Dentuman Hidayah Di Tengah Denting Malam
Judul: Dentuman Hidayah di Tengah Denting Malam
Namanya Reza, dulu dikenal sebagai DJ Rezz-On-Fire, nama panggung yang bersinar terang di dunia malam ibu kota. Dentuman bass, lampu strobo, dan sorakan penonton menjadi candu yang memabukkan bagi hidupnya. Setiap malam adalah pesta. Alkohol, narkoba, dan wanita silih berganti dalam kehidupannya. Popularitas membuatnya merasa tak tersentuh, tak pernah berpikir tentang hari esok, apalagi kematian.
Reza dulu anak baik. Ayahnya guru ngaji, ibunya aktivis pengajian. Tapi sejak duduk di bangku SMA, Reza mulai jatuh cinta pada musik EDM. Diam-diam ia belajar mixing, dan tanpa sepengetahuan orang tua, ia mulai main di klub kecil. Awalnya hanya iseng, tapi uang dan pujian cepat membutakan hatinya.
Tahun-tahun pun berlalu. Reza makin dalam tenggelam dalam dunia malam. Ia jadi DJ papan atas, hidup mewah tapi kosong. Setiap pagi, ia terbangun dengan kepala berat dan hati yang gelap. Pernah suatu malam ia overdosis, namun selamat. Bukannya kapok, ia malah kembali ke klub keesokan harinya, berlagak seolah hidupnya kekal.
Hingga suatu malam di bulan Ramadhan, ketika Reza baru saja selesai tampil di sebuah klub elit, ia mendapati berita bahwa ibunya meninggal dunia. Jantungnya serasa berhenti. Ia pulang dengan mata sembab, dan tak ada yang menyambutnya di rumah kecuali jasad sang ibu yang terbujur kaku di ruang tamu.
Di dekat jenazah, ia temukan surat dari ibunya yang ditulis beberapa hari sebelum wafat:
"Nak, Ibu tidak pernah berhenti mendoakanmu. Ibu tahu kau sedang jauh, sangat jauh. Tapi Allah lebih dekat dari urat lehermu. Kalau nanti Ibu tak sempat melihatmu berubah, Ibu yakin Allah akan membimbingmu pulang…"
Reza menangis sejadi-jadinya. Malam itu ia seperti tersambar petir. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia bersujud. Tangan yang biasanya menggenggam botol dan alat mixing kini menengadah memohon ampunan.
Sejak hari itu, hidup Reza berubah. Ia meninggalkan dunia malam, membuang semua koleksi musik EDM-nya, dan mulai belajar agama. Ia berangkat ke pesantren, menetap di sana selama dua tahun. Tak mudah. Banyak godaan, cemoohan, bahkan rasa ingin kembali. Tapi bayangan wajah ibunya yang damai saat wafat selalu meneguhkannya.
Kini, Reza dikenal sebagai Ustadz Reza Al-Fajr, dai muda yang sering berceramah tentang hijrah dan bahaya dunia malam. Ia tak malu menceritakan masa lalunya. Justru, dari kelam itulah ia bersinar. Ia percaya, semakin dalam seseorang jatuh, semakin dalam pula ia bisa mencintai Tuhannya saat bangkit.
Di akhir setiap ceramahnya, ia selalu berkata:
"Allah tidak menilai siapa kita dulu. Tapi siapa kita sekarang, dan ke mana kita melangkah. Hidayah itu bukan untuk orang suci, tapi untuk siapa saja yang ingin pulang."
Setelah dua tahun menimba ilmu di pesantren, Reza mulai turun ke masyarakat. Ia tak langsung menjadi penceramah besar. Ia memulainya dari yang kecil mengisi kajian pemuda di masjid kampung, mendampingi anak-anak panti, dan mengisi khutbah Jumat di musholla pinggiran kota.
Namun ada satu hal yang membuatnya semakin bergetar: tiap kali melihat anak muda dengan headphone besar, hoodie gelap, dan mata kosong, ia merasa seperti melihat dirinya sendiri di masa lalu. Ia tahu betul luka dan kehampaan yang disimpan di balik topeng gaya hidup malam.
Suatu hari, ia diundang mengisi kajian di sebuah pesantren rehabilitasi narkoba. Di sana, ia bertemu Dion, pemuda yang baru saja lepas dari kecanduan, mantan clubber dan pengguna berat. Dion menangis ketika Reza menceritakan masa lalunya. Ia memeluk Reza erat-erat, dan berkata:
"Gue pikir nggak ada harapan buat orang kayak gue, Ustadz. Tapi ternyata, Allah sayang banget, ya..."
Reza mengangguk. "Allah nggak pernah berhenti nunggu. Cuma kita yang kadang terlalu jauh buat sadar."
Pertemuan itu menjadi titik balik bagi Dion, dan banyak lainnya. Dari sana, Reza pun mendirikan komunitas hijrah khusus mantan pelaku dunia malam para mantan DJ, dancer, bartender, bahkan pelanggan tetap tempat hiburan malam. Komunitas itu mereka beri nama "Fajr Circle", lingkaran cahaya fajar, tempat mereka saling menguatkan dan berbagi perjalanan taubat.
Meski sudah berhijrah, hidup Reza tak selalu mulus. Ia pernah diundang tampil di TV nasional, namun diolok-olok oleh netizen:
"Bekas DJ kok sok jadi ustadz."
"Hijrah cuma buat konten."
Komentar-komentar itu menusuk, tapi Reza belajar untuk tidak goyah. Ia tahu, taubat bukan untuk memuaskan manusia, tapi untuk kembali pada Allah.
Beberapa tahun kemudian…
Reza berdiri di hadapan ribuan anak muda dalam acara HijrahFest. Ia tak lagi memperkenalkan diri sebagai "eks DJ", tapi sebagai hamba yang diselamatkan Allah dari jurang gelap.
Di akhir sesi, seorang pemuda dengan rambut dicat pirang dan jaket kulit menghampirinya.
Dengan suara bergetar, ia bertanya,
"Ustadz... kalau saya masih sering jatuh, masih bisa kah Allah maafin?"
Reza memegang pundaknya, dan menjawab dengan tenang:
"Selama engkau masih hidup, pintu taubat belum ditutup. Bahkan kalau jatuh seribu kali, Allah masih buka pintu-Nya seribu satu kali."
Malam itu, tak ada dentuman musik. Tapi denting air mata yang jatuh dan dzikir yang lirih terdengar lebih indah dari semua panggung yang pernah Reza pijak.
Setelah beberapa tahun berdakwah, hidup Reza mulai tenang. Hatinya lebih damai, hari-harinya dipenuhi dengan kajian, pembinaan remaja, dan aktivitas sosial. Tapi satu hal masih kosong: pendamping hidup.
Dulu, dunia malam memberinya banyak kenalan perempuan, tapi semuanya semu. Kini, Reza ingin yang berbeda seorang istri yang bisa menuntunnya, bukan malah menyeretnya kembali pada masa lalu.
Suatu hari, saat mengisi kajian muslimah di pesantren tahfidz, ia melihat seorang akhwat yang duduk tenang di pojok ruangan. Wajahnya tertutup cadar, tapi mata teduhnya menenangkan. Namanya Hana, seorang ustadzah muda yang dulunya aktif membina mualaf dan perempuan korban trafficking.
Setelah beberapa kali bertemu dalam kegiatan sosial, Reza memberanikan diri untuk mengajukan ta’aruf. Ia bicara pada ustadzah pembimbingnya, dan beberapa hari kemudian mereka dipertemukan dalam majelis syar’i.
Di pertemuan pertama, Reza tak menutupi masa lalunya.
“Saya bukan lelaki suci. Saya pernah berada di tempat-tempat paling kotor dalam hidup. Tapi Allah tarik saya kembali. Saya tak bisa janji jadi suami sempurna, tapi saya akan terus belajar menjadi pemimpin yang Allah ridai.”
Hana menjawab tenang,
“Saya tak mencari masa lalumu, tapi ingin berjalan bersamamu menuju masa depan yang Allah berkahi.”
Kalimat itu menetes di hati Reza seperti embun di pagi hari. Ia menangis malam itu, bersyukur bahwa ternyata cinta sejati datang bukan ketika ia berada di puncak dunia, tapi saat ia berada di jalan menuju Allah.
Setelah menikah, Reza dan Hana tinggal sederhana. Mereka tak mencari kemewahan, tapi keberkahan. Mereka membuka rumah singgah untuk pemuda yang baru hijrah yang bingung harus tinggal di mana, ke mana melangkah.
Mereka menyebutnya "Rumah Pelita", rumah kecil yang selalu menyala untuk siapa pun yang tersesat dan ingin kembali. Di situ, mantan pengguna narkoba, mantan anak punk, bahkan mantan pelaku dunia malam datang dan menginap. Ada yang sekadar singgah sebulan, ada yang akhirnya jadi dai keliling desa.
Reza sadar, taubat bukan garis akhir. Tapi garis awal. Dan ia ingin menjadi penunjuk arah bagi siapa pun yang ingin kembali ke jalan yang lurus.
Satu malam, Reza duduk di serambi rumahnya, menatap langit. Hana menghampiri sambil membawa teh hangat.
“Masih suka kangen panggung, Mas?” tanya Hana sambil tersenyum.
Reza tertawa kecil. “Kadang. Tapi sekarang aku tahu, panggung yang paling indah adalah ketika kita bersujud.”
Ia menggenggam tangan Hana.
“Dan penonton terbaik… adalah Allah.”
Denting malam tak lagi menggema dengan bass dan lampu warna-warni, tapi dengan dzikir, tadarus, dan pelukan keluarga. Reza kini bukan lagi DJ Rezz-On-Fire. Ia adalah Reza, hamba yang diselamatkan, dan ia akan terus menebar cahaya dari kisah kelamnya.
Tahun-tahun berlalu. Nama Ustadz Reza Al-Fajr makin dikenal luas. Ia kerap diundang ke berbagai kota untuk mengisi ceramah bertema hijrah dan taubat. Yang datang bukan hanya anak-anak muda masjid, tapi juga mereka yang masih berjuang di jalan gelap. Para mantan DJ, musisi klub, wanita malam, pengguna narkoba, hingga para artis. Reza tak pernah menghakimi karena ia tahu, dulu pun ia ada di sana.
Satu hari, ia menerima undangan tak biasa. Sebuah klub malam besar yang dulu pernah ia isi sebagai DJ Rezz-On-Fire, kini hendak ditutup permanen karena pemiliknya sudah hijrah. Dan pemilik itu ingin acara penutupan diisi… dengan kajian taubat.
Reza sempat terdiam. Tempat itu adalah lokasi kejatuhannya yang terdalam. Di sanalah ia pertama kali mengenal narkoba, melakukan hal-hal hina, dan bahkan melupakan salat bertahun-tahun lamanya. Namun kini, Allah membawanya kembali… bukan sebagai DJ, tapi sebagai dai.
Malam itu, Reza naik ke panggung. Lampu sorot menyala, tapi bukan untuk dentuman bass. Melainkan untuk kisah nyata tentang cahaya yang menembus gelap.
Di hadapan ratusan tamu mantan pelanggan tetap, karyawan klub, bahkan pemilik tempat Reza berdiri, menggenggam mic yang dulu hanya ia pakai untuk menyulut semangat pesta. Kini, ia membuka dengan kalimat:
“Aku Reza. Dulu kalian mengenalku sebagai DJ. Hari ini aku berdiri sebagai saksi bahwa Allah itu Maha Membolak-balikkan hati…”
Tangis pecah di ruangan itu. Tak ada musik. Hanya isak dan suara istighfar.
“Jangan pernah merasa terlalu kotor untuk kembali. Karena setan akan bilang, ‘Kau sudah terlalu jauh’. Tapi Allah bilang, ‘Kembali, Aku masih di sini’.”
Malam itu, panggung tempat Reza biasa menari dalam gelap menjadi sujud terakhirnya di tempat itu. Ia menempelkan keningnya ke lantai, memohon agar Allah menghapus semua dosa yang pernah terjadi di setiap jengkal ruangan.
Setelah itu, tempat itu resmi ditutup. Bangunannya diubah menjadi rumah tahfidz dan pesantren dakwah pemuda. Panggungnya dibongkar, diganti mihrab dan rak mushaf.
Reza pulang bersama Hana malam itu. Di mobil, ia hanya berkata pelan:
“Malam ini… panggung terakhirku. Dan aku bahagia. Aku bisa menutup cerita yang dulu… dengan kalimat yang baru: Laa ilaaha illallah.”
Hari ini, banyak yang tak tahu masa lalu Reza. Ia tak mencantumkannya di profil publik. Tapi setiap kali ia diminta berceramah di penjara, rehab narkoba, atau jalanan, ia selalu menyisipkan satu kalimat:
“Aku pernah lebih buruk dari kalian. Tapi lihatlah… kalau Allah berkenan membalikkan hidupku, Dia pun bisa mengubah hidup kalian.”
Dan bagi Reza, itulah dentuman paling dahsyat dalam hidupnya: dentuman hidayah. Yang tak hanya memekakkan telinga, tapi mengguncang hati.
Beberapa bulan setelah peristiwa penutupan klub itu, nama Reza makin sering disebut-sebut. Tapi bukan karena viralitas atau popularitas, melainkan karena kisahnya menyentuh jiwa-jiwa yang ingin pulang. Tak sedikit yang datang ke kajiannya sambil menangis. Mereka merasa seolah Allah menyapa mereka lewat mulut Reza.
Suatu hari, seorang pemuda bernama Ilham datang ke Reza usai kajian. Tubuhnya penuh tato, bibirnya bekas luka tusukan, matanya sayu karena baru sembuh dari narkoba.
“Ustadz,” katanya pelan, “Saya pernah jadi pengedar, pernah ngelakuin hal yang kotor... Bahkan pernah mukul orang tua saya sendiri. Masih adakah jalan pulang buat saya?”
Reza menatapnya dalam-dalam. Ia tak melihat dosa ia melihat potensi. Dengan tangan gemetar, ia memeluk Ilham.
“Ilham... bahkan jika dosamu sebanyak buih di lautan, Allah masih sanggup menghapusnya dengan satu air mata penyesalan.”
Ilham menangis di pelukan Reza. Malam itu, ia bersyahadat ulang. Beberapa bulan kemudian, Ilham ikut program Rumah Pelita dan kini menjadi relawan yang membantu membina anak-anak jalanan. Ia tak sendiri. Banyak yang tersentuh, datang, dan berubah.
Reza tak hanya berdakwah dengan kata-kata tapi dengan luka dan air mata.
Tahun kelima setelah hijrah, datang ujian yang mengguncang jiwa Reza. Hana, istrinya tercinta, jatuh sakit. Awalnya hanya batuk dan lelah, tapi setelah diperiksa, dokter mendiagnosa bahwa Hana mengidap penyakit autoimun serius yang perlahan-lahan melemahkan tubuhnya.
Dalam kondisi itu, Hana tetap tersenyum, tetap berdakwah, tetap membina muslimah. Ia bahkan berkata:
“Mas, mungkin ini cara Allah menguji cintaku. Dulu aku mencintaimu karena Allah. Sekarang, semoga aku tetap sabar karena-Nya juga.”
Malam-malam Reza kini dipenuhi do'a. Ia bangun di sepertiga malam, menangis memohon kesembuhan untuk wanita yang telah menjadi cahaya dalam hijrahnya.
Namun takdir berkata lain.
Di malam Jum'at yang syahdu, saat hujan gerimis turun, Hana wafat dalam pelukan Reza. Dengan senyum di wajahnya dan lafadz Allah di bibirnya.
Reza kehilangan... Tapi ia tidak hancur. Justru, ia berdiri lebih kuat. Ia tahu, cinta sejati tak berakhir di dunia. Hana hanya pulang lebih dulu ke tempat yang mereka cita-citakan sejak ta'aruf: surga Allah.
Kini, Reza hidup dengan satu tujuan: meneruskan perjuangan Hana dan memperluas dakwah kepada mereka yang paling terluka.
Ia mendirikan lembaga bernama “Dentuman Hidayah”, tempat rehabilitasi spiritual bagi siapa saja yang ingin kembali kepada Allah: mantan narapidana, korban broken home, perempuan jalanan, dan mantan penggiat dunia hitam.
Reza tak pernah menyebut dirinya ustadz besar. Ia hanya sering berkata:
“Saya ini bekas orang rusak… tapi Allah beri saya kesempatan kedua. Maka tugas saya sekarang cuma satu: mengajak orang lain merasakan kesempatan yang sama.”
Setahun setelah kepergian Hana, Reza tak pernah lagi tampil di layar kaca atau panggung besar. Ia memilih fokus pada “Dentuman Hidayah”, lembaga yang ia bangun untuk menerangi mereka yang masih terjebak di lorong gelap kehidupan.
Namun, yang terjadi di balik layar jauh lebih besar dari sorotan kamera. Ratusan anak muda berhijrah. Belasan tempat maksiat tutup dan berubah jadi tempat tahfidz, bengkel amal, atau rumah singgah. Reza tak pernah menuntut popularitas karena ia tahu, dakwah paling kuat adalah dakwah yang tidak ingin terlihat.
Salah satu program andalannya adalah “Dari Club ke Kiblat”, pembinaan khusus mantan pelaku dunia malam. Di situ, mantan bartender, hostes, DJ, dan clubber belajar kembali sholat, membaca Al-Qur’an, dan menata hati. Mereka menulis kisah masa lalu mereka, bukan untuk dikenang, tapi untuk menggugah hati orang lain agar tak jatuh ke jurang yang sama.
Suatu sore, Reza sedang menata perpustakaan kecil di “Rumah Pelita”, ketika seorang santri muda memberinya sepucuk amplop.
“Ustadz, ini dikirim atas nama lama antum... DJ Rezz-On-Fire,” katanya ragu.
Reza mengernyit. Ia membuka amplop itu, dan di dalamnya ada satu surat panjang, tulisan tangan. Isinya:
"Assalamu'alaikum, Bro Rezz...
Gua tau lo udah hijrah dan gua seneng banget dengarnya.
Gua masih di dunia lama, dan jujur, gua capek. Capek pura-pura seneng, capek hidup nggak tahu arah.
Kadang gua nyalain lagu lama lo, terus nangis. Gua inget saat kita mabuk bareng, ngakak bareng, tapi hampa.
Gua nggak tahu gimana caranya keluar.
Tapi kalau lo bisa... apa gua juga bisa?
Vano”
Reza tertegun. Nama itu seperti hantu masa lalunya. Vano adalah teman dekatnya semasa di klub. Teman satu panggung, satu botol, satu dosa.
Tanpa ragu, Reza menulis balasan dan mengirim nomor kontaknya.
Tak lama kemudian, malam-malam Reza kembali diisi tangis. Tapi bukan tangis dosa, melainkan tangis haru. Vano datang. Kurus, ringkih, tapi matanya meminta harapan.
Reza memeluknya erat:
“Lu nggak datang ke orang suci, bro. Lu datang ke orang yang pernah kotor bareng lu. Tapi hari ini, kita bisa bersih bareng.”
Waktu berlalu. Reza menua. Jenggotnya memutih. Suaranya tak lagi lantang. Tapi dakwahnya… justru semakin dalam. Ia tak lagi banyak bicara. Cukup duduk, dan anak-anak muda datang mencium tangannya, meminta nasihat.
Suatu hari, Reza duduk di masjid kecil yang ia bangun bersama Hana dulu. Ia memandangi rak mushaf dan tembok yang dulunya penuh lampu kelap-kelip dunia malam. Kini, setiap sudutnya memantulkan cahaya Al-Qur’an.
Reza memejamkan mata, dan berbisik dalam hati:
“Ya Allah... Jika hari ini adalah hari terakhirku, izinkan aku mati dalam keadaan bersih. Jangan biarkan aku kembali ke gelap, karena Engkau sudah beri aku terang…”
Reza wafat di sujud terakhirnya saat menjadi imam salat Subuh. Kabar itu mengguncang, bukan karena sensasional, tapi karena terlalu banyak orang yang pernah disentuh hidupnya.
Jenazahnya dishalatkan oleh ribuan orang. Tapi lebih dari itu, yang menangis bukan hanya kerabat. Yang menangis adalah mereka yang dulu hampir bunuh diri, tapi batal karena mendengar kisah hijrah Reza. Mereka yang dulu menjadi penari klub, pecandu, tukang pukul, dan anak jalanan.
Di atas nisannya, tertulis:
"Reza Al-Fajr Yang dulu jatuh, lalu pulang.
Dentuman hidupnya menyadarkan dunia,
bahwa gelap tak pernah menang melawan cahaya.”
Meski Reza telah wafat, jejak perjuangannya tak ikut terkubur. Komunitas “Dentuman Hidayah” justru makin besar dan mengakar. Dulu hanya satu rumah singgah, kini berkembang jadi jaringan pesantren rehabilitasi spiritual di berbagai kota besar Jakarta, Bandung, Surabaya, bahkan hingga luar negeri.
Yang memimpin kini adalah Ilham, pemuda bertato yang dulu menangis di pelukan Reza. Bersama istrinya, seorang mualaf dari komunitas DJ perempuan yang juga dibina Reza, Ilham teruskan semangat dakwah itu. Ia sering berkata kepada santri barunya:
“Ustadz Reza sudah tiada, tapi kisahnya hidup di setiap perubahan kalian. Jangan pernah anggap diri kalian terlalu kotor untuk disucikan.”
Suatu hari, sebuah stasiun TV Islam menayangkan film dokumenter tentang Reza. Judulnya: “Dentuman Hidayah Kisah Seorang DJ yang Menjadi Dai.” Film itu viral, bahkan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Komentar-komentar pun membanjiri:
“Saya keluar dari klub malam setelah nonton film ini.”
“Saya berhenti minum dan mulai salat karena kisah Ustadz Reza.”
“Saya hampir bunuh diri malam itu, tapi Allah beri saya video ini.”
Dunia akhirnya tahu, bahwa perubahan itu nyata. Hidayah itu mungkin. Dan satu orang yang benar-benar bertaubat… bisa menyelamatkan ribuan jiwa.
Tahun ke-10 wafatnya Reza, komunitas mengadakan peringatan sederhana di masjid kecil tempat Reza biasa mengajar. Ilham membuka majelis itu dengan air mata yang menetes di sajadah.
“Dulu saya datang ke tempat ini sebagai orang paling kotor. Hari ini saya duduk di sini… bukan karena saya hebat. Tapi karena Ustadz Reza pernah percaya bahwa orang sejahat saya pun bisa berubah.”
Di akhir acara, santri-santri baru berdiri satu per satu. Ada yang dulu anak punk, pelacur, pengguna narkoba, bahkan mantan preman.
Mereka semua mengucap satu kalimat yang sama:
“Kami bukan bekas orang hina. Kami bekas orang yang diselamatkan Allah.
Jika kamu yang membaca kisah ini sedang berada dalam kegelapan…
Jika hidupmu terasa hampa, sesak, dan tak tahu arah…
Ingatlah, Reza pun pernah merasa begitu.
Tapi ia bangkit. Ia pulang. Dan ia menang.
Karena gelap tak akan pernah bisa memadamkan cahaya,
ketika cahaya itu datang dari hidayah-Nya.
TAMAT