Bertahan dengan Prinsip di Tengah kepedihan Hidup
Tidak semua orang lahir membawa kemudahan. Sebagian dilahirkan untuk belajar sabar sejak bayi membuka mata. Sebagian ditakdirkan mengenal air mata sebelum mengenal bahagia. Arga adalah salah satunya. Ia lahir di sebuah kampung kecil yang jarang disebut orang di peta. Rumahnya berdinding papan lapuk, atap seng berkarat, dan tanah yang selalu becek jika hujan turun. Ayahnya seorang buruh bangunan yang pulang setiap sore dengan tubuh penuh debu dan dada penuh kelelahan. Ibunya hanya ibu rumah tangga namun tangannya selalu retak oleh sabun dan air dingin, matanya selalu letih oleh doa yang tak henti. Sejak kecil, Arga terbiasa mendengar suara perut keroncongan di malam hari. Ia hafal rasanya tidur dengan perut kosong dan bangun dengan harapan yang tidak selalu kenyang. Kadang ia melihat ibunya pura-pura makan belakangan, padahal sebenarnya tidak makan sama sekali. Namun di tengah kekurangan, ayahnya tidak pernah lalai menanamkan satu hal: “Nak… mungkin hidup kita miskin harta, tapi ja...