Hidayah Di Balik Cadar

Judul: Hidayah di Balik Cadar

(Kisah seorang perampok yang menemukan cahaya iman dari sosok wanita bercadar)


Di sudut kota yang riuh dan keras, ada seorang pria yang dikenal dengan nama Raka. Hidupnya bergelimang dalam dunia hitammerampok, mencuri, bahkan tak segan menyakiti. Masa kecil yang kelam, dibesarkan tanpa kasih sayang orang tua, membuat Raka tumbuh dalam dendam dan keputusasaan. Baginya, dunia adalah tempat siapa cepat dia dapat. Ia tak percaya pada kebaikan, apalagi Tuhan.

Suatu malam, saat Raka sedang mencari mangsa di sebuah jalanan sepi dekat masjid, matanya menangkap seorang wanita bercadar sedang berjalan sendirian. Dalam pikirannya, wanita itu mudah dijadikan sasaran. Ia segera mendekat, mengancam dengan pisau lipat.

Namun, sesuatu yang tak biasa terjadi. Wanita itu, meski dalam ancaman, tidak gemetar. Matanya yang teduh menatap Raka dengan penuh iba, bukan takut.

“Kak… kalau harta yang kau cari, ambillah. Tapi tolong, jangan tambah dosamu malam ini. Allah masih mau membuka pintu tobatmu.”

Raka terdiam. Kata-kata itu seperti menampar jiwanya yang kotor. Ia terbiasa melihat korban menangis, berteriak, atau pingsan karena takut. Tapi kali ini, yang ia lihat adalah keberanian yang bersumber dari iman.

“Kenapa kau tidak takut?” tanya Raka.

 “Karena aku percaya, hidup ini hanya sebentar. Dan setiap manusia, seburuk apa pun dia, punya kesempatan untuk berubah.”

Wanita itu kemudian mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya dan menyerahkannya kepada Raka sebelum pergi dengan tenang. Di halaman pertama tertulis:

“Jangan pernah menyerah untuk kembali kepada Allah.”

Malam itu, Raka tidak bisa tidur. Kalimat demi kalimat dalam buku itu menghantam hatinya. Ia mulai mempertanyakan hidupnya, tujuannya, dan masa depannya. Dalam diam, air mata yang selama ini tertahan tumpah begitu saja.

Beberapa hari kemudian, Raka datang ke masjid tempat ia biasa melewati malam-malam dengan kejahatan. Ia bertemu seorang ustaz tua yang dengan sabar mendengarkan kisah hidupnya. Raka mulai rutin datang, belajar mengaji, dan memperbaiki dirinya sedikit demi sedikit.

Lima tahun berlalu…

Kini Raka dikenal sebagai Ustaz Raka, seorang dai yang sering mengisi kajian di masjid dan pesantren, khususnya bagi para mantan napi dan pemuda jalanan. Ia tidak pernah menyembunyikan masa lalunya. Justru dari sanalah ia menginspirasi orang-orang untuk bangkit dan bertaubat.

Suatu hari, setelah sebuah kajian, ia bertemu dengan seorang wanita bercadar yang datang bersama suaminya. Saat melihat mata wanita itu, Raka langsung terdiam. Ia yakin, itu adalah mata yang sama yang dulu pernah menyelamatkannya dari jurang kehancuran.

Wanita itu hanya tersenyum sambil berkata pelan:

 “Terima kasih telah menerima hidayah Allah. Bukan karena aku, tapi karena hatimu memilih untuk kembali.”

Raka menunduk, air matanya jatuh. Ia sadar, hidayah bisa datang dari arah yang tak disangka bahkan dari balik selembar cadar.

Setelah malam penuh renungan itu, hidup Raka mulai berubah perlahan. Ia menjauh dari kawan-kawannya di dunia kriminal, meskipun beberapa kali sempat tergoda untuk kembali. Tapi tiap kali godaan itu datang, ia teringat mata teduh wanita bercadar itu, dan kata-kata yang seakan terus terngiang dalam hatinya.

 “Jangan tambah dosamu malam ini…”

Ia mulai mendatangi masjid dengan malu-malu. Awalnya duduk di pojok belakang, menyimak ceramah tanpa suara. Namun entah mengapa, tiap kali ustaz berbicara soal tobat dan rahmat Allah, hatinya bergetar hebat. Ia merasa seolah semua ceramah itu ditujukan untuk dirinya.

Hingga suatu hari, seorang ustaz tua yang sering melihatnya mendekat dan berkata:

“Ananda, jika engkau sungguh ingin berubah, mari ikut saya belajar.”

Raka mengangguk, dan hari itu jadi titik awal hijrah sejatinya

Masa-Masa Hijrah

Tak mudah. Banyak luka batin yang harus disembuhkan. Raka tak hanya belajar agama, tapi juga belajar mengendalikan nafsu, amarah, dan ego yang selama ini membentuk karakternya. Ia mencuci toilet masjid, membersihkan halaman, bahkan menjadi penjaga sandal saat ada pengajian. Orang-orang sempat memandang rendah, mencibir masa lalunya. Tapi Raka tak membalas.

 “Aku dulu pernah menyakiti banyak orang. Biar ini jadi penebus,” katanya pelan suatu hari.

Dalam diam, hatinya tumbuh. Cahaya Allah perlahan menerangi hidupnya yang dulu gelap.

Menjadi Ustaz

Setelah beberapa tahun, atas bimbingan sang ustaz, Raka mulai diberi amanah untuk berceramah di majelis kecil. Awalnya hanya mengisi pengajian remaja masjid dan anak-anak kampung. Namun gaya bicaranya yang lugas, emosional, dan berasal dari pengalaman pribadi, membuat banyak orang tergerak.

Ia mulai dikenal sebagai “Ustaz Hijrah” di lingkungan masjid-masjid kota. Tapi Raka selalu merendah:

“Saya bukan ustaz, saya hanya orang yang pernah tersesat dan diberi kesempatan kedua.”

Ia membentuk majelis taubat untuk para pemuda yang bermasalah. Bahkan beberapa mantan napi menjadi muridnya. Ia tak pernah menyuruh orang berubah, tapi menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin.

Pertemuan yang Menggetarkan

Di suatu acara kajian akbar, Raka diundang sebagai pembicara. Usai mengisi ceramah, ia dihampiri oleh seorang pria dan wanita bercadar. Hatinya bergetar saat melihat mata sang wanita mata yang ia kenal sangat dalam.

Pria itu memperkenalkan diri sebagai suami sang akhwat, seorang ustazah dan aktivis dakwah. Wanita itu mengangguk dan menyapa pelan.

“Alhamdulillah… ternyata engkau benar-benar mengambil buku itu malam itu.”

Raka tercekat. Tangannya gemetar.

“Ukhti… karena kalimat ukhti malam itu, hidup saya berubah. Kalau bukan karena hidayah Allah melalui ukhti… mungkin saya sudah mati di jalanan.”

Wanita itu menatap Raka dengan penuh haru. Tak ada kata-kata lebih lanjut. Hanya diam dan air mata. Lalu ia berlalu, meninggalkan Raka dalam sujud syukur yang panjang.

Hari ini, Ustaz Raka tetap berdakwah. Ia dikenal sebagai dai jalanan, masuk ke lorong-lorong kumuh, penjara, dan tempat-tempat yang dijauhi kebanyakan orang. Ia selalu membuka ceramahnya dengan kata-kata yang sama:

“Saya pernah lebih hina dari kalian… Tapi Allah tak pernah berhenti menunggu hamba-Nya kembali.”

Dan di tiap doa malamnya, ia selalu menyebut satu nama bukan karena cinta dunia, tapi karena melalui wanita bercadar itu, ia mengenal cinta sejati:

Cinta kepada Allah.

Hari-hari Raka sebagai seorang dai tak selalu mulus. Setelah dikenal sebagai “ustaz hijrah,” popularitasnya perlahan menyebar. Tapi bersama nama baik, datang pula ujian.

Ada yang mulai memfitnah bahwa perubahan Raka hanyalah pencitraan. Ada yang menyebut ia hanya mencari panggung. Bahkan mantan-mantan rekannya di dunia kriminal dulu mulai mengusik kembali.

“Kita dulu makan dari jalan yang sama, Rak! Sekarang lo sok suci? Hahaha!”

Ucapan Jodi, teman lamanya.

Raka hanya diam. Dalam sujud panjang malam harinya, ia menangis dan berdoa agar hatinya tetap kuat di jalan taubat.

Ia tahu, istikamah lebih berat dari sekadar berubah.

Ujian Dunia: Rasa Cinta yang Tak Tersampaikan

Meski Raka telah ikhlas dengan masa lalu, ada satu hal yang kadang masih tergores di hatinya: wanita bercadar itu. Ia tak tahu namanya, hanya tahu wajahnya dari matanya. Sejak pertemuan kedua mereka di kajian akbar, tak pernah ada kabar lagi. Namun dalam benaknya, wanita itu adalah cahaya pertama yang mengetuk pintu hidayah.

Pernah sekali, Raka meminta ustaznya untuk mencarikannya seorang istri. Ia ingin membangun keluarga yang baik, menjauh dari masa lalu. Dan akhirnya Allah mempertemukannya dengan seorang gadis sederhana, hafizah Qur’an yang tak banyak bicara.

“Aku tidak peduli masa lalumu,” kata calon istrinya itu.

“Yang aku tahu, sekarang engkau laki-laki yang ingin ke surga.”

Pernikahan sederhana digelar di masjid. Tak ada pesta mewah, tak ada undangan besar. Tapi di hari itu, Raka merasa seperti manusia yang lahir kembali. Wanita bercadar itu? Ia simpan dalam doanya, bukan untuk dimiliki, tapi dikenang sebagai jalan hidayah.

Dakwah dari Lorong ke Lorong

Setelah menikah, semangat dakwah Raka makin besar. Ia menginisiasi program “Ngaji Lorong,” mengajar anak-anak jalanan dan remaja punk yang tersesat. Ia membagi kisah hidupnya di penjara, di jalanan, bahkan saat ia nyaris mati karena dilukai sesama perampok.

“Kalau saya bisa berubah,” katanya dalam setiap sesi, “kalian pun bisa.”

Ia juga membuat komunitas “Hijrah Bareng,” tempat mantan-mantan napi dan pemuda bermasalah bisa belajar mengaji, bekerja, dan membangun hidup baru. Banyak yang awalnya skeptis, namun ketika melihat perubahan nyata Raka, hati mereka pun mulai terbuka.

Kejutan yang Tak Terduga

Suatu hari, dalam acara pembukaan rumah tahfiz binaannya, Raka mengundang beberapa tokoh dan ustazah. Tak disangka, datanglah sepasang tamu yang membuat dadanya sesak.

Wanita bercadar itu hadir lagi. Kali ini dengan anak-anak kecil di sekelilingnya. Ia telah menjadi ibu, guru tahfiz, dan pendidik perempuan.

Mereka bersalaman, sekadar saling menatap dan tersenyum. Raka berkata lirih:

 “Semoga ukhti selalu dalam lindungan Allah... Terima kasih. Karena ukhti, saya berdiri di sini hari ini.”

Wanita itu menjawab:

“Bukan karena saya, tapi karena Allah memilihmu. Saya hanya perantara. Doakan saya agar tetap istikamah juga.”

Mereka pun berpisah. Dan Raka menyadari satu hal besar dalam hidupnya:

Hidayah bisa datang lewat siapa saja. Tapi mempertahankan hidayah, itulah jihad sejati.

Kini, Ustaz Raka telah menjadi panutan. Bukan karena ilmunya tinggi, tapi karena keberaniannya mengakui masa lalu, dan keteguhannya meninggalkannya.

Setiap kali ia melihat seorang wanita bercadar di jalan, ia tersenyum sendiri.

“Dulu, aku melihat cadar sebagai simbol kegelapan. Kini, aku tahu, di balik cadar itu… ada cahaya yang menuntunku pulang.”

Tahun demi tahun berlalu...

Ustaz Raka kini sudah menginjak usia kepala lima. Janggutnya mulai memutih, suaranya tak setegas dulu, tapi semangatnya masih menyala. Rumahnya sederhana di pinggiran kota, dikelilingi anak-anak tahfiz yang ia didik dengan penuh kasih.

Ia tak pernah hidup mewah, tapi selalu merasa cukup.

Setiap hari Jumat, ia masih mengisi khutbah, walau harus dibantu tongkat. Kadang, anak bungsunya Fawwaz, remaja 17 tahun yang sudah hafal 30 juz menemaninya ke masjid.

 “Abi,” kata Fawwaz suatu hari, “kenapa abi gak pernah cerita tentang masa muda abi ke orang rumah?”

“Karena bukan itu yang pantas dibanggakan, Nak. Yang abi banggakan... adalah bagaimana Allah masih mau terima abi meski dulu abi terlalu jauh tersesat.”

Fawwaz menunduk haru. Ia tahu ayahnya bukan sekadar guru, tapi pejuang. Pejuang yang menang melawan dirinya sendiri.

Malam Terakhir

Suatu malam, usai mengimami salat isya di masjid kecilnya, Raka duduk lama di atas sajadah. Ia berzikir pelan. Beberapa jamaah masih menyapanya sebelum pulang. Tapi Raka tidak beranjak.

Subuh hari, para santri heran karena pintu masjid belum dibuka. Ketika mereka masuk, mereka menemukan Raka masih duduk di tempat yang sama dengan senyum tenang di wajahnya.

Tangannya menggenggam tasbih. Di sampingnya, terbuka lembaran mushaf Al-Qur’an di surat Al-Fajr:

 "Yā ayyatuhā an-nafsu al-muṭmaʾinnah. Irjiʿī ilā rabbiki rāḍiyatan marḍiyyah. Fadkhulī fī ʿibādī, wadkhulī jannatī..."

(“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai…”)

Tangis pun pecah.

Meninggal dalam keadaan duduk bersujud, dalam masjid yang ia bangun dari keringat dan taubat. Itulah husnul khatimah yang ia minta tiap malam.

Beberapa Tahun Kemudian...

Fawwaz tumbuh menjadi seorang dai muda. Ia meneruskan jejak ayahnya. Rumah tahfiz kini makin ramai. Salah satu program unggulannya bernama:

 "Hidayah di Balik Cadar"

program dakwah untuk mantan napi dan pemuda jalanan, inspirasi dari kisah sang ayah.

Setiap kali Fawwaz berceramah, ia selalu tutup dengan kalimat:

 “Jika kalian lihat orang berdosa... jangan hakimi dia. Karena bisa jadi, kelak dialah yang membimbing kalian ke surga.”

Dan jauh di tempat lain, seorang wanita tua bercadar yang kini menetap di pesantren putri di luar kota, mendengar kabar wafatnya Ustaz Raka. Ia menatap langit, lalu tersenyum lirih.

 “Dia pulang... dalam keadaan yang paling mulia.

Alhamdulillah ya Rabb... telah Kau jadikan aku bagian kecil dari hidayah-Mu.”

Dan langit pun mencatat kisah itu sebagai saksi...

Bahwa Allah bisa membalikkan hati siapa pun... bahkan seorang perampok... menjadi wali.

Beberapa tahun setelah wafatnya Ustaz Raka, nama dan perjuangannya tetap hidup. Bukan di spanduk besar atau siaran televisi, tapi di hati orang-orang yang pernah ia sentuh dengan cinta dan dakwah.

Anaknya, Fawwaz, kini berusia 25 tahun. Ia telah menjadi ustaz muda yang dikenal karena kelembutan akhlaknya dan ketegasannya dalam memimpin perubahan di tengah lingkungan masyarakat marginal.

Setiap kali Fawwaz berdakwah, ia tak pernah menyebut ayahnya sebagai pahlawan. Tapi jamaah tahu—dari tutur kata dan caranya memeluk orang-orang terluka, mereka tahu:

Darah Ustaz Raka mengalir dalam dirinya.

Pesan Ayah yang Tak Pernah Luntur

Di dinding perpustakaan rumah tahfiz yang mereka kelola, tergantung pigura usang berisi tulisan tangan ayahnya:

 “Jangan pernah remehkan seseorang hanya karena masa lalunya. Karena kita semua berdiri hari ini atas rahmat, bukan karena layak.”

Raka, mantan perampok, hamba Allah yang pulang ke jalan-Nya.

Pigura itu selalu dibersihkan oleh santri baru setiap pekan. Sebagai bentuk pengingat, bahwa tempat itu bukan untuk yang sempurna, tapi untuk yang ingin berubah.

Sebuah Kisah yang Menginspirasi Dunia

Beberapa tahun setelahnya, kisah hidup Ustaz Raka diangkat menjadi buku dan film dokumenter oleh seorang jurnalis muslimah. Tak disangka, wanita itu ternyata adalah anak dari akhwat bercadar yang dulu menjadi jalan hidayah bagi Raka.

Saat wawancara dengan Fawwaz, sang jurnalis bertanya:

 “Apa harapan antum tentang perjuangan ayah antum ini?”

Fawwaz menjawab sambil tersenyum:

“Ayah saya tidak meninggalkan warisan berupa harta. Tapi beliau mewariskan sesuatu yang jauh lebih mahal jalan untuk pulang kepada Allah, bagi siapa saja yang merasa tak layak.

Dan tugas kami… adalah menjaga jalan itu tetap terbuka.”

Film dokumenter itu berjudul sama:

"Hidayah di Balik Cadar"

Dan viral di kalangan pemuda hijrah dan aktivis dakwah jalanan.

Di batu nisan sederhana Ustaz Raka, tertulis:

 “Di sinilah beristirahat seorang hamba yang dulu tenggelam dalam dosa,

tapi Allah angkat menjadi cahaya bagi sesama.”

Santri, masyarakat, hingga para mantan kriminal yang telah berubah, setiap tahun datang untuk mendoakan. Tak sedikit yang berkata:

 “Kalau bukan karena Ustaz Raka, mungkin aku masih tidur di sel penjara... atau di kuburan.”

Dan semua itu… berawal dari sepasang mata teduh di balik cadar.

Dari satu kalimat lembut di tengah malam:

 “Jangan tambah dosamu malam ini…”

Beberapa tahun setelah film dokumenter "Hidayah di Balik Cadar" dirilis dan menyentuh jutaan hati, sebuah gelombang hijrah merebak di berbagai penjuru negeri. Tak disangka, kisah satu orang yang dulu hanya dikenal sebagai perampok kini menjadi pemantik api perubahan bagi ribuan orang.


Gerakan "Hijrah Bareng" yang dirintis almarhum Ustaz Raka dan dilanjutkan oleh Fawwaz berkembang pesat. Dari sekadar komunitas lokal, kini mereka telah membuka cabang di berbagai kota. Tempat ngaji di lorong-lorong sempit berubah menjadi majelis penuh harapan. Anak jalanan yang dulunya mabuk dan mencuri, kini belajar menghafal Qur’an dan berdakwah di kampungnya sendiri.

Kisah Seorang Preman yang Tersentuh

Namanya Andra, dulunya dikenal sebagai preman pasar brutal. Ia menonton dokumenter Ustaz Raka karena tak sengaja, saat sedang mengantar pacarnya ke tempat majelis. Tapi justru di sanalah hatinya remuk. Ia menangis di depan layar laptop, lalu datang diam-diam ke rumah tahfiz tempat Fawwaz mengajar.

 “Saya Andra… saya bukan orang baik. Tapi saya pengen jadi kayak ayah antum…”

Fawwaz tak menjawab panjang. Ia memeluk Andra, seperti dulu ayahnya memeluk dirinya saat pertama kali jadi imam.

Kabar dari Wanita Bercadar

Sementara itu, di pesantren tempat tinggal sang wanita bercadar yang dulu menjadi jalan hidayah bagi Raka, sebuah berita menggembirakan datang.

Putrinya sang jurnalis pembuat film dokumenter baru saja dinikahi oleh Fawwaz.

Pernikahan yang indah dan sederhana, disaksikan langit yang teduh dan ribuan doa.

Di hari akad, wanita bercadar itu menangis haru. Ia menatap Fawwaz dan berkata lirih:

“Ayahmu dulu diselamatkan oleh kata-kata.

Dan kini… engkau menyelamatkan ratusan dengan tindakan.

Aku yakin, ruhnya bahagia melihat ini…”

Generasi Baru Pejuang Taubat

Fawwaz dan istrinya kini memimpin Pesantren Hidayah Cadar, sebuah pesantren modern yang dikhususkan bagi para mualaf, mantan napi, dan anak-anak jalanan. Nama itu dipilih bukan sekadar simbol, tapi pengingat bahwa hidayah bisa datang dari arah yang paling tak terduga.

Setiap malam, sebelum tidur, Fawwaz membaca surat Al-Fajr… surat yang dibaca ayahnya sebelum wafat.

Ia lalu berkata pada putrinya yang masih balita:

“Nak, nanti kalau kamu besar… dan ada orang yang tersesat, jangan benci dia.

Doakan dia… seperti dulu kakekmu didoakan.

Karena kadang, satu doa bisa menyelamatkan seribu jiwa.”

Kisah Raka, sang perampok yang menjadi ustaz, telah berakhir. Tapi warisannya tidak.

Ia hidup dalam hati anak-anak muda yang memilih untuk bangkit.

Ia hidup dalam senyuman wanita bercadar yang dulu tak takut pada ancaman.

Ia hidup dalam setiap sujud yang penuh harap:

“Ya Allah, terimalah aku… meski aku pernah hina.”

Karena sesungguhnya, hidayah adalah milik Allah, dan kadang...

cahayanya bersembunyi di balik cadar.”


TAMAT 









Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa