Senja Terakhir Di Pantai Selatan
Judul: "Senja Terakhir di Pantai Selatan"
Liburan keluarga kecil itu semestinya menjadi kenangan indah.
Rina, Dimas, dan bayi mereka yang baru berusia 9 bulan, Aksa, memilih pantai Selatan sebagai destinasi pelarian sejenak dari hiruk pikuk kota. Mereka menginap di sebuah vila pinggir pantai, hanya beberapa langkah dari hamparan pasir putih dan debur ombak yang menenangkan.
Hari itu, langit berwarna jingga. Senja perlahan turun ketika Rina menggelar tikar di tepi pantai. Aksa tertawa riang di pangkuannya, bermain dengan pasir, memegangi kerang kecil yang berserakan. Dimas, seperti biasa, sibuk mengambil gambar mereka berdua.
"Aksa lucu banget ya kalo senyum begitu," ujar Dimas sambil mengarahkan kamera ke wajah sang bayi.
Tak lama, Rina menyerahkan Aksa kepada Dimas dan berjalan ke warung kecil tak jauh dari situ untuk membeli kelapa muda. Hanya sebentar.
Namun saat ia kembali...
Tikar itu kosong. Kamera tergeletak di atas pasir.
Tidak ada Dimas.
Tidak ada Aksa.
Rina panik. Matanya menyapu seluruh pantai. Ia berlari ke kanan, ke kiri, menanyai orang-orang di sekitar.
“Maaf, Bu… saya tadi lihat Bapak bawa bayi ke arah batu karang sana,” ujar seorang penjual jagung bakar sambil menunjuk ke ujung pantai yang sepi.
Rina berlari ke arah yang dimaksud.
Tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya suara ombak, burung camar, dan angin pantai yang makin dingin menusuk tulang.
Air matanya mengalir tanpa bisa dibendung. Ia menelepon Dimas berkali-kali tidak aktif.
Hari berubah gelap.
Pencarian pun dilakukan. Polisi datang. Tim SAR menyisir bibir pantai dan perairan sekitar. Nama Aksa diumumkan di radio lokal. Wajahnya tersebar di media sosial. Tapi malam itu, dan berhari-hari setelahnya... tak ada jejak. Seolah Aksa menghilang ditelan bumi.
Dimas akhirnya ditemukan dalam kondisi pingsan di belakang semak pinggir hutan dekat pantai. Ia luka di kepala katanya, seseorang memukulnya dari belakang saat sedang bermain bersama Aksa. Ketika sadar, Aksa sudah tidak ada.
Siapa yang mengambil Aksa?
Mengapa?
Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah terjawab.
Bertahun-tahun kemudian, setiap Rina melihat laut, hatinya masih sesak. Setiap bayi yang ia lihat di gendongan ibu lain, selalu mengingatkannya pada tawa Aksa sore itu.
Pantai yang dulu menyimpan tawa... kini menyimpan luka yang tak pernah sembuh.
Tahun ke-7 setelah Aksa menghilang
Rina berdiri di depan gerbang sebuah panti asuhan kecil di daerah pegunungan, jauh dari pantai, jauh dari masa lalu yang masih terus menghantuinya.
Ia tidak pernah berhenti mencari Aksa.
Setiap kali ada informasi, sekecil apapun tentang anak hilang, anak misterius tanpa identitas, atau anak yatim yang muncul tiba-tiba Rina akan datang.
Hari itu, seseorang mengirimkan foto anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun. Anak itu ditemukan terlantar di terminal bus kecil, tanpa identitas. Tapi... ada satu yang membuat Rina nyaris kehilangan napas: anak itu punya bekas luka kecil di bawah dagunya, luka yang sama seperti yang dimiliki Aksa saat bayi, akibat jatuh dari tempat tidur.
"Kamu yakin anak ini tidak tahu siapa orang tuanya?" tanya Rina pada pengasuh panti.
Sang pengasuh mengangguk. "Kami coba tanya berkali-kali, tapi dia hanya bilang namanya 'Aksa' seperti nama yang Ibu sebutkan. Tapi dia tidak ingat apa-apa lagi. Dia bilang hanya ingat suara ombak dan seorang wanita yang sering menyanyikan lagu ini..."
Wanita itu mulai bersenandung pelan:
"Tidurlah, kasih, tidurlah... Bayang mentari sebentar lagi reda..."
Itu... lagu yang selalu Rina nyanyikan untuk Aksa sebelum tidur.
Air mata jatuh dari sudut matanya. Tubuhnya gemetar.
Anak itu kemudian muncul di ambang pintu. Matanya tajam, tapi wajahnya tenang. Seperti mengenali Rina... tapi tidak yakin dari mana.
“Aksa...?” bisik Rina, lututnya lemas.
Anak itu hanya memandanginya. Lama. Lalu perlahan-lahan melangkah mendekat. Dan dengan suara lirih, ia berkata:
“...Ibu?”
Rina tak sanggup menjawab. Ia memeluk anak itu, erat, sangat erat. Tangisnya meledak seperti lautan yang selama ini ia simpan dalam dada.
Tapi misteri belum selesai.
Siapa yang menculik Aksa?
Bagaimana ia bisa sampai ke terminal sendirian setelah tujuh tahun?
Beberapa hari kemudian, pihak kepolisian menyelidiki kembali kasus lama itu. Berbekal pengakuan Aksa yang mulai mengingat sedikit demi sedikit, mereka akhirnya menemukan petunjuk mengarah ke sebuah sindikat adopsi ilegal internasional, yang menggunakan jalur laut dan menyasar anak-anak di tempat wisata.
Aksa ternyata pernah dipindah ke beberapa kota, bahkan hampir dibawa ke luar negeri. Namun dalam kekacauan internal jaringan itu, ia sempat ditelantarkan dan ditemukan warga setempat.
Kasus itu akhirnya terbongkar. Beberapa pelaku ditangkap. Tapi sebagian lainnya masih buron.
Rina dan Dimas, yang kini kembali bersama, tidak lagi berharap dunia menjadi adil. Mereka hanya tahu satu hal: Aksa kembali.
Dan itu cukup bagi mereka untuk memulai hidup baru.
Dari Sudut Pandang Aksa
Aku sering bermimpi tentang pantai.
Bukan pantai yang hangat dan menyenangkan. Tapi pantai yang... kosong. Hening. Di sana, aku selalu berdiri sendirian. Di kejauhan, ada suara perempuan menyanyi. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya.
Sejak kecil, aku berpindah-pindah tempat. Katanya aku anak yatim. Tapi tak pernah ada yang benar-benar memelukku seperti ibu memeluk anaknya. Aku tidur di kolong bangunan, kadang di rumah kayu yang penuh anak lain. Ada orang-orang yang suka mencubit, membentak, bahkan menjual kami ke tempat asing. Aku ingat pernah duduk di dalam mobil gelap selama berhari-hari.
Aku juga ingat pernah dikurung di sebuah rumah besar.
Suatu malam, aku lari.
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa sampai ke terminal. Tapi di situlah seseorang menemukan aku, lalu membawaku ke panti. Dan sejak itu, untuk pertama kalinya aku bisa tidur dengan tenang.
Sampai... wanita itu datang.
Dia memanggilku Aksa.
Dan ketika ia menangis sambil memelukku, dadaku sakit. Tapi bukan sakit yang buruk... itu seperti ada ruang kosong yang akhirnya diisi kembali.
Setelah hari itu, aku tinggal bersamanya dan Ayah. Rumah mereka hangat. Setiap malam, Ibu menyanyikan lagu yang dulu sering muncul di mimpiku.
"Tidurlah kasih, tidurlah..."
Tapi tidak semua mudah.
Aku sering terbangun malam-malam dengan napas memburu. Tangan berkeringat. Suara pintu dibanting atau suara ombak terlalu keras membuatku takut. Ibu akan datang, memelukku. Tapi aku masih merasa ada sesuatu yang hilang dalam diriku.
Kadang aku duduk di tepi jendela, menatap laut dari kejauhan. Membayangkan siapa yang membawaku pergi. Kenapa aku. Apa aku pernah menangis mencari Ibu waktu itu?
Ibu bilang tidak apa-apa jika aku tidak ingat semuanya. Yang penting sekarang aku selamat.
Tapi aku ingin tahu.
Aku ingin tahu siapa aku...
dan siapa orang-orang jahat itu yang membuat hidup kami hancur.
Tahun berikutnya
Aksa mulai menulis jurnal. Ia menyimpan semua potongan ingatan kecil yang muncul: wajah samar pria berjenggot, bau garam laut, suara bentakan dalam bahasa asing, suara langkah sepatu berat.
Ia tumbuh menjadi remaja cerdas, pendiam, tapi tajam dalam mengamati.
Dan suatu hari... ketika sedang berjalan di pusat kota bersama ibunya, ia berhenti mendadak. Matanya membelalak.
Di seberang jalan, seorang pria tua keluar dari mobil hitam. Jalannya agak pincang.
Itu dia.
Orang yang dulu menggendongku dan menyeret Ayah ke semak-semak.
Aksa gemetar.
“Ibu... aku kenal orang itu.”
Rina menoleh. “Siapa?”
Aksa menatapnya penuh tekad.
“Orang yang menculikku.”
Aksa, 13 tahun
Hujan turun deras sore itu. Tapi dada Aksa jauh lebih gaduh dari langit.
Ia dan Rina duduk di dalam mobil polisi, mengamati dari kejauhan pria tua yang baru saja ia lihat. Pria itu kini sedang duduk di warung kopi kecil, mengenakan jas hitam, berbicara di telepon sambil tertawa.
"Namanya Suganda. Dulu pengusaha transportasi laut," ujar petugas polisi. "Tapi kami tak punya cukup bukti yang menghubungkannya dengan sindikat adopsi ilegal itu. Dia lolos dari banyak kasus."
Aksa mengepalkan tangannya. Ia ingat... pria itu dulu mencengkeram lengannya sambil berkata, "Jangan nangis! Kamu dapat orang kaya nanti!"
Rina menoleh pada Aksa, wajahnya pucat. Ia baru sadar: pria itu pernah jadi relasi bisnis Dimas. Ia pernah datang ke rumah saat Aksa masih bayi.
“Ya Tuhan…” bisik Rina, “...dia orang dekat keluarga.”
Dua minggu kemudian
Dengan bantuan psikolog dan petugas penyelidik, Aksa diminta mengingat sebanyak mungkin detail. Perlahan-lahan, dia menggambar denah rumah tempat ia pernah dikurung, mencatat nama yang ia dengar, bahkan kebiasaan orang-orang di sana.
Semua mengarah pada sebuah vila tua di luar kota, dekat pelabuhan kecil yang sudah tak terpakai.
Tim polisi bergerak diam-diam.
Dan benar saja.
Di vila itu, mereka menemukan ruang bawah tanah. Ada bekas-bekas kasur tipis, mainan rusak, dan... dokumen adopsi palsu. Puluhan paspor anak-anak dengan nama berbeda-beda.
Jejak sindikat itu belum benar-benar hilang.
Mereka hanya berpindah tempat, bersembunyi lebih dalam.
Satu bulan setelah penggerebekan
Aksa duduk di kamar, membuka jurnalnya.
Ia tidak merasa hebat. Tidak merasa menang. Tapi ia tahu satu hal: dia tidak akan diam.
"Aku ingin semua anak yang pernah hilang... pulang," katanya suatu malam pada orang tuanya.
Rina menangis. Dimas menatapnya bangga.
Di usia 14, Aksa mulai berbicara di forum-forum anak hilang. Ia menulis blog tentang trauma, tentang ingatan samar, tentang keberanian.
Dan satu hal yang selalu ia katakan di setiap akhir tulisannya:
"Aku pernah hilang. Tapi aku kembali.
Dan sekarang, aku akan bantu yang lain menemukan jalan pulang."
Usia 16 tahun – Jakarta
Aksa berdiri di depan pintu sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Tangannya menggenggam file tipis berisi catatan dan foto seorang anak yang dinyatakan hilang tiga tahun lalu. Ia mengatur napasnya.
Di dalam rumah itu, seorang ibu telah menunggunya. Wajahnya penuh harap, tapi lelah. Tatapannya mengingatkan Aksa pada ibunya dulu saat masih mengira dirinya tidak akan pernah kembali.
“Benarkah kamu bisa bantu saya cari anak saya, Dek?” tanya ibu itu lirih.
Aksa mengangguk. “Saya tidak janji akan menemukan. Tapi saya tahu rasanya kehilangan… dan saya tidak akan berhenti.”
Proyek ‘Jejak Pulang’
Sejak pengungkapan vila bawah tanah dua tahun lalu, Aksa mulai dikenal sebagai penyintas anak hilang yang berani bersuara. Bersama dengan dua temannya Daffa, anak pengacara; dan Cici, mantan penghuni panti yang pernah hampir diadopsi secara ilegal mereka membuat gerakan kecil bernama Jejak Pulang.
Mereka bukan polisi. Bukan detektif profesional.
Tapi mereka mendengar.
Merekam.
Membaca pola.
Dan yang paling penting: mereka percaya pada intuisi anak-anak.
Kasus Pertama: “Lukisan dan Luka”
Namanya Rio, 8 tahun. Hilang di pusat perbelanjaan. Saksi mata terakhir adalah seorang badut yang membagikan balon.
Ibunya, Bu Melati, sudah pasrah. Tapi Aksa meminta satu hal:
“Apa Rio suka menggambar?”
Sang ibu mengangguk, lalu menunjukkan beberapa gambar buatan Rio. Salah satunya... memperlihatkan perahu, matahari merah, dan seorang pria bertopi panjang memegang kamera.
“Ini bukan imajinasi,” gumam Aksa.
Beberapa hari kemudian, setelah menyisir forum-forum gelap di internet dan melakukan pemetaan dari pola kehilangan anak-anak, mereka menemukan petunjuk ke sebuah yayasan fiktif di luar kota.
Dan di sana...
Rio ditemukan.
Lemas. Kurus. Tapi hidup.
Aksa menjadi legenda.
Tapi bukan legenda yang suka disorot kamera.
Ia menolak wawancara TV. Ia tidak mau dikenal karena kisah sedihnya. Ia hanya ingin satu hal:
Tidak ada anak lain yang harus merasa ditinggalkan.
Malam itu, di pantai yang dulu...
Aksa berdiri bersama Rina dan Dimas, menatap lautan. Ombak malam masih sama. Angin masih membawa suara nyanyian masa lalu.Tapi kali ini, ia tidak takut.
Ia tahu, pantai ini bukan lagi tempat ia hilang.
Pantai ini adalah tempat ia pulang.
Aksa – 17 tahun – Medan, Sumatra Utara
Jejak Pulang makin berkembang. Mereka kini bekerjasama dengan LSM, psikolog, bahkan beberapa jurnalis investigasi. Aksa, meski masih muda, dianggap sebagai penggerak harapan bagi keluarga-keluarga yang nyaris putus asa.
Kasus baru datang dari Medan.
Seorang anak perempuan, umur 5 tahun, menghilang saat bermain di depan rumah kontrakan ibunya. Tidak ada saksi. Tidak ada CCTV. Polisi mencatatnya sebagai kehilangan biasa.
Tapi... ada yang aneh. Ini adalah kasus ke-5 dalam kurun 4 bulan di kawasan yang sama.
Aksa datang ke sana bersama Cici.
Dan malam pertama mereka di sana, Aksa tak bisa tidur. Bukan karena ketakutan. Tapi karena firasat yang menekan dadanya sejak turun dari pesawat.
Seperti ada seseorang yang mengawasi.
Hari ke-2 — Sebuah petunjuk aneh
Saat menyusuri lorong pasar tradisional, Aksa melihat seorang anak lelaki kecil menggambar di tanah dengan arang.
Gambarnya: seorang anak di balik jendela, tangan kecil menempel di kaca.
Aksa jongkok. “Siapa itu?”
Anak itu menjawab polos.
“Dia yang sering melambai dari rumah yang sunyi. Tapi orang-orang bilang rumah itu kosong.”
“Rumah yang mana?”
Anak itu menunjuk satu bangunan tua, tertutup tirai putih, di ujung gang. Sepi. Tak berpenghuni sejak lama, katanya.
Malam itu, Aksa dan Cici menyelinap ke rumah itu.
Tirai putih masih tergantung. Pintu belakang tidak terkunci. Suasana seperti rumah hantu, berdebu, penuh jaring laba-laba.
Dan di lantai dua… mereka menemukan sesuatu yang membuat darah Aksa membeku.
Tangan kecil menempel di balik jendela.
Seorang anak. Kurus. Menatap mereka dengan mata ketakutan.
Begitu mereka buka pintu kamar itu anak itu menangis kencang. Di sudut ruangan, ada tumpukan botol susu, makanan instan, dan mainan rusak.
Anak itu telah dikurung di sana selama 3 minggu.
Pengungkapan Besar: Pelaku adalah seorang wanita.
Mantan pengasuh panti. Ia sakit jiwa setelah kehilangan anak kandungnya akibat adopsi paksa di masa lalu. Sekarang, ia menculik anak-anak untuk “dijaga” sendiri.
Ia tak menjual anak-anak itu. Tapi ia menyembunyikan mereka, memberi makan, dan menidurkan mereka dengan lagu-lagu menakutkan.
Wanita itu akhirnya ditangkap.
Dan satu per satu... empat anak lainnya ditemukan di rumah berbeda yang ia gunakan secara bergantian.
Aksa kembali jadi pembicaraan. Tapi ia tetap menolak jadi pahlawan.
Di jurnalnya, ia menulis:
“Aku tidak ingin jadi orang terkenal. Aku hanya ingin anak-anak bisa keluar rumah tanpa rasa takut.
Dan ibu-ibu bisa tidur tanpa merindukan tangan kecil yang tak sempat mereka genggam.”
Lokasi: Kepulauan Riau – Pulau Karimun Kecil
Aksa berdiri di atas dek kapal nelayan tua, angin laut memukul wajahnya. Di kejauhan, pulau kecil yang disebut warga sekitar sebagai “Pulau Hantu” mulai terlihat. Konon, pulau itu tak berpenghuni. Tapi menurut informasi yang masuk ke Jejak Pulang, ada aktivitas gelap di sana, dan beberapa anak yang hilang di sekitar Batam dan Tanjung Balai disebut-sebut terakhir kali terlihat naik kapal ke arah pulau itu.
Flashback dua hari sebelumnya
Pesan itu masuk dari akun anonim:
“Jika kau benar-benar ingin menyelamatkan anak-anak, cari ke pulau kosong di koordinat ini. Tapi hati-hati. Mereka bersenjata. Jangan datang sendirian.”
Aksa langsung menghubungi Daffa dan Cici. Kali ini, mereka tak hanya membawa kamera dan catatan. Mereka bawa rekaman drone, alat komunikasi satelit, dan diam-diam melibatkan satu jurnalis investigasi bernama Bang Reno.
Hari Pertama di Pulau
Saat menyusup ke pulau malam hari, mereka menemukan bangunan kayu besar di tengah hutan, dijaga empat pria bertubuh besar. Tidak ada suara anak-anak. Tapi Aksa menemukan bekas sepatu kecil tertanam di lumpur dekat gudang.
Esok harinya, dari balik semak, mereka melihat anak-anak kecil sedang membawa karung pasir dan jerigen. Dipaksa bekerja, dipukul jika lambat. Anak-anak itu kurus dan tidak berbicara.
“Ini bukan panti. Ini perbudakan,” gumam Aksa.
Cici menghela napas. “Kita gak bisa diam. Tapi kita juga gak bisa nekat.”
Rencana pun dibuat.
Aksa mengaktifkan drone mini malam hari untuk merekam aktivitas ilegal. Mereka merekam pelaku membawa barang gelap ke kapal, dugaan kuat perdagangan anak dan kerja paksa lintas negara. Video itu langsung dikirim ke jaringan aktivis dan jurnalis Bang Reno yang siaga di Batam.
Daffa diam-diam menanam pelacak dan mikrofon kecil di dekat kamar anak-anak. Dari rekaman, mereka mendengar salah satu pelaku menyebut kode:
“Kapal pengangkut datang Jumat malam. Harus bersih sebelum itu.”
Itu berarti... anak-anak akan dipindahkan.
Dan mereka harus bertindak sebelum Jumat malam.
Aksi Penyelamatan
Dengan bukti cukup dan jaringan media siap siar, Jejak Pulang akhirnya melapor ke kepolisian dan Komnas Anak.
Operasi rahasia diluncurkan.
Malam Jumat itu, puluhan petugas bersenjata mengepung pulau. Tembakan peringatan dilepas. Pelaku sempat melawan, tapi akhirnya ditangkap. Tujuh anak berhasil diselamatkan.
Dua di antaranya adalah anak dari kasus hilang tiga tahun lalu di Tanjung Uban.
Setelah Operasi:
Aksa duduk bersama anak-anak penyintas di tepi pantai pulau. Mereka menggambar di pasir.
Seorang anak kecil menggambar matahari besar dan perahu kecil.
“Kenapa perahunya kecil?” tanya Aksa.
Anak itu menjawab:
“Karena yang penting bukan besar kapalnya... tapi siapa yang ada di dalamnya.”
Aksa tersenyum. Ia tahu, kapal kecil seperti Jejak Pulang memang tak sekuat lembaga besar. Tapi mereka mengangkut harapan… dan anak-anak yang butuh pulang.
Malam itu – Rumah Rina dan Dimas
Aksa menatap buku kecil itu di tangannya. Kertasnya lusuh, bagian ujungnya terbakar sedikit. Tapi yang tertulis jelas:
1. Taufik M. – Kuasa Hukum
2. Dr. Indra – Bayi & Klinik Ibu
3. R. – (Kode: "Disuplai via Karimun Selatan")
Dan di samping inisial “R.”...
ada coretan tangan kecil yang familiar.
Tulisan ayahnya.
Tulisan Dimas.
Aksa langsung gemetar. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak operasi penyelamatan, ia tak bisa memejamkan mata
Keesokan pagi Konfrontasi
Dimas sedang membuat kopi saat Aksa masuk ke dapur.
“Ayah kenal ini?” Aksa meletakkan buku itu di meja.
Dimas menoleh pelan. Tatapannya berubah. Tapi dia tidak menyangkal.
“Ayah pernah kerja sama mereka?” tanya Aksa lirih. “Dengan sindikat itu?”
Dimas diam. Tangannya gemetar. Ia duduk, menatap Aksa.
“Aku tidak tahu sejauh apa keterlibatanku dulu, Aksa. Waktu kamu masih bayi, aku butuh uang. Aku diminta mengirim dokumen perusahaan logistik... aku kira itu cuma urusan kapal barang biasa.”
“Tapi tulisan tanganmu ada di catatan sindikat perdagangan anak.”
Dimas menunduk.
“Aku baru tahu setelah kamu hilang, Aksa.”
Flashback – 8 tahun lalu
Dimas memang sedang terlilit utang usaha. Ia diminta seorang kenalan lama Suganda untuk bantu "urus dokumen logistik". Imbalannya besar. Tanpa berpikir panjang, Dimas menandatangani beberapa surat.
Ia tidak tahu kalau dokumen itu untuk legalisasi pengiriman anak-anak ke luar negeri.
Ia tidak tahu... bahwa salah satu anak yang akan dikirim adalah Aksa sendiri.
Suganda memanfaatkan kepercayaan Dimas, menyamar jadi sahabat keluarga, lalu memukul Dimas dari belakang di pantai. Aksa diculik.
Dan semua... dimulai dari tanda tangan itu.
Aksa pergi. Tanpa pamit.
Ia butuh waktu. Butuh ruang.
Ia menginap di rumah Bang Reno, jurnalis yang jadi pembimbingnya sekarang. Ia tidak membenci ayahnya... tapi hatinya hancur.
Bagaimana mungkin orang yang menyelamatkannya... juga jadi alasan ia hilang?
Cici datang menenangkan.
“Kamu tahu gak kenapa kamu bisa sehebat sekarang?”
Aksa menatapnya kosong.
“Karena kamu berdiri di atas luka paling dalam... dan gak tenggelam.”
Aksa kembali ke rumah.
Dimas duduk sendiri di ruang tengah. Matanya sembab.
Aksa duduk di depannya. “Aku belum bisa maafkan ayah. Tapi aku gak mau kehilangan ayah kedua kali.”
Dimas menatap putranya.
“Kamu pantas punya kebenaran. Dan aku akan bantu kamu bongkar semuanya. Termasuk... Taufik dan Dr. Indra. Aku tahu di mana mereka.”
Aksa mengangguk.
"Memaafkan bukan berarti lupa.
Tapi memaafkan adalah memilih untuk tidak mewariskan luka."
Lokasi: Klinik Ibu & Anak Harapan Sejahtera, pinggiran kota – milik Dr. Indra
Aksa datang pagi-pagi, menyamar sebagai kakak pasien hamil muda. Ia mendaftar dengan nama samaran, membawa Cici sebagai “adik” yang berpura-pura jadi pasien baru. Klinik itu tampak normal di luar bersih, tenang, dan profesional.
Tapi Aksa tahu… ini hanya topeng.
Hari Pertama: Mengendus Kejanggalan
Dari ruang tunggu, Aksa melihat lorong-lorong klinik dipenuhi CCTV. Tapi ada satu area koridor kanan belakang yang selalu gelap, dan tak pernah ada perawat yang masuk ke sana.
Seorang satpam tua sempat menegur Aksa waktu ia pura-pura salah jalan.
“Itu ruang khusus. Tidak untuk umum,” katanya tajam.
Namun, Aksa menangkap sesuatu:
salah satu pintu di lorong itu punya gembok ganda dari luar.
Siapa yang dikurung?
Hari Kedua: Penemuan Jejak Lama
Malam harinya, Aksa kembali dengan Daffa dan peralatan mini drone serta kamera gelap. Mereka berhasil mengakses atap klinik dan menurunkan kamera kecil ke lorong belakang.
Melalui rekaman kamera, mereka melihat hal mengerikan:
Tempat tidur bayi berderet. Kosong. Tapi ada selimut kecil dan boneka.
Seorang anak perempuan usia sekitar 6 tahun duduk termenung di pojok ruangan. Matanya kosong. Tidak menangis. Tidak bicara.
Di tembok kamar itu… tertulis coretan dengan krayon merah:
“Aku tidak hilang. Tapi tidak ada yang mencari.”
Aksa menahan napas. “Dia… ditahan di sini. Disembunyikan.”
Cici memegang bahunya, “Itu mungkin satu dari puluhan yang belum sempat dijual.”
Laporan Rahasia
Aksa mengirim data itu ke Bang Reno dan tim Komnas Perlindungan Anak. Namun mereka tahu: harus bertindak hati-hati. Klinik itu punya backing hukum kuat siapa lagi kalau bukan Taufik M., pengacara terkenal yang juga masuk daftar hitam Jejak Pulang.
Jika salah langkah, bukti bisa dihancurkan.
Hari Ketiga: Aksa Menyelinap Sendirian
Tak sabar menunggu aparat bertindak, Aksa menyusup sendiri malam itu. Ia masuk dari jendela belakang ruang laundry yang tidak dikunci. Berbekal senter kecil, ia menyusuri lorong gelap, menuju ruangan terkunci.
Dan di sana, ia bertemu langsung dengan anak perempuan itu.
Namanya Nina. Usia 6 tahun. Rambutnya lebat, matanya tajam… tapi ia tidak bicara sepatah kata pun.
Aksa mengulurkan tangan. “Aku mau bantu kamu pulang.”
Tiba-tiba—
Langkah kaki mendekat.
Pintu terbuka keras.
Dr. Indra berdiri di ambang pintu, ditemani dua satpam.
“Anak muda... kamu bukan orang pertama yang terlalu jauh mencampuri urusan orang besar.”
Dr. Indra tersenyum kejam.
“Sayangnya, kali ini… kamu tidak akan sempat pulang.”
Lampu padam.
Layar gelap.
Lokasi: Ruang bawah tanah Klinik Harapan Sejahtera
Waktu tersisa: 5 jam sebelum sistem pengaman otomatis aktif dan bukti dihancurkan
Aksa membuka mata.
Kepalanya nyeri. Tangan dan kakinya terikat ke kursi logam. Di hadapannya, lampu neon berkedip-kedip. Udara lembab dan bau obat menyengat.
Dari balik cermin satu arah, seseorang mengawasinya. Dr. Indra.
“Anak bodoh,” bisik Indra. “Terlalu banyak tahu.”
Di luar, Daffa dan Cici panik.
Sinyal HP Aksa mati. Tapi berbekal sistem pelacak mini yang ditanam di sepatu Aksa (buatan Daffa sendiri) mereka berhasil memperkirakan koordinat terakhir: basement klinik.
Sayangnya, petugas klinik mengelak.
“Kami tidak punya ruang bawah tanah,” ujar mereka.
Bahkan polisi yang diajak masuk hanya diberi akses ke lantai 1 dan 2.
Sementara itu, di ruang penyekapan…
Aksa berusaha tetap tenang. Ia menatap Nina anak kecil yang kini duduk di lantai dekat pintu. Tangannya memegang boneka usang.
“Nina… kamu ingat rumah kamu?” tanya Aksa pelan.
Gadis itu hanya menggeleng.
Tapi tiba-tiba...
Ia menatap Aksa dalam-dalam, lalu berkata:
“Kamu dulu juga di sini.”
Aksa terkejut. “Apa?”
“Aku lihat fotomu di kamar dokternya. Di lemari terkunci. Katanya kamu anak paling mahal yang pernah mereka ambil… tapi hilang.”
“Katanya kamu... gagal dijual.”
Potongan ingatan Aksa kembali muncul.
Lorong gelap. Bau karbol. Suara tangisan. Dan... seorang bayi menangis di ruangan kecil, dibiarkan sendiri. Itu dia. Itu dirinya. Dulu.
Dr. Indra... ternyata bukan sekadar pelaku. Dia adalah orang yang menyimpan Aksa sementara sebelum dikirim.
Semua trauma lama pecah. Tapi Aksa tidak bisa larut. Ia harus keluar. Ia harus selamatkan Nina dan buka semuanya ke publik.
Di luar, Cici menyamar sebagai pasien darurat.
Saat perawat lengah, Daffa masuk lewat saluran udara. Mereka berhasil menemukan panel listrik tersembunyi di samping ruang laundry.
Di situ... ada tangga menurun.
Mereka langsung bergerak.
Aksa berdarah, tapi tidak menyerah.
Dengan kawat kecil yang ia sembunyikan di tali sepatu, ia membuka simpul ikatan. Sambil berbisik ke Nina:
“Kalau nanti aku bilang lari… kamu harus ikut Cici, ya. Mereka akan datang.”
Langkah kaki mendekat.
Dr. Indra masuk dengan dua orang bertubuh besar.
Tapi saat mereka mulai mengangkat Aksa
Lampu padam total.
Gas pemadam keluar.
Suara alarm darurat berbunyi keras.
Daffa menjebol pintu.
Cici menarik Nina.
Dan Aksa, meski lemas, melempar benda keras ke wajah Dr. Indra dan berhasil kabur.
Mereka semua naik ke atas, keluar dari ruang bawah tanah tepat saat tim dari Komnas Anak dan media yang diajak Bang Reno menyerbu klinik.
Dr. Indra ditangkap.
Ruang bawah tanah terbongkar.
Dan dari kamar rahasia itu… ditemukan dokumen transaksi anak dari tahun 2007—tahun Aksa hilang.
Malam itu, Aksa dan Nina duduk berdampingan.
Nina berkata pelan,
“Aku gak tahu siapa ibuku. Tapi kamu... kayak kakak.”
Aksa tersenyum. “Kalau kamu mau… aku bisa jadi kakakmu.”
Ia memandang bintang malam.
Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendirian dalam luka.
Lokasi: Pengadilan Negeri Jakarta Selatan
Media nasional, LSM, Komnas Perlindungan Anak, dan keluarga-keluarga korban hadir. Dunia menonton.
Aksa duduk di kursi saksi. Di hadapannya, hakim tinggi berseragam lengkap, jaksa dengan tumpukan berkas, dan...
Taufik M.
Pria yang dikenal publik sebagai pengacara sukses, pembela hak anak, aktivis sosial... kini duduk sebagai terdakwa utama dalam jaringan sindikat perdagangan anak.
Dan Aksa...
adalah saksi kunci.
Taufik tidak gentar.
Ia tersenyum tipis, tenang.
Di belakangnya ada tim hukum kelas berat, jaringan kekuasaan, dan saksi-saksi palsu yang siap “membela” citranya.
Aksa tahu, jika ia gagal meyakinkan hakim bahwa Taufik memang bagian dari jaringan, banyak pelaku akan bebas...
Termasuk orang yang menculik Aksa dulu.
Hakim memberi waktu: 15 menit untuk kesaksian utama.
Aksa berdiri. Menatap seluruh ruangan.
“Nama saya Aksa Pradipta. Saya adalah korban penculikan anak usia 9 bulan. Dinyatakan hilang di Pantai Selatan tahun 2007. Ditemukan kembali setelah 7 tahun…”
Seluruh ruangan hening.
“Orang yang menculik saya, Suganda, bekerja untuk jaringan yang disamarkan sebagai yayasan amal. Mereka menerima dokumen legal... yang ditandatangani oleh firma hukum milik Taufik M.”
Taufik menyela.
“Keberatan. Tidak ada bukti saya mengetahui isi transaksi itu.”
Aksa membuka tas kecilnya.
Mengeluarkan lembar surat elektronik yang dicetak.
“Ini adalah e-mail internal yang direstorasi oleh tim digital forensik. Di dalamnya tertulis:
‘Selesaikan pengiriman Karimun Selatan. Jangan biarkan anak ini bocor lagi seperti A.P. dulu.’
Dan balasan dari alamat kantor Taufik M.:
‘Urus lewat jalur laut. Surat kelahiran bisa diatur dari klinik Indra. Nama baru: Nathan R.’”
Aksa mendongak.
“Itu saya. Saya adalah A.P.. Dan Taufik tahu saya bukan satu-satunya.”
Seluruh ruangan gempar.
Jaksa mengangguk. Saksi tambahan dipanggil termasuk Cici dan Nina. Mereka bersaksi tentang ruang gelap di klinik, tentang anak-anak yang ditahan, dan bagaimana semua legalitasnya mengarah ke satu kantor hukum
Satu saksi terakhir naik: Dimas ayah Aksa.
Ia mengakui di depan hakim:
“Aku pernah tandatangan dokumen dari firma ini. Tanpa sadar, aku jadi bagian dari rantai kejahatan yang membuat anakku hilang. Aku ingin tebus kesalahan.”
Air mata mengalir dari mata Aksa.
Putusan Hakim:
“Terdakwa terbukti terlibat dalam legalisasi dokumen perdagangan anak di bawah umur.
Diputus bersalah. Hukuman: 20 tahun penjara.”
Taufik tak lagi tersenyum. Ia dibawa keluar.
Di luar gedung, keluarga para korban memeluk satu sama lain. Banyak yang masih mencari anak mereka... tapi hari ini mereka tahu: keadilan mungkin tidak sempurna, tapi nyata.
Malam harinya
Aksa duduk di atap rumah. Menatap langit.
Nina duduk di sampingnya.
“Apa itu artinya kamu sudah bebas?”
Aksa menggeleng pelan.
“Belum. Tapi hari ini... aku lebih ringan.”
Ia menulis satu kalimat di jurnalnya:
“Ada luka yang tak bisa disembuhkan. Tapi bisa diwariskan sebagai kekuatan.”
Satu tahun setelah persidangan Taufik M.
Jakarta pagi itu gerimis. Di sudut kota, berdiri bangunan sederhana bertuliskan:
RUMAH JEJAK
"Tempat Pulang Bagi Mereka yang Pernah Hilang"
Didirikan oleh Aksa, Cici, dan Daffa, rumah ini menampung anak-anak korban penculikan, adopsi ilegal, dan perdagangan anak. Mereka bukan hanya memberi tempat tinggal, tapi juga pendidikan, konseling, dan pencarian keluarga kandung.
Nina kini jadi bagian tim. Ia ikut membacakan dongeng untuk anak-anak kecil sebelum tidur.
Aksa?
Ia menulis.
Satu demi satu kisah anak-anak yang dulu hanya “kasus” di data, kini berubah menjadi “nama” yang punya masa depan.
Suatu pagi, sepucuk surat datang.
Tanpa pengirim. Hanya berisi satu kalimat:
“Kamu bukan satu-satunya anak yang gagal dijual. Aku adalah yang berikutnya. Dan aku masih di sini.”
Dilampirkan foto lama seorang anak lelaki kurus, mata cekung, berdiri di dekat gerbang besi.
Di balik foto itu:
Lokasi: Luar kota Batam. Waktu: 2009. Nama: Bayu.
Aksa gelisah.
Ia merasa seolah melihat pantulannya sendiri.
Anak yang dilupakan sistem. Tidak pernah dicari. Tidak pernah dianggap hilang.
Aksa berdiri. Mengambil tasnya.
Cici menatapnya, “Kamu mau ke Batam?”
“Dia... mungkin seperti aku dulu.
Kalau aku bisa pulang, dia juga harus punya kesempatan yang sama.”
Beberapa minggu kemudian…
Di pinggir dermaga kecil di pesisir Batam, Aksa berdiri di depan bangunan tua bekas panti.
Laporan warga mengatakan tempat ini tak berfungsi lagi, tapi ada anak-anak yang masih tinggal di dalam.
Ia masuk perlahan.
Lorong gelap. Bau lembab.
Lalu... dari balik ruangan tua, seorang remaja muncul.
Usianya sekitar 15.
Matanya waspada. Tapi begitu melihat Aksa… ia memeluknya erat.
“Aku kirim surat itu... tapi gak yakin bakal ada yang datang,” gumamnya.
Aksa menahan air mata. “Namamu Bayu?”
Remaja itu mengangguk pelan.
Adegan penutup:
Aksa, Bayu, Nina, dan anak-anak lain duduk di ruang tamu Rumah Jejak.
Tertawa. Bermain. Membaca.
Di dinding tergantung bingkai besar bertuliskan:
“Setiap anak layak pulang. Jika bukan ke rumah, maka ke harapan.”
Aksa Pradipta
Tahun ke-10 Rumah Jejak berdiri
Aksa kini berusia 25 tahun. Namanya dikenal sebagai penggagas gerakan anak hilang terbesar di Asia Tenggara. Ia menolak banyak penghargaan dan lebih memilih tetap di balik layar.
Cici kini menjadi psikolog anak dan kepala pendamping trauma di Rumah Jejak. Ia menulis buku: "Peluklah Dirimu Kecilmu Yang Hilang" dan jadi rujukan banyak lembaga.
Daffa menjadi pengacara publik. Ia membuka layanan hukum gratis untuk keluarga korban perdagangan anak dan adopsi ilegal.
Bayu mengejutkan semua orang. Meski dulu sangat tertutup, kini ia jadi fotografer dokumenter yang mengabadikan wajah-wajah anak yang telah pulang. Pameran foto pertamanya berjudul:
“Mereka Yang Kembali: Wajah-Wajah yang Tak Pernah Dicari Tapi Ditemukan.”
Mimpi Baru Aksa
Aksa membangun sekolah berbasis trauma healing di desa terpencil tempat banyak korban ditemukan. Namanya:
Sekolah Cahaya Kecil
Motto-nya:
"Belajar bukan untuk lari dari luka, tapi agar kita bisa berjalan bersamanya, tanpa takut lagi."
Skala Internasional
Sebuah organisasi dari Eropa mengajak Aksa jadi konsultan untuk sistem pencarian anak global. Tapi Aksa menjawab lembut:
“Anak-anak Indonesia pun belum semua ditemukan. Aku tak akan ke luar negeri sebelum semua nama dalam daftar ini kembali atau ditemukan ke mana perginya.”
Di sebuah seminar nasional bertema “Masa Depan Tanpa Anak Hilang”, Aksa menjadi pembicara penutup. Ia berdiri di panggung, menatap ribuan orang, dan berkata:
“Aku dulu hanya anak kecil yang hilang di pantai. Tapi hari ini, kalian semua adalah pantai-pantai yang menerima mereka yang kembali. Kita bukan pahlawan. Kita hanya orang-orang yang tidak membiarkan mereka dilupakan.”
Layar menjadi gelap. Hanya suara anak kecil terdengar berkata:
“Terima kasih... sudah mencari kami.”
TAMAT