Cinta Terlarang Rian dan Putri
Riyan, pria berusia 32 tahun, adalah sosok yang dari luar tampak biasa saja pekerja keras, ayah dari dua anak kecil berusia 5 dan 3 tahun, serta suami dari seorang wanita berusia 45 tahun yang selama ini setia menemaninya. Namun di balik layar kehidupannya, ada rahasia yang perlahan menggerogoti hatinya sendiri: sebuah hubungan terlarang.
Semuanya berawal dari obrolan ringan di media sosial. Riyan mengenal seorang wanita bernama Putri, 34 tahun, ibu dari lima anak. Mereka saling bertukar cerita, saling mengisi kekosongan yang entah sejak kapan muncul dalam rumah tangga masing-masing. Awalnya hanya chat biasa, tapi hari demi hari, kata-kata mereka menjadi lebih dalam, lebih hangat bahkan lebih berani dari seharusnya.
Riyan merasa hidupnya kembali berwarna. Putri pun merasa dimengerti setelah lama merasa hampa di rumahnya sendiri. Namun di balik rasa itu, tersimpan dosa yang mereka tahu tak pantas untuk dibenarkan.
Waktu berjalan, hubungan mereka semakin intens walau belum pernah bertemu. Namun kebohongan demi kebohongan mulai muncul. Riyan mulai sulit jujur pada dirinya sendiri, pada istrinya, bahkan pada Putri yang katanya ia cintai. Janji-janji manis yang dulu ia ucapkan berubah menjadi kata-kata kosong.
Putri mulai lelah. Ia sadar, semua yang mereka jalani hanya bayangan semu. Ia mencintai seseorang yang bukan miliknya, seseorang yang bahkan tak mampu berani jujur atas perasaannya sendiri.
Dan Riyan pun akhirnya menatap dirinya di cermin wajah lelah, mata penuh penyesalan. Ia sadar telah menghancurkan kepercayaan, bahkan sebelum kebohongan itu benar-benar terungkap.
Cinta terlarang itu tak pernah berakhir indah. Yang tersisa hanyalah rasa lelah lelah dibohongi, lelah membohongi, lelah mencintai sesuatu yang tak seharusnya dimiliki.
Hari itu, Putri duduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya yang masih menampilkan pesan terakhir dari Riyan. Kata-kata manis itu kini terasa hambar. Dulu, setiap pesan darinya membuat jantungnya berdebar kini, justru menimbulkan sesak di dada.
Putri menarik napas panjang. Lima anaknya sedang bermain di ruang tengah, suara tawa mereka terdengar samar. Di antara tawa itu, Putri sadar… inilah dunia nyata yang seharusnya ia jaga. Bukan dunia maya yang penuh janji palsu dan rasa yang menyesatkan.
Ia teringat bagaimana Riyan sering berkata, “Aku sayang kamu, Putri. Kamu beda dari yang lain.” Tapi di balik itu, Riyan tetap pulang pada istrinya, tetap menjadi suami bagi orang lain. Dan Putri, meski tahu semua itu, tetap bertahan karena cinta, atau mungkin karena kesepian.
Namun kini, semuanya terasa salah. Ia mulai muak dengan kebohongan, dengan perasaan bersalah yang terus menghantui setiap kali ia memandang wajah anak-anaknya.
Sore itu, Putri mengetik pesan panjang:
“Riyan, aku sudah lelah. Kita berdua sama-sama salah. Aku nggak mau terus hidup dalam dosa dan kebohongan. Aku ingin kembali jadi ibu yang utuh untuk anak-anakku, tanpa rasa bersalah setiap kali berdoa. Tolong jangan hubungi aku lagi.”
Air matanya jatuh, tapi kali ini bukan karena sakit ditinggalkan melainkan karena akhirnya ia memilih jalan yang benar.
Ia menghapus semua chat, semua foto, semua jejak komunikasi mereka. Ponselnya kini terasa lebih ringan, dan begitu juga hatinya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Putri merasa tenang.
Malam itu, ia memeluk anak-anaknya lebih erat.
Tanpa Riyan, tanpa janji palsu, tanpa kebohongan.
Hanya ada dirinya seorang ibu yang sedang belajar memperbaiki hidup, dan Tuhan yang menyambut langkah kecilnya menuju kejujuran dan kedamaian.
Hari-hari pertama tanpa Riyan terasa sunyi. Tidak ada pesan “selamat pagi” atau “selamat malam”, tidak ada percakapan yang membuatnya tersenyum sebelum tidur. Tapi di balik sepi itu, Putri mulai merasakan sesuatu yang sudah lama hilang ketenangan.
Ia mulai fokus pada hal-hal kecil yang dulu sering ia abaikan. Menyiapkan sarapan untuk anak-anak tanpa tergesa, mengantar mereka ke sekolah sambil bercanda, dan menatap wajah mereka dengan rasa syukur yang tulus. Setiap tawa kecil mereka kini menjadi pengganti kata-kata manis yang dulu ia cari dari orang lain.
Kadang, rasa rindu itu masih datang. Rindu pada perhatian, pada kalimat lembut yang dulu membuat hatinya bergetar. Tapi setiap kali rasa itu muncul, Putri menutup mata dan berbisik pelan pada dirinya sendiri,
“Aku sudah cukup terluka. Aku ingin sembuh.”
Ia mulai mendekatkan diri pada Tuhan. Setiap sujudnya menjadi tempat ia menangis tanpa malu, memohon ampun, dan meminta kekuatan untuk tidak kembali ke masa lalu. Ia belajar memaafkan bukan hanya Riyan, tapi juga dirinya sendiri.
Lambat laun, Putri berubah. Wajahnya tampak lebih tenang, langkahnya lebih mantap. Ia mulai membuka usaha kecil di rumah, menjahit pakaian untuk tetangga, dan dari situ perlahan kehidupannya membaik.
Riyan sempat mencoba menghubunginya lagi. Pesan-pesannya masuk tanpa balasan. Putri hanya tersenyum kecil melihat namanya di layar, lalu menekan tombol hapus. Ia tahu, cinta yang lahir dari kebohongan tak akan pernah membawa kebahagiaan.
Malam itu, Putri menatap langit dari teras rumahnya.
Bintang-bintang berkilau, seakan menyambut perjalanan barunya.
Ia berbisik lembut,
“Terima kasih, Tuhan. Aku sudah lelah dibohongi. Kini aku memilih mencintai diri sendiri, dan hidup dalam kejujuran.”
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Putri benar-benar merasa damai.
Versi Riyan: Penyesalan Seorang Pria
Riyan menatap layar ponselnya yang kini hening. Tak ada notifikasi, tak ada pesan dari Putri. Sudah berminggu-minggu sejak pesan terakhir itu masuk pesan perpisahan yang begitu singkat, tapi menghantam hatinya begitu dalam.
“Aku sudah lelah, Riyan. Aku ingin hidup jujur.”
Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya, bahkan saat ia berusaha melupakannya. Dulu, Riyan merasa bisa mengendalikan segalanya ia pikir, karena hubungannya dengan Putri hanya lewat chat, maka itu bukan dosa yang besar. Ia menipu dirinya sendiri. Ia mengira bisa mencintai dua dunia sekaligus: rumah dan rahasia.
Tapi kini, yang tersisa hanyalah sepi dan rasa bersalah.
Istrinya di rumah mulai merasakan perubahan sikapnya jarak yang tak kasat mata, tatapan kosong, dan seringnya Riyan terdiam tanpa alasan. Ia tak tahu bagaimana menjelaskan bahwa hatinya pernah berpaling, meski tubuhnya tak pernah pergi.
Riyan mencoba kembali fokus pada keluarga, tapi setiap kali membuka ponselnya, ia merasakan kekosongan yang aneh. Chat dengan Putri sudah hilang, tapi bayangan suaranya, tawa kecilnya, dan caranya memahami dirinya semua itu masih hidup di ingatannya.
Malam-malamnya kini diisi dengan penyesalan. Ia menatap wajah anak-anaknya yang tertidur dan bertanya dalam hati, “Bagaimana kalau suatu hari mereka tahu ayahnya pernah mengkhianati ibunya, walau hanya lewat kata?”
Lama-lama, Riyan mulai sadar bukan Putri yang ia rindukan, tapi perasaan yang ia cari: perhatian, pengertian, dan kehangatan yang seharusnya bisa ia bangun di rumahnya sendiri.
Ia menutup ponselnya, lalu beranjak menuju kamar. Istrinya sudah tidur, wajahnya tampak lelah tapi damai. Riyan menatap lama, lalu berbisik pelan,
“Maafkan aku… aku hampir kehilangan segalanya karena kebodohanku.”
Malam itu, untuk pertama kalinya, Riyan meneteskan air mata bukan karena kehilangan Putri tapi karena sadar bahwa cinta yang ia cari di luar rumah hanyalah bayangan dari sesuatu yang sebenarnya sudah ia miliki, tapi tak pernah ia jaga.
Ia tahu, waktu tak bisa diulang. Tapi ia berjanji pada dirinya sendiri untuk memperbaiki, untuk jujur, dan untuk tidak lagi mengkhianati hati siapa pun dengan alasan kesepian.
Lima tahun telah berlalu.
Waktu berjalan begitu cepat, menghapus banyak hal namun tidak sepenuhnya menghapus kenangan.
Riyan kini tampak lebih dewasa. Usianya 37 tahun, dua anaknya tumbuh sehat, istrinya tetap setia di sisinya. Ia belajar menjadi suami yang lebih hadir, lebih tenang, lebih sabar. Kesalahannya di masa lalu menjadi pelajaran pahit yang mengubah cara ia mencintai.
Suatu sore, ia menghadiri acara komunitas usaha kecil di kota tempatnya tinggal. Di antara banyak peserta, pandangannya tiba-tiba terhenti pada satu sosok wanita yang tampak begitu tenang dengan senyum lembut Putri.
Ia sedikit tertegun. Lima tahun tak bertemu, tapi ia mengenal sorot mata itu. Bedanya, kini mata Putri tak lagi menyimpan luka atau rindu hanya ketenangan.
Putri sedang membantu membagikan hasil jahitannya kepada ibu-ibu lain. Ia tampak sibuk, tapi bahagia.
Riyan menatapnya sejenak, lalu memberanikan diri menghampiri.
“Assalamu’alaikum… Putri?” suaranya pelan, agak ragu.
Putri menoleh, sempat terdiam, lalu tersenyum kecil.
“Wa’alaikumussalam, Riyan. Lama sekali, ya.”
Tak ada getaran seperti dulu. Tak ada debar, tak ada keinginan untuk kembali. Yang ada hanya dua orang dewasa yang pernah salah jalan, kini berdiri dengan hati yang sudah sembuh.
Mereka berbincang sebentar ringan, sopan, penuh batas. Putri bercerita tentang anak-anaknya yang kini mulai mandiri. Riyan bercerita tentang keluarganya yang ia syukuri setiap hari.
Sebelum berpisah, Putri berkata pelan,
“Aku bersyukur dulu kita berhenti, Yan. Kalau tidak, mungkin hidup kita sekarang hancur.”
Riyan mengangguk. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena ia benar-benar paham arti kata itu.
“Iya, Put… terima kasih sudah berani pergi waktu itu. Kamu menyelamatkan kita berdua.”
Mereka tersenyum, lalu berjalan menjauh ke arah yang berbeda. Tidak lagi menoleh ke belakang.
Langit sore tampak indah jingga keemasan, seolah menandai akhir dari kisah yang dulu kelam, tapi kini telah menjadi pelajaran hidup yang berharga.
Dan di hati mereka masing-masing, ada rasa syukur yang sama:
Bahwa cinta yang salah arah bisa berubah jadi kekuatan jika kita berani melepaskannya.
Sore itu, langit mulai memudar menjadi senja.
Riyan berdiri di depan masjid setelah salat ashar, sementara Putri melangkah keluar dari aula komunitas di seberang jalan. Mereka sempat saling menatap dari kejauhan tanpa kata, tanpa senyum berlebihan, hanya pandangan singkat dua hati yang sudah berdamai.
Tak ada lagi rindu.
Tak ada lagi rasa ingin memiliki.
Yang tersisa hanyalah rasa terima kasih.
Riyan menatap ke langit, berbisik dalam hati,
“Terima kasih, Tuhan, karena dulu aku Kau jatuhkan agar aku tahu arti setia.”
Sementara Putri berjalan pulang sambil menggenggam tangan anak bungsunya, tersenyum kecil dan berdoa,
“Terima kasih, Tuhan, karena dari kesalahan, Kau ajarkan aku untuk mencintai dengan cara yang benar.”
Dua manusia yang pernah terjerat dalam cinta terlarang itu kini melangkah di jalan berbeda. Tapi keduanya telah menemukan hal yang sama kedamaian.
Cinta yang dulu salah arah kini telah menjadi doa yang saling mendoakan dari kejauhan.
Mereka tak lagi mencari, tak lagi menyesal. Karena akhirnya mereka paham:
Tidak semua cinta harus dimiliki.
Ada yang hadir hanya untuk mengajarkan kita arti keikhlasan dan kembali pada jalan yang benar.
Langit senja perlahan menutup hari itu
dan kisah mereka pun benar-benar tamat,
bukan dengan air mata,
tapi dengan kelegaan dan ketenangan yang akhirnya ditemukan.
Tamat.