Kesetiaan Itu Masih Ada Tak Lekang Oleh Waktu
Kesetiaan Itu Masih Ada Tak Lekang Oleh Waktu
Tidak banyak yang tahu bahwa di balik rumah kecil di ujung gang itu, tinggal seorang pria dengan cinta yang luar biasa besar. Namanya Arman. Ia bukan orang kaya, bukan pula orang berpendidikan tinggi. Ia hanya seorang buruh harian yang hidupnya sederhana. Namun satu hal yang membuat banyak orang diam-diam kagum padanya: ia lelaki yang setia, sepenuh hati.
Arman menikahi istrinya, Sari, ketika mereka sama-sama tidak punya apa-apa. Pernikahan mereka sederhana, bahkan tanpa gedung mewah atau pesta besar. Hanya dua hati yang berjanji untuk saling menjagan dalam lapang dan sempit.
Tahun pertama pernikahan mereka diwarnai tawa kecil dan mimpi besar. Mereka berdagang kecil-kecilan. Terkadang untung, lebih sering rugi. Namun Arman selalu pulang dengan wajah yang tenang, dan Sari menyambutnya dengan senyum hangat meski dapur sering kali hampir kosong.
Hingga suatu hari, ujian terbesar mereka datang.
Sari jatuh sakit. Awalnya hanya demam biasa, tapi lama-kelamaan tubuhnya melemah. Hasil pemeriksaan dokter mengejutkan: ia mengidap penyakit serius yang membutuhkan pengobatan mahal dan waktu panjang.
Di saat itulah, dunia mereka seakan runtuh.
Beberapa orang menyarankan Arman untuk pergi.
"Masih muda, Man. Kamu bisa mulai hidup baru."
"Banyak wanita sehat yang bisa kamu nikahi."
"Bebanmu terlalu berat.
Tapi Arman hanya diam.
Dalam hatinya, ada satu kalimat sederhana yang tak pernah pudar: "Dia tidak memilih sakit. Maka aku tidak akan memilih pergi.
Sejak hari itu, hidup Arman berubah. Ia bekerja dua kali lipat. Siang menjadi buruh, malam menjaga warung orang lain. Ia menjual motor satu-satunya, lalu perabot rumah. Sampai akhirnya hanya kasur tipis yang tersisa.
Namun ia tidak pernah menjual satu hal: kesetiaannya.
Setiap malam ia duduk di samping Sari, membacakan doa pelan-pelan. Mengusap rambut istrinya yang mulai rontok. Menyuapi dengan penuh sabar, meski terkadang Sari menangis dan berkata, "Maaf... aku cuma beban."
Arman selalu menjawab hal yang sama: "Kamu bukan beban. Kamu rumah. Dan rumah bukan untuk ditinggalkan."
Waktu berlalu begitu lama. Banyak malam mereka lalui dalam sunyi, dalam rasa takut, dan dalam doa.
Hingga satu pagi, keajaiban kecil datang.
Sari mulai menunjukkan tanda-tanda membaik. Lemah, tapi hidup. Matanya kembali berbinar. Senyumnya perlahan kembali. Dokter mengatakan tidak pasti sembuh total, namun tubuhnya merespons pengobatan.
Bagi Arman, itu lebih dari cukup.
Ia kembali bekerja dengan lelah yang sama, tapi kini dengan harapan.
Tahun demi tahun berlalu.
Sari tak pernah benar-benar pulih seperti dulu. Tapi ia cukup sehat untuk kembali memasak, tertawa kecil, dan menunggu Arman pulang.
Kini, mereka masih tinggal di rumah kecil itu.
Tidak kaya. Tidak terkenal.
Namun setiap orang yang mengenal mereka tahu: Cinta mereka nyata.
Saat ditanya apa arti setia baginya, Arman hanya tersenyum. Lalu berkata pelan, "Setia itu bukan bertahan karena bahagia. Tapi memilih tinggal… saat bahagia sudah tidak mudah."
Dan di situlah, kesetiaan menjadi indah.
Namun hidup tidak pernah berhenti menguji orang sekuat apa pun hatinya.
Suatu malam, saat hujan turun tanpa ampun, Sari kembali terbaring lemah. Napasnya tersengal, matanya memandang Arman dengan sorot yang berbeda… sorot seseorang yang tahu, waktunya mungkin tidak lama.
Dengan suara gemetar, Sari berkata, "Mas… kalau aku tidak kuat nanti, kamu harus bahagia ya…"
Arman langsung menggenggam tangannya erat, seperti takut semesta akan mencurinya. "Jangan bicara begitu. Kamu masih di sini. Dan aku akan tetap di sini."
Tapi air mata Sari jatuh. "Aku takut melihat kamu capek karena aku… Kamu menua sebelum waktunya karena aku…"
Arman menunduk. Bahunya bergetar. Untuk pertama kalinya, Sari melihat suaminya menangis tersedu-sedu.
"Kalau memang aku menua, biarlah… asalkan itu karena menjaga orang yang aku cintai."
Malam itu, ia tidak tidur.
Ia hanya duduk di samping ranjang Sari, memeluk kakinya, takut jika ia memejamkan mata dan membuka lagi… istrinya sudah tiada.
Dan benar saja…
Pagi menjelang, napas Sari melemah.
Tangannya mencari jari Arman.
Matanya memandang wajah yang dulu gagah, kini penuh garis lelah.
Dengan sisa tenaganya, ia berbisik, "Terima kasih… karena tidak pernah meninggalkanku."
Lalu air mata itu jatuh. Dan nafas itu berhenti sejenak..
Arman berteriak.
Ia mengguncang bahu Sari. Memanggil-manggil namanya. Memohon. Menangis. Berdoa seperti orang yang putus asa.
Tetapi Sari tak menjawab.
Rumah kecil itu dipenuhi suara tangis seorang pria setia… yang merasa separuh jiwanya direnggut.
Tetangga berdatangan. Ambulans datang terlambat. Dokter hanya menggeleng.
Arman terduduk lama. Matanya kosong…
Dunia yang ia kenal runtuh tepat di depan matanya.
Ia mengantar jasad istrinya dengan tangan gemetar. Mencium keningnya untuk terakhir kali.
Dan berkata lirih, "Aku tidak pernah lelah mencintaimu… bahkan sampai detik ini."
Hari-hari Setelah Kepergianmu
Hari-hari Arman setelah itu seperti malam yang tak berujung.
Ia masih menyiapkan dua piring saat makan. Ia masih berbicara sendiri seolah Sari duduk di depannya. Ia masih menyisakan bantal di sampingnya… yang kini dingin dan kosong.
Tidak ada suara. Tidak ada tawa kecil. Tidak ada teguran lembut.
Hanya sepi…
Dan foto tua di dinding.
Tetapi Arman tidak menikah lagi.
Bukan karena tidak bisa.
Tapi karena tidak mau.
Suatu hari seseorang bertanya, "Kenapa tidak mencari teman hidup baru?"
Ia menjawab pelan, "Aku sudah punya… hanya saja sekarang dia tinggal di surga."
Kesetiaan yang Tak Selesai oleh Kematian
Kini rambut Arman memutih.
Langkahnya tidak lagi sekuat dulu.
Namun setiap Jumat, ia datang ke makam. Duduk lama. Bercerita seperti dulu.
Tentang hidupnya, tentang hujan, tentang rindu.
Dan setiap kali ia pulang, ia meninggalkan satu kalimat, "Aku belum pergi… aku cuma menunggu giliran menyusulmu.
Cinta seperti Arman dan Sari tidak banyak ditemukan.
Karena dunia mengajarkan kita untuk mencari yang lebih baik, bukan menjaga… yang sudah dipilih.
Kesetiaan bukan tentang bertahan karena mudah. Tapi tetap tinggal… saat hatimu ingin hancur.
Dan Arman membuktikan: cinta sejati… bahkan kematian tidak cukup kuat untuk memisahkan.
Arman bukan laki-laki sempurna. Ia bukan orang kaya, bukan pula sosok terpandang. Ia hanya seorang buruh yang pulang dengan tubuh lelah dan tangan kasar. Namun satu hal yang tak pernah berubah dari dirinya: kesetiaan.
Ia menikahi Sari saat hidup mereka masih kosong. Rumah kecil, perabot seadanya, dan penghasilan tak menentu tak pernah membuatnya berpaling. Sampai satu hari, takdir menguji dengan cara yang paling menyakitkan: Sari jatuh sakit.
Penyakit itu menggerogoti tubuh istrinya perlahan, seperti mencuri cahaya dari matanya sedikit demi sedikit. Biaya berobat mahal. Arman bekerja siang dan malam. Ia menjual motor, perhiasan kawin, bahkan televisi satu-satunya. Namun ia tidak pernah menjual satu hal: cintanya.
Orang-orang berkata ia bodoh.
“Untuk apa bertahan?”
“Masih banyak perempuan sehat di luar sana.”
Arman hanya diam. Dalam diamnya, ia mengusap rambut istrinya setiap malam dan berkata, “Selama kamu bernapas, aku di sini.”
Suatu malam, Sari menggenggam jarinya. Suaranya lemah seperti angin yang hampir padam. “Mas, kalau aku pergi… jangan tinggalkan hidupmu.”
Kala itu Arman menangis untuk pertama kalinya di hadapannya. “Aku tidak pernah meninggalkanmu. Bahkan jika dunia memintaku.”
Pagi itu, langit mendung. Hujan turun perlahan saat napas Sari berhenti di dada Arman. Ia mengguncang tubuh istrinya, memanggilnya tanpa suara. Dunia kehilangan suaranya saat perempuan yang dicintainya pergi tanpa kata.
Pemakaman itu sunyi. Arman berdiri lama, tak percaya bahwa cinta yang ia jaga kini hanya tanah dan nisan.
Sejak hari itu, rumah mereka menjadi sepi. Arman masih menyiapkan dua piring. Masih berbicara pada ruang kosong. Masih menyisakan tempat di ranjang untuk seseorang yang tak lagi pulang.
Ia tidak menikah lagi.
Ketika ditanya mengapa, ia menjawab, “Karena cintaku belum mati.”
Kini rambut Arman memutih. Setiap minggu ia duduk di makam, bercerita tentang hidup, tentang rindu, tentang doa. Ia berbicara seolah Sari masih mendengarkan.
Dan setiap hendak pulang, ia berbisik, “Aku setia sampai akhir. Bahkan jika itu berarti menunggumu di dunia ini.”
Hari-hari Arman setelah kepergian Sari tidak pernah benar-benar kembali terang.
Pagi tetap datang, matahari tetap terbit, orang-orang tetap bekerja seperti biasa namun dunia Arman seakan berhenti di hari Sari pergi.
Ia masih bangun subuh, berwudhu, lalu duduk di tepi ranjang kosong. Tangannya sering menyentuh bantal yang sudah dingin, seolah berharap menemukan sisa hangat napas istrinya. Setiap sudut rumah mengingatkan tentang Sari gelas di rak, sapu kecil di sudut dapur, sandal usang di depan pintu.
Arman jarang berbicara.
Bukan karena tidak ingin, melainkan karena tidak tahu kepada siapa.
Hingga suatu hari, ia menemukan buku resep kecil milik Sari di dalam laci. Tulisannya masih rapi. Beberapa halaman basah oleh air mata entah air mata Sari dulu, entah air matanya kini.
Sejak hari itu, Arman mulai memasak resep-resep itu sendiri.
Bukan karena lapar.
Tapi karena rindu.
Setiap masakan terasa hambar, bukan karena kurang garam, melainkan karena tidak ada suara Sari yang mencicipi sambil tersenyum kecil.
Malam hari adalah waktu tersulit.
Ia sering duduk sendirian di teras, memandangi langit, lalu berbicara lirih,
“Kalau kamu bisa lihat aku sekarang… aku baik-baik saja. Walau sepi.”
Namun sepi tidak pernah benar-benar pergi.
Tahun demi tahun berjalan lambat.
Tubuh Arman semakin renta. Lututnya sering nyeri. Tangannya gemetar ketika bekerja. Namun satu perjalanan yang selalu ia lakukan tanpa absen adalah mengunjungi makam Sari setiap Jumat.
Ia membawa bunga seadanya.
Duduk lama.
Dan bercerita.
Tentang hidupnya, tentang hujan, tentang anak-anak tetangga yang tumbuh besar, tentang dunia yang terus berubah tanpa Sari.
Kemudian suatu hari, tubuh Arman jatuh sakit.
Ia ambruk di dapur, tepat di tempat Sari dulu sering berdiri. Tetangga menolong, mengantarnya ke puskesmas.
Saat ia sadar, kata yang pertama keluar dari bibirnya adalah,
“Sari…”
Dokter hanya menunduk.
Di hari-hari perawatannya, Arman sadar hidupnya mungkin tidak lama. Namun tidak ada ketakutan di matanya. Yang ada hanyalah kerinduan yang akhirnya akan terjawab.
Sebelum tidur suatu malam, ia menggenggam foto kecil Sari dan berbisik,
“Sebentar lagi… aku pulang.”
Dan untuk pertama kalinya sejak Sari pergi, Arman tersenyum dalam tidur.
Kesedihan memang tidak pernah benar-benar pergi dari hidup Arman. Namun suatu hari, ia menyadari: jika ia terus hidup di dalam kehilangan, maka cinta yang pernah ia miliki akan berubah menjadi luka… bukan lagi cahaya.
Semua bermula dari satu peristiwa kecil.
Suatu sore, saat Arman pulang dari makam Sari, ia melihat seorang anak kecil duduk di depan warung kosong. Bajunya kotor, wajahnya pucat menahan lapar. Anak itu berkata dengan suara lirih,
“Om… aku belum makan.”
Pertanyaan itu sederhana. Namun hati Arman runtuh.
Di mata anak itu, ia melihat dirinya sendiri sendirian… dan kehilangan.
Hari itu, Arman membelikan anak itu sepiring nasi.
Besoknya datang satu anak lagi.
Kemudian dua.
Lalu lima.
Anak-anak yatim di kampung itu mulai mengenalnya. Bukan sebagai “Pak Arman yang pendiam,” tapi sebagai “Om Arman yang selalu punya makanan.”
Rumah kecil yang dulu sunyi perlahan mulai dipenuhi suara.
Langkah kecil di pagi hari.
Tawa sederhana di sore hari.
Tangisan kecil di malam hari.
Arman memasak sendiri dengan resep Sari. Ia menyapu, memandikan, menjemput anak-anak sekolah, mendengarkan keluh kesah mereka. Saat ada yang demam, ia begadang. Saat ada yang menangis, ia memeluk.
Tangannya yang dulu menggendong satu cinta… kini menggendong banyak masa depan.
Beberapa orang berkata, “Kenapa repot-repot mengurus anak orang lain?”
Arman hanya tersenyum, “Karena dulu ada seseorang yang menjagaku sampai akhir hidupnya. Sekarang giliranku menjaga… hingga akhir hidupku.”
Dengan tabungan kecil dan bantuan donatur, Arman membuka rumahnya menjadi tempat singgah anak yatim.
Tidak ada papan besar.
Tidak ada yayasan.
Hanya satu lelaki tua… dan cinta yang tidak habis dibagikan.
Ia mengajarkan mereka membaca, salat, dan makan dengan sopan. Ia tidak menjanjikan masa depan indah, tapi ia memberi satu hal yang pasti: rumah.
Dan akhirnya, Arman menyadari:
Ia tidak kehilangan cinta.
Ia hanya memindahkannya.
Setiap malam, sebelum tidur, ia menatap langit dan berbisik, “Sari… aku masih mencintaimu. Tapi sekarang aku juga mencintai mereka.”
Terkadang Arman merasa… seolah Sari tersenyum dari kejauhan.
Karena cinta sejati tidak pernah mati
Ia hanya berubah bentuk.
Waktu mengajarkan Arman untuk terbiasa sendiri.
Ia tidak lagi menangis setiap malam. Tidak lagi bercakap panjang dengan foto di dinding. Ia belajar menikmati sepi sebagaimana seseorang menikmati senja diam, namun penuh rasa.
Pagi-pagi ia menyeduh kopi kecil. Duduk di kursi kayu yang mulai rapuh. Mendengar suara burung di atap rumah. Tidak ada yang ia tunggu, kecuali matahari naik perlahan.
Dan malam…
malam adalah sahabat setianya.
Ia membaca buku lama, menyalakan lampu temaram, lalu tertidur dengan membawa rindu yang tidak pernah benar-benar hilang.
Orang-orang melihat Arman tampak baik-baik saja.
Ia tersenyum. Ia bekerja ringan. Ia membantu tetangga.
Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik ketenangannya, tubuhnya mulai menyerah.
Ia sering lupa makan.
Ia sering merasa dingin meski matahari terik.
Langkahnya semakin pendek.
Napasnya semakin sempit.
Hingga suatu pagi, Arman jatuh di dapur.
Cangkir kopi pecah. Air menggenang. Tubuhnya terbaring.
Dan tak ada suara yang memanggil namanya.
Ketika sadar di ranjang klinik kecil, dokter berkata pelan, “Bapak terlalu lama sendiri… kelelahan menumpuk.”
Arman hanya tersenyum tipis.
Ia bahkan tidak sempat berpikir siapa yang akan menjenguknya.
Dalam malam-malam rawat inap, Arman berbicara pada dirinya sendiri, “Beginilah rasanya… menua tanpa tangan yang menggenggam.”
Ia tidak takut.
Ia hanya lelah.
Dan di ujung kelelahan itu, ia merindukan satu suara:
“Sari…”
Penyakit itu membuat Arman berhenti sejenak dari hidup… lalu menyadarkannya tentang satu hal:
ia tidak diciptakan hanya untuk menunggu mati.
Ia pulih perlahan. Tubuhnya tak sekuat dulu, tapi hatinya mulai bernapas lagi.
Pada suatu sore, saat Arman duduk di teras rumah sakit menunggu hasil pemeriksaan, seorang perawat menitipkan dua anak kecil padanya. Anak-anak itu duduk diam di samping Arman, memegang plastik kecil berisi biskuit
Ibunya baru saja meninggal.
Ayah mereka entah ke mana.
Dan di mata mereka, Arman melihat sesuatu yang sangat ia kenal:
kesepian.
Sejak hari itu, Arman pulang ke rumah dengan langkah berbeda.
Ia membersihkan rumah kecilnya yang lama terbengkalai.
Ia membuka jendela.
Ia menjemur kasur tua.
Bukan untuk dirinya.
Tapi untuk mereka yang tidak punya tempat pulang.
Satu anak menjadi dua.
Dua menjadi lima.
Lima menjadi banyak.
Anak-anak yatim mulai datang.
Ada yang kehilangan orang tua,
ada yang ditelantarkan,
ada pula yang tidak pernah tahu arti rumah.
Dan Arman…
yang dulu kehilangan satu cinta,
sekarang menemukan banyak alasan untuk hidup.
Ia kembali memasak.
Membersihkan luka kecil.
Menyisir rambut kusut.
Mengantar sekolah.
Mendengarkan cerita yang kadang tidak masuk akal namun penuh makna.
Setiap malam, ia duduk di tengah mereka dan berdoa.
Bukan meminta hidup mudah.
Tapi meminta hati kuat.
Tubuhnya sering lelah.
Kakinya kerap gemetar.
Namun saat satu anak memeluknya dan berkata,
“Om… jangan pergi ya…”
Arman tahu…
Ia tidak sendirian
Dan suatu malam, saat Arman tertidur dikelilingi napas kecil anak-anak yang telah kenyang, ia bermimpi tentang Sari.
Istrinya tersenyum.
Tidak berkata apa-apa.
Hanya menatapnya… dengan bangga.
Dan Arman terbangun dengan air mata,
bukan karena sedih…
tapi karena bahagia.
Karena akhirnya,
kesetiaan yang ia jaga selama ini
tidak berhenti di makam
tetapi hidup
dalam hati anak-anak
yang memanggilnya…
“Ayah.”
Tahun-tahun berlalu, dan rambut Arman kini seluruhnya memutih.
Langkahnya tidak lagi tegap.
Tangannya sering gemetar saat menuangkan teh.
Namun rumah kecil itu…
kini penuh kehidupan.
Ada belasan anak yang memanggilnya “Ayah”.
Ada doa setiap subuh.
Ada suara sekolah tiap pagi.
Ada tawa yang mengisi kebisuan masa lalunya.
Tubuh Arman memang melemah,
tetapi jiwanya tidak.
Suatu malam yang tenang, setelah memastikan semua anak tertidur, Arman duduk sendiri di ruang tengah. Ia memegang foto lama dirinya dan Sari.
Ia tersenyum.
Lama.
Lalu berkata pelan, “Sari… kita berhasil ya. Aku tidak hancur. Aku melanjutkan cintamu.”
Ia memejamkan mata sejenak…
lalu napasnya berhenti dengan sangat tenang.
Tidak ada jeritan.
Tidak ada rasa takut.
Hanya keheningan yang lembut.
Keesokan paginya, anak-anak menemukan Arman tertidur di kursinya, kepala bersandar ke dada, wajahnya damai seperti seseorang yang telah sampai di rumah setelah perjalanan panjang.
Pemakamannya sederhana.
Namun air mata tumpah seperti hujan.
Bukan karena satu orang kehilangan satu lelaki tua…
Tapi karena banyak hati kehilangan seorang ayah.
Di nisan sederhana itu tertulis:
“Ia memang tidak melahirkan kami…
tapi ia memberikan kami kehidupan.”
Anak-anak itu tumbuh.
Sebagian menjadi guru,
sebagian menjadi pedagang,
sebagian menjadi orang tua yang lembut.
Dan masing-masing membawa satu hal yang sama:
cara Arman mencintai.
Setiap tahun, mereka berkumpul.
Membersihkan makam.
Duduk
Diam
Berdoa
Dan selalu ada satu kalimat yang diucapkan bersama:
“Terima kasih, Ayah.”
Arman tidak meninggalkan warisan uang.
Tidak meninggalkan bangunan mewah.
Ia hanya meninggalkan…
cinta yang hidup.
Dan itu…
abadi.
Pada suatu malam yang sangat tenang, Arman duduk sendirian di ruang kecil rumahnya. Di sekelilingnya, anak-anak yatim yang ia asuh telah tertidur lelap. Wajah-wajah kecil itu damai, hangat, dan penuh hidup.
Ia memandang mereka satu per satu.
Seperti dulu ia memandang Sari.
Dengan cinta yang sama.
Dengan doa yang sama.
Dengan hati yang utuh.
Arman mengambil foto istrinya, mengusapnya perlahan, lalu berkata lirih,
"Aku tidak menyelamatkan dunia, Sari…
tapi aku mencoba menyelamatkan dunia kecil kita."
Ia tersenyum.
Untuk pertama kalinya…
tanpa luka.
Napasnya melambat.
Dan tanpa suara…
Arman pergi.
Bukan dalam kesepian.
Melainkan dalam pelukan doa anak-anak
yang menyebut namanya "Ayah"
bahkan saat mereka tidur.
Keesokan paginya, mereka menemukannya di kursi itu.
Tenang.
Damai.
Seperti seseorang yang akhirnya pulang.
Pemakamannya sederhana.
Namun langit seperti ikut menangis.
Anak-anak berdiri memeluk satu sama lain.
Tidak ada harta yang diwariskan Arman.
Tidak ada bangunan megah.
Tapi ada sesuatu yang jauh lebih besar.
Cinta.
Rumah kecil itu tidak ditutup.
Tidak dijual.
Tidak dilupakan.
Anak-anak itu tumbuh.
Menjadi manusia.
Menjadi cahaya.
Dan di setiap langkah hidup mereka,
nama Arman selalu hidup.
Di tiap doa.
Di tiap kebaikan.
Di tiap anak yang membantu anak lain.Karena Arman telah mengajarkan mereka:
cinta sejati…
tidak pernah mati.
TAMAT