Harga dari Sebuah Keputusan


Harga dari Sebuah Keputusan 



BAB 1 — ANAK YANG LAHIR BERSAMA KEKURANGAN


Rama dilahirkan di sebuah rumah reyot yang bahkan lebih pantas disebut gubuk. Dindingnya dari papan lapuk, lantainya tanah, atapnya bocor di banyak bagian. Bila hujan turun, ember dan panci adalah perabot yang paling sibuk di rumah itu menampung air rembesan dari langit.

Ia lahir tanpa tangisan harapan. Yang terdengar hanya suara ibunya yang terisak dan ayahnya yang menghela napas panjang, seolah mengerti bayi ini datang ke dunia yang salah.

Ibunya, Sari, hanyalah tukang cuci baju keliling. Ayahnya, Bima, buruh angkut di pasar tradisional. Pendapatan mereka tidak pernah tetap. Hari ini makan, besok belum tentu. Hari ini punya uang, besok utang.

Rama kecil tumbuh mengenal rasa lapar lebih dulu sebelum mengenal rasa bahagia.

Di usia lima tahun, ia sudah bisa membedakan rasa nasi basi dan nasi segar. Ia tahu perbedaan mie instan dengan kuah penuh dan kuah bening. Ia mengerti kapan harus pura-pura kenyang agar adiknya bisa makan lebih banyak.

Sekolah bukan menjadi tempat bermain baginya, melainkan ladang cemooh.

Sepatunya selalu organannya tertinggal sebelah kanan jauh lebih lebar karena solnya menganga. Tasnya bukan tas, tapi kantong plastik tebal yang disulap ibunya menjadi pembungkus buku.

Anak-anak lain mengejeknya:

 “Rama si miskin.”

“Rama bau got.”

“Rama nggak pernah bayar iuran.”

Ia diam. Bukan karena tidak sakit, melainkan karena sakit sudah terasa biasa.

Di rumah, ibunya selalu berkata:

“Sabar, Rama… orang miskin memang harus kuat.”

Dan Rama percaya itu.

BAB 2 — HIDUP MENGAJARKAN KELETIHAN TERLALU DINI

Ketika anak-anak lain belajar membaca, Rama belajar bekerja.

Usia sepuluh tahun, ia sudah ikut ayahnya ke pasar. Mengangkat karung beras. Menggotong sayuran. Mendorong gerobak yang beratnya selalu lebih besar dari tubuhnya.

Tangannya kasar sebelum waktunya. Bahunya bungkuk sebelum masanya.

Ia sering jatuh sakit, tapi tak pernah dibawa ke dokter. Ibunya hanya mengompres dengan air hangat dan membisikkan doa.

Ibunya sering merasa bersalah.

 “Maafin Ibu, Nak…

Ibu nggak bisa kasih kamu hidup yang layak.”

Rama menggenggam tangan ibunya.

 “Rama nggak minta lahir kaya, Bu.

Rama cuma mau Ibu sehat.”

Ibunya menangis setiap kali mendengar itu.

Ayahnya?

Ayahnya lelaki keras bukan karena jahat, tapi karena hidup terlalu kejam padanya. Ia jarang tersenyum. Kalimatnya singkat. Amarahnya panjang.

Sampai suatu hari…

Ayahnya tak pulang.

Ia kecelakaan di pasar. Tertimpa karung beras. Tulang punggungnya patah. Ia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Tak ada santunan. Tak ada uang duka.

Yang ada hanya tubuh dingin di ruang sempit dan utang menumpuk dari biaya pemakaman.

Sejak itu, kemiskinan mereka tidak lagi merangkak…

ia berlari.

BAB 3 — PRIA MUDA TANPA MASA DEPAN

Rama tumbuh tanpa mimpi.

Ia berhenti sekolah kelas dua SMP. Bekerja apa saja yang ada.

Kadang jadi kuli, kadang tukang parkir, kadang tukang cuci motor.

Siang panas, malam dingin.

Hidupnya seperti roda rusak berputar di tempat yang sama.

Ia pernah berkata pada ibunya:

“Bu, hidup itu nggak adil, ya?”

Ibunya menjawab lirih:

 “Bukan hidup yang tak adil…

tapi manusia sering kalah sebelum berjuang.”

Kalimat itu tertanam, tapi tak tumbuh.

Karena setiap hari Rama berjuang…

dan setiap hari juga ia kalah.

Teman-temannya satu per satu berubah.

Yang dulu miskin sepertinya sekarang naik motor bagus. Yang dulu ngamen sekarang punya toko.

Rama?

Masih menutup luka lama di rumah lama.

Kadang ia merasa dunia sengaja menginjaknya.

Kadang ia merasa Tuhan lupa alamat rumahnya.

BAB 4 — SAKIT YANG MENGHANCURKAN SEGALANYA

Ibunya sakit.

Awalnya hanya batuk.

Batuk menjadi demam.

Demam menjadi sesak napas.

Rama panik.

Ia membawanya ke puskesmas.

Dokter berkata, paru-parunya lemah. Perlu rawat inap. Obat mahal.

Rama hanya memiliki uang dua puluh ribu.

Ia menangis di depan meja perawat.

“Tolong, Bu… ibu saya…”

Jawaban yang ia terima:

“Kalau tidak ada biaya, kami tak bisa menahan pasien.”

Ia membawa ibunya pulang.

Setiap malam mendengar napas ibunya seperti besi berkarat.

Ia menjual barang satu-satunya radio tua dan ponsel jadul.

Setiap hari membelikan obat.

Hasilnya nihil.

Hingga suatu malam, ibunya memegang tangan Rama:

“Kalau Ibu nggak ada…

kamu jangan salah jalan…”

Kalimat itulah yang akhirnya Rama langgar.

BAB 5 — MALAM YANG MENGUBAH HIDUP SELAMANYA

Rama kehabisan cara.

Ia duduk di depan rumah.

Langit gelap.

Perut kosong.

Hatinya hancur.

Ia melihat rumah besar di ujung gang.

Terang. Bersih. Hangat.

Sesuatu di dalam dirinya berbisik:

“Cuma sekali saja…”

“Cuma untuk Ibu…” “Setelah itu kamu berhenti…”

Rama berjalan dengan kaki gemetar.

Ia masuk lewat pintu yang tidak terkunci.

Tangannya basah oleh keringat.

Ia mengambil dompet.

Ponsel.

Gelang.

Kalung.

Lalu

Teriakan.

Lampu menyala.

Wajah marah.

Pukulan.

Tendangan.

Ia jatuh.

“MALING!!!”

Polisi datang.

Borgol terpasang.

Hujan turun.

Rama menatap langit dan bergumam:

“Tuhan… aku tersesat…”

BAB 6 — KABAR YANG MEMBUNUH DARI DALAM

Di dalam sel, Rama menunggu.

Ia berharap ibunya selamat.

Yang datang justru kabar kematian.

Ia jatuh terduduk.

Menjerit seperti binatang luka.

Ia membentur kepala ke tembok.

 “IBU!!

AKU CURI UNTUKMU!!

TAPI KAU PERGI!!”

Tak ada jawab kecuali gema jeritannya sendiri.

Dalam satu hari, Rama kehilangan:

Ibunya

Kehormatan

Masa depan

BAB 7 — NERAKA BERNAMA PENYESALAN

Penjara bukan sekadar jeruji.

Ia adalah museum kesalahan.

Setiap malam Rama mengingat ibunya mencuci pakaian. Mengelap keringat. Menahan lapar.

Ia berkata pada dirinya sendiri:

 “Andai aku menahan diri…

andai aku bertahan satu hari lagi…”

Tapi waktu tak pernah mau mundur.

Seorang ustaz berkata:

 “Tuhan mengampuni…

tapi hidup mengajarkan tanggung jawab.”

Rama menangis.

Untuk pertama kalinya dengan sepenuh jiwa.

BAB 8  MEMBANGUN DIRI DI ATAS PUING DOSA

Rama berubah.

Ia rajin ibadah.

Membantu napi lain.

Belajar membaca Al-Qur'an.

Ia membersihkan toilet.

Menyapu sel.

Menolong siapa pun tanpa pamrih.

Bukan agar bebas.

Tapi agar pantas bernapas.

EPILOG  MANUSIA YANG TERLAMBAT MENJADI BAIK

Ketika kelak ia bebas…

Ibunya tak menunggu.

Rumahnya telah roboh.

Tapi hatinya berdiri.

Ia menjadi relawan.

Mengajari anak miskin.

Memberi makan gelandangan.

Ia berkata pada mereka: “Miskin bukan dosa…

tapi menyerah kepada kejahatan adalah bunuh diri jiwa.”

Rama hidup tidak kaya…

tapi ia mati sebagai manusia.

PESAN CERITA

Kemiskinan memang menusuk,

tapi kejahatan menusuk lebih dalam.

Jangan korbankan masa depan

demi solusi sesaat.

Karena penyesalan

adalah hukuman seumur hidup.

Di dalam penjara, waktu tidak berjalan…

ia menetes.

Satu detik terasa seperti setahun.

Tubuh Rama memang berada di balik jeruji,

tetapi jiwanya terkurung di malam ketika ia mencuri.

Setiap kali lampu dipadamkan,

setiap kali suara pintu besi ditutup…

mimpi buruk itu datang.

Ia selalu melihat sosok ibunya berdiri di ujung lorong penjara. Tubuhnya kurus, napasnya terengah, wajahnya pucat.

 “Rama…

kamu di mana, Nak?”

Rama berlari.

Lorong memanjang tak berujung.

Ia berteriak:

 “Ibu!! Aku di sini!!”

Tapi suaranya tenggelam.

Ibunya berjalan menjauh…

sambil batuk.

Batuk itu semakin keras.

Darah menetes dari bibir ibunya.

Rama jatuh tersungkur.

Dan setiap kali ia hendak menyentuh kaki ibunya…

ibunya menghilang.

Rama selalu terbangun sambil berteriak.

Tahanan lain mengira ia kesurupan.

Padahal…

yang merasukinya adalah penyesalan.

“ANDAI AKU MATI MALAM ITU…”

Suatu hari, Rama duduk sendirian di sudut lapangan penjara.

Matanya kosong.

Ia berkata lirih pada dirinya sendiri:

 “Andai aku mati waktu dipukuli warga…

mungkin aku tak perlu hidup dengan ini…”

Ia merasa napasnya tidak layak.

Setiap suapan nasi terasa seperti mencuri lagi…

karena ibunya meninggal kelaparan.

Ia berbicara pada langit yang tak bisa ia lihat:

“Tuhan…

Kau mengambil ibuku,

tapi mengapa membiarkanku hidup?”

Baginya, hidup adalah hukuman

yang lebih berat dari jeruji

SURAT UNTUK IBU YANG TAK PERNAH TERKIRIM

Rama mulai menulis.

Bukan untuk siapa pun…

kecuali untuk ibunya.

Ia menulis di sobekan kertas bekas bungkus makanan.

Dengan tangan gemetar.

Dengan mata basah.

 Ibu…

Maafkan Rama.

Rama pengecut.

Rama tak sanggup miskin dengan cara benar.

Rama malah menyusahkan Ibu…

Rama malah menambah derita Ibu.

Andai ada satu hari bisa Rama beli…

Rama akan kembalikan malam itu.

Rama ingin jadi anak baik…

tapi Rama terlambat.

Setiap surat selesai…

ia lipat rapi.

Ia simpan di bawah bantal tipis.

Sebanyak apa pun ia menulis,

tak ada yang sampai.

Tak ada balasan.

Tak ada pelukan.

PENYESALAN YANG MENJELMA JADI PENYAKIT

Tubuh Rama mulai kurus.

Ia jarang makan.

Sering demam.

Sering menggigil.

Dokter penjara berkata:

 “Kamu sehat…

secara fisik.”

Rama tahu,

yang sakit adalah jiwanya.

Ia sering duduk sendiri.

Tatapannya kosong.

Ia kerap bergumam:

 “Ibu pasti kedinginan…

apakah kuburnya bocor seperti rumah kita dulu?”

Pikirannya menjadi tempat siksaan sendiri.

KETIKA HARAPAN DATANG, TAPI TERASA TERLALU LAMBAT

Suatu hari, seorang relawan datang.

Membagikan makanan.

Membagikan buku.

Membagikan senyum.

Rama tidak mengambil.

Relawan itu duduk di sebelahnya.

 “Namamu siapa?”

Rama terdiam.

Lalu menjawab:

 “Anak durhaka.”Relawan itu menatapnya lama.

 “Durhaka bukan nama…”

 “…itu luka.”

Rama menangis.

Untuk pertama kalinya,

menangis di depan orang lain.

MALAM SETELAH DOA YANG PERTAMA

Malam itu, Rama sujud.

Bukan seperti biasa.

Ia tidak menyebut dosa.

Ia hanya berkata:

 “Tuhan…

jaga ibuku di sana…

karena aku gagal menjaganya di sini…”

Itu doa terpendek

dan terdalam.

Dan malam itu,

untuk pertama kalinya…

ia tidur tanpa mimpi buruk.

TAPAK PENYESALAN YANG MENJADI JALAN HIDUP

Hari-hari berikutnya…

Rama berubah.

Ia ikut program baca tulis.

Ia mengajar narapidana lain

yang buta huruf.

Ia membersihkan mushola.

Ia menolong tanpa diminta.

Ia berkata dalam hati:

“Kalau aku tak bisa menebus masa lalu,

biarlah amal menjadi permohonan maafku…”Bukan pada manusia…

tapi pada ibunya.

AKU HIDUP DEMI DOSA YANG TAK BISA DIHAPUS

Suatu malam, ia menulis lagi:

 Ibu…

Rama akan hidup sebaik mungkin…

supaya kematianmu tidak sia-sia.

Rama tidak minta bahagia…

Rama hanya ingin pantas.

Air mata menetes ke kertas.

Tinta luntur.

Seperti hidupnya.

EPILOG PENYESALAN

Jika kau bertanya…

apakah Rama bahagia?

Jawabannya:

Tidak.

Tapi ia hidup dengan benar.

Ia tidak lagi mencuri.

Tidak lagi menyalahkan.

Tidak lagi melarikan diri.

Hari ini, Rama hidup untuk satu hal:

menjadi anak baik…

dalam dunia

di mana ibunya tak bisa melihatnya.

RENUNGAN TERAKHIR

 Kejahatan lahir dari putus asa,

tapi penyesalan

lahir dari kenyataan.

Jangan tunggu kehilangan

untuk menjadi baik.

Hari itu akhirnya datang.

Pintu baja yang bertahun-tahun menahan hidup Rama…

terbuka.

Tidak ada sambutan.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada Ibu.

Yang menunggu hanya matahari yang terasa asing

dan jalan raya yang terasa lebih ramai dari sebelumnya.

Rama berdiri lama di depan gerbang penjara.

Bersama kantong plastik berisi:

satu stel baju lusuh

uang saku lima puluh ribu

dan segunung masa lalu

Orang-orang berlalu lalang.

Tidak ada yang tahu bahwa ia baru saja keluar dari neraka

yang ia ciptakan sendiri.

PULANG KE TEMPAT YANG TAK LAGI ADA

Rama pulang ke gang sempit itu.

Ke rumah yang dulu bocor.

Ke pintu kayu reyot yang selalu berdecit.

Namun yang ada tinggal tanah kosong.

Tidak ada tembok.

Tidak ada atap.

Yang tersisa hanya rumput liar

dan jejak kenangan.

Ia berdiri kaku.

Lalu berlutut.

Mencium tanah.

 “Bu…

Rama pulang…”

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian tahun…

ia menangis

seperti anak kecil

yang tak menemukan ibunya.

DUNIA TIDAK MENUNGGU ORANG YANG HANCUR

Rama ingin bekerja.

Ia mendatangi bengkel.

Ditolak.

Mencari kerja di warung.

Ditolak Orang-orang melihat catatan kriminalnya.

Mereka melihat masa lalu,

bukan niat.

Ia tidur di mushola.

Kadang di emperan.

Kadang di kolong jembatan.

Dunia tidak menyambut orang yang ingin berubah.

Dunia menguji mereka lebih keras.

MAKAN DARI AIR MATA SENDIRI

Suatu siang…

di depan toko makanan.

Rama mencium aroma ayam goreng.

Perutnya perih.

Uang tersisa:

dua ribu rupiah.

Ia berdiri lama.

Menunduk.

Menahan lapar.

Pemilik toko memperhatikannya.

 “Kamu mau makan?”

Rama mengangguk pelan.

“Saya cuma… punya dua ribu…”

Pemilik toko tersenyum.

 “Masuk”

Ia diberi sepiring nasi.

Ayam.

Teh hangat.

Rama menangis saat makan.

Bukan karena nasi…

tapi karena masih ada kebaikan di dunia.

PERTOLONGAN YANG MUNCUL PELEMBUT HATI

Pemilik warung bernama Pak Harun.

Ia tidak banyak tanya.

Ia hanya berkata:

 “Kalau mau kerja…

besok datang.”

Rama datang pagi-pagi.

Menyapu.

Mengepel.

Mengangkat galon.

Tidak minta gaji.

Hanya ingin dipercaya.

Perlahan…

Pak Harun mulai percaya.

Memberi makan.

Memberi upah kecil.

Memberi ruang tinggal di gudang belakang.

HIDUP DIMULAI DARI HAL PALING RENDAH

Rama bekerja apa saja.

Tidak menolak.

Tidak mengeluh.

Ia bekerja seolah:

bekerja adalah ibadah.

Dan benar.

Itu ibadah penebus dosa.

MENGABDI BUKAN UNTUK TERLIHAT,

TAPI UNTUK HIDUP

Rama mulai menjadi relawan pengajian anak-anak miskin.

Mengajari membaca.

Mengajari berhitung.

Membelikan buku dari gajinya.

Ia berkata pada anak-anak:

 “Belajar ya…

jangan jadi seperti Kakak…”

Ia tidak bercerita panjang.

Ia hanya ingin

mereka tidak mengulang.

KETIKA KEBAIKAN MENEMUKAN JALANNYA SENDIRI

Suatu hari, seorang donatur datang.

Melihat Rama mengajar.

Ia bertanya tentang kisahnya.

Rama jujur.

Tidak membungkus.

Tidak berpura-pura.

Ia berkata:

 “Saya mantan pencuri.”

Donatur terdiam.

Lalu berkata:

 “Tapi sekarang…

kamu penolong.”

Donatur membantu.

Memberi buku.

Memberi kesempatan.

Rama dimasukkan ke pelatihan keterampilan.

Belajar servis motor.

Belajar usaha kecil.

Untuk pertama kalinya…

hidupnya berjalan.

MENJADI BERGUNA ADALAH CARA MENCINTAI IBU DARI JAUH

Tiap malam…

Rama berdoa:

 “Bu…

Rama hidup jujur hari ini…”

Karena itulah cara

ia mengirim kabar

ke alam lain.

EPILOG KEHIDUPAN BARU

Rama tidak kaya.

Tidak populer.

Tapi ia tidur tenang.

Dan bagi orang yang pernah hidup dalam neraka rasa bersalah…

itu adalah surga.

Ia berkata pada diri sendiri:

 “Aku bukan masa laluku…

tapi aku bertanggung jawab atasnya.”

PESAN AKHIR CERITA

Hidup tidak memberi kesempatan kedua

pada semua orang.

Tapi pada yang mau berubah…

Tuhan selalu memberi.

Tahun-tahun berlalu pelan…

seperti luka yang sembuh tanpa suara.

Rama tidak pernah meninggalkan warung kecil Pak Harun.

Bukan karena tak mampu pergi,

tapi karena di sanalah untuk pertama kalinya ia merasa dianggap manusia kembali.

Warung itu berkembang.

Pelanggannya ramai.

Dan perlahan…

Rama bukan lagi “mantan napi”.

Ia dikenal sebagai:

orang yang selalu datang paling pagi,

pulang paling malam,

dan paling jarang mengeluh.

Ia menabung.

Sedikit demi sedikit.

Bukan untuk membeli rumah mewah…

tapi membeli tanah kecil

yang dulu menjadi rumahnya bersama ibunya.

Di atas tanah itu…

Rama tidak membangun rumah besar.

Ia hanya membangun:

✅ ruang belajar kecil

✅ perpustakaan alang-alang

✅ dapur yang selalu hangat

Anak-anak miskin datang setiap sore.

Belajar membaca.

Belajar berhitung.

Belajar sopan.

Belajar mimpi.

Dan setiap kali mereka memanggil:

“Pak Rama…”

Hatinyalah yang sebenarnya sedang dipanggil:

menjadi manusia baik.

KUNJUNGAN YANG TAK PERNAH TERTUNDA

Setiap Jumat…

Rama pergi ke makam ibunya.

Membersihkan nisan.

Menuangkan air.

Duduk diam.

Ia tak selalu berdoa.

Kadang ia hanya bicara:

“Bu… hari ini Rama jujur…”

“Bu… hari ini Rama bantu anak kecil…”

“Bu… hari ini Rama tidak mencuri…”

Angin berdesir.

Daun berjatuhan.

Itulah jawaban

yang ia terima setiap minggu.

SAAT RAMA SAKIT

Usia tidak bisa dibohongi.

Kerja keras.

Masa lalu.

Luka lama.

Semua menuntut bayarnya.

Rama jatuh sakit.

Di usia yang belum tua benar.

Tubuhnya kurus.

Batuknya kembali.

Paru-parunya lemah.

Seperti dulu…

seperti ibunya.

Tak ada keluarga.

Tak ada istri.

Tak ada anak.

Tapi…

ratusan anak didiknya

datang.

Membawa buku.

Membawa bunga.

Membawa surat-surat kecil.

Salah satunya bertuliskan:

 “Pak Rama…

terima kasih sudah menyelamatkan hidup kami…

dari hidup yang Bapak sendiri gagal selamatkan…”

Rama tersenyum.

Untuk pertama kalinya…

ia merasa tidak gagal.

KEMATIAN YANG TENANG

Malam itu…

Rama terbaring.

Matanya berat.

Dan dalam setengah sadar…

ia melihat sesuatu.

Bukan dinding.

Bukan plafon.

Bukan rumah sakit.

Ia melihat:

ibunya.

Berdiri, tersenyum.

Tidak batuk.

Tidak sakit.

Tidak menangis.

Ibunya membuka tangan.

Rama menangis.

 “Bu… Rama pulang…”

Dan untuk pertama kalinya…

ia tidak menunggu jawab.

Ia hanya berjalan.

Masuk ke pelukan yang ia rindukan seumur hidup.

EPILOG TERAKHIR

Rama dimakamkan sederhana.

Tidak ada berita.

Tidak viral.

Tidak ada pidato panjang.

Tapi…

di belakang nisannya…

bertumbuh:

 ratusan anak pintar

 puluhan orang tertolong

 ribuan amal yang tak tercatat

Orang-orang berkata tentangnya:

“Dia pernah salah…

tapi meninggal sebagai orang baik.”

Dan itu…

lebih indah

dari hidup tanpa dosa.


TAMAT



Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa