Kecewaanya Rania


KECEWANYA RANIA


Hidup Rania tak pernah mudah. Ia lahir dari keluarga sederhana di pinggiran kota kecil di Jawa Tengah. Ayahnya sudah lama meninggal karena sakit, sementara ibunya bekerja sebagai penjual sayur di pasar. Sejak kecil, Rania terbiasa hidup dalam keterbatasan. Tapi di balik kekurangan itu, ia tumbuh menjadi gadis yang manis, lembut, dan penuh kesabaran.

Setelah lulus SMA, Rania tak bisa melanjutkan kuliah. Biaya menjadi tembok besar yang tak mampu ia panjat. Ia memilih bekerja membantu ibunya di pasar, kadang juga jadi kasir di toko kelontong. Di tengah kesederhanaan hidup itu, datanglah seseorang yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat Arman.

Arman adalah pria tampan, sopan, dan terlihat bertanggung jawab. Mereka bertemu ketika Rania bekerja paruh waktu di warung makan. Arman sering datang ke sana saat jam makan siang. Dari seringnya tatap mata dan senyum kecil, benih cinta tumbuh tanpa diminta.

Awal Bahagia

Arman memberi Rania perhatian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Di saat semua orang sibuk dengan urusan masing-masing, Arman hadir dengan kata-kata lembut, pesan pagi yang menenangkan, dan panggilan malam yang membuat Rania merasa berharga.

“Ran, kamu tahu nggak? Aku nggak butuh cewek kaya. Aku cuma butuh yang tulus kayak kamu,” kata Arman suatu malam, ketika mereka duduk di taman kecil dekat rumah.

Rania tersenyum. Kata-kata itu begitu sederhana, tapi baginya bermakna dalam. Ia mulai membuka hatinya sepenuhnya. Rania percaya bahwa Arman adalah takdir terbaiknya. Ia mulai mengandalkan Arman dalam banyak hal  dari keuangan hingga keputusan hidup.

Kadang, ketika uang hasil kerjanya di pasar tak cukup untuk bayar kontrakan, Arman selalu siap membantu. “Udah, nggak usah malu. Aku kan pacar kamu,” begitu katanya.

Lama-lama, ketergantungan itu tumbuh tanpa disadari. Rania jarang mengambil keputusan tanpa meminta pendapat Arman. Ia merasa hidupnya tenang karena ada seseorang yang menuntun dan menopangnya.

Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama.

Retaknya Kepercayaan

Beberapa bulan terakhir, Arman mulai berubah. Pesan-pesannya tak serajin dulu, panggilan malamnya makin jarang, dan setiap kali Rania bertanya, jawabannya selalu, “Capek kerja, Ran.”

Awalnya Rania berusaha memahami. Ia tahu Arman sedang berusaha keras menabung demi masa depan mereka. Tapi lambat laun, intuisi seorang wanita mulai berbisik  ada sesuatu yang tidak beres.

Hingga pada suatu sore, saat Rania datang ke tempat Arman bekerja untuk memberikan makanan, ia melihat pemandangan yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.

Di depan toko elektronik tempat Arman bekerja, ia melihat Arman berjalan berdua dengan seorang wanita  bukan sekadar teman kerja, tapi tampak terlalu dekat. Tawa mereka renyah, tangan mereka saling bergandengan tanpa rasa bersalah.

Langkah Rania terhenti. Dunianya berputar. Kotak makanan yang ia bawa hampir terjatuh. Dadanya terasa sesak, seakan udara tak lagi mau masuk. Ia tak ingin percaya, tapi matanya sendiri yang melihat.

Malamnya, ia menatap layar ponselnya lama. Tangannya gemetar saat menulis pesan:

 “Kamu masih sayang aku, Man?”

Jawaban datang lama kemudian, hanya satu kalimat pendek:

 “Ran, aku nggak tahu harus jawab apa. Maaf.”

Kata “maaf” itu menusuk lebih dalam daripada pisau.

Hancur dan Terpuruk

Sejak malam itu, Rania seperti kehilangan arah. Ia menangis setiap malam, menatap atap kamarnya yang mulai bocor, memikirkan semua kenangan mereka.

Ia merasa bodoh karena selama ini terlalu bergantung, terlalu percaya, dan terlalu berharap.

Ia berhenti bekerja beberapa hari, kehilangan semangat untuk apa pun. Ibunya khawatir melihatnya murung tanpa sebab. Tapi Rania tak sanggup bercerita. Ia takut ibunya kecewa, takut mendengar kata-kata, “Makanya jangan terlalu percaya laki-laki.”

Namun di titik paling gelap itu, Rania mulai menyadari sesuatu. Tak ada yang bisa menyelamatkannya  kecuali dirinya sendiri.

Awal Kebangkitan

Suatu pagi, ia berdiri di depan cermin kecil di kamarnya. Wajahnya pucat, matanya bengkak. Tapi di balik itu, ada sisa api kecil di hatinya yang belum padam.

Ia menatap bayangannya dan berkata pelan:

 “Aku nggak mau jadi lemah lagi. Aku harus bisa.”

Sejak hari itu, Rania mulai mengubah hidupnya sedikit demi sedikit. Ia kembali bekerja di toko kelontong. Uangnya memang tak banyak, tapi ia menabung sekecil apa pun hasilnya. Ia juga mulai belajar hal baru melalui ponsel bututnya  menonton video tentang bisnis kecil, membaca artikel motivasi, dan menulis mimpi-mimpinya di buku harian.

Beberapa bulan kemudian, ia memutuskan membuka usaha kecil-kecilan: jualan kue kering rumahan. Bermodal Rp200.000 hasil tabungan, ia membeli bahan seadanya dan mulai memasarkan kuenya lewat WhatsApp dan tetangga sekitar.

Awalnya sepi, tapi Rania tak menyerah. Ia terus mencoba, memperbaiki rasa, menambah variasi. Ia belajar dari pelanggan, dari kesalahan, dan dari pengalaman.

Lama-kelamaan, usahanya mulai dikenal. Pesanan datang dari tetangga, teman pasar, bahkan dari warung-warung kecil.

Menjadi Mandiri

Waktu berjalan, dan perlahan hidup Rania berubah. Ia mulai bisa membantu ibunya lebih banyak, membayar kontrakan tanpa meminta bantuan siapa pun.

Yang lebih penting, ia bisa tidur dengan tenang tanpa menunggu pesan dari siapa pun.

Di sela kesibukannya, kadang bayangan Arman masih datang. Ada rindu kecil, tapi bukan untuk kembali  hanya sisa kenangan dari masa lalu yang pernah ia cintai.

Kini Rania sudah bisa memaafkan, bukan untuk Arman, tapi untuk dirinya sendiri.

Ia sadar, cinta yang sesungguhnya bukan soal bergantung, tapi berjalan berdampingan dengan kekuatan masing-masing.

Suatu sore, ketika ia sedang mengantarkan pesanan, Rania tanpa sengaja bertemu Arman di depan mini market. Wajah Arman tampak kaget, mungkin tak menyangka Rania akan terlihat begitu berbeda  rapi, percaya diri, dan tenang.

“Rania… apa kabar?” tanya Arman gugup.

Rania tersenyum tipis.

“Baik. Aku lagi antar pesanan kue. Kamu gimana?”

“Masih sama, kerja di toko. Eh… aku denger kamu udah punya usaha ya?”

Rania hanya mengangguk. “Iya, kecil-kecilan. Tapi cukup buat hidup.”

Ada jeda hening. Arman menatap Rania dengan mata yang seolah menyesal.

“Ran, aku salah dulu. Aku nyesel ninggalin kamu.”

Rania menatapnya tenang.

“Semua orang bisa salah, Man. Tapi dari kesalahan kamu, aku belajar jadi kuat. Jadi terima kasih, ya.”

Rania lalu melangkah pergi tanpa menoleh.

Langkahnya mantap, penuh keyakinan. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa bebas.

Hidup Baru

Tiga tahun berlalu. Usaha kue Rania kini berkembang pesat. Ia menyewa dapur kecil, memperkerjakan dua karyawan, dan memberi nama bisnisnya “Ranita Cookies”  gabungan dari namanya sendiri, simbol kekuatan seorang wanita yang pernah terluka tapi tidak menyerah.

Dari hasil usahanya, ia bisa membeli motor bekas, membantu ibunya renovasi rumah, dan bahkan rutin menyisihkan uang untuk sedekah.

Banyak yang kagum padanya  gadis sederhana yang dulu bergantung, kini jadi contoh keteguhan hati.

Rania juga mulai sering diminta berbicara di acara perempuan UMKM di kelurahan. Ia berbagi kisah hidupnya, bukan untuk pamer, tapi untuk menguatkan yang lain.

Di salah satu acara itu, ia berkata dengan suara bergetar namun penuh keyakinan:

 “Dulu, aku pikir hidupku akan hancur tanpa seseorang. Tapi ternyata, kehilangan itu justru membuatku menemukan diriku yang sesungguhnya. Jangan takut sendirian, karena kadang dari kesepianlah kita belajar mencintai diri sendiri.”

Tepuk tangan menggema, dan beberapa wanita menitikkan air mata.

Akhir yang Damai

Kini, setiap pagi, Rania membuka toko kecilnya dengan senyum. Di dinding toko, ia menempelkan satu kalimat yang jadi pengingat setiap hari:

 “Aku pernah bergantung, aku pernah jatuh, tapi aku juga bisa bangkit karena aku berharga.”

Rania tahu hidup masih panjang dan penuh tantangan. Tapi ia tak takut lagi. Ia sudah melewati badai paling berat: dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.

Dan dari luka itulah, ia menemukan cahaya baru.

Bukan dari cinta laki-laki, tapi dari cinta yang tumbuh dalam dirinya sendiri.

Tiga tahun sudah berlalu sejak Rania benar-benar menutup lembar lama hidupnya.

Usaha Ranita Cookies kini semakin besar. Ia sudah memiliki lima karyawan, toko fisik kecil di pinggir jalan utama, dan bahkan pesanan rutin dari beberapa kafe di kota.

Dulu, Rania hanya bermimpi bisa hidup tanpa meminjam uang dari siapa pun. Tapi sekarang, ia justru bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Namun di balik keberhasilannya, Rania masih memilih hidup sederhana. Ia tetap tinggal bersama ibunya, tetap bangun pagi menyiapkan adonan, tetap tersenyum ramah kepada pelanggan.

Yang berbeda hanyalah hatinya: kini tenang, kuat, dan tak lagi mudah terguncang.

Datangnya Seseorang yang Baru

Suatu hari, ketika Rania sedang mengantar pesanan ke sebuah acara pameran UMKM, ia bertemu dengan seorang pria bernama Reno.

Reno adalah fotografer sekaligus pebisnis muda yang sedang mendokumentasikan kegiatan UMKM di daerahnya. Saat itu, ia tertarik memotret stan Rania yang tampak ramai dan penuh warna.

“Permisi, boleh saya ambil beberapa foto produknya? Saya suka konsepnya yang natural,” kata Reno sopan sambil menunjukkan kamera di tangannya.

Rania mengangguk dengan senyum ramah. “Boleh banget, Mas. Tapi jangan kaget kalau kuenya bikin ketagihan ya,” ujarnya sambil bercanda.

Reno tertawa kecil. “Kalau enak, saya beli satu toples.”

“Terserah, tapi minimal dua dong biar untung,” jawab Rania ringan.

Percakapan kecil itu menjadi awal yang sederhana  tapi hangat. Setelah pameran usai, Reno kembali menghubungi Rania untuk mengirimkan hasil foto. Dari situ, komunikasi mereka berlanjut.

Awalnya, hanya seputar bisnis dan kolaborasi. Reno membantu membuatkan konten foto dan promosi online, sementara Rania memberikan produknya untuk acara yang Reno liput.

Namun semakin sering mereka berinteraksi, Reno melihat sesuatu yang istimewa pada diri Rania  kesederhanaan yang tulus dan keteguhan yang memikat.

“Rania itu beda,” katanya suatu hari kepada temannya. “Dia nggak cuma jualan, dia hidup dengan hati.”

Rasa yang Tumbuh Tanpa Paksaan

Rania sendiri sebenarnya enggan membuka hati lagi. Luka masa lalu membuatnya berhati-hati.

Tapi Reno tak pernah memaksa. Ia hadir dengan cara yang tenang  membantu tanpa pamrih, mendengarkan tanpa menghakimi.

Suatu sore, saat mereka duduk di depan toko setelah menutup dagangan, Reno berkata pelan,

 “Aku tahu kamu pernah kecewa. Tapi aku nggak datang buat gantiin siapa pun. Aku cuma pengen jadi orang yang bikin kamu tenang.”

Kata-kata itu sederhana, tapi terasa dalam.

Rania menunduk, menatap tangannya yang berlumur tepung.

 “Aku udah lama nggak percaya sama cinta, Ren. Takut kecewa lagi.”

Reno tersenyum lembut. “Berarti aku harus bikin kamu percaya lagi  pelan-pelan aja.”

Hari-hari berikutnya, Reno semakin sering datang membantu di toko. Kadang ia membantu memotret produk, kadang hanya duduk menemani Rania menghitung pesanan.

Bukan dengan janji manis, tapi dengan tindakan nyata.

Ibu Rania Melihat Perubahan

Ibunya Rania, Bu Nur, sempat memperhatikan perubahan anaknya.

Rania yang dulu tertutup, kini sering tersenyum kecil tanpa alasan. Suatu malam, Bu Nur menatapnya dan berkata,

 “Kalau memang dia baik, nggak apa-apa dicoba, Nak. Kadang cinta datang lagi saat kita udah nggak nyari.”

Rania hanya tersenyum malu. Ia tahu ibunya benar.

Namun kali ini, ia tak ingin terburu-buru. Ia ingin mengenal seseorang bukan dari janji, tapi dari sikap dan kesabaran.

Dan Reno membuktikan itu. Selama berbulan-bulan, ia tetap ada  tanpa menuntut, tanpa memaksa.

Ketika Cinta Menyapa Kembali

Waktu terus berjalan.

Di ulang tahun keempat Ranita Cookies, Rania mengadakan acara kecil di tokonya. Banyak pelanggan dan teman UMKM yang hadir. Reno juga datang, membawa buket bunga matahari  bunga yang katanya melambangkan ketulusan dan cahaya baru.

Saat acara selesai, Reno berdiri di depan Rania dan berkata dengan nada tenang namun pasti,

“Rania, kamu tahu nggak? Dari semua orang yang pernah aku temui, cuma kamu yang bisa bikin aku ingin berhenti mencari. Aku nggak janji bakal selalu sempurna, tapi aku janji bakal setia dan jujur.”

Rania menatapnya lama. Air matanya jatuh, bukan karena sedih, tapi karena hatinya akhirnya percaya lagi  bahwa cinta sejati bukan tentang bergantung, tapi tentang saling menopang.

Ia mengangguk pelan dan berkata,

 “Aku nggak butuh yang sempurna, Ren. Aku cuma butuh yang nggak ninggalin saat aku lagi berjuang.”

Mereka tersenyum.

Di balik cahaya toko kecil dan aroma kue yang baru matang, kisah baru Rania pun dimulai  bukan lagi kisah luka, tapi kisah penyembuhan.

Rania yang Baru

Beberapa bulan kemudian, Ranita Cookies semakin berkembang dengan dukungan Reno. Ia membantu membuat pemasaran digital, membuka toko online, bahkan merancang logo baru yang lebih profesional.

Namun yang paling penting, Reno selalu menghormati kemandirian Rania. Ia tak pernah melarang, tak pernah mengekang.

“Usaha ini kamu yang bangun, Ran. Aku cuma bantu ngelap keringatmu aja,” katanya sambil tertawa.

Rania tersenyum lembut. Dalam hati ia tahu  inilah bentuk cinta yang sehat: saling mendukung tanpa mengikat.

Kini, setiap kali ia menatap ke belakang, Rania tak lagi menyesali masa lalunya. Ia justru bersyukur pernah disakiti, karena dari sanalah ia belajar arti harga diri, kemandirian, dan kekuatan.

Ia sering berkata kepada karyawannya,

 “Kalau kamu ditinggalkan, jangan hancur. Karena bisa jadi itu cara Tuhan membebaskanmu dari yang salah, supaya kamu bertemu dengan yang benar.”

Akhir Bahagia yang Tenang

Setahun kemudian, Reno dan Rania resmi menikah dalam acara sederhana di rumah. Tidak mewah, tidak glamor, tapi penuh kehangatan.

Semua orang tahu betapa panjang jalan yang ditempuh Rania untuk sampai di titik itu  dari gadis yang pernah bergantung, jatuh, hingga berdiri di atas kakinya sendiri.

Saat malam pertama pernikahan mereka, Rania memandang langit dari beranda rumah barunya dan berbisik pelan,

 “Terima kasih, Tuhan. Dulu aku minta diselamatkan dari kesedihan, tapi ternyata Engkau memberiku kekuatan untuk menyelamatkan diriku sendiri.”

Ia memejamkan mata, membiarkan angin malam menyapa wajahnya.

Kini, hidupnya tak lagi diwarnai air mata penyesalan, melainkan senyum ketulusan.

Rania bukan lagi gadis yang bergantung.

Ia adalah wanita yang berhasil menulis ulang kisahnya sendiri  dari luka menjadi pelajaran, dari kecewa menjadi kekuatan, dan dari kesendirian menjadi kebahagiaan.

Senja sore itu begitu indah. Langit oranye muda, burung-burung kembali ke sarang, dan angin membawa aroma manis kue dari dapur Ranita Cookies.

Rania berdiri di depan tokonya, mengenakan celemek berwarna krem, rambutnya terikat rapi, wajahnya teduh dengan senyum yang tulus.

Di sampingnya, Reno tengah membantu menata toples-toples kue di etalase. Mereka bekerja dalam diam, tapi di antara mereka ada ketenangan bukan karena kata-kata manis, melainkan karena rasa saling menghargai yang nyata.

Ketika semua sudah selesai, Reno menatap Rania dan berkata pelan,

 “Kamu sadar nggak, Ran? Hidup kamu sekarang jauh banget dari dulu.”

Rania menatap ke langit senja, matanya berbinar lembut.

 “Iya, Ren. Dulu aku cuma gadis yang bergantung sama orang lain, yang pikir hidup nggak akan bisa tanpa dia. Tapi ternyata… aku salah. Tuhan nunjukin caranya supaya aku kuat  lewat sakit, lewat kehilangan.”

Reno menggenggam tangannya erat.

 “Dan dari kehilangan itu, kamu nemuin dirimu yang sebenarnya.”

Rania tersenyum. “Dan akhirnya, aku juga nemuin kamu.”

Mereka tertawa kecil. Tak perlu janji besar, tak perlu kata cinta yang berlebihan  cukup kebersamaan yang jujur, sederhana, dan damai.

Malam itu, setelah toko ditutup, Rania duduk di ruang kecilnya, membuka buku harian lama yang dulu selalu ia tulis di masa sulit.

Di halaman pertama tertulis kalimat samar dengan tinta air mata:

“Aku takut kehilangan dia, karena aku nggak tahu gimana caranya hidup sendiri.”

Dan di bawahnya, dengan pena baru dan senyum yang tenang, Rania menulis kalimat tambahan:

 “Sekarang aku tahu. Aku nggak butuh siapa pun untuk membuatku berarti  tapi aku bersyukur Tuhan menghadirkan seseorang yang menghargai aku sebagaimana aku menghargai diriku sendiri.”

Ia menutup buku itu perlahan, lalu memeluknya ke dada.

Di luar jendela, lampu toko masih menyala lembut  menjadi simbol perjuangan seorang wanita yang pernah hancur, tapi bangkit lebih kuat dari sebelumnya.

Kini, hidup Rania bukan lagi kisah tentang kecewa, tapi tentang kemenangan.

Kemenangan atas rasa takut, atas luka, dan atas masa lalu yang dulu ia kira akan menghancurkannya.

Rania menatap langit malam dan berbisik pelan,

 “Terima kasih, Tuhan. Aku sudah sampai di akhir cerita bukan akhir dari hidupku, tapi awal dari kebahagiaan yang sebenarnya.”

Dan di sanalah kisah Rania benar-benar berakhir… dengan hati yang utuh, dan senyum yang tak lagi berpura-pura.

Rania menutup semua kisah pahit di masa lalu dengan senyum yang tenang.

Dulu ia bergantung pada cinta yang salah, kini ia berdiri dengan kekuatan sendiri.

Dulu ia menangis karena kehilangan, kini ia tersenyum karena menemukan jati diri.

Hidupnya sederhana, tapi penuh makna.

Bukan lagi tentang siapa yang menemaninya, tapi tentang bagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Dengan hati yang utuh dan langkah yang pasti, Rania melangkah ke masa depan  tanpa dendam, tanpa luka, hanya dengan kedamaian.


 Tamat.

Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa