Kepercayaan Yang Hancur Di Balik Layar
Judul: "Kepercayaan yang Hancur di Balik Layar"
Namaku Nita. Aku perempuan biasa, tinggal di kota kecil, dan sejak lama kesepian. Suatu malam, aku berkenalan dengan seseorang di media sosial. Namanya Raka, lelaki berwajah tampan dengan tutur kata lembut yang mampu menenangkan hatiku yang selama ini terasa kosong.
Hari demi hari, kami semakin dekat. Video call, voice note, bahkan saling mengirim hadiah kecil. Raka selalu berkata ia mencintaiku “Kamu beda dari yang lain, Nit,” katanya suatu malam, “Kamu yang bikin aku merasa hidup lagi.” Kata-kata itu menghangatkan hatiku. Aku mulai percaya, mungkin inilah cinta sejati yang selama ini kutunggu.
Tapi, pelan-pelan, semuanya mulai terasa ganjil. Raka sering menghilang tanpa kabar, hanya muncul malam hari, dan menolak ajakanku bertemu langsung. Ia selalu punya alasan: sibuk kerja, urusan keluarga, atau kadang hanya bilang, “Nanti ya, aku belum siap.”
Hingga suatu hari, semuanya terbongkar dengan cara yang tak kuduga. Seorang perempuan menghubungiku lewat akun palsu dia mengaku istri Raka. Awalnya aku tak percaya. Tapi dia mengirimkan foto pernikahan mereka, foto anak-anak mereka, bahkan rekaman suara Raka yang sedang tertawa bersama keluarganya.
Dunia rasanya runtuh. Raka, lelaki yang selama ini membuatku bermimpi tentang masa depan, ternyata sudah beristri. Semua janji manisnya hanyalah kebohongan. Dia pandai berkata-kata, tapi semua itu akal-akalan untuk memanipulasi perasaan.
Ketika aku menanyakannya, dia tak membantah. “Maaf, Nita. Aku memang salah. Aku hanya butuh tempat curhat, dan kamu baik. Tapi aku gak bisa ninggalin keluargaku.”
Saat itu juga, kepercayaan yang kubangun perlahan selama berbulan-bulan runtuh seketika. Bukan hanya sakit karena dibohongi, tapi karena merasa telah menyerahkan hati pada seseorang yang tak layak menerimanya.
Kini, aku belajar. Bahwa cinta tak cukup hanya dengan kata-kata manis di balik layar. Bahwa kejujuran lebih berharga dari sekadar perhatian. Dan bahwa cinta sejati tak akan pernah berdiri di atas kebohongan.
Setelah pengakuan itu, aku merasa seperti orang bodoh. Berhari-hari aku menangis. Pesan-pesan lama darinya kubaca lagi, satu per satu, dan setiap kata terasa seperti pisau yang menusuk perasaanku. Aku mulai mempertanyakan segalanya apakah ia pernah benar-benar mencintaiku? Ataukah aku hanyalah pelarian baginya saat rumah tangganya terasa sepi?
Aku menghapus semua chat, foto, dan kenangan digital bersamanya. Tapi, yang paling sulit dihapus adalah rasa percaya yang dulu begitu utuh. Rasa percaya yang telah hancur berkeping-keping.
Sahabatku, Rani, adalah satu-satunya orang yang tahu kisahku dari awal. Dia datang ke rumah saat aku belum bisa berhenti menangis.
“Nit,” katanya sambil menggenggam tanganku, “kamu bukan salah. Kamu cuma tulus. Tapi kadang, dunia ini gak adil sama orang yang tulus. Dia yang salah karena mempermainkan hati kamu.”
Aku diam, mataku masih sembab. “Tapi kenapa bisa selama itu aku gak tahu dia udah beristri, Ran? Aku percaya sama dia... sepenuhnya.”
“Karena kamu cinta. Dan orang yang cinta itu seringkali buta. Tapi sekarang kamu sudah tahu, dan kamu lebih kuat dari yang kamu kira.”
Hari-hari selanjutnya aku habiskan untuk menyembuhkan diri sendiri. Aku menulis diari, menulis semua perasaanku. Tentang luka. Tentang kecewa. Tentang bagaimana seseorang bisa tampil sempurna di balik layar, padahal kenyataannya penuh dusta.
Aku mulai belajar kembali percaya pada diriku sendiri. Bahwa aku layak dicintai dengan jujur. Bahwa aku tak seharusnya merasa bersalah karena ditipu. Bahwa aku berhak bahagia tanpa bergantung pada manisnya ucapan dari seseorang yang tak pernah benar-benar berniat mencintaiku.
Dan hari ini, saat aku melihat notifikasi pesan dari seseorang yang baru, aku tak langsung membuka hati. Tapi aku juga tak menutupnya sepenuhnya. Karena aku tahu, cinta yang baik akan datang dengan terang, bukan dari bayang-bayang kebohongan.
Aku belajar satu hal penting:
Kepercayaan itu rapuh. Sekali pecah, tak bisa kembali seperti semula. Tapi hati yang tulus, meski hancur, masih bisa tumbuh kembali. Dengan lebih bijak. Dengan lebih kuat.
Hari-hari tanpa Raka awalnya seperti siksaan. Aku terbiasa mendengar suaranya sebelum tidur. Terbiasa menanti pesan “Selamat pagi, cantik.” Sekarang, hanya ada hening. Tapi dalam hening itu, perlahan aku mulai mendengar sesuatu yang lebih penting suaraku sendiri.
Aku mulai menyadari, selama ini aku terlalu sibuk mencintai seseorang yang bahkan tidak benar-benar hadir. Aku menaruh harap dan impian pada lelaki yang hanya memberikan bayangan palsu. Dan saat bayangan itu menghilang, aku pun hampir kehilangan diriku.
Tapi tidak. Aku bangkit.
Aku kembali melanjutkan hobiku menulis. Aku tuangkan kisahku ke dalam cerita fiksi tentang gadis yang ditipu lelaki manis bersuara halus, yang ternyata hanya aktor dalam drama kebohongan. Anehnya, banyak yang membaca dan merasa relate. Ternyata aku tak sendiri. Banyak perempuan yang pernah merasakan patah oleh cinta online.
Satu pesan dari pembaca sangat membekas:
"Terima kasih sudah menulis kisah ini. Aku juga pernah dibohongi lelaki beristri yang ngaku duda. Ceritamu menyembuhkan."
Saat itu aku sadar: lukaku ternyata bisa menjadi cahaya untuk orang lain.
Suatu siang, aku melihat akun Raka kembali aktif. Foto profilnya kini bersama seorang anak kecil mungkin anaknya sendiri. Aku tak marah lagi. Tidak juga sedih. Hanya... datar. Karena kini aku tahu, dia bukan lagi seseorang yang layak mengisi hatiku. Dan yang paling penting, aku sudah tak lagi mengizinkan bayangannya tinggal di dalam luka.
Kepercayaan mungkin sudah hancur. Tapi diriku yang sekarang bukan Nita yang dulu. Aku bukan lagi perempuan yang bisa ditipu dengan rayuan manis. Aku telah menjadi perempuan yang belajar dari sakit, dan tumbuh dari luka.
Dan jika suatu hari ada cinta baru datang dengan cara yang jujur, aku akan menyambutnya bukan dengan rasa takut, tapi dengan versi terbaik dari diriku yang sudah belajar.
Karena kini aku tahu:
Cinta tanpa kejujuran bukan cinta. Hanya ilusi yang menyamar sebagai harapan.
“Surat yang Tak Akan Pernah Kukirim”
(oleh Nita, untuk seseorang yang pernah ia cintai...)
Raka...
Entah kenapa malam ini aku kembali teringat padamu. Mungkin karena lagu lama yang tadi tiba-tiba terputar di kafe tempat aku biasa duduk menulis. Lagu yang dulu sering kamu kirimkan sambil bilang, “Lagu ini kayak kamu, lembut dan bikin tenang.”
Lucu ya. Dulu aku percaya setiap kata yang keluar dari mulutmu adalah kejujuran. Aku percaya kamu adalah seseorang yang dikirim semesta untuk menyembuhkan sepi dalam hidupku. Tapi ternyata... kamu cuma orang asing yang pandai bersandiwara.
Aku sempat marah. Sakit. Tertusuk oleh kenyataan bahwa di balik senyum dan kata manismu, ada kebohongan yang kau rawat dengan sangat rapi. Kamu bilang kamu sendiri. Kamu bilang kamu kesepian. Kamu bilang aku segalanya. Padahal… kamu sudah punya rumah, istri, anak, dan semua yang tak pernah kamu akui padaku.
Rasanya seperti mimpi buruk. Tapi aku tak bisa menjerit, karena semua luka ini terjadi dalam sunyi, dalam ruang pesan yang hanya aku dan kamu tahu.
Tapi, Raka... aku tak menulis ini untuk menagih penjelasan. Atau meminta maaf. Atau mengungkit semua yang telah kamu hancurkan. Tidak. Aku menulis ini untuk mengembalikan diriku sendiri.
Dulu, aku mengira kamu yang membuatku utuh. Ternyata aku salah. Karena justru setelah kamu pergi, aku belajar menyusun kembali serpihan diriku yang berserakan. Dan tahu apa yang kutemukan? Aku jauh lebih kuat dari yang kupikirkan.
Kamu mungkin bisa membohongi hatiku saat itu. Tapi kamu tak akan pernah bisa menghancurkan siapa aku sekarang: seorang perempuan yang telah terluka, namun memilih untuk sembuh dengan kepala tegak.
Kini, aku tak lagi berharap kamu datang kembali. Tidak ada penyesalan yang kuinginkan dari mulutmu. Biarlah kisah kita menjadi pelajaran tentang cinta yang semu, tentang kepercayaan yang tak bisa kau jaga, dan tentang hati yang pada akhirnya memilih untuk mencintai diri sendiri lebih dulu.
Dan terakhir...
Terima kasih. Karena dari kamu, aku belajar bahwa cinta tak bisa tumbuh dari kebohongan. Dan kepercayaan, sekali hancur, tak akan pernah kembali utuh.
Selamat tinggal, Raka.
Semoga keluargamu menjadi tempatmu belajar jujur.
Karena aku sudah selesai menjadi bagian dari sandiwaramu.
_ Nita
Beberapa bulan telah berlalu. Nama Raka kini hanya bagian kecil dari masa lalu yang tak lagi menyakitkan. Aku bahkan bisa tersenyum saat mengingatnya, bukan karena masih mencintai, tapi karena aku bangga karena aku pernah terluka begitu dalam, namun bisa keluar dengan hati yang lebih kuat.
Kini aku menulis kisah-kisah cinta... bukan kisah cinta palsu seperti yang pernah kudapat, tapi kisah tentang perempuan-perempuan yang belajar mencintai dirinya sendiri sebelum mencintai orang lain. Kisah yang jujur, rapuh, tapi nyata.
Suatu sore, aku duduk di taman kota dengan secangkir kopi, laptop di pangkuan. Seorang gadis muda duduk di bangku sebelahku, menangis pelan sambil menatap ponselnya. Aku hanya menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil.
Aku tahu air mata itu. Aku tahu rasanya dihancurkan oleh seseorang yang tak pernah benar-benar hadir. Tapi aku juga tahu satu hal: setelah tangis itu habis, yang tersisa adalah kamu yang lebih tangguh.
Aku ingin menyapa gadis itu, ingin berkata:
"Percaya deh, suatu hari kamu akan berterima kasih pada rasa sakit ini. Karena dari sinilah kamu akan tumbuh menjadi perempuan yang tak bisa lagi dibohongi oleh cinta yang manis di mulut tapi palsu di hati."
Namun aku hanya diam. Karena aku tahu setiap orang harus melewati proses sembuhnya sendiri. Sama seperti aku dulu.
Dan untukmu yang mungkin pernah seperti Nita,
Ingatlah satu hal:
Cinta yang sejati tidak membuatmu ragu. Tidak memintamu menunggu dalam ketidakpastian. Tidak bersembunyi di balik status yang disembunyikan.
Cinta sejati... datang dengan kejujuran dan keberanian.
Dan sampai cinta yang seperti itu datang,
cintailah dirimu lebih dulu,
seperti Nita akhirnya mencintai dirinya sendiri.
Setelah peristiwa dengan Raka, hidup Nita tak langsung membaik. Tapi perlahan, hari-harinya tak lagi diwarnai air mata. Ia mulai terbiasa bangun pagi tanpa menanti pesan siapa-siapa. Ia mulai mencintai kesendirian, bukan karena sepi, tapi karena kini ia tahu: ketenangan bukan datang dari orang lain, melainkan dari dalam diri.
Nita mulai menulis lebih banyak. Ia membuka blog kecil berisi kisah-kisah perempuan yang pernah dikhianati, disakiti, bahkan ditinggalkan tanpa pamit. Cerita-ceritanya mulai dibaca banyak orang, dibagikan, bahkan menginspirasi. Tak sedikit perempuan mengirimkan pesan padanya:
“Terima kasih, tulisanmu menyadarkanku bahwa aku harus berhenti berharap pada dia yang tak pernah benar-benar hadir.”
Dari situ, Nita mulai berani bicara. Ia diundang jadi pembicara dalam komunitas perempuan, bahkan membuat kelas kecil bertajuk “Sembuh dari Luka Cinta Online.” Banyak perempuan datang padanya, menangis, lalu pulang dengan hati lebih ringan. Nita bukan hanya sembuh, ia menyembuhkan.
Suatu ketika, di sebuah acara diskusi perempuan mandiri, Nita bertemu seorang pria. Namanya Ardi seorang fotografer dokumenter, sederhana tapi hangat, matanya jujur, dan tutur katanya tenang. Ia tak terlalu pandai merayu, tapi dalam setiap obrolan dengannya, Nita merasa dilihat, didengar, dan dihargai.
Mereka tak langsung jatuh cinta. Tidak seperti dulu. Kali ini, Nita berjalan pelan. Ia menata ulang hatinya dengan hati-hati. Tapi setiap langkah dengan Ardi terasa aman. Tak ada sembunyi-sembunyi. Tak ada rahasia.
Sampai suatu hari, saat mereka duduk di bawah pohon besar, Ardi berkata:
“Aku tahu kamu pernah dilukai. Tapi aku gak datang untuk memperbaiki kamu. Kamu udah utuh, Nit. Aku cuma ingin berjalan bareng kamu… kalau kamu bersedia.”
Air mata Nita jatuh bukan karena sakit, tapi karena haru. Ternyata setelah luka yang begitu menyakitkan, masih ada yang mau mencintai tanpa menuntut. Cinta yang bukan janji manis, tapi nyata dalam tindakan.
Kini, Nita bahagia. Tapi bukan karena pria.
Ia bahagia karena ia tak lagi bergantung pada siapa pun untuk merasa cukup. Cintanya pada diri sendiri kini jadi pondasi untuk semua hal. Dan jika cinta datang kembali, ia tak akan menyambutnya dengan harapan kosong, tapi dengan mata terbuka dan hati yang bijak.
Dan jika ada satu hal yang Nita ingin sampaikan pada perempuan di luar sana, itu adalah:
“Jangan biarkan seseorang yang berbohong merusak kepercayaanmu pada cinta. Tapi biarkan luka itu menjadi alasanmu untuk mencintai dirimu lebih dalam. Karena dari sanalah semua keajaiban akan dimulai.”
"Lelaki di Balik Kebohongan" Kisah Raka Setelah Kepergian Nita
Malam-malam bagi Raka kini tak lagi sama. Hidupnya kembali seperti dulu: bangun pagi, kerja, pulang, menghadapi rutinitas rumah tangga yang hambar. Istrinya masih ada di rumah, anak-anaknya tumbuh sehat. Tapi ada ruang kosong dalam dirinya yang tak bisa ia isi.
Dan di sanalah... bayangan Nita kadang hadir.
Nita yang sederhana. Nita yang sabar mendengarkan. Nita yang tak pernah menuntut apa pun darinya kecuali jujur.
Setiap kali ia membuka galeri ponsel, kadang ia masih menemukan foto-foto tangkapan layar obrolan mereka. Sering ia baca kembali pesan-pesan lama Nita yang penuh perhatian. Pesan-pesan yang dulu ia balas dengan kebohongan manis, kini terasa seperti cermin yang menampar wajahnya sendiri.
Apakah Raka rindu?
Ya, ia rindu.
Tapi rindu itu bukan tentang ingin kembali. Raka tahu, ia tak pantas untuk Nita. Ia tahu, jika pun ia mendekat lagi, Nita tak akan pernah memandangnya sama.
Ia pernah mencoba mengetik pesan:
“Apa kabar, Nit?”
Tapi sebelum dikirim, ia hapus. Karena ia sadar, kerusakan yang ia buat tak bisa dibayar dengan sekadar sapaan basa-basi.
Di rumah, ia seperti lelaki biasa. Tapi di dalam hatinya, ia tahu: ia pernah menyia-nyiakan perempuan yang mencintainya dengan tulus. Dan sekarang, ia melihat dari kejauhan Nita semakin bersinar, jadi pembicara, menulis buku, membangun komunitas.
Kadang ia ingin berkata,
“Aku bangga padamu…”
Tapi ia juga sadar: itu bukan haknya lagi.
Raka menyesal. Tapi penyesalan yang datangnya terlambat adalah hukuman paling sunyi.
Ia menjalani hidupnya, tapi rasa bersalah itu akan selalu menjadi bagian dari dirinya.
Kini, ia hanya bisa berdoa dalam diam:
“Semoga kamu benar-benar bahagia, Nit. Tanpa aku, dan karena aku tak ada lagi dalam hidupmu.”
Dan seperti itu, Raka pun lenyap dari cerita Nita bukan sebagai musuh, bukan juga sebagai kenangan indah, tapi sebagai pelajaran pahit yang membentuk kekuatan di balik senyuman seorang perempuan yang pernah ia bohongi.
"Pertemuan yang Tak Pernah Direncanakan"
Lima tahun telah berlalu.
Nita kini dikenal sebagai penulis dan pembicara perempuan mandiri. Ia punya komunitas, bukunya terjual ribuan eksemplar, dan ia hidup damai bersama Ardi, suami yang setia dan sederhana. Masa lalunya tak pernah benar-benar hilang, tapi ia sudah tak menyimpannya dalam bentuk luka melainkan pelajaran.
Hari itu, Nita diundang jadi pembicara dalam sebuah acara seminar nasional bertema “Perempuan dan Keberdayaan Emosional.” Ia berjalan menuju ruang seminar dengan percaya diri, mengenakan blus putih sederhana, rambut dikuncir rapi, senyum tipis menghiasi wajahnya.
Namun langkahnya terhenti seketika.
Di salah satu sudut ruangan, duduk seorang pria dengan pandangan tertunduk. Matanya bertemu dengan matanya. Dan dunia seperti berhenti sebentar.
Raka.
Wajah itu tak banyak berubah. Masih dengan sorot mata tenang, tapi kini ada kerutan dan lelah yang tak bisa disembunyikan. Ia berdiri perlahan, ragu, seolah tak percaya perempuan di hadapannya adalah Nita yang dulu ia tinggalkan dengan luka begitu dalam.
Mereka akhirnya bicara. Bukan di atas panggung. Bukan di depan orang banyak. Tapi di pojok kafe setelah acara selesai, dengan dua cangkir kopi yang tak disentuh, dan keheningan yang begitu berat.
“Aku nggak nyangka... kamu sekarang sudah sejauh ini,” Raka membuka suara.
Nita tersenyum tenang. “Dan aku juga nggak nyangka… kamu masih ingat aku.”
Raka menatap ke bawah. Lalu, dengan suara pelan tapi jujur, ia berkata:
“Aku minta maaf, Nit. Dulu... aku pengecut. Aku bodoh. Aku pikir aku bisa punya segalanya keluarga dan pelarian. Tapi kamu bukan pelarian. Kamu adalah rumah yang tidak pernah bisa aku miliki karena aku memilih untuk berbohong.”
Nita menatapnya, lama. Tapi kali ini tak ada amarah. Tak ada tangis.
“Aku sudah memaafkanmu, Ka. Sejak lama,” ucapnya lembut. “Tapi aku juga tak pernah lupa bagaimana rasanya dikhianati. Dan rasa itulah yang membuat aku jadi seperti sekarang.”
Raka mengangguk. Matanya tampak berkaca.
“Aku bahagia kamu bahagia,” katanya pelan. “Dan aku menyesal, bukan karena kamu pergi, tapi karena aku kehilangan kesempatan untuk jadi lelaki yang jujur waktu itu.”
Nita tersenyum kali ini dengan tulus.
“Dan mungkin... itulah satu-satunya hal baik yang bisa kamu lakukan sekarang: jangan ulangi itu pada siapa pun lagi.”
Mereka tak bertukar nomor. Tak berjanji bertemu kembali. Hanya satu pelukan singkat di bawah langit senja, sebelum mereka kembali ke arah hidup masing-masing.
Pertemuan itu bukan awal. Bukan juga penutup yang sempurna. Tapi cukup untuk mengakhiri kisah lama dengan cara yang dewasa dan damai.
Setelah pertemuan pertamanya dengan Ardi, segalanya berjalan pelan, sangat berbeda dari apa yang pernah Nita alami bersama Raka. Tidak ada rayuan tergesa. Tidak ada janji-janji manis. Hanya perhatian kecil yang konsisten seperti mengingatkan makan, menemani diskusi soal tulisan, atau datang diam-diam ke acara seminar Nita dan duduk di barisan paling belakang hanya untuk memberi dukungan.
Ardi tidak banyak bicara, tapi setiap ucapannya terasa jujur.
“Kamu nggak perlu jadi siapa-siapa buat aku, Nit. Cukup jadi diri kamu aja. Aku nyaman melihat kamu jujur, bahkan ketika kamu sedang nggak kuat.”
Nita, yang dulu pernah trauma karena percaya pada kebohongan, awalnya sulit membuka hatinya sepenuhnya. Ia sering waspada. Kadang meragukan hal-hal kecil. Tapi Ardi tak pernah memaksanya untuk percaya. Ia hanya bertahan, pelan-pelan membuktikan bahwa tidak semua laki-laki datang untuk menyakiti.
Hingga pada suatu malam hujan, mereka duduk di teras rumah Nita, berdua saja. Suasana tenang. Hanya suara rintik hujan dan cangkir teh hangat di antara mereka.
Ardi menatap Nita lama. Lalu berkata,
“Aku tahu kamu pernah terluka, Nit. Dan aku nggak mau jadi obatnya. Aku cuma pengen jadi teman hidup kamu, yang jalan bareng, bukan menuntun atau dituntun. Kita bisa saling belajar… dan saling jaga.”
Nita hanya diam. Tapi air matanya jatuh pelan. Itu bukan tangis sedih. Tapi karena baru kali ini... ia merasa dicintai tanpa harus berpura-pura kuat.
Pertunangan yang Sederhana Tapi Penuh Makna
Beberapa bulan setelahnya, Ardi melamar Nita bukan dengan pesta mewah. Tapi dengan melibatkan hal yang paling bermakna bagi mereka: menulis.
Di sebuah buku catatan sederhana, Ardi menulis satu halaman:
“Aku ingin menulis kisah kita sampai akhir. Kalau kamu bersedia jadi rekan menulisnya, maukah kamu jadi istriku?”
Nita menjawab tanpa ragu. “Iya. Tapi kita tulis pelan-pelan ya. Kayak selama ini.”
Dan begitulah, mereka bertunangan. Tanpa banyak sorotan, tapi penuh rasa.
Kini, Nita hidup damai di rumah kecil dengan taman belakang tempat ia biasa menulis. Ardi masih memotret alam dan sesekali ikut dalam perjalanan kerja Nita sebagai pembicara. Mereka tidak selalu romantis. Tapi selalu hadir satu untuk yang lain.
Cinta mereka bukan tentang detak jantung yang kencang, tapi tentang detak yang tenang karena tahu hati sudah menemukan rumahnya.
Tiga tahun setelah pernikahan mereka, rumah kecil Nita dan Ardi kini terasa begitu hidup. Dindingnya tak mewah, tapi penuh coretan kecil tangan mungil anak mereka, Aira, yang kini berusia dua tahun, sedang dalam masa aktif-aktifnya. Senyumnya mirip Nita, tapi tatapannya menenangkan seperti Ardi.
Nita menatap anak dan suaminya di halaman belakang, di bawah matahari sore yang hangat. Ardi sedang mengajari Aira menyiram bunga. Aira tertawa riang, menumpahkan air ke sepatu Ardi, lalu lari kecil sambil tertawa, “Ayah basahhh!”
Dan saat itu… Nita hanya berdiri sejenak, melihat semua itu dengan mata berkaca-kaca.
Ia bahagia.
Bahagia karena semuanya nyata.
Tak ada kebohongan. Tak ada luka tersembunyi. Tak ada janji palsu.
Hanya cinta yang dibangun pelan-pelan. Ditempa oleh kesabaran. Dipeluk oleh kejujuran.
Malam itu, setelah Aira tidur, Nita duduk di beranda rumah. Ardi datang dengan dua cangkir teh, seperti biasa.
“Masih sering mimpi buruk?” tanya Ardi lembut.
Nita menggeleng, tersenyum. “Nggak. Sekarang cuma mimpi lucu. Kadang Aira jadi presiden, kadang kamu jadi petani.”
Mereka tertawa pelan.
Kemudian Nita menatap Ardi lama. Lalu berkata,
“Aku pernah hancur, Di. Tapi ternyata hancur itu bukan akhir. Karena setelah itu, aku belajar membangun semuanya dari awal dan kali ini, fondasinya bukan cinta kosong… tapi aku sendiri.”
Ardi mengangguk. “Dan kamu gak sendirian.”
Nita menggenggam tangannya. Hangat.
“Terima kasih udah datang... gak buat menyelamatkan aku. Tapi buat menemani aku menyelamatkan diriku sendiri.”
Mereka saling memandang dalam diam. Tak ada musik. Tak ada kata puitis. Tapi itulah cinta: tenang, tulus, dan terasa cukup.
Dan malam itu, sebelum tidur, Nita menulis satu kalimat di buku hariannya:
"Aku tidak hidup dalam kisah cinta sempurna. Tapi aku hidup dalam kisah cinta yang sehat, jujur, dan penuh syukur. Dan itu lebih dari cukup untuk disebut bahagia."
TAMAT.