Langkah Kecil Anggun


Judul: Langkah Kecil Anggun

Di sebuah kota kecil di pinggiran Jawa Tengah, hiduplah seorang gadis bernama Anggun, 20 tahun. Sejak lulus SMA, ia bercita-cita kuliah di jurusan manajemen bisnis. Namun, keinginannya itu terasa seperti mimpi yang jauh. Ayahnya seorang buruh pabrik, ibunya berjualan kue basah di depan rumah. Penghasilan mereka hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Tapi Anggun bukan tipe yang mudah menyerah. Ia memutuskan untuk bekerja sambil menabung demi biaya kuliahnya sendiri. Berkat kegigihannya, ia diterima bekerja sebagai staf administrasi di sebuah kantor ekspedisi. Setiap pagi ia berangkat lebih awal dengan bus kota, menempuh jarak hampir satu jam, membawa bekal sederhana dari rumah.

Meski masih muda, Anggun dikenal rajin, jujur, dan sopan. Ia tak pernah mengeluh, bahkan ketika harus lembur mengejar laporan pengiriman. Sikapnya yang tenang dan penuh dedikasi membuat banyak rekan kerja menaruh hormat padanya  termasuk seseorang yang tak ia sangka: Rangga, CEO muda perusahaan ekspedisi itu.

Rangga dikenal tegas dan jarang tersenyum. Namun, di balik sikap dinginnya, ia memperhatikan cara kerja Anggun. Ia melihat bagaimana gadis itu menahan kantuk di malam hari untuk belajar materi kuliah online, atau menolak ajakan makan siang dari teman hanya karena sedang menabung untuk biaya semester.

Suatu hari, Rangga memanggil Anggun ke ruangannya.

“Anggun, saya lihat kamu selalu lembur dan nggak pernah minta uang lembur. Kenapa?” tanya Rangga sambil menatapnya dengan rasa ingin tahu.

Anggun tersenyum canggung. “Saya nggak apa-apa, Pak. Saya cuma ingin cepat menyelesaikan laporan. Lagipula saya masih belajar.”

Rangga menatapnya lebih lama. “Kamu kuliah?”

“Iya, Pak. Baru semester satu. Saya bayar sendiri dari hasil kerja di sini.”

Ada kekaguman yang tumbuh di hati Rangga. Ia teringat masa mudanya  saat ia pun berjuang keras membangun bisnis dari nol. Sejak hari itu, Rangga sering memberi Anggun semangat secara diam-diam. Ia menambahkan bonus kecil setiap kali Anggun menyelesaikan target kerja, atau memintanya ikut rapat besar agar ia belajar tentang manajemen bisnis secara langsung.

Namun, perhatian Rangga lambat laun menimbulkan desas-desus di kantor. Banyak yang iri, menganggap Anggun mendapat perlakuan istimewa. Anggun sempat merasa tertekan, tapi ia memilih diam dan terus bekerja dengan jujur. Ia tidak ingin perjuangannya ternoda oleh gosip.

Suatu malam, saat semua pegawai sudah pulang, Anggun masih di kantor, memeriksa data kiriman. Rangga yang masih bekerja di ruangannya melihat lampu meja Anggun masih menyala. Ia menghampiri.

“Kamu belum pulang juga?” tanyanya lembut.

Anggun tersenyum lelah. “Sedikit lagi, Pak. Kalau saya selesaikan malam ini, besok bisa belajar untuk ujian.”

Rangga diam sejenak, lalu berkata pelan, “Anggun, saya kagum dengan kamu. Kamu kerja keras tanpa mengeluh. Kalau kamu butuh bantuan untuk kuliah, jangan ragu bicara pada saya.”

Anggun menunduk, menahan haru. “Terima kasih, Pak. Tapi saya ingin belajar berdiri di kaki sendiri dulu. Saya ingin bisa bangga suatu hari nanti, bahwa saya sampai di sana karena usaha saya sendiri.”

Rangga tersenyum  kali ini tulus. “Kalau begitu, saya akan bantu dengan cara lain. Kamu akan saya daftarkan di program beasiswa perusahaan. Anggap saja ini hadiah untuk kerja kerasmu.”

Air mata Anggun menetes tanpa bisa ditahan. Itu bukan karena rasa cinta, tapi rasa syukur. Ia tahu, langkah kecilnya kini membuahkan hasil.

Beberapa tahun kemudian, Anggun berhasil lulus cumlaude dari universitas impiannya. Ia tetap bekerja di perusahaan yang sama  kini bukan lagi sebagai staf administrasi, melainkan asisten pribadi CEO.

Dan di sela kesibukan kantor, Rangga masih sering berkata dengan nada lembut,

“Dulu kamu bilang mau berdiri di kaki sendiri, Anggun. Sekarang kamu sudah berlari

Dua tahun berlalu sejak hari itu.

Anggun kini bukan lagi gadis lugu yang hanya duduk di balik meja administrasi. Ia sudah menjadi asisten pribadi Rangga, orang yang paling dipercaya CEO muda itu. Sikapnya tetap sama  sopan, rendah hati, dan fokus pada pekerjaan. Tapi dalam dirinya, tumbuh keyakinan baru: bahwa kerja keras dan ketulusan selalu punya jalan untuk diakui.

Setiap pagi, Anggun selalu datang paling awal, menyiapkan berkas rapat dan jadwal perjalanan bisnis Rangga. Ia hafal setiap kebiasaan bosnya: bagaimana Rangga tak suka kopi terlalu manis, bagaimana ia selalu mengetuk pena tiga kali sebelum memulai rapat penting. Semua hal kecil itu menjadi bagian dari rutinitas yang diam-diam ia nikmati.

Namun di balik profesionalisme itu, ada sesuatu yang mulai tumbuh  perasaan halus yang sulit dijelaskan.

Kadang saat Rangga berbicara padanya dengan nada lembut, atau memuji hasil kerjanya, jantung Anggun berdetak lebih cepat dari biasanya. Tapi ia tahu, ia harus menjaga jarak. Rangga adalah atasannya, dan ia tak ingin perasaan itu mengacaukan semua yang telah ia perjuangkan.

Sementara itu, Rangga pun mulai menyadari perubahan dalam dirinya.

Anggun bukan sekadar karyawan cerdas baginya. Ia seperti angin tenang yang membawa kesejukan di tengah tekanan dunia bisnis yang keras.

Rangga tak lagi sekadar mengagumi kerja kerasnya  ia mulai menyukai sosok Anggun sebagai perempuan.

Suatu sore, setelah rapat panjang, Rangga mengajak Anggun duduk di taman kecil di belakang kantor.

“Anggun,” katanya sambil menatap langit jingga, “kamu tahu nggak… kadang saya iri sama kamu.”

Anggun menoleh, heran. “Iri, Pak? Sama saya?”

“Iya. Kamu bisa bahagia dengan hal-hal kecil. Senyum kamu waktu lihat laporan selesai, atau waktu pelanggan kasih pujian… Saya kadang lupa rasanya bahagia sesederhana itu."

Anggun tersenyum lembut. “Mungkin karena saya nggak punya banyak hal, Pak. Jadi setiap hal kecil terasa berarti.”

Rangga terdiam sejenak. Kata-kata itu menancap dalam.

“Anggun…” suaranya melembut, “kalau suatu hari kamu punya mimpi baru, jangan ragu cerita sama saya. Saya ingin ada di situ  bukan sebagai atasan, tapi sebagai seseorang yang percaya pada kamu.”

Ucapan itu membuat hati Anggun bergetar. Tapi ia menahan diri. “Terima kasih, Pak Rangga. Tapi mimpi saya saat ini cuma satu: membuat orang tua saya bahagia dulu.”

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, tapi suasana di antara mereka tak lagi sama. Ada kehangatan yang tak diucapkan, ada perhatian yang terasa tanpa perlu disampaikan. Rangga mulai sering memberi Anggun kesempatan menghadiri pertemuan penting, mengajarinya cara menganalisis laporan keuangan, dan bahkan meminta pendapatnya dalam keputusan besar perusahaan.

Suatu malam, ketika lembur di kantor yang mulai sepi, Anggun tiba-tiba pingsan karena kelelahan. Rangga panik. Ia sendiri yang mengantarnya ke rumah sakit, menunggui semalaman di ruang rawat. Saat melihat Anggun tertidur lemah dengan infus di tangannya, Rangga menggenggam jemari gadis itu pelan.

“Jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri, Anggun,” bisiknya. “Kamu udah cukup berjuang. Sekarang, biar saya yang jagain kamu.”

Saat Anggun terbangun pagi harinya, ia terkejut melihat Rangga tertidur di kursi samping tempat tidurnya. Wajahnya tampak letih tapi tenang. Di dadanya terasa sesuatu yang hangat  bukan hanya rasa syukur, tapi juga sesuatu yang mulai ia sadari: cinta yang tumbuh dari perjuangan dan ketulusan.

Namun dunia tak selalu berpihak.

Sejak kabar Rangga menunggui Anggun di rumah sakit tersebar, gosip kantor kembali bergulir. Banyak yang mencibir, menyebut Anggun “naik jabatan karena pesona, bukan kemampuan.”

Anggun hancur mendengarnya. Ia tak ingin nama baik Rangga rusak karena dirinya. Maka suatu sore, ia memberanikan diri berbicara pada Rangga di ruang kerjanya.

“Pak, saya pikir… saya harus berhenti.”

Rangga menatapnya tajam. “Berhenti? Kenapa?”

“Saya nggak mau semua orang salah paham, Pak. Saya nggak mau perjuangan saya, dan kepercayaan Bapak, jadi bahan omongan.”

Rangga berdiri mendekat. “Anggun, kamu pikir saya peduli apa kata orang? Mereka nggak tahu siapa kamu sebenarnya.”

“Tapi saya peduli, Pak,” jawab Anggun lirih, menunduk. “Saya ingin berhasil karena kemampuan saya, bukan karena dibilang dekat dengan CEO.”

Hening.

Beberapa detik terasa seperti selamanya.

Rangga menarik napas panjang, menatap wajah Anggun dengan campuran kagum dan kecewa.

“Kalau begitu, lakukan apa yang kamu anggap benar. Tapi satu hal, Anggun…” katanya pelan.

“Saya akan tetap menunggu kamu  bukan sebagai karyawan, tapi sebagai seseorang yang saya percaya… dan mungkin… saya cintai.”

Air mata Anggun menetes, namun ia tersenyum. “Terima kasih, Pak Rangga. Suatu hari nanti, kalau saya sudah cukup kuat berdiri di samping Bapak… mungkin saya akan kembali.”

Beberapa bulan kemudian, Anggun benar-benar keluar dari perusahaan. Ia melanjutkan kuliahnya ke jenjang magister dengan beasiswa, sambil membangun usaha kecil di bidang logistik. Di sisi lain, Rangga terus mengembangkan perusahaannya  tapi hatinya tak pernah benar-benar lepas dari sosok gadis yang mengajarinya arti ketulusan.

Mereka berjalan di jalan masing-masing  untuk sementara.

Tapi takdir punya cara mempertemukan kembali dua hati yang tumbuh dari perjuangan yang sama. 

Empat tahun telah berlalu.

Waktu membawa banyak perubahan pada hidup Anggun. Kini ia berusia 24 tahun l lebih matang, lebih percaya diri, dan telah menjadi pemilik usaha jasa logistik kecil yang ia dirikan sendiri. Usahanya berkembang pesat, berkat kerja keras, ketekunan, dan pengalaman yang dulu ia dapat di perusahaan ekspedisi tempat Rangga bekerja.

Namun di balik senyumnya, tersisa satu ruang kosong di hatinya.

Kadang, saat melihat truk ekspedisi melintas di jalan, pikirannya melayang pada sosok Rangga  pria yang pernah ia kagumi dalam diam, yang pernah mempercayainya ketika dunia meragukan.

Sementara itu, Rangga pun berubah. Perusahaannya kini tumbuh menjadi salah satu ekspedisi terbesar di Indonesia. Ia masih muda, sukses, disegani. Tapi sejak kepergian Anggun, ada satu hal yang hilang  ketenangan.

Ia bekerja lebih keras dari siapa pun, namun setiap kali melihat kursi kosong di ruang asisten pribadinya, hatinya terasa hampa.

Sampai suatu hari, takdir kembali mempertemukan mereka.

Hari itu, Rangga menghadiri pameran logistik nasional di Jakarta.

Ia datang sebagai pembicara, membawakan materi tentang inovasi dalam industri ekspedisi. Setelah selesai memberi presentasi, seorang panitia menghampirinya.

“Pak Rangga, ada peserta pameran yang ingin memperkenalkan usaha barunya. Katanya, dulu pernah bekerja di perusahaan Bapak.”

Rangga hanya mengangguk sopan. Tapi begitu panitia menunjuk ke arah stand kecil di ujung ruangan, langkahnya terhenti.

Di sana, berdiri seorang wanita berpenampilan sederhana tapi anggun  rambut terurai rapi, mata teduh, dengan papan nama bertuliskan:

“Anggun Logistic Partner  Founder: Anggun Pramesti.”

Waktu seolah berhenti.

Rangga berjalan mendekat perlahan.

Anggun yang tengah menjelaskan produk ke pengunjung menoleh, dan matanya langsung bertemu dengan tatapan itu  tatapan yang dulu begitu ia kenal, yang hangat tapi tajam.

“Pak Rangga…” suaranya pelan, nyaris bergetar.

“Anggun.” Rangga menatapnya lama. Ada banyak hal yang ingin ia ucapkan, tapi kata-kata tak keluar. Hanya senyum kecil yang muncul di wajahnya  senyum yang memuat rindu bertahun-tahun.

Mereka akhirnya duduk di sebuah kafe kecil di dekat gedung pameran.

Hening pada awalnya, lalu Rangga mulai berbicara, suaranya lembut tapi mantap.

“Kamu benar-benar mewujudkan mimpi kamu, ya. Berdiri di kaki sendiri.”

Anggun tersenyum. “Saya cuma mengikuti jejak seseorang yang dulu mengajarkan arti kerja keras.”

Rangga menatapnya dalam. “Saya bangga padamu, Anggun. Tapi jujur… saya juga menyesal.”

“Menyesal?”

“Ya. Karena membiarkan kamu pergi waktu itu. Tapi mungkin, kalau saya menahanmu, kamu nggak akan jadi sehebat sekarang.”

Mereka tertawa kecil. Ada rasa canggung, tapi juga kehangatan yang sulit dijelaskan.

Anggun menatap luar jendela, melihat hujan yang mulai turun.

“Dulu saya takut, Pak… kalau saya tetap di sana, semua perjuangan saya akan hilang di mata orang. Tapi sekarang saya sadar, kadang pergi bukan berarti menjauh. Kadang itu cara terbaik untuk tumbuh.

Rangga mengangguk pelan. “Dan sekarang kamu sudah tumbuh… dan kembali. Mungkin kali ini, waktunya saya yang belajar dari kamu.”

Beberapa detik berlalu dalam diam.

Lalu Rangga berkata pelan tapi tegas,

“Anggun, saya nggak akan pakai kata ‘Pak’ lagi di antara kita. Karena saya nggak mau kamu merasa di bawah saya. Saya ingin berdiri sejajar  sebagai dua orang yang sama-sama berjuang.”


Anggun tertegun.

Rangga melanjutkan, suaranya rendah tapi penuh ketulusan,

“Selama ini saya sibuk membangun perusahaan, tapi kamu… kamu membangun sesuatu yang lebih besar  makna. Dan kalau kamu nggak keberatan, saya ingin membangun sesuatu bersamamu lagi. Bukan hanya kerja sama bisnis, tapi mungkin… hidup yang sama arahnya.”

Anggun menatap Rangga, matanya mulai basah.

“Pak Rangga…”

“Rangga saja,” potongnya lembut.

Air mata Anggun menetes, tapi kali ini bukan karena lelah  melainkan karena bahagia.

Empat tahun lalu, ia pergi demi menjaga harga diri. Kini ia kembali, membawa kebanggaan. Dan Rangga, pria yang dulu hanya ia kagumi dari jauh, kini mengulurkan tangan bukan sebagai bos  tapi sebagai pria yang benar-benar menghargai dirinya.

Anggun menggenggam tangan itu perlahan.

“Baik, Rangga. Kalau kita mau membangun sesuatu… mari kita mulai lagi. Tapi kali ini, berdiri sejajar.”

Rangga tersenyum senyum hangat yang dulu selalu menenangkannya.

“Setuju. Karena cinta yang tumbuh dari perjuangan… adalah cinta yang paling kuat.”

Beberapa tahun kemudian, Anggun Logistic resmi bergabung dengan jaringan perusahaan milik Rangga Group. Mereka menjadi pasangan bisnis  dan pasangan hidup.

Di balik semua kesuksesan itu, keduanya selalu mengingat satu hal:

Bahwa cinta sejati bukan tentang siapa yang lebih tinggi, tapi siapa yang tetap setia berjuang ketika hidup terasa berat.

Dan di setiap perjalanan truk yang melintasi jalan panjang, ada dua nama yang kini terukir di setiap logonya:

“Rangga & Anggun — Driven by Dedication.”

Tiga tahun setelah pertemuan mereka di pameran logistik itu, Anggun dan Rangga kini resmi menikah.

Pernikahan mereka sederhana  dihadiri keluarga, rekan kerja, dan para karyawan yang dulu pernah menyaksikan perjalanan mereka berdua dari bawah. Tidak ada kemewahan berlebihan, hanya senyum tulus dan kebahagiaan yang terasa nyata.

Sejak saat itu, kehidupan mereka berjalan dengan ritme baru.

Anggun tetap menjadi dirinya yang dulu  sederhana, pekerja keras, dan penuh kasih. Namun kini ia tak lagi berjuang sendirian. Rangga selalu ada di sampingnya, bukan sebagai atasan, tapi sebagai teman hidup yang berjalan seirama.

Setiap pagi, mereka berangkat bersama.

Kadang Rangga menyetir sendiri, sementara Anggun duduk di samping sambil memeriksa laporan. Di antara perjalanan itu, mereka sering berbagi cerita kecil  tentang masa lalu, ide bisnis baru, atau sekadar canda ringan yang membuat pagi terasa hangat.

Di rumah, Anggun tetap membantu ibunya membuat kue. Ia tak ingin kehilangan akar kehidupannya.

“Ini yang ngajarin saya sabar,” katanya suatu hari sambil mengaduk adonan. “Dulu dari jualan kue ini, saya belajar makna rezeki.”

Rangga tersenyum, memeluk dari belakang. “Dan sekarang, dari kamu saya belajar makna syukur.”

Mereka memang sukses, tapi tidak sombong.

Setiap bulan, Anggun membuka program beasiswa kecil untuk anak-anak karyawan yang ingin melanjutkan kuliah  sesuatu yang dulu ia perjuangkan dengan air mata.

Sementara Rangga, di setiap rapat besar, selalu menyebut nama Anggun sebagai inspirasi di balik langkah bisnisnya.

Namun kehidupan tidak selalu sempurna.

Ada masa di mana mereka berbeda pendapat  tentang keputusan bisnis, atau cara membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Tapi setiap kali emosi mulai meninggi, Anggun selalu mengingatkan,

“Kita dulu bisa bertahan saat sama-sama tidak punya apa-apa, Rangga. Masa sekarang, saat kita punya segalanya, kita lupa cara saling memahami?”

Rangga selalu terdiam mendengar itu. Ia tahu, Anggun bukan sekadar istrinya. Ia adalah cermin perjuangannya sendiri.

Suatu malam, setelah pulang dari perjalanan bisnis panjang, Rangga menemukan Anggun duduk di balkon, memandang langit.

“Masih suka lihat bintang?” tanya Rangga pelan sambil duduk di sampingnya.

Anggun tersenyum. “Dulu saya lihat bintang sambil berdoa, semoga hidup saya berubah. Sekarang, saya cuma ingin bilang terima kasih… karena doa itu dikabulkan.”

Rangga memandang wajahnya, lembut.

“Kalau kamu tahu, dulu setiap kali saya lihat kamu kerja lembur, saya juga berdoa. Bukan supaya kamu tetap di perusahaan, tapi supaya kamu tetap kuat, bahkan kalau itu berarti kamu harus pergi dari saya.”

Anggun menoleh, matanya basah.

“Dan ternyata doa itu benar-benar dikabulkan, ya. Kita dipertemukan lagi… di waktu yang tepat.”

Rangga menggenggam tangan istrinya erat. “Iya, di waktu yang tepat saat kita sama-sama sudah belajar arti perjuangan dan sabar.”

Malam itu mereka terdiam lama, hanya memandangi langit yang tenang.

Tidak ada kata cinta yang diucapkan, tapi keduanya tahu cinta sejati tidak selalu butuh banyak kata; cukup dibuktikan lewat ketulusan yang bertahan dalam waktu.

Beberapa tahun kemudian, nama “Rangga & Anggun Logistic Group” dikenal luas sebagai perusahaan yang sukses dan beretika.

Di setiap pelatihan karyawan baru, ada satu pesan yang selalu disampaikan Anggun sendiri:

 “Dulu saya berdiri di sini bukan karena keberuntungan, tapi karena saya tidak berhenti berjuang. Kalau kamu merasa hidupmu berat, ingat  kamu tidak harus langsung berlari. Kadang, cukup dengan melangkah pelan, asal tidak berhenti.”

Para karyawan muda menatapnya dengan kagum, tak menyangka bahwa pemimpin besar mereka dulu hanyalah seorang gadis sederhana dari keluarga pas-pasan.

Dan Rangga, yang berdiri di sampingnya, selalu menatapnya dengan bangga  wanita yang dulu ia temukan di balik meja administrasi, kini menjadi separuh dari seluruh kehidupannya.

“Langkah kecil bisa membawa ke tempat yang besar,

Asal dijalani dengan hati yang tulus.”

Beberapa tahun berlalu.

Anggun dan Rangga kini hidup damai di rumah sederhana di pinggiran kota, jauh dari hiruk pikuk kantor dan rapat-rapat besar. Mereka tak lagi mengejar angka keuntungan, melainkan ketenangan dan makna dari semua yang telah mereka capai bersama.

Pagi itu, udara terasa sejuk. Burung-burung berkicau di halaman, dan matahari menembus jendela dapur, memantul di wajah Anggun yang tengah menyiapkan teh hangat. Rambutnya kini lebih panjang, matanya tetap lembut seperti dulu  hanya saja, ada kedewasaan di sana, hasil dari perjalanan panjang yang tak selalu mudah.

Rangga datang dari teras, membawa dua cangkir kopi.

“Masih suka teh, ya?” katanya tersenyum.

Anggun menjawab dengan candaan lembut, “Kopi itu buat yang suka begadang mikirin kerjaan. Aku udah pensiun dari lembur, ingat?”

Mereka tertawa bersama.

Momen sederhana seperti itu kini jadi kebahagiaan terbesar mereka.

Setelah sarapan, mereka berjalan di halaman rumah, menatap truk-truk perusahaan yang lewat di kejauhan truk dengan logo “Rangga & Anggun Logistic” yang kini diteruskan oleh tim muda.

“Lihat itu, Rangga,” ucap Anggun lembut. “Dulu kita mulai dari satu meja kecil dan mimpi yang banyak orang anggap mustahil.”

Rangga tersenyum, menatap istrinya penuh kasih. “Iya, dan kalau bukan karena kamu, mimpi itu nggak akan hidup.”

Anggun menggeleng pelan. “Kalau bukan karena kamu percaya, aku nggak akan punya keberanian. Jadi kita sama-sama, Rangga. Dari awal sampai akhir.”

Rangga menggenggam tangannya, hangat, penuh makna.

“Mungkin itu rahasia kita, Gun… Kita nggak pernah berjalan di depan atau di belakang, tapi selalu di samping.”

Anggun menatap mata Rangga, tersenyum haru. “Langkah kita selalu seirama.”

Mereka berdiri lama, membiarkan angin pagi membawa kenangan  tentang masa-masa sulit, perjuangan, tawa, air mata, dan cinta yang tumbuh pelan-pelan tapi kuat.

Di dalam rumah, di atas meja kerja lama Anggun, masih tersimpan sebuah buku catatan kecil bertuliskan kalimat sederhana:

 “Jangan takut bermimpi, meski hidupmu pas-pasan. Karena Tuhan selalu melihat siapa yang sungguh-sungguh berjuang.”

Dan di halaman terakhir buku itu, tertulis tangan Rangga, dengan huruf miring tapi tegas:

 “Aku mencintaimu bukan karena kamu sempurna, tapi karena kamu kuat saat dunia berusaha membuatmu jatuh. Terima kasih sudah berjalan bersamaku  dari langkah pertama, sampai langkah terakhir.”

 Cinta sejati bukan tentang siapa yang paling hebat,

tapi siapa yang tetap menggenggam tanganmu

ketika kamu masih berjuang dari bawah.

TAMAT 

Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa