Dua Kepribadian,Satu Persahabatan

Dua Kepribadian, Satu Persahabatan


 Awal Sebuah Ikatan

Langit petang itu memerah lembut ketika Astrid dan Sabrina melangkah keluar dari gedung Fakultas Komunikasi Universitas Merah Putih. Usia mereka sama 24 tahun tetapi karakter mereka seperti dua kutub yang bertolak belakang.

Astrid dikenal sebagai sosok yang mempesona. Setiap langkahnya selalu terasa seperti berada di atas panggung. Tatapan penuh percaya diri, ekspresi yang seolah berkata bahwa dunia berputar mengelilinginya. Banyak yang mengaguminya, banyak pula yang diam-diam membencinya. Ia sangat peduli pada citra dirinya di mata orang lain. Ia harus terlihat hebat, harus dipuji, dan harus menjadi pusat perhatian. Jika seseorang menolak ide atau pendapatnya, ia akan marah atau tersinggung. Di balik pesonanya, tersimpan rapuhnya rasa percaya diri yang sering membuatnya bersikap defensif dan keras.

Sabrina berbeda. Ia bukan bintang panggung, tetapi tanpa dirinya, panggung itu terasa sepi. Manis, sederhana, dan penuh empati. Ia pandai membaca perasaan orang lain, namun sering mengabaikan perasaannya sendiri demi menjaga kenyamanan sekitar. Sabrina adalah pendengar setia Astrid, bahkan ketika kata-kata sahabatnya itu kadang menyakitkan.

Mereka mulai dekat sejak semester ketiga. Ketika itu, Astrid gagal mengerjakan bagian penting dalam tugas kelompok karena terlalu fokus mengikuti kompetisi modelling kampus. Sabrina, tanpa banyak bicara, menyelesaikan semuanya dalam semalam. Astrid tidak pernah secara eksplisit berterima kasih, tetapi sejak hari itu ia tak pernah membiarkan Sabrina jauh dari orbit kehidupannya.

Dalam hati kecil Sabrina, ia senang punya teman seperti Astrid seru, penuh ide, dan selalu membuat hari-harinya terasa lebih hidup. Tapi ada kalanya Sabrina merasa hanya menjadi “pendukung” dalam cerita kehidupan Astrid.

Tugas Akhir yang Menentukan

Memasuki semester akhir, mereka mendapat tugas besar dalam mata kuliah “Manajemen Proyek Kreatif.” Dosen memberi arahan:

 “Kalian harus membuat kampanye sosial yang berdampak nyata. Tema bebas. Presentasi akan dilakukan di depan publik dan nilai ini sangat menentukan kelulusan kalian.”

Astrid tersenyum lebar. Tantangan besar seperti ini adalah panggung terbaik baginya.

 “Sab, ini kesempatan kita. Aku punya banyak ide.”

Sabrina mengangguk, mencoba menyamai semangatnya.

“Kita harus pilih topik yang dekat dengan masyarakat. Misalnya tentang kesehatan mental?”

Astrid menatapnya, seolah ide itu muncul darinya sendiri.

“Ya! Itu ide yang bagus. Tapi tentu saja, kita harus buat konsep yang luar biasa. Aku yang akan memimpin proyek ini.”

Sabrina tidak keberatan. Ia selalu merasa bahwa Astrid memang cocok memimpin. Lagipula, ia lebih nyaman bekerja di balik layar.

Hari-hari berikutnya diisi pertemuan demi pertemuan. Astrid menentukan setiap detail. Dari konsep, slogan, desain, hingga pembagian tugas semuanya harus sesuai visi dirinya. Sabrina hanya menerima tugas sebagai pembuat desain visual dan editor video.

Meski begitu, Sabrina merasa bangga diberi kepercayaan dalam aspek penting. Setidaknya ia tahu Astrid menghargai bakatnya.

Atau… benarkah?

Sisi Kelam Persahabatan

Astrid sering memeriksa desain Sabrina dengan kritikan tajam.

“Font ini terlalu biasa.”

“Kenapa warna ini? Jelek!”

“Aku kan bilang jangan begini!”

Sabrina berkali-kali menelan kekecewaannya. Ia tahu kondisi Astrid terindikasi memiliki Narcissistic Personality Disorder (NPD) dan ia berusaha memahami bahwa kemarahan Astrid sering muncul karena ketakutan kehilangan pujian atau dikritik.

Tetapi memahami bukan berarti tidak terluka.

Suatu malam di perpustakaan, Sabrina mencoba memberi masukan kecil:

 “Astrid, gimana kalau di bagian pesan utama kita tambahkan sedikit kisah nyata? Biar lebih menyentuh.”

Astrid menatapnya tajam.

 “Kamu ini kenapa sih? Mengapa selalu ingin mengubah idenya? Kamu tinggal kerjakan saja bagianmu!”

Beberapa mahasiswa yang duduk tidak jauh menoleh. Sabrina merasa wajahnya panas. Ia mengepalkan tangan di bawah meja, mencoba menenangkan diri.

Astrid melanjutkan presentasinya tentang konsep yang ia banggakan. Sabrina hanya mengangguk, pura-pura setuju, meski hatinya perih.

Batas Kesabaran

Deadline pertama semakin dekat. Sabrina bekerja lembur untuk menyelesaikan desain poster dan video preview seperti yang Astrid minta. Ia menghabiskan dua malam tanpa tidur, menyesuaikan setiap detail instruksi.

Ketika akhirnya hasil itu ditunjukkan kepada Astrid pada sore hari di ruang rapat kecil…

Astrid menatap layar laptop itu dengan ekspresi datar. Lalu wajahnya berubah masam.

“Ini apa? Aku bilang gunakan tone yang tegas! Kenapa kamu buat jadi lembut dan sentimental? Kamu tidak paham konsepnya?!”

Nada suaranya meninggi dan beberapa teman di kelas menoleh.

Sabrina menggigit bibir. Dadanya sesak.

 “Aku mengikuti semua arahan kamu, Astrid. Aku cuma menambahkan sentuhan”

“Kamu selalu merusak! Kamu bahkan tidak bisa mengikuti instruksi sederhana.”

Itu kalimat terakhir yang Sabrina bisa terima tanpa pecah.

Dengan suara bergetar ia berkata:

 “Aku sudah berusaha sekuat mungkin. Tapi kamu tidak pernah menghargainya.”

Ia menutup laptopnya pelan, namun sudut matanya sudah basah. Sabrina berdiri dan meninggalkan ruang itu tanpa menoleh.

Astrid mematung. Ia ingin memanggil Sabrina, namun gengsi menahannya. Keheningan menelan ruangan itu.

Di sudut hatinya yang paling tertutup, Astrid tahu ia sudah berlebihan… tetapi ia tidak tahu bagaimana cara meminta maaf tanpa merasa kalah.

Retak yang Nyaris Pecah

Sejak hari itu, Sabrina menjaga jarak. Ia hanya berkomunikasi jika ada hal penting tentang tugas. Tak ada lagi tawa bersama, tak ada lagi obrolan panjang sepulang kelas.

Astrid mencoba berpura-pura tidak peduli. Namun kenyataannya, ia gelisah setiap kali Sabrina tidak menatapnya. Ia benci merasa kehilangan kendali terutama terhadap satu-satunya orang yang benar-benar ia percayai dalam hidup.

Suatu malam, Sabrina mengirim pesan singkat:

 “Aku akan fokus pada video saja. Poster kamu urus sendiri. Kita bertemu saat presentasi nanti.”Astrid membaca pesan itu berulang kali. Ada sesuatu yang menekan dadanya. Sebuah ketakutan… bahwa Sabrina tidak membutuhkan dirinya lagi.

Namun alih-alih memperbaiki, ia malah membalas:

 “Baik. Jangan sampai membuat kesalahan lagi.”

Begitu pesan terkirim, Astrid tiba-tiba menyesal. Tapi ego membuatnya tak menarik kembali kata-kata itu.

Sabrina terdiam menatap layar ponselnya. Ia merasa benar-benar lelah.

Pada malam yang sama, ia menulis dalam buku harian:

“Mengapa aku selalu berusaha memahami seseorang yang tak pernah berusaha memahami aku?”

Hari Presentasi

Aula kampus ramai dengan peserta dari berbagai kelas. Panggung besar dipasang di depan, layar lebar menampilkan setiap kelompok yang maju. Presentasi ini akan menentukan kelulusan… dan juga masa depan persahabatan mereka.

Ketika nama mereka dipanggil, Astrid melangkah yakin seperti biasa. Sabrina mengikutinya, namun dengan wajah lelah dan mata yang tampak kehilangan cahaya.

Presentasi berlangsung… tetapi keharmonisan mereka hilang.

Astrid mendominasi seluruh penjelasan. Sabrina hanya menekan tombol untuk memutar video. Poster yang dipajang adalah hasil revisi Astrid sendiri, tanpa sentuhan Sabrina.

Dosen menilai dengan seksama. Setelah presentasi selesai, ia berkomentar:

 “Konsepnya sebenarnya kuat, tapi saya tidak merasakan keharmonisan dalam pengerjaannya. Kerja tim adalah inti mata kuliah ini. Kalian tampak seperti berjalan sendiri-sendiri.”

Astrid terdiam. Tidak ada pujian. Tidak ada tepuk tangan antusias.

Untuk pertama kalinya… ia gagal menampilkan kejayaan yang ia dambakan.

Di sisi lain, Sabrina menunduk. Rasanya perih melihat proyek yang seharusnya bisa membanggakan berubah menjadi cermin retaknya persahabatan.

Setelah turun panggung, Sabrina melangkah pergi lebih dulu. Astrid hanya berdiri mematung. Ada dorongan besar untuk mengejar, namun kakinya berat oleh rasa malu dan ego yang menjerat.

Langkah Sabrina menjauh semakin lama semakin kecil hingga menghilang di balik kerumunan mahasiswa di lorong aula. Astrid masih berdiri di tempat yang sama, seolah terpaku. Sorakan dari kelompok lain yang merayakan keberhasilan mereka justru terdengar seperti ejekan di telinganya.

Di dalam diri Astrid, badai mulai mengamuk.

“Kenapa tidak memuji aku? Kenapa justru menyoroti kekompakan? Bukankah yang terpenting adalah ideku yang brilian?”

Namun bersamaan dengan itu, suara kecil yang jarang ia dengar suara jujur berbisik:

“Atau… karena kamu sudah menyakiti Sabrina?”

Astrid menepis pikiran itu. Ia benci merasa salah. Salah berarti lemah. Dan kelemahan adalah hal paling ia takuti.

Kenangan yang Mengungkap Akar Luka

Malam itu, di kamar kosnya, Astrid duduk memeluk lutut di sudut ranjang. Matanya menatap kosong pada dinding kamar yang dihiasi foto-fotonya saat memenangkan lomba. Wajahnya selalu tersenyum lebar di foto-foto itu. Selalu terlihat sempurna.

Namun kebahagiaan dalam foto itu hanyalah topeng.

Ia teringat masa kecilnya.

Ayahnya adalah seorang pengusaha yang sangat keras. Tidak ada ruang untuk kesalahan dalam keluarga. Bila nilai rapor tidak menjadi yang tertinggi, ayahnya akan mengacuhkan Astrid selama berhari-hari. Ia tumbuh dalam keheningan yang menusuk keheningan penuh kekecewaan tersirat.

 “Kalau kamu tidak bisa jadi yang terbaik, untuk apa kamu ada?”

Itu kalimat yang ia dengar sejak masih duduk di bangku SD.

Astrid kecil belajar satu hal:

cinta hanya diberikan jika ia berprestasi.

Ia mulai membangun benteng kesempurnaan, menutupi rasa takut ditolak. Ia harus sempurna. Ia harus dipuji. Ia harus menjadi pusat perhatian.

Namun semakin ia berusaha bersinar, semakin ia kehilangan kemampuan merasakan cinta yang tulus… termasuk dari satu-satunya teman yang benar-benar peduli padanya  Sabrina.

Sabrina: Sahabat yang Terluka

Di sisi lain, Sabrina berjalan sendirian menyusuri trotoar kampus sambil memeluk lengan kirinya karena angin malam terasa menusuk.

Ia berhenti di bawah lampu taman, membuka ponsel dan membaca ulang pesan terakhir dari Astrid yang menyakitkan hati.

 “Baik. Jangan sampai membuat kesalahan lagi.”

Sabrina menutup mata. Ia menghela napas dalam-dalam, tetapi air mata tetap meluncur.

Ia bukan tipe yang mudah menangis. Namun rasa sedih kali ini bukan karena kemarahan… melainkan karena kehilangan.

Ia memikirkan semua kebaikan yang pernah ia berikan pada Astrid menghibur ketika Astrid stres, memuji saat ia tampil di panggung, memahami emosinya saat orang lain tidak sanggup.

Tapi mengapa sekali saja ia membutuhkan pengertian… Astrid tidak mampu memberikannya?

Sabrina tahu tentang kondisi NPD Astrid diagnosa informal dari konselor kampus yang pernah menangani Astrid ketika ia mengalami kecemasan berat di semester lalu. Sabrina mencoba memahami. Ia membaca artikel, menonton video edukasi… semua demi mengerti Astrid.

Tapi Sabrina bukan perisai yang tak bisa pecah. Luka itu terlalu dalam.

Waktu yang Membatasi

Batas pengumpulan laporan kampanye semakin dekat. Dosen sudah memberi satu kali evaluasi lagi, dan mereka harus mengumpulkan final project tiga hari lagi.

Namun keduanya masih tidak bicara. Tidak ada pertemuan. Tidak ada revisi. Tidak ada sinergi.

Astrid mencoba mengerjakan bagiannya sendiri di kamar, tetapi pikirannya kacau. Tangan yang memegang mouse terasa berat.

Ia mencoba meyakinkan diri:

 “Aku bisa sendiri. Aku tidak butuh siapapun.”

Namun layar laptopnya tetap kosong. Kreativitasnya seolah mati.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Astrid kesulitan tanpa Sabrina.

Pertemuan dengan Konselor

Keesokan harinya, Astrid dipanggil konselor kampus. Ternyata dosen mereka yang prihatin merekomendasikan agar Astrid mendapat dukungan emosional.

Di ruang konseling yang tenang itu, konselor memulai percakapan lembut:

 “Astrid, saya dengar kamu terlihat stres akhir-akhir ini. Mau cerita?”

Astrid memalingkan wajah.

 “Saya baik-baik saja. Saya hanya ingin tugas ini sempurna.”

Konselor menatap dengan penuh empati.

 “Terkadang, keinginan untuk sempurna justru menunjukkan ketakutan untuk gagal. Boleh saya tanya, apa yang kamu rasakan saat tidak mendapat pujian kemarin?”

Astrid terdiam cukup lama. Matanya berkaca-kaca.

 “Saya… merasa tidak terlihat. Seolah semua usaha saya tidak berarti.”

 “Atau kamu merasa tidak berharga?” tanya konselor pelan.

Astrid tersentak.

Kata itu tepat menyerang bagian terdalam yang selama ini ia tutupi.

Ia mengangguk pelan, seperti mengakui sesuatu yang selalu ia sembunyikan.

 “Saya selalu takut kalau tidak menjadi yang terbaik… orang akan meninggalkan saya.”

Konselor tersenyum hangat.

 “Sabrina tidak meninggalkanmu karena kamu tidak sempurna. Ia pergi karena ia tidak merasa dihargai.”

Air mata pertama Astrid jatuh bukan karena marah, tetapi karena ia akhirnya mengerti sesuatu yang selama ini tidak ia sadari:

Selama ini ia tidak sedang melindungi dirinya dari kegagalan,

tetapi dari rasa takut tidak dicintai.

Sabrina Melihat dari Jauh

Sabrina yang hendak konsultasi tugas lain kebetulan berjalan melewati ruang konseling. Ia tak sengaja melihat Astrid di dalam, wajahnya tampak rapuh.

Sabrina terdiam sejenak.

Ia sadar… Astrid bukan tidak peduli, bukan tidak punya hati.

Astrid terluka  dan rasa sakit itu membuatnya melukai orang lain.

Sabrina menggenggam ponselnya. Dalam hati ia bergumam:

“Aku ingin memaafkanmu, Astrid. Tapi kamu juga harus belajar menghargai aku.”

Ia melangkah pergi sebelum Astrid melihatnya.

Tapi untuk pertama kalinya setelah konflik itu…

ada sedikit harapan tumbuh kembali di hati Sabrina.

Renungan Tengah Malam

Malam terakhir sebelum deadline, Astrid berdiri di depan cermin kamar kosnya. Ia menatap pantulan dirinya: riasan tipis, rambut terikat rapi, wajah yang bagi semua orang tampak sempurna.

Namun bagi dirinya sendiri…

ia hanya melihat anak kecil yang kesepian.

Ia mengambil ponsel. Tangannya gemetar.

Layar menampilkan nama yang paling ingin ia hubungi: Sabrina.

Astrid menekan ikon pesan.

Butuh waktu lama sebelum ia mengetik…

 “Sab… aku butuh kamu. Bukan untuk tugas ini saja. Aku… takut kamu pergi.”

Ia menghapus. Terlalu jujur. Terlalu rentan.

Dicobanya lagi:

 “Aku ingin bicara. Maaf jika aku sudah menyakiti kamu.”

Ia hampir kirim  tapi ragu lagi.

Setelah berkali-kali mengganti kalimat, akhirnya ia kirim pesan sederhana:

“Bisa kita ketemu besok?”

Astrid meletakkan ponsel dengan hati berdebar.

Untuk pertama kalinya dalam hidup…

ia memilih meminta, bukan menuntut.

Dan langkah itu, kecil namun berat, adalah titik awal perubahan.

Keesokan paginya, langit mendung seolah mencerminkan hati kedua mahasiswi itu. Astrid menunggu Sabrina di taman kampus. Tempat itu dulu sering menjadi lokasi mereka tertawa dan makan bekal bersama. Kini, suasananya terasa canggung dan sunyi.

Langkah ringan Sabrina terdengar mendekat. Ia datang, tapi wajahnya menunjukkan keraguan. Tidak ada senyum yang biasanya selalu hadir.

Astrid berdiri. Tangannya saling menggenggam gelisah.

 “Terima kasih… kamu mau datang.”

Sabrina hanya mengangguk, menunggu. Ia tidak ingin memulai pembicaraan kali ini, Astrid yang harus berbicara.

Astrid menarik napas panjang. Kata-kata yang sudah ia susun di kepala tiba-tiba terasa membeku.

 “Sab… aku sadar aku sudah menyakitimu. Aku terlalu memikirkan diriku sendiri.”

Sabrina menatap lurus, namun hatinya bergetar mendengar permintaan maaf itu.

 “Kamu tidak hanya memikirkan dirimu, Astrid. Kamu mengabaikan aku.”

Astrid menunduk.

 “Aku tahu. Dan aku minta maaf…”

Tapi Sabrina belum selesai.

 “Aku selalu berusaha mengerti kamu. Aku tahu kamu terindikasi NPD, aku tahu kamu sering merasa tidak cukup baik. Tapi itu bukan alasan kamu membuatku merasa tidak berarti.”

Kalimat itu menghantam seperti petir. Astrid memejamkan mata.

 “Aku… takut kalau tidak sempurna, semua orang akan pergi.”

Sabrina melembut.

Akhirnya ia mendengar kebenaran yang selama ini tersembunyi.

“Aku tidak akan pergi karena kamu tidak sempurna. Aku hanya pergi ketika kamu mengusirku dengan ucapan dan perlakuanmu.”

Astrid mulai menangis. Tidak seperti biasanya air mata itu bukan karena marah atau tertekan penilaian orang… tapi karena ia sadar ia hampir kehilangan orang yang mencintainya tanpa syarat.

Flashback: Awal Pertemanan

Sabrina tersenyum tipis ketika kenangan itu melintas:

Hari pertama mereka kerja kelompok di semester tiga. Astrid panik karena lupa membawa file presentasi. Semua anggota marah. Hanya Sabrina yang membelanya.

 “Tidak apa-apa. Kita kerjakan ulang sama-sama.”

Astrid teringat bagaimana Sabrina menemaninya hingga larut malam, bahkan membelikannya kopi dan menyuruhnya istirahat sebentar.c

Malam itu Astrid berkata pelan:

 “Kenapa kamu begitu peduli sama aku?”

Sabrina menjawab sambil tersenyum:

 “Karena kamu terlihat sendirian.”

Dan sejak itu, mereka tak terpisahkan.

Kembali ke masa kini, Sabrina menyeka air mata yang mulai muncul.

“Aku merindukan Astrid yang dulu  yang bisa tertawa bersamaku tanpa harus menjadi sempurna.”

Astrid mengangguk, suaranya lirih.

“Aku juga merindukan diriku yang dulu… sebelum semua ini terasa seperti lomba.”

Drama yang Tak Terduga

Saat momen itu mulai mencair, beberapa teman sekelas datang menghampiri.

 “Eh, kalian jadi baikan nih?”

“Kemarin kayak musuhan banget ya.”

“Si Astrid sampai marah-marah gitu.”

Komentar itu menusuk, mengaduk rasa malu dalam diri Astrid. Ia merasa dipandang buruk. Pandangan yang selama ini selalu ia hindari.

Astrid ingin marah… namun ia menahan diri. Ia ingat apa yang konselor katakan:

“Kamu tidak harus selalu mempertahankan citra sempurna.”

Dengan suara tenang ia berkata:

“Aku memang salah. Aku sudah memperlakukan Sabrina tidak adil.”

Mata teman-temannya melebar kaget. Mereka belum pernah mendengar Astrid mengakui kesalahan apalagi di depan orang lain.

Sabrina menatapnya dengan kagum… dan harapan kecil itu tumbuh lebih besar.

Berjalan ke Ruang Konseling  Bersama

Sabrina mengambil keputusan yang berani.

“Kalau kamu sungguh ingin memperbaiki ini, maukah kamu bicara dengan konselor bersama aku? Bukan untuk membahas tugas… tapi hubungan kita.”

Astrid terdiam. Ada suara ego yang berteriak dalam hati:

“Tidak! Kamu tidak boleh terlihat salah!”

Namun untuk pertama kalinya…

suara itu tidak menang.

 “Aku mau. Aku ingin belajar berubah.”

Sabrina tersenyum. Senyum yang sudah lama tidak terlihat. Senyum yang membuat dunia Astrid terasa aman.

Mereka berjalan berdampingan menuju ruang konseling. Tidak sedekat dulu, tapi juga tidak sejauh kemarin.

Pengakuan yang Sulit

Di depan konselor, Astrid berkata dengan penuh perjuangan:

 “Saya tahu… saya sering menyakiti Sabrina. Saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya takut kalau saya tidak terlihat hebat, dia tidak akan menganggap saya penting.”

Sabrina menatapnya, matanya hangat namun berkaca-kaca.

Konselor bertanya:

 “Sabrina, apa yang kamu rasakan mendengar itu?”

Sabrina menjawab pelan namun tegas:

 “Aku sayang padamu sebagai sahabat. Aku tidak butuh kamu sempurna. Aku hanya ingin kamu melihat aku… sebagai seseorang yang juga berarti.”

Astrid menutup wajah dengan tangan. Ia menangis lagi  tangis berat yang akhirnya melepaskan beban bertahun-tahun.

Konselor tersenyum bijak.

 “Persahabatan kalian berharga. Tapi untuk menjaganya, kalian berdua harus berusaha: Astrid belajar menghargai, Sabrina belajar memberi batas.”

Mereka saling menatap  diam-diam membuat janji bahwa hubungan ini pantas diperjuangkan.

Tiga Hari Menuju Deadline Baru

Dosen memberi kesempatan revisi final project  tambahan waktu tiga hari. Kesempatan kedua yang tidak akan mereka sia-siakan.

Astrid dan Sabrina kembali duduk di meja kerja yang sama. Kali ini, Astrid benar-benar mendengarkan.

“Menurutmu warna apa yang cocok, Sab?”

 “Bagaimana kalau kita gunakan perpaduan ungu dan putih? Itu memberi nuansa empati dan harapan.”

“Aku suka. Terima kasih.”

Astrid berkata tulus. Sabrina tersenyum bukan karena dipuji, tapi karena Astrid belajar menghormati.

Mereka bekerja dengan ritme baru: Astrid tetap dengan ambisinya yang menggebu,

Sabrina tetap dengan kelembutannya yang mendukung 

tetapi kini ada saling dukung, bukan saling tekan.

Tugas itu bukan lagi tentang menjadi yang terbaik di mata semua orang,

tapi menjadi yang terbaik bagi satu sama lain.

Sejak pertemuan dengan dosen pembimbing itu, hubungan Astrid dan Sabrina semakin renggang. Mereka lalu dibagi tugas untuk menyelesaikan bagian masing-masing sebelum kembali bertemu dalam rapat kelompok berikutnya.

Namun, setiap kali Sabrina mencoba berkomunikasi, Astrid selalu membalas dengan nada menggurui. Bahkan pada satu kesempatan, ketika Sabrina berusaha memberikan revisi yang dosen sarankan, Astrid membalas dengan pesan panjang yang terdengar seperti ceramah.

 “Aku ini berusaha menjaga nama baik kita. Kamu tuh jangan asal koreksi. Kamu nggak ngerti standar kualitas skripsi sebagus aku.”

Sabrina membaca pesan itu sambil mengepalkan tangan. Emosinya mengaduk, antara marah dan kecewa. Ia mencoba menarik napas panjang.

“Astrid memang suka begitu,” katanya pada dirinya sendiri. “Dia nggak sadar kalau dia menyakiti orang.”

Tapi Sabrina adalah Sabrina ia selalu mencari pembenaran atas perilaku orang lain. Ia terlalu baik untuk membalas kasar.

Sementara itu, di balik layar, Astrid sibuk membangun pencitraan tentang perannya di kelompok itu. Di depan teman-teman, ia sering mengatakan:

 “Aku yang paling banyak kontribusi. Kalau bukan aku, entah jadi apa penelitian ini.”

Ucapan-ucapan itu menyebar cepat. Mereka yang hanya melihat permukaan tentu percaya. Astrid selalu terdengar yakin, selalu tampil lebih unggul. Itulah yang ia kuasai: mengendalikan persepsi.

Namun Sabrina? Ia hanya diam. Ia tahu membantah hanya akan terlihat seperti membela diri. Dan ia bukan tipe orang yang ingin drama.

Tetapi diam pun membuatnya tersiksa.

Pada suatu malam, Sabrina menatap dirinya di cermin.

“Kenapa aku terus-terusan membiarkan Astrid memperlakukan aku seperti ini?” gumamnya pelan.

Air matanya jatuh. Ia tak menyangka persahabatan yang selama ini ia jaga begitu tulus, justru melukai hatinya sedalam itu.

Apakah selama ini aku hanya alat bagi Astrid?

Pertanyaan itu menancap seperti duri di hati. Ia mencoba memejamkan mata, berharap tidurnya bisa meredam semua emosi itu.

Namun, saat ponselnya berbunyi, ia melihat ada notifikasi dari grup mereka.

Astrid:

 “Sabrin, bagianmu jelek banget. Aku udah revisi besar-besaran ya. Jujur malu kalau ini sampai dibaca dosen. Next time belajar dulu!”

Sabrina terdiam. Tangannya gemetar.

Itu bukan rumah untuk berdiskusi. Itu adalah serangan.

Kali ini Sabrina tidak langsung membalas. Ia tahu kalau ia sedang marah, jawabannya akan menyakitkan dirinya sendiri. Dia justru meletakkan ponsel, lalu memeluk dirinya sendiri.

“Cukup,” katanya lirih. “Aku harus bicara.”

Keesokan harinya di kampus, Sabrina menunggu Astrid di taman kecil dekat perpustakaan. Ia tahu Astrid pasti lewat situ sepulang kelas.

Tak lama, Astrid datang dengan langkah percaya diri seperti biasa, earphone terpasang, dan wajah tanpa rasa bersalah.

“Astrid, bisa sebentar?” panggil Sabrina.

Astrid melepas earphone, menatap Sabrina cepat, dan tersenyum pura-pura hangat.

“Oh, Sab! Ada apa? Terkait bagianmu? Aku harap kamu nggak tersinggung ya… aku cuma mau yang terbaik,” katanya dengan nada manis namun menusuk.

Sabrina menatapnya lurus-lurus. “Kita perlu bicara. Serius.”

Astrid terkekeh kecil, seolah itu drama ringan.

“Okay, spill.”

Dan Sabrina pun membuka semuanya.

“Aku selalu berusaha respect sama kamu. Tapi kamu sering meremehkan. Kamu bikin aku nggak dianggap. Aku capek terus disalahkan dan kamu seolah paling benar.”

Astrid berkedip, wajahnya perlahan berubah. Tatapannya menjadi dingin.

“Heh?” responnya singkat, terasa mengintimidasi. “Jadi kamu mau nyalahin aku? Kamu tuh bisa sejauh ini karena aku! Kalau bukan aku yang nge-lead, kamu cuma jadi beban.”

Sabrina terhenyak. Hatinya seperti diremas.

Namun kali ini ia memaksa dirinya bertahan.

“Mungkin dari awal aku salah paham,” katanya dengan suara bergetar. “Aku kira kamu teman. Bukan seseorang yang harus selalu aku puja.”

Mata Astrid melebar. Itu adalah pukulan pada ego yang selama ini ia lindungi mati-matian.

“Kamu… tidak tahu apa-apa tentang aku,” gumam Astrid, nadanya tiba-tiba rendah dan tajam. “Aku bisa jauh lebih besar dari ini. Kamu hanya… kecil.”

Untuk pertama kalinya, Sabrina menyadari:

Astrid tak akan pernah mengaku salah.

Karena bagi Astrid, kesalahan artinya ia tidak sempurna.

Dan itu hal yang paling ia takuti.

Setelah percakapan itu, Sabrina pergi meninggalkan Astrid. Langkahnya terasa berat, tetapi ada beban yang justru terangkat dari dadanya. Ia akhirnya berani berkata jujur untuk dirinya sendiri.

Sementara Astrid hanya berdiri kaku, rahangnya menegang.

Ia ingin marah. Ia ingin meneriakkan sesuatu. Ia ingin Sabrina kembali minta maaf seperti biasanya.

Namun Sabrina tidak menoleh lagi.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Astrid merasa ditinggalkan.

Dan itu… membuatnya takut.

Tapi ketakutan itu ia bungkus dalam kemarahan. Dalam pikirannya, ia berkata:

 “Kalau dia pergi, aku yang harus tetap terlihat menang.”

Dan konflik itu baru saja mulai.

Sehari setelah konfrontasi itu, suasana dalam kelompok terasa sangat berbeda. Sabrina memilih untuk bersikap profesional saja di chat grup. Ia hanya mengirim apa yang harus ia kerjakan dan tidak lebih.

Teman kelompok lain, seperti Rina dan Dini, mulai menyadari perubahan itu.

“Kenapa Sab jadi dingin banget ya? Biasanya dia yang paling aktif,” bisik Rina pada Dini di kantin.

Dini melirik Astrid yang sedang duduk tak jauh dari mereka, sibuk bercerita tentang betapa capeknya ia karena harus menyempurnakan tugas orang lain.

“Aku sih rasa ada sesuatu antara dia sama Sabrina,” jawab Dini pelan. “Tapi Astrid itu… kalau ada apa-apa, pasti dia nyalahin orang lain dulu.”

Mereka saling pandang, seperti mulai mengerti pola yang selama ini tidak terlihat.

Sementara itu, di kamar asrama, Astrid duduk sendirian. Ia menatap layar laptop yang terbuka pada halaman skripsi mereka. Namun pikirannya bukan pada penelitian itu, melainkan pada kata-kata Sabrina kemarin:

“Aku kira kamu teman.”

Kata “teman” menggema berulang-ulang dalam benaknya.

Astrid merasakan perasaan tidak nyaman. Emosi yang samar, seperti cemas. Ia membenci perasaan itu.

“Dia harusnya nggak ngomong kayak gitu,” gumamnya. “Aku sudah bantu dia. Aku yang bikin dia terlihat bagus.”

Ia menghela napas kasar.

Ia ingin menyalahkan Sabrina lagi.

Namun jauh di dasar hati yang tak pernah ia sentuh…

…ada suara kecil yang berkata: “Aku takut kehilangan dia.”

Astrid segera menepis suara itu. Ia menegakkan tubuhnya dan mengangkat dagu. Kerapuhan tidak boleh ada dalam kamus hidupnya.

“Kalau Sabrina mau menjauh, biar aja,” katanya dingin. “Masih banyak yang butuh aku.”

Namun, tangan yang memegang mouse sedikit gemetar.

Kelompok Mulai Retak

Hari presentasi pra-ujian proyek tiba. Mereka harus berdiri bersama, menjelaskan metodologi dan progres penelitian. Dosen yang mereka hadapi adalah Bu Alma dosen yang tegas namun adil.

Sabrina mempresentasikan bagiannya dengan suara tenang namun mantap. Ia mungkin terluka secara emosional, tapi profesionalitas tetap ia jaga.

Astrid, seperti biasa, mengambil alih bagian yang paling menonjol. Kata-katanya mengalir lancar, penuh percaya diri.

Namun di tengah presentasi, Bu Alma mengernyit.

“Astrid, kenapa data pada bagianmu tidak sesuai dengan rumusan yang ditulis Sabrina di bab metodologi?”

Astrid terdiam sepersekian detik reaksi langka. Sabrina menatap ke arah slide, menyadari ada bagian yang berubah dari kesepakatan awal.

Dengan tenang ia berkata, “Bu, seharusnya data ini dikorelasikan sesuai rancangan awal. Tapi mungkin ada perubahan yang saya tidak tahu.”

Bu Alma mengangguk. “Kalau begitu, kelompok kalian perlu menyamakan pemahaman ulang. Jangan sampai terlihat tidak konsisten di ujian akhir.”

Astrid tersenyum kaku. “Iya, Bu. Maaf.”

Setelah presentasi selesai dan mereka keluar ruangan, Astrid langsung menatap Sabrina dengan tajam.

“Kamu sengaja ya biar aku keliatan salah! Kamu pasti mau balas dendam!”

Sabrina menghela napas. “Aku cuma jujur dengan apa yang aku tahu. Kamu yang ngubah data tanpa bilang.”

Astrid akan membalas lebih tajam lagi, tapi tiba-tiba…

Rina, yang biasanya pendiam, angkat bicara: “Astrid, kamu emang sering ambil keputusan sendiri. Kita semua pernah merasa kamu terlalu dominan.”

Astrid menatapnya tak percaya.

“Kalian… melawan aku sekarang? Kalian pikir kalian bisa apa tanpa aku?!”

Nada suaranya pecah, terdengar bukan kuat melainkan putus asa.

Pecahnya “Topeng”

Emosi Astrid yang meledak itu membuat beberapa mahasiswa lain menatap ke arah mereka. Astrid sadar ia baru menunjukkan sisi dirinya yang sebenarnya bukan citra sempurna yang selalu ia banggakan.

Ia mundur beberapa langkah. Nafasnya tercekat.

Rasanya seperti seluruh dunia berbalik menyerangnya.

Sabrina mendekat perlahan, suaranya lembut namun tegas:

“Astrid, kita nggak mau jadi musuhmu. Kita cuma ingin kamu mau bekerja sama. Bukan memimpin seperti semuanya harus sesuai keinginanmu.”

Astrid menggigit bibir. Kata-kata itu menyakiti… karena benar.

Ego dalam dirinya berteriak ingin menyerang balik.

Namun perasaan lain yang jarang ia izinkan muncul mulai menetes ke permukaan…

…rasa takut

…rasa tidak cukup

…rasa kehilangan

Ia tiba-tiba berbalik dan berjalan pergi dengan cepat.

Rina hendak mengejar namun Sabrina menahan.

“Biarkan dia sendiri dulu. Dia harus menenangkan pikirannya.”

Namun Sabrina tahu…

Ketika seseorang dengan luka narsistik merasa terpojok, ia bisa melakukan apa saja untuk kembali merasa berkuasa.

Dan badai berikutnya mungkin lebih besar.

Astrid menghilang seharian. Ia tidak muncul di kelas, tidak membalas pesan siapapun, bahkan di grup ia hanya mengirim satu pesan singkat:

 “Aku sibuk. Bagi tugas kalian sendiri dulu.”

Rina, Dini, dan Sabrina saling pandang saat membaca pesan itu. Mereka tidak tahu harus lega atau khawatir.

Sabrina akhirnya menuliskan di catatannya:

Dia menarik diri karena merasa kalah. Astrid akan kembali dengan dua kemungkinan: lebih tenang… atau lebih agresif.

Sabrina berusaha melanjutkan pekerjaan proyek, meski pikirannya belum sepenuhnya tenang. Ia masih memikirkan pertengkaran itu kata-kata tajam yang keluar dari mulut Astrid, tatapan dingin yang membuat hatinya perih.

“Kalau selama ini dia hanya memanfaatkan aku… kenapa aku masih peduli?” gumam Sabrina lirih.

Sabrina sadar, sebagian dari dirinya masih berharap Astrid bisa berubah.

Sisi Gelap Astrid Mencari Kendali

Di kamar, Astrid memeluk lutut sambil menatap layar ponselnya. Ia berganti-ganti membuka Instagram mereka bertiga. Ia melihat foto-foto kebersamaan mereka dulu: makan es krim setelah kelas, mengerjakan tugas sampai malam, tertawa tanpa alasan jelas…

Semua itu membuat dadanya terasa sesak.

“Aku yang bikin kamu punya teman,” bisiknya, seolah berbicara pada foto Sabrina. “Kenapa kamu berani ninggalin aku?”

Air mata jatuh, tapi begitu ia menyadarinya, ia buru-buru menghapusnya.

“Tidak. Aku tidak boleh lemah,” katanya, bangkit. “Aku harus menang.”

Ia mulai menyusun rencana untuk mengembalikan kontrol.

Ia tahu satu hal: Jika ia bisa membuat orang lain memihaknya lagi, Sabrina akan jatuh sendirian.

Dan ia tahu cara memainkan opini publik.

Drama Dimulai

Keesokan harinya, muncul unggahan di Instagram Story Astrid.

Slide 1

Foto dirinya dengan laptop  wajah lelah namun tegar.

Caption:

 “Berjuang sendirian itu berat. Tapi aku nggak akan nyerah”

Slide 2

Foto revisi tugas dengan banyak coretan merah dosen.

Caption:

 “Kalau bukan aku yg kerja keras, entahlah nasib kelompok ini…”

Slide 3

Quote aesthetic:

 “Beberapa orang hadir cuma untuk jadi beban.”

Unggahan itu menyebar cepat di lingkungan kampus. Semua orang tahu kelompok mana yang sedang ia bicarakan.

Notifikasi mulai berdatangan ke Sabrina.

⬩ “Sab, kamu kenapa?”

⬩ “Kamu berantem sama Astrid ya?”

⬩ “Kok kamu nggak bantu dia?”

Sabrina terdiam membaca semua itu.

Dadanya panas. Bukan marah… tapi kecewa yang mengiris dari dalam.

Ia mendengar suara hati kecilnya lagi: Jadi selama ini… begitulah cara dia memandangku.

Rina dan Dini pun geram.

“Astrid sudah kelewatan,” kata Dini sambil mengepalkan tangan.

“Kita harus klarifikasi kalau dia terus begitu,” tambah Rina.

Namun Sabrina menggeleng.

“Tidak. Karena kalau kita ikut perang drama ini, semua makin buruk.”

Rina menghela napas. “Jadi kita biarkan dia menghancurkan nama kita?”

Sabrina menatap langit-langit kelas, seolah mencari jawaban di antara ubin putih itu.

“Aku akan bicara empat mata lagi. Ini belum boleh selesai seperti ini.”

Di Balik Dinding Kesempurnaan

Malam itu Sabrina pergi ke kamar Astrid. Pintu tertutup rapat. Sabrina mengetuk pelan.

Tok… tok… tok…

Tak ada jawaban.

Tok… tok… tok…

Hening.

Tapi Sabrina mendengar suara gesekan dari dalam: tanda Astrid tidak tertidur.

“Astrid, tolong buka. Kita perlu bicara.”

Beberapa detik kemudian, kunci pintu berbunyi. Astrid membuka sedikit celah pintu. Wajahnya dingin, namun matanya tampak lelah.

“Apa lagi?” tanyanya tanpa ekspresi.

“Aku lihat unggahanmu,” kata Sabrina lembut. “Kenapa kamu lakukan itu?”

Astrid tersenyum sinis.

“Karena kamu membuat aku terlihat buruk di depan orang. Aku hanya mengembalikan citra asliku. Yang kamu rusak.”

Sabrina menahan napas. Ia ingin marah, ingin membalas. Tapi ia tahu itu justru memberi Astrid bahan lebih banyak.

Ia menatap langsung ke mata Astrid dan berkata:

“Aku nggak mau berperang sama kamu, Astrid. Aku sayang kamu sebagai teman. Tapi kamu harus berhenti merendahkan aku untuk merasa lebih baik.”

Astrid tertawa kecil tawa yang terdengar patah.

“Kamu tidak ngerti… aku melakukan semua ini karena aku takut jadi tidak berarti.”

Suara itu lirih. Getaran rentan yang jarang Astrid biarkan muncul.

Sabrina tersentak.

Ucapan itu terasa seperti pintu rahasia yang selama ini terkunci rapat… akhirnya terbuka sedikit.

Tapi itu tidak bertahan lama.

Astrid cepat menghapus emosi itu dari wajahnya lalu berkata tajam:

“Sudahlah. Kamu sudah membuatku terlihat lemah cukup lama. Aku akan perbaiki semuanya. Tanpa kamu.”

Dan pintu tertutup kembali.

Kali ini lebih keras.

Sabrina berdiri terpaku.

Ada kebenaran yang ia rasakan:

Astrid sebenarnya sedang berteriak minta ditolong.

Tapi egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya.

Sabrina pulang dengan hati yang campur aduk: ➤ marah

➤ sedih

➤ namun tetap peduli

Ia tahu badai belum reda.

Tapi ia juga tahu badai paling kuat adalah yang terjadi di dalam diri Astrid.

Dan ia tidak ingin meninggalkan sahabatnya sendirian dalam badai itu.

Malam itu Sabrina tidak bisa tidur. Kata-kata Astrid terus bergema di kepalanya:

 “Aku takut jadi tidak berarti.”

Selama ini Sabrina mengira Astrid bersikap keras karena ingin memimpin dan terlihat sempurna. Tapi sekarang ia mulai melihat sesuatu yang berbeda:

Di balik kesombongan Astrid, ada luka lama yang belum sembuh.

Luka yang membuatnya selalu merasa harus lebih dari orang lain… supaya tidak ditinggalkan.

Sabrina mulai menyadari, Kalau aku tinggalkan dia sekarang, rasa takut itu akan benar-benar jadi nyata dalam hidupnya.

Maka Sabrina memutuskan satu hal paling sulit dalam persahabatan:

 Ia ingin bertahan, walau ia sendiri sedang terluka.

Misi Mendekati Hati yang Tertutup

Keesokan harinya, Sabrina membuat rencana kecil. Bukan untuk mempermalukan Astrid atau membuktikan dirinya benar. Tapi…

Untuk menyentuh sisi diri Astrid yang paling ia sembunyikan.

Sabrina menulis pesan pribadi yang panjang. Namun ia tidak mengirimkannya di chat. Ia mencetak pesan itu di selembar kertas lalu memasukkannya ke dalam buku favorit Astrid yang ia pinjam dulu The Art of Influence.

Isi pesannya:

Astrid…

Aku tahu kamu ingin diakui.

Aku tahu kamu ingin dihargai.

Tapi kamu tidak perlu merendahkan orang lain untuk itu.

Aku minta maaf kalau selama ini aku tidak melihat sisi rapuhmu.

Aku minta maaf kalau aku membuatmu merasa sendirian dalam kelompok.


Aku bukan musuhmu. Aku sahabatmu.


Dan aku akan tetap di sini,

meskipun kamu mendorongku pergi berkali-kali.

Sabrina

Sabrina lalu meletakkan buku itu diam-diam di depan pintu kamar Astrid. Ia mengetuk sekali… lalu pergi sebelum Astrid sempat membukanya.

Satu Surat yang Mengguncang Ego

Astrid mengambil buku itu dengan alis terangkat. Ia membuka halaman tengah dan menemukan surat itu.

Saat membaca, tangannya bergetar.

Tidak ada satu pun kalimat yang menyalahkan.

Tidak ada sindiran.

Tidak ada pembelaan diri.

Hanya… penerimaan.

Dan justru itu yang membuat benteng dalam dirinya retak.

Astrid menjatuhkan diri di lantai kamarnya.

Surat itu bergetar di genggaman.

Untuk pertama kalinya ia bertanya pada dirinya sendiri:

Kenapa Sabrina masih peduli?

Kenapa dia tidak membiarkan aku jatuh?

Selama ini… apakah dia satu-satunya yang benar-benar melihat aku?

Air mata yang ia tahan selama ini akhirnya jatuh tanpa bisa ia kontrol.

Ia menangis  bukan karena marah…

tapi karena seseorang peduli padanya lebih dari ia peduli pada dirinya sendiri.

Langkah yang Tidak Mudah

Namun menyelamatkan persahabatan… bukan berarti mengabaikan masalah.

Malam itu Sabrina menulis pesan di chat kelompok:

Sabrina:

“Besok kita rapat bertiga dulu ya. Aku ingin kita selesaikan semua dengan cara yang baik.”

Rina dan Dini menjawab setuju.

Astrid hanya membaca tanpa membalas.

Tetapi ia membaca pesan itu berulang-ulang.

Setidaknya… ia muncul di ruang chat Zoom keesokan harinya. Itu sudah langkah besar.

Wajah Astrid tampak kaku, namun matanya memerah seolah habis menangis.

Sabrina membuka pertemuan dengan suara stabil:

“Tujuan kita di sini bukan untuk menyalahkan. Tapi untuk mulai kembali… dengan cara yang lebih sehat.”

Astrid menunduk. Ia menggigit bibir, menahan rasa malu yang membakar dada.

Kemudian…

Dengan suara yang hampir tak terdengar…

“Aku… minta maaf.”l

Rina dan Dini terkejut. Sabrina tersenyum tipis  bahagia dan lega.

“Aku nggak mau kehilangan kalian,” lanjut Astrid dengan suara bergetar.

“Aku cuma… nggak tahu caranya berteman tanpa harus jadi yang paling hebat.”

Sabrina mengangguk pelan.

Ia mengulurkan tangan ke arah layar.

“Kita belajar cara itu sama-sama. Mulai dari hari ini.”

Astrid menatap tangan itu. Ia ragu sebentar… lalu tersenyum tulus untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

“Mulai dari hari ini.”

Dan untuk pertama kalinya…

Astrid memilih persahabatan daripada ego.

Hari ujian proyek akhir pun tiba. Mereka bertiga berdiri di depan kelas dengan rasa bangga yang tidak lagi ditopang oleh ego, tapi oleh kerja sama yang akhirnya tumbuh.

Astrid tidak lagi berusaha mendominasi.

Ia justru memberikan giliran pertama pada Sabrina.

Sabrina mempresentasikan bagiannya dengan percaya diri, menunjukkan perkembangan besar sejak konflik terakhir. Ketika giliran Astrid tiba, ia berbicara dengan tetap tegas, tapi lebih bijaksana. Ia bahkan menyebut kontribusi Sabrina dengan tulus di depan dosen dan penilai.

“Bagian analisis ini tidak akan tersusun sebaik ini tanpa Sabrina yang sabar memperbaiki struktur datanya bersama saya.”

Sabrina menahan senyum. Itu bukan sekadar pujian itu pengakuan.

Sesuatu yang dulu begitu sulit keluar dari mulut Astrid.

Dosen memberikan nilai yang sangat baik.

Mereka dinyatakan lulus dengan hasil terbaik di kelas.

Setelah semuanya selesai, mereka duduk bertiga di taman kampus yang dulu menjadi saksi konfrontasi mereka.

“Terima kasih…” Sabrina berkata pelan.

Astrid mengerjap. “Untuk apa?”

“Untuk… mau berubah. Itu nggak mudah.”

Astrid menghela napas. Untuk pertama kalinya, ia merasa lega menjadi dirinya apa adanya, bukan versi sempurna yang selalu ia paksakan.

“Aku masih belajar,” katanya lirih. “Aku masih takut… banyak hal. Tapi aku ingin kalian tetap ada.”

Sabrina tersenyum.

“Kamu nggak sendirian lagi.”

Astrid menatap Sabrina dengan mata berkaca-kaca.

Ia lalu memeluk sahabatnya itu, pelukan yang jujur tanpa topeng kejayaan, tanpa rasa bersaing.

Rina dan Dini menyusul, ikut memeluk. Mereka tertawa bersama dalam lingkaran kecil itu.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Astrid mengerti:

Nilai tertinggi bukan soal menjadi yang paling hebat…

tapi berani mengakui kelemahan dan tumbuh bersama orang-orang yang tulus.

Dan Sabrina pun menyadari:

Kadang, menyelamatkan orang lain… adalah cara terbaik menyembuhkan diri sendiri.

Langit sore memerah cantik. Masa kuliah mereka boleh saja berakhir…

Namun persahabatan mereka baru saja dimulai.

Persahabatan yang tidak lagi saling menjatuhkan…

melainkan saling menguatkan.


Tamat 


Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa