Luka yang Tak terlihat kah
Luka yang Tak Terlihat
Sari, perempuan 30 tahun, sudah bekerja hampir enam tahun di sebuah perusahaan herbal di Bandung. Hidupnya sederhana ia menikmati rutinitasnya, secangkir kopi di pagi hari, dan kesibukan di kantor yang kadang membuatnya lupa waktu. Ia bukan tipe yang suka drama. Ia tenang, sabar, dan selalu berusaha memahami orang lain.
Namun, semua berubah ketika ia bertemu Rindi.
Rindi datang sebagai rekan kerja baru di bagian pemasaran. Sekilas, Rindi tampak mempesona: percaya diri, cerdas berbicara, dan selalu tahu cara membuat orang kagum. Awalnya Sari pun terpesona ia merasa beruntung punya teman baru yang enerjik dan inspiratif.
Tapi seiring waktu, topeng itu mulai retak.
Rindi sering memuji diri sendiri berlebihan, merendahkan orang lain secara halus, dan menuntut perhatian seolah dunia berputar di sekitarnya. Ketika Sari melakukan sesuatu dengan baik, Rindi tidak pernah benar-benar senang. Ia akan bilang, “Lumayan sih, tapi kalau aku yang ngerjain pasti hasilnya lebih bagus.”
Sari menahan diri. Ia berpikir, mungkin Rindi cuma sedang menyesuaikan diri. Tapi yang terjadi justru semakin berat. Rindi mulai memanipulasi situasi menyebarkan cerita yang setengah benar, memutarbalikkan fakta agar selalu tampak sebagai korban. Ketika Rindi membuat kesalahan, ia akan menuduh Sari tidak mendukungnya. Ketika Rindi dipuji atasan, ia mengabaikan peran tim dan menyebut semua ide berasal darinya.
Hari demi hari, Sari merasa kelelahan yang aneh.
Tubuhnya sehat, tapi pikirannya seperti terus dikejar bayangan gelap. Ia mulai ragu pada dirinya sendiri apakah benar dia terlalu sensitif? Apakah dia salah menilai? Setiap kali mencoba berbicara dengan Rindi secara baik-baik, yang datang malah serangan balik: gaslighting, sindiran halus, dan air mata palsu.
Rindi membuatnya merasa bersalah atas hal-hal yang bahkan bukan kesalahannya.
Suatu malam, setelah pulang kerja, Sari duduk di balkon kosnya dengan secangkir teh yang sudah dingin. Ia menatap langit yang redup dan bertanya dalam hati, “Kenapa aku selalu merasa salah, padahal aku cuma ingin berbuat baik?”
Di situlah ia sadar: ini bukan salahnya. Ia sedang berhadapan dengan seseorang yang tak mampu melihat orang lain selain dirinya sendiri.
Sejak itu, Sari mulai menjaga jarak. Ia berhenti mencoba menyenangkan Rindi. Ia mulai berkata “tidak” tanpa rasa bersalah. Dan meskipun tidak mudah, perlahan Sari mulai menemukan kembali ketenangannya hbelajar bahwa tidak semua orang bisa disembuhkan dengan empati.
Beberapa luka memang tidak terlihat, tapi Sari tahu: bertahan dan menjaga diri dari orang yang salah adalah bentuk cinta paling penting cinta pada diri sendiri.
Hari-hari di kantor menjadi semakin berat.
Setiap kali Sari datang pagi-pagi, sudah ada pesan dari Rindi di ponselnya kadang berupa perintah, kadang keluhan panjang yang dibungkus kalimat manis.
“Kayaknya kamu harus bantu aku beresin presentasi ini, ya. Aku tuh capek banget semalam,” tulis Rindi.
Sari, yang dulu selalu ingin membantu, mulai merasa seperti boneka yang dikendalikan. Ia tahu Rindi bisa mengerjakan sendiri, tapi entah kenapa selalu dibuat seolah Sari yang “wajib” menolong. Jika ia menolak, Rindi akan berubah dingin. Tidak menyapa, lalu tiba-tiba di depan orang lain berkata,
“Entah kenapa ya, Sari akhir-akhir ini beda. Kayak nggak peduli sama tim lagi.”
Semua orang mendengar.
Dan yang paling menyakitkan beberapa mulai percaya.
Malam-malam Sari diwarnai insomnia. Ia memandangi layar ponselnya berjam-jam, membaca ulang percakapan, mencari di mana ia salah. Tapi setiap baris hanya membuatnya lebih bingung. Ia sadar, Rindi pandai memelintir kata. Apa pun yang ia katakan bisa dijadikan senjata untuk membuatnya tampak salah.
Sri mulai membaca tentang Narcissistic Personality Disorder.
Ia menemukan kalimat yang membuat dadanya sesak:
“Orang dengan NPD tidak melihat orang lain sebagai individu yang punya perasaan, melainkan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.”
Tiba-tiba semua terasa masuk akal.
Semua yang ia alami gaslighting, perasaan bersalah yang tak beralasan, kehilangan rasa percaya diri semuanya memiliki nama
Namun mengetahui kebenaran tidak langsung membuat segalanya mudah.
Sari masih harus berhadapan dengan Rindi setiap hari.
Ia belajar strategi baru: berbicara seperlunya, menghindari diskusi emosional, dan mencatat semua komunikasi penting lewat email agar tidak bisa diputarbalikkan.
Pelan-pelan, Sari juga mulai memulihkan dirinya.
Ia pergi ke tempat yoga sepulang kerja, mengurangi interaksi di media sosial, dan menulis jurnal setiap malam.
Di dalam catatannya, ia menulis kalimat yang menjadi mantra:
“Aku tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan orang yang terus menyakitiku.”
Suatu hari, ketika Rindi kembali berusaha memancing emosi di depan tim, Sari tidak lagi membalas. Ia hanya tersenyum tipis dan berkata, “Maaf, aku nggak punya waktu untuk ini.”
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bebas.
Beberapa bulan kemudian, Rindi pindah ke cabang lain.
Kantor terasa lebih sunyi, tapi juga lebih damai.
Sari masih sering teringat masa-masa sulit itu tapi kini, setiap kali bayangan itu muncul, ia tidak lagi gemetar.
Ia tahu luka itu nyata, tapi ia juga tahu dirinya lebih kuat dari sebelumnya.
Di halaman terakhir jurnalnya, Sari menulis:
“Aku pernah dicintai dengan cara yang membuatku kehilangan diri sendiri.
Tapi aku memilih untuk bangkit, menyalakan cahaya kecil di dalam hatiku, dan tidak lagi membiarkan siapa pun memadamkannya.”
Waktu berjalan.
Sudah hampir setahun sejak Rindi pindah.
Namun jejaknya masih tertinggal bukan di kantor, tapi di dalam diri Sari.
Ada hari-hari ketika Sari masih terbangun dengan jantung berdebar tanpa sebab.
Ada momen ketika nada bicara seseorang yang terlalu dominan membuatnya tegang, seolah ia akan diserang lagi.
Ia sadar, luka emosional tidak sembuh hanya karena orangnya sudah pergi. Luka itu butuh waktu. Butuh ruang. Butuh kasih dari diri sendiri.
Di akhir pekan, Sari mulai membiasakan diri pergi ke taman sendirian. Duduk di bawah pohon besar sambil membaca buku atau hanya mendengarkan angin.
Di tempat itu, ia belajar hal yang dulu ia abaikan keheningan yang menyembuhkan.
Ia juga mulai terapi dengan seorang konselor. Awalnya ragu, takut terlihat “lemah.”
Namun di sesi pertama, ketika ia menceritakan semua manipulasi dan rasa bersalah yang terus menghantuinya, konselornya berkata lembut:
“Kamu bukan lemah, Sari. Kamu hanya pernah terlalu lama berada dalam hubungan yang tidak sehat. Sekarang, kamu sedang belajar mencintai dirimu dengan cara yang benar.”
Kalimat itu seperti pintu yang terbuka.
Sari menangis lama hari itu bukan karena sedih, tapi karena untuk pertama kalinya, ia merasa dimengerti tanpa dihakimi.
Perlahan, hidup Sari berubah.
Ia mulai menata ulang lingkaran pertemanannya hanya membiarkan orang-orang yang membawa ketenangan.
Ia belajar bahwa batas bukan bentuk dingin atau egois; batas adalah perlindungan agar hatinya tidak kembali remuk.
Saat seseorang baru datang dalam hidupnya seorang rekan dari divisi lain bernama Adi Sari sempat ragu.
Ia takut mengulang luka lama.
Namun kali ini ia berbeda: ia tidak lagi menyesuaikan diri berlebihan, tidak lagi berusaha selalu menyenangkan.
Ia berbicara jujur, dan jika merasa tidak nyaman, ia berani mengatakannya.
Adi bukan Rindi.
Ia tidak memaksakan kehendak, tidak haus pujian, dan tidak bermain peran.
Ia hanya hadir dengan ketulusan yang tenang.
Sari butuh waktu lama untuk percaya, tapi lambat laun ia mulai tersenyum lagi dengan tulus.
Suatu sore, Sari menatap dirinya di cermin kantor wajah yang sama, tapi matanya kini berbeda.
Lebih lembut, tapi juga lebih kuat.
Ia menyadari, perjalanan ini bukan tentang membalas dendam pada Rindi.
Bukan pula tentang membuktikan siapa yang benar.
Ini adalah perjalanan untuk menemukan kembali dirinya perempuan yang dulu hilang di balik rasa takut, kini berdiri tegak dengan kedamaian baru.
Di halaman terakhir jurnal barunya, ia menulis:
“Aku tidak lagi marah. Aku hanya bersyukur pernah belajar dari luka.
Karena dari sanalah aku mengenal siapa aku sebenarnya
seseorang yang bisa jatuh, tapi juga mampu bangkit dengan penuh kasih.”
Dua tahun telah berlalu.
Sari kini bukan lagi perempuan yang sama.
Ia sudah naik jabatan menjadi kepala divisi pemasaran posisi yang dulu mungkin tak pernah ia bayangkan. Tapi bukan jabatan itu yang membuatnya bangga; melainkan ketenangan yang kini menetap di dadanya.
Di ruang kerjanya yang sederhana, tergantung satu kalimat kecil di papan tulis:
“Tidak semua luka perlu disembunyikan. Sebagian luka ada untuk mengajarimu menjadi manusia yang lebih bijak.”
Sari menatap kalimat itu setiap pagi sebelum memulai hari.
Itu menjadi pengingat bahwa dari rasa sakit yang dulu hampir menghancurkannya, ia tumbuh bukan menjadi pahit, tapi menjadi lembut dengan batas yang sehat.
Suatu hari, seorang karyawan baru datang. Namanya Dina, gadis muda penuh semangat, tapi ada sesuatu di matanya yang membuat Sari teringat pada dirinya dulu cemas, mudah meminta maaf, selalu takut dianggap salah.
Dalam beberapa minggu, Sari mulai menyadari bahwa Dina sedang menghadapi situasi yang mirip: ia bekerja di bawah atasan yang suka mengontrol, meremehkan, dan menuntut kesetiaan tanpa alasan.
Suatu sore, Dina datang ke ruang Sari dengan mata berkaca-kaca.
“Bu Sari... saya capek. Saya nggak ngerti kenapa selalu merasa salah,” katanya pelan.
Sari terdiam sejenak.
Ia melihat dirinya yang dulu duduk di kursi yang sama, dengan luka yang sama.
Lalu ia berkata dengan suara lembut tapi tegas:
“Kamu nggak salah, Dina. Kamu cuma ketemu orang yang belum sembuh dari egonya sendiri.
Tapi kamu bisa belajar untuk nggak kehilangan dirimu di hadapannya.”
Sari kemudian mulai mendampingi Dina perlahan bukan sebagai atasan, tapi sebagai seseorang yang pernah melewati badai yang sama. Ia mengajarkan Dina tentang boundaries, tentang pentingnya mendengarkan intuisi, dan tentang keberanian untuk berkata tidak tanpa rasa bersalah.
Dan ketika Dina perlahan mulai tersenyum lagi, Sari tahu: luka lamanya tidak sia-sia.
Ia kini menjadi jembatan bagi orang lain untuk menemukan cahaya.
Malam itu, di rumahnya yang tenang, Sari menulis di jurnal barunya:
“Dulu aku bertahan karena aku takut sendirian.
Sekarang aku kuat karena aku belajar mencintai diriku sendiri.
Luka itu masih ada, tapi kini ia tidak menyakitkan.
Ia menjadi bagian dari kisah yang mengubahku
dari seseorang yang terluka, menjadi seseorang yang menyembuhkan.”
Ia menutup bukunya, tersenyum, lalu menatap ke langit malam.
Tidak ada dendam, tidak ada amarah.
Hanya rasa damai dan keyakinan bahwa hidup selalu punya cara sendiri untuk menuntun seseorang pulang menuju dirinya yang paling utuh.
Malam itu, angin berhembus lembut melalui jendela kamar Sari.
Lampu meja menyala temaram, menyinari secangkir teh yang mulai dingin dan buku jurnal yang hampir penuh.
Di luar, hujan turun pelan seperti lagu yang menenangkan hati.
Sari duduk diam, menatap tulisan-tulisan lamanya.
Kalimat-kalimat penuh rasa sakit, tangisan yang dulu tak bersuara, pertanyaan yang tak pernah dijawab.
Namun kali ini, ia membaca semuanya tanpa air mata.
Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai korban, tapi sebagai seseorang yang berhasil bertahan.
Ia teringat masa-masa saat Rindi membuatnya merasa kecil, tak berharga, dan terus ragu pada dirinya sendiri.
Tapi dari sanalah ia belajar: bahwa empati tanpa batas bisa berubah menjadi belenggu,
dan bahwa cinta sejati pertama-tama harus ditujukan pada diri sendiri.
Sari kini tahu orang seperti Rindi mungkin akan selalu ada di dunia ini,
namun kini ia tidak lagi takut.
Ia sudah tahu cara melindungi dirinya: dengan batas, dengan kejujuran, dengan keberanian untuk meninggalkan yang menyakitkan.
Ia menulis satu kalimat terakhir di halaman terakhir jurnalnya:
“Aku sudah pulang bukan ke tempat, tapi ke diriku sendiri.”
Lalu ia menutup buku itu perlahan, seperti menutup bab lama dalam hidupnya.
Di luar, hujan berhenti. Udara segar masuk melalui jendela, membawa aroma tanah yang basah dan harapan baru.
Sari tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak menunggu siapa pun untuk menyelamatkannya.
Ia tahu, ia sudah menyelamatkan dirinya sendiri.
Dan di dalam keheningan malam itu,
Sari benar-benar merasa bebas.
TAMAT