Imbas Riba dalam Hidup Seorang Ibu
Imbas Riba dalam Hidup Seorang Ibu
Namanya Mira, seorang ibu berusia 34 tahun, ibu dari enam anak yang masih kecil-kecil. Suaminya, Rayen, pria 36 tahun, seorang mokondo begitu orang-orang di kampung menyebutnya, karena dulu Rayen dikenal lihai dalam berdagang, namun juga keras kepala dan sulit dinasihati.
Awalnya, kehidupan mereka berjalan sederhana tapi bahagia. Rayen bekerja di usaha kecil jual beli motor bekas, sementara Mira sibuk mengurus anak-anak di rumah. Walau hidup pas-pasan, mereka cukup bersyukur. Tapi, semua berubah ketika Rayen tergoda oleh sesuatu yang terlihat mudah riba.
Awal dari Segalanya
Rayen mulai mengambil pinjaman dari rentenir untuk menambah modal usahanya. Ia berpikir, “Kalau uang berputar cepat, nanti bisa dilunasi.” Tapi bunga demi bunga menumpuk. Setiap kali jatuh tempo, ia terpaksa berutang lagi untuk menutup utang sebelumnya.
Mira awalnya tak tahu. Ia hanya heran mengapa suaminya semakin sering murung, dan sering marah tanpa sebab. Ketika tahu uang yang mereka pakai penuh dengan bunga dan pinjaman, hatinya hancur.
“Bang, uang riba itu bukan berkah... itu racun. Makin banyak diambil, makin kering hidup kita,” bisik Mira dengan lembut.
Tapi Rayen hanya menjawab dingin, “Kalau nggak begini, kita nggak bakal maju, Mir.”
Awal Kehancuran
Usaha Rayen perlahan hancur. Motor-motor yang ia beli tak laku. Barang hilang, pelanggan kabur, dan rekan bisnisnya menipu. Rumah tangga mulai retak bukan karena kurang cinta, tapi karena beban hidup yang makin berat.
Anak-anak sering makan seadanya. Kadang hanya nasi dan garam. Mira tetap tabah, tetap berdoa setiap malam agar suaminya sadar. Tapi cobaan datang bertubi-tubi anaknya yang ketiga jatuh sakit keras, dan Rayen justru kehilangan kendaraan satu-satunya.
Hidup mereka benar-benar terpuruk.
Bahkan listrik di rumah pernah diputus karena tak sanggup bayar.
Mira hanya bisa menangis di atas sajadah.
“Ya Allah... kalau ini akibat dosa kami dengan riba, ampuni kami... tolong bimbing kami keluar dari jalan ini.
Kesadaran dan Taubat
Puncaknya terjadi ketika Rayen dikejar debt collector di depan anak-anaknya. Ia malu, hancur, dan tersadar semua yang dulu dianggap jalan cepat menuju sukses justru menghancurkan segalanya.
Mira tak meninggalkannya. Ia tetap di sisi suaminya, meski hatinya penuh luka. Bersama, mereka bertekad menutup semua utang, sedikit demi sedikit. Rayen menjual sisa barang dagangannya, mulai bekerja serabutan, dan berjanji tak akan menyentuh riba lagi.
“Lebih baik hidup miskin tapi tenang, daripada kaya tapi penuh kutukan,” kata Rayen suatu malam sambil menggenggam tangan Mira.
Perlahan Menemukan Berkah
Butuh waktu panjang, tapi hidup mereka mulai berubah. Mereka belajar berdagang kecil tanpa pinjaman. Mira membuka usaha kue rumahan, dan Rayen membantu mengantar pesanan. Sedikit demi sedikit, mereka merasakan ketenangan yang hilang selama ini.
Riba memang membuat hidup mereka jatuh,
tapi taubat dan kesabaran membangunkan kembali cahaya dalam rumah tangga mereka.
Kini, setiap kali ada tetangga yang ingin berutang ke bank atau rentenir, Rayen selalu menasihati:
“Jangan pernah cari jalan pintas dari uang riba. Aku sudah merasakannya. Riba itu bukan rezeki, tapi azab yang dibungkus manis.”
Sejak Rayen benar-benar berhenti dari segala bentuk pinjaman riba, hidupnya tidak langsung berubah. Justru awalnya terasa lebih sulit. Mereka benar-benar mulai dari nol. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidup, hati Rayen terasa tenang.
Mira tetap menjadi penopang utama keluarga. Dengan enam anak yang masih kecil, ia tetap semangat berjualan kue basah setiap pagi. Ia berjalan kaki keliling kampung, menggendong anak bungsunya di punggung sambil menjajakan dagangan.
Kadang kue tidak habis, kadang malah basi sebelum laku. Tapi Mira tidak pernah mengeluh.
“Yang penting halal, Bang,” katanya lembut.
“Allah lihat usaha kita, bukan besar kecil hasilnya.”
Kata-kata itu selalu terpatri di hati Rayen.
Ujian Kesabaran
Suatu hari, anak keempat mereka jatuh sakit. Uang di tangan tak cukup untuk ke dokter. Dulu, Rayen mungkin langsung meminjam uang berbunga. Tapi kali ini ia menahan diri.
Ia hanya bisa sujud dan menangis di malam hari.
“Ya Allah... aku dulu sombong. Aku pikir bisa mengatur rezeki dengan caraku sendiri. Tapi ternyata semua hanya kehancuran. Kini aku pasrah, aku serahkan semuanya pada-Mu.”
Subuh itu, tiba-tiba seorang tetangga datang membawa uang.
“Bang, dulu abang pernah bantu saya waktu susah. Ini ada rezeki lebih. Tolong terima, untuk biaya anaknya berobat.”
Air mata Rayen menetes. Ia sadar, inilah pertolongan Allah yang datang tanpa riba, tanpa bunga, tanpa tekanan hanya karena keikhlasan dan doa.
Hijrah dan Berkah
Sejak hari itu, keluarga kecil itu benar-benar hijrah. Rayen berhenti dari semua urusan jual beli yang mengandung riba. Ia belajar berdagang secara syariah, bahkan sempat mengikuti pengajian rutin di masjid setiap malam Jumat.
Mira juga semakin mantap menutup aurat, mendidik anak-anak dengan kesabaran dan keteladanan. Ia sering berkata pada anak-anaknya:
“Jangan takut miskin karena menolak riba, Nak. Takutlah miskin hati karena melupakan Allah.”
Lambat laun, usaha kue Mira justru makin ramai. Banyak tetangga memesan untuk acara. Rezeki datang perlahan tapi penuh keberkahan tanpa utang, tanpa bunga, tanpa rasa was-was.
Rayen pun membuka bengkel kecil di depan rumah. Dari hasil kerja keras dan kejujuran, mereka mulai bisa memperbaiki rumah, menyekolahkan anak-anak, bahkan membantu orang lain yang kesulitan.
Akhir yang Menyentuh
Suatu sore, Rayen duduk di teras rumahnya, melihat anak-anaknya bermain sambil tertawa. Ia menatap Mira dengan mata berkaca-kaca.
“Aku baru sadar, Mir... dulu aku pikir riba membawa cepatnya rezeki. Ternyata, itu jalan tercepat menuju kehancuran.”
Mira tersenyum sambil menatap suaminya,
“Tapi lihat sekarang, Bang. Kita memang tidak kaya, tapi kita punya ketenangan. Dan itu lebih mahal dari segalanya.”
Rayen mengangguk pelan, air matanya jatuh.
Dalam hatinya, ia berjanji:
“Aku akan habiskan sisa hidupku di jalan yang halal, agar anak-anakku tak lagi menanggung dosa dan luka akibat riba.”
Dan benar sejak saat itu, keluarga mereka hidup sederhana, tapi bahagia. Rezeki datang tak terduga, hati mereka lapang, rumah mereka penuh keberkahan.
Mira selalu menutup harinya dengan doa yang sama:
“Ya Allah... terima kasih telah menegur kami dengan cara-Mu. Dari gelapnya riba, Engkau tuntun kami menuju cahaya yang tak pernah padam.”
Malam itu sunyi. Angin berhembus pelan melewati celah-celah dinding rumah kayu mereka. Di ruang kecil yang temaram, Mira menatap suaminya yang sedang sujud lama sekali di atas sajadah usang. Ia tahu, tangisan itu bukan lagi karena putus asa… tapi karena penyesalan yang dalam.
Rayen tak lagi seperti dulu tidak lagi keras kepala, tidak lagi mengejar dunia dengan serakah. Kini ia lebih sering di masjid, lebih sering berzikir, dan lebih sering meminta ampun.
Dulu ia berpikir bahwa uang bisa membeli segalanya.
Ternyata, riba membeli kesengsaraan yang tak terlihat.
Ia telah kehilangan ketenangan, harga diri, dan hampir kehilangan keluarganya.
Namun Allah Maha Penyayang. Di balik semua kehancuran itu, terselip rahmat yang besar kesadaran untuk kembali
Doa dari Seorang Ibu
Suatu subuh, setelah menyiapkan sarapan sederhana nasi, telur dadar, dan sambal terasi Mira duduk di dekat jendela. Ia melihat anak-anaknya masih terlelap, wajah polos mereka memantulkan cahaya lembut dari lampu minyak.
Sambil menatap mereka satu per satu, ia berdoa lirih:
“Ya Allah… jangan biarkan anak-anakku mengulang kesalahan orang tuanya.
Jadikan mereka hamba-Mu yang mencintai kejujuran dan rezeki yang halal.
Meskipun hidup kami sederhana, biarlah hati kami kaya dengan syukur.”
Air mata menetes pelan di pipinya.
Ia sadar, keberkahan bukan tentang banyaknya uang, tapi tentang tenangnya hati dalam ridha Allah.
Tanda-Tanda Berkah
Hari demi hari, perubahan semakin nyata.
Usaha kue Mira kini dikenal sampai kampung sebelah.
Banyak yang bilang, kue buatan Mira punya rasa “berkah” lembut, manis, tapi tidak bikin enek.
Orang-orang tidak tahu, setiap kali Mira mengaduk adonan, bibirnya tak pernah berhenti berzikir:
“Bismillah… ya Allah, jadikan setiap remah tepung ini sumber kebaikan untuk keluargaku.”
Sementara Rayen, yang dulu dikejar debt collector, kini justru sering menolong orang yang kesulitan. Ia membantu teman-teman lama yang masih terjerat riba, membimbing mereka keluar dengan sabar.
“Aku pernah di tempat kalian,” katanya suatu malam kepada kawan lamanya.
“Percayalah, riba itu candu yang manis di awal, tapi racun di akhir.
Kalau ingin tenang, lepaskan. Allah akan ganti dengan cara yang tak pernah kamu sangka.”
Penutup: Cahaya Setelah Dosa
Tahun demi tahun berlalu. Anak-anak mereka tumbuh dengan akhlak yang baik.
Mira dan Rayen tidak memiliki banyak harta, tapi mereka kaya dengan kasih, iman, dan keberkahan.
Setiap kali ada tamu datang, Mira selalu menyuguhkan teh hangat dan senyum tulus. Rumahnya kecil, tapi terasa damai.
Suatu malam, Rayen memandang langit yang bertabur bintang dan berkata pelan:
“Dulu aku sombong, Mir. Aku kira bisa melawan hukum Allah. Tapi ternyata, satu-satunya cara hidup tenang adalah tunduk pada-Nya.”
Mira menjawab sambil tersenyum:
“Dan lihat, Bang… Allah tak pernah meninggalkan kita. Dia hanya menunggu kita kembali.”
Mereka saling menatap lama, hangat, penuh syukur.
Di rumah sederhana itu, tak ada emas, tak ada kemewahan.
Tapi ada keberkahan yang menenangkan jiwa, hasil dari taubat yang tulus dari dosa riba.
“Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad)
Ending: Dari Gelapnya Riba Menuju Terangnya Ridha
Waktu berjalan cepat.
Enam anak mereka kini tumbuh menjadi anak-anak yang sopan, rajin beribadah, dan saling menyayangi. Rumah mereka yang dulu reyot, kini berdiri kokoh walau sederhana. Tapi di dalamnya, terasa hangat oleh cinta dan doa yang tak pernah putus.
Setiap malam, suara lantunan Al-Qur’an dari anak-anaknya menjadi penenang bagi Rayen dan Mira.
Dulu, mereka menangis karena kehilangan harta.
Kini, mereka menangis karena merasa cukup dengan karunia Allah yang begitu besar.
Suatu sore di bulan Ramadan, Rayen pulang dari masjid dengan wajah berseri. Ia membawa dua kantong plastik berisi beras dan kurma hasil dari kerja kerasnya di bengkel kecilnya yang kini mulai ramai pelanggan.
Mira menyambutnya dengan senyum lembut.
“Alhamdulillah, Bang… Allah selalu cukupkan ya.”
Rayen menatap istrinya, matanya berkaca-kaca.
“Iya, Mir… Dulu aku kira riba itu jalan cepat menuju kaya. Tapi ternyata, meninggalkan riba adalah jalan cepat menuju ketenangan.”
Mira menggenggam tangannya erat.
“Dan ketenangan itu… adalah kekayaan yang tidak bisa dibeli dengan apapun.”
Mereka saling menatap, dan di sudut rumah itu, anak-anak mereka bersujud dalam shalat Magrib berjamaah.
Suasana rumah penuh cahaya, bukan dari lampu, tapi dari berkah yang turun bersama taubat dan kejujuran.
Malam itu, setelah semuanya tertidur, Mira duduk di sajadahnya. Ia menatap langit melalui jendela kecil dan berbisik lembut:
“Ya Allah… Engkau telah menguji kami dengan riba, lalu Kau selamatkan kami dengan taubat.
Engkau hancurkan keangkuhan kami agar kami belajar tunduk.
Dan kini, kami tak ingin apa-apa lagi… selain Engkau ridha.”
Air matanya jatuh pelan di atas sajadah. Dan dalam keheningan malam itu, hatinya terasa damai benar-benar damai untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Akhir yang indah bukan saat hidup tanpa ujian,
tapi saat hati kembali kepada Allah setelah tersesat.
Riba menghancurkan, tapi taubat menyembuhkan.
Dan Allah tak pernah menolak siapa pun yang benar-benar ingin kembali.
Dari rumah kecil di ujung kampung, kini hidup Mira dan Rayen berjalan dalam kesederhanaan yang penuh ketenangan. Tak ada lagi kejaran hutang, tak ada lagi teror bunga riba yang menjerat hati. Yang tersisa hanyalah damai, syukur, dan cinta yang tulus.
Enam anak mereka tumbuh dalam kehangatan iman, dibesarkan bukan dengan harta melimpah, tapi dengan kasih dan doa tanpa henti. Setiap langkah keluarga kecil itu menjadi saksi bahwa taubat sungguh mengubah segalanya.
Rayen yang dulu keras kepala, kini menjadi imam keluarga yang sabar dan lembut. Mira, ibu yang tak pernah lelah berjuang, menjadi penopang utama dalam setiap badai. Mereka berdua akhirnya memahami bahwa:
“Rezeki yang berkah tak datang dari jumlah, tapi dari cara.”
“Dan ketenangan sejati bukan ketika kaya, tapi ketika hati ridha.”
Malam itu, setelah shalat Isya berjamaah, Rayen menatap keluarganya satu per satu dan berbisik,
“Inilah harta paling berharga yang Allah titipkan padaku.”
Mira tersenyum, menunduk haru.
Air mata bahagia mengalir bukan karena mereka tak pernah susah,
tapi karena kini mereka tahu makna sesungguhnya dari hidup: kembali kepada Allah dengan hati bersih.
Langit malam di atas rumah mereka begitu tenang.
Bulan bersinar lembut, seolah ikut bersaksi bahwa dari dosa riba yang gelap,
Allah telah menuntun dua jiwa itu menuju cahaya penuh keberkahan.
Dan di situlah, kisah mereka berakhir
bukan dengan kemewahan, tapi dengan kedamaian yang abadi.
Tamat