BANGKITNYA SEORANG IBU YAMG DI TERLANTARKAN ANAK KANDUNG

 BANGKITNYA SEORANG IBU YANG DITERLANTARKAN ANAK KNDUNG 


Bagian 1 — Ibu yang Selalu Menunggu di Pintu

Di sebuah desa bernama Sukajadi, tinggallah seorang perempuan paruh baya bernama Sariwati, yang biasa dipanggil Mak Sari oleh warga desa. Rumahnya kecil, hanya berdinding papan dan berlantai tanah yang sudah mulai mengeras seperti semen saking lamanya diinjak. Di dapur, tungku kayu selalu menyala setiap pagi, bukan karena memasak makanan enak, tetapi sekadar merebus air untuk teh hangat penahan dingin.

Mak Sari hidup sendirian. Satu-satunya keluarga yang ia miliki hanyalah anak semata wayangnya, Reno, yang kini tinggal di kota bersama istrinya. Reno jarang pulang amat jarang. Tetapi Mak Sari setiap malam tetap membuka jendela kecil di depan rumah, berharap melihat siluet anaknya muncul di tikungan jalan desa yang gelap.

Satu kursi rotan tua selalu ia letakkan dekat pintu. Itulah tempat ia duduk setiap malam, menunggu. Kadang sampai kantuk menamparnya, kaki kesemutan, atau hujan tiba-tiba turun. Namun ia tetap menunggu.

 “Kalau dia pulang tengah malam, biar ada yang bukain pintu,” begitu jawaban Mak Sari setiap ada warga bertanya.

Padahal, warga tahu… Reno tidak akan pulang.

Bagian 2 — Kenangan Manis yang Berubah Menjadi Luka

Dulu, hidup Mak Sari tidak selalu sendiri. Ketika Reno masih kecil, Mak Sari dan suaminya, Pak Rahmat, hidup bahagia meski serba kekurangan. Mereka menjual singkong, menjala ikan, apa saja yang halal. Namun ketika Reno berusia tiga tahun, Pak Rahmat meninggal karena kecelakaan saat bekerja di luar kota. Dunia Mak Sari runtuh seketika.

Namun ia tetap berdiri, tetap bekerja. Ia membesarkan Reno seorang diri, menjadi ibu sekaligus ayah. Sering kali ia pulang membawa tubuh penuh lumpur, tetapi tetap tersenyum ketika melihat Reno menyambutnya dengan tangan kecil yang kotor.

Mak Sari ingat masa-masa itu seperti film yang berputar di kepalanya. Reno kecil yang menangis setiap ia pergi bekerja. Reno kecil yang memeluknya setiap ia pulang membawa kue kelapa. Reno kecil yang berjanji:

 “Kalau Reno besar, Reno bakal jaga Ibu. Reno nggak bakal ninggalin Ibu sendirian.”

Tentu saja, Mak Sari mempercayainya. Mana ada ibu yang tidak percaya pada kata-kata anaknya sendiri?

Namun dunia tidak selalu berjalan sesuai janji masa kecil. Ketika Reno kuliah dan mulai bekerja di kota, ia makin jarang menghubungi ibunya. Dan ketika ia menikah dengan seorang wanita kota bernama Mira, jarak itu makin lebar.

Telepon mulai jarang diangkat. Pesan sering dibaca tapi tak dibalas. Hingga akhirnya pertemuan pun hanya terjadi saat lebaran, itu pun sebentar.

Suatu hari ketika Mak Sari menelfon, Mira yang mengangkat.

 “Ibu bisa nggak jangan terlalu sering telepon? Reno sibuk. Kami punya urusan.”

Lidah Mak Sari kelu. Sejak kapan ia dilarang berbicara dengan anaknya sendiri?

Namun ia tetap mengalah. Ia pikir, mungkin kelak mereka akan berubah.

Bagian 3 — Titik Terendah: Ibu yang Ditelantarkan

Puncak luka terjadi saat Reno menikah. Mira, yang terbiasa hidup mewah, menganggap Mak Sari hanyalah beban. Dan Reno… bukannya membela ibunya, ia justru diamntanda bahwa ia setuju.

Saat pernikahan, hanya sedikit waktu Reno mendekati Mak Sari. Bahkan ia tidak duduk sebangku dengannya saat makan.

Beberapa hari setelah pesta, Mira berbicara terang-terangan:

 “Bu, Ibu kan lebih nyaman tinggal di desa. Di kota nanti repot. Biar kami bangun rumah tangga dulu, jangan sering datang, ya Bu.”

Ucapan itu menusuk lebih tajam daripada pisau.

Reno menunduk, tak berkata apa-apa.

Hari itu, Mak Sari pulang ke desanya sambil menahan tangis sepanjang perjalanan. Ia pulang membawa oleh-oleh rasa sakit yang tidak bisa dibungkus kertas kado.

Sejak hari itu, Reno benar-benar jarang menghubungi. Bahkan ketika Mak Sari sakit demam tinggi tiga hari, ia hanya mengirim pesan:

“Ibu banyak istirahat saja.”

Tidak ada kunjungan. Tidak ada kepedulian. Tidak ada anak.

Tetangga sering membawakan makanan karena Mak Sari tidak sanggup bangun. Setiap malam ia memandang pintu, berharap Reno muncul.

Namun tidak ada siapa-siapa.

Itulah titik terendah hidupnya. Ia hidup, tapi rasanya seperti mati berdiri.

Bagian 4 — Pertolongan dari Orang-Orang yang Tidak Sedarah

Segala sesuatu berubah pada suatu pagi saat Mak Sari jatuh pingsan di dekat sumur saat mengangkat ember air. Warga yang kebetulan lewat langsung membawanya ke puskesmas. Dokter berkata tubuhnya terlalu lelah, terlalu stres, terlalu lama memendam luka.

Kepala desa bahkan sampai datang menjenguk.

“Bu Sari, mulai sekarang Ibu jangan kerja berat. Kalau mau, ikut program UMKM desa. Ada pelatihan bikin keripik dan kemplang. Ibu bisa coba, siapa tahu cocok.”

Awalnya Mak Sari menolak. Ia merasa tak punya tenaga, tak punya harapan.

 “Ibu ini sudah tua, Pak. Mana kuat lagi.”

Namun warga tak menyerah. Mereka menjemput Mak Sari saat pelatihan dimulai, mencatatkan namanya tanpa menunggu persetujuan.

Dan di sanalah hidup Mak Sari mulai berubah.

Dengan tangan yang gemetar, ia memotong singkong, mencampur bumbu, menggoreng pelan-pelan. Pada awalnya hasilnya tidak bagus. Namun instruktur UMKM sabar membimbing.

“Bu, rasa bumbu ini enak. Ibu punya bakat. Cuma perlu percaya diri.”

Beberapa minggu kemudian, Mak Sari mulai membuat keripik untuk dijual di warung desa. Awalnya hanya 10 bungkus. Namun selang dua minggu, pesanan meningkat menjadi 40 bungkus. Bulan berikutnya, mencapai 100.

Keripik Mak Sari punya rasa khas warisan bumbu suaminya dulu. Orang-orang suka, bahkan kecanduan.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Mak Sari merasakan kebahagiaan baru: bahwa dirinya masih berharga, masih berguna, masih bisa berdiri tegak.

Bagian 5 — Bisnis yang Makin Besar

Tiga bulan berlalu. Keripik Mak Sari mulai dijual di pasar kecamatan. Warga membantu mempromosikan, bahkan anak-anak muda desa membuatkan poster dan memposting di media sosial.

Nama produknya: Keripik Sari Hati — “Dari Hati Seorang Ibu”.

Cerita di balik keripik ini membuat banyak orang tersentuh.

Bahkan ada warga kota yang sengaja datang hanya untuk membeli langsung dari Mak Sari. Salah satunya adalah seorang ibu guru dari sekolah swasta yang kemudian menawarkan kerja sama.

“Bu, saya bisa bantu jualkan di sekolah. Guru-guru dan orang tua murid biasanya suka beli makanan rumahan.”

Keripik itu makin terkenal. Dalam 6 bulan, Mak Sari mampu mengganti atap rumahnya yang bocor, membeli kursi baru, dan bahkan memperbaiki sumur bututnya.

Ia mulai mempekerjakan dua tetangga: seorang janda dan seorang remaja putus sekolah. Ia tidak hanya bangkit, tetapi juga membantu orang lain ikut bangkit.

Setiap hari dapurnya penuh suara bukan suara kesedihan, tetapi suara semangat.

Mak Sari mulai tertawa lagi.

Bagian 6 — Saat Anak yang Hilang Kembali Muncul

Bisnis Mak Sari mulai ramai dibicarakan di media sosial lokal. Foto produknya tersebar. Dan dari situlah Reno pertama kali menyadari bahwa ibunya kini punya bisnis sukses.

Saat itu, ia sedang berada dalam masalah keuangan besar. Mira kehilangan pekerjaan. Mereka terlilit utang. Rumah kontrakan hampir tak bisa dibayar.

Ketika Reno melihat foto ibunya tersenyum bersama warga desa, hatinya terenyuh juga malu. Ia sadar selama ini ia membiarkan ibunya berjuang sendirian, sementara ia sibuk mengejar ambisi bersama istri yang bahkan tidak pernah peduli.

Akhirnya, pada suatu sore yang cerah, Reno tiba-tiba muncul di depan rumah.

Mak Sari sedang menjemur keripik ketika melihat seorang pria berdiri di pintu pagar kecil rumahnya. Tubuh itu kurus, wajahnya pucat, rambutnya berantakan. Tapi mata itu… mata itu adalah mata anaknya.

“Bu…” suara Reno bergetar.

Keranjang keripik jatuh dari tangan Mak Sari. Ia terdiam, tubuhnya bergetar.

“Nak… kamu pulang?”

Reno jatuh berlutut. Air matanya pecah.

 “Bu… Reno salah… Reno jahat… Reno nyakitin Ibu. Tolong maafkan…”

Tangis keduanya pecah di halaman kecil itu. Namun tidak lama kemudian, Reno berkata:

 “Bu… Reno butuh bantuan. Mira habis lahiran. Kami kesulitan…”

Di titik itu, dunia seakan berhenti.

Mak Sari memejamkan mata.

Luka lama yang ia kubur selama bertahun-tahun kembali berdetak.

Bagian 7 — Pilihan Berat Seorang Ibu

Mak Sari masuk ke rumah tanpa berkata apa-apa. Reno mengikutinya dengan mata memohon. Sampai akhirnya, Mak Sari duduk di kursi rotan tuanya kursi tempat ia dulu menunggu anaknya pulang selama bertahun-tahun.

Kursi itu kini terasa lain. Bukan lagi tempat penuh kesedihan, tetapi tempat kekuatan.

Mak Sari menarik napas panjang dan berkata perlahan:

 “Nak… Ibu sudah memaafkan kamu sejak dulu. Tapi Ibu sudah belajar… bahwa hidup Ibu tidak lagi bergantung pada kamu.”

Reno menangis makin keras.

 “Bu… jangan bilang Ibu sudah nggak mau terima Reno lagi…”

Mak Sari menatap mata anaknya. Ada kasih, ada luka, ada ketegasan.

 “Ibu selalu terima kamu. Kamu tetap anak Ibu. Tapi Ibu tidak ingin kembali menjadi perempuan yang ditinggalkan dan menunggu tanpa kepastian. Kalau kamu mau memperbaiki hubungan, datanglah bukan untuk meminta… tapi untuk menghargai.”

Kalimat itu memukul Reno lebih kuat daripada tamparan.

Ia terdiam lama.

Akhirnya, ia hanya mampu menangis di pangkuan ibunyabseperti ketika ia masih kecil.

Bagian 8 — Rekonsiliasi dan Kebangkitan Baru

Hari itu tidak berakhir dengan perbaikan total. Namun itu adalah awal.

Reno pulang dengan hati yang penuh penyesalan. Butuh waktu lama baginya untuk benar-benar berubah. Ia mulai pulang setiap minggu. Membantu produksi keripik. Bahkan ikut berjualan ke pasar.

Mira awalnya enggan, namun setelah melihat perubahan suaminya, ia mulai ikut datang. Ia juga meminta maaf kepada Mak Sari, meski butuh waktu lama sampai sikapnya melembut.

Dan perlahan, hubungan itu mulai diperbaiki bukan karena Mak Sari lemah, tetapi karena ia sudah menjadi ibu yang tegak berdiri, bukan lagi ibu yang tergantung.

Bagian 9  Ibu yang Bangkit, Bukan Karena Anak, Tetapi Karena Diri Sendiri

Kini bisnis keripik Mak Sari sudah berkembang menjadi skala kecamatan. Ia diundang menjadi pembicara UMKM, menceritakan kisah hidupnya. Banyak orang menangis saat mendengarnya.

Ia berkata dalam setiap acara:

 “Jangan pernah merasa hidup kalian berakhir hanya karena keluarga sendiri tidak peduli. Kita bisa bangkit, selama kita mau memulai.”

Mak Sari bukan hanya inspirasi bagi desanya, tetapi bagi banyak ibu di luar sana.

Ia bangkit… bukan karena dibantu anaknya.

Ia bangkit… karena ia memilih untuk mencintai dirinya sendiri lebih dulu.

Ending

Di senja hari, Mak Sari duduk di beranda rumah baru yang ia bangun dari hasil keripik. Reno bermain dengan anaknya di halaman. Mira sedang membantu mengemas pesanan.


Desa itu kini menjadi rumah penuh kehangatan bukan karena semuanya sempurna, tetapi karena semuanya diperjuangkan.


Mak Sari tersenyum.


Ia pernah ditinggalkan.

Ia pernah dilupakan.

Namun ia tidak pernah berhenti percaya bahwa hidup selalu memberi kesempatan kedua bagi orang yang berani bangkit.


Dan ia berhasil.


Tamat 

Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa