Pertama Kali Mengajar Anak-anak TPA
Kisah Pertama Kali Saya Mengajar Ngaji Anak-Anak TPA Hari itu langit sore berwarna jingga keemasan, angin berhembus lembut, dan suara anak-anak mulai terdengar dari surau kecil di ujung gang. Itulah hari pertama saya mengajar ngaji anak-anak TPA. Meski tampak tenang di luar, di dalam hati saya ada rasa gugup, campur aduk antara bahagia dan cemas. Saya berdiri di depan pintu surau dengan mushaf Al-Qur’an di tangan, mencoba meyakinkan diri. “Bismillah,” ucapku pelan. Anak-anak duduk berderet di atas tikar, sebagian sudah membuka iqra', sebagian lagi sibuk bercanda. Mereka menoleh saat saya masuk, dan saya menjawab salam mereka dengan senyum yang sedikit kaku. Saya memperkenalkan diri dengan suara yang sedikit gemetar. Ada anak-anak yang menyimak dengan wajah polos dan antusias, tapi ada juga yang tampak bosan atau malah bermain dengan temannya. Di situlah saya sadar: mengajar ngaji bukan hanya soal membaca huruf hijaiyah, tapi juga tentang memahami dunia anak-anak, sabar ...