Air Mata yang Menyatu Kembali
Air Mata yang Menyatu Kembali Senja itu turun perlahan di langit berwarna jingga. Hujan tipis menyapa dedaunan, menimbulkan aroma tanah yang khas. Di bangku kayu panti asuhan “Kasih Bunda”, duduk seorang gadis muda bernama Putri, 22 tahun. Wajahnya lembut, namun di balik senyum tipisnya tersimpan banyak tanda tanya tentang asal-usulnya. Ia memandangi anak-anak kecil yang berlarian di halaman, tertawa riang. Dalam hatinya ia berbisik lirih, “Andai aku tahu siapa yang dulu meninggalkanku di sini, mungkin aku bisa memahami kenapa hidupku terasa hampa meski semua terlihat baik-baik saja.” Putri dibesarkan oleh pengurus panti bernama Bu Ratna, seorang wanita paruh baya yang sangat menyayanginya seperti anak sendiri. Tapi setiap kali ada keluarga yang datang untuk mengadopsi, Putri selalu ditinggalkan. “Dia terlalu pendiam,” kata sebagian orang. “Matanya seperti menyimpan duka,” kata yang lain. Namun Bu Ratna tahu, di balik tatapan itu ada kerinduan yang tak terucap. Kerinduan akan pelu...