Aliran Rasa
Selama empat bulan mengikuti kelas menulis di Klip, perjalanan ini terasa seperti menapaki lorong panjang yang dipenuhi lampu-lampu kecil kadang terang, kadang redup, tapi selalu memandu langkah.
Awal-awal mengikuti kelas, aku merasa canggung dan ragu. Kata-kata yang biasanya bebas mengalir kini terasa kaku dan penuh tekanan. Ada rasa malu saat membaca tulisan sendiri, takut dinilai salah atau kurang bagus. Namun, setiap minggu, dengan materi baru dan tugas menulis yang konsisten, rasa cemas itu perlahan berubah menjadi rasa penasaran.
Di pertengahan perjalanan, rasa frustrasi sering muncul. Ide yang mengalir di kepala terasa sulit dituangkan ke kertas. Tapi di sinilah aku belajar arti kesabaran dan konsistensi. Diskusi dengan mentor dan teman sekelas memberi perspektif baru, kadang membuka mata bahwa setiap tulisan, sekecil apa pun, memiliki nilai. Ada rasa hangat ketika mendapat komentar positif, dan rasa ingin memperbaiki ketika mendapat masukan konstruktif.
Di bulan terakhir, perasaan campur aduk antara bangga dan lega mulai terasa. Bangga karena berhasil menyelesaikan tantangan menulis setiap minggu, dan lega karena melihat sendiri perkembangan kemampuan menulis yang dulu terasa jauh. Kini, menulis bukan lagi sekadar menumpahkan kata, tetapi juga menyusun pikiran, mengekspresikan emosi, dan memahami diri sendiri lebih dalam.
Empat bulan ini mengajarkanku bahwa menulis adalah perjalanan, bukan tujuan. Ada rasa senang, sedih, frustrasi, dan inspirasi yang silih berganti semua itu membentuk pengalaman yang kaya dan tak ternilai. Kelas di Klip bukan hanya tentang menulis, tetapi juga tentang menemukan suara diri sendiri, keberanian untuk mengekspresikan, dan kebahagiaan dalam proses belajar.