Ibu yang Tak Pernah Menyerah
Ibu yang Tak Pernah Menyerah
Namanya Juwariyah, seorang perempuan berusia 38 tahun, janda dengan dua orang anak. Hidupnya sederhana, bahkan kadang terasa terlalu berat untuk dijalani. Sejak suaminya meninggal dua tahun lalu, dia menjadi tulang punggung sekaligus satu-satunya sandaran bagi kedua buah hatinya Alya, 8 tahun, dan Rafi, 2 tahun.
Namun, ujian hidup seolah belum berhenti di situ.
Beberapa bulan terakhir, Rafi anak bungsunya yang baru belajar berbicara sering demam tinggi dan tampak lemas. Setelah pemeriksaan panjang, dokter memvonis bahwa Rafi mengidap penyakit berat yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.
Kabar itu menghantam hati Juwariyah seperti petir di siang bolong. Dunia seakan berhenti berputar. Tapi ia tidak punya waktu untuk larut dalam kesedihan. Ia tahu, Rafi hanya punya satu orang yang akan terus ada di sisinya: ibunya.
Setiap hari, Juwariyah duduk di samping ranjang kecil Rafi di rumah sakit. Tangannya menggenggam tangan mungil itu erat, membisikkan doa dan harapan di sela napasnya yang gemetar. Kadang ia tersenyum, menutupi lelah yang menggunung. Kadang ia menangis diam-diam di ruang tunggu, takut terlihat rapuh di depan anaknya.
Untuk menutupi biaya rumah sakit, Juwariyah menjual perhiasan peninggalan suaminya, bahkan bekerja paruh waktu membersihkan rumah orang meski tubuhnya sering tak kuat. Tapi setiap kali pulang ke kamar perawatan dan melihat senyum kecil Rafi, semua rasa sakit itu lenyap.
“Rafi harus sembuh, Nak,” bisiknya setiap malam. “Kalau ibu bisa tukar nyawa, ibu rela…”
Alya, kakak Rafi yang masih kecil, sering menggambar di selembar kertas lusuh untuk adiknya. “Ini gambar aku, ibu, dan Rafi lagi jalan-jalan kalau Rafi udah sembuh,” katanya polos. Gambar itu selalu ditempel Juwariyah di dinding kamar rawat menjadi pengingat bahwa harapan masih ada.
Hari demi hari berlalu. Kadang kondisi Rafi membaik, kadang menurun drastis. Tapi Juwariyah tak pernah pergi jauh. Ia belajar tersenyum meski hatinya retak. Ia belajar kuat karena tahu cinta seorang ibu adalah kekuatan yang tak tertandingi.
Suatu pagi, Rafi menggenggam jari ibunya sambil berbisik lirih,
“Ibu… Rafi sayang ibu…”
Air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Dalam kalimat sederhana itu, Juwariyah menemukan arti hidup yang sesungguhnya: bahwa cinta dan doa seorang ibu bisa menembus batas sakit, waktu, dan keputusasaan.
Lanjutan Kisah Juwariyah: Doa di Tengah Malam
Malam itu hujan turun perlahan di luar jendela rumah sakit. Angin membawa dingin yang menggigit, tapi di dalam kamar perawatan, Juwariyah duduk tak beranjak dari sisi Rafi. Tubuh kecil anak itu tampak lemah, napasnya terengah dengan selang oksigen di hidungnya.
Sudah seminggu Rafi belum makan dengan baik. Dokter berkata kondisinya kritis, tapi Juwariyah menolak menyerah. Ia terus memegang tangan anaknya, membisikkan ayat-ayat doa di antara isak tertahan.
“Ya Allah… kalau memang Engkau berkehendak lain, beri aku kekuatan untuk menerima. Tapi kalau Engkau masih izinkan aku melihat senyum anakku, tolong selamatkan dia…”
Tangisnya pecah, namun ia segera menyeka air mata itu. Ia tahu Rafi selalu gelisah kalau melihat ibunya menangis.
Beberapa jam berlalu. Hujan berhenti. Tiba-tiba, Rafi membuka matanya perlahan. Wajahnya pucat, tapi ada senyum kecil di bibirnya.
“Ibu…” panggilnya lirih.
Juwariyah segera mendekat.
“Iya, Nak… Ibu di sini…”
“Ibu jangan sedih, ya. Rafi capek… tapi Rafi mau tidur dulu…”
Kata-kata itu membuat hati Juwariyah bergetar hebat. Ia mencium kening anaknya, menatap wajah kecil itu lama, seolah ingin mengabadikannya di dalam ingatan.
Detik demi detik berlalu, dan perlahan napas Rafi terhenti.
Suara mesin monitor berhenti berbunyi. Dunia Juwariyah runtuh dalam sekejap. Ia menjerit, memeluk tubuh kecil itu erat-erat. Dokter dan perawat datang, tapi semuanya sudah terlambat.
Dalam pelukan ibunya, Rafi telah pergi dengan senyum di wajahnya.
Beberapa minggu kemudian, Juwariyah pulang ke rumah kecilnya bersama Alya. Setiap sudut rumah menyimpan kenangan Rafi baju mungilnya, boneka kesayangannya, dan gambar-gambar sederhana yang dulu ditempel di dinding.
Di malam yang sepi, Juwariyah sering duduk di teras, memandangi langit. Kadang ia merasa Rafi masih di sana, menatapnya dari antara bintang.
Ia tak lagi menangis setiap malam. Ia belajar menerima, meski luka itu tetap ada.
Alya memeluk ibunya dan berkata,
“Bu, Rafi sekarang sudah nggak sakit lagi, ya?”
Juwariyah tersenyum dengan mata basah.
“Iya, Nak… sekarang dia sudah bahagia di tempat yang lebih indah. Dan dia pasti bangga punya kakak dan ibu yang kuat.”
Kini, setiap kali Juwariyah melihat anak-anak kecil bermain, ia tersenyum bukan karena sedih, tapi karena ia tahu cinta tak pernah benar-benar hilang.
Rafi mungkin sudah tiada, tapi cintanya hidup di dalam setiap doa yang ia panjatkan.
Ia tak lagi merasa sendiri, karena di setiap detak jantungnya, ada nama kecil yang selalu hidup:
Rafi malaikat kecil yang mengajarkan arti ketulusan dan kekuatan seorang ibu.
Malam di rumah sakit terasa panjang. Juwariyah duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan mungil Rafi yang mulai dingin. Lampu redup, suara mesin medis berdering pelan, dan doa terus mengalir dari bibirnya tanpa henti.
Sudah berhari-hari ia tak tidur. Tubuhnya lemah, matanya sembab, tapi hatinya tetap teguh.
“Ya Allah,” bisiknya pelan, “aku ikhlas kalau Engkau mau ambil Rafi… tapi kalau Engkau masih ingin aku mendampinginya, tolong beri dia sedikit kekuatan. Sedikit saja…”
Air matanya jatuh ke tangan kecil itu. Lalu, entah keajaiban dari mana, Rafi menggenggam jari ibunya perlahan.
“Ibu…” suaranya pelan, serak, tapi jelas. “Rafi lapar…”
Juwariyah terkejut. Air matanya menetes lagi, kali ini bukan karena sedih, tapi karena syukur yang tak bisa ia tahan. Ia memanggil perawat, dan sejak malam itu, keadaan Rafi perlahan membaik. Dokter pun heran tubuh kecil yang sempat kehilangan tenaga kini menunjukkan tanda-tanda kehidupan baru.
Hari-hari berlalu. Setiap pagi Juwariyah duduk di sisi tempat tidur, menyuapi Rafi bubur, mengajaknya bercanda kecil. Kadang mereka bernyanyi bersama, kadang hanya diam menikmati waktu yang dulu terasa begitu menakutkan.
Alya pun sering datang membawa gambar untuk adiknya. Kali ini, gambar itu memperlihatkan tiga orang Alya, Rafi, dan ibunya tersenyum di bawah langit biru.
“Ibu, ini gambar kita kalau Rafi udah boleh pulang,” katanya ceria.
Dan benar saja, dua minggu kemudian dokter berkata, “Ibu Juwariyah, anak ibu luar biasa kuat. Kita boleh pulangkan Rafi minggu depan.”
Juwariyah terdiam, menutup wajah dengan kedua tangan, menangis lama bukan karena lemah, tapi karena doa yang tak berhenti akhirnya dijawab.
Beberapa bulan berlalu. Rafi sudah bisa berlari di halaman kecil rumah mereka. Ia sering menatap ibunya sambil tersenyum, memanggil, “Ibu… lihat! Rafi bisa lompat tinggi!”
Dan setiap kali itu terjadi, Juwariyah hanya bisa menatap langit sambil berbisik pelan,
“Terima kasih, ya Allah. Terima kasih sudah kembalikan senyum anakku.”
Di setiap langkah kecil Rafi, di setiap tawa Alya, dan di setiap hembusan napasnya, Juwariyah tahu hidup memang tak selalu mudah, tapi cinta seorang ibu bisa menembus batas apa pun.
Kini, setiap malam sebelum tidur, ia selalu berkata pada anak-anaknya:
“Kalau besok pagi matahari terbit, itu artinya Allah masih memberi kita kesempatan untuk bersyukur. Jadi, jangan pernah berhenti berdoa, ya…”
Dan di antara gelap dan terang, cinta Juwariyah terus hidup sederhana, tulus, dan abadi.
Beberapa bulan setelah keluar dari rumah sakit, hidup Juwariyah perlahan berubah. Rumah kecil mereka kini kembali berisi tawa. Rafi yang dulu lemah, kini sudah bisa berlari di halaman, memanggil ibunya sambil membawa layang-layang kecil buatan sendiri.
“Ibu, lihat! Layangan Rafi terbang tinggi!”
Juwariyah tersenyum, menatap anaknya dengan mata yang basah oleh haru.
“Iya, Nak… setinggi doa ibu waktu Rafi sakit dulu.”
Ia duduk di kursi bambu tua di teras rumahnya. Di sampingnya, Alya menggambar pemandangan gambar sederhana tiga orang yang bergandengan tangan di bawah matahari. Di atasnya tertulis tulisan tangan kecil:
“Aku, Ibu, dan Rafi keluarga kecil yang kuat.”
Hati Juwariyah bergetar membaca tulisan itu. Semua luka, lelah, dan air mata yang dulu terasa begitu berat kini berubah menjadi cahaya cahaya dari kasih sayang dan keteguhan hatinya sendiri.
Malam itu, sebelum tidur, ia memeluk kedua anaknya erat-erat.
“Dulu Ibu sempat takut kehilangan kalian,” ucapnya lirih, “tapi sekarang Ibu tahu, selama kita saling mencintai dan berdoa, kita nggak akan pernah benar-benar kehilangan apa pun.”
Alya menatap ibunya dan berkata,
“Ibu kuat banget. Aku mau jadi seperti Ibu kalau besar nanti.”
Juwariyah tersenyum sambil mengelus rambut anaknya.
“Ibu kuat bukan karena Ibu nggak pernah jatuh, Nak… tapi karena Ibu selalu punya alasan untuk bangkit lagi. Kalian berdua adalah alasannya.”
Di luar jendela, bintang-bintang berkelip lembut, seolah ikut tersenyum pada perjuangan seorang ibu yang tak pernah menyerah.
Dan malam itu, Juwariyah menutup mata dengan tenang bukan karena lelah, tapi karena akhirnya ia bisa beristirahat di dalam kedamaian doa yang terkabul.
Tamat