Larasati,Suara dari Luka

Larasati, Suara dari Luka


Kisah seorang motivator yang lahir dari air mata para janda, menjadi suara bagi perempuan yang memilih bangkit dan mandiri.


BAB 1 – Luka yang Tak Pernah Diundang

Pagi itu, Larasati duduk di teras rumah kontrakannya yang sempit di pinggiran kota Bekasi. Tangannya masih basah oleh air cucian, sementara matanya kosong menatap jalan kecil di depan rumah.

Tiga tahun menikah, satu anak perempuan berusia tiga tahun, dan hari itu ia resmi ditinggalkan suaminya tanpa pamit.

Suaminya pergi membawa seluruh tabungan keluarga, meninggalkan sepucuk surat pendek di atas meja makan:

 “Maaf, aku tidak bisa lanjut. Aku lelah hidup begini.”

Kalimat itu seperti pisau dingin yang menembus jantungnya. Larasati tak menangis di hari pertama, tapi tubuhnya menggigil hebat. Baru pada malam kedua, saat anaknya memanggil “Mama, Ayah mana?”, tangisnya pecah.

Ia tahu hidup akan berubah total, tapi tidak tahu ke arah mana.

Hari-hari berikutnya, Larasati mulai menjual perabot kecil di rumah: kipas angin, setrika, bahkan cincin pernikahan. Ia tidak punya pekerjaan tetap, hanya lulusan SMA, dan belum pernah benar-benar bekerja di luar rumah. Namun ia tahu satu hal: anaknya harus makan.

Setiap pagi, ia menitipkan anaknya ke tetangga, lalu berjalan kaki ke pasar membawa kue buatan sendiri. Kue bolu kukus dan risol sederhana, hasil belajar dari video gratis di YouTube.

Kadang dagangannya habis, kadang masih banyak tersisa.

Tapi setiap kali seseorang membeli, ia selalu berkata dalam hati,

 “Terima kasih, Tuhan, aku masih bisa berusaha.”

Meski begitu, dalam diam ia sering bertanya,

 “Mengapa aku harus mengalami ini, Tuhan? Mengapa aku harus jadi janda?”

Ia takut dengan tatapan orang, dengan bisik-bisik di warung, dengan pandangan kasihan bercampur sinis.

Namun dalam hatinya, ada secuil keberanian yang belum padam: keberanian untuk bertahan demi anaknya, Nadya.


BAB 2 – Titik Balik dari Layar Kecil

Suatu malam, setelah Nadya tidur, Larasati iseng menonton video motivasi di YouTube.

Di layar, seorang wanita bercerita tentang bagaimana ia bangkit setelah gagal dan diceraikan. Wanita itu berkata:

 “Jangan tunggu dunia mengasihanimu. Berdirilah, meski lututmu gemetar.”

Kalimat itu menembus hati Larasati. Ia merasa wanita itu berbicara langsung kepadanya.

Sejak malam itu, Larasati mulai menulis perasaan di Facebook.

Awalnya hanya curhat ringan:

 “Hari ini aku menjual risol lebih banyak dari kemarin. Kadang hidup tak selalu pahit.”

Tapi kemudian tulisannya semakin dalam: tentang kehilangan, tentang bertahan, tentang cinta seorang ibu yang tidak pernah padam.

Ia menulis dengan kejujuran yang polos, tanpa niat menjadi terkenal.

Namun ternyata, kata-katanya menyentuh banyak orang.

Komentar mulai berdatangan:

“Saya merasa seperti baca kisah saya sendiri.”

“Mbak Laras, tolong jangan berhenti nulis. Saya jadi semangat.”

“Terima kasih, aku jadi kuat lagi.”

Ratusan pesan masuk, mayoritas dari ibu janda yang juga sedang berjuang.

Larasati terkejut. Ia baru sadar bahwa di luar sana, banyak perempuan yang merasa sendirian padahal nasib mereka sama.

Dari situ muncul ide: bagaimana kalau ia membuat wadah untuk saling menguatkan?


BAB 3 – Lahirnya Komunitas “Suara dari Luka”

Dengan ponsel butut dan jaringan internet seadanya, Larasati membuat grup Facebook bernama “Suara dari Luka.”

Deskripsinya sederhana:

 “Tempat bagi perempuan yang pernah terluka tapi ingin tetap hidup dengan bahagia.”

Awalnya hanya 12 orang. Mereka saling berbagi cerita, curhat tentang mantan suami, anak, dan perjuangan hidup.

Larasati menjadi moderator, mengarahkan obrolan agar tetap positif.

Tiap malam, ia melakukan live talk kecil. Ia bicara dari ruang tamunya yang sempit, dengan pencahayaan seadanya.

Suara gemetar, tapi tulus.

“Aku tahu rasanya ditinggalkan tanpa alasan. Tapi, percayalah, hidup tidak berhenti di sana. Kita masih punya diri kita sendiri, dan itu sudah cukup untuk bangkit.”

Ratusan orang menonton. Komunitasnya tumbuh pesat hingga ribuan anggota.

Larasati mulai dikenal sebagai motivator perempuan yang lahir dari luka nyata.


BAB 4 – Keajaiban dari Keberanian

Suatu hari, seorang anggota grup, Maya, mengundang Larasati menjadi pembicara di pertemuan komunitas ibu tunggal di Bandung.

Larasati kaget, “Saya? Jadi pembicara? Saya bahkan belum pernah bicara di depan umum.”

Namun Maya menjawab,

“Justru karena Ibu pernah jatuh, kami ingin mendengar dari orang yang tahu rasanya.”

Dengan ongkos pas-pasan, Larasati naik kereta ekonomi menuju Bandung.

Ia memakai kebaya sederhana dan membawa catatan lusuh berisi poin-poin yang ingin ia sampaikan.

Ketika berdiri di depan 80 perempuan yang duduk melingkar, tangannya gemetar. Tapi begitu mulai bicara, suara hatinya mengalir tanpa henti.

“Dulu saya berpikir, hidup saya sudah berakhir saat ditinggalkan. Tapi ternyata, yang berakhir hanya cerita lama. Sekarang saya menulis kisah baru.”

Ruang itu hening. Lalu, satu per satu wanita meneteskan air mata dan berdiri bertepuk tangan.

Hari itu, Larasati resmi menjadi motivator bukan karena panggung, tapi karena keberanian berbagi luka.


BAB 5 – Antara Cibiran dan Pujian Popularitasnya mulai meningkat. Undangan berbicara datang dari berbagai kota. Ia mulai dikenal di media sosial dan dijuluki “Motivator Para Janda.”

Namun tak semua orang mendukung.

Beberapa netizen mencibir,

 “Cari sensasi pakai status janda.”

“Pasti cari simpati biar terkenal.”

Awalnya Larasati terluka. Ia ingin menjelaskan bahwa niatnya bukan mencari nama, tapi menolong sesama.

Namun ia belajar untuk diam.

Ia menulis di statusnya:

“Aku tidak perlu membuktikan siapa aku pada orang yang tak mau melihat. Aku hanya ingin terus berjalan bersama mereka yang mau bangkit.”

Perlahan, cibiran berubah menjadi tepuk tangan. Banyak lembaga sosial dan komunitas perempuan mulai menggandengnya.

Larasati mulai mengisi seminar, podcast, hingga tampil di televisi lokal.


BAB 6 – Ujian Kepercayaan

Di tengah naiknya karier, datang ujian yang hampir menghancurkan segalanya.

Seorang pria bernama Reno, mengaku pengusaha sosial, menawarkan kerja sama besar untuk membuat pelatihan nasional bagi ibu tunggal.

Ia bicara manis, menjanjikan sponsor dan dukungan dana besar.

Tanpa pikir panjang, Larasati mempercayainya. Ia mengumpulkan tabungan pribadi, bahkan menjual motor untuk membantu biaya awal.

Namun sebulan kemudian, Reno menghilang membawa semua uang.

Larasati terpukul. Ia merasa bodoh dan hancur. Ia takut dibilang penipu oleh para donatur kecil yang sudah percaya padanya.

Beberapa orang bahkan mulai ragu, “Benarkah dia motivator, atau cuma cari uang?”

Malam itu, Larasati menangis di depan cermin.

Ia menatap wajah sendiri dan berbisik:

 “Aku sudah jatuh lagi, tapi aku tidak akan tenggelam.”

Keesokan harinya, ia menulis postingan jujur di Facebook tentang kejadian itu. Ia mengakui kesalahannya, meminta maaf, dan berjanji akan mengembalikan kepercayaan orang.

Postingan itu justru menjadi viral bukan karena skandal, tapi karena kejujurannya.

Banyak yang mendukung:

 “Kamu luar biasa, Mbak. Jarang ada orang berani mengakui kesalahan seperti ini.”

Sejak saat itu, kepercayaan publik padanya justru semakin kuat.


BAB 7 – Membangun Yayasan dan Mimpi

Dari komunitas online, Larasati membentuk lembaga resmi:

Yayasan Suara Mandiri, dengan misi memberdayakan perempuan kepala keluarga.

Programnya sederhana tapi berdampak

Pelatihan usaha rumahan (kuliner, jahit, sabun cuci).

Kelas public speaking untuk perempuan.

Pendampingan psikologis bagi korban kekerasan rumah tangga.

Bersama relawan, ia keliling ke berbagai daerah  dari Jakarta, Cirebon, hingga Lombok.

Ia tidak dibayar besar, bahkan kadang harus menanggung biaya sendiri.

Namun setiap kali melihat ibu-ibu tersenyum sambil berkata,

 “Terima kasih, Mbak Laras, saya bisa jualan lagi,”

ia tahu: semua lelahnya tak sia-sia.


BAB 8 – Antara Panggung dan Rumah

Di tengah kesibukan, Nadya  anak semata wayangnya kini beranjak remaja.

Suatu malam, Nadya berkata:

“Ma, teman-teman bilang Mama itu motivator terkenal. Tapi buat aku, Mama itu pahlawan.”

Larasati menahan air mata. Ia memeluk anaknya erat.

Ia tahu, semua perjuangan selama ini bukan untuk popularitas, tapi agar anaknya tumbuh dengan teladan keberanian.

Namun kadang, di balik tepuk tangan di panggung, Larasati masih merindukan pelukan sederhana dari seseorang yang mencintainya apa adanya.

Meski begitu, ia tak lagi menyesali masa lalu.

Ia telah menemukan kebahagiaan dalam berbagi.


BAB 9 – Cahaya yang Tak Pernah Padam

Di usia 38 tahun, Larasati menulis buku pertamanya: “Suara dari Luka  Catatan untuk Perempuan yang Memilih Bangkit.”

Buku itu laris, diterbitkan di berbagai daerah, dan menginspirasi banyak orang.

Ia diundang ke televisi nasional, di mana pembawa acara bertanya:

“Apa yang membuat Ibu terus kuat meski sering dijatuhkan?”

Larasati menjawab tenang:

“Karena saya tidak ingin luka saya sia-sia. Kalau saya bisa menolong satu perempuan agar tidak menyerah, maka semua sakit saya sudah terbayar.”

Buku itu menjadi simbol perubahan: dari air mata menjadi kekuatan.

Dari status janda yang dulu dianggap lemah, menjadi tanda keberanian.


BAB 10 – Warisan dari Hati

Kini Larasati dikenal luas sebagai motivator perempuan paling berpengaruh di Indonesia.

Ia telah berbicara di lebih dari 40 kota, melatih ribuan perempuan, dan mendirikan lebih dari 15 kelompok usaha kecil binaan yayasannya.

Namun ia tetap sederhana. Rumahnya masih di gang kecil yang sama, walau kini sudah direnovasi. Ia masih suka membuat kue setiap pagi, dan membagikannya ke tetangga.

Di setiap seminar, ia selalu menutup pidatonya dengan kalimat yang kini menjadi ciri khasnya:

 “Jangan takut menjadi janda. Takutlah kalau kamu berhenti bermimpi. Karena luka bukan akhir dari hidupmu, tapi awal dari versi terbaik dirimu.”

Setiap kali ia mengucapkan kalimat itu, ribuan perempuan berdiri memberi tepuk tangan panjang.

Beberapa menangis, sebagian tersenyum, tapi semuanya pulang dengan hati yang lebih kuat

Epilog – Suara dari Luka, Suara dari Cinta

Kini, sepuluh tahun sejak hari ia ditinggalkan, Larasati berdiri di panggung besar di Jakarta Convention Center.

Acara bertajuk “Perempuan Bangkit Indonesia.”

Ia mengenakan kebaya putih sederhana. Sorot lampu menyorot wajahnya yang penuh keteguhan.

Ribuan perempuan duduk mendengarkan.

 “Dulu aku berpikir menjadi janda adalah akhir dari segalanya. Tapi sekarang aku tahu, itu adalah awal dari segalanya.

Aku belajar bahwa Tuhan tidak menghukum, Ia hanya memanggil kita untuk menjadi lebih kuat.

Dan kekuatan terbesar seorang perempuan adalah ketika ia memutuskan untuk berdiri, meski seluruh dunia memintanya jatuh.”

Tepuk tangan bergemuruh. Beberapa perempuan memeluk satu sama lain, menangis dan tersenyum bersamaan.

Setelah acara, Larasati berjalan ke belakang panggung. Nadya berdiri di sana, kini sudah berkuliah dan membantu yayasan ibunya.

Ia memeluk sang ibu sambil berkata:

 “Terima kasih, Ma, sudah jadi suara bagi banyak hati.”

Larasati tersenyum, menatap langit malam.

Dalam hati, ia berbisik pelan:

 “Terima kasih, Tuhan. Karena dari luka, Kau jadikan aku cahaya.”


 Tamat 

Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa