Cinta di Ujung Senja


Cinta di Ujung Senja


Bab 1 – Pulang ke Asal


Hidup di kota besar tidak selalu berarti bahagia.

Bagi Rafa Aditya, usia tiga puluh tahun, semua pencapaiannya terasa hampa. Ia bekerja sebagai manajer proyek di perusahaan konstruksi ternama di Jakarta. Gajinya besar, mobil ada, rumah pun sudah dibeli dengan hasil jerih payah sendiri. Namun, setiap malam, saat lampu-lampu kota berkelap-kelip, selalu ada ruang kosong dalam dadanya yang tak terisi  kesepian.


Suatu sore, setelah lelah dengan rutinitas, Rafa menatap jendela apartemennya yang menghadap ke jalan raya. Mobil berlalu-lalang, klakson bersahutan. “Untuk apa semua ini?” gumamnya pelan. Ia rindu sesuatu yang tak bisa dijelaskan mungkin ketenangan, atau mungkin kenangan masa kecil.


Beberapa hari kemudian, tanpa banyak pikir, ia memutuskan untuk pulang ke kampung halaman ayahnya di Jawa Tengah, desa yang sudah hampir sepuluh tahun tidak ia kunjungi sejak ayahnya meninggal. Ia hanya membawa satu koper kecil dan niat untuk “menenangkan diri”.


Bab 2 – Pertemuan di Tepi Sungai


Udara desa terasa segar. Suara ayam berkokok dan aroma tanah basah membuat Rafa merasa seperti kembali ke masa kecil. Ia menginap di rumah peninggalan almarhum ayahnya, rumah joglo yang sudah agak lapuk tapi masih berdiri kokoh di pinggir sawah.


Sore hari, Rafa berjalan-jalan menyusuri jalan setapak menuju sungai. Dari kejauhan, terdengar suara tawa ringan. Ia melihat seorang perempuan sedang mencuci pakaian di tepi sungai. Rambut hitamnya terurai, sebagian menutupi wajah. Cahaya sore menyorot wajahnya yang polos tapi memancarkan pesona alami.


Perempuan itu menoleh saat Rafa melangkah mendekat.

“Mas dari kota, ya?” tanyanya lembut, sedikit tersenyum.


Rafa mengangguk kikuk. “Iya, aku… baru datang. Rumahku di ujung sana.”


“Oh, rumah joglo itu ya? Dulu waktu kecil aku sering main di situ sama teman-teman.” Ia tersenyum manis. “Aku Laras.”


Nama itu langsung melekat di hati Rafa. Laras.

Nama yang seindah senyumnya.


Bab 3 – Pesona yang Tak Disengaja


Hari-hari berikutnya, Rafa mulai sering keluar rumah. Ia pura-pura membantu warga memperbaiki jalan desa, sekadar ingin melihat Laras lewat. Kadang ia duduk di warung kopi Mak Rini hanya untuk mendengar kabar tentang gadis itu.


“Laras itu anaknya baik, Mas. Ibu bapaknya sudah meninggal. Sekarang dia ngajar anak-anak kecil ngaji sama baca di rumahnya. Orangnya sabar, pinter, dan disukai warga,” kata Mak Rini sambil menyiapkan kopi.


Rafa hanya mengangguk, menahan senyum. Dalam hatinya tumbuh perasaan aneh yang lama tidak ia rasakan rasa kagum yang tulus.


Suatu sore, ia melihat Laras menuntun sepeda tua sambil membawa sayur dan beras di keranjang belakang. “Laras! Mau ke mana?” sapa Rafa.


“Oh, Mas Rafa,” sahutnya ramah. “Ini mau ke rumah Bu Wati, nitip sayur. Sekalian mau ngajar anak-anak ngaji nanti sore.”


“Aku antar aja, boleh?” tanya Rafa cepat.


Laras tersenyum malu, tapi mengangguk. “Boleh, asal Mas nggak keberatan.”


Di sepanjang jalan, mereka berbincang ringan. Tentang desa, tentang anak-anak yang diajar Laras, tentang kehidupan sederhana. Rafa merasa tenang mendengarnya, seperti semua tekanan kota hilang begitu saja.


Bab 4 – Rasa yang Tumbuh Diam-Diam


Hari berganti minggu. Rafa semakin akrab dengan Laras. Kadang ia membantu menambal atap rumahnya yang bocor, kadang ikut menemani mengajar anak-anak di sore hari. Warga mulai memperhatikan kedekatan mereka.


“Mas Rafa itu orang kota, Laras. Hati-hati, jangan terlalu berharap,” ujar salah satu tetangga dengan nada sinis.

Laras hanya tersenyum. “Saya nggak mikir sejauh itu, Bu. Kami cuma teman.”


Tapi dalam hatinya, Laras tahu bahwa perasaan itu tumbuh. Ia tak pernah merasakan kedekatan seperti ini dengan siapa pun. Rafa bukan hanya tampan dan berpendidikan, tapi juga sopan, santun, dan tak gengsi membantu warga.


Suatu sore, mereka duduk di tepi sawah menyaksikan matahari tenggelam.

“Mas nggak bosan di desa sekecil ini?” tanya Laras pelan.


“Tidak,” jawab Rafa lirih. “Di sini aku menemukan hal yang selama ini kucari. Ketulusan.”


Laras menatapnya, dan untuk sesaat waktu seakan berhenti. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma padi yang mulai menguning. Di dada keduanya, sesuatu bergetar  perasaan yang tak lagi bisa disembunyikan.


Bab 5 – Antara Hati dan Takdir


Malam itu, Rafa tak bisa tidur. Ia duduk di beranda rumah sambil menatap langit penuh bintang. Di tangannya ada cangkir teh hangat, tapi pikirannya melayang pada Laras. Ia tahu dirinya jatuh cinta.


Keesokan harinya, ia memberanikan diri untuk datang ke rumah Laras. Rumah kayu sederhana itu penuh suara anak-anak yang sedang belajar. Setelah mereka pulang, Rafa duduk di kursi bambu sambil menatap Laras yang sibuk merapikan buku.


“Laras,” ucapnya akhirnya, “aku ingin bicara serius.”


Laras berhenti, menatapnya penuh tanya.


“Aku… ingin mengenalmu lebih dalam. Aku tahu ini mungkin terdengar tiba-tiba, tapi aku sungguh-sungguh. Aku ingin serius denganmu.”


Laras menunduk. Wajahnya memerah, tapi matanya berkaca. “Mas, aku cuma perempuan desa biasa. Aku nggak punya apa-apa. Dunia kita beda…”


“Justru karena itu aku ingin kamu di hidupku. Kamu sederhana, tapi tulus. Kamu membuatku merasa hidup.”


Hening sejenak. Hanya suara jangkrik malam menemani. Laras menunduk, menahan debar di dadanya.

“Mas… beri aku waktu.”


Bab 6 – Ujian Jarak dan Waktu


Beberapa minggu setelah itu, kebahagiaan mereka diuji. Rafa mendapat panggilan dari kantornya: promosi besar-besaran menunggu, tapi syaratnya  ia harus pindah ke luar negeri selama dua tahun.


Rafa gelisah. Ia tak ingin meninggalkan Laras, tapi masa depan kariernya juga penting. Laras, meski hatinya perih, berusaha kuat.


“Mas, pergi saja. Ini kesempatan besar,” katanya dengan mata berkaca. “Aku di sini akan baik-baik saja. Kalau jodoh, insya Allah kita akan dipertemukan lagi.”


Rafa menggenggam tangannya erat. “Aku akan kembali, Laras. Janji.”


Hari kepergian Rafa tiba. Laras datang ke terminal, membawa bekal nasi bungkus dan senyum yang dipaksakan. “Jaga diri, Mas,” ucapnya pelan.

Rafa hanya bisa membalas dengan pelukan yang singkat tapi penuh makna.


Bus melaju, meninggalkan desa. Di kaca belakang, Rafa melihat sosok Laras semakin mengecil, tapi wajahnya terpatri di hati


Bab 7 – Dua Tahun Penantian


Waktu berjalan lambat bagi Laras. Dua tahun terasa seperti dua puluh. Setiap pagi ia masih pergi ke sungai, tempat pertama kali bertemu Rafa. Setiap sore, ia masih menatap jalan setapak berharap melihat mobil datang membawa kabar.


Banyak lelaki datang melamar  pedagang, guru, bahkan perangkat desa. Tapi semua ia tolak dengan halus. “Maaf, saya belum siap,” selalu jawabnya.


Sementara itu, Rafa di luar negeri bekerja keras. Tapi di sela kesibukannya, ia selalu menulis surat untuk Laras. Sayangnya, karena keterbatasan alamat desa yang terpencil, banyak surat tak pernah sampai. Ia pun akhirnya hanya bisa berharap doa.


Bab 8 – Pulang untuk Cinta


Dua tahun kemudian, Rafa benar-benar menepati janjinya. Ia kembali ke Indonesia, langsung menuju desa tanpa memberi kabar. Jalan desa masih sama, sawah masih hijau, sungai masih beriak. Tapi di hatinya, hanya ada satu tujuan: rumah Laras.


Ia tiba saat pagi menjelang panen. Warga sibuk di sawah, termasuk Laras yang sedang membantu menjemur padi. Rafa berhenti di pinggir jalan, menatapnya lama. Laras menoleh, dan seolah waktu berhenti.


“Mas Rafa…” bisiknya tak percaya.


Rafa melangkah mendekat. “Aku pulang, Laras.”


Laras berlari menghampiri, air matanya menetes tanpa bisa dibendung.

“Aku pikir Mas sudah lupa.”

Rafa menggeleng sambil tersenyum. “Bagaimana aku bisa lupa perempuan yang membuatku tahu arti pulang?”

Ia mengeluarkan cincin kecil dari saku. “Laras, maukah kamu jadi teman hidupku selamanya?”


Laras menutup mulutnya dengan tangan, menahan tangis haru. “Mas… iya, aku mau.”


Bab 9 – Bahagia dalam Sederhana


Beberapa bulan kemudian, Rafa dan Laras menikah. Pernikahan sederhana tapi penuh kehangatan. Warga desa bersuka cita, bahkan mereka yang dulu meremehkan ikut meneteskan air mata haru.


Setelah menikah, Rafa memutuskan tinggal di desa. Ia membuka usaha pertanian modern, mengajarkan warga cara menanam padi dengan sistem hidroponik dan mesin sederhana. Desa pun perlahan makmur.


Laras tetap mengajar anak-anak. Ia kini dikenal sebagai Bu Laras, istri lelaki kota yang memilih tinggal di desa. Tapi mereka berdua hidup sederhana, tetap membaur dengan warga tanpa sombong.


Setiap sore, Rafa dan Laras duduk di tepi sawah  tempat cinta mereka tumbuh. Menatap senja, bergandengan tangan tanpa banyak bicara. Karena mereka tahu, cinta sejati tak butuh kata-kata panjang; cukup kehadiran yang tulus.


Bab 10 – Epilog: Cinta yang Kembali ke Akar


Bertahun-tahun berlalu. Desa itu kini lebih maju. Rafa dan Laras hidup bahagia bersama dua anak kecil yang ceria. Rumah mereka dipenuhi tawa dan aroma masakan Laras setiap pagi.


Kadang Rafa masih duduk di beranda, menatap sawah di kejauhan. Ia tersenyum dan berbisik, “Andai dulu aku tak pulang ke desa, mungkin aku tak akan pernah tahu arti bahagia.”


Laras menghampiri, membawa teh hangat. “Mas, kenapa senyum sendiri?”

Rafa memeluknya dari belakang. “Aku cuma bersyukur. Aku menemukan cinta yang membuatku pulang  kamu.”


Matahari perlahan tenggelam di balik gunung. Warna jingga menari di langit, sama seperti senja pertama kali mereka bertemu di tepi sungai dulu.


Di ujung senja itu, mereka tahu  cinta sejati bukan tentang siapa yang lebih tinggi atau rendah, bukan tentang kota atau desa, tapi tentang dua hati yang saling menemukan dalam kesederhanaan.


Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa