Masa Kecil yang Hilang


Saat Ayah Sadar, Waktu Sudah Terlambat




Arman tidak pernah bermimpi menjadi kaya.

Ia hanya ingin satu hal sederhana: anaknya tidak hidup menderita seperti dirinya dulu.

Ia lahir dari keluarga miskin. Ayahnya buruh angkut, ibunya tukang cuci. Arman kecil sering tidur dalam perut kosong, sering diejek karena seragamnya lusuh, dan sering menangis karena tidak punya uang untuk membeli buku sekolah. Dalam hidupnya yang sempit itu, ia menanam satu janji:

 “Jika nanti aku punya anak… aku tidak akan membiarkan dia merasakan semua penderitaan ini.”

Maka ketika Lila lahir, Arman seakan mendapat alasan baru untuk hidup.

Ia bekerja tanpa hitung waktu.

Ia menolak libur.

Ia terbiasa pulang saat langit sudah gelap.

Ia pikir: selama anaknya tercukupi, ia adalah ayah yang baik.

Tapi Arman salah.

Rumah yang Sunyi Meski Penuh

Rumah Arman bukan rumah kecil. Dindingnya tak reyot, atapnya tak bocor. Lila punya sepatu bagus, tas baru setiap tahun, dan makanan hangat di meja.

Tapi rumah itu terasa kosong.

Ibu Lila telah meninggal saat Lila masih bayi. Sejak itu, hanya ada satu sosok di hidup Lila: ayah yang jarang di rumah.

Lila tumbuh seperti bunga yang disiram namun tak pernah disentuh matahari.

Ia sering duduk di dekat jendela, menunggu suara motor yang tak kunjung datang.

Ia hafal bunyi langkah ayahnya…

tapi jarang mendengarnya.

Di sekolah, teman-temannya sering dijemput orang tua. Lila pulang sendiri.

Saat ada pertunjukan, ia mencari wajah ayahnya di kerumunan…

tapi yang ia lihat hanyalah wajah orang lain.

Setiap kali gurunya bertanya:

“Orang tuamu kemana?”

Lila hanya tersenyum kecil,

dengan dada yang terasa kosong.

Ulang Tahun Tanpa Peluk

Saat Lila berusia tujuh tahun, ia membuat kue dengan tangannya sendiri.

Tangannya belepotan tepung.

Bajunya kotor.

Wajahnya penuh semangat.

Ia duduk di meja makan dengan kue yang sedikit gosong.

Ia menunggu…

Satu jam.

Dua jam.

Tiga jam.

Ketika jarum jam melewati pukul sembilan malam, air mata Lila jatuh ke atas kue.

Arman pulang hampir tengah malam.

"Yah… ini ulang tahun Lila."

Arman terdiam.

Ia menepuk kepala Lila, berkata tergesa:

"Maaf ya Nak. Ayah capek. Besok ya…"

Besok itu tidak pernah datang.

Dan sejak hari itu, Lila tidak pernah lagi membuat kue ulang tahun

Saat Kata Menjadi Luka

Lila tumbuh menjadi remaja pendiam.

Ia tidak nakal.

Tidak membangkang.

Tidak memberontak.

Ia hanya… dingin.

Arman menyadarinya terlambat.

Suatu malam, saat Arman merasa sedikit lega dari tekanan kerja, ia mencoba berbincang.

"Lila, bagaimana sekolahmu?"

"Baik."

"Kamu ada masalah?"

"Tidak."

Jawaban pendek.

Nada datar.

Mata tanpa cahaya.

Dan saat Arman mengangkat suara karena kesal, Lila berdiri.

Dengan mata berkaca, ia berkata pelan:

"Ayah selalu ada…

tapi rasanya tidak pernah benar-benar hadir…"

Kalimat itu lebih tajam daripada pisau.

Arman ingin menjawab.

Ingin membela diri.

Ingin menjelaskan letihnya hidup.

Tapi tidak satu pun keluar.

Penyesalan yang Terlambat

Malam ini, Arman duduk sendiri di kamar.

Ia membuka album foto lama.

Satu foto saat Lila bayi.

Satu foto saat Lila TK.

Tidak banyak foto…

karena ayahnya jarang ada.

Tangannya gemetar.

Dada itu yang selama bertahun-tahun terasa kuat…

kini retak. “Aku bekerja untuk membahagiakanmu…

Tapi ternyata aku lupa caranya mencintaimu.”

Untuk pertama kalinya, Arman menangis seperti anak kecil.

Saat Semua Terlambat

Tahun berlalu.

Lila dewasa.

Lila pergi.

Ia tidak pergi dengan marah.

Ia pergi dengan luka yang diam.

Dan Arman tinggal dengan rumah yang sunyi,

dan kenangan yang tidak pernah terjadi.

Di usia senja, Arman duduk di kursi rotan.

Menyeduh kopi…

untuk diminum sendiri.

Ia sering berbicara pada foto Lila.

"Maafkan Ayah…

Ayah tidak miskin lagi…

tapi Ayah kehilanganmu."

Kepulangan

Suatu sore, seseorang berdiri di depan pintu.

Arman membuka…

"Lila?"

Perempuan dewasa berdiri di sana.

Wajahnya lebih tegar.

Matanya lebih tenang.

Mereka tidak menangis.

Tidak langsung berpelukan.

Hanya diam.

Namun Lila melangkah… duduk di samping ayahnya.

Ia menggenggam tangan Arman.

Tangan yang dulu jarang menggenggam tangannya.

"Ayah tidak terlambat…

Ayah hanya terlalu lelah saat dulu."

Air mata Arman jatuh pelan.

Damai di Sisa Usia

Sejak hari itu, Arman bukan lagi ayah yang sibuk.

Ia ayah yang hadir.

Menyapu rumah.

Membuatkan teh.

Mendengarkan cerita.

Tidak ada penyesalan yang sepenuhnya sembuh.

Tapi ada damai…

karena cinta akhirnya pulang.

Pesan Kehidupan

 Anak tidak membutuhkan orang tua sempurna.

Anak membutuhkan orang tua yang hadir.

Jangan tukar masa kecil anak dengan uang.

Karena waktu… tidak bisa dibeli.

Sejak Lila kembali hari itu, rumah Arman memang tak lagi sunyi.

Ada suara langkah kaki.

Ada gelas di meja selain miliknya.

Ada cahaya lampu kamar yang dulu selalu padam.

Namun…

tidak semua luka sembuh hanya dengan kepulangan.

Ada sesal yang terlalu lama mengendap.

Ada rindu yang sudah menjadi batu di dada.

Arman berusaha.

Ia bangun lebih pagi, menyiapkan sarapan.

Ia bertanya, walau sering tak dijawab.

Ia duduk di ruang tamu berharap ada obrolan.

Tapi Lila…

masih terasa jauh.

Ia tinggal,

tapi hatinya tidak sepenuhnya pulang.

Ayah yang Menebus dengan Diam

Arman mulai sakit-sakitan.

Tangannya sering gemetar.

Dada sesak.

Napasnya pendek.

Namun ia tidak mau berobat.

"Buat apa Ayah mengobati tubuh…

kalau hati ini yang lebih dulu sekarat?"

Ia hanya ingin satu hal: duduk lebih lama bersama anaknya.

Setiap malam, ia menatap pintu kamar Lila berharap anak itu keluar dan bicara.

Tapi pintu itu…

lebih sering tertutup.

Kebenaran yang Terucap Terlambat

Suatu malam hujan deras.

Lampu mati.

Hanya cahaya lilin kecil.

Arman dan Lila duduk saling membelakangi.

Dan untuk pertama kalinya, Lila bicara…

"Ayah tahu rasanya menangis sendirian waktu kecil?"

Arman terdiam.

"Ayah tahu bagaimana rasanya pulang dengan nilai bagus…

dan tidak ada yang peduli?"

Sunyi.

"Ayah tahu bagaimana rasanya berpura-pura kuat…

padahal cuma ingin dipeluk?"

Arman menunduk.

"Aku tidak dendam, Yah…"

"Aku cuma… kosong."

Kata kosong itu…

lebih menyakitkan daripada kebencian.

Pelukan Pertama yang Terlambat

Malam itu, Arman berdiri.

Ia memeluk Lila.

Pelukan yang seharusnya terjadi dua puluh tahun lalu.

Tubuh Lila kaku.

Dan akhirnya…

ia menangis.

"Bukan karena Ayah sekarang buruk…

tapi karena Ayah dulu…

tidak ada."

Arman memeluk lebih erat.

Maaf… terlambat.

Hari Terakhir Ayah

Esok paginya, Arman tidak bangun.

Lila mengetuk pintu kamarnya.

Diam.

Ia membuka…

Ayahnya terbaring.

Wajahnya tenang.

Tangan masih menggenggam foto kecil foto Lila saat TK.

Di belakang foto itu tertulis:

 "Maaf… Ayah tidak hadir saat kamu kecil.

Tapi biarlah Ayah menunggumu di surga…

jika dunia ini terlalu sepi untuk memaafkanku."

Lila jatuh terduduk.

Tangisnya pecah.

Penyesalan Anak

Kini Lila duduk sendirian di rumah itu.

Untuk pertama kalinya dalam hidup…

ia berharap ayahnya kembali sibuk.

Karena sakitnya…

jauh lebih berat saat ia benar-benar pergi.

Ia berdiri di depan cermin dan berbisik:

"Ayah…

kenapa kita menunggu sampai sama-sama lelah…

untuk saling mencintai?"

Yang Tersisa

Di meja tua itu,

masih ada dua cangkir.

Satu dingin.

Satu penuh debu.

Dan di kursi ayahnya…

tak ada lagi siapa pun.

Pesan yang Perih Tapi Nyata

Saat orang tua menunggu waktu…

anak menunggu kehadiran.

Dan saat keduanya bertemu…

mungkin sudah terlambat.

Pagi itu, Lila terbangun dengan perasaan yang aneh.

Rumah terlalu sunyi.

Tidak ada suara gelas,

tidak ada suara langkah kaki ayahnya di dapur,

tidak ada suara radio kecil yang biasanya diputar pelan.

Ia merasa gelisah.

Perasaannya tidak salah.

Lila membuka pintu kamar ayahnya perlahan.

"Ayah…?"

Arman terbaring.

Matanya terpejam.

Pucat.

Lila panik.

Tangan ayahnya dingin.

"Ayah… bangun yah…"

Tidak ada jawaban.

Lila mengguncang bahunya, air matanya tumpah.

"Ayah jangan gini… aku belum siap…"

Ia gemetar menghubungi tetangga.

Teh manis, bau minyak kayu putih, doa yang tergesa.

Arman akhirnya membuka mata.

Napasnya tertahan.

Dan jam dinding berdetak keras…

menghitung detik yang hampir merenggut segalanya.

Namun takdir memilih menahan…

Hari Dimana Semua Berubah

Sejak hari itu, Arman tidak lagi sama.

Tubuhnya lemah.

Jalannya pelan.

Tapi matanya lebih hidup dari sebelumnya…

Karena ia pernah hampir kehilangan satu-satunya alasan hidup.

Lila kini sering duduk di sampingnya.

Kadang diam.

Kadang berbincang tentang hal sepele.

Dan pelan-pelan…

dinding itu mulai runtuh.

Percakapan yang Tak Pernah Ada

Suatu sore, Arman berkata pelan:

"Ayah iri dengan ayah lain…

yang bisa menemani anaknya tumbuh."

Lila mengangguk.

Dan untuk pertama kalinya…

ia menangis tanpa marah.

Surat yang Dibakar

Malam itu, Arman menyerahkan sepucuk surat lusuh.

Surat lama.

Ditulis bertahun-tahun lalu.

Isinya permintaan maaf

yang tak pernah berani ia sampaikan.

Lila membacanya.

Menangis.

Lalu… ia membakar surat itu.

Bukan karena tidak penting.

Tapi karena ia berkata:

"Aku mau dengar Ayah bicara langsung…

bukan lewat kertas."

Arman terisak.

Ayah yang Belajar Lagi

Arman belajar ulang menjadi ayah.

Ia menyapu rumah dengan badan tua.

Menyeduh teh dengan tangan gemetar.

Mengantar Lila bekerja jika mampu.

Ia duduk berjam-jam… hanya untuk mendengar cerita.

Seolah ingin mengganti…

dua puluh tahun yang hilang.

Pelukan Tanpa Jadwal

Tak ada jadwal pelukan.

Tak ada kalender penebusan.

Kadang Lila menangis tanpa sebab.

Kadang Arman diam terlalu lama.

Namun mereka belajar…

bahwa tidak semua yang rusak harus utuh kembali.

Cukup disayangi…

meski retak.

Hari-hari setelah ayahnya jatuh sakit terasa berbeda bagi Lila.

Bukan karena rumah tiba-tiba menjadi ramai,

tapi karena sunyinya berubah bentuk.

Dulu, sunyi itu seperti rumah kosong.

Sekarang… seperti luka terbuka.

Arman tidak lagi bangun pagi untuk bekerja.

Ia lebih sering duduk di kursi rotan,

menghadap jendela,

menatap hari berlalu perlahan.

Kadang matanya kosong.

Kadang berkaca.

Seolah hidup yang dulu ia kejar dengan tergesa…

akhirnya mengejarnya balik.

Ayah yang Kehilangan Masa Lalu

Suatu sore, Arman berkata lirih:

"Yah… Ayah tidak ingat kapan terakhir kali menggendongmu."

Kalimat itu tidak diucapkan dengan dramatis.

Ia sederhana.

Tapi dada Lila terasa diremas.

"Seharusnya Ayah hafal wajahmu di setiap usia…

tapi yang Ayah hafal hanya wajahmu hari ini."

Lila diam.

Ia tidak tahu harus bersedih atau lega.

Bersedih karena semua yang hilang.

Lega karena masih ada… hari ini.

Makan Malam yang Aneh

Mereka mulai makan bersama.

Awalnya kaku.

Tak ada yang tahu harus bicara apa.

Sendok beradu piring  suara itu lebih sering terdengar daripada kata.

Namun suatu malam, Arman berkata:

"Maaf kalau makanannya terlalu asin…

tangan Ayah sudah tidak seperti dulu."

Dan Lila menjawab:

"Rasanya pas."

Padahal asin.

Tapi yang asin itu…

bukan hanya lauk.

Hari Tanpa Jadwal

Arman tidak punya rencana besar.

Ia hanya ingin memberi:

waktu.

Dan waktu…

itulah yang dulu ia curi dari anaknya.

Ia mulai menunggu Lila pulang.

Ia menyiapkan teh sore.

Ia mengusap kepalanya jika bisa.

Hal-hal kecil yang…

seharusnya terjadi saat Lila berusia lima tahun.

Kenangan yang Bukan Milik Mereka

Suatu malam listrik mati lagi.

Dan Arman bercerita.

Tentang ibunya Lila.

Tentang cinta yang gagal ia rawat karena sibuk menjadi ayah tunggal yang keras.

"Ayah takut membiarkan cinta tumbuh…

takut kehilangan lagi."

Lila menunduk.

"Aku kehilangan Ayah…

dalam hidup."

Mereka terdiam lama.

Karena dua kehilangan berbeda…

rasanya tetap sama.

Ayah yang Tidak Bisa Menebus

Suatu hari Arman berkata:

"Andai waktu bisa dibeli…

Ayah jual seluruh hidup Ayah."

Lila tersenyum pahit.

"Masalahnya…

apa gunanya masa kecil jika dilakukan dua kali?"

Pertanyaan itu…

tak punya jawaban.

Detik Kecil yang Berharga

Pada suatu sore, Lila pulang lebih cepat.

Arman sedang tertidur di kursi.

Lila duduk di lantai  hanya memandang.

Dan untuk pertama kalinya…

ia tak lagi marah.

Ia hanya…

lelah.

Ia menyelimuti ayahnya.

Tindakan kecil itu merobohkan sisa tembok.

Saat Hati Mulai Bicara

Lila mulai bercerita.

Tentang takut.

Tentang kesepian.

Tentang tidak berani punya anak nanti — takut mengulang luka.

Arman menangis.

Bukan drama.

Tangis yang diam.

Ayah yang Belajar Mendengarkan

Dulu Arman memecahkan hidup dengan kerja.

Sekarang ia memeluk hidup dengan diam.

Ia tidak menggurui.

Tidak membela diri.

Ia hanya berkata:

"Ayah memang gagal…

dan Ayah tidak minta lupa…

Ayah hanya minta kesempatan…

untuk mencintaimu sekarang."

Tidak Sempurna, Tapi Ada

Cinta mereka tidak sembuh instan.

Ada hari baik.

Ada hari sunyi kembali.

Tapi kini…

sunyi itu tidak sendiri.

Sejak Ayahnya jatuh sakit, Lila sering bermimpi buruk.

Bukan mimpi tentang kehilangan…

…tapi tentang masa kecilnya sendiri.

Tentang malam-malam dingin

tanpa pelukan,

tanpa suara cerita,

tanpa doa dari seorang ayah.

Ia selalu terbangun

dengan dada sesak

dan mata basah.

Dan Ayahnya…

tak pernah tahu.

Buku Kecil di Lemari Tua

Pada suatu siang, Lila membersihkan lemari lama di gudang.

Lemari itu penuh debu.

Di sudut paling dalam…

sebuah buku kecil jatuh.

Sampulnya pudar.

Di dalamnya…

bukan catatan pelajaran.

Tapi tulisan tangan kecil:

"Hari ini Ayah tidak pulang."

"Aku makan sendiri."

"Aku ulang tahun."

"Aku tidak punya siapa-siapa."

Halaman demi halaman.

Dada Lila gemetar.

Itu…

buku hariannya sendiri.

Yang dulu ia tulis saat masih terlalu kecil

untuk mengerti kenapa ia sendirian.

Ia duduk di lantai.

Menangis…

bukan seperti orang dewasa.

Tapi seperti anak kecil

yang dahulu…

pernah ia kubur.

Malam Dimana Semua Terbuka

Malam itu,

Lila berdiri di depan kamar Ayah.

Tangannya gemetar.

Ia mengetuk.

Dan untuk pertama kalinya…

ia tidak berpura-pura kuat.

Tangisan Tanpa Sensor

Ia melempar buku itu ke kasur.

"Ini… aku waktu kecil."

Arman memungutnya.

Lama ia membaca.

Tangannya gemetar

seperti ingin memeluk masa lalu…

tapi tak bisa.

Setiap kalimat…

seperti mengiris kepalanya sendiri.

Dan ia menangis.

Bukan karena sakit.

Bukan karena usia.

Tapi karena…

ia membaca bagaimana seorang anak menderita…

dan itu anaknya sendiri.

Pengakuan yang Terlambat

"Ayah tidak tahu kamu sesepian itu..."

"Ayah kira kamu kuat…"

Lila tertawa kecil.

"Paling sering orang dewasa salah di situ."

Tangis mereka pecah.

Malam Tanpa Siapa-siapa

"Yah… pernah aku demam,

muntah sendirian di kamar mandi."

"Dan aku takut mati…

tanpa ada yang tahu."

Arman menutup wajahnya.

Ia tidak kuat.

Maaf yang Tidak Menghapus Luka

"Ayah minta maaf."

Lila tidak menjawab.

Bukan karena membenci…

tapi karena…

maaf tidak bisa

mengembalikan seorang ayah

ke usia lima tahun.

Namun Malam Itu…

Arman tidur di kursi depan kamar Lila.

Untuk pertama kalinya.

Menjaga.

Tanpa alarm.

Tanpa kerja.

Tanpa alasan.

Sejak malam Arman tidur di depan kamar Lila, sesuatu berubah.

Bukan langsung.

Bukan dramatis.

Tapi terasa.

Seperti luka lama yang akhirnya disentuh udara.

Pagi yang Aneh

Lila terbangun dan mendapati ayahnya tertidur di kursi dengan selimut tipis.

Wajahnya pucat,

tapi tenang.

Untuk pertama kalinya…

ada seseorang menunggunya bangun.

Ia berdiri lama di ambang pintu.

Tidak tahu harus melakukan apa.

Hanya berdiri…

dan menangis pelan.

Sarapan yang Tidak Sempurna

Pagi itu, nasi gosong.

Telur terlalu matang.

Teh terlalu pahit.

Tapi mereka makan bersama.

Tanpa suara.

Tanpa keluhan.

Dan entah kenapa…

itu terasa lebih hangat dari makanan mahal mana pun.

Ayah yang Menyesal Tanpa Drama

Sejak hari itu, Arman tidak menjelaskan dirinya.

Ia tidak membela.

Tidak mengeluh.

Ia hanya…

hadir.

Ia duduk ketika Lila pulang.

Ia bertanya dengan pelan.

Ia mendengar…

bukan untuk menanggapi,

tapi untuk memahami

Langkah Kecil yang Terlambat

Arman menyimpan jadwal dokter.

Ia melipat bajunya sendiri.

Ia mulai menolak bantuan demi satu hal:

ingin berguna.

Ingin…

tidak sekadar “hidup” di rumah itu.

Kenangan yang Kembali Menyakitkan

Suatu hari,

Lila menemukan sepasang sepatu kecil di loteng.

Ukuran anak-anak.

Kuning pucat.

Ia menggenggamnya lama.

"Lila kecil… pernah punya ini?"

Arman mengangguk.

"Ayah beli…

tapi keburu kecil."

Dada Lila tercekat.

Ayahnya membeli sepatu…

tapi tidak pernah ada…

ketika ia memakainya.

Saat Hati Disiram, Tidak Dipaksa

Lila tidak langsung berubah lembut.

Kadang ia masih dingin.

Kadang menusuk tajam.

Kadang memilih diam.

Dan Arman menerima semuanya…

seperti menerima hukuman yang pantas ia terima.

Ayah yang Menunggu Dimaafkan, Tanpa Memaksa

Ia tahu…

maaf bukan hadiah

yang bisa diminta.

Maaf…

adalah waktu

yang membutuhkannya.

Malam dengan Cerita

Suatu malam, Arman memberanikan diri:

"Boleh Ayah ceritakan ibumu?"

Dan Lila mendengarkan.

Tentang wanita yang tertawa kecil.

Tentang cinta sederhana.

Tentang kehilangan…

yang membuat seorang pria lupa caranya menyayangi.

Air Mata yang Berlapis

Lila menangis…

bukan karena ibunya.

Tapi karena…

ayahnya kehilangan ibunya,

dan ia kehilangan ayahnya…

dalam waktu yang sama

Waktu tidak pernah kembali…

tapi hati bisa pulang.

Hari-hari berlalu perlahan di rumah itu.

Arman tidak lagi duduk dengan tatapan kosong.

Ia bangun pagi dengan tujuan kecil:

membuat teh untuk anaknya.

Lila tidak lagi pulang tergesa.

Ia mulai duduk lebih lama.

Mereka tidak selalu bicara.

Tapi…

keheningan itu sekarang hangat.

Permintaan Maaf yang Diterima Tanpa Pidato

Suatu pagi, Arman berkata pelan:

"Lila… boleh Ayah minta satu hal?"

Lila menoleh.

"Boleh Ayah jadi Ayah… sekarang?"

Tangannya gemetar.

Lila berdiri.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup…

ia memeluk ayahnya lebih dulu.

Tidak kaku.

Tidak ragu.

Pelukan itu tidak membawa kembali masa kecil…

tapi ia membawa pulang hati yang tersesat.

Rumah yang Akhirnya Bernapas

Kini rumah itu punya suara:

bunyi sendok

tawa kecil

doa bersama

obrolan sebelum tidur

Tidak sempurna.

Tapi hidup.

Ayah di Hari Penting

Suatu hari, Lila diwisuda.

Ia berdiri di barisan depan…

dan melihat ayahnya duduk di kursi tamu.

Untuk pertama kalinya…

ia menatap seseorang di kerumunan

dan tahu…

dia datang untuknya.

Arman menangis…

bukan karena bangga…

tapi karena:

"Ayah hadir…

dan ini tidak terlambat."

Warisan yang Tidak Kasat Mata

Arman tidak memberikan rumah mewah.

Tidak ada tabungan besar.

Tapi ia mewariskan:

waktu

kehadiran

dan cinta yang utuh….

meski terlambat.

Dan Lila…

akhirnya belajar:

bahwa tidak semua luka

harus membunuh cinta.

Beberapa…

cukup disembuhkan.

Dialog Terakhir yang Menenangkan

Suatu sore,

Lila menyeduh teh.

Arman berkata:

"Dulu Ayah mengajar hidup dengan kerja…

sekarang Ayah belajar hidup dengan cinta."

Lila tersenyum:

"Dan aku belajar…

bahwa orang tua juga manusia."

Arman memang gagal di masa lalu.

Tapi ia berhasil…

di sisa hidupnya.

Dan Lila…

akhirnya punya:

seorang ayah.

Waktu terbaik mencintai anak adalah saat mereka kecil.

Waktu kedua terbaik…

adalah sekarang.

Musim berganti.

Ayah tidak lagi hanya duduk di kursi tua.

Ia berjalan perlahan ke halaman,

menyiram tanaman kecil yang dulu tak pernah ia pedulikan.

Lila menjemur baju di teras.

Sesekali menoleh.

Memastikan ayahnya masih di sana.

Kadang mereka tidak bicara.

Tapi mereka tahu:

mereka tidak sendiri.

Doa yang Terlambat Tapi Tulus

Pada suatu malam, hujan turun pelan.

Arman berdiri di samping Lila.

Untuk pertama kalinya…

mereka berdoa bersama.

Tidak panjang.

Tidak indah.

Tapi jujur.

Arman berbisik:

"Tuhan…

terima kasih…

…karena memberiku waktu kedua.

Dan Lila…

menangis pelan.

Bukan karena luka…

tapi karena syukur.

Janji Besar yang Terucap Kecil

Di suatu sore, Arman berkata:

"Jika nanti kamu punya anak…

jangan jadi seperti Ayah dulu."

Lila tersenyum, menahan air mata.

"Ada satu bedanya, Yah…"

"Apa?"

"Aku pernah merasakan kehilangan Ayah…

jadi aku tidak ingin anakku kehilangan aku."

Arman menutup mata.

Itu…

hukuman terindah bagi kesalahannya:

anaknya menjadi lebih baik darinya.

Hadiah Terbesar

Tidak ada emas.

Tidak ada warisan besar.

Yang Arman tinggalkan…

adalah rumah yang kembali bernapas

dan hati yang belajar memaafkan.

Ia mengajarkan:

bahwa manusia boleh salah…

tapi tidak boleh menyerah mencinta.

Hari yang Sunyi Tapi Utuh

Suatu senja…

mereka duduk berdampingan.

Tidak berkata apa-apa.

Matahari tenggelam perlahan.

Dan Arman berkata:

"Kalau suatu hari Ayah tidak ada…

Ayah bahagia…

karena pernah punya kamu…

dua kali.

Saat kamu lahir…

dan saat kamu kembali."

Lila mengenggam tangannya.

Kali ini…

Masa kecil tidak pernah kembali tapi cinta kembali pulang 


TAMAT


Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa