Semalam Tanpa Kabar
Judul: "Semalam Tanpa Kabar"
Sudah tiga tahun Rina dan Andi menjalani hubungan pernikahan jarak jauh. Rina bekerja di Bandung sebagai perawat, sementara Andi masih menetap di kampung halaman mereka di Lampung mengurus usaha kecil-kecilan warisan orang tuanya. Meski terpisah jarak, mereka selalu menjaga komunikasi lewat telepon dan video call setiap malam.
Namun, malam itu berbeda. Tidak ada panggilan, tidak ada pesan. Hening. Rina menunggu dengan gelisah, sementara pikirannya mulai dipenuhi kekhawatiran dan kecurigaan.
Pagi harinya, saat membuka Facebook, Rina mendapati akun suaminya memberi tanda suka dan komentar manis di unggahan seorang perempuan teman lama semasa SMA. Komentar itu berbunyi:
"Cantiknya kamu sekarang, nggak berubah dari dulu ya."
Darah Rina seolah naik ke kepala. Ia merasa dikhianati. Ia langsung mengirim pesan singkat panjang berisi kemarahan, cemburu, dan kekecewaan.
"Jadi ini alasan kamu semalam nggak ngabarin? Lagi sibuk godain cewek di Facebook?!"
Beberapa jam tak ada balasan dari Andi. Rina makin marah. Semua chat, panggilan, bahkan voice note yang ia kirim tak kunjung dibaca. Emosinya meledak-ledak. Ia merasa tidak dihargai setelah semua pengorbanan dan kesetiaan selama LDR.
Malamnya, baru Andi membalas dengan nada dingin.
"Maaf, hp aku lowbat dari kemarin. Aku nggak godain siapa-siapa, cuma becanda sama temen lama. Kamu bisa tanya siapa pun, nggak ada yang aneh."
Tapi bagi Rina, itu bukan sekadar candaan. Itu adalah luka kecil yang menggores rasa percaya. Mereka pun berdebat panjang. Kata-kata saling menyakitkan pun terucap. Rina sempat berkata ingin menyerah. Sementara Andi hanya diam, merasa lelah disalahkan atas hal yang menurutnya sepele.
Malam itu mereka tak lagi saling menyapa. Keduanya saling ego, saling mempertahankan sudut pandang. Tak sadar bahwa jarak bukan hanya soal kilometer, tapi juga soal komunikasi yang mulai terkikis oleh kesalahpahaman dan prasangka.
Esoknya, Rina menatap layar ponselnya kosong. Hatinya rindu, tapi gengsi masih menahan untuk menyapa duluan. Sementara Andi di seberang sana pun duduk di teras rumah, menatap langit malam, berharap Rina mengerti bahwa media sosial bukan tolok ukur cinta bahwa hubungannya tak layak hancur hanya karena sebuah komentar.
Kadang, cinta diuji bukan oleh orang ketiga, tapi oleh jarak dan ego masing-masing.
Dua hari berlalu. Tak ada satu pun pesan dari Rina, tak ada panggilan dari Andi. Seperti dua orang asing yang tiba-tiba saling diam, padahal sebelumnya selalu saling mencari.
Rina duduk di ruang istirahat rumah sakit, memandangi foto pernikahan mereka yang tersimpan di galeri ponselnya. Wajah Andi yang tersenyum lebar di pelaminan, kini terasa begitu jauh. Air matanya menetes perlahan, bukan karena komentar itu, tapi karena ia merasa kehilangan arah dalam hubungan mereka. Ia sadar, mungkin terlalu cepat tersulut emosi. Tapi ia juga merasa tak didengar, tak dipahami.
Di seberang sana, Andi sebenarnya hampir menelepon. Tangannya sudah berkali-kali mengetik pesan minta maaf, lalu dihapus lagi. Ia bingung harus mulai dari mana. Dalam hatinya, ia mencintai Rina sepenuhnya, tapi ia merasa lelah jika semua harus selalu diperiksa, selalu disangka, hanya karena jarak.
Malam itu, hujan turun di dua kota berbeda. Di bawah langit yang sama, keduanya memikirkan hal yang sama: “Apa hubungan ini masih bisa diselamatkan?”
Akhirnya, Andi memberanikan diri menelepon. Rina mengangkat setelah dering ketiga.
Suara keduanya sama-sama berat, menahan tangis.
Andi: “Aku nggak tahu harus ngomong apa... tapi aku kangen. Aku kangen kamu, Rina.”
Rina: (suara serak) “Aku juga kangen. Tapi aku capek, Nd. Capek berusaha kuat sendiri.”
Andi: “Aku juga. Tapi boleh kita saling belajar lagi? Belajar sabar, belajar percaya, walaupun susah?”
Hening sejenak. Hanya suara hujan yang terdengar di ujung telepon.
Rina: “Boleh. Tapi aku pengen satu hal… tolong, jangan anggap perasaanku sepele. Aku bukan cemburu buta, aku cuma takut kehilangan kamu.”
Andi: “Dan aku janji… mulai sekarang, aku akan lebih jaga sikap. Biar nggak ada celah untuk bikin kamu sedih.”
Malam itu mereka berdua menangis dalam diam. Tapi kali ini bukan karena marah, melainkan karena lega. Lega bisa saling bicara. Lega bisa menyambung yang hampir putus.
Sejak hari itu…
Mereka mulai membangun lagi. Saling memberi kabar tanpa diminta. Saling menenangkan di saat curiga mulai muncul. Dan perlahan-lahan, kepercayaan itu tumbuh kembali. Bukan karena sempurna, tapi karena keduanya mau belajar dan bertahan.
LDR bukan tentang siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling mau berusaha menjaga rasa, walau tak bisa selalu bersama.
Sebulan setelah kejadian itu, hubungan Rina dan Andi mulai membaik. Meskipun masih LDR, tapi cara mereka berkomunikasi berubah. Tidak lagi sekadar “udah makan belum?” atau “lagi apa?”, melainkan percakapan yang lebih terbuka. Tentang perasaan, tentang keluhan, bahkan tentang rasa takut kehilangan.
Andi lebih berhati-hati di media sosial. Ia tahu, bukan soal komentar itu yang menyakiti Rina, tapi rasa tak dihargai sebagai istri. Rina pun belajar untuk tidak terlalu cepat menarik kesimpulan. Ia mencoba memercayai suaminya lebih dalam, meskipun kadang ketakutan itu masih muncul diam-diam.
Tapi manusia tetap manusia. Luka yang lama kadang masih terasa meski telah diobati.
Suatu malam, Rina mengirim pesan.
Rina:
"Nd, kalau aku tiba-tiba nyerah... kamu bakal nyusul aku atau biarin aku pergi?"
Andi membaca pesan itu lama. Hatinya nyeri. Ia tahu, meskipun mereka sudah baikan, tapi masih ada sisa trauma di hati Rina. Mungkin karena kesendirian, atau karena terlalu lama memendam rindu yang tak berjawab.
Andi membalas:
"Aku nggak akan biarin kamu pergi, Rin. Tapi aku juga sadar... minta kamu terus kuat tanpa hadirku, itu nggak adil."
Beberapa hari setelahnya, Andi diam-diam mengurus tiket ke Bandung. Ia tak memberi tahu Rina. Ia hanya ingin memberi kejutan dan mungkin, memperbaiki semuanya dengan hadir langsung di hadapannya.
Sampai akhirnya, hari itu datang.
Rina baru selesai shift malam ketika seorang pria berdiri di depan gerbang rumah sakit. Dengan jaket lusuh dan tas selempang, wajah yang tak asing itu tersenyum kaku karena gugup.
“Andi...?” Suara Rina lirih, hampir tak percaya.
Andi membuka masker dan mengangguk.
“Aku kangen, Rin. Maaf baru datang sekarang.”
Tanpa pikir panjang, Rina langsung memeluk suaminya. Erat. Seolah ingin menambal semua jarak, rindu, dan rasa sakit yang pernah tertinggal di antara mereka.
Malam itu mereka duduk di pinggir trotoar, minum kopi dari warung kecil, dan bicara seperti dua orang sahabat yang lama terpisah.
Tak ada lagi emosi, tak ada lagi tuduh-menuduh. Hanya dua hati yang ingin pulih bersama.
Kadang, sebuah hubungan tak butuh kata maaf yang sempurna. Tapi butuh kehadiran. Butuh pembuktian.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rina tidur dengan senyum dan tenang... karena sosok yang ia rindukan akhirnya pulang.
Setelah tiga hari di Bandung, Andi tahu satu hal: dia tak sanggup lagi berpisah terlalu lama dari Rina. Rasanya seperti menunda luka. Walau janji mereka kuat, tapi jarak itu tetap menusuk, perlahan tapi pasti.
Di malam terakhirnya di Bandung, mereka duduk di balkon kos Rina. Angin dingin menyentuh pipi, namun kehangatan obrolan membuat malam terasa lembut.
“Rin…” suara Andi pelan, “kalau kamu mau… kita tinggal bareng aja. Aku nyerah. Aku nggak kuat LDR terus.”
Rina menoleh cepat, matanya sedikit membesar, antara terkejut dan senang.
“Maksudnya?”
“Aku jual motor sama sawah kecil itu. Aku ikut kamu ke Bandung. Cari kerja apa aja dulu. Yang penting bareng.”
Rina terdiam. Air matanya menggenang. Hatinya campur aduk lega, haru, takut, tapi bahagia.
“Aku takut kamu nanti nyesel, ninggalin semua di kampung.”
Andi menggenggam tangan Rina erat.
“Aku cuma nyesel satu hal… kenapa nggak dari dulu aku perjuangin buat kita bisa bareng.”
Dua bulan kemudian...
Mereka tinggal di kontrakan kecil di pinggiran Bandung. Jauh dari mewah, tapi penuh tawa. Andi kerja sebagai kurir sementara, dan di waktu senggang membantu Rina memasak untuk jualan kecil-kecilan lewat daring.
Setiap pagi, mereka saling menyiapkan. Saling menyemangati. Tak ada lagi malam tanpa kabar. Tak ada lagi curiga karena komentar Facebook. Yang ada hanya kerja keras, canda sederhana, dan pelukan setelah hari yang melelahkan.
Satu malam, setelah selesai membereskan dapur, Rina duduk bersandar di pundak Andi.
“Nd… makasih ya. Udah pulang.”
Andi mencium keningnya.
“Aku nggak kemana-mana. Ini tempatku. Di samping kamu.”
Cinta kadang tak butuh kata-kata manis atau janji-janji besar. Tapi cukup satu hal sederhana: hadir.
Dan malam itu, di kontrakan kecil yang sempit, ada dua hati yang akhirnya merasa cukup... karena mereka tak lagi harus menunggu di balik layar, tak lagi harus tidur dalam rindu, tapi dalam pelukan yang nyata.
Setahun berlalu sejak Andi memutuskan tinggal bersama Rina di Bandung. Rumah kontrakan kecil mereka kini terasa hangat dan hidup. Rina masih bekerja di rumah sakit, sementara Andi sudah dipercaya menjadi karyawan tetap di sebuah jasa logistik. Usaha makanan rumahan mereka juga mulai punya pelanggan tetap.
Dan yang paling membahagiakan: Rina sedang hamil tiga bulan.
Hari-hari mereka kini dipenuhi harapan baru. Obrolan malam bukan lagi tentang rindu dan pertengkaran, tapi tentang nama anak, persiapan kelahiran, dan mimpi punya rumah sendiri suatu hari nanti.
Namun, seperti halnya kehidupan, kebahagiaan juga tak datang tanpa ujian.
Semuanya mulai berubah saat Andi diminta lembur hampir setiap malam. Pulang larut, kadang tidak sempat makan malam bersama. Rina yang sedang hamil pun mulai merasa kesepian.
Rasa sepi itu makin menjadi saat Andi mulai jarang memegang ponsel saat di rumah. Katanya lelah. Katanya ngantuk. Padahal, ponselnya selalu ramai notifikasi saat diletakkan di atas meja.
Rina menahan diri, mencoba percaya. Tapi malam itu, ia tak bisa lagi menahan rasa curiga.
Ponsel Andi berdering. Notifikasi dari WhatsApp muncul di layar. Nama kontaknya hanya tertulis: "Dea Gudang".
Rina membuka isi pesannya. Hanya dua kata.
"Udah nyampe?"
Tapi entah kenapa, rasanya tak wajar dikirim pukul 11 malam.
Saat Andi keluar dari kamar mandi, ia melihat ekspresi Rina yang berbeda. Diam, menunduk, dan menggenggam ponselnya.
“Kamu buka HP aku?” tanya Andi pelan.
Rina tak menjawab. Ia hanya mengangkat kepala dan berkata lirih, “Kamu jujur aja, Nd… aku capek kalau harus kembali ke masa itu. Aku hamil, aku butuh kamu utuh. Bukan setengah hati.”
Andi terduduk. Napasnya berat. Bukan karena salah besar, tapi karena ia lupa... bahwa keterbukaan adalah janji mereka setelah luka lama.
“Rin… Dea itu staff gudang, dan aku memang kadang antar barang bareng dia. Aku tahu salah aku karena nggak cerita apa-apa, dan bikin kamu was-was lagi.”
“Terus kenapa HP kamu kamu jaga banget sekarang?”
“Karena aku takut kamu mikir yang nggak-nggak. Tapi ternyata aku salah, ya. Justru karena aku nutupin, kamu makin curiga.”
Tangis Rina pecah. Ia tak ingin kembali pada malam-malam cemas seperti dulu. Ia ingin tenang, apalagi dengan calon buah hati di kandungannya.
Andi mendekat, memeluknya erat.
“Maaf, Rin… mulai sekarang, nggak ada yang aku sembunyiin lagi. Kamu boleh pegang HP aku kapan aja. Aku janji, nggak akan ulangin kebodohan yang dulu.”
Malam itu bukan hanya jadi pelajaran untuk Andi, tapi juga untuk Rina bahwa dalam rumah tangga, komunikasi bukan cuma soal bicara, tapi soal keterbukaan yang jujur dan terus dijaga.
Terkadang, godaan dalam rumah tangga tak datang dari perselingkuhan. Tapi dari kelelahan, jarak emosional, dan hilangnya keterbukaan.
Dan malam itu, mereka memilih kembali saling mendekap, bukan saling menjauh.
Karena mereka tahu: yang mereka perjuangkan bukan hanya rumah kecil… tapi rumah hati yang selalu mereka bangun bersama, tiap hari.
Waktu berjalan cepat. Tiba juga hari yang dinanti-nantikan oleh Rina dan Andi.
Subuh itu, Rina membangunkan Andi dengan suara tertahan.
“Nd… kayaknya udah mulas. Rasanya beda.”
Andi langsung terbangun, panik tapi berusaha tenang. Dalam waktu singkat, mereka sudah di rumah sakit. Tangannya tak pernah lepas dari genggaman Rina. Keringat dingin membasahi wajahnya, padahal yang sedang berjuang adalah istrinya.
Enam jam penuh perjuangan dan tangis. Lalu akhirnya...
Tangis bayi perempuan mereka pecah di ruang bersalin. Tangis yang bukan hanya pertanda lahirnya kehidupan baru, tapi juga lahirnya cinta yang lebih besar: cinta sebagai orang tua.
Andi menatap bayinya dengan mata berkaca-kaca. Ia menggenggam tangan Rina erat dan berbisik:
“Kita kasih nama dia ‘Alya Zahira’, ya? Artinya: wanita yang bersinar dan cerdas. Semoga hidupnya lebih terang dari perjalanan kita.”
Rina hanya mengangguk pelan, terlalu lelah untuk bicara, tapi senyumnya tak pernah hilang.
Hari-hari baru pun dimulai.
Tangisan bayi di tengah malam, popok yang harus diganti, begadang karena demam, dan tumpukan cucian yang tak habis-habis. Tapi anehnya, semua itu tak terasa berat. Karena setiap kali mereka melihat senyum kecil Alya, semua lelah seolah terhapus.
Tapi menjadi orang tua juga membawa tantangan baru dalam hubungan mereka.
Rina mulai merasa lelah secara emosional. Tubuhnya capek, pikirannya terus siaga. Ia mulai sering marah tanpa alasan. Sementara Andi juga kewalahan, kerja seharian lalu di rumah harus tetap bantu sebisa mungkin.
Suatu malam, saat Alya akhirnya tertidur, Rina duduk di pojok kamar sambil menangis diam-diam.
Andi mendekat, duduk di sampingnya.
“Aku capek, Nd…” bisiknya. “Bukan karena Alya… tapi karena aku ngerasa kehilangan diriku sendiri.”
LAndi tak banyak bicara. Ia hanya menarik Rina dalam pelukan. Lama.
“Aku juga capek, Rin. Tapi kita boleh capek bareng. Nggak harus kuat sendiri-sendiri.”
Malam itu, mereka tidur berdampingan, Alya di antara mereka. Tak lagi sebagai suami istri saja, tapi sebagai tim. Sebagai orang tua yang siap saling menopang.
Karena cinta tidak berhenti di pelaminan. Tidak juga selesai saat bayi lahir. Cinta tumbuh saat dua orang yang lelah memutuskan tetap bertahan, tetap saling genggam, dan tetap memilih satu sama lain.
Dan malam itu, dalam keheningan rumah sederhana mereka, Alya tumbuh dengan dua orang tua yang meski penuh luka dan lelah… selalu memilih untuk pulang pada satu sama lain.
Tiga tahun berlalu.
Alya tumbuh menjadi balita yang lincah dan cerdas. Rambutnya ikal, matanya jenaka, dan celotehnya tak henti-henti. Rumah kontrakan yang dulu sunyi kini selalu ramai dengan tawa kecil dan mainan berserakan.
Rina masih bekerja sebagai perawat, kini naik pangkat sebagai kepala shift. Sementara Andi, perlahan berhasil mengembangkan usaha katering rumahan mereka menjadi bisnis kecil yang cukup dikenal di lingkungan sekitar. Ia mempekerjakan dua tetangga sebagai staf dapur, dan setiap akhir pekan sibuk mengantar pesanan ke berbagai tempat.
Hidup mereka mulai membaik.
Namun, semakin terang jalan yang ditempuh, bayang-bayang tantangan pun datang dari sisi lain.
Suatu malam, setelah makan malam, Andi duduk termenung. Rina memperhatikannya sambil menyuapi Alya yang belum selesai makan.
“Kamu kenapa, Nd? Kelihatan kepikiran banget.”
Andi menarik napas panjang.
“Tadi sore Ibu nelepon.”
“Kenapa?”
“Beliau sakit. Katanya nggak enak badan udah dua minggu, tapi nggak mau bilang-bilang. Mau aku pulang sebentar ke kampung.”
Rina mengangguk pelan.
“Pulanglah, Nd. Ibu pasti kangen.”
Andi menatap Rina lama.
“Tapi Ibu juga bilang... ‘nggak enak hati sejak kamu tinggal sama istri, jauh dari keluarga sendiri.’ Aku tahu maksudnya.”
Rina terdiam. Bukan karena tersinggung, tapi karena tahu ini bukan hal baru. Sejak awal pernikahan, ibu mertua memang kurang merestui keputusan Andi pindah ke Bandung. Ia menganggap Rina ‘membawa lari anak laki-lakinya’ dari kampung.
“Kamu pikir aku egois, ya?” tanya Rina pelan.
Andi menggeleng cepat. “Nggak. Kamu justru yang paling sabar. Aku cuma bingung... aku anak, aku suami, aku ayah. Tapi aku nggak bisa ada di tiga tempat sekaligus.”
Malam itu mereka bicara lama. Tentang keluarga, tentang peran ganda yang harus mereka jalani. Tentang bagaimana cinta bukan hanya soal tinggal bersama, tapi juga soal menyeimbangkan tanggung jawab ke semua arah.
Beberapa hari kemudian, Andi pun pulang kampung untuk menengok ibunya. Rina dan Alya tidak ikut, karena Rina harus jaga shift malam.
Tapi di kampung, situasinya tak semudah yang dibayangkan. Ibu Andi mulai melontarkan kalimat-kalimat yang membuat hatinya goyah.
“Kalau kamu tinggal di sini, kamu bisa rawat Ibu. Bisa usaha di rumah sendiri. Kenapa harus ikut istrimu terus kayak dibawa-bawa ke mana?”
Andi terdiam. Ia tak ingin ibunya merasa dilupakan. Tapi hatinya juga tahu, rumahnya sekarang adalah tempat di mana Rina dan Alya berada.
Sementara itu, di Bandung, Rina mencoba tegar. Tapi saat malam datang dan rumah terasa sepi, rasa takut mulai muncul: “Bagaimana kalau Andi nggak balik?”
Ia teringat masa lalu, saat semalaman tak ada kabar. Saat ragu mengikis rasa percaya. Tapi kini, ia belajar memeluk rasa itu, bukan melawannya.
Ia mengetik pesan:
“Aku tahu kamu di sana karena tanggung jawab. Tapi ingat, kami juga menunggumu pulang, Nd. Rumah ini terasa kosong tanpamu.”
Andi membalas cepat:
“Aku nggak ke mana-mana, Rin. Rumahku tetap di mana kalian berada. Aku cuma singgah sebentar, bukan untuk tinggal.”
Dan malam itu, walau berjauhan, mereka saling menenangkan dari tempat masing-masing. Tak ada lagi curiga, tak ada lagi gengsi. Hanya dua hati yang saling belajar menjadi dewasa, di antara tawa anak dan tantangan hidup yang tak pernah usai.
Karena dalam pernikahan, cinta bukan hanya tentang merasa cukup satu sama lain, tapi juga tentang bagaimana saling menyeimbangkan: antara cinta pada pasangan, pada anak, dan pada keluarga yang melahirkan kita.
Dan malam itu, cinta mereka tetap pulang. Meski jalannya berliku.
Tiga hari setelah kembali dari kampung, Andi duduk berdua dengan Rina di teras kontrakan. Malam itu tidak seperti biasanya. Suara Alya yang tertidur di dalam kamar tak mampu menutupi beratnya percakapan yang akan mereka jalani.
Andi menatap langit, lalu menoleh ke istrinya.
“Rin, Ibu minta aku balik dan tinggal di kampung. Katanya, sekarang butuh aku lebih dari sebelumnya.”
Rina diam. Tak terkejut, tapi hatinya tetap mencelos.
“Kalau kamu mau, kita pindah semua. Aku, kamu, Alya. Kita bangun usaha di sana. Rumah orang tua masih ada. Biaya hidup lebih ringan. Nggak harus kerja sampai malam.”
Rina menunduk. Air matanya menitik pelan, tapi ia tahan agar tak tampak lemah.
“Terus aku harus gimana, Nd? Karierku? Aku udah ngelewati semua ujian, capek-capek bangun dari awal di sini. Sekarang aku mulai dihargai, kerjaanku bermanfaat. Harus tinggalin semua?”
Andi terdiam.
“Aku tahu ini berat, Rin. Aku juga nggak tega minta kamu ninggalin semuanya. Tapi... Ibu tinggal sendiri. Sakit-sakitan. Kalau kita tetap di sini, aku pasti terus ditarik-tarik ke sana. Hati aku kayak dibelah dua.”
“Dan aku...?” suara Rina mulai pecah, “Nggak cukup penting buat dipertahankan di sini?”
“Justru karena kamu penting, aku mau ajak pindah. Biar nggak terpisah. Biar bisa hadapi ini sama-sama.”
Suasana hening. Angin malam berembus pelan, membawa ribuan perasaan yang tak terucap.
Beberapa hari berlalu. Rina mulai memikirkan kemungkinan itu. Ia mencoba membayangkan hidup di kampung: sederhana, tenang, tapi mungkin akan sangat berbeda dari kehidupannya sekarang. Ia juga sadar, Andi tak akan pernah benar-benar tenang jika ibunya sakit dan merasa ditinggalkan.
Akhirnya, malam itu ia bicara dengan tenang.
“Aku mau ikut kamu pindah ke kampung, Nd. Tapi aku punya satu syarat.”
Andi menoleh cepat, sedikit terkejut.
“Apa?”
“Aku nggak mau sekadar jadi ibu rumah tangga yang dilihat sebelah mata. Aku mau tetap kerja, tetap produktif. Entah itu buka praktek mandiri, bantu Posyandu, atau ngajarin anak-anak. Aku nggak mau kehilangan jati diriku lagi.”
Andi memeluknya.
“Aku janji. Kamu tetap jadi kamu. Aku yang harusnya berterima kasih, karena kamu mau ikut langkah ini.”
Beberapa bulan kemudian…
Mereka pindah ke kampung halaman Andi. Rumah kecil itu direnovasi pelan-pelan. Alya bersekolah di PAUD dekat rumah. Rina membuka layanan kesehatan mandiri, membantu ibu-ibu dan anak-anak di desa. Pelan-pelan, ia menjadi tokoh perempuan yang dihormati.
Andi membuka usaha makanan kecil di pasar dan katering mingguan. Keduanya bekerja sama. Lebih sibuk, tapi lebih bahagia karena kini tak ada jarak yang menghalangi, tak ada rindu yang ditahan, dan tak ada keluarga yang terabaikan.
Karena dalam hidup rumah tangga, tak ada pilihan yang benar-benar mudah. Tapi jika dijalani bersama, segalanya menjadi mungkin.
Dan malam itu, di beranda rumah tua yang sudah dipugar, mereka duduk berdua. Menatap bintang-bintang sambil mendengar suara tawa Alya di dalam rumah.
Mereka tahu, mereka tak lagi seperti dulu. Tapi mereka juga tahu… cinta mereka, kini lebih kuat dari sebelumnya.
Waktu terus berjalan. Tak terasa, Alya kini sudah menginjak usia 12 tahun.
Ia tumbuh menjadi gadis pintar, lincah, dan
punya rasa ingin tahu yang tinggi. Ia gemar membaca, suka membantu ibunya di posyandu, dan sering duduk bersama ayahnya di dapur saat menyiapkan pesanan katering. Rumah mereka yang dulu terasa sempit kini terasa hidup penuh canda, penuh makna.
Namun seiring pertumbuhan Alya, muncul pula dinamika baru dalam keluarga kecil mereka. Bukan lagi soal rindu dan LDR, tapi tentang perbedaan pandangan dalam membesarkan anak dan luka lama yang kadang belum sembuh sepenuhnya.
Suatu hari, Alya pulang dari sekolah dengan wajah kusut. Ia baru saja dipanggil guru karena dianggap membantah pelajaran agama. Padahal, ia hanya mengutarakan pendapat berbeda.
Rina langsung mendekapnya, berusaha menenangkan. Tapi Andi yang mendengar cerita itu, langsung bereaksi berbeda.
“Alya, kamu jangan terlalu kritis di depan guru. Apalagi soal agama. Nanti kamu dikira kurang ajar.”
Alya menunduk, sementara Rina menatap Andi.
“Nd, dia bukan kurang ajar. Dia cuma kritis. Bukankah itu yang kita ajarkan dulu? Berani bertanya, berani berpikir?”
Andi menghela napas.
“Tapi di kampung ini beda, Rin. Kita hidup di lingkungan yang punya cara pandang sendiri. Nggak bisa seenaknya.”
Rina menahan diri. Tapi malam itu, saat Alya tertidur, ia bicara pelan dengan Andi.
“Aku tahu kamu jaga dia, Nd. Tapi jangan sampai kita matikan semangat berpikirnya. Jangan sampai dia tumbuh jadi anak yang penuh rasa takut.”
Andi terdiam lama. Ia tahu Rina benar. Tapi di dalam dirinya, ada sisa trauma masa lalu tentang tuntutan dari ibu, tentang tuntutan masyarakat kampung yang serba ‘harus begini’.
Dan malam itu, mereka saling bicara. Bukan untuk saling menang, tapi untuk saling memahami. Karena mereka sadar, membesarkan anak bukan tentang siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling mau belajar.
Beberapa bulan kemudian, Rina dan Andi sepakat menyekolahkan Alya ke sekolah yang lebih terbuka masih di kota kecil dekat kampung, tapi dengan pendekatan pendidikan yang lebih modern.
Keputusan itu tak mudah. Banyak cibiran datang dari tetangga, bahkan keluarga besar.
“Mau jadi apa anaknya nanti, kalau diajari membantah guru?”
“Jangan-jangan nanti kebarat-baratan, lupa adat!”
Tapi Rina dan Andi tetap teguh. Mereka tahu, masa depan anak bukan ditentukan oleh omongan orang, tapi oleh keberanian orang tua mendukung potensi anaknya.
Karena menjadi orang tua, sejatinya adalah proses panjang belajar melepas dari menggendong, sampai akhirnya mengizinkan anaknya berpikir sendiri.
Dan malam itu, setelah mengantar Alya tidur, Rina duduk di samping Andi. Ia menatap langit malam sambil berkata:
“Nd… ingat dulu kita takut hubungan ini nggak kuat?”
“Sekarang kita di sini. Ngelewatin semua, dan lihat… anak kita tumbuh jadi pribadi yang luar biasa.”
Andi tersenyum pelan.
“Iya. Dulu kita bertahan karena cinta. Sekarang kita melanjutkan karena tanggung jawab. Tapi yang bikin semuanya tetap hangat… adalah rasa saling percaya.”
Mereka berdua diam, menikmati angin malam, dan suara jangkrik dari pekarangan.
Di balik dinding kamar, Alya menatap ke luar lewat jendela kecil. Ia melihat kedua orang tuanya tertawa pelan. Dan dalam hatinya, ia tahu… rumah bukan sekadar tempat tinggal, tapi tempat di mana dua orang dewasa saling berjuang menjaga dirinya, bahkan saat mereka sendiri sedang rapuh.
TAMAT