Langkah Menuju Tanah Suci
LANGKAH MENUJU TANAH SUCI
Perjalanan Hidup Seorang Siti Maryam
BAB 1 — Hidup dalam Kesederhanaan
Di sebuah kampung kecil di pinggiran Brebes, di antara rumah-rumah bambu dan sawah yang terbentang luas, tinggal seorang wanita sederhana bernama Siti Maryam, berusia 42 tahun. Tubuhnya kurus, kulitnya gelap terbakar matahari, namun matanya selalu menyala penuh semangat.
Setiap pagi pukul lima, sebelum adzan Subuh berkumandang, Siti sudah bangun. Ia menyalakan tungku kayu bakar di dapurnya yang sederhana. Suara kayu beradu dengan api menjadi musik pagi yang menemaninya membuat adonan tempe mendoan, pisang goreng, dan tahu isi jualan yang sudah ia lakoni selama hampir 12 tahun.
Ia hidup bersama dua anaknya, Rafi yang duduk di kelas tiga SMA, dan Rania yang masih kelas lima SD. Sejak suaminya meninggal lima tahun lalu karena gagal ginjal, Siti menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga.
Hidupnya tidak mudah. Kadang dalam sehari hanya laku separuh jualan, tapi Siti tak pernah mengeluh. “Yang penting halal, yang penting anak-anak bisa sekolah,” begitu katanya setiap kali tetangga menanyakan kabar.
Rumahnya kecil berdinding papan, beratap seng yang bocor di beberapa bagian. Tapi setiap malam, sebelum tidur, Siti selalu menatap foto Ka’bah kecil yang ditempel di dinding dengan paku berkarat. Foto itu ia dapat dari seorang tetangga yang pulang umroh beberapa tahun lalu.
“Ya Allah, kapan aku bisa melihat rumah-Mu secara langsung?” bisiknya lirih, sambil mengusap air mata yang perlahan jatuh di pipinya.
BAB 2 — Impian yang Terpendam
Impian umroh itu sebenarnya sudah ia pendam sejak lama. Dulu, ketika suaminya masih hidup, mereka sering berbicara tentang keinginan itu.
“Kalau nanti ada rezeki, kita umroh bareng, ya, Yah,” ujar Siti waktu itu.
“InsyaAllah, Bu. Kalau Allah izinkan, pasti bisa,” jawab suaminya sambil tersenyum.
Namun setelah suaminya meninggal, impian itu terasa seperti langit yang terlalu tinggi untuk dijangkau.
Setiap kali mendengar kabar tetangga berangkat umroh, Siti selalu ikut merasa bahagia, tapi juga ada sebersit rasa sedih yang sulit dijelaskan. Ia ingin, tapi sadar tak punya apa-apa.
Suatu hari, seorang ibu yang baru pulang umroh datang membeli gorengannya. Ibu itu tampak berseri-seri, membawa air zam-zam dan kurma. “Alhamdulillah, Bu Siti. Rasanya luar biasa bisa lihat Ka’bah,” katanya sambil tersenyum.
Siti menatapnya dengan kagum. “Enak ya, Bu. Saya pengin juga, tapi belum sanggup.”
Ibu itu menepuk bahunya pelan. “Kalau niatnya sungguh-sungguh, nanti Allah kasih jalan. Umroh itu bukan soal uang, tapi panggilan hati.”
Kata-kata itu menancap di dada Siti. Malam itu ia tidak bisa tidur. Ia duduk di sajadah, memandangi foto Ka’bah di dinding. Dalam sujud panjangnya ia berdoa:
“Ya Allah, aku tahu aku bukan siapa-siapa, tapi aku rindu… Rindu sekali ingin datang ke rumah-Mu. Kalau Engkau izinkan, tolong tunjukkan jalanku, walau sekecil apa pun.”
BAB 3 — Menabung Seribu Demi Seribu
Sejak malam itu, hidup Siti berubah. Ia mulai menyisihkan sedikit dari penghasilannya setiap hari, tak peduli berapa pun. Kadang hanya seribu rupiah, kadang dua ribu. Ia simpan dalam celengan kecil berbentuk kubah masjid hadiah dari anaknya, Rania.
“Buat Ummi, biar nanti bisa ke Mekah,” kata Rania waktu memberikannya.
Siti menatap anaknya dengan senyum dan pelukan haru.
Hari demi hari, celengan itu mulai berat. Meski uangnya kecil, tapi setiap kali memasukkan receh, Siti selalu berdoa, “Ya Allah, terimalah niatku.”
Namun perjuangan itu tidak mudah. Kadang dagangannya tidak laku, bahan gorengannya naik, dan anaknya harus bayar biaya sekolah. Tapi Siti tetap menyisihkan sedikit.
Ia bahkan mulai membuat pesanan gorengan untuk acara hajatan dan tahlilan di kampung. Malam-malam panjang sering ia habiskan di dapur, menggoreng sambil menahan kantuk. Kadang tangan melepuh karena minyak panas, tapi ia tak peduli. “Ini perjuanganku menuju rumah Allah,” katanya dalam hati.
BAB 4 — Ujian Kesabaran
Suatu hari, ujian datang. Anak bungsunya, Rania, jatuh sakit. Ia harus dirawat di puskesmas selama beberapa hari. Uang tabungannya hampir habis untuk biaya obat dan kebutuhan sehari-hari.
Malam itu, setelah menidurkan anaknya, Siti duduk di dapur sendirian. Ia membuka celengan itu perlahan, menatap uang kertas yang sudah mulai lusuh. Hatinya perih.
“Ya Allah, maafkan aku. Aku harus pakai uang ini dulu. Anak hamba sakit, Engkau tahu bagaimana hatiku,” katanya lirih sambil meneteskan air mata.
Setelah uang itu habis, ia mulai lagi dari nol. Tidak ada keluhan, hanya tekad baru. “Kalau Allah menghendaki aku ke sana, tak peduli berapa kali aku jatuh, aku pasti bangkit lagi.”
BAB 5 — Cahaya dari Kesungguhan
Tahun demi tahun berlalu. Siti tetap dengan rutinitasnya: bangun pagi, menggoreng, berjualan di depan sekolah, dan menabung sedikit demi sedikit.
Hingga suatu hari, pengurus masjid kampung mengumumkan program umroh gratis dari seorang dermawan asal Jakarta bagi jamaah teladan. Syaratnya: rajin shalat berjamaah, aktif membantu kegiatan masjid, dan dikenal jujur serta istiqamah.
Warga kampung tanpa ragu menyebut nama Siti Maryam.
Ketika panitia datang ke rumahnya untuk menyampaikan kabar itu, Siti tertegun. Ia pikir mereka salah orang. “Saya? Umroh gratis? Tidak mungkin…” katanya dengan suara bergetar.
Ketua panitia tersenyum. “Bu Siti, ini rezeki dari Allah. Semua warga sepakat, panitia pun setuju. Ibu layak mendapatkannya.”
Siti menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis lama sekali. “Ya Allah… Engkau kabulkan doaku… Aku ini cuma penjual gorengan, tapi Engkau undang aku ke rumah-Mu.”
BAB 6 — Perjalanan Menuju Tanah Suci
Hari keberangkatan pun tiba. Siti mengenakan mukena putih sederhana dan kerudung lama yang telah ia jahit sendiri. Saat berpamitan dengan anak-anak dan tetangga, air matanya mengalir tanpa henti.
“Doakan Ummi ya, Nak,” katanya memeluk Rafi dan Rania erat-erat.
Sesampainya di Tanah Suci, langkah Siti gemetar saat pertama kali melihat Ka’bah. Dari kejauhan, air matanya jatuh deras. Ia tak mampu menahan haru.
“Ya Allah, inikah rumah-Mu yang selama ini hanya aku lihat di foto? Inikah tempat yang selalu aku rindukan dalam setiap sujudku?”
Ia menangis tersedu-sedu, bersyukur tiada henti. Semua rasa lelah, susah, dan derita hidup seolah sirna seketika.
Ketika melakukan thawaf, ia mengingat semua perjalanan hidupnya dari kesulitan menjual gorengan, kehilangan suami, hingga perjuangan menabung recehan. Setiap putaran ia isi dengan doa: untuk anak-anaknya, untuk suaminya yang telah tiada, dan untuk semua orang yang pernah membantunya
BAB 7 — Keajaiban Doa di Tanah Suci
Selama di Mekah, Siti tidak hanya berdoa untuk dirinya. Ia juga banyak membantu jamaah lain yang kesulitan. Ia menuntun nenek tua yang tersesat di pelataran Masjidil Haram, dan membantu membawakan air zam-zam untuk rombongan.
“Bu Siti ini luar biasa,” kata salah satu pembimbing rombongan. “Meski sederhana, tapi hatinya sangat tulus.”
Malam terakhir di Tanah Suci, Siti duduk di depan Ka’bah sendirian. Ia berdoa lama sekali:
“Ya Allah, terima kasih Engkau telah mengundangku. Aku tidak punya apa-apa, tapi Engkau beri segalanya. Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas, selain terus berbuat kebaikan.”
BAB 8 — Pulang dengan Hati yang Baru
Sekembalinya ke kampung, sambutan warga begitu hangat. Mereka bangga pada Siti. Banyak yang terinspirasi oleh kisahnya.
Namun yang paling berubah bukanlah kehidupannya secara materi, melainkan hatinya. Ia lebih tenang, sabar, dan ikhlas.
Siti kembali berjualan gorengan seperti biasa. Tapi kali ini, dagangannya selalu habis. Banyak pelanggan baru datang, ingin mencicipi “gorengan Bu Haji Siti,” begitu mereka memanggilnya sekarang.
Suatu hari, seorang ibu muda datang dan bertanya, “Bu Siti, bagaimana caranya Ibu bisa kuat menjalani hidup seperti itu?”
Siti tersenyum lembut.
“Kuncinya cuma satu, Nak yakin sama Allah. Kita boleh miskin harta, tapi jangan pernah miskin harapan. Allah itu Maha Melihat perjuangan kita, walau cuma recehan yang disimpan di celengan.”
BAB 9 — Berbagi Inspirasi
Beberapa bulan kemudian, Siti diminta menjadi pembicara di pengajian kampung. Awalnya ia menolak karena malu, tapi akhirnya ia berdiri juga di depan para ibu-ibu.
Dengan suara pelan namun penuh ketulusan, ia berkata,
“Saya tidak sekolah tinggi, saya tidak punya apa-apa. Tapi saya punya satu hal yang besar niat. Kalau kita niat karena Allah, apa pun bisa terjadi. Dulu saya menabung seribu demi seribu, saya tidak tahu kapan bisa ke Mekah. Tapi Allah tahu waktu terbaik.”
Ibu-ibu di sana menitikkan air mata mendengarnya. Sejak itu, banyak dari mereka mulai menabung juga untuk umroh, mengikuti jejak Siti. Ia menjadi contoh nyata bahwa impian besar bisa lahir dari hati yang kecil namun tulus.
BAB 10 Penutup: Jalan yang Dipilih Allah
Beberapa tahun kemudian, anak pertamanya, Rafi, lulus kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan. Ia berkata, “Ummi, sekarang giliran Rafi yang ganti berjuang. Ummi tidak usah jualan lagi.”
Tapi Siti tersenyum, “Tidak, Nak. Ummi tidak jualan karena butuh uang, tapi karena ingin tetap bermanfaat. Dari hasil jualan inilah Ummi belajar sabar, dan dari sabar inilah Allah kirim rezeki yang tidak terduga.”
Rumahnya kini sudah lebih layak, beratap genteng, dan berdinding tembok. Namun foto Ka’bah di dinding tetap tidak ia ganti. Itu bukan sekadar gambar itu simbol perjalanan iman, bukti bahwa doa yang tulus bisa menembus langit.
Setiap malam, Siti selalu menatap foto itu lagi. Ia tersenyum, dan berkata pelan:
“Terima kasih, ya Allah. Engkau telah menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Mu. Dari tangan yang hanya mampu menggenggam uang seribu, Engkau jadikan aku tamu di rumah-Mu.”
Dan di situlah kisah Siti Maryam ditutup bukan dengan akhir yang mewah, tapi dengan akhir yang tenang dan penuh makna. Ia hidup bahagia bersama anak-anaknya, menjadi inspirasi bagi banyak orang, dan membuktikan bahwa:
“Kaya bukan berarti punya segalanya, tapi mampu mensyukuri segalanya.”
TAMAT