Langit Pagi dan Koran Pertama
Langit Pagi dan Koran Pertama
Langit pagi itu belum sepenuhnya terang ketika Randi menutup pintu kontrakan kecil yang mulai kusam. Di tangan kirinya, ia menggenggam setumpuk koran yang masih hangat dari percetakan; di tangan kanannya, sebuah tas kain lusuh yang selalu menemaninya ke mana-mana. Usianya baru sepuluh tahun, tapi langkahnya sudah sekeras batu jalanan tempat ia berpijak setiap hari.
Ibunya, Bu Lastri, berdiri di depan pintu sambil membawa nampan berisi gorengan yang masih mengepul.
“Randiii, hati-hati di jalan, ya Nak,” katanya lembut, wajahnya setengah diselimuti asap gorengan.
Randi menoleh, tersenyum kecil. “Iya, Bu. Kalau dagangan Ibu laku semua, nanti malam kita bisa makan lauk ayam lagi.”
Bu Lastri tersenyum, tapi matanya berkaca. “Yang penting kamu makan siang, jangan cuma minum air putih lagi.”
Randi tidak menjawab. Ia tahu ibunya menyembunyikan banyak hal di balik senyum itu lelah, lapar, dan doa yang tak henti-hentinya ia panjatkan setiap malam.
Langkah kaki kecil itu membawa Randi ke perempatan besar tempat kendaraan saling bersahutan. Suara klakson seperti orkestra bising yang sudah jadi lagu sehari-harinya. Di sanalah ia bekerja—menawarkan koran kepada siapa pun yang sempat membuka kaca mobil.
“Pak, korannya, Pak! Berita pagi, lengkap semua!”
Sebagian hanya melambaikan tangan, sebagian lagi menggeleng tanpa menatap. Kadang ada yang melemparkan uang receh tanpa membeli. Tapi Randi tak marah; baginya, setiap sen yang jatuh ke tangannya adalah rezeki.
Setiap pagi ia berdiri di sana sampai matahari mulai meninggi. Kadang panas terasa seperti membakar kulit, kadang hujan membuat tubuhnya menggigil. Tapi tak sekalipun ia absen. Ia tahu, kalau ia berhenti satu hari saja, uang untuk bayar SPP bulan depan bisa tak cukup.
Siang itu, seorang pria paruh baya dengan kemeja rapi membuka kaca mobilnya.
“Berapa, Dik, satu koran?”
“Lima ribu aja, Pak!” jawab Randi cepat.
Pria itu mengangguk, menyerahkan uang sepuluh ribu dan berkata, “Ambil aja kembaliannya buat kamu.”
“Terima kasih, Pak!” seru Randi riang. Ia menunduk hormat, dan pria itu hanya tersenyum kecil sebelum mobilnya melaju.
Setelah beberapa jam, dagangan Randi habis. Ia duduk di trotoar, membuka bekal kecil dari ibunya nasi dingin dengan sambal tempe. Ia makan perlahan, menikmati setiap suapan seperti sedang santapan istimewa.
Di seberang jalan, anak-anak lain seusianya lewat dengan seragam sekolah, membawa tas besar dan tertawa riang. Ada rasa iri kecil di dada Randi, tapi ia cepat-cepat menepisnya.
“Randi juga sekolah… meski sore,” gumamnya sendiri. “Yang penting jangan nyerah.”
Sore harinya, ia berjalan pulang melewati jembatan kecil. Di bawah jembatan itu mengalir air kotor, tapi langit di atasnya memantulkan warna jingga keemasan yang indah. Randi menatapnya lama-lama. Ia membayangkan masa depan yang berbeda bukan di jalan, tapi di tempat tinggi, mungkin kantor, mungkin studio, entah apa, tapi ia tahu satu hal: ia ingin sukses.
Ketika sampai di rumah, ibunya sudah duduk menunggu di depan kompor. Wajahnya basah oleh peluh.
“Laku semua, Nak?”
“Laku, Bu. Tadi ada orang baik, ngasih lebih.”
Bu Lastri tersenyum, memeluk anaknya. “Alhamdulillah…” katanya pelan. “Kamu capek, mandi dulu. Nanti Ibu goreng pisang buat kamu.”
Randi memeluk ibunya erat. Di pelukan itu, ada cinta yang tulus, ada perjuangan yang tak terlihat oleh dunia.
Malam itu, Randi belajar dengan cahaya lampu minyak kecil. Buku-bukunya lusuh, sebagian sobek, tapi semangatnya tak pernah pudar. Di halaman buku tulisnya, ia menulis kalimat dengan huruf besar:
“Aku ingin jadi orang sukses, tapi tidak lupa darimana aku berasal.”
Angin malam berhembus lembut, membawa suara azan Isya dari kejauhan. Randi menutup buku, berdoa singkat, lalu tidur dengan senyum kecil di wajahnya. Esok hari, perjuangan akan kembali dimulai.
Bagian 2 – Ujian Hidup dan Pertemuan Tak Terduga
Musim hujan datang lebih cepat tahun itu. Langit seakan murung setiap pagi, dan Randi harus berlari menembus hujan dengan seikat koran di tangan yang dilindungi kantong plastik besar. Suatu kali, angin kencang menerpa begitu kuat hingga sebagian korannya terhempas ke selokan. Ia hanya bisa menatap lembar-lembar basah itu tanpa daya.
“Ya Allah…” lirihnya pelan, menahan air mata.
Ia tahu, kehilangan beberapa koran berarti kehilangan sebagian penghasilan hari itu. Tapi ia tidak punya waktu untuk bersedih lama. Ia harus tetap menjual sisanya, berapa pun hasilnya.
Hari itu, Randi pulang lebih cepat karena dagangannya sepi. Begitu membuka pintu kontrakan, ia melihat ibunya terbaring di kasur tipis. Wajah Bu Lastri pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya.
“Bu… Ibu kenapa?” Randi langsung panik.
Ibunya tersenyum lemah. “Cuma pusing, Nak. Ibu capek aja. Nanti juga sembuh.”
“Tapi Ibu kelihatan sakit banget. Aku panggil Pak RT aja, ya Bu?”
“Jangan, Randi. Ibu gak apa-apa. Uang kita dipakai aja buat beli beras, jangan ke dokter.”
Kalimat itu membuat hati Randi seperti diremas. Ia tahu ibunya sering menahan sakit demi menghemat uang. Malam itu, Randi duduk di samping ibunya yang tertidur gelisah, menatap wajah yang dulu selalu tegar. Dalam hati kecilnya, ia berjanji:
“Aku harus berubah. Aku harus buat Ibu sembuh dan bahagia.”
Keesokan harinya, ia tetap pergi berjualan. Meski pikirannya kacau, kakinya terus melangkah. Di perempatan, ia kembali berdiri sambil memanggil pembeli. Tapi hari itu berbeda ia tampak lebih murung dari biasanya.
Hingga sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Kaca mobil itu turun, memperlihatkan wajah seorang pria berumur sekitar 40 tahun, berpenampilan rapi dan bersahabat.
“Dek, jualan koran tiap hari, ya?” tanya pria itu sambil mengambil satu koran.
“Iya, Pak. Setiap pagi.”
“Sekolah juga?”
“Iya, Pak. Tapi sore. Kalau pagi jualan dulu.”
Pria itu tersenyum. “Hebat kamu. Nama kamu siapa?”
“Randi, Pak.”
“Randi…” Pria itu mengulang nama itu seolah ingin mengingatnya. “Pak Surya. Senang kenal kamu.”
Hari itu, Pak Surya membeli tiga koran sekaligus dan memberi uang lebih tanpa meminta kembalian. Tapi bukan itu yang membekas di hati Randi, melainkan cara pria itu menatapny dengan perhatian, bukan belas kasihan.
Sejak hari itu, Pak Surya sering membeli koran dari Randi setiap pagi sebelum berangkat kerja. Kadang ia membawakan roti, kadang susu kotak.
“Biar kamu gak cuma makan nasi dingin, ya,” katanya suatu pagi.
Randi terharu. “Makasih banyak, Pak.”
“Kalau nilai kamu bagus di sekolah, kasih tahu Pak Surya, ya. Biar saya tambah semangat bacanya.”
Beberapa minggu kemudian, keadaan Bu Lastri semakin parah. Randi akhirnya nekat mengetuk pintu rumah Pak RT, meminta tolong untuk membawa ibunya ke puskesmas. Dokter berkata, ibunya menderita anemia parah dan kelelahan berat. Ia butuh istirahat total dan gizi cukup.
Randi menangis di pojok ruang tunggu. Ia merasa dunia runtuh. Tapi ketika ia hendak pulang, seseorang menepuk bahunya pelan.
“Randi?”
Ia menoleh—Pak Surya berdiri di sana.
“Apa yang terjadi?” tanya pria itu lembut.
Dengan suara gemetar, Randi menceritakan semuanya. Tentang ibunya, tentang hidup mereka, tentang mimpinya untuk sekolah tinggi.
Tanpa banyak bicara, Pak Surya mengeluarkan dompetnya dan berkata,
“Biar saya bantu biaya pengobatan Ibumu. Jangan khawatir, Nak.”
Randi terkejut. “Tapi, Pak… saya gak bisa balas kebaikan Bapak.”
“Gak apa-apa. Kamu balasnya nanti aja—kalau sudah sukses. Tapi satu janji: jangan pernah berhenti sekolah, ya.”
Hari itu, Randi menangis bukan karena sedih, tapi karena haru. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang mempercayainya tanpa pamrih.
Berbulan-bulan kemudian, Bu Lastri perlahan sembuh. Tubuhnya masih lemah, tapi senyum mulai kembali ke wajahnya. Ia tahu semua itu berkat bantuan Pak Surya.
“Randi, Nak,” ucapnya suatu malam, “kalau kamu besar nanti, jadilah orang yang menolong seperti Pak Surya, ya.”
Randi mengangguk mantap. “Aku janji, Bu.”
Sejak saat itu, kehidupan mereka mulai sedikit membaik. Randi tetap berjualan koran, tapi kini ia punya semangat baru. Setiap pagi ia membawa bukan hanya koran, tapi juga harapan.
Pak Surya kadang datang mengunjunginya ke rumah, membawa buku dan alat tulis.
“Untuk belajar, Randi. Kamu anak pintar. Jangan biarkan keadaan menghentikanmu.”
Randi menerima bingkisan itu dengan mata berbinar. Ia belajar setiap malam tanpa lelah.
Tahun-tahun pun berlalu. Randi tumbuh menjadi remaja tangguh yang tak hanya cerdas, tapi juga rendah hati. Ia mulai sering membantu anak-anak kecil lain di lingkungannya belajar membaca dan menulis.
“Ibu, aku gak mau cuma sukses sendiri,” katanya suatu malam.
Bu Lastri mengelus rambutnya. “Itu baru anak Ibu.”
Namun tak semua berjalan mulus. Di usia 15 tahun, Randi sempat ingin berhenti sekolah karena uang bantuan dari Pak Surya terhenti sementara akibat masalah bisnis. Ia kembali berjualan lebih keras—bukan hanya koran, tapi juga air mineral dan tisu di lampu merah. Tapi di tengah kesulitan itu, tekadnya justru makin kuat.
Setiap kali kelelahan, ia menatap langit malam dan berkata pada diri sendiri,
“Aku harus bisa. Aku harus buktiin, buat Ibu, buat semua yang percaya padaku.”
Suatu sore, ketika Randi pulang dari menjajakan dagangannya, ia melihat surat di depan rumah. Amplop putih dengan tulisan rapi:
“Untuk Randi Pratama Diterima Beasiswa Sekolah Unggulan.”
Tangannya gemetar saat membacanya. Ia menatap ibunya, yang segera menutup mulut menahan tangis.
“Bu… aku… diterima sekolah beasiswa!”
Bu Lastri memeluknya erat, menangis tersedu.
“Alhamdulillah, Nak… Allah denger doa kita.”
Malam itu, mereka berdua sujud syukur lama sekali. Di dalam kesederhanaan itu, mereka merasakan kebahagiaan yang tak bisa dibeli siapa pun.
Namun Randi tahu, perjalanan barunya baru dimulai. Dunia yang menantinya lebih besar, lebih keras. Tapi ia tidak takut. Ia sudah belajar bertahan sejak kecil.
Dan jauh di dalam hatinya, ia masih menyimpan satu janji:
“Suatu hari nanti, aku akan menolong anak kecil lain seperti aku dulu.”
Bagian 3 – Langkah Baru, Dunia Baru
Hari pertama Randi masuk sekolah beasiswa adalah hari yang tidak pernah ia lupakan. Ia berdiri di depan gerbang SMP Harapan Nusantara, sekolah swasta terkenal di kotanya. Gedungnya megah, lantainya bersih mengilap, dan di halaman terhampar taman rapi dengan air mancur kecil. Semua tampak begitu berbeda dari sekolah lamanya yang dindingnya penuh coretan dan kursinya reyot.
Randi menatap sekeliling dengan canggung. Seragamnya sedikit kebesaran karena hanya punya satu stel hasil jahitan tetangga. Sepatunya sudah memudar, tapi disemir setiap pagi agar tampak hitam mengilap. Ia menelan ludah, menenangkan diri.
0“Aku di sini bukan karena kaya,” katanya dalam hati, “tapi karena aku mampu.”
Hari itu ia duduk di bangku paling belakang. Di sekelilingnya, anak-anak berbicara tentang gawai baru, liburan ke luar negeri, dan mobil yang menjemput mereka setiap pagi. Sementara Randi hanya membawa tas kecil berisi dua buku, satu bolpoin, dan bekal nasi bungkus dari ibunya.
Di tengah jam pelajaran, seorang murid bernama Arka, anak pengusaha besar di kota itu, menatap Randi dari ujung kelas.
“Eh, kamu anak baru ya?”
“Iya,” jawab Randi sopan.
“Kamu dapat beasiswa, kan?” tanya Arka sambil tersenyum miring.
Randi mengangguk pelan.
“Wah, keren. Jadi, sekolah ini punya murid miskin juga sekarang?” katanya setengah mengejek.
Beberapa teman di sekitar mereka tertawa kecil. Randi hanya menunduk. Ia tahu, menanggapi hanya akan memperburuk keadaan. Ia menatap papan tulis, mencoba tetap fokus pada pelajaran. Tapi dalam hatinya, ia berjanji,
> “Aku akan buktikan, aku pantas di sini.”
Hari-hari pertama terasa berat. Randi sering pulang larut karena membantu ibunya berjualan gorengan setelah sekolah. Ia baru sempat belajar malam hari, di bawah cahaya lampu kecil yang temaram. Tapi meski tubuhnya lelah, pikirannya terus menyala. Ia belajar lebih keras dari siapa pun.
Bulan berganti, ujian datang. Ketika hasilnya diumumkan, seluruh kelas terkejut. Di papan pengumuman, nama Randi Pratama tertera di posisi pertama. Nilainya nyaris sempurna di semua pelajaran.
Guru wali kelas memanggilnya ke depan.
“Anak-anak, beri tepuk tangan untuk Randi,” kata Bu Dewi dengan bangga.
Tepuk tangan menggema, meski beberapa terdengar setengah hati. Arka hanya menatap tanpa ekspresi.
Ketika Randi kembali ke bangkunya, Arka menepuk bahunya.
“Hebat juga kamu, Ndik. Aku gak nyangka.”
Randi tersenyum sopan. “Terima kasih.”
Sejak saat itu, perlahan hubungan mereka membaik. Arka mulai menghargai Randi, bahkan kadang membantunya meminjamkan buku atau alat tulis.
Namun, perjuangan Randi tidak berhenti di sana. Ketika naik ke kelas dua, ibunya kembali jatuh sakit. Dokter berkata penyakitnya kambuh karena terlalu banyak bekerja dan kurang istirahat. Randi ingin berhenti sekolah lagi, tapi Bu Lastri menolak keras.
“Jangan bodoh, Nak. Sekolah itu jalanmu keluar dari susah. Ibu masih kuat.”
“Tapi Bu—”
“Dengar Ibu,” potongnya lembut. “Kamu sudah sejauh ini. Jangan berhenti hanya karena Ibu sakit. Ibu bahagia lihat kamu jadi orang pintar.”
Randi menangis dalam diam malam itu. Ia kembali mengatur waktunya, bekerja kecil-kecilan sepulang sekolah—mengantar koran langganan lama, membantu di warung, bahkan mengajar anak-anak kecil membaca di kampungnya dengan imbalan seadanya.
Ketekunannya mulai menarik perhatian guru-guru di sekolah. Bu Dewi, wali kelasnya, suatu hari memanggilnya.
“Randi, kamu pernah kepikiran ikut lomba karya tulis?”
“Belum, Bu. Tapi saya mau coba.”
“Bagus. Tulis tentang kehidupanmu. Tentang perjuangan. Kamu punya cerita yang menginspirasi.”
Randi pulang dengan semangat baru. Malam itu ia menulis tanpa henti, menceritakan kehidupannya sebagai penjual koran kecil yang tak pernah menyerah. Ia menulis dengan hati, bukan hanya pena.
Beberapa minggu kemudian, hasil lomba diumumkan. Dari ratusan peserta, tulisan Randi berjudul “Langit di Atas Lampu Merah” menjadi juara pertama tingkat provinsi. Ia diundang ke acara penghargaan, duduk berdampingan dengan pejabat dan tokoh pendidikan.
Ketika namanya dipanggil naik ke panggung, lampu sorot menyinari wajahnya. Ia menatap kerumunan, teringat wajah ibunya di rumah. Dengan suara bergetar, ia berkata:
“Saya menulis bukan untuk terkenal, tapi untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa kemiskinan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.”
Ruang auditorium sunyi sejenak sebelum akhirnya tepuk tangan bergema. Beberapa orang berdiri memberi penghormatan. Di antara mereka, seseorang yang sangat familiar Pak Surya.melambai dari deretan kursi tamu. Matanya berkaca-kaca, bangga melihat anak kecil yang dulu menjual koran kini berdiri di atas panggung penghargaan.
Setelah acara, Pak Surya mendekat dan menepuk pundaknya.
“Randi, saya tahu kamu bisa sampai sini. Tapi ini baru awal.”
Randi menunduk hormat. “Terima kasih, Pak. Semua karena Bapak juga.”
“Tidak, Nak. Itu semua karena kerja kerasmu sendiri. Saya hanya menyalakan lentera, kamu yang membuat cahayanya semakin besar.”Sejak hari itu, hidup Randi mulai berubah. Ia sering diundang ke berbagai kegiatan sekolah dan sosial. Tulisan-tulisannya dimuat di majalah lokal. Ia belajar menulis dengan lebih serius dan bermimpi menjadi jurnalis orang yang menyampaikan kebenaran lewat kata-kata.
Namun, di balik semua itu, ia tetap anak yang sama. Ia masih membantu ibunya, masih menolak hidup mewah meski ditawari banyak bantuan.
“Ibu selalu bilang, jangan lupa darimana aku berasal,” katanya setiap kali seseorang memujinya.
Ketika lulus SMP, Randi kembali mendapat beasiswa ke SMA unggulan di kota besar. Hari keberangkatannya menjadi momen haru bagi seluruh kampung. Para tetangga yang dulu melihatnya berjualan koran kini menyalaminya satu per satu.
Pak RT berkata sambil menepuk bahunya,
“Randi, kami semua bangga padamu. Jangan lupa kampung ini ya, Nak.”
Randi tersenyum. “Saya gak akan lupa, Pak. Saya akan kembali nanti, kalau sudah bisa membahagiakan Ibu dan bantu orang lain.”
Bus perlahan melaju meninggalkan kampung kecil itu. Randi menatap dari jendela, melihat ibunya melambaikan tangan sambil menahan air mata.
“Aku akan buat Ibu bangga,” batinnya.
Ia tidak tahu, perjalanan ke kota besar itu akan membuka babak baru lebih menantang, lebih berat, tapi juga lebih berarti. Karena di sanalah, mimpi kecilnya akan mulai tumbuh menjadi kenyataan besar.
Bagian 4 – Cahaya dari Kata-Kata
Suara mesin bus berhenti di terminal besar kota itu. Randi melangkah turun dengan satu tas kecil di punggungnya, membawa lebih banyak harapan daripada barang bawaan. Ia menatap gedung-gedung tinggi di sekitarnya dunia yang sama sekali baru bagi anak kampung yang dulu hidup dari menjual koran di pinggir jalan.
Sekolah barunya, SMA Citra Bangsa, jauh lebih besar dari sekolah sebelumnya. Di sana, hampir semua murid datang dari keluarga terpandang. Tapi Randi tidak gentar. Ia sudah pernah melalui ejekan, kemiskinan, bahkan rasa lapar. Kini, yang tersisa hanya tekad untuk belajar.
Hari-hari pertama berjalan penuh penyesuaian. Ia tinggal di asrama sederhana untuk siswa beasiswa. Kamar itu kecil, hanya berisi ranjang besi, meja kayu, dan satu jendela kecil menghadap halaman belakang. Tapi bagi Randi, tempat itu terasa seperti istana.
“Yang penting bisa tidur dengan atap di atas kepala,” katanya sambil tersenyum.
Setiap pagi ia bangun lebih awal, shalat Subuh, lalu membantu petugas asrama membersihkan halaman sebelum sekolah dimulai. Teman-temannya sering heran, “Kamu gak capek, Randi?”
“Capek,” jawabnya, “tapi kalau niatnya buat masa depan, capek itu rasanya ringan.”
Guru-guru mulai mengenalnya sebagai siswa rajin dan sopan. Ia aktif di perpustakaan, suka membaca koran dan majalah lama. Dari sana, tumbuhlah cintanya pada dunia jurnalistik. Ia ingin menulis bukan sekadar untuk terkenal, tapi untuk memberi suara bagi mereka yang tak didengar orang kecil, anak jalanan, dan para pekerja keras seperti ibunya.
Suatu hari, guru Bahasa Indonesia, Pak Herman, memberikan tugas menulis artikel bebas. Randi menulis dengan sungguh-sungguh:
“Aku menulis bukan untuk mencari nama, tapi untuk memberi makna. Karena setiap kata bisa menjadi cahaya bagi hati yang gelap.
Tulisan itu begitu menyentuh hingga Pak Herman memajangnya di mading sekolah. Dari situlah, namanya mulai dikenal. Ia diminta menjadi redaktur buletin sekolah dan mulai menulis kisah nyata seputar kehidupan sosial.
Salah satu artikelnya, berjudul “Mereka yang Tersisih di Ujung Kota”, mengangkat kisah anak-anak pemulung di sekitar terminal teman-teman barunya yang ia temui saat membantu kegiatan sosial. Artikel itu viral di media lokal, dan banyak orang yang akhirnya turun tangan memberi bantuan.
Ketika wartawan koran kota datang mewawancarainya, Randi hanya tersenyum malu.
“Saya hanya menulis apa yang saya lihat,” katanya sederhana. “Mereka pantas mendapat perhatian seperti anak-anak lainnya.”
Nama Randi mulai dikenal luas. Ia sering diundang untuk berbicara di sekolah lain, menjadi inspirasi bagi banyak siswa. Namun, di balik semua itu, ia tetap sama seperti dulu. Ia masih menelpon ibunya setiap malam dari wartel asrama.
“Bu, aku dapat piagam lagi,” katanya dengan semangat.
“Alhamdulillah, Nak. Tapi jangan lupa makan,” jawab ibunya lembut.
Randi tertawa kecil. “Ibu juga jangan kerja berat, ya.”
Suatu malam, setelah selesai belajar, ia duduk di depan jendela kamarnya. Di luar, lampu-lampu kota berkelap-kelip seperti bintang. Ia membuka buku catatannya dan menulis:
“Sukses bukan tentang punya banyak, tapi tentang memberi banyak. Dan aku ingin memberi, bukan hanya menerima.”
Tahun demi tahun berlalu cepat. Randi lulus dengan nilai terbaik seangkatan. Ia kembali mendapat beasiswa kali ini untuk kuliah di jurusan Jurnalistik Universitas Negeri Jakarta. Bu Lastri hampir tak percaya ketika membaca surat kelulusan itu.
“Jakarta, Nak? Jauh banget dari Ibu.”
Randi memegang tangan ibunya. “Iya, Bu. Tapi aku janji, aku gak akan lupa pulang.”
Perpisahan itu penuh air mata. Ibu dan anak saling berpelukan lama di depan rumah kontrakan mereka yang sudah mereka tempati bertahun-tahun.
“Pergilah, Randi,” kata Bu Lastri lirih. “Tapi ingat, di mana pun kamu berada, tetaplah jadi orang baik.”
Randi menunduk, memeluk ibunya lebih erat. “Itu janji, Bu.”
Jakarta menyambutnya dengan hiruk-pikuk yang luar biasa. Gedung tinggi, jalanan padat, dan suara klakson seolah tak pernah berhenti. Di sinilah, Randi benar-benar memulai perjalanan menuju dunia profesional.
Kuliah tidak mudah. Ia harus membagi waktu antara belajar dan bekerja paruh waktu di percetakan kecil. Kadang ia mengetik berita malam hari untuk media daring, kadang menjadi asisten liputan untuk wartawan senior.
Suatu malam di redaksi kecil tempatnya bekerja, redaktur utama membaca tulisannya dan berkata,
“Randi, kamu punya bakat alami. Tulisanmu jujur dan hidup. Mau coba kirim ke media nasional?”
Randi hampir tak percaya. “Serius, Pak?”
“Tentu. Dunia perlu suara seperti kamu.”
Beberapa minggu kemudian, tulisannya dimuat di salah satu surat kabar ternama di Jakarta dengan judul “Di Balik Trotoar, Ada Harapan” kisah tentang anak-anak jalanan yang bekerja di lampu merah. Ia menulisnya dengan penuh perasaan karena ia tahu persis bagaimana rasanya berdiri di sana.
Artikel itu mendapat perhatian luas. Banyak pembaca menulis surat, mengatakan betapa mereka terharu membaca kisah itu. Randi bahkan dipanggil oleh redaksi besar dan ditawari magang resmi.
Saat itu, usianya baru 20 tahun. Tapi langkahnya sudah menapaki dunia yang dulu hanya bisa ia lihat dari jauh.
Namun, di puncak awal kesuksesannya, kabar duka datang. Suatu sore, ia menerima telepon dari tetangga kampung: ibunya jatuh pingsan. Randi bergegas pulang ke kampung, menempuh perjalanan panjang dengan hati berdebar.
Ia tiba malam hari dan mendapati ibunya terbaring lemah. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat.
“Ibu…” panggilnya lirih sambil menggenggam tangan sang ibu.
Bu Lastri membuka mata perlahan, tersenyum lemah. “Randi… kamu pulang…”
“Ibu jangan ngomong dulu, ya. Aku di sini, Bu.”
Dengan suara pelan, ibunya berbisik,
“Aku… bangga sekali sama kamu, Nak. Ibu udah lihat tulisanmu di koran. Ibu tahu… kamu berhasil…”
“Ibu, jangan ngomong begitu,” Randi menahan tangis. “Aku belum berhasil kalau Ibu belum sembuh.”
Bu Lastri tersenyum lagi, lalu berkata pelan,
“Ingat, Nak… kalau kamu sudah tinggi nanti, jangan lupa menunduk. Biar kamu gak kehilangan langit.”
Malam itu, ibunya berpulang dengan damai di pelukan Randi. Dunia seolah berhenti berputar. Tapi di balik kehilangan itu, Randi menemukan kekuatan baru. Ia sadar, perjuangannya belum berakhir ia hanya berganti tujuan: hidup untuk meneruskan kebaikan ibunya.
Beberapa hari kemudian, ia kembali ke Jakarta. Dengan mata yang masih sembab, ia menulis artikel panjang berjudul “Perempuan yang Mengajari Aku Melawan Lapar dan Takdir.”
Tulisan itu viral dan menyentuh hati banyak orang. Ia menerima ratusan pesan dari pembaca, dan sejak saat itu, kariernya melesat.
Randi diterima sebagai jurnalis tetap di media nasional. Ia mulai bepergian ke berbagai daerah, menulis kisah nyata dari pelosok negeri tentang kemiskinan, pendidikan, dan perjuangan anak-anak kecil seperti dirinya dulu
Namun, setiap kali menerima penghargaan atau undangan ke acara televisi, ia selalu mengucapkan kalimat yang sama:
“Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya anak penjual gorengan yang dulu jualan koran di jalan.”
Dan setiap malam, di meja kerjanya, ia masih menatap foto ibunya yang tersenyum, seolah berkata: “Kamu sudah menepati janji, Nak.”
Bagian 5. Sukses yang Tidak Mengubah Hati
Sepuluh tahun berlalu sejak hari-hari Randi berdiri di bawah terik matahari menjajakan koran.
Kini, gedung tinggi berlantai dua belas berdiri di tengah kota Jakarta, dengan tulisan besar di depannya:
RANDI MEDIA GROUP
Di dalamnya, ratusan karyawan sibuk bekerja. Ada ruang redaksi, ruang desain, dan studio digital tempat para jurnalis muda menulis berita dengan semangat mirip dengan semangat bocah kecil yang dulu menjajakan koran di pinggir jalan.
Di lantai paling atas, seorang pria muda dengan jas hitam duduk di depan meja kaca besar.
Wajahnya bersih, rambutnya rapi, namun di matanya masih ada sinar yang sama seperti dulu sinar tekad dan kesederhanaan.
Ia adalah Randi, kini berusia dua puluh lima tahun, pemilik salah satu perusahaan media lokal yang berkembang pesat.
Namun, meski sukses, kebiasaannya tak banyak berubah. Setiap pagi, ia tetap turun ke bawah, menyapa satpam dan petugas kebersihan dengan ramah.
“Pagi, Pak Darto, sehat hari ini?”
“Alhamdulillah, sehat, Pak Randi. Bapak juga semangat terus, ya.”
“Harus dong. Hidup itu perjuangan, Pak.”Ia masih membawa tas kain kecil yang dulu ia gunakan untuk mengantar koran. Bukan karena butuh, tapi karena tas itu pengingat bahwa semua ini dimulai dari jalanan berdebu, bukan dari meja kantor.
Kembali ke Tempat Lama
Suatu pagi, setelah rapat dengan investor, Randi meminta sopirnya berhenti di perempatan tempat ia dulu berjualan.
Sopirnya bingung, tapi menuruti.
Randi turun, berdiri di pinggir jalan yang kini jauh lebih ramai.
Trotoar itu masih sama hanya lebih bersih dan lebar.
Ia melihat ke seberang, dan matanya menangkap pemandangan yang membuat dadanya sesak:
Seorang anak kecil berusia sekitar sembilan tahun sedang menjajakan koran dengan teriak lantang. Wajahnya penuh peluh, tapi semangatnya menyala.
Anak itu seperti cerminan dirinya di masa lalu.
Randi mendekat, tersenyum.
“Dek, korannya satu ya. Berapa harganya?”
“Lima ribu, Bang.”
Randi menyerahkan selembar uang lima puluh ribu. “Ambil aja sisanya, buat jajan.”
Anak itu tertegun. “Beneran, Bang?”
“Iya, beneran. Tapi janji ya, uangnya sebagian buat beli buku, bukan cuma permen.”
Anak itu mengangguk cepat. “Siap, Bang!”
Randi tersenyum. Ia menepuk bahu bocah itu, lalu pergi dengan perasaan haru.
Dalam langkahnya, ia berjanji akan ada lebih banyak anak seperti bocah itu yang harus ia bantu.
Yayasan “Langit Pagi”
Beberapa bulan kemudian, Randi mendirikan sebuah yayasan bernama Langit Pagi Foundation, terinspirasi dari langit pagi pertama yang ia lihat waktu masih menjajakan koran.
Yayasan itu menampung anak-anak jalanan, memberi mereka sekolah gratis, makan layak, dan pelatihan keterampilan.
Di peresmian yayasan itu, Randi berdiri di depan podium sederhana, mengenakan batik, bukan jas mahal.
Di hadapannya, puluhan anak kecil duduk berbaris, menatap kagum.
“Dulu, aku berdiri di jalan seperti kalian,” ucapnya dengan suara bergetar. “Aku tahu rasanya lapar, haus, dan kadang ingin menyerah. Tapi aku juga tahu, setiap pagi adalah harapan baru. Jadi jangan pernah berhenti bermimpi, ya.”
Tepuk tangan bergema.
Ibunya, Bu Lastri, yang kini tinggal di rumah besar tapi tetap sederhana, duduk di barisan depan sambil menitikkan air mata.
Anaknya telah menjadi orang besar, tapi tetap anak kecil yang ia kenal hangat, sopan, dan penuh kasih.
Setelah acara selesai, Randi mendekati ibunya.
“Ibu bangga?”
Bu Lastri tersenyum sambil menyeka air mata. “Bukan cuma bangga, Nak. Ibu bersyukur. Kamu tetap jadi Randi yang dulu.”
Randi memeluk ibunya erat. “Tanpa Ibu, gak akan ada Randi hari ini.”
Kehidupan yang Berarti
Hari-hari Randi kini tak hanya diisi bisnis dan rapat, tapi juga kegiatan sosial. Ia sering turun langsung ke jalan, berbagi makanan, buku, dan semangat.
Media yang ia bangun kini menjadi sarana untuk menyuarakan kisah-kisah kecil yang dulu tak pernah didengar: cerita tukang sapu, pedagang kaki lima, anak-anak jalanan yang berjuang seperti dirinya.
Ia ingin dunia tahu bahwa kesuksesan bukan tentang berapa tinggi kita naik, tapi seberapa banyak tangan yang kita angkat bersama saat naik itu.
Suatu malam, setelah semua pekerjaan selesai, Randi berdiri di balkon kantornya. Kota Jakarta berkilau di bawah sana, tapi pikirannya melayang ke masa lalu ke hari ketika ia memeluk ibunya sambil makan tempe dingin, ke hari ketika ia menulis di buku lusuh:
“Aku ingin jadi orang sukses, tapi tidak lupa darimana aku berasal.”
Randi tersenyum kecil.
Ia menatap langit malam, lalu berbisik,
“Terima kasih, Tuhan. Aku janji, aku gak akan lupa jalan pulang.”
Dan di langit yang luas itu, seolah-olah bintang-bintang ikut tersenyum menyaksikan bagaimana seorang anak kecil dari pinggir jalan bisa tumbuh menjadi orang besar, tanpa kehilangan hatinya.
Malam itu, angin berhembus pelan di atap gedung tinggi milik Randi. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat lampu-lampu kota berkelap-kelip seperti bintang di bumi. Namun di matanya, kilau itu tak pernah mengalahkan cahaya sederhana yang dulu menyinari kontrakan kecil bersama ibunya.
Ia menatap ke arah perempatan tempat dulu ia berteriak menawarkan koran dengan suara serak. Tempat itu kini dipenuhi mobil, reklame besar, dan orang-orang sibuk dengan gawai di tangan. Namun bagi Randi, di sanalah semua kisah dimulai.
Di tangannya, ia masih menggenggam sebuah koran lusuh yang disimpannya sejak kecil koran pertama yang ia jual sendiri.
Di bagian tepinya, masih terlihat tulisan spidol kecil:
“Randi kecil jangan menyerah.”Air matanya menetes pelan. Bukan air mata sedih, melainkan air mata syukur.
Ia menutup mata dan berbisik pelan,
“Terima kasih, Ya Allah… Kau izinkan aku merasakan semua ini dari jalanan penuh debu, sampai tempat yang tinggi. Tapi tolong, jangan biarkan hatiku ikut naik. Biarkan tetap di bawah, bersama mereka yang sedang berjuang.”
Di bawah sana, anak-anak dari yayasan Langit Pagi sedang tertawa di halaman kecil, bermain bola, berlari, dan berteriak gembira. Mereka tak tahu bahwa orang yang membangun tempat itu dulu pernah menjadi seperti mereka.
Dan Randi tidak ingin mereka tahu karena ia tak butuh disanjung. Ia hanya ingin mereka percaya bahwa harapan selalu ada, bahkan ketika hidup terasa paling gelap.
Malam semakin larut.
Randi melipat koran lusuh itu, meletakkannya di dalam laci kaca di ruang kerjanya, lalu menulis satu kalimat di secarik kertas baru:
“Kesuksesan sejati bukan ketika semua orang mengenal namamu, tapi ketika kau mampu membuat satu anak kecil percaya bahwa dia juga bisa berhasil."
Ia menandatangani kertas itu dengan pena kecil pena yang dulu diberikan oleh almarhum ibunya saat ulang tahunnya yang ke-11.
Setelah itu, ia berjalan ke jendela, membuka kaca, dan menatap langit yang bertabur bintang.
Langit yang sama, yang dulu ia pandangi sambil memeluk perut lapar.
Langit yang sama, yang menyaksikan air matanya dulu setiap malam.
Dan kini, langit itu menyaksikan senyum bahagianya
Dengan nada lembut, Randi berkata,
“Aku bukan siapa-siapa tanpa perjuangan, dan aku tak akan jadi apa-apa tanpa kasih Ibu."
Ia menatap ke kejauhan bukan untuk melihat ke masa lalu, tapi untuk menatap masa depan anak-anak yang kini ia bantu.
Di matanya, dunia tampak lebih terang.
Bukan karena lampu gedung, tapi karena hatinya kini dipenuhi cahaya cahaya harapan, kasih, dan kerendahan hati yang tidak pernah padam.
Langit malam pun seakan ikut berdoa,
agar setiap anak kecil yang berjuang di jalanan suatu hari bisa melihat bintang dengan mata kepala mereka sendiri,
bukan hanya dari bawah jembatan,
melainkan dari tempat tinggi
seperti Randi,
anak kecil yang dulu menjual koran,
dan kini menjual harapan untuk dunia.
TAMAT