Bapak Penjaga Kebun dan Putri Kebanggaannya


Bapak Penjaga Kebun dan Putri Kebanggaannya



Di sebuah desa kecil yang tampak sederhana, tepat di kaki bukit dengan hamparan hijau perkebunan yang luas, hiduplah seorang pria bernama Pak Darto. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya menurut pandangan orang luar. Tubuhnya kurus, kulitnya legam, rambutnya memutih lebih cepat dari usia yang sudah memasuki akhir 40 tahun. Sesekali ketika berjalan, langkahnya terlihat berat karena lelah bekerja seharian mengurus kebun yang bukan miliknya.


Meskipun begitu, di balik kulit yang terbakar matahari itu tersimpan hati penuh cinta dan keteguhan luar biasa. Pak Darto sudah bekerja sebagai penjaga kebun sejak dua puluh tahun lalu. Ia tinggal di sebuah rumah sederhana dari papan kayu yang sudah mulai miring, dengan atap seng yang sering bocor saat hujan turun. Rumah itu terletak tak jauh dari kebun besar milik seorang pengusaha kaya kota yang hanya sesekali datang meninjau.


Pak Darto tidak hidup sendiri. Ia tinggal bersama putri semata wayangnya bernama Anisa, seorang gadis remaja yang wajahnya berseri bagaikan mentari pagi. Anisa mewarisi kecantikan almarhum ibunya, Bu Marni, yang meninggal ketika Anisa baru berusia empat tahun karena penyakit demam berdarah. Sejak saat itu Pak Darto menjalankan dua peran: seorang ayah yang disiplin serta seorang ibu yang penuh kasih.


Anisa tumbuh bukan di tengah kemewahan melainkan dalam keterbatasan. Sepatu bolong menjadi sahabatnya, buku paket pinjaman sekolah menjadi harta paling berharga, dan menahan lapar sudah menjadi bagian dari cerita sehari-harinya. Namun keterbatasan tidak pernah memadamkan cahaya semangat dalam dirinya. Ia menyadari bahwa ayahnya berjuang terlalu keras untuk hidup mereka berdua. Ia harus belajar giat agar pengorbanan itu tidak sia-sia.


Setiap pagi sebelum matahari muncul di balik bukit, Pak Darto sudah bangun. Ia menjerang air di tungku kecil, kemudian menyiapkan sarapan sederhana berupa nasi sisa semalam yang dihangatkan kembali dengan sedikit garam. Setelah itu ia membangunkan Anisa dengan lembut.


“Bangun, Nak. Sekolah sudah menunggu kamu mengejar impianmu,” ucapnya dengan senyum menghangatkan.


Anisa mengangguk. Tidak pernah sekalipun ia mengeluh, meski sering kali perutnya masih terasa kosong. Ia tahu betul bahwa ayahnya sering berpura-pura kenyang.


Setelah Anisa berangkat sekolah dengan berjalan kaki sejauh tiga kilometer, Pak Darto menghabiskan harinya menjaga kebun. Ia memeriksa pagar, mengecek jerat tikus, menyiram tanaman, dan memastikan tidak ada orang yang mencuri hasil kebun saat musim panen semakin dekat. Sesekali ia ikut para pekerja lain memetik kopi atau kakao demi tambahan pendapatan.


Walaupun gaji sebagai penjaga kebun tidak seberapa, Pak Darto selalu menyisihkan sebagian untuk tabungan pendidikan Anisa. Ia menyimpan uang itu di dalam celengan bambu yang ditaruh di atas almari tua. Setiap kali memasukkan uang receh hasil lembur, ia selalu berdoa dalam hati.


“Ya Allah, kuatkan langkahku. Jadikan anakku orang yang terpelajar agar tidak hidup sesukar aku.”


Menjelang sore, ketika Anisa pulang dari sekolah, Pak Darto menyambutnya di depan rumah. Senyum ayah dan anak itu saling bertemu, seolah saling menularkan harapan. Mereka memiliki satu ritual yang tidak pernah dilewatkan: Anisa bercerita tentang sekolah dan pelajaran yang ia dapat hari itu. Pak Darto akan mendengarkan dengan sungguh-sungguh meski ia sering tidak memahami konsep sains atau matematika yang diceritakan.


“Ayah hanya lulusan SD, Nisa,” katanya suatu ketika sambil tersenyum malu. “Namun ayah akan terus belajar dari kamu.”


“Ayah pintar kok,” jawab Anisa sambil tersenyum ceria.


Pak Darto tertegun. Betapa luar biasa kekuatan sederhana dari kata-kata tulus seorang anak. Semangatnya kembali penuh.


Di sekolah, Anisa selalu menjadi siswi favorit para guru karena kecerdasannya. Ia cepat menangkap pelajaran, tekun, dan selalu menunjukkan sopan santun. Meskipun sering diejek teman-temannya yang berasal dari keluarga lebih mampu, ia tidak pernah membalas atau marah. Ia hanya mengingat pesan ayahnya.


“Kita miskin bukan aib. Justru membuat kita harus lebih kuat dan lebih rajin dari mereka.”


Kalimat itu menjadi kompas hidup Anisa.


Ketika memasuki kelas dua SMA, Anisa mulai memperoleh kesempatan mengikuti berbagai lomba akademik. Ia berprestasi dalam bidang Matematika dan Fisika. Kepala sekolah sering mengajak Anisa mewakili sekolah dalam olimpiade pelajar. Namun untuk mengikuti lomba, ia memerlukan biaya transportasi dan uang akomodasi yang tidak sedikit. Di sinilah Pak Darto berperan.


Walaupun berat, Pak Darto selalu mengusahakan apa pun yang diperlukan Anisa. Ia menjual sepeda tuanya, mengambil lembur malam menjaga gudang perkebunan, bahkan tidak membeli baju baru selama bertahun-tahun. Semua demi masa depan anaknya.


Semua usaha itu pun terbayar. Anisa berhasil membawa pulang piala tingkat kabupaten, lalu provinsi. Foto wajahnya terpampang di majalah dinding sekolah, dan namanya mulai dikenal bahkan hingga desa sebelah.


Setiap kali Anisa berdiri di panggung meraih penghargaan, Pak Darto selalu berada di antara penonton meskipun berdiri di belakang dan hanya bisa memandang dari jauh. Ia merasa cukup hanya dapat menyaksikan Anisa mengangkat piala dengan bangga.


Ketika kelulusan SMA menjelang, sekolah mengadakan acara pemilihan siswa teladan. Anisa menjadi salah satu kandidat terkuat. Ia dianggap bukan hanya berprestasi secara akademik tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak siswa lain.


Pada hari pengumuman, nama Anisa disebut sebagai Siswa Teladan Tingkat SMA tersebut. Ia naik ke panggung dengan gemetar menahan haru, sementara tepuk tangan menggema di seluruh aula. Kepala sekolah memberikan sebuah pidato penuh pujian.


“Anisa membuktikan bahwa kemiskinan tidak pernah menjadi penghalang. Ia menunjukkan bahwa dengan ketekunan dan dukungan keluarga, tidak ada mimpi yang terlalu tinggi.”


Tepat saat itu air mata Pak Darto jatuh satu per satu. Ia menyembunyikan wajahnya di balik topi kumal, mencoba menahan isak bahagia.


Setelah acara selesai, Anisa langsung berlari menghampiri ayahnya dan memeluknya erat.


“Ini semua karena Ayah,” ujar Anisa sambil menahan tangis.


Pak Darto menggeleng dengan haru.


“Tidak, Nak. Itu karena kerja kerasmu sendiri. Ayah hanya merawat kebun. Kamu yang membenahi masa depanmu.”


Kalimat itu sangat sederhana, tetapi justru menjadi bahan bakar terbesar perjalanan mereka berikutnya.


Masa pendaftaran kuliah pun tiba. Anisa mengikuti seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. Ia belajar siang dan malam, menghabiskan hampir seluruh waktunya di perpustakaan sekolah. Pak Darto selalu menemaninya belajar saat malam dengan penerangan lampu minyak karena listrik rumah mereka kadang padam.


Hari pengumuman hasil seleksi menjadi hari yang paling menegangkan dalam hidup keduanya. Dengan tangan gemetar, Anisa membuka laman pengumuman di warnet desa. Pak Darto berdiri di sampingnya sembari berdoa dalam hati.


Ketika layar menampilkan LULUS dan nama Anisa terdaftar di Fakultas Teknik sebuah universitas negeri ternama di kota besar, mereka berdua langsung saling berpelukan sambil menangis. Tidak ada teriakan kemenangan atau gemerlap lampu seperti dalam acara televisi. Hanya sepasang manusia sederhana yang merayakan kemenangan terbesar dalam hidup mereka.


Namun fase baru juga berarti tantangan baru.


Biaya hidup di kota sangat tinggi. Beasiswa yang diterima Anisa memang menanggung biaya kuliah, tetapi tidak mencakup biaya makan, tempat tinggal, buku, dan peralatan kuliah yang cukup mahal. Di sinilah perjuangan Pak Darto memasuki tahap paling berat dalam hidupnya.


Namun tidak sekalipun ia menunjukkan rasa takut di depan anaknya.


“Nak, kamu kuliah saja yang rajin. Urusan biaya biarkan Ayah yang pikirkan.”


Padahal dalam hati, ia tidak tahu bagaimana cara melakukannya.


Hari keberangkatan Anisa ke kota besar tiba jauh lebih cepat daripada yang mereka sangka. Pagi itu Pak Darto bangun dengan perasaan campur aduk. Ia merasa bangga, tetapi juga sedih karena akan berpisah dengan satu-satunya keluarga yang ia miliki. Seperti biasa, ia menyiapkan sarapan sederhana, tetapi kali ini lebih istimewa. Ia memasak telur ceplok yang ia sisihkan dari beberapa minggu lalu khusus untuk momen berharga ini.


“Nisa harus makan kenyang dulu supaya kuat di perjalanan,” ujarnya.


Anisa tersenyum meskipun sorot matanya menyiratkan kegelisahan. Kota baginya adalah dunia baru. Gedung-gedung tinggi, keramaian lalu lintas, dan jarak dari ayah tercinta membuatnya gugup. Namun ia tahu bahwa semua itu adalah bagian dari perjalanan meraih mimpi.


Sebelum Anisa naik bus, Pak Darto menyelipkan amplop kecil berisi sejumlah uang tabungan ke tangannya.


“Ini untukmu di awal kuliah. Memang tidak banyak, tapi ayah akan terus kirim tambahan setiap bulan,” katanya.


Anisa tahu betul betapa keras perjuangan ayahnya dalam mengumpulkan uang itu. Ia memeluk ayahnya kuat-kuat, hingga bahu Pak Darto basah oleh air mata.


“Ayah tidak perlu kirim uang banyak. Anisa akan cari kerja sambilan di sana. Anisa janji tidak akan menyusahkan Ayah,” ucapnya lirih.


Pak Darto mengangguk pelan, meski hatinya menolak. Dalam pikirannya, pendidikan harus menjadi prioritas utama Anisa.


“Belajar yang baik, Nak. Jadilah orang yang bisa berdiri tegak di masa depan.”


Bus pun berangkat meninggalkan terminal kecil itu. Pak Darto berdiri mematung, menatap bus hingga hilang dari pandangan. Angin pagi bertiup dingin, tetapi hatinya lebih dingin lagi. Walaupun berat, ia percaya bahwa perpisahan ini adalah awal dari kehidupan yang lebih baik bagi anaknya.



Setiba di kota, Anisa mulai memahami arti sesungguhnya perjuangan. Apartemen ataupun kos eksklusif tentu bukan pilihan. Ia hanya mampu menyewa kamar sempit di gang kecil dekat kampusnya. Dindingnya tipis dari papan triplek, tanpa ventilasi memadai. Ia berbagi kamar mandi dengan enam penghuni lain. Namun Anisa tidak mengeluh. Ia tahu banyak mahasiswa lain juga berjuang.


Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Anisa melamar pekerjaan paruh waktu di warung makan dekat kampus. Ia bekerja dari sore hingga malam sebagai pelayan sambil tetap menjaga prestasinya. Terkadang setelah pulang kerja, ia masih harus mengerjakan tugas hingga larut malam.


Jerih payah itu bukan tanpa beban. Tubuhnya kerap lelah, kantung mata menghitam, dan ia sering sakit kepala akibat kurang istirahat. Namun setiap kali ia merasa ingin menyerah, ia mengingat wajah Pak Darto yang penuh harapan.


Sementara itu, di desa Pak Darto semakin memperpanjang jam kerjanya. Ia bekerja hingga larut malam mengawasi gudang panen yang sering kali menjadi incaran pencuri. Tubuhnya semakin kurus. Lututnya sering nyeri ketika harus berdiri sepanjang malam.


Namun tidak pernah sekalipun ia menyampaikan kesulitan itu kepada Anisa. Setiap kali mereka berbincang lewat telepon, ia selalu berkata, “Ayah sehat-sehat saja di sini. Kamu fokus kuliah, ya.”


Padahal setelah menutup telepon, ia akan duduk terdiam sambil mengusap dadanya yang terasa nyeri karena terlalu sering mengangkat beban berat.



Pada semester kedua, Anisa memperoleh peringkat terbaik di kelasnya. Dosen-dosen mulai memperhatikan kemampuan akademiknya dan sering merekomendasikan Anisa untuk mengikuti lomba karya tulis ilmiah. Keberhasilan itu membuatnya mendapatkan tambahan uang pembinaan dari kampus.


Suatu ketika, ada program beasiswa baru yang bisa menanggung uang saku mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Anisa mengikuti seleksi dengan penuh harap. Ia menyiapkan semua berkas termasuk surat keterangan tidak mampu, nilai akademik, dan rekomendasi dosen.


Pengumuman beasiswa itu menjadi salah satu hari membahagiakan dalam hidupnya. Namanya tertera sebagai salah satu penerima. Ia langsung menelepon ayahnya dengan suara ceria.


“Ayah, Anisa dapat beasiswa penuh. Mulai bulan depan Anisa tidak perlu kerja di warung lagi.”


Pak Darto terdiam sejenak, lalu mengusap air mata yang tak kuasa jatuh.


“Alhamdulillah, Nak. Ayah tahu kamu pasti bisa.”


Sejak saat itu Anisa dapat lebih fokus belajar dan aktif dalam organisasi kampus yang meningkatkan kepercayaan dirinya. Ia mulai mengikuti kompetisi tingkat nasional dan beberapa kali menjadi juara. Namanya semakin dikenal di lingkungan akademik.


Namun hidup tidak selalu berjalan lurus.



Menjelang akhir tahun kedua, suatu malam Pak Darto merasa tubuhnya sangat lemah ketika sedang menjaga gudang. Ia pingsan tanpa ada yang menyadari. Esok paginya para pekerja menemukan Pak Darto tergeletak dan langsung membawanya ke puskesmas.


Dokter mendiagnosis bahwa ia mengalami kelelahan berat dan kekurangan gizi kronis. Tekanan darahnya menurun drastis dan pekerjaannya terancam. Pimpinan kebun meminta Pak Darto beristirahat sementara.


Pak Darto merasa sedih dan bersalah. Ia takut Anisa tahu dan berhenti kuliah untuk bekerja.


Ia memutuskan untuk merahasiakan kondisinya. Meskipun tubuhnya belum pulih sepenuhnya, ia tetap memaksa bekerja dengan tugas yang lebih ringan. Namun biaya berobat dan hilangnya lembur membuat keuangannya semakin menipis. Tabungannya hampir habis dan ia kesulitan mengirim uang bulanan kepada Anisa.


Anisa mulai curiga melihat jumlah kiriman ayahnya yang jauh berkurang. Ketika ia bertanya, Pak Darto menjawab dengan suara pelan, “Ayah hanya lagi banyak keperluan di sini.”


Padahal setiap malam ia terbaring dengan tubuh pegal dan batuk yang tidak kunjung sembuh.


Kabar itu akhirnya terungkap dari tetangga dekat. Seorang kerabat menghubungi Anisa dan memberi tahu bahwa ayahnya jatuh sakit cukup parah. Tanpa berpikir panjang, Anisa langsung pulang ke desa naik bus malam.


Begitu tiba di rumah, ia melihat kondisi ayahnya jauh berbeda. Wajah Pak Darto pucat, tubuhnya lebih kurus daripada terakhir kali mereka bertemu.


“Ayah sakit apa? Kenapa Ayah tidak bilang?” suara Anisa gemetar menahan tangis.


Pak Darto mencoba tersenyum. “Ayah hanya kecapaian sedikit, Nak.”


Namun dokter kemudian menjelaskan sejujurnya. Pak Darto mengalami penurunan fungsi paru dan anemia berat. Ia harus beristirahat total selama beberapa minggu dan menjalani pengobatan rutin.


Mendengar hal itu, dunia Anisa seolah runtuh. Ia merasa bersalah karena terlalu sibuk mengejar prestasi dan tidak melihat kondisi ayahnya yang semakin menurun.


Malam itu Anisa duduk di samping ranjang ayahnya. Ia menggenggam tangan yang kasar dan penuh luka karena kerja keras seumur hidup.


“Ayah sudah cukup berkorban. Mulai sekarang Anisa saja yang bekerja dan berhenti kuliah dulu sampai Ayah sembuh,” katanya sambil menangis.


Namun Pak Darto langsung menggeleng dengan tegas.


“Tidak. Kamu tidak boleh berhenti. Seluruh hidup ayah adalah untuk memastikan kamu kuliah. Kamu harus terus maju. Sakit ini hanya sedikit ujian untuk ayah.”


Air mata Anisa mengalir semakin deras. Ia menyadari bahwa kekuatan ayahnya bukan terletak pada tubuh, melainkan pada tekadnya.


Setelah memastikan ayahnya mendapatkan perawatan yang cukup dan ada tetangga yang membantu menjaga, Anisa kembali ke kota dengan hati yang berat. Perpisahan kali ini terasa jauh lebih menyakitkan dibanding keberangkatan awalnya ke kampus. Ia meninggalkan desa dengan janji kuat dalam batinnya.


“Anisa akan sukses secepat mungkin. Ayah harus melihatnya.”


Begitu tiba di kota, Anisa segera mengatur ulang ritme hidupnya. Ia memutuskan untuk mengambil pekerjaan paruh waktu yang tidak mengganggu kuliah, yaitu menjadi asisten penelitian di laboratorium teknik fakultas. Gajinya memang tidak besar, tetapi pekerjaannya memungkinkan ia belajar banyak hal penting.


Para dosen mulai menilai Anisa sebagai mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki keuletan luar biasa. Hal ini membuatnya sering dipercaya untuk mewakili kampus pada kompetisi ilmiah bergengsi.


Pada semester lima, Anisa berhasil lolos seleksi tim lomba inovasi teknologi yang akan bertanding di tingkat nasional. Tema lombanya tentang pemanfaatan energi terbarukan untuk pedesaan terpencil. Anisa mengusulkan ide panel surya hemat biaya yang dapat dipasang dengan mudah di rumah-rumah desa, bahkan di tempat seperti rumahnya sendiri yang sering mengalami pemadaman listrik.


Dosen pembimbingnya terkesan. Ia mengatakan, “Kamu tidak hanya cerdas, Anisa. Kamu tahu apa yang dibutuhkan masyarakat.”


Tim Anisa bekerja keras siang dan malam mengembangkan prototipe. Mereka sering tidur di laboratorium untuk menyelesaikan proyek tepat waktu. Di balik semua usaha itu, Anisa selalu terbayang wajah Pak Darto yang sedang berbaring di rumah, berjuang melawan kelelahan dan penyakit.



Hari kompetisi tiba. Acara berlangsung di gedung megah sebuah universitas di ibu kota. Tim dari berbagai daerah berkumpul dengan karya-karya inovatif terbaik mereka. Anisa tampil sebagai pemimpin tim, menjelaskan teknis dan manfaat solusi teknologi mereka di hadapan para juri.


Ketika sesi presentasi selesai, tepuk tangan bergemuruh. Namun Anisa tetap menundukkan hati dan berdoa dalam diam. Ia tahu kemenangan ini bukan tentang dirinya seorang. Ini tentang seseorang yang menanamkan keteguhan dalam dirinya sejak kecil.


Saat pengumuman pemenang, nama tim Anisa disebut sebagai Juara Pertama kompetisi nasional. Lampu sorot menyinari mereka, kamera merekam setiap detik kemenangan itu, dan tepuk tangan terus menggema.


Anisa mengangkat trofi dengan tangan yang bergetar, lalu menurunkannya sebentar untuk menyeka air matanya. Dalam doa singkat ia berucap, “Ayah, ini untukmu.”


Selain piala, hadiah kompetisi berupa beasiswa tambahan, uang pembinaan, serta rekomendasi untuk mewakili Indonesia pada ajang ilmiah internasional. Kesuksesan itu langsung mengubah kehidupan Anisa secara signifikan. Universitas memberikan fasilitas lebih baik, termasuk tempat tinggal asrama khusus berprestasi yang jauh lebih layak dari indekos lamanya.


Dengan sedikit penghematan, ia dapat mengirim lebih banyak uang untuk membantu pengobatan dan pemulihan Pak Darto.


Sementara itu di desa, kondisi Pak Darto mulai berangsur membaik berkat pengobatan rutin dan bantuan para tetangga yang peduli. Ketika kabar prestasi Anisa sampai ke telinganya, ia menangis haru.


“Aku hanya penjaga kebun. Namun anakku berdiri di panggung besar negeri ini,” ucapnya lirih kepada kepala desa.


Berita kesuksesan Anisa juga menjadi bahan inspirasi bagi anak-anak di desa itu. Banyak orang tua mulai menyadari pentingnya pendidikan. Mereka berkata pada anak-anak mereka, “Kalau Anisa bisa, kalian juga pasti bisa.”


Pak Darto merasa hidupnya memiliki arti yang lebih besar dari sebelumnya. Ia mulai sembuh bukan hanya karena obat, melainkan karena kebanggaan luar biasa terhadap putrinya.


Memasuki semester akhir, Anisa fokus pada tugas akhir sekaligus mempersiapkan diri mengikuti lomba internasional. Ia dan timnya terbang ke luar negeri untuk pertama kalinya. Kota yang mereka datangi begitu maju. Gedung-gedung pencakar langit, transportasi canggih, dan suasana urban yang sangat berbeda dari kehidupan Anisa sebelumnya.


Di ajang internasional itu, Anisa menjadi pembicara utama tim. Ia menyampaikan presentasi mengenai teknologi energi surya yang lebih murah khususnya untuk masyarakat pedesaan negara-negara berkembang. Bahasa Inggrisnya fasih walaupun ia mempelajarinya secara mandiri sejak sekolah.


Para juri memberikan apresiasi tinggi. Mereka menyebut proyek Anisa sebagai solusi praktis yang mampu menjawab masalah dunia nyata.


Ketika hasil akhir diumumkan, tim Anisa meraih Juara Kedua Internasional. Kemenangan itu menjadi sejarah bagi kampusnya. Banyak perusahaan besar mulai melirik kemampuan mereka.



Setelah lulus dengan predikat cum laude, Anisa langsung menerima tawaran kerja dari sebuah perusahaan energi terkemuka di kota. Perannya sebagai insinyur riset memberi kesempatan baginya untuk melanjutkan teknologi yang ia kembangkan di kampus menjadi produk komersial yang dapat dimanfaatkan masyarakat luas.


Gaji pertamanya ia gunakan untuk melunasi semua utang pengobatan ayahnya. Kemudian ia melakukan hal yang telah direncanakannya selama bertahun-tahun.


Ia kembali pulang ke desa, kali ini bukan sebagai anak sekolah yang penuh kekhawatiran, melainkan sebagai perempuan muda yang telah berhasil berdiri tegak.



“Assalamualaikum, Yah,” ucap Anisa saat tiba di depan rumah.


Pak Darto yang sedang duduk di kursi bambu langsung menoleh. Ketika melihat Anisa, ia berdiri tergesa hingga hampir jatuh. Senyum lebar terpancar di wajahnya. Ia memeluk putrinya seolah tidak ingin melepaskannya lagi.


“Ayah bangga sekali kepadamu,” suaranya serak karena menahan haru.


Anisa menggenggam tangan ayahnya yang masih kasar dipenuhi bekas kerja keras bertahun-tahun. Ia menatap tajam penuh kasih.


“Sekarang giliran Anisa yang menjaga Ayah.”


Kemudian Anisa menyampaikan kabar besar. Ia membeli sebuah rumah baru di kota dekat tempat kerjanya, lengkap dengan halaman luas dan kamar khusus untuk Pak Darto. Ia ingin ayahnya hidup nyaman, jauh dari kerasnya kehidupan kebun yang selama ini menyita kesehatan dan kebahagiaannya.


Pak Darto menatap rumah kecil mereka di desa. Setiap papan kayu menjadi saksi perjuangannya bersama Anisa. Ia mengusap sudut matanya yang kembali basah.


“Jika itu membuatmu bahagia, Ayah akan ikut,” katanya pelan.

Namun Anisa menambahkan satu hal yang membuat hati Pak Darto semakin penuh.

“Rumah ini akan tetap kita rawat. Desa ini tidak akan pernah terlupakan. Karena di sini mimpi Ayah tumbuh menjadi kenyataan.”


TAMAT 

Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa