
Bukan sebagai korban.
Tapi sebagai cahaya.
TAMAT (dan abadi)