Anak yang Tak Pernah Dianggap



"Anak yang Tak Pernah Dianggap"

Namanya Arman.

Sejak kecil, ia sudah terbiasa duduk di sudut ruangan setiap kali keluarga besarnya berkumpul. Bukan karena ia pemalu, tapi karena tak seorang pun benar-benar ingin berbincang dengannya.

Arman anak yatim. Ayahnya meninggal saat ia berusia sepuluh tahun, meninggalkan ibunya dengan beban hutang dan rumah reyot yang nyaris roboh. Ibu Arman berjualan gorengan di pinggir jalan, sementara ia membantu sepulang sekolah.

Setiap Lebaran, ketika keluarga besar berkumpul di rumah nenek, Arman selalu merasa seperti tamu tak diundang. Sepupunya memakai baju baru, sepatu mengilap, bercerita tentang liburan ke luar negeri. Sementara Arman datang dengan kemeja lusuh warisan ayahnya.

"Sudah besar, tapi kok masa depannya belum jelas?" bisik salah satu bibinya pada yang lain.

"Maklum, miskin," jawab yang lain sambil tersenyum sinis.

Arman pura-pura tak mendengar, tapi hatinya remuk.

Mereka menilai dari uang di dompet, bukan dari usaha dan keringat yang ia keluarkan setiap hari.

Namun, Arman menyimpan satu hal yang keluarga besarnya tak punya: tekad.

Malam-malam panjang ia habiskan membaca buku bekas yang ia beli dari loak. Ia belajar otodidak tentang komputer, bisnis online, dan desain grafis. Uang hasil membantu ibunya berjualan ia sisihkan untuk membeli paket data, bukan untuk jajan seperti anak-anak lain.

Tahun demi tahun, Arman tumbuh menjadi pemuda yang terampil. Ia mulai menerima order desain dari luar negeri. Dari hanya ratusan ribu, penghasilannya meningkat hingga jutaan per bulan. Ia bisa melunasi hutang ibunya, merenovasi rumah, bahkan membiayai sekolah adiknya.

Hari itu, saat Lebaran, ia kembali ke rumah nenek. Bedanya, kali ini ia datang dengan mobil sederhana hasil kerja kerasnya. Sepupu-sepupunya terdiam, bibinya tersenyum kaku.

"Arman, kamu kerja di mana sekarang?" tanya salah satu yang dulu sering meremehkan.

"Saya kerja di rumah saja, Bu… tapi rezeki Allah yang atur," jawab Arman sambil tersenyum.

Ia tidak membalas hinaan masa lalu dengan kata-kata pedas. Karena ia tahu, balas dendam terbaik adalah keberhasilan.

Dan hari itu, untuk pertama kalinya, keluarga besarnya menatapnya bukan dari sebelah mata… tapi dengan penuh hormat.

Hujan sore itu turun deras. Arman duduk di teras rumah reyotnya sambil menatap langit. Atap rumahnya bocor di beberapa titik, dan ember-ember kecil berjejer di lantai menampung tetesan air. Di dalam, ibunya tengah menyiapkan adonan gorengan untuk dijual malam nanti.

"Man, tolong ambilin minyak goreng di warung, ya. Minyak yang ini udah hitam," pinta ibunya.

"Iya, Bu. Tapi… uangnya masih cukup?"

"Ya nggak cukup. Tapi kan kita nggak bisa nyerah. Nanti Ibu ngomong sama Pakde-mu, siapa tahu mau pinjemin," jawab sang ibu dengan nada ragu.

Arman mengangguk, meski ia tahu jawaban pamannya hampir bisa ditebak. Keluarga besar mereka memang tak pernah benar-benar peduli.

Lebaran Tahun Itu

Hari yang seharusnya penuh kebahagiaan selalu menjadi hari yang paling menyesakkan bagi Arman. Rumah neneknya besar, penuh dengan bau masakan enak, tawa, dan obrolan. Tapi untuk Arman, itu seperti memasuki dunia yang bukan miliknya.

"Eh, Arman udah datang!" sapa salah satu bibinya dengan senyum yang terlalu lebar untuk terlihat tulus.

"Iya, Bu. Assalamualaikum," jawab Arman pelan sambil mencium tangan neneknya.

Di sudut ruangan, beberapa sepupu membicarakan liburan mereka.

"Aku kemarin ke Bali, terus bulan depan mau ke Jepang!" kata Rina sambil menunjukkan foto di ponselnya.

"Eh, Man, kamu liburan ke mana?" tanya salah satu sepupu dengan nada bercanda.

Arman tersenyum tipis. "Aku liburan di rumah aja, ngurusin kerjaan."

"Kerjaan apa? Jualan gorengan sama Ibumu?" timpal yang lain sambil tertawa.

Arman menunduk. Ibunya duduk tak jauh dari situ, pura-pura tak mendengar, tapi matanya berkaca-kaca.

Malam-Malam yang Panjang

Sejak itu, Arman berjanji dalam hati: Aku akan buktikan bahwa mereka salah.

Ia mulai belajar desain grafis dari video gratis di internet. Tidur hanya tiga atau empat jam setiap malam. Sering kali, ia menggambar di buku tulis bekas karena tak punya laptop.

Sampai suatu hari, seorang temannya meminjamkan laptop rusak yang akhirnya ia perbaiki dengan uang hasil membantu ibunya. Dari situlah hidupnya mulai berubah.

Pesanan desain datang satu per satu. Awalnya kecil, tapi ia kerjakan dengan sepenuh hati. Perlahan, klien dari luar negeri mulai percaya padanya.

Lima Tahun Kemudian

Lebaran kembali datang. Kali ini, Arman membawa ibunya dengan mobil bekas sederhana yang ia beli dari hasil keringatnya sendiri. Rumah mereka kini sudah berdinding bata rapi, atapnya tak lagi bocor.

Sesampainya di rumah nenek, suasana langsung hening. Sepupu-sepupu yang dulu sering meremehkannya kini terdiam.

"Arman… kerja di mana sekarang?" tanya pamannya yang dulu menolak meminjamkan uang.

"Kerja di rumah, Pakde. Bisnis online. Alhamdulillah cukup buat hidup kami."

"Oh… hebat, hebat…" gumamnya, kali ini tanpa nada meremehkan.

Bibi yang dulu menertawakannya bahkan mencoba merangkul ibunya.

"Wah, adikmu pinter ya, Mbak. Lihat tuh, sekarang sukses."

Ibunya hanya tersenyum, menahan air mata.

Malam itu, sebelum pulang, Arman berdiri sebentar di teras rumah nenek. Ia melihat lampu-lampu kampung berkelip di kejauhan.

Dulu, ia selalu merasa kecil di hadapan keluarganya. Tapi kini ia tahu… harga diri tak diukur dari berapa banyak uang yang diwariskan orang tua, tapi dari berapa besar tekad yang kita bangun sendiri.

Arman melangkah ke mobilnya, membuka pintu untuk ibunya, dan berkata pelan,

"Bu… kita nggak pernah miskin di hati, kan?"

Ibunya tersenyum sambil menatap langit. "Nggak pernah, Nak. Orang miskin yang sebenarnya… itu yang hatinya kotor."

Mobil itu melaju pelan meninggalkan halaman rumah besar itu. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arman merasa ia sudah menangtanpa perlu menjatuhkan siapa pun.

Hujan mengguyur deras siang itu. Jalanan kampung becek, air bercampur lumpur mengalir di selokan kecil di depan rumah Arman. Rumah itu sederhana dindingnya dari papan, atap sengnya berkarat, dan di beberapa titik bocor.

Arman, anak laki-laki berusia 12 tahun, duduk di lantai dengan kaki bersila, menatap buku tulis yang basah di sudutnya. Bukan karena ia ceroboh, tapi karena tetesan air dari atap yang bocor jatuh tepat di sana.

"Man, tolong bantu Ibu gorengin pisang ini, ya. Pembeli udah nunggu," panggil ibunya dari dapur yang sempit.

"Iya, Bu."

Ia berdiri, menyeka tangannya di celana lusuh, lalu membantu ibunya. Suara minyak mendesis memenuhi ruangan. Aroma pisang goreng yang harum menyebar, tapi itu tak mampu menghapus rasa pahit di hati Arman.

Besok Lebaran. Harusnya ia senang, tapi ia tahu apa yang akan terjadi.

Lebaran bagi banyak anak adalah baju baru, uang saku, dan tawa bersama keluarga besar.

Bagi Arman, Lebaran adalah pengingat bahwa ia berbeda.

Keesokan harinya, mereka berangkat ke rumah nenek. Ibunya hanya punya uang pas untuk ongkos bus, itu pun dari hasil jualan semalam.

Sesampainya di sana, halaman sudah penuh dengan mobil-mobil milik paman dan bibinya. Anak-anak sepupunya berlarian dengan baju warna-warni, tertawa riang.

"Eh, Arman… itu bajumu tahun lalu, ya?" celetuk salah satu sepupu sambil tertawa kecil.

Arman hanya tersenyum kaku.

"Iya, masih bagus kok," jawabnya pelan.

Tapi percakapan tak berhenti di situ. Saat mereka makan bersama, bibi-bibinya berbicara seolah ia tak ada di situ.

"Kasihan, ya… anaknya pinter, tapi hidupnya gitu-gitu aja."

"Ya maklum, nggak ada yang biayain sekolah tinggi."

Yang lain menambahkan, "Kalau nggak kerja keras dari sekarang, masa depannya suram."

Arman menunduk, menahan air mata. Ia ingin berkata bahwa ia sedang berusaha, tapi ia tahu tak ada yang mau mendengarkan.

Malamnya, di rumah, ia berkata pada ibunya,

"Bu, kalau aku sukses nanti… aku nggak mau orang bilang kita miskin lagi."

Ibunya menatapnya lama, lalu mengelus rambutnya.

"Nak, kita miskin harta, iya… tapi jangan pernah miskin harga diri. Itu yang penting."

Kalimat itu menancap di hati Arman, menjadi bara yang tak pernah padam.

Tiga tahun berlalu sejak Lebaran yang menyakitkan itu.

Arman kini berusia 15 tahun. Tubuhnya tinggi kurus, kulitnya legam karena sering membantu ibunya di luar rumah. Ia jarang bermain seperti remaja lainnya. Waktunya habis untuk membantu berjualan dan belajar dari apa pun yang bisa ia temui.

Siang itu, ia duduk di warung kopi kecil di pinggir jalan, bukan untuk nongkrong, tapi untuk memanfaatkan Wi-Fi gratis. Di depannya terbuka sebuah buku lusuh berjudul Belajar Komputer untuk Pemula yang ia beli di loak seharga lima ribu rupiah.

Temannya, Rudi, menghampiri.

"Man, ngapain sih lo tiap hari di sini? Main game aja, biar seru."

Arman menggeleng. "Nggak, Rud. Gue lagi belajar bikin desain di komputer."

"Desain? Buat apa? Lo pikir orang mau bayar lo cuma buat gambar-gambar?" Rudi tertawa, menganggap itu mimpi aneh.

Arman tak menjawab. Ia sudah terbiasa dianggap aneh.

Laptop Rusak

Kesempatan datang dalam bentuk yang tak terduga. Suatu sore, Pak Rahmat, tetangga mereka, membuang sebuah laptop lama yang tak menyala.

"Man, kalau mau, ambil aja. Siapa tahu bisa buat main game," kata Pak Rahmat sambil bercanda.

Arman membawa pulang laptop itu. Ia mengutak-atiknya, meminjam obeng dari bengkel tetangga, dan setelah berhari-hari mencoba, ia berhasil menyalakannya. Layarnya retak, baterainya mati total, tapi itu cukup untuk mulai belajar sungguhan.

Malam-malamnya kini berbeda. Saat orang lain tidur, ia duduk di lantai, menatap layar yang hanya bertahan satu jam sebelum mati, sambil mempelajari Photoshop versi bajakan dari video tutorial gratis.

Pesanan Pertama

Enam bulan kemudian, melalui grup Facebook lokal, Arman memberanikan diri menawarkan jasa desain banner untuk warung dan toko kecil.

"Bang, bisa bikinin desain spanduk mie ayam? Bayarnya Rp25.000 aja, ya?" tulis seseorang di chat.

Itu adalah uang pertama yang ia hasilkan dari hasil desainnya.

Ia tidak tidur malam itu bukan karena lembur, tapi karena rasa bangga yang membuatnya tak bisa memejamkan mata.

Namun jalan itu tidak mulus.

Beberapa kali ia menerima pesanan tapi tidak dibayar. Ada juga yang menghina karyanya.

"Jelek amat, kayak anak SD yang bikin," kata seorang pemilik toko yang akhirnya membatalkan pesanan.

Arman hanya menunduk. Luka di hatinya makin dalam, tapi ia tak berhenti.

Karena ia tahu, satu-satunya cara untuk membungkam semua hinaan adalah dengan terus maju.

Usia Arman kini 17 tahun. Ia sudah cukup mahir membuat desain banner, brosur, dan logo untuk usaha kecil di kampung. Penghasilannya lumayan, tapi masih jauh dari cukup untuk memperbaiki rumah atau membebaskan ibunya dari kerja keras setiap hari.

Malam itu, ia kembali duduk di depan laptop retak yang kini selalu terhubung ke colokan karena baterainya mati. Angin malam masuk dari celah dinding rumah yang renggang.

Ia sedang membaca sebuah forum desain internasional ketika melihat postingan:

 "We need a logo designer. Payment via PayPal. Urgent."

Arman menggertakkan giginya. Ia tidak punya akun PayPal, tidak lancar bahasa Inggris, dan tidak pernah bekerja untuk orang luar negeri. Tapi sesuatu di dalam dirinya berkata, Coba saja.

Pesan yang Gugup

Dengan bantuan Google Translate, ia mengirim pesan:

"Hello, I can make logo. Please give me chance."

Tak disangka, orang itu membalas dalam hitungan menit.

"Okay. Show me your work."

Arman panik. Ia segera mengirim beberapa desain lamanya yang ia anggap terbaik.

Beberapa menit hening. Ia hampir menutup laptop ketika pesan itu muncul:

"I like your style. Make the logo. Payment $50."

Lima puluh dolar. Setara hampir 700 ribu rupiah jumlah yang bagi Arman seperti harta karun.

Malam Tanpa Tidur

Ia bekerja tanpa henti malam itu. Mata perih, tangan pegal, tapi hatinya berdebar. Jam tiga pagi, ia mengirim desain itu. Pagi harinya, klien membalas:

"Perfect. I will pay now."

Arman hampir menangis saat melihat notifikasi PayPal masuk. Ia belum pernah punya uang sebanyak itu dari satu pekerjaan.

Masalahnya, ia tak tahu cara mencairkan uang itu. Butuh waktu dua minggu dan bantuan seorang teman yang bekerja di kota untuk bisa mengambilnya. Saat uang itu akhirnya ia pegang, ia langsung memeluk ibunya.

"Bu, ini dari kerjaanku di laptop," katanya sambil menyerahkan sebagian uang itu.

Ibunya memandangnya lama, air mata jatuh di pipinya. "Nak… Ibu bangga sekali sama kamu."

Sejak hari itu, pesanan dari luar negeri mulai datang satu per satu. Awalnya sebulan sekali, lalu seminggu sekali, hingga akhirnya setiap hari. Arman mulai bisa menabung, membeli laptop baru, bahkan memperbaiki rumah sedikit demi sedikit.

Namun, ia belum tahu bahwa ujian terbesarnya akan datang saat ia kembali ke rumah nenek untuk Lebaran… kali ini sebagai Arman yang berbeda.

Lebaran kali ini berbeda. Rumah Arman sudah berdinding bata rapi, atapnya tak lagi bocor. Ibunya tak lagi harus berjualan gorengan setiap hari hanya saat ia mau. Mobil bekas yang mereka beli setahun lalu kini terparkir di halaman, mengkilap meski sederhana.

Pagi itu, Arman duduk di kursi pengemudi.

"Bu, siap?"

Ibunya tersenyum sambil merapikan kerudung. "Siap, Nak."

Perjalanan ke rumah nenek terasa sunyi. Bukan karena mereka tak bicara, tapi karena keduanya memikirkan hal yang sama: hari ini mereka akan kembali ke tempat yang dulu memberi luka.

Di Halaman Rumah Nenek

Begitu mobil mereka masuk ke halaman, beberapa sepupu langsung terdiam. Anak yang dulu datang dengan baju lusuh kini keluar dari mobil dengan pakaian rapi dan percaya diri.

"Eh… Arman?" salah satu bibinya memanggil, raut wajahnya campuran terkejut dan kikuk.

"Waalaikumsalam, Bu," jawab Arman sambil tersenyum ramah.

Di ruang tamu, obrolan mulai mengalir. Tapi kali ini, tak ada lagi tawa merendahkan.

Pamannya bertanya, "Kerja di mana sekarang, Man?"

"Saya kerja di rumah aja, Pakde. Desain buat klien luar negeri. Alhamdulillah, cukup buat hidup dan nabung."

Beberapa bibinya saling pandang. Yang dulu sering berbisik-bisik kini mencoba tersenyum manis.

"Wah, hebat ya. Pantesan ibumu kelihatan segar sekarang," kata salah satu.

Arman hanya mengangguk. Di dalam hatinya, ia merasa ingin berkata banyak tentang semua malam tanpa tidur, semua hinaan yang ia telan, semua kesepian yang ia lalui tapi ia memilih diam.

Setelah Salat Id

Sore harinya, Arman duduk di teras bersama ibunya. Angin membawa aroma opor dan ketupat.

"Bu," katanya pelan, "kayaknya ini Lebaran terakhir kita datang sebagai ‘orang miskin’."

Ibunya menatapnya lama. "Nak, kita nggak pernah miskin di hati. Itu yang Ibu syukuri."

Arman tersenyum. Ia tahu benar maksud ibunya. Hari itu, tanpa membentak, tanpa sombong, mereka sudah membuktikan segalanya.

Kadang, balas dendam terbaik memang cukup dilakukan dengan hidup bahagia.

Beberapa bulan setelah Lebaran itu, hidup Arman terus menanjak. Klien luar negeri semakin banyak, bahkan ia mulai merekrut dua orang anak muda di kampungnya untuk membantunya mengerjakan pesanan.

Suatu sore, ia duduk di teras rumah barunya rumah sederhana tapi kokoh, dengan halaman kecil yang ditanami bunga oleh ibunya. Di tangannya ada segelas teh hangat, dan di pangkuannya, sebuah buku catatan berisi rencana masa depan.

"Man," panggil ibunya dari dapur, "besok jangan lupa ya, kita ke rumah nenek, katanya ada yang mau ngobrol."

Arman mengangguk, tapi hatinya bertanya-tanya.

Pertemuan yang Berbeda

Esok harinya, mereka kembali ke rumah nenek. Kali ini, sambutan keluarga besar terasa lebih hangat. Paman yang dulu tak mau meminjamkan uang, kini memuji kerja keras Arman. Bahkan, salah satu sepupu yang dulu sering mengejeknya meminta diajari desain grafis.

"Man, kamu bisa ajarin aku nggak? Biar bisa kerja kayak kamu," kata sepupunya dengan nada sungguh-sungguh.

Arman tersenyum tipis. "Bisa. Tapi yang penting siap kerja keras dulu. Nggak ada yang instan."

Ia tidak menyimpan dendam. Justru, ia ingin membuktikan bahwa kemampuannya bukan untuk menyombongkan diri, tapi untuk memberi manfaat.

Membalas Budi

Dengan penghasilannya yang stabil, Arman membiayai ibunya untuk berangkat umrah sesuatu yang dulu bahkan tak berani ia mimpikan. Saat ibunya berdiri di depan Ka’bah, ia menangis terharu. Semua lelah dan sakit hati terasa terbayar.

Tak hanya itu, Arman mulai mengajar anak-anak muda di desanya tentang desain dan bisnis online, secara gratis. Ia tahu betul rasanya diremehkan karena tak punya apa-apa, dan ia ingin orang lain punya kesempatan yang sama untuk bangkit.

Pelajaran Terbesar

Suatu malam, ia menulis di buku catatannya:

 "Dulu, aku ingin membungkam orang yang meremehkanku.

Sekarang aku paham, yang terpenting bukan membungkam mereka, tapi membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku mampu."

Arman menutup buku itu, tersenyum, dan menatap langit malam.

Perjalanannya belum selesai, tapi satu hal sudah pasti:

Ia bukan lagi “anak miskin” di mata orang lain, dan yang lebih penting… ia tak pernah miskin di mata dirinya sendiri 

Hidup Arman adalah bukti bahwa kemiskinan bukanlah vonis seumur hidup, melainkan titik awal perjalanan.

Ia memulai dari lantai rumah yang dingin, atap bocor, dan cibiran yang tak pernah berhenti. Tapi langkah kecil yang ia ambil setiap hari, doa ibunya yang tak pernah putus, serta keyakinan bahwa Tuhan selalu membuka jalan membawanya keluar dari lubang yang dalam itu.

Kini, ia tak lagi sekadar mengejar uang atau status. Ia mengejar sesuatu yang lebih penting: arti keberhasilan yang sesungguhnya.

Bagi Arman, sukses adalah ketika kita bisa membantu orang lain berdiri tegak, seperti kita dulu belajar berdiri dari jatuh yang tak terhitung.

Di ruang kerja kecilnya, sebuah catatan ditempel di dinding:

 "Mereka boleh memandangku sebelah mata.

Tapi aku akan terus berjalan, sampai mereka harus menoleh dua kali."

Dan di luar sana, bintang-bintang bersinar seperti senyum Tuhan memberi cahaya pada orang-orang yang tak menyerah meski jalan di depannya gelap.

Tiga tahun berlalu sejak Lebaran terakhir ia dipandang sebelah mata.

Kini, Arman berdiri di halaman rumahnya yang sudah jauh berbeda dari dulu. Rumah itu berdinding kokoh, berpagar besi sederhana, dengan taman kecil yang dipenuhi bunga-bunga yang ibunya rawat setiap pagi.

Dari jauh, ia melihat beberapa anak muda berjalan mendekat murid-muridnya di kelas desain. Mereka memanggilnya "Bang Arman" dengan penuh hormat.

"Bang, kita jadi latihan hari ini?" tanya salah satu dari mereka.

"Jadi. Tapi ingat, latihan itu cuma setengah perjalanan. Sisanya adalah kerja keras dan doa," jawab Arman sambil tersenyum.

Ibunya keluar membawa minuman. "Nak, kamu ingat nggak dulu kita cuma punya meja satu ini untuk jualan gorengan?"

Arman tersenyum, menatap meja kayu yang kini ia gunakan untuk mengajar.

"Ingat, Bu. Justru itu yang bikin aku nggak pernah lupa dari mana kita berangkat."

Malamnya, setelah semua murid pulang, Arman duduk di teras. Angin malam mengelus wajahnya. Ia menatap langit, lalu berbisik pada dirinya sendiri:

 "Aku dulu anak miskin yang dianggap tak punya masa depan.

Tapi sekarang, aku bukan lagi anak yang dicibir.

Aku adalah buktinya… bahwa hinaan hanya bisa menjadi benar kalau kita berhenti berjuang."

Lampu rumah itu tetap menyala hangat, dan di dalamnya, seorang ibu tersenyum bangga melihat anaknya bukan hanya karena ia sukses, tapi karena ia tumbuh menjadi manusia yang tetap rendah hati.

Bertahun-tahun lalu, Arman pernah bermimpi keluar dari lingkaran kemiskinan dan pandangan merendahkan keluarga besarnya. Saat itu, mimpinya terasa terlalu tinggi bahkan untuk dirinya sendiri. Namun kini, ia berdiri tegak di puncak usahanya, bukan untuk membanggakan diri, tapi untuk membuktikan bahwa ia mampu menjaga harga diri dan martabat ibunya.

Hari itu, ia mengundang seluruh keluarga besar berkumpul di rumah barunya. Di halaman yang luas, anak-anak berlari riang, suara tawa orang dewasa bercampur dengan aroma masakan yang menggoda. Tak ada lagi tatapan merendahkan. Yang ada hanya kekaguman dan rasa hangat yang baru.

Arman berdiri di depan, tersenyum sambil berkata,

“Kalau dulu saya dianggap kecil, mungkin itu memang benar. Tapi saya belajar, tidak ada yang kecil kalau ia mau berjuang. Terima kasih, keluarga… sudah datang, sudah mau duduk bersama.”

Ibunya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Ayahmu pasti bangga,” ucapnya pelan.

Arman menggenggam tangan ibunya, merasakan semua perjuangan yang telah mereka lalui mengalir dalam genggaman itu.

Malam itu, saat semua tamu pulang, Arman duduk sendirian di teras. Angin malam mengusap wajahnya, membawa ketenangan. Ia tahu perjalanan belum selesai, tapi satu hal sudah pastiia tak lagi dipandang sebelah mata. Dan untuknya, itu bukan akhir… itu adalah awal dari bab kehidupan yang lebih indah.

Arman lahir di keluarga yang serba kekurangan. Ayahnya meninggal saat ia masih kecil, meninggalkan ibunya untuk berjuang sendiri menghidupi keluarga. Ibunya berjualan gorengan di pinggir jalan, berpanas-panasan di siang hari dan menahan dingin di malam hari. Di mata keluarga besar, mereka hanyalah cerita simpati yang sering dibicarakan di balik punggung.

Di setiap acara keluarga, Arman jarang bicara. Ia duduk di pojok, menunduk, dan hanya menjawab jika ditanya. Sepupu-sepupunya menceritakan kuliah, pekerjaan, atau liburan mereka, sementara ia hanya membantu ibunya di warung. Tak jarang ia mendengar komentar seperti, “Kasihan ya, nggak sekolah tinggi… entah nanti jadi apa.”

Tapi Arman punya sesuatu yang tidak mereka tahu mimpi. Ia senang menggambar sejak kecil. Buku tulisnya penuh coretan logo dan desain yang ia buat sendiri. Saat seorang teman meminjamkan laptop bekas yang lambat, Arman melihatnya bukan sebagai barang rongsokan, tapi sebagai pintu menuju masa depan.

Malam-malamnya ia habiskan belajar desain grafis secara otodidak. Internet gratis dari warung kopi menjadi sekolahnya. Ia mencoba membuat logo, desain poster, dan spanduk, meski hasilnya awalnya jauh dari sempurna. Hingga suatu hari, ia mendapat klien pertama: sebuah warung yang ingin membuat spanduk sederhana. Bayarannya kecil, tapi itu titik awal.

Dari satu klien ke klien lain, Arman mulai dikenal. Ia membangun portofolio, lalu perlahan memiliki penghasilan tetap. Rumah ibunya yang dulu reyot perlahan direnovasi. Tidak mewah, tapi layak dan nyaman.

Tiga tahun kemudian, Arman datang ke acara keluarga dengan penampilan berbeda. Ia mengenakan kemeja rapi, senyum percaya diri, dan mengendarai mobil bekas yang ia beli dari hasil kerja keras. Orang-orang yang dulu meremehkannya kini menyapanya hangat. Bahkan sepupunya yang dulu sering mencibirnya berkata, “Man, maaf ya kalau dulu aku suka ngomong yang nggak enak.”

Arman hanya tersenyum, “Tidak apa-apa. Semua itu sudah jadi pelajaran.”

Kesuksesannya terus berkembang. Arman kini punya kantor desain sendiri dan mempekerjakan beberapa anak muda dari kampungnya yang dulu juga kesulitan mencari kerja. Ia mengundang keluarga besar untuk makan bersama di rumah barunya. Di sana, tatapan yang dulu penuh rasa iba kini berganti menjadi rasa hormat.

Di hadapan semua orang, Arman berkata,

“Kalau dulu saya dianggap kecil, itu mungkin benar. Tapi saya belajar bahwa tidak ada yang kecil jika mau berjuang. Terima kasih sudah datang, dan mari kita saling mendoakan.”

Ibunya menatapnya dengan bangga, berkata lirih, “Ayahmu pasti bangga.”

Arman tersenyum, menggenggam tangan ibunya, dan menatap langit malam. Bintang-bintang seakan tersenyum padanya.

Ia tahu hidupnya belum selesai. Masih ada mimpi yang ingin ia wujudkan. Tapi satu hal sudah pasti ia tak lagi dipandang sebelah mata. Dan itu adalah kemenangan terbesar dalam hidupnya.

 


TAMAT






Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa