Pelukan Yang Terlambat
"Pelukan yang Terlambat"
,Namanya Bu Wati. Seorang ibu dengan enam orang anak yang lahir hampir berurutan, tanpa jeda, tanpa persiapan, dan tanpa cinta yang utuh dalam rumah tangga.
Pernikahannya dulu bukan karena cinta, tapi karena desakan keluarga. Suaminya, lelaki yang kasar dalam ucapan dan dingin dalam sikap. Mereka tinggal dalam satu atap, tapi terasa seperti orang asing. Tak pernah ada pelukan, tak ada tawa bersama, tak ada doa yang saling menggenggam. Hanya rutinitas dan kewajiban yang memisahkan malam dan pagi.
Anak-anak datang satu per satu, seperti hasil dari kewajiban, bukan dari kasih sayang. Satu belum bisa berjalan, yang lain sudah lahir. Satu masih menangis di malam hari, yang lain sudah butuh seragam sekolah.
Bu Wati mencoba. Ia mencoba sekuat tenaga untuk menjadi ibu yang baik. Tapi di tengah rumah yang penuh teriakan, tanpa kehangatan suami, dan tekanan ekonomi yang mencekik, hatinya hampa. Ia kelelahan. Kadang ia marah, kadang ia diam berhari-hari, kadang ia tak tahu harus mendekap anak yang mana duluan saat semuanya menangis bersamaan.
Anak-anaknya tumbuh dengan jarak yang dekat di usia, tapi jauh dalam rasa. Mereka sering bertengkar, berebut perhatian, dan merasa tidak dipedulikan. Tak ada waktu bagi Bu Wati untuk mengenal mereka satu per satu. Ia hanya sempat berkata, "Diam!" atau "Jangan ribut!" tanpa pernah tahu siapa yang butuh dipeluk, siapa yang sedang sedih, siapa yang butuh cerita sebelum tidur.
Anak sulungnya menjadi pemberontak. Anak kedua jadi pendiam dan penuh rahasia. Yang ketiga sering kabur dari rumah. Yang keempat mulai belajar berkata kasar. Anak kelima dan keenam tumbuh tanpa arah, lebih dekat dengan orang luar dibanding dengan keluarganya sendiri.
Kini, mereka semua remaja. Jauh darinya, meskipun tinggal serumah. Tak ada yang bercerita, tak ada yang menatapnya dengan lembut, tak ada yang pulang dengan rindu. Ia hanya menjadi ibu di kartu keluarga, tapi bukan di hati mereka.
Suaminya pun tak berubah. Masih sibuk sendiri. Rumah itu tetap sunyi dalam makna, walau ramai dalam suara.
Suatu malam, Bu Wati menangis sendirian. Ia melihat foto lama anak-anaknya saat masih kecil. Wajah mereka masih polos, masih bersih, masih penuh harap.
"Maaf ya, Nak… Ibu terlalu sibuk bertahan hidup, sampai lupa membuat kalian merasa hidup…" bisiknya.
Kini, ia mengerti. Mendidik anak bukan hanya soal memberi makan atau menyekolahkan. Tapi hadir. Mendengar. Memeluk. Dan mencintai, bahkan saat tak dicintai kembali.
Sayangnya, ia baru benar-benar ingin berubah… saat semua sudah memilih menjauh.
Hari-hari terus berlalu, dan rasa sepi makin dalam mencengkeram hati Bu Wati. Di meja makan, keenam anaknya duduk dalam diam. Makan tergesa, lalu kembali ke kamar masing-masing. Tak ada sapaan. Tak ada tanya kabar. Semua seperti robot yang hidup dalam rumah yang sama, tapi jiwanya entah di mana.
Suatu pagi, Bu Wati mencoba bicara pada anak-anak. Ia berdiri di tengah ruang tamu, suaranya pelan tapi gemetar.
"Ibu... minta maaf..."
Tak ada yang menjawab. Beberapa dari mereka hanya melirik, lalu kembali menunduk menatap layar ponsel atau buku pelajaran. Yang paling kecil bahkan pergi ke dapur tanpa berkata apa-apa.
Hari itu, Bu Wati duduk di pojok kamar, memeluk dirinya sendiri. Tapi untuk pertama kalinya, ia tak menangis. Ada satu tekad yang tumbuh dalam diamnya: Ia tak ingin menyerah. Ia ingin memperbaiki semuanya. Sekarang juga.
Ia mulai dengan hal kecil. Menyapa setiap anak saat bangun pagi. Memasakkan makanan favorit mereka, satu per satu. Diam-diam ia mendekati anak bungsunya, menanyakan pelajaran, lalu perlahan merambah ke anak-anak yang lain.
Anak-anaknya pada awalnya curiga. Tak biasa. Tak nyaman. Tapi perlahan, salah satu dari mereka anak kedua, yang pendiam mulai terbuka. Saat Bu Wati menyentuh bahunya dan berkata, “Ibu bangga sama kamu,” anak itu menangis. Tangis yang lama tertahan, seperti anak kecil yang akhirnya merasa dipedulikan setelah bertahun-tahun menghilang dari pandangan ibunya.
Itulah awalnya.
Bu Wati lalu meminta maaf satu per satu, dengan sungguh-sungguh. Bukan dalam bentuk ceramah, tapi pelukan. Mata yang berkaca-kaca. Dan kalimat yang datang dari hati:
"Ibu memang gagal di masa lalu… Tapi bolehkah Ibu mencoba mencintai kalian dengan cara yang benar, mulai hari ini?"
Perjalanan memperbaiki bukan hal yang mudah. Beberapa anak masih menyimpan luka. Tapi setiap hari, sedikit demi sedikit, dinding dingin di antara mereka mulai retak. Bu Wati mulai belajar mendengarkan, bukan hanya memerintah. Ia belajar duduk di samping mereka, bukan hanya berdiri di atas mereka.
Dan anehnya… kehangatan itu juga mulai mengubah suaminya. Ia yang dulu dingin, kini mulai ikut tersenyum kecil. Meskipun masih canggung, tapi untuk pertama kalinya, mereka sekeluarga menonton film bersama. Tertawa bersama. Menangis bersama.
Suatu malam, saat Bu Wati hendak tidur, anak ketiganya menghampirinya dan berkata lirih,
"Bu, aku tahu Ibu lelah dulu… Tapi makasih karena gak nyerah. Aku sayang Ibu."
Air mata Bu Wati jatuh. Tapi kali ini bukan karena hampa… melainkan karena akhirnya, pelukan yang dulu terlambat… kini perlahan kembali.
memutuskan untuk berubah. Hubungan dalam keluarga mereka tidak langsung sempurna, tapi ada satu hal yang terasa berbeda kini: harapan.
Dulu, rumah mereka penuh suara, tapi tanpa makna. Kini, walau tak selalu riuh, namun setiap tawa dan percakapan kecil terasa tulus.
Anak-anak mulai terbiasa melihat ibu mereka duduk bersama di ruang tengah, mendengarkan cerita tentang sekolah, teman, atau sekadar ikut tertawa atas hal remeh. Bu Wati juga mulai menuliskan surat pendek untuk anak-anaknyabukan karena puitis, tapi karena kadang ia masih belum pandai bicara dengan hati terbuka.
Surat-surat itu sederhana:
“Untuk anak Ibu yang kuat, maaf kalau dulu Ibu terlalu sibuk dengan lelah Ibu sendiri. Ibu bangga sama kamu.”
“Maaf karena Ibu tak pernah tanya bagaimana perasaanmu… sekarang Ibu ingin tahu.”
“Boleh peluk Ibu malam ini? Ibu butuh kekuatan dari anak-anak Ibu.”
Surat-surat itu ditaruh diam-diam di meja belajar, di bantal tidur, atau diselipkan di saku jaket. Dan perlahan, jawaban-jawaban pun datang. Entah lewat secarik kertas balasan, pelukan kecil, atau senyum malu-malu di pagi hari.
Tapi perubahan tak selalu berjalan mulus. Suatu hari, anak keempat yang paling keras kepala dan penuh amarah pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Bu Wati menangis melihatnya. Bukan karena malu, tapi karena cemas dan merasa gagal lagi.
Namun kali ini, ia tidak marah.
Ia hanya memeluk anaknya yang setengah sadar dan berkata dengan suara bergetar,
“Kamu boleh kecewa sama Ibu. Tapi tolong jangan hancurkan dirimu sendiri…”
Anaknya tak menjawab malam itu. Tapi keesokan harinya, ia duduk di ruang makan lebih awal dari biasanya. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia berkata:
“Bu… bisa ajarin aku masak?”
Bagi Bu Wati, itu bukan sekadar permintaan. Itu adalah tanda bahwa luka lama, perlahan mulai sembuh. Bahwa kehangatan seorang ibu, meskipun datang terlambat, tetap bisa menyentuh hati anak yang dingin.
Kini, setiap minggu, keluarga kecil itu punya kebiasaan baru: duduk bersama di hari Minggu malam. Bukan mewah, hanya makan sederhana dan saling cerita.
Suaminya, meski tak banyak bicara, kini sering membantu di dapur. Anak-anaknya, satu per satu mulai mengenal arti keluarga, bukan hanya sebagai tempat pulang, tapi sebagai tempat tumbuh.
Dan Bu Wati? Ia tak lagi menangis sendirian. Ia belajar bahwa ibu bukan hanya tentang kuat, tapi juga tentang berani mengakui salah, dan tak takut mulai dari awal.
Ia tahu, masa lalu tak bisa dihapus. Tapi pelukan yang datang hari ini… bisa menyembuhkan banyak hal yang terluka kemarin.
“Ibu tidak sempurna. Tapi cinta Ibu tak akan pernah berhenti tumbuh. Meski terlambat… Ibu akan terus berjuang untuk mencintai kalian seutuhnya.”
Malam itu, hujan turun perlahan. Suara rintiknya membelai atap rumah, seolah membawa kenangan yang pernah tenggelam. Bu Wati duduk di teras, menatap gelap langit, lalu memandang ke arah dalam rumah tempat keenam anaknya kini duduk bercanda di ruang tamu. Ada yang tertawa kecil, ada yang memainkan gitar, ada pula yang hanya diam tapi tersenyum.
Air mata kembali jatuh di pipinya, namun kali ini bukan karena penyesalan… tapi karena syukur.
Lalu dari belakang, suaminya datang. Lelaki yang dulu begitu asing baginya, kini mulai hadir meski dengan langkah kaku. Ia membawa dua gelas teh hangat, lalu duduk di sebelah Bu Wati. Mereka saling diam, hingga sang suami berkata lirih:
“Maaf… karena selama ini aku tak pernah jadi rumah untukmu. Dan untuk anak-anak…”
Bu Wati menoleh. Tak menjawab. Tapi senyum dan genggaman tangannya menjawab semuanya. Memaafkan memang tidak mudah, tapi memulai kembali jauh lebih penting.
Hari demi hari, rumah itu perlahan berubah. Bukan rumah mewah, bukan pula penuh perabot indah. Tapi kini rumah itu punya sesuatu yang dulu hilang: hangatnya kebersamaan.
Bu Wati mengajak anak-anaknya menanam bunga di halaman. Mereka juga membuat jadwal piket membersihkan rumah bersama. Bukan karena ingin rumah bersih, tapi agar mereka merasa memiliki dan menghargai satu sama lain.
Anak-anak mulai terbuka. Mereka mulai bisa menceritakan masalah sekolah, kisah cinta pertama, mimpi-mimpi yang dulu hanya dipendam. Dan Bu Wati, dengan mata yang berbinar, mendengarkan semua dengan sabar. Ia sadar: anak-anak hanya ingin didengar, bukan dihakimi.
Suatu ketika, anak pertamanya yang dulu keras dan sering bertengkar mengajak Bu Wati pergi ke sebuah seminar parenting. Ia berkata:
“Bu, aku ingin belajar… supaya nanti, kalau aku jadi orang tua, aku nggak mengulang kesalahan yang sama.”
Bu Wati memeluknya erat, menahan isak. Anak yang dulu ia pikir telah hilang dari hatinya, ternyata masih menyimpan kasih yang tak pernah padam.
Akhirnya, cinta menemukan jalannya.
Tak ada yang sempurna dalam keluarga itu, tapi kini semuanya saling belajar. Mereka jatuh, mereka salah, tapi mereka selalu kembali pada satu hal: cinta seorang ibu yang tak menyerah meski pernah gagal.
Dan bagi Bu Wati, hidup kini bukan tentang penyesalan masa lalu. Tapi tentang hadiah kesempatan kedua yang Tuhan berikan lewat pelukan anak-anaknya.
Karena kasih ibu… walau terlambat, tak pernah benar-benar berakhir.
Ia hanya menunggu saat yang tepat… untuk kembali tumbuh.
Hari itu, tepat di ulang tahun Bu Wati yang ke-52, keenam anaknya sepakat memberi kejutan kecil. Mereka bukan keluarga kaya yang bisa memberi hadiah mahal, tapi mereka tahu: yang paling dibutuhkan ibu mereka… bukan barang, tapi pengakuan. Cinta. Dan pelukan yang utuh.
Mereka menghias ruang tamu seadanya. Beberapa foto lama dipajang, termasuk potret kecil Bu Wati menggendong anak pertamanya, yang kini sudah dewasa. Di meja, ada kue sederhana buatan anak ketiganya. Lilinnya hanya satu, tapi maknanya dalam.
Saat Bu Wati masuk ke ruang tamu, seluruh anak dan suaminya menyambut dengan senyum.
"Selamat ulang tahun, Ibu…"
Ia terdiam. Air matanya langsung jatuh. Bukan karena haru semata, tapi karena ia sadar… inilah hasil dari perjuangannya: hati yang kembali menyatu.
Lalu satu per satu anaknya maju, membacakan surat kecil yang mereka tulis:
“Bu… makasih karena sekarang Ibu udah mau dengerin aku.”
“Maaf karena dulu aku sempat benci, padahal Ibu cuma sedang lelah.”
“Aku tahu Ibu nggak sempurna, tapi sekarang Ibu jadi pelukan yang paling aku rindukan.”
“Kalau bukan karena Ibu bertahan, mungkin kita semua nggak akan begini.”
“Ibu… aku ingin jadi orang tua seperti Ibu. Yang nggak pernah menyerah.”
“Pelukan Ibu sekarang… menyembuhkan lukaku yang dulu.”
Bu Wati tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menangis… dan memeluk mereka semua satu per satu. Lama. Dalam. Penuh makna.
Suaminya pun mendekat, menggenggam tangannya. Kali ini, genggaman itu hangat. Tidak canggung. Tidak kosong. Ia berbisik,
“Terima kasih karena sudah bertahan, meski aku pernah gagal jadi laki-laki yang bisa mendampingimu dengan benar.”
Dan malam itu… pelukan yang dulu terlambat, akhirnya menjadi pelukan yang menyelamatkan.
Tak ada ibu yang sempurna. Tak ada rumah yang tanpa luka. Tapi ketika hati yang terluka bersedia membuka diri kembali, keajaiban akan menemukan jalannya.
Bu Wati, yang dulu penuh penyesalan, kini berdiri sebagai seorang ibu yang dimaafkan, dicintai, dan dihargai.
Ia tahu, waktunya mungkin sudah banyak hilang. Tapi hari ini dan esok… masih bisa ia gunakan untuk mencintai dengan benar.
"Tak ada kata terlambat untuk menjadi Ibu yang lebih baik. Bahkan pelukan yang datang di akhir… bisa menyembuhkan luka yang dimulai sejak awal."
Beberapa tahun berlalu…
Kini Bu Wati tak lagi harus bangun pagi untuk menyiapkan enam kotak bekal. Anak-anaknya telah dewasa, satu per satu meninggalkan rumah untuk mengejar kehidupan mereka sendiri kuliah, bekerja, bahkan beberapa sudah menikah.
Rumah itu kembali sepi, tapi bukan sepi yang menyakitkan seperti dulu. Kali ini, sepinya penuh arti, karena Bu Wati tahu… anak-anaknya pergi bukan karena lari, tapi karena siap untuk berdiri.
Ia masih suka duduk di teras, memandangi halaman yang dulu ditanami bersama. Di pojok rumah, tergantung pigura foto keluarga yang diambil saat ulang tahunnya ke-52 momen yang menjadi titik balik hidupnya.
Suaminya pun berubah. Mereka kini sering saling menggoda kecil, atau sekadar duduk diam sambil menikmati teh hangat dan cerita tentang anak-anak mereka.
Suatu sore, saat matahari mulai turun, anak kelimanya datang berkunjung bersama istri dan anak kecil yang lucu. Sang cucu langsung berlari ke pelukan Bu Wati.
"Nenek, peluk!"
Bu Wati tertawa, memeluk erat tubuh mungil itu. Hatinya menghangat. Di pelukan cucunya, ia melihat dirinya bertahun-tahun lalu seorang ibu yang pernah gagal… tapi tidak menyerah.
Anak kelimanya mendekat, menatap ibunya lalu berkata pelan:
“Bu, aku banyak belajar dari Ibu… Sekarang aku tahu, mencintai anak itu bukan soal sempurna, tapi soal bertahan. Makasih ya, Bu…”
Bu Wati hanya tersenyum. Tangannya mengusap kepala cucunya sambil berkata pelan,
“Dulu Nenek terlambat memeluk ayahmu. Tapi sekarang… pelukan Nenek tidak akan pernah terlambat lagi.”
Dan begitulah… kisah Bu Wati menjadi kisah banyak ibu di dunia ini.
Ibu yang pernah gagal, pernah tak didengar, pernah merasa tak berarti. Tapi selama ia belum menyerah, selama ia masih mau belajar mencintai meski dengan cara yang sederhana maka ia tetap seorang ibu yang luar biasa.
Karena kasih ibu…
Tak pernah benar-benar hilang.
Hanya mungkin… butuh waktu untuk kembali menemukan jalannya.
“Tak ada pelukan yang benar-benar terlambat, selama cinta itu masih hidup di dalam hati.”
Waktu terus berjalan…
Kini Bu Wati bukan hanya seorang ibu, tapi juga seorang nenek, seorang sahabat bagi anak-anaknya, dan seorang perempuan yang berdamai dengan hidupnya sendiri.
Ia tak lagi dihantui rasa bersalah seperti dulu. Bukan karena ia melupakan masa lalunya, tapi karena ia sudah memaafkan dirinya sendiri.
Suatu malam, ia duduk sendirian di kamar, membuka buku catatannya yang dulu ia isi diam-diam tentang luka, tentang penyesalan, dan tentang doa-doa yang hanya bisa ia ucapkan dalam diam. Di halaman terakhir, ia menulis sesuatu dengan tangan bergetar, namun penuh ketenangan:
Catatan Bu Wati Tahun ke-30 sebagai Ibu
"Aku pernah merasa gagal. Pernah kehilangan. Pernah tak dianggap. Tapi hari ini aku mengerti…
Jadi ibu bukan soal bisa atau tidak. Tapi soal mau terus belajar, meski pernah jatuh berkali-kali.
Aku bukan ibu yang sempurna. Tapi aku adalah ibu yang akhirnya belajar mencintai dengan utuh, dengan luka, dan dengan harapan.”
Jika waktu bisa diulang, aku akan peluk anak-anakku sejak mereka pertama kali menangis…
Tapi karena waktu tak bisa kembali, maka aku akan peluk mereka selamanya, dari hari ini… sampai aku tak lagi ada.”
Di luar kamar, terdengar suara cucunya berlari kecil, memanggil:
"Nenek... peluk, dong!"
Bu Wati tersenyum, menutup bukunya, lalu bangkit.
Dan dengan tangan yang dulu pernah gemetar oleh lelah dan beban hidup, kini ia membuka pelukannya penuh hangat, karena ia tahu...
Pelukan itu… tak pernah lagi datang terlambat.
“Kadang cinta seorang ibu baru dimengerti setelah luka tumbuh… tapi ketika cinta itu sungguh-sungguh, ia bisa menyembuhkan segalanya.”
Tahun-tahun berganti… Bu Wati kini tak lagi sekuat dulu. Langkahnya mulai lambat, rambutnya semakin memutih, dan penglihatannya tak setajam saat masih berjuang membesarkan anak-anak.
Tapi hatinya?
Masih penuh cinta.
Masih kuat memeluk siapa pun yang datang padanya, walau kini pelukannya lebih pelan dan sunyi.
Ia kini tinggal bersama anak bungsunya yang belum menikah. Anak-anak lainnya sering datang bergantian, membawakan makanan, cucu-cucu yang ribut, dan cerita-cerita kehidupan mereka. Mereka memeluknya tiap datang dan sebelum pulang ritual yang dulu tak pernah ada, kini menjadi kebiasaan yang tak boleh terlewat.
Suaminya telah berpulang setahun yang lalu. Di saat-saat terakhirnya, ia menggenggam tangan Bu Wati dan berkata,
"Terima kasih karena kau tidak pernah pergi, bahkan saat aku tak tahu cara mencintaimu."
"Maaf… karena aku baru benar-benar menjadi suami… di tahun-tahun terakhir ini."
Dan Bu Wati hanya menjawab dengan senyum yang basah oleh air mata.
"Aku pun baru belajar menjadi istri yang penuh cinta, saat aku mulai mencintai diriku sendiri."
Kini, setiap malam, sebelum tidur, Bu Wati punya satu kebiasaan baru. Ia menyalakan lampu meja kecil, lalu menulis di buku hariannya buku baru, karena buku lamanya telah penuh.
Di halaman depan buku itu, ia tulis:
“Buku Pelukan” Milik Bu Wati
“Karena hidup ini singkat. Maka peluklah mereka yang kau sayangi… sebelum terlambat. Dan bila memang sudah terlambat… tetaplah peluk. Karena cinta yang tulus… selalu sampai, walau datang belakangan.”
Di akhir catatannya, di lembar terakhir yang ia tulis sebelum matanya terpejam malam itu, tertulis:
“Tuhan, jika besok aku tak bangun lagi, aku hanya ingin Engkau tahu…
…aku sudah memeluk semua yang dulu pernah kutinggalkan.”
“Dan aku pulang… dengan hati yang penuh.”
Beberapa waktu kemudian…
Rumah kecil itu ramai oleh anak-anak dan cucu-cucu. Tapi bukan karena perayaan.
Hari itu, semua datang untuk mengantar Bu Wati pulang ke tempat peristirahatan terakhir.
Tangis memang tak bisa dihindari. Tapi tak ada penyesalan.
Karena semua anak-anaknya tahu:
Mereka pernah hampir kehilangan ibunya…
Tapi berhasil mendapatkannya kembali utuh, penuh cinta, dan tak pernah lagi jauh.
"Pelukan yang terlambat… kini menjadi pelukan yang abadi."
Beberapa minggu setelah kepergian Bu Wati, keenam anaknya berkumpul kembali di rumah kecil tempat mereka dibesarkan rumah yang dulu penuh luka, lalu berubah jadi tempat penuh cinta.
Tak ada suara tangis.
Yang ada hanya keheningan penuh makna.
Setiap sudut rumah menyimpan kenangan tentang ibu mereka dari sudut dapur yang pernah dipenuhi aroma sayur bayam, hingga kamar kecil tempat Bu Wati menulis diam-diam dalam buku hariannya.
Anak kedua menemukan buku terakhir yang ditulis sang ibu. Mereka membacanya bersama, berkumpul dalam lingkaran yang hangat.
Di salah satu halaman, tertulis:
"Untuk anak-anakku..."
"Terima kasih sudah memberi ibu kesempatan kedua. Kalian adalah guru-guru terbaik dalam hidup ibu karena dari kalian, ibu belajar bahwa cinta sejati bukan datang dari yang sempurna, tapi dari yang mau terus memperbaiki."
"Ibu mungkin pernah gagal… tapi kalianlah yang menyelamatkan ibu dari kegagalan itu."
"Jika suatu hari nanti kalian menjadi orang tua, jangan takut salah. Jangan takut jatuh. Tapi jangan pernah berhenti memeluk…"
Anak sulung yang dulu penuh amarah tak bisa berkata-kata. Ia hanya menutup buku itu pelan, lalu berkata:
“Kita nggak kehilangan Ibu. Kita justru pernah mendapatkannya… kembali. Itu jauh lebih indah.”
Lalu mereka sepakat: rumah itu tidak akan dijual. Akan dijaga, dirawat. Di halaman belakang, mereka membangun taman kecil dan menamai taman itu:
“Taman Pelukan Ibu.”
Tempat mereka bisa duduk bersama, bercerita, dan mengingat… bahwa cinta seorang ibu tak pernah benar-benar mati.
"Kisah Bu Wati bukan hanya tentang kegagalan… tapi tentang harapan. Tentang keberanian untuk berubah. Dan tentang pelukan yang mampu menyembuhkan bertahun-tahun luka dalam diam."
"Semoga setiap ibu yang merasa pernah gagal, tahu… bahwa tidak pernah terlambat untuk mencintai dengan sungguh-sungguh.”
TAMAT