Dua Tahun Tanpa Cinta
Dua Tahun Tanpa Cinta
Bintang adalah seorang CEO muda, tampan, berwibawa, dan sukses di usia 30 tahun. Ia memimpin perusahaan properti besar milik keluarganya, Bintang Land Group, yang mengelola ratusan proyek di berb
agai kota. Hidupnya sempurna di mata banyak orang rumah mewah, mobil mahal, dan kekuasaan di tangannya. Tapi di balik kesuksesan itu, ada satu hal yang ia tak bisa tolak: perintah sang nenek.
Neneknya, Ny. Ratna, adalah sosok yang membesarkan Bintang sejak kecil. Ia wanita kuat yang sangat berperan dalam kesuksesan cucunya. Namun di usia senjanya, Ny. Ratna punya satu keinginan terakhir melihat Bintang menikah dengan gadis pilihannya.
“Bintang, Nenek ingin kamu menikah dengan anak sahabat lama Nenek di desa. Namanya Dewi. Gadis itu baik, sopan, dan tulus. Nenek ingin cucu Nenek punya istri yang bisa menenangkan, bukan hanya cantik di luar, tapi juga bersih hatinya.”
Bintang menolak dengan halus berkali-kali. Ia sudah punya dunia sendiri, wanita kota, dan kehidupan yang modern. Tapi ketika sang nenek jatuh sakit, ia tak kuasa. Dengan berat hati, ia menuruti keinginan terakhir itu.
Pernikahan Tanpa Cinta
Dewi, gadis desa berusia 22 tahun, lugu dan sederhana. Ia tidak pernah membayangkan akan menikah dengan lelaki kaya raya yang bahkan tidak dikenalnya. Tapi demi menjaga nama baik keluarga dan memenuhi permintaan orang tuanya, ia menerima lamaran itu.
Hari pernikahan berlangsung megah di hotel bintang lima, tapi suasananya dingin. Tak ada senyum bahagia, hanya formalitas dan kamera.
Bintang hanya berkata lirih di telinga Dewi malam itu,
“Aku menikah karena Nenek. Jangan berharap apa-apa dariku.”
Dewi hanya tersenyum menahan air mata.
“Aku juga tidak berharap apa-apa. Aku hanya ingin menjalani kewajiban.”
Dua Tahun yang Sunyi
Hari-hari setelahnya berjalan seperti rumah tanpa jiwa. Mereka tinggal serumah, tapi terpisah kamar. Bintang sibuk dengan perusahaannya, pulang larut malam, jarang menyapa. Sementara Dewi menghabiskan waktu merawat taman, memasak, dan menulis di buku hariannya.
Ia tak pernah marah, tak pernah menuntut. Bahkan ketika gosip tentang wanita lain beredar, Dewi hanya diam. Ia tahu, cintanya tidak diinginkan. Tapi entah mengapa, ia tetap berdoa setiap malam agar Bintang suatu hari bisa bahagia meski bukan bersamanya.
Bintang melihat ketulusan itu. Kadang ia pulang diam-diam hanya untuk melihat Dewi tertidur di ruang tamu sambil menunggu makan malam yang tak disentuh. Ada sesuatu di dada Bintang yang perlahan berubah tapi ia terlalu sombong untuk mengakuinya.
Perpisahan Tanpa Luka
Dua tahun kemudian, Ny. Ratna meninggal dunia. Dan dengan itu, satu-satunya alasan mereka bertahan pun ikut pergi.
Beberapa hari setelah pemakaman, Bintang memanggil Dewi ke ruang kerja. Dengan wajah datar ia berkata,
“Dewi, kamu sudah cukup baik. Tapi aku rasa pernikahan ini tidak perlu dipaksakan lagi. Aku akan urus perceraian dengan baik. Kamu akan dapat rumah dan uang yang cukup.”
Dewi menatapnya lama. Matanya tenang, tapi suaranya bergetar,
“Terima kasih, Mas. Aku memang tidak pernah kamu cintai. Tapi aku bersyukur pernah jadi bagian kecil dalam hidupmu.”
Bintang terdiam. Saat itu baru ia sadar, dua tahun bersama Dewi bukan sekadar pernikahan tanpa cinta itu adalah pelajaran tentang ketulusan. Tapi semuanya sudah terlambat. Dewi menandatangani surat perceraian dengan tangan gemetar. Ia pergi tanpa menoleh lagi.
Setelah Berpisah
Beberapa bulan kemudian, Bintang baru menyadari kekosongan yang sebenarnya. Rumah besar terasa hampa tanpa langkah kaki Dewi. Tidak ada lagi aroma masakan, tidak ada suara lembut yang menyapanya di pagi hari.
Ia mencoba mengalihkan diri dengan kerja, tapi setiap malam, hatinya kembali ke satu nama Dewi. Gadis yang dulu ia abaikan, tapi justru meninggalkan bekas terdalam.
Di sisi lain, Dewi kembali ke desanya, hidup sederhana, membuka usaha kecil, dan belajar melanjutkan hidup. Ia masih mengenang Bintang, tapi tanpa dendam.
Cintanya tetap suci, meski tak pernah tersentuh.
Dan Bintang akhirnya belajar, bahwa tidak semua cinta harus dimiliki untuk bisa berarti.
Empat Tahun Setelah Perceraian
Empat tahun sudah berlalu sejak tanda tangan di atas kertas itu memisahkan mereka.
Bintang kini semakin sukses. Proyek-proyek propertinya tersebar di berbagai kota besar, namanya muncul di majalah bisnis dan layar televisi. Tapi di balik sorotan itu, hidupnya terasa kosong.
Ia punya segalanya uang, jabatan, dan kekuasaan namun tidak punya kedamaian.
Setiap malam ia teringat wajah Dewi; senyum lembut yang dulu ia abaikan, kesabaran yang tak pernah ia balas.
Suatu malam di balkon apartemennya, Bintang menatap langit sambil bergumam,
“Dewi… apa kamu sudah bahagia tanpa aku?”
Hatinya menyesal, tapi egonya dulu terlalu tinggi untuk memohon maaf.
Pertemuan Tak Terduga
Sampai suatu hari, Bintang datang ke sebuah proyek pengembangan perumahan di daerah pinggiran kota. Di sana, ia melihat sosok wanita berkerudung, sederhana, sedang mengajari beberapa anak kecil menanam bunga di taman perumahan.
Dari kejauhan, langkahnya terhenti.
Wajah itu… tak asing.
Itu Dewi.
Ia tampak berbeda lebih matang, lebih kuat, namun tetap dengan kelembutan yang sama. Ia kini bekerja sebagai pengelola taman edukatif di area itu, hasil dari kerja kerasnya membangun komunitas kecil di desa yang kini bermitra dengan proyek perusahaannya tanpa sengaja.
Bintang terpaku. Dunia seakan berhenti sesaat.
“Dewi…” panggilnya pelan.
Dewi menoleh. Sekilas matanya membesar, lalu menunduk sopan.
“Selamat siang, Pak Bintang.”
Nada suaranya tenang, tidak getir, tidak benci hanya datar dan dewasa.
Bintang berusaha tersenyum, tapi wajahnya kaku. “Kamu... terlihat berbeda. Aku tidak menyangka bisa bertemu di sini.”
Dewi tersenyum tipis.
“Dunia ini kecil, Mas. Kadang takdir mempertemukan bukan untuk kembali, tapi untuk saling memaafkan.”
Rasa yang Tak Pernah Hilang
Sejak hari itu, Bintang sering datang ke lokasi proyek dengan alasan mengecek progress. Tapi setiap kali, matanya hanya mencari Dewi. Ia ingin bicara, ingin menjelaskan, ingin meminta maaf tapi selalu urung.
Hingga suatu sore, hujan turun deras. Dewi masih di taman, menyelamatkan pot bunga dari genangan air. Tanpa sadar, Bintang datang dan memayunginya.
“Dewi, kamu tidak harus kehujanan begini,” ucapnya sambil menggenggam payung.
Dewi tersenyum kecil.
“Dulu, aku juga sering menunggumu pulang hujan-hujanan. Tapi kamu tak pernah datang.”
Bintang terdiam. Kata-kata itu menusuk dalam.
“Aku… menyesal, Dewi. Aku terlalu bodoh membiarkanmu pergi,” suaranya serak.
Dewi memandangnya lekat-lekat. Ada air mata yang hampir jatuh, tapi ia tahan.
“Aku tidak menyesal, Mas. Karena dari pernikahan tanpa cinta itu, aku belajar mencintai tanpa harus memiliki.”
Bintang menunduk, tak sanggup menatapnya.
“Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku tahu mungkin terlambat, tapi izinkan aku mencoba.”
Dewi menggeleng lembut.
“Cinta itu bukan tentang waktu yang panjang, tapi tentang keikhlasan. Dan aku sudah ikhlas, Mas. Sekarang aku bahagia dengan hidupku.”
Lepas, Tapi Tak Lupa
Beberapa bulan setelah pertemuan itu, proyek perumahan selesai. Dewi pindah ke kota lain bersama komunitasnya, membuka taman edukatif baru. Ia melanjutkan hidupnya dengan damai.
Bintang datang ke pembukaan taman itu, diam di antara para undangan, hanya untuk melihatnya dari jauh.
Ia tidak ingin mengganggu lagi. Cukup dengan mengetahui Dewi bahagia, hatinya sedikit tenang.
Ketika acara usai, Dewi sempat berbisik saat mereka berpapasan:
“Terima kasih sudah datang. Aku sudah memaafkanmu, Mas. Jangan terus menyalahkan diri sendiri. Hidupmu masih panjang.”
Bintang menatapnya lama, tersenyum pahit.
“Aku mencintaimu, Dewi… meski baru sekarang aku sadar.”
Dewi hanya menatapnya lembut.
“Kadang cinta memang datang di waktu yang salah. Tapi tak apa, Mas. Karena yang tulus… tetap abadi, meski tak bersama.”
Bintang di Langit Senja
Beberapa tahun kemudian, di puncak kesuksesan yang semakin tinggi, Bintang sering duduk di balkon rumahnya memandangi langit sore.
Ia tak lagi mencari Dewi, tapi doanya selalu untuknya.
Karena dari seorang gadis desa sederhana, ia belajar makna cinta sejati cinta yang tidak menuntut, tidak memaksa, dan tidak memenjarakan.
Dan setiap kali senja turun perlahan, ia tersenyum menatap bintang di langit, berbisik pelan,
“Namamu memang Dewi, tapi kau tetap bintang terindah dalam hidupku.”
Tujuh Tahun Kemudian
Tujuh tahun telah berlalu sejak perceraian itu.
Bintang kini berusia 37 tahun masih tampan, karismatik, tapi kesendiriannya tetap sama. Ia bisa membeli segalanya, namun tidak bisa membeli kembali waktu yang telah ia sia-siakan bersama Dewi.
Setiap kali ada acara keluarga atau pernikahan teman, ia selalu ditanya,
“Kapan nyusul, Bintang? Kamu sukses, tapi masa sendiri terus?”
Bintang hanya tersenyum datar.
“Mungkin aku sudah pernah menikah dengan orang terbaik, tapi aku yang melepaskannya.”
Hanya sedikit orang tahu, luka itu belum sembuh.
Ia menolak semua perjodohan, tidak pernah serius dengan siapa pun lagi. Di hatinya, hanya ada satu nama Dewi.
Undangan yang Menggetarkan
Suatu pagi, sekretarisnya datang membawa sebuah amplop putih dengan pita hijau muda.
“Pak, ini dikirim ke kantor. Undangan dari Ibu Dewi.”
Bintang terpaku. Tangannya gemetar saat membuka amplop itu.
Di dalamnya, tertera:
Undangan Pernikahan
Dewi Rahayu & Arya Pratama
“Atas nama cinta yang tulus, kami memulai lembaran baru...”
Bintang menatap huruf demi huruf dengan mata yang mulai basah.
Ia membaca ulang baris kecil di bawahnya:
Tempat: Taman Edukatif Dewi Greenland hasil karya komunitas cinta lingkungan.
Tempat itu taman yang dulu ia bantu dan diam-diam sering ia datangi.
Ia tahu, ini bukan sekadar undangan. Ini tanda bahwa Dewi sudah benar-benar menemukan bahagianya.
Hari Pernikahan
Hari itu, Bintang datang dengan jas abu lembut. Tidak mencolok, tidak ingin menarik perhatian. Ia berdiri di antara para tamu, melihat dari kejauhan.
Dewi tampak anggun dalam kebaya putih sederhana. Wajahnya tenang, bahagia bukan seperti dulu yang selalu menyimpan luka. Di sampingnya berdiri Arya, pria sederhana tapi matanya penuh kasih dan hormat padanya.
Ketika pandangan mereka bertemu sejenak, Dewi tersenyum.
Senyum yang dulu menyimpan kesedihan, kini berubah menjadi ketenangan yang tulus.
Usai akad, Bintang menunggu hingga acara resepsi hampir usai, lalu berjalan pelan mendekat.
Dewi menatapnya lembut, lalu berkata,
“Terima kasih sudah datang, Mas. Aku tidak menyangka kamu benar-benar hadir.”
Bintang tersenyum kecil.
“Aku harus datang. Aku ingin lihat kamu bahagia... dengan mata kepalaku sendiri.”
Arya menyalami Bintang dengan ramah,
“Terima kasih, Pak Bintang, sudah hadir. Dewi banyak bercerita tentang Anda. Tentang kebaikan yang ia pelajari dari masa lalu.”
Bintang membalas jabat tangan itu dengan tulus.
“Jaga dia baik-baik, Pak Arya. Dia bukan hanya wanita baik, tapi juga jiwa yang kuat.”
Dewi menunduk. Ada genangan air di matanya, tapi ia tersenyum.
“Mas Bintang... aku selalu berdoa agar kamu juga menemukan bahagia yang kamu cari. Jangan terus menatap masa lalu.”
Bintang hanya menjawab pelan,
“Mungkin kebahagiaanku adalah melihat kamu tersenyum hari ini. Itu sudah cukup.”
Malam Setelah Pernikahan
Bintang pulang malam itu, menyendiri di ruang kerjanya. Ia membuka kembali buku catatan kecil buku yang dulu Dewi tinggalkan sebelum pergi.
Di halaman terakhir tertulis:
“Jika suatu hari aku tak di sampingmu lagi, jangan sesali. Karena yang tulus tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berubah menjadi doa.”
Air mata menetes di pipinya. Ia menutup buku itu dengan lembut, menatap foto Dewi yang ia simpan diam-diam selama ini.
“Selamat menempuh hidup baru, Dewi. Aku mencintaimu dengan cara melepaskan.”
Senja Terakhir
Beberapa tahun berlalu. Dewi hidup bahagia bersama suaminya dan anak kecil yang lucu. Taman edukatifnya semakin berkembang, dikenal banyak orang.
Bintang tetap menjadi sosok sukses, tapi kini lebih bijak dan tenang.
Ia tidak lagi dikejar ambisi, karena ia tahu hidup bukan tentang memiliki, tapi menghargai yang pernah datang.
Setiap sore, Bintang masih suka duduk di balkon rumahnya menatap langit jingga.
Ia selalu melihat satu bintang di antara senja, bintang yang paling terang.
“Mungkin itu kamu, Dewi,” bisiknya.
“Dan aku akan tetap jadi langit yang diam, hanya untuk memastikan kamu bersinar.”
Sepuluh Tahun Kemudian
Waktu berjalan cepat.
Kini Bintang sudah berusia 47 tahun. Rambutnya mulai memutih di sisi pelipis, tapi ketampanannya tetap terpancar bukan dari wajah, melainkan dari ketenangan yang ia miliki sekarang.
Ia sudah bukan lagi CEO Bintang Land Group. Ia menyerahkan jabatan itu kepada generasi muda, dan memilih hidup lebih sederhana di pinggiran kota, jauh dari hiruk pikuk bisnis dan rapat-rapat mewah.
Rumahnya tak sebesar dulu, tapi penuh tanaman dan suara burung di pagi hari.
Hidupnya tenang, tapi tidak sepi. Karena kini, ada seseorang yang menemaninya Laras, seorang wanita janda dengan satu anak yang dulu bekerja sebagai kepala bagian sosial di yayasan anak-anak binaan perusahaan Bintang.
Laras tidak menggantikan posisi Dewi di hatinya.
Tapi ia mengisi ruang yang kosong dengan kehangatan, bukan dengan bayangan masa lalu.
Mereka menikah dengan sederhana, hanya disaksikan keluarga dekat dan beberapa teman lama.
Sebuah Pertemuan di Masa Tua
Suatu sore di usia 48 tahun, Bintang sedang mengantarkan bantuan CSR ke sebuah taman edukatif di Jawa Tengah. Ia tak tahu, taman itu ternyata milik Dewi dan suaminya, Arya.
Ketika mobilnya berhenti, langkahnya gemetar melihat papan besar bertuliskan:
"Dewi Greenland – Taman Cinta Alam dan Pendidikan Anak."
Anak-anak berlarian, tawa riuh memenuhi udara.
Di tengah taman, Dewi berdiri sambil membimbing anak-anak menanam pohon.
Wajahnya kini mulai berkeriput, tapi sinar matanya tetap sama: hangat dan tulus.
Dewi melihat Bintang dari kejauhan. Ia terdiam sejenak, lalu berjalan mendekat dengan senyum damai.
“Mas Bintang… sudah lama sekali, ya?”
Bintang tersenyum lembut.
“Iya. Kamu tidak berubah, Dewi. Masih seperti dulu penuh cahaya.”
Dewi tertawa kecil. “Kalau Mas, sekarang lebih tenang. Aku dengar Mas sudah menikah lagi?”
“Iya,” jawabnya pelan. “Dia baik, sederhana… mirip kamu dalam hal hati.”
Dewi mengangguk, matanya teduh.
“Akhirnya Mas belajar juga tentang cinta yang tenang, bukan yang tergesa.”
Bintang menatap taman itu dengan kagum. “Taman ini luar biasa, Dewi. Kamu benar-benar mewujudkan mimpi yang dulu sering kamu ceritakan.”
Dewi tersenyum. “Aku hanya menanam dengan cinta, Mas. Alam tahu siapa yang tulus, seperti halnya Tuhan tahu siapa yang pernah berjuang tanpa pamrih.”
Mereka berdua terdiam cukup lama. Tak ada air mata, tak ada luka.
Hanya kedamaian dua jiwa yang dulu saling melukai, kini berdamai dengan takdir.
Sore yang Paling Tenang
Sebelum pergi, Bintang menyerahkan sebuah kotak kecil pada Dewi.
“Ini… hanya sesuatu yang harus kukembalikan,” katanya pelan.
Dewi membukanya. Di dalamnya ada cincin pernikahan lama mereka, yang dulu Bintang simpan selama bertahun-tahun.
“Aku pikir aku akan membuangnya dulu, tapi entah kenapa… aku tidak pernah sanggup. Sekarang, aku ingin mengembalikannya ke tempat yang seharusnya masa lalu.”
Dewi menatap cincin itu lama sekali, lalu tersenyum haru.
“Terima kasih, Mas. Sekarang aku benar-benar bisa menutup cerita kita dengan damai.”
Mereka berjabat tangan.
Tak ada kata cinta, tak ada janji. Hanya doa yang saling bersilangan di udara sore itu.
Cinta yang Tidak Pernah Hilang
Beberapa tahun kemudian, Bintang hidup bahagia bersama Laras dan anak tirinya. Ia menjadi ayah yang lembut, suka mengajar dan berkebun. Di ruang kerjanya, ada satu foto kecil yang tak pernah ia lepas foto taman Dewi Greenland.
Setiap kali ia memandangnya, ia selalu berkata dalam hati:
“Dewi, terima kasih sudah mengajarkanku mencintai tanpa harus memiliki.”
Di sisi lain, Dewi hidup damai bersama Arya. Taman edukatifnya terus berkembang, dan setiap kali senja tiba, ia duduk di bangku kayu sambil menatap langit.
Anaknya bertanya,
“Bu, kenapa Ibu suka menatap langit sore?”
Dewi tersenyum.
“Karena di sana ada seseorang yang dulu pernah mengajariku arti kesabaran.”
Langit senja menjadi saksi
bahwa cinta tidak harus berakhir bahagia untuk menjadi indah.
Karena cinta sejati tidak mati…
ia hanya berubah menjadi doa dan kenangan yang abadi.
Akhir yang tenang untuk cinta yang tak pernah padam.
Bintang dan Dewi memang tidak ditakdirkan bersama, tapi mereka saling melengkapi dalam doa, bukan dalam genggaman.
Senja turun perlahan. Langit berwarna jingga keemasan, burung-burung pulang, dan angin sore berhembus lembut melewati taman yang penuh bunga.
Di bangku kayu paling ujung taman Dewi Greenland, duduk dua orang yang pernah terikat janji suci Bintang dan Dewi.
Usia mereka tak lagi muda. Rambut keduanya mulai beruban, tapi tatapan mata mereka masih menyimpan kehangatan yang sama, seperti dua jiwa yang pernah saling mengenal sangat dalam.
Mereka berbincang tenang, tanpa beban masa lalu.
Dewi: “Mas, kadang aku berpikir… kalau dulu kita saling mencintai sejak awal, mungkin cerita kita akan lain.”
Bintang: (tersenyum tipis) “Mungkin. Tapi kalau begitu, kita takkan belajar arti ikhlas, kan?”
Dewi menatap bunga-bunga di taman, matanya berembun.
“Aku dulu sempat membencimu, Mas… tapi sekarang aku hanya berterima kasih. Karena dari semua luka itu, aku belajar mencintai tanpa syarat.”
Bintang mengangguk pelan.
“Dan aku belajar… bahwa cinta tidak selalu harus memiliki. Kadang Tuhan memberi seseorang hanya untuk mengubah cara kita memandang hidup.”
Hening sesaat.
Hanya suara angin dan burung-burung yang pulang.
Bintang berdiri, menatap langit sore. “Kamu tahu, setiap senja, aku selalu melihat satu bintang muncul lebih dulu. Aku menamainya… Dewi.”
Dewi menatapnya lembut, menahan air mata.
“Dan aku… setiap kali melihat langit yang mulai gelap, aku selalu berdoa agar bintang-bintang itu terus bersinar, termasuk kamu, Mas.”
Mereka saling tersenyum untuk terakhir kalinya.
Tidak ada genggaman, tidak ada pelukan. Hanya kedamaian.
Bintang melangkah pergi perlahan, meninggalkan taman itu dengan hati yang akhirnya tenang.
Dewi menatap punggungnya menjauh, lalu berbisik pelan,
“Selamat jalan, Mas Bintang. Terima kasih sudah pernah datang dalam hidupku, walau sebentar. Kamu pernah menjadi rumah, walau hanya dalam doa.”
Langit semakin jingga, lalu berubah ungu.
Dua jiwa itu kini benar-benar berdamai dengan masa lalu.
Tak ada lagi cinta yang menyakitkan hanya kenangan yang abadi dan doa yang lembut.
Malam itu, hujan turun pelan di atas taman Dewi Greenland. Daun-daun bergetar lembut, udara terasa sejuk, dan aroma tanah basah memenuhi udara.
Di salah satu bangku taman, Bintang duduk diam menatap langit mendung. Ia sudah berusia lewat lima puluh, rambutnya memutih, langkahnya tak lagi sekuat dulu. Tapi matanya masih teduh sama seperti dulu ketika pertama kali menatap Dewi.
Beberapa bulan sebelumnya, ia mendengar kabar bahwa Dewi jatuh sakit. Bukan penyakit yang ringan, tapi cukup membuatnya harus banyak beristirahat. Malam itu, Bintang datang diam-diam hanya untuk melihat taman yang Dewi cintai taman yang menjadi saksi kisah mereka dari awal hingga akhir.
Ia duduk lama di bawah hujan, hingga suara langkah lembut terdengar di belakangnya.
Dewi datang, berkerudung dan membawa payung.
Dewi: “Mas Bintang… kamu masih sama. Selalu datang tanpa kabar.”
Bintang: (tersenyum) “Aku takut kalau bilang mau datang, kamu menolak.”
Dewi: “Aku tak pernah menolak, Mas. Aku hanya belajar melepaskan dengan damai.”
Mereka berdua duduk di bawah satu payung.
Tak banyak kata, hanya diam yang hangat.
Bintang: “Aku pikir aku sudah melupakanmu, Dewi. Tapi ternyata… tidak. Aku hanya belajar mencintaimu dengan cara yang berbeda.”
Dewi: “Dan aku pun begitu, Mas. Aku tidak menunggu, tapi aku selalu mendoakanmu.”
Hujan turun semakin deras.
Bintang menatap wajah Dewi lama sekali dan di mata itu, ia melihat segalanya: masa muda, luka, penyesalan, dan ketulusan yang abadi.
Bintang: “Kalau nanti salah satu dari kita pergi lebih dulu, aku harap Tuhan mempertemukan kita lagi. Bukan untuk mengulang kisah, tapi untuk menenangkan hati yang dulu pernah berjuang.”
Dewi: (tersenyum) “Mungkin nanti, di surga, kita bisa mencintai tanpa takut kehilangan.”
Air mata jatuh pelan di pipi keduanya bukan karena sedih, tapi karena lega.
Malam itu, dua hati yang dulu terpisah akhirnya benar-benar berdamai.
Beberapa Tahun Kemudian
Dewi berpulang dengan tenang, dikelilingi orang-orang yang mencintainya. Taman yang ia bangun menjadi tempat bermain anak-anak setiap sore taman yang dipenuhi cinta dan doa.
Bintang datang ke pemakamannya, menabur bunga tanpa suara. Ia duduk lama di sisi makam, lalu berbisik lembut,
“Kamu sudah pulang, Dewi. Dan aku tahu, kamu akhirnya bahagia. Terima kasih sudah mengajariku apa arti cinta yang sesungguhnya.”
Ia tersenyum, menatap langit.
Awan perlahan menipis, dan satu bintang muncul di langit gelap.
Bintang berbisik pelan,
“Kamu tetap bintangku, Dewi… walau kini di langit yang berbeda.”
Hari itu langit begitu jernih.
Taman Dewi Greenland dipenuhi tawa anak-anak yang berlarian di antara bunga. Di bawah pohon besar di tengah taman, ada sebuah bangku kayu bangku yang dulu sering menjadi tempat Dewi dan Bintang duduk berbicara tentang hidup.
Kini bangku itu hanya terisi satu orang. Bintang.
Rambutnya sudah memutih, tubuhnya mulai membungkuk, tapi wajahnya masih menyimpan senyum lembut.
Tangannya menggenggam secarik kertas surat lama yang ditulis Dewi bertahun-tahun lalu.
Ia membaca pelan, berulang-ulang, dengan suara bergetar:
“Mas Bintang… jika suatu hari aku tak lagi di dunia ini, jangan sedih. Karena cinta sejati tidak hilang, ia hanya berganti wujud jadi doa yang menyelimuti. Aku akan tetap ada, di setiap angin sore, di setiap bunga yang kau tanam dengan kasih.”
Bintang menatap sekeliling taman.
Ia bisa merasakan kehadiran Dewi di setiap hembusan angin, di setiap daun yang jatuh perlahan.
Air matanya menetes, tapi bibirnya tersenyum.
“Aku sudah menepati janji, Dewi. Aku jaga taman ini, seperti aku menjaga kenanganmu.”
Ia memejamkan mata, merasakan kedamaian yang tak pernah ia miliki dulu.
Hatinya tenang. Tak ada lagi penyesalan, tak ada lagi luka.
Hanya rasa syukur karena pernah mencintai seseorang seindah Dewi.
Beberapa menit kemudian, angin berhenti.
Burung-burung terbang rendah melewati taman.
Bintang bersandar perlahan, tersenyum dalam diam… dan pergi dengan tenang.
Di tangannya masih tergenggam surat Dewi, dan di wajahnya masih ada senyum penuh damai seolah akhirnya ia menemukan rumahnya, bersama cinta yang tak pernah mati.
Beberapa tahun setelahnya, masyarakat setempat mengganti nama taman itu menjadi:
“Taman Bintang & Dewi Tempat Cinta Abadi Beristirahat.”
Anak-anak yang bermain di sana sering mendengar cerita tentang dua orang yang saling mencintai, namun tak pernah memiliki dan bagaimana cinta mereka tumbuh menjadi keindahan bagi dunia.
Karena sejatinya,
Cinta tidak selalu berakhir dengan memiliki.
Kadang, cinta berakhir dengan ketenangan dan di situlah keabadiannya.
TAMAT