Anak Sholeh Dari Ibu Yang Dikhianati

Anak Sholeh dari Ibu Yang Dikhianati 

Namanya Rayyan, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, sederhana, pendiam, namun terkenal di lingkungan masjid sebagai anak yang rajin salat dan selalu membantu orang tua. Ia tinggal bersama ibunya, Bu Lina, di sebuah rumah kecil di pinggiran kota.

Bu Lina adalah seorang wanita tangguh. Dulu ia hidup bahagia bersama suaminya, namun semua berubah ketika sang suami, Pak Hendra, mulai dekat dengan rekan kerja wanitanya. Awalnya Bu Lina tak menaruh curiga, tetapi perubahan sikap suaminya begitu nyata  pulang larut malam, sering marah-marah tanpa sebab, dan mulai jarang menyentuh Al-Qur’an yang dulu rutin dibacanya.

Hingga akhirnya, satu malam, semuanya terbongkar. Pak Hendra mengakui bahwa ia telah menjalin hubungan dengan rekan kerjanya dan ingin menikahinya. Bu Lina yang terpukul mencoba mempertahankan rumah tangganya demi Rayyan, namun takdir berkata lain. Perceraian pun terjadi.

Bu Lina jatuh, tetapi tidak hancur. Ia bangkit demi anaknya. Meski hatinya luka, ia tidak pernah menjelekkan mantan suaminya di depan Rayyan. Sebaliknya, ia selalu menasihati anaknya untuk tetap menghormati ayahnya.

Rayyan tumbuh menjadi anak yang kuat. Ia melihat perjuangan ibunya yang bekerja sebagai penjahit rumahan demi mencukupi kebutuhan mereka. Ia belajar dari kesabaran, tangis dalam doa, dan kekuatan yang dipancarkan ibunya setiap hari.

Setiap subuh, Rayyan membangunkan ibunya untuk salat berjamaah di rumah. Setelah itu, ia mengaji, dan sebelum berangkat sekolah, ia mencium tangan ibunya sambil berkata,

"Rayyan ingin jadi anak yang bisa bawa Ibu ke surga."

Tangis Bu Lina tak tertahan setiap kali mendengar itu. Dalam diam, ia memeluk anaknya dan berkata,

"Nak, engkau alasan Ibu masih kuat sampai hari ini."

Meski hidup sederhana, keberkahan terasa dalam rumah kecil mereka. Rayyan terus tumbuh dengan akhlak yang baik, rajin, dan penuh kasih. Guru-gurunya di sekolah menyebutnya sebagai anak yang istimewa cerdas dan berakhlak mulia.

Tahun demi tahun berlalu, Rayyan menjadi penghafal Al-Qur’an di usia 13 tahun. Saat prosesi wisuda tahfidz di pondoknya, ia berdiri di depan para wali santri sambil berkata:

"Saya bukan dari keluarga kaya, bukan dari keluarga utuh, tapi saya punya ibu yang setiap malam menangis dalam doa agar saya jadi anak sholeh. Saya hadiahkan hafalan ini untuk beliau, semoga Allah mengangkat derajat Ibu di dunia dan akhirat."

Suasana hening sejenak, lalu bergemalah tangis haru para hadirin.

Bu Lina pun berdiri dengan mata berkaca-kaca, bangga, bahagia, dan merasa perjuangannya tidak sia-sia. Ia tidak lagi menyesali masa lalunya, karena dari luka itu, lahir seorang anak sholeh yang menjadi cahaya hidupnya.

Tahun demi tahun berlalu. Rayyan yang dulu kecil dan pendiam kini tumbuh menjadi pemuda yang bijak, sederhana, dan tetap rendah hati. Setelah menyelesaikan hafalan 30 juz di pondok pesantren, ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di jurusan Syariah di sebuah universitas Islam ternama dengan beasiswa penuh.

Bu Lina tak henti bersyukur. Ia tetap menjahit di rumah, kini bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi juga sebagai bentuk kesyukuran dan ketekunan. Di setiap hasil jahitannya, ia selipkan doa-doa untuk anak semata wayangnya.

Di tengah kesibukannya kuliah, Rayyan juga aktif berdakwah di berbagai tempat. Ia tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tapi juga semangat bangkit dari luka. Ia sering mengatakan di ceramah-ceramahnya:

"Tidak semua luka membuat kita rapuh. Ada luka yang justru menguatkan, membentuk karakter, dan mendekatkan kita kepada Allah. Saya adalah bukti dari doa seorang ibu yang tidak menyerah."

Nama Rayyan mulai dikenal. Banyak orang tua yang menitipkan anak mereka untuk belajar mengaji dengannya. Bahkan, beberapa instansi mulai mengundangnya menjadi pembicara di acara keagamaan dan motivasi pemuda.

Sementara itu, sang ayah  Pak Hendra yang dulu meninggalkan mereka, hidup dalam pernikahan baru yang tak bahagia. Usahanya jatuh bangkrut, dan rumah tangganya penuh konflik. Ia sering termenung, mengingat kembali wajah kecil Rayyan dan kesabaran Bu Lina yang tak pernah membalas dengan kebencian.

Suatu hari, Pak Hendra datang diam-diam ke acara pengajian di mana Rayyan menjadi penceramah. Ia duduk di sudut, menunduk, mendengar suara anaknya menyampaikan dakwah. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Di akhir acara, ia mencoba mendekat.

“Rayyan…” katanya pelan.

Rayyan menoleh, sempat terdiam, namun tak ada kebencian di wajahnya. Ia tersenyum.

“Ayah…” jawabnya lirih.

Keduanya berpelukan dalam tangis. Bu Lina yang datang menyusul ke tempat itu hanya berdiri dari kejauhan, lalu membalikkan badan, menahan haru.

Tak lama setelah itu, Pak Hendra meminta maaf kepada Bu Lina dan Rayyan. Ia mengakui semua kesalahannya dan memohon agar diberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan sebagai ayah.

Rayyan tak pernah membenci. Ia percaya, setiap orang berhak untuk bertobat. Namun ia tetap menjaga batas  karena ia tahu, hati ibunya sudah terlalu lelah untuk membuka luka lama.

Kini, Rayyan telah lulus kuliah dan membuka sebuah rumah tahfidz gratis untuk anak-anak yatim dan dhuafa. Ia beri nama rumah tahfidz itu:

"Madrasah Umi Lina"

 sebagai bentuk penghormatan untuk ibunya, pahlawan sejatinya.

Setiap pagi, suara anak-anak mengaji menggema dari rumah itu. Bu Lina duduk di serambi, tersenyum sambil menyulam, menyaksikan mimpi yang dulu tak berani ia bayangkan kini jadi nyata.

Ia tahu, hidupnya mungkin tidak sempurna, tapi Allah memberinya satu karunia luar biasa: seorang anak sholeh, yang lahir dari air mata dan doa yang tak pernah putus.

Tahun berganti, Rayyan kini berusia 27 tahun. Ia telah dikenal sebagai ustadz muda yang penuh kasih, tidak menghakimi, dan mampu menyentuh hati generasi muda. Ceramahnya tak hanya tentang syariat, tapi juga tentang luka, pengampunan, dan kekuatan doa.

Namanya viral di media sosial saat salah satu video ceramahnya tentang "Keajaiban Doa Seorang Ibu" menyentuh jutaan penonton. Dalam video itu, Rayyan menyebut:

"Saya ini bukan siapa-siapa. Hanya anak dari seorang ibu yang diceraikan karena diselingkuhi, tapi memilih mendoakan daripada membenci. Saya tumbuh bukan karena ayah saya hebat, tapi karena Allah menjaga hati seorang ibu yang sabar."

Ucapan itu membuat netizen menangis dan banyak mengangkat kisahnya sebagai inspirasi.

Tak lama setelah itu, seorang pengusaha Muslimah dari Jakarta datang ke rumah tahfidz milik Rayyan. Ia ingin menyumbangkan dana untuk memperluas madrasah. Bersamanya, ada putrinya, Humaira, seorang hafidzah, sarjana psikologi Islam yang juga aktif mengajar anak-anak berkebutuhan khusus.

Pertemuan itu awalnya biasa saja. Tapi seiring waktu, Humaira dan Rayyan sering terlibat dalam kegiatan sosial bersama. Keduanya terpesona satu sama lain bukan karena rupa, tapi karena keimanan, kepedulian, dan visi hidup yang sama: menjadi manfaat untuk umat.

Rayyan lalu berkonsultasi pada ibunya, dan Bu Lina dengan hati penuh syukur berkata,

"Nak, jika engkau yakin pada agamanya dan akhlaknya, bismillah. Ibu percaya pilihanmu selalu dalam petunjuk Allah."

Lamaran pun dilangsungkan dengan sederhana, namun penuh keberkahan. Akad nikah digelar di rumah tahfidz mereka, disaksikan anak-anak yatim yang dulu Rayyan asuh sejak kecil. Pak Hendra, sang ayah, hadir pula  kali ini sebagai tamu yang telah benar-benar bertobat dan menata hidupnya kembali. Ia tak henti menangis saat melihat anak yang dulu ia tinggalkan kini menikah sebagai pemimpin dan guru bagi banyak orang.

Setelah menikah, Rayyan dan Humaira mengelola rumah tahfidz dan membuka program pendidikan gratis untuk ibu tunggal dan anak-anak korban broken home. Mereka mengajarkan bahwa hancurnya rumah tangga bukan akhir segalanya  justru bisa jadi awal jalan hidayah.

Suatu malam, Rayyan duduk di sisi ibunya yang sudah mulai menua. Ia menggenggam tangan Bu Lina dan berkata:

"Bu, Rayyan tak akan pernah bisa membalas semua perjuangan Ibu. Tapi izinkan Rayyan terus jadi anak yang menuntun Ibu sampai surga."

Bu Lina menatap langit, air matanya menetes, dan ia hanya bisa berdoa dalam hati:

"Ya Allah, andai dulu aku menyerah karena dikhianati, aku takkan melihat keindahan ini. Terima kasih telah mengganti luka hatiku dengan anak sebaik Rayyan."

Waktu terus berjalan. Rumah Tahfidz Madrasah Umi Lina kini berkembang pesat. Sudah berdiri tiga cabang di kota berbeda, semuanya tetap menggratiskan biaya untuk anak-anak yatim, dhuafa, dan anak dari keluarga broken home.

Rayyan kini sering diundang ke luar negeri untuk mengisi forum Islam internasional. Namun satu hal yang tak pernah ia tinggalkan: doa dan restu ibunya. Setiap hendak pergi ke luar kota atau ke luar negeri, Rayyan selalu mencium tangan Bu Lina dan berkata:

 "Ibu, doakan Rayyan tetap dijaga Allah, dan tidak pernah jauh dari cahaya-Nya."

Bu Lina selalu membalas dengan senyuman dan air mata. Makin tua, ia makin jarang bicara panjang. Tapi tatapan matanya selalu cukup untuk menyampaikan rasa bangga dan bahagia.

Hari Itu Datang…

Pada suatu malam, setelah salat Isya, Rayyan duduk berdua dengan ibunya di serambi. Udara sejuk dan suara jangkrik menemani. Bu Lina tampak tenang. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Rayyan.

 "Nak... Ibu sudah sangat tenang sekarang. Ibu tahu, Allah tidak pernah tidur. Segala air mata Ibu dulu dibayar dengan anak yang jadi cahaya. Ibu bahagia..."

Rayyan hanya diam, memeluk ibunya.

Esok paginya, Bu Lina ditemukan tidur dalam keadaan tersenyum... namun tidak lagi bernafas.

Rayyan tak menangis histeris. Ia menunduk, mencium kening ibunya, dan berkata pelan,

"Ibu, pergilah dengan tenang. Rayyan akan terus jaga apa yang Ibu tanamkan. Terima kasih sudah mengorbankan hidup Ibu untuk Rayyan."

Pemakaman Bu Lina dipenuhi ratusan orang  santri, masyarakat sekitar, bahkan tokoh-tokoh agama yang pernah dibantu Rayyan. Tak sedikit anak-anak tahfidz ikut menangis, kehilangan sosok yang selama ini mereka anggap sebagai “nenek surga”.

Rayyan tak ambil jeda lama. Setelah masa iddah ibunya di dunia berakhir, ia kembali berdakwah. Kini semangatnya berbeda. Lebih dalam, lebih hangat, lebih menggetarkan.

Setiap ceramahnya kini selalu menyisipkan satu kalimat:

"Jika kalian ingin tahu seperti apa surga... lihatlah ibu kalian, sebelum kalian kehilangannya."

Tahun-tahun berjalan.

Rayyan kini bukan hanya dikenal sebagai ustadz, tapi juga sebagai tokoh kemanusiaan. Ia membuat yayasan sosial atas nama ibunya: “Yayasan Cahaya Lina”, yang membina ribuan anak dari latar belakang keluarga sulit. Ia tidak pernah melupakan dari mana dirinya berasal: dari doa dan luka.

Suatu hari, saat diwawancarai oleh media, ia ditanya:

"Ustadz Rayyan, apa yang membuat Anda menjadi seperti sekarang ini?"

Ia menjawab:

 "Karena dulu ada seorang ibu yang dikhianati, namun memilih bersujud daripada mengutuk. Dari sujud itulah, lahir saya yang hari ini Anda lihat."


Tamat.


Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa