Keberkahan Ibu Siti Penjual Jamu


Keberkahan Ibu Siti Penjual Jamu


Di sebuah desa kecil di pinggiran kota Yogyakarta, hiduplah seorang perempuan paruh baya bernama Ibu Siti, penjual jamu keliling yang sederhana. Setiap pagi, selepas salat Subuh, ia mengayuh sepeda tuanya sambil membawa botol-botol jamu di keranjang besar di belakangnya.

“Jamu gendong... jamu beras kencur, temulawak, kunyit asem...” suaranya lembut tapi penuh semangat. Meski penghasilannya tak seberapa, Ibu Siti tak pernah mengeluh. Ia yakin, rezeki sudah diatur oleh Allah.


Namun, di balik senyum sabarnya, tersimpan satu impian besar: ingin berangkat umroh sebelum ajal menjemput. Ia sering berdoa,


 “Ya Allah, hamba ingin melihat Ka'bah, meski hanya sekali seumur hidup...”


Hari demi hari berlalu. Suatu siang, setelah lelah berkeliling menjajakan jamu, Ibu Siti berhenti di dekat taman untuk beristirahat. Saat itu matanya tertuju pada sebuah kotak sampah di tepi jalan. Ada sesuatu yang aneh segepok kertas tebal di dalam plastik bening, separuh tertutup daun kering.


Dengan hati-hati, Ibu Siti mengambilnya. Betapa terkejutnya ia saat membuka plastik itu: segepok uang seratus ribuan, jumlahnya sangat banyak!


Jantungnya berdegup kencang.


“Ya Allah... ini cobaan atau rezeki?” gumamnya pelan.

Ia tahu, uang sebanyak itu bisa membuatnya langsung umroh, bahkan membuka usaha jamu sendiri. Tapi hati kecilnya menolak untuk mengambil yang bukan haknya.


Dengan langkah gontai namun mantap, ia menuju kantor kelurahan terdekat dan menyerahkan uang tersebut. Petugas sempat terkejut dengan kejujurannya. Uang itu kemudian diumumkan melalui masjid dan media lokal, tapi berhari-hari tak ada seorang pun yang mengaku sebagai pemiliknya.


Dua minggu kemudian, pihak kelurahan menghubungi Ibu Siti. Berdasarkan aturan, karena tak ada yang mengambil, uang itu secara sah diserahkan kepada

penemunya.


Ibu Siti menangis haru. Ia sujud syukur sambil berucap,

 “Ya Allah... ini rezeki dari kejujuran.”

Sebagian uang ia gunakan untuk berangkat umroh  mewujudkan impian yang ia bawa dalam setiap doa dan kayuhan sepedanya selama bertahun-tahun. Sisanya ia pakai untuk memperbaiki rumah dan memperbesar usahanya menjual jamu. Kini, banyak pelanggan baru yang datang karena kisah kejujurannya viral di media lokal.


Di tanah suci, sambil menatap Ka'bah, Ibu Siti berbisik lirih,


 “Ternyata bukan uang di kotak sampah yang membuatku sampai ke sini, tapi kejujuran dan doa yang tak pernah putus.”

Setelah kepulangannya dari tanah suci, kehidupan Ibu Siti berubah perlahan.

Ia tak lagi hanya dikenal sebagai penjual jamu keliling, tapi juga sebagai simbol kejujuran dan keberkahan di kampungnya.

Setiap kali ia melintas, orang-orang menyapa penuh hormat,


 “Bu Siti... jamunya tambah manis sekarang, ya! Barokah Mekah, Bu!”


Ibu Siti hanya tersenyum. Dalam hatinya ia tahu, bukan jamunya yang berubah  tapi doa dan ketulusan yang menyertainya.

Beberapa bulan setelah umroh, seorang pengusaha herbal besar datang ke rumahnya. Ia mengaku terinspirasi oleh kisah kejujuran Ibu Siti yang sempat viral di media. Pengusaha itu menawarkan kerja sama untuk memasarkan jamu Ibu Siti secara lebih luas.


 “Ibu tak perlu jualan keliling lagi. Kami akan bantu kemas dan pasarkan jamu ibu secara modern,” kata sang pengusaha ramah.

“Tapi kami ingin tetap memakai nama: Jamu Ibu Siti  Berkah Kejujuran.”


Air mata menetes di pipi tuanya. Ia terharu.

Dulu, setiap hari ia hanya berharap dagangannya laku sepuluh gelas agar cukup untuk makan dan menabung sedikit. Kini, Allah membuka pintu rezeki dari arah yang sama sekali tak disangka.

Suatu sore, Ibu Siti duduk di beranda rumah barunya  rumah kecil tapi nyaman yang dibangun dari hasil kerja keras dan keberkahan rezekinya. Ia memandang foto Ka’bah yang tergantung di dinding.

 “Andai aku dulu serakah... mungkin uang itu sudah habis entah ke mana. Tapi karena jujur, Allah ganti dengan nikmat yang tak ternilai,” bisiknya lembut.

Setiap kali azan berkumandang, Ibu Siti tak pernah lupa berdoa:

 “Ya Allah, berkahilah rezeki yang halal, jaga hati ini agar tetap jujur sampai akhir.”


Kini, anak-anak muda di kampungnya sering datang untuk mendengar ceritanya. Ia selalu menutup kisahnya dengan kalimat yang sama,


 “Rezeki itu bukan yang kita temukan, tapi yang kita jaga dengan hati bersih. Kadang yang terlihat seperti sampah, justru jalan menuju surga.”


Sejak pulang dari umroh, hidup Ibu Siti benar-benar berubah.

Dulu ia berjalan di bawah terik matahari, mendorong sepeda tuanya,

menawarkan jamu dari rumah ke rumah dengan suara serak tapi penuh harap.


Sekarang, ia punya warung kecil bertuliskan:

 “Jamu Ibu Siti  Berkah Kejujuran”

Tempat itu tak pernah sepi. Orang datang bukan hanya untuk membeli jamu,

tapi untuk mencari doa dan ketulusan.


Setiap kali pelanggan datang, Ibu Siti selalu berkata,


 “Jamu ini pahit, Nak… tapi insyaAllah membawa berkah. Seperti hidup, yang kadang pahit dulu baru terasa manisnya.”


Dan di setiap gelas jamu yang ia racik,

ada doa kecil yang selalu ia bisikkan dalam hati:


“Ya Allah, semoga yang minum jamu ini sehat, dan semoga hati kami tetap jujur.”


Suatu malam, ketika hujan turun deras, Ibu Siti duduk di serambi.

Ia menatap foto dirinya di depan Ka'bah dengan senyum dan air mata yang menyatu.


 “Siapa sangka… uang di kotak sampah itu bukan ujian harta, tapi ujian hati,” katanya lirih.

“Andai dulu aku ambil tanpa izin, mungkin aku takkan pernah sampai ke rumah-Mu, ya Allah…”

Lalu ia menengadah ke langit, air hujan menetes di wajahnya,

dan ia berbisik pelan  tapi penuh makna:


 “Kejujuran itu pahit di awal, tapi manisnya bisa sampai ke tanah suci.”


Kini, setiap Subuh, suara azannya masih terdengar lembut.

Dan setiap kali ia melewati jalan tempat dulu ia menemukan uang itu,

Ibu Siti selalu menunduk sambil tersenyum,

karena di tempat yang dianggap kotor dan tak berharga,

Allah justru menanam keberkahan yang tak pernah pudar.


Sejak pulang dari tanah suci, sosok Ibu Siti menjadi buah bibir di kampungnya.

Bukan karena ia tiba-tiba kaya, tapi karena aura ketenangan dan kebersihan hatinya yang terpancar begitu kuat.


Dulu, banyak yang memandangnya sebelah mata 

“Penjual jamu keliling, bajunya lusuh, hidup pas-pasan,” kata sebagian orang.

Tapi kini, setelah kisah kejujurannya tersebar dan ia pulang dari umroh,

orang-orang mulai melihatnya dengan mata yang berbeda.


Setiap pagi, warga sering melihat Ibu Siti menyapu halaman kecil di depan rumahnya,

lalu menyeduh jamu dan membagikannya gratis untuk tetangga yang sakit atau kelelahan.


 “Rezeki ini bukan punyaku sendiri,” katanya lembut.

“Allah kasih lebih bukan untuk disimpan, tapi untuk dibagi.”


Anak-anak kecil suka memanggilnya “Mbah Jamu Umroh” dengan tawa riang,

sementara ibu-ibu sering datang meminta nasihat tentang dagangan atau rumah tangga.

Karena setiap kata Ibu Siti seperti punya ketenangan yang menyejukkan.


Suatu hari, kepala desa datang dan berkata:


 “Bu Siti, kami ingin Ibu berbagi cerita di acara pengajian kampung. Banyak yang ingin mendengar langsung kisah kejujuran Ibu.”

Awalnya Ibu Siti malu. Tapi akhirnya berdiri di depan warga dengan suara pelan dan mata berkaca-kaca.

 “Saya ini cuma penjual jamu biasa,” katanya.

“Tapi saya belajar satu hal: rezeki yang halal dan hati yang jujur itu lebih berharga dari apa pun.

Allah tak melihat besar kecilnya harta kita, tapi bersih tidaknya niat kita.”

Saat itu, banyak warga meneteskan air mata.

Mereka merasa tersentuh, karena yang berbicara bukan ustaz terkenal,

melainkan seorang perempuan sederhana yang hatinya dijaga Allah.

Sejak hari itu, kampung mereka berubah perlahan.

Orang-orang lebih berhati-hati dalam berdagang,

anak-anak muda mulai rajin salat Subuh berjamaah,

dan beberapa pedagang kecil bahkan menulis tulisan di warungnya:

 “Jujur itu barokah  Belajar dari Ibu Siti.”

Kini, setiap kali ada yang bertanya tentangnya, orang-orang kampung selalu berkata:


 “Ibu Siti itu bukan cuma penjual jamu,

tapi pelita kecil di kampung kami.

Dari kejujurannya, kami belajar arti iman yang hidup.”

Dan di setiap malam Jumat, di sudut musholla kecil dekat rumahnya,

Ibu Siti masih duduk bersila, membaca Al-Qur’an dengan suara lembut.

Wajahnya tenang, seolah hidupnya kini hanyalah satu perjalanan panjang

dari jamu, menuju surga. 

Tahun-tahun pun berlalu…

Waktu berjalan seperti aliran sungai yang tak pernah berhenti.

Usia Ibu Siti semakin menua. Rambutnya memutih, langkahnya makin pelan, tapi senyumnya tak pernah pudar.


Ia tetap berjualan jamu, meski sekarang tak lagi keliling jauh.

Warga sering datang ke rumahnya membeli,

karena kata mereka, jamu Ibu Siti bukan sekadar ramuan 

tapi obat hati yang menyembuhkan.


Suatu sore, saat adzan Asar bergema, Ibu Siti duduk di serambi rumahnya.

Ia memandang langit sambil memutar tasbih.


 “Ya Allah, hamba tak punya harta banyak. Tapi semoga sedikit kebaikan ini Engkau terima.”


Sore itu, Ibu Siti berpulang dengan damai  di atas sajadahnya,

usai menunaikan salat Asar.

Kabar kepergiannya membuat seluruh kampung berduka.


Esoknya, ratusan orang mengantarnya ke peristirahatan terakhir.

Orang-orang menangis bukan karena kehilangan seorang penjual jamu,

tapi seorang guru kehidupan yang mengajarkan arti kejujuran dan kesabaran.


Di makamnya, seorang anak kecil berbisik kepada ibunya,


 “Bu, nanti kalau aku besar, aku mau jujur kayak Mbah Siti.”

Sang ibu tersenyum sambil mengusap air matanya,

“Iya, Nak. Karena orang jujur itu, meski tubuhnya hilang, namanya tetap hidup.”

Beberapa bulan setelahnya, warga sepakat memberi nama jalan kecil di depan rumahnya:

 “Gang Siti Jamu”  sebagai tanda kenangan akan sosok yang sederhana tapi penuh makna.


Warung jamu kecilnya kini diteruskan oleh seorang cucu dari tetangganya yang dulu sering membantunya.

Di dinding warung itu tergantung sebuah tulisan yang pudar tapi masih terbaca jelas:


 “Jangan takut miskin karena jujur, takutlah kaya tapi curang.

Ibu Siti.”


Dan setiap kali angin sore berhembus di antara pohon-pohon pisang di gang kecil itu,

warga sering merasa seolah mendengar suara lembut yang dulu mereka kenal:


 “Jamu gendong… jamu beras kencur, jamu kejujuran…”

Senyap… tapi penuh makna.

Karena kisah Ibu Siti tak berakhir di tanah

ia hidup di hati semua orang yang belajar dari ketulusannya.


Tahun demi tahun berlalu sejak Ibu Siti berpulang.

Namun nama dan kisahnya tak pernah benar-benar hilang.

Setiap kali ada pengajian, setiap kali ada anak muda yang baru membuka usaha,

orang-orang tua di kampung itu selalu berkata,


“Ingatlah Ibu Siti penjual jamu. Ia miskin harta, tapi kaya hati.”


Kini, di kampung kecil itu berdiri sebuah musholla baru yang dibangun dari sumbangan warga.

Di salah satu dindingnya, tertulis dengan ukiran kayu sederhana: “Musholla Siti Barokah  Untuk mengenang perempuan jujur yang Allah muliakan.”


Di pojok musholla, ada rak kecil berisi buku dan catatan kisah inspiratif.

Salah satunya berjudul: “Dari Jamu Menuju Ka’bah.”

Buku itu ditulis oleh seorang guru sekolah dasar yang dulu sering dibelikan jamu oleh Ibu Siti saat kecil.

Ia menulis:


“Aku tumbuh bersama suara jamu kelilingnya.

Dulu aku tak paham kenapa beliau selalu berkata,

‘Nak, jangan curang, jangan ambil hak orang.’

Kini aku mengerti  kejujuran itulah yang membuatnya diundang ke rumah Allah.”


Setiap bulan Ramadhan, warga mengadakan pengajian khusus mengenang Ibu Siti.

Bukan untuk meratapi, tapi untuk meneladani.

Anak-anak kecil membaca doa, remaja menceritakan ulang kisahnya dengan gaya teatrikal,

dan para ibu menyiapkan jamu beras kencur untuk dibagikan ke semua jamaah 

sebuah tradisi yang dinamai:

 “Jamu Kejujuran Ibu Siti.”


Malam itu, setelah acara usai, kepala desa berkata pelan sambil menatap langit yang penuh bintang:

“Dulu, Ibu Siti cuma seorang penjual jamu biasa…

tapi lihatlah sekarang, beliau meninggalkan cahaya yang tak pernah padam.”

Orang-orang terdiam, menatap musholla yang berdiri kokoh di bawah rembulan.

Angin membawa aroma jamu dan wangi tanah basah.

Seolah alam pun ikut mengingat sosok yang sederhana itu.

Dan entah mengapa, setiap kali ada orang yang lewat di gang “Siti Jamu” saat menjelang senja,

mereka merasa ada hembusan lembut yang menyapa 

mengingatkan bahwa kejujuran memang tak terlihat, tapi selalu hidup di hati yang bersih.

Karena sesungguhnya, Ibu Siti tidak pernah pergi jauh…

Ia hanya berpindah dari dunia fana menuju tempat terbaik 

di sisi Allah, yang mencintai hamba-hamba jujur. 


 Tamat



Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa