Runtuh,Tali Tidak Pernah Kalah


Runtuh, Tapi Tidak Pernah Kalah


Di sebuah kota kecil bernama Naruangin, di pinggiran jalan pasar malam, berdirilah sebuah gerobak martabak sederhana. Di sinilah seorang pria bernama Rizal menaruh seluruh harapan dan masa depannya. Rizal bukan berasal dari keluarga berada. Sejak kecil ia sudah terbiasa bekerja keras demi bertahan hidup. Ayahnya meninggal saat ia masih duduk di kelas 5 SD karena kecelakaan kerja di proyek bangunan. Sejak itu, hidup Rizal dan ibunya berubah drastis.

Ibunya bekerja sebagai buruh cuci baju dari rumah ke rumah. Terkadang, dalam sehari hanya ada satu rumah yang mau memakai jasanya. Rizal tumbuh dalam kondisi serba kekurangan, namun itu tidak membuatnya menyerah. Justru, ia semakin ingin sukses agar suatu hari keluarganya tidak perlu lagi hidup hanya untuk bertahan.

Ketika remaja, ia bekerja serabutan mulai dari membantu bengkel, membawa barang di pasar, hingga menjadi pelayan warung. Rizal bukan orang yang banyak bicara, tapi ia tekun, sabar, dan punya mimpi. Suatu ketika, seorang penjual martabak di pasar malam melihat kerja keras Rizal dan menawarkan pekerjaan.

 “Kamu mau belajar bikin martabak? Saya butuh orang yang bisa bantu malam-malam.”

Rizal menerima tawaran itu.

Awalnya, ia hanya membantu mengaduk adonan dan melayani pembeli. Tapi perlahan, ia mulai mempelajari cara membuat martabak yang empuk, rasanya legit, teksturnya bersarang, dan pastanya menyatu dengan mentega. Penjual martabak itu bernama Pak Herman. Ia adalah orang baik dan sabar. Berbulan-bulan Rizal belajar tanpa dibayar lebih. Namun, ia tidak mengeluh. Setiap malam setelah tutup, ia masih diam-diam berlatih membuat martabak di rumah menggunakan teflon kecil milik ibunya.

Ibunya sering berkata pelan:

“Nak, sabar itu bukan berarti diam. Sabar itu kerja keras sambil yakin hasilnya akan datang.”

Kata-kata itu menancap dalam di hati Rizal.

Awal Usaha

Setelah hampir dua tahun bekerja dengan Pak Herman, Rizal memutuskan untuk mencoba membuka usaha sendiri. Ia menabung sedikit demi sedikit hingga cukup untuk membeli gerobak bekas seharga Rp2.500.000.

Waktu itu, ia hanya punya sedikit modal. Bahkan untuk membeli mentega dan topping saja ia harus meminjam dari toko langganan Pak Herman.

Namun ia punya semangat dan keyakinan.

Malam pertama ia berjualan, tidak ada satu pun pembeli selama satu jam. Rizal hampir menyerah. Namun saat hampir tengah malam, seorang anak membeli martabak tipis kering.

 “Bang, ini enak banget,” kata si anak sambil tersenyum setelah mencicipi.

Keesokan harinya, pelanggan itu datang lagi kali ini membawa lima temannya. Dari situlah perlahan nama Rizal mulai dikenal.

Hari demi hari, semakin banyak orang datang. Ada yang suka karena topping melimpah, ada yang suka karena harganya masih ramah kantong, dan ada yang datang karena Rizal orangnya ramah dan jujur.

Gerobak Rizal mulai ramai. Bahkan suatu malam, ia sampai tidak sempat istirahat karena antrean tidak berhenti hingga pukul 2 dini hari.

Dengan kerja keras dan kejujuran, Rizal mulai memiliki kehidupan yang lebih baik. Ia bisa membantu ibunya berobat, memperbaiki atap rumah yang bocor, bahkan menabung sedikit-sedikit.

Tapi justru di masa naik daun itulah cobaan mulai datang.

Karyawan Baru: Doni

Semakin ramai pembeli, Rizal mulai kewalahan. Ia berpikir untuk mencari bantuan.

Suatu hari datanglah seorang pemuda bernama Doni. Ia mengatakan bahwa ia baru pindah dari kota dan sedang mencari pekerjaan apa pun untuk bertahan hidup. Wajah Doni terlihat lugu, senyumnya ramah, dan tutur katanya sopan.

“Bang, kalau abang izinkan, saya mau bantu di sini. Gaji terserah abang.”

Rizal awalnya ragu, tapi melihat keadaan gerobaknya yang semakin ramai dan Doni yang terlihat tulus, ia pun menerimanya.

Hari-hari pertama Doni bekerja dengan sangat rajin. Ia datang satu jam lebih awal untuk menyiapkan bahan, dan pulang paling terakhir setelah memastikan semua bersih. Bahkan tanpa diminta, ia menawarkan diri membantu menghitung pemasukan.

Rizal merasa sangat terbantu.

Karena pekerjaannya bagus, Rizal mulai mempercayai Doni lebih banyak. Bahkan ia memperlakukan Doni bukan seperti karyawan, tapi seperti adik.

Jika gerobaknya ramai, ia sering berkata:

 “Ini rezeki kita bersama. Kamu bagian dari usaha ini.”

Kalimat itu ternyata menjadi titik kelalaian.

Perubahan Tak Terduga

Setelah bekerja hampir tiga bulan, perilaku Doni perlahan berubah. Ia mulai lebih sering mengeluh. Kadang soal jam kerja, kadang soal banyaknya pembeli. Namun Rizal tetap bersabar dan mencoba berdialog.

“Doni, kalau capek bilang. Kita atur ritme.”

Awalnya Doni masih bekerja baik, tapi perubahan semakin nyata. Ia mulai meminta kepercayaan penuh terhadap kas dan pembelian bahan. Tanpa sadar, Rizal menyetujui.

Doni menjadi orang yang memegang sebagian uang modal setiap hari.

Dan di sinilah masalah dimulai.

Tanda-tanda Kebohongan

Setiap hari angka pendapatan yang dilaporkan Doni berbeda dengan perkiraan Rizal. Biasanya pendapatan malam mencapai 1,2 hingga 1,5 juta, tapi dalam laporan Doni hanya sekitar 600–900 ribu.

Rizal mencoba berpikir positif:

 “Mungkin pembeli sepi. Mungkin cuaca memengaruhi.”

Namun kecurigaan mulai muncul ketika beberapa pelanggan bertanya:

 “Bang, kok harga martabak di banner beda sama yang dikasih Doni?”

Atau ada yang berkata:

“Kemarin katanya martabak keju harganya Rp45.000. Kok hari ini Rp30.000?”

Rizal bingung.

Karena ia tidak pernah menaikkan harga

Ia makin terkejut ketika seorang pemasok bahan datang menagih utang padahal menurut Doni pembayaran sudah dilakukan.

Pemilik toko bahan martabak berkata:

 “Saya sudah kasih kamu tempo tiga minggu, Zal. Masa kamu bilang sudah bayar?”

Rizal terdiam.

Ada yang tidak beres.

Kebohongan Terungkap

Malam itu, Rizal sengaja datang lebih awal ke lokasi tanpa memberi kabar pada Doni. Dari kejauhan ia melihat gerobaknya dikerumuni pembeli ramai seperti biasa.

Namun anehnya, ketika pembeli memberikan uang, Doni tidak memasukkan semuanya ke tempat kas utama. Sebagian justru ke kantong celananya sendiri.

Rizal menahan napas.

Ia ingin marah, namun memilih mengamati hingga malam selesai.

Setelah gerobak ditutup, Doni menyerahkan uang hasil penjualan seperti biasa, jauh lebih sedikit dari perkiraan.

Rizal menatapnya lama, lalu berkata pelan namun tajam:

“Don, kamu bohong apa jujur dalam laporan ini?”

Doni tersentak tapi bukannya merasa bersalah, ia malah defensif.

“Bang, saya sudah kerja keras. Abang enak, tinggal hitung uang. Saya yang di lapangan.”

Rizal mencoba menahan emosi.

 “Saya bukan minta banyak. Saya cuma minta kejujuran.”

Namun jawaban Doni membuat Rizal terdiam dan hancur

 “Abang pikir usaha ini sukses karena siapa? Karena abang? Jangan lupa, saya yang bikin usaha ini ramai!”

Kata-kata itu tidak hanya menyakitkan, tapi melukai hati Rizal yang selama ini mempercayainya sepenuh hati.

Kepergian Doni dan Awal Kehancuran

Doni pergi malam itu juga bukan hanya pergi, tapi membawa sebagian uang kas yang seharusnya disetor.

Seminggu kemudian, muncul sebuah gerobak martabak baru beberapa meter dari tempat Rizal biasa berjualan.

Di gerobak itu tertulis besar:

 “Martabak Premium   Resep Asli, Harga Terbaik”

Dan di balik gerobak itu, berdirilah Doni.

Banyak pelanggan yang tidak tahu duduk perkaranya. Mereka melihat Doni sebagai mantan tangan kanan Rizal dan beranggapan ia punya kualitas lebih. Apalagi Doni menggunakan strategi marketing agresif promo, harga murah, dan gaya bicara yang meyakinkan.

Ia juga menyebarkan rumor:

 “Martabak Rizal mahal, pelit topping, dan tidak higienis.”

Padahal semua itu bohong.

Perlahan pembeli Rizal berpindah ke gerobak Doni. Pendapatannya merosot tajam. Hutang bahan menumpuk. Rizal sampai harus menjual motor satu-satunya agar tetap bisa membeli bahan.

Namun pada akhirnya, ia tak mampu menahan semua tekanan.

Gerobaknya pun dijual.

Hari terakhir ia berdiri di depan gerobak itu, ia menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

 “Dulu kamu simbol harapan. Sekarang… kamu saksi pengkhianatan.”

Ia menunduk, air matanya jatuh di lantai pasar yang dingin.

Masa Gelap

Hidup Rizal kembali berat seperti dulu. Ia mulai bekerja serabutan lagi. Terkadang membantu angkut barang di pasar, kadang menjadi kurir makanan online.

Bahkan pernah dalam satu hari ia tidak makan apa pun kecuali mie instan.

Namun di tengah semua penderitaan, ibunya tetap menjadi cahaya dalam kegelapan.

Suatu malam, ia berkata sambil memegang tangan putranya:

 “Nak… harta bisa hilang, usaha bisa jatuh, tapi hati yang jujur tidak bisa dicuri siapa pun.”

Rizal hanya terdiam. Tapi kata-kata itu kembali menyalakan semangatnya yang mulai padam.

Kebangkitan

Setelah hampir delapan bulan bekerja keras dan menabung sedikit demi sedikit, Rizal mencoba bangkit kembali. Ia membeli peralatan kecil dan mulai berjualan martabak dari depan rumah kontrakan.

Tanpa banner besar.

Tanpa lampu neon.

Tanpa suara gaduh pasar.

Hanya satu wajan, tepung, mentega, dan tekad.

Awalnya hanya satu dua pelanggan datang.

Namun perlahan, pelanggan lama yang mengenal rasa martabak Rizal mulai berdatangan kembali.

 “Bang, akhirnya saya ketemu abang lagi.”

 “Abang masih pakai resep yang dulu? Rasanya saya kangen banget.”

Bahkan ada pelanggan yang berkata:

“Yang jujur pasti menang pada waktunya.”

Kalimat itu membuat Rizal tersenyum untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Karma Mulai Bekerja

Sementara Rizal mulai bangkit, usaha Doni justru mulai menurun. Banyak pembeli mengeluh karena topping tidak sebanyak dulu, harga berubah-ubah, dan pelayanannya kasar.

Bahkan ada karyawannya yang kabur karena gaji tidak dibayar.

Kabar itu menyebar, dan perlahan gerobak Doni sepi.

Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba gerobak itu tak pernah buka lagi.

Nama Doni hilang dari pasar

Tiga Tahun Kemudian

Kini, Rizal bukan lagi penjual martabak gerobak biasa. Ia memiliki tiga cabang kedai martabak modern, dengan menu topping premium, pelayanan profesional, dan branding elegan. Kedainya selalu penuh pelanggan.

Di salah satu dinding kedai terdapat satu kalimat panjang yang dibingkai rapi:

 “Kepercayaan adalah modal terbesar sebuah usaha. Sekali rusak, sulit kembali. Aku pernah kalah karena terlalu percaya. Tapi aku menang karena tidak menyerah.”

Di bawahnya ada nama kecil:

Rizal, Mantan Penjual Martabak Kecil

Suatu sore ketika kedainya ramai, seorang pria kurus masuk pelan-pelan. Bajunya lusuh, wajahnya tampak penuh rasa malu.

Ia berhenti di depan Rizal.

Dan dengan suara pelan, hampir bergetar, ia berkata:

“Bang… saya Doni. Bisa… bisa abang maafkan saya?”

Ruangan seketika hening.

Rizal menatapnya lama.

Di mata itu, ia tidak melihat lagi kesombongan hanya penyesalan.

Rizal menarik napas panjang, lalu menjawab: “Doni… saya bukan Tuhan untuk menghukum kamu, dan bukan setan untuk membenci kamu. Saya memaafkanmu. Tapi ingat… hidup akan selalu membalas dengan cara yang tidak bisa kita hindari.”

Doni terisak, lalu pergi tanpa memesan apa pun.

Rizal menatap kembali kedainya, rasa syukur memenuhi dadanya.

Ia belajar sesuatu dari perjalanan panjangnya:

Kadang hidup menghancurkan kita bukan untuk membuat kita kalah tapi agar kita bangkit sebagai versi terbaik dari diri kita.




Tamat


Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa