Lelah Yang Tak Berujung
Lelah yang Tak Berujung
Hidupnya seperti jalan panjang yang tak pernah ada ujungnya. Setiap pagi ia terbangun bukan karena semangat, tapi karena tubuhnya sudah terbiasa. Mata yang terbuka bukan tanda ia siap menghadapi hari, melainkan karena tak ada pilihan lain.
Di luar, dunia berlari. Orang-orang tertawa, bekerja, bercinta, berdebat, lalu kembali tertawa. Sementara ia… hanya berjalan pelan, menyeret langkah di tengah keramaian yang tak pernah benar-benar peduli.
Ada kalanya ia mencoba untuk kuat, memasang senyum, menanggapi sapaan. Namun senyum itu hanya seperti cat tipis di dinding yang retak menutup luka, tapi tidak pernah benar-benar memperbaikinya.
Malam datang. Sunyi menjadi teman. Ia menatap langit-langit kamar, bertanya dalam hati, “Sampai kapan harus seperti ini?” Tapi jawaban tak pernah datang. Hanya detak jam yang terdengar, seolah mengingatkan bahwa waktu tetap berjalan meski hatinya berhenti di titik yang sama.
Ia lelah. Lelah berpura-pura baik-baik saja. Lelah menunggu perubahan yang tak kunjung tiba. Lelah berharap pada orang-orang yang tak pernah benar-benar mengerti.
Namun, entah mengapa, ia tetap melangkah. Mungkin karena diam di tempat terasa lebih menyakitkan.
Di lubuk hatinya, ia tahu… ini bukan sekadar lelah yang bisa diobati dengan tidur panjang. Ini adalah lelah yang tak berujung lelah yang hanya akan berakhir jika ia menemukan alasan baru untuk hidup, atau berhenti mencarinya sama sekali.
Hari-harinya selalu dimulai dengan tarikan napas berat, seperti memaksa paru-paru untuk bekerja meski sebenarnya tak ingin.
Bukan karena tubuhnya sakit, tapi karena jiwa yang letih.
Dulu, ia pernah punya mimpi. Mimpi-mimpi itu indah punya rumah kecil dengan taman mungil, pekerjaan yang ia cintai, dan orang-orang yang selalu ada untuknya. Tapi mimpi itu pelan-pelan memudar, seperti tulisan di pasir yang tersapu ombak.
Orang-orang di sekitarnya tak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya hidup di tubuh dan pikirannya.
Mereka hanya melihat dari luar “Kamu kuat, kamu sabar, kamu tegar.”
Padahal, jika mereka mau melihat lebih dalam, yang ada hanyalah puing-puing.
Siang hari adalah waktu terberat.
Ia duduk di antara orang-orang yang bercerita tentang rencana liburan, pencapaian, atau kisah cinta yang manis.
Sementara ia hanya tersenyum tipis, takut jika bicara akan membuat suaranya bergetar dan matanya basah.
Malam adalah penjara yang sunyi.
Ia sering menatap layar ponsel, menunggu pesan yang tak pernah datang. Menulis status yang tak pernah diunggah. Mengetik pesan panjang lalu menghapusnya, karena sadar tak ada yang benar-benar peduli.
Di kamar yang dingin, ia memeluk dirinya sendiri. Satu-satunya pelukan yang ia dapatkan tanpa harus meminta.
Ia pernah mencoba melawan mencoba menjadi “kuat” seperti yang semua orang harapkan.
Pergi ke luar, mencoba hal-hal baru, mengobrol dengan orang-orang yang katanya bisa mengerti.
Tapi kenyataannya, dunia terus bergerak cepat, dan ia tertinggal jauh di belakang.
Seolah semua orang sedang berlari maraton, sementara ia terjebak di lumpur.
Setiap malam ia berjanji, "Besok aku akan lebih baik."
Tapi besok datang, dan rasa lelah itu tetap tinggal.
Lelah berpura-pura, lelah berharap, lelah menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tak tahu apa.
Namun, meski tubuh dan pikirannya hampir menyerah, ia tetap melangkah.
Bukan karena yakin akan sampai di tujuan, tapi karena berhenti sepenuhnya terasa lebih menakutkan.
Dan begitulah hidupnya…
Berjalan di garis tipis antara bertahan dan menyerah.
Mencari setitik cahaya di ujung lorong yang entah ada atau tidak.
Hidup dalam lingkaran yang sama, rasa yang sama, dan lelah yang… tak pernah berujung.
"Kenapa aku harus bangun lagi hari ini?"
Pertanyaan itu muncul setiap kali mataku terbuka. Tapi alarm tetap berbunyi, dan aku tetap harus menyeret tubuh ini keluar dari tempat tidur.
"Ayo, kamu bisa. Sedikit lagi. Satu langkah lagi."
Begitu kataku pada diri sendiri setiap pagi. Tapi entah kenapa, langkah itu selalu terasa berat. Bahkan lebih berat daripada kemarin.
Orang-orang bilang aku kuat.
"Kamu hebat, selalu bisa tersenyum meski banyak masalah."
Mereka tak tahu, senyum itu cuma topeng.
Aku tersenyum karena kalau aku diam saja, mereka akan bertanya. Dan aku terlalu lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya tak akan mereka mengerti.
Siang hari, aku duduk di meja kerja. Menatap layar.
"Fokus… ayo fokus…", tapi pikiranku melayang.
Aku mengingat masa lalu, saat aku masih punya semangat. Aku bertanya-tanya, "Kapan terakhir kali aku merasa benar-benar hidup?"
Dan aku tak ingat lagi.
Malam hari…
Aku menatap langit-langit kamar. Gelap. Hening.
Ponselku sunyi. Tidak ada pesan, tidak ada telepon.
"Apa aku memang terlalu sepi, atau aku hanya terbiasa sendirian?"
Kadang aku ingin menangis, tapi air mata tak keluar.
Kadang aku ingin bicara, tapi tak tahu pada siapa.
Aku mencoba menghibur diri.
"Besok pasti lebih baik. Besok aku akan mulai lagi."
Tapi besok datang, dan rasanya tetap sama.
Sampai aku mulai berpikir…
"Mungkin hidup memang begini. Mungkin aku hanya harus berjalan tanpa tahu ujungnya di mana. Mungkin aku tidak akan pernah menemukan alasan yang benar-benar membuatku ingin bertahan. Tapi setidaknya, aku masih berjalan…"
Malam itu hujan turun pelan.
Dari jendela, ia melihat titik-titik air memantul di jalan yang sepi. Lampu-lampu temaram membuat genangan tampak seperti cermin memantulkan bayangan dirinya yang rapuh.
Ia duduk di tepi ranjang, memeluk lutut.
Pikirannya penuh dengan pertanyaan yang tak pernah terjawab.
"Kalau aku hilang besok… siapa yang akan benar-benar peduli?"
Air matanya jatuh pelan, tapi pasti. Bukan karena marah. Bukan juga karena takut. Tapi karena ia merasa hampa. Terlalu lama menahan semua sendiri, hingga rasanya tak ada lagi tenaga untuk berjuang.
Namun di tengah keheningan itu, ia merasakan sesuatu… sangat kecil, tapi nyata.
Bukan harapan yang besar, bukan janji manis… hanya detak jantungnya sendiri.
Pelan, tapi tetap berdetak.
Dan entah mengapa, itu cukup untuk membuatnya berkata dalam hati,
"Oke… satu hari lagi. Aku bertahan satu hari lagi."
Bukan karena masalahnya selesai.
Bukan karena lukanya sembuh.
Tapi karena ia memilih… untuk memberi dirinya kesempatan melihat, apakah besok akan membawa sedikit cahaya.
Malam itu, ia memejamkan mata.
Masih lelah. Masih hampa.
Tapi di sudut hatinya, ia tahu bertahan satu hari lagi adalah bentuk keberanian yang tak semua orang bisa lakukan.
Dan itulah awal dari sesuatu… meski ia sendiri belum tahu, sesuatu itu akan membawanya ke mana.
Hujan malam itu turun pelan, seperti takut mengganggu dunia yang sedang terlelap. Dari jendela kamarnya yang setengah terbuka, ia bisa mendengar suara tetesan air jatuh di genting, lalu mengalir pelan ke talang. Bau tanah basah memenuhi udara, membawa rasa dingin yang meresap ke dalam tulang.
Kamar itu remang. Hanya lampu meja kecil di sudut yang menyala, menciptakan lingkaran cahaya kuning pucat di lantai. Di dalam lingkaran itu, ia duduk memeluk lutut, menatap kosong ke arah lantai. Tubuhnya seperti patung, tapi matanya… matanya bercerita.
Hari ini tak berbeda dengan kemarin, atau hari-hari sebelumnya. Ia bangun tanpa alasan. Sarapan bukan karena lapar, tapi karena tubuh butuh diisi. Bekerja hanya demi bertahan, bukan untuk berkembang. Hidupnya seperti jam rusak yang terus bergerak tapi tak pernah menunjukkan waktu yang tepat.
"Kapan terakhir kali aku merasa hidup?" pertanyaan itu muncul lagi, seperti hantu yang tak mau pergi. Ia mencoba mengingat, tapi yang muncul hanya potongan-potongan ingatan yang samar tawa yang sudah jarang terdengar, pelukan yang sudah lama tak ia rasakan, dan matahari pagi yang dulu terasa hangat, kini hanya menyilaukan.
Ponsel di meja bergetar. Satu pesan masuk.
Hatinya berdebar, seperti anak kecil yang berharap hadiah. Tapi ketika dibuka, hanya pesan promosi dari nomor tak dikenal. Ia tersenyum miris. Seakan dunia sedang mengingatkannya bahwa ia tak sedang ditunggu siapa pun.
Di luar, suara motor sesekali lewat, menggores keheningan. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya di genangan air, menciptakan kilauan yang indah namun dingin. Ia mendekat ke jendela, menyentuh kaca yang berembun. Jemarinya meninggalkan bekas, seperti jejak kecil bahwa ia pernah ada.
Air matanya jatuh tanpa suara. Tidak meledak, tidak tersedu-sedu. Hanya mengalir, pelan… tapi terus. Ia sudah terlalu lelah untuk menangis keras.
Di dalam hatinya, ia bertanya, "Kalau aku hilang besok, siapa yang akan benar-benar peduli?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, tak ada yang menjawab.
Namun, di tengah kehampaan itu, ia merasakan sesuatu yang aneh sangat kecil, hampir tak terlihat. Detak jantungnya. Pelan… tapi konsisten.
"Aku masih di sini," bisik hati kecilnya.
Dan entah kenapa, itu cukup.
Cukup untuk membuatnya berkata pada dirinya sendiri,
"Baiklah… satu hari lagi. Aku bertahan satu hari lagi."
Ia tahu besok mungkin sama saja. Ia tahu lelahnya tidak akan hilang begitu saja. Tapi bertahan sehari lagi… mungkin, hanya mungkin, akan membawanya ke titik di mana lelah itu berubah menjadi sesuatu yang lain.
Malam itu, ia merebahkan tubuh di ranjang. Hujan masih turun, membisikkan nada-nada yang menenangkan. Matanya perlahan terpejam.
Masih lelah, masih hampa, tapi… kali ini, ada sedikit keberanian untuk menunggu esok datang.
Pagi itu, hujan semalam meninggalkan jejak tipis di udara bau tanah basah bercampur embun yang menempel di kaca jendela. Ia membuka mata dengan rasa berat yang sama seperti biasanya, tapi entah kenapa, ada sedikit perbedaan. Mungkin karena semalam ia berjanji pada dirinya sendiri: “Satu hari lagi.”
Di luar, matahari mencoba menembus awan. Cahaya yang lembut masuk melalui celah tirai, menimpa meja yang berantakan dengan tumpukan buku dan mug kopi bekas semalam.
Ia menghela napas. “Ya sudah… coba jalan saja,” gumamnya pelan.
Hari itu, ia memutuskan untuk keluar sedikit lebih pagi. Bukan karena ada janji, tapi karena merasa dinding kamarnya mulai terlalu sesak. Kakinya membawanya ke taman kecil di ujung jalan tempat yang dulu sering ia datangi, tapi entah sejak kapan ia tinggalkan.
Taman itu sepi. Hanya ada seorang nenek yang memberi makan burung dan seorang bapak tua yang sedang menyapu daun kering. Ia duduk di bangku kayu, memandangi rumput yang basah oleh embun.
Tanpa ia sadari, bibirnya melengkung sedikit senyum tipis yang jarang muncul.
Lalu, datanglah seekor kucing belang tiga, berjalan santai mendekatinya.
Kucing itu menatapnya sebentar, lalu duduk di dekat kakinya. Tidak manja, tidak pula takut. Hanya diam, seakan mengerti.
Ia menunduk, mengulurkan tangan. Kucing itu membiarkan dirinya dielus. Bulunya hangat, lembut kontras dengan dinginnya udara pagi.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa dilihat. Bukan oleh manusia, tapi oleh makhluk kecil yang tidak menghakimi, tidak bertanya, tidak menuntut.
Hatinya terasa sedikit lebih ringan.
Tidak banyak. Tidak tiba-tiba. Tapi cukup untuk membuatnya berkata,
"Mungkin… aku bisa bertahan bukan hanya satu hari lagi. Mungkin dua… atau tiga."
Ia pulang dengan langkah yang sama pelannya, tapi kali ini, di saku pikirannya ada sesuatu yang baru:
Percikan kecil.
Beberapa hari berlalu sejak pertemuannya dengan kucing belang tiga di taman. Entah kenapa, setiap pagi ia mulai terbiasa melangkah ke sana. Awalnya hanya duduk sebentar lalu pulang. Tapi semakin hari, ia betah lebih lama.
Kucing itu yang akhirnya ia beri nama Tiga selalu menunggunya di bangku yang sama. Kadang ia membawa sedikit makanan, kadang hanya duduk sambil mengelus kepala kucing itu. Tidak ada percakapan, tidak ada janji, tapi kehadiran Tiga membuatnya merasa… ada yang menunggu.
Suatu pagi, ketika ia sedang duduk di taman, seorang gadis muda datang membawa kamera. Gadis itu memotret bunga-bunga kecil yang tumbuh di pinggir jalan. Ia penasaran kenapa orang bisa begitu antusias memotret hal sederhana seperti itu?
“Aku suka bunga liar,” kata gadis itu sambil tersenyum ketika menyadari ia sedang diperhatikan. “Orang sering mengabaikannya, padahal warnanya cantik.”
Kata-kata itu sederhana, tapi entah kenapa menempel di pikirannya.
Bunga liar… hal kecil yang tetap tumbuh meski tidak ada yang peduli.
Hari-hari berikutnya, ia mulai melihat sekeliling dengan cara berbeda. Pohon yang menjuntai di tepi jalan, dedaunan yang bergoyang terkena angin, bahkan suara burung di pagi hari. Semua itu tetap ada, meski ia dulu tak pernah memperhatikannya.
Lelahnya memang belum hilang. Ia masih sering merasa hampa ketika malam tiba. Tapi kini, di antara kehampaan itu, ada potongan-potongan kecil yang memberi rasa hangat.
Senyum Tiga. Sapaan gadis pemotret bunga. Bau kopi di warung kecil dekat taman.
Dan malam itu, sebelum tidur, ia berkata pada dirinya sendiri,
"Mungkin… hidup memang tidak akan tiba-tiba jadi indah. Tapi mungkin, keindahan itu ada di hal-hal kecil yang dulu tidak kulihat."
Musim hujan mulai tiba. Pagi itu, langit kelabu menutup cahaya matahari, dan angin dingin membawa aroma hujan yang sebentar lagi jatuh. Ia hampir memutuskan untuk tidak ke taman hari ini, tapi hatinya berkata, “Pergilah, siapa tahu Tiga menunggu.”
Dengan langkah cepat, ia tiba di bangku kayu biasa. Tapi Tiga tidak ada di sana. Bangku itu basah oleh rintik hujan yang mulai turun. Ia menoleh ke segala arah, memanggil pelan, “Tiga…”
Tak ada jawaban, hanya suara hujan yang makin deras.
Ada rasa hampa yang tiba-tiba datang. Seolah kehangatan yang ia rasakan beberapa minggu terakhir mulai direbut lagi.
Ia menunggu di bawah pohon, berharap Tiga akan muncul. Tapi hujan makin lebat, dan tubuhnya mulai kedinginan.
Hari itu ia pulang dengan langkah berat.
Sepanjang jalan, pikirannya berputar-putar: Tiga mungkin hanya sedang bersembunyi. Atau mungkin… tidak akan kembali.
Bayangan kehilangan itu membuat dadanya sesak.
Malamnya, hujan belum juga berhenti. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi jendela yang buram oleh embun. Hatinya berbisik, “Lihat? Semua ini hanya sementara. Keindahan kecil itu juga akan pergi.”
Ia hampir percaya pada bisikan itu, sampai ia teringat kata-kata gadis pemotret bunga: “Bunga liar tetap tumbuh, meski tidak ada yang peduli.”
Kalimat itu seperti tamparan halus.
Ia menatap kedua tangannya, lalu berkata dalam hati,
"Kalau aku kehilangan satu hal yang membuatku bertahan… mungkin aku harus mencari hal lain. Mungkin… nyala itu bukan hanya dari satu sumber."
Hujan di luar masih deras, tapi di dalam dirinya, ada keputusan kecil yang mulai tumbuh: esok ia akan tetap pergi ke taman dengan atau tanpa Tiga.
Pagi berikutnya, hujan sudah berhenti. Jalanan masih basah, udara segar menusuk hidung. Ia berjalan ke taman dengan perasaan yang campur aduk tak yakin akan menemukan Tiga, tapi juga tidak mau berharap terlalu banyak.
Saat sampai di bangku kayu itu, ia berhenti.
Bukan karena Tiga ada di sana, tapi karena seorang anak laki-laki duduk sendirian di bangku itu. Usianya mungkin sekitar sepuluh tahun, mengenakan jaket lusuh, memegang roti kecil yang tampak sudah setengah basah.
Anak itu menoleh, dan dengan senyum malu-malu berkata, “Mbak… kucingnya hilang ya?”
Pertanyaan itu menusuk. Ia mengangguk pelan. “Kamu tahu kucing itu?”
Anak itu mengangguk. “Dia suka main sama saya juga. Semalam hujan deras, saya lihat dia lari ke arah pasar.”
Mereka bicara sebentar, lalu anak itu bercerita bahwa ia sering datang ke taman untuk memberi makan burung dan sesekali, kucing-kucing liar.
Ia terdiam, memperhatikan wajah polos itu. Ada sesuatu yang berbeda anak ini juga punya tatapan yang pernah ia miliki: tatapan seseorang yang terbiasa sendiri.
Sebelum berpisah, anak itu berkata, “Kalau kucingnya nggak balik, nggak apa-apa kok. Masih ada burung-burung yang mau kita kasih makan. Saya besok ke sini lagi.”
Kata-kata sederhana itu menggema di kepalanya saat ia berjalan pulang.
Ternyata, bahkan ketika kita kehilangan satu hal yang membuat kita bertahan… akan ada hal lain, atau orang lain, yang siap mengisi celah itu.
Malam itu, ia menulis di buku catatannya hal yang sudah lama tidak ia lakukan:
"Mungkin lelah ini memang tidak pernah benar-benar hilang. Tapi setiap pertemuan kecil seperti ini… membuatnya sedikit lebih ringan.”
Keesokan paginya, ia datang ke taman lebih awal dari biasanya. Udara pagi terasa segar, matahari muncul malu-malu di balik awan tipis.
Di bangku kayu itu, anak laki-laki kemarin sudah duduk sambil memegang kantong kecil berisi remah roti.
“Mbak datang!” seru anak itu dengan senyum lebar. “Ayo, burung-burungnya sudah nunggu.”
Mereka berjalan ke area yang agak teduh, di mana beberapa burung merpati beterbangan rendah. Anak itu menaburkan remah roti sambil tertawa kecil setiap kali burung mendekat. Ia ikut menabur, meski awalnya kaku. Tapi melihat burung-burung itu makan tanpa takut membuatnya merasakan ketenangan yang aneh sederhana, tapi tulus.
Hari-hari berikutnya, mereka bertemu lagi dan lagi. Kadang hanya duduk bercerita, kadang berbagi roti, kadang mencari Tiga meski tak pernah ketemu.
Ia tahu anak itu tidak banyak bicara soal dirinya, tapi setiap kali mereka bertemu, ada kehangatan yang jarang ia rasakan.
Suatu pagi, anak itu berkata, “Mbak, tau nggak? Kalau burung itu bisa terbang bebas, tapi tetap kembali ke sini… berarti mereka suka tempat ini. Kayak kita.”
Kalimat itu menancap dalam. Ia mulai sadar taman ini bukan hanya tempat untuk duduk, tapi sudah menjadi titik kecil yang membuatnya menunggu hari esok.
Malam itu, ia menulis lagi di buku catatannya:
"Ternyata, hidupku mulai punya ritme. Bukan ritme besar yang mengubah segalanya, tapi ritme kecil yang membuatku merasa… tidak sepenuhnya sendirian."
Ia masih lelah. Masih ada malam-malam di mana hatinya terasa kosong. Tapi kini, setiap pagi, ada alasan untuk bangun: langkah menuju taman, sapaan anak itu, burung-burung yang tak pernah bosan kembali.
Pagi itu langit cerah sekali. Udara segar membuatnya melangkah lebih cepat menuju taman. Ia membawa kantong kecil berisi remah roti, sudah tak sabar membaginya bersama anak itu.
Namun, ketika sampai di bangku kayu… bangku itu kosong.
Ia menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Setengah jam.
Tidak ada tanda-tanda anak itu datang.
Keesokan harinya, ia kembali menunggu masih tak ada.
Rasa hampa mulai menyusup pelan. Bayangan masa lalu kembali menghantui: Lihat? Semua ini cuma sementara. Pada akhirnya, semua orang pergi.
Hari ketiga, ia memutuskan untuk bertanya pada bapak tua yang biasa menyapu daun di taman.
“Oh, anak itu? Katanya ibunya sakit, jadi dia ikut keluarga pindah ke kampung sementara. Mungkin lama baru balik,” jawab bapak itu sambil terus menyapu.
Ia terdiam. Ada rasa kehilangan yang pahit, tapi juga rasa takut takut kalau kebiasaan kecil yang mulai menghangatkannya akan hilang begitu saja.
Sore itu, ia duduk sendiri di bangku taman. Burung-burung tetap datang, mematuki remah roti yang ia taburkan.
Hatinya berbisik, “Kalau kamu berhenti datang ke sini, tak ada yang memaksa. Tidak akan ada yang protes. Kamu bisa kembali ke hidup yang dulu.”
Tapi suara lain menjawab, “Atau… kamu bisa tetap datang. Untuk burung-burung ini. Untuk dirimu sendiri. Karena ternyata, kamu yang paling membutuhkan tempat ini.”
Ia menatap burung-burung yang terbang lalu kembali. Entah kenapa, ia merasa sedang melihat dirinya sendiri.
Akhirnya ia tersenyum tipis, lalu berkata dalam hati,
"Baiklah… aku akan tetap datang. Bahkan kalau aku sendirian sekalipun."
Pagi itu matahari tertutup awan tipis. Ia berjalan pelan menuju taman kota, membawa secangkir kopi yang mulai kehilangan panasnya. Langkahnya terasa berat, tapi taman selalu punya cara membuatnya sedikit bernapas lebih lega.
Bangku kayu di bawah pohon flamboyan masih kosong seperti biasa. Ia duduk, menatap jalan setapak yang basah oleh embun. Udara pagi menusuk kulit, tapi pikirannya justru terasa hangat, seolah taman ini menyimpan rahasia yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang lelah.
Saat ia mulai hanyut dalam lamunannya, suara langkah pelan terdengar mendekat. Ia menoleh, dan di sanalah seorang perempuan bersweater biru duduk di ujung bangku. Tanpa menoleh, tanpa sapaan. Hanya duduk, seperti dirinya, memandangi jalan setapak yang sama.
Entah kenapa, kehadiran orang asing itu tidak mengganggu. Justru membuatnya merasa… tidak sendirian. Dua orang, sama-sama diam, tapi saling mengerti dalam hening.
Ia tidak tahu berapa lama mereka duduk begitu. Sampai akhirnya perempuan itu berdiri, berjalan pergi tanpa sepatah kata pun. Meninggalkan rasa aneh di dadanya campuran penasaran dan harapan untuk bertemu lagi.
Hujan turun sejak subuh. Jalanan licin, dedaunan di taman bergoyang pelan diterpa angin. Ia hampir membatalkan niatnya untuk pergi ke sana pagi itu. Namun, entah kenapa, langkahnya tetap membawanya menuju bangku kayu di bawah pohon flamboyan yang sudah menjadi tempatnya mencari tenang.
Begitu sampai, ia terkejut perempuan bersweater biru itu sudah duduk di sana. Rambutnya sedikit basah, matanya menatap genangan air di depannya.
“Kita bertemu lagi,” katanya, mencoba memecah keheningan.
Perempuan itu tersenyum tipis. “Sepertinya taman ini memang kecil, atau dunia yang sengaja mempertemukan kita lagi.”
Hujan semakin rintik. Mereka duduk bersebelahan, diam. Suara hujan yang memukul daun dan tanah menjadi latar musik yang anehnya menenangkan.
Tanpa sadar, mereka mulai berbagi cerita. Bukan tentang siapa nama mereka, atau apa pekerjaan mereka. Hanya hal-hal kecil kenapa mereka suka datang ke taman, atau bagaimana aroma tanah basah bisa membuat hati terasa ringan.
Namun di balik percakapan itu, ada sesuatu yang sama-sama mereka sembunyikan: masing-masing membawa luka yang belum sembuh. Luka yang membuat mereka memilih duduk di taman, memandangi hujan, daripada berada di tempat lain yang lebih ramai.
Saat hujan mulai reda, perempuan itu berdiri. “Sampai jumpa lagi… mungkin,” ucapnya sambil melangkah pergi.
Ia hanya bisa menatap punggungnya, bertanya-tanya apakah “mungkin” itu benar-benar akan terjadi
Sejak pertemuan singkat di taman itu, pikirannya seperti diusik. Ia tidak tahu siapa perempuan bersweater biru itu, tapi setiap pagi kini ia datang lebih awal, duduk di bangku yang sama, berharap melihat sosoknya lagi.
Namun hari-hari berlalu tanpa kehadiran itu. Taman tetap sama pohon flamboyan, bangku kayu, dan jalan setapak yang basah oleh embun tapi terasa lebih sepi.
Di malam hari, ia sering memejamkan mata dan membayangkan suara langkah pelan mendekat, atau bayangan duduk di ujung bangku. Entah mengapa, ia merasa perempuan itu meninggalkan sesuatu bukan barang, tapi rasa.
Rasa bahwa mungkin… di dunia ini, ada orang lain yang memahami lelahnya tanpa perlu bertanya.
Dan rasa itu membuatnya bertahan.
Pagi itu, ia hampir memutuskan untuk tidak ke taman. Lelah semalam masih menggantung di kepalanya. Namun entah dorongan apa, langkahnya tetap menuntun ke arah bangku kayu itu.
Di sana, ia menemukan sesuatu yang tidak ada sebelumnya sehelai kertas terlipat rapi, terselip di sela papan bangku.
Tangan gemetar saat ia membukanya. Tulisan tangan yang rapi namun tegas terbaca:
"Tidak semua lelah harus dihapus. Ada lelah yang justru membuat kita ingat bahwa kita pernah bertahan."
Tidak ada nama. Tidak ada tanda siapa pengirimnya. Tapi ia tahu… itu dari perempuan bersweater biru.
Sejak saat itu, lelahnya berubah sedikit bentuk. Masih ada, tapi kini ada arah. Ada tanda bahwa mungkin, ia tidak sendirian di jalan sunyi ini.
Hari-hari berikutnya, ia kembali duduk di bangku taman, berharap sosok bersweater biru itu muncul lagi.
Namun bangku seberang selalu kosong.
Sampai suatu sore, hujan turun deras tanpa peringatan. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, tapi ia tetap duduk di sana, menatap jalanan basah.
Dan di sela gemuruh hujan, ia melihatnya.
Bersweater biru, payung hitam di tangan, langkahnya tenang menuju bangku itu.
Ia berdiri, setengah ragu, setengah takut.
Perempuan itu tersenyum samar, lalu berkata pelan,
"Kamu tetap datang… meski hujan?"
Air hujan dan air mata tiba-tiba bercampur di wajahnya. Ia ingin menjawab, tapi suaranya tercekat.
Perempuan itu lalu duduk di sebelahnya, menyerahkan payung, dan berbisik,
"Kalau lelahnya terlalu berat, biar aku temani sebentar."
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa… pulang.
Hari itu, hujan turun lagi.
Tempat yang sama, payung yang sama, tapi kali ini tidak ada air mata.
Mereka duduk berdampingan, memandangi jalan yang basah.
Tidak ada kata “sudah sembuh” atau “sudah bahagia,”
karena kenyataannya luka itu masih ada
hanya saja, mereka tidak lagi memikulnya sendirian.
Perempuan itu tersenyum kecil, bukan senyum sempurna,
tapi senyum yang tumbuh dari keberanian untuk tetap bertahan.
Pria itu menatapnya, menyadari bahwa lelahnya yang dulu tak berujung
akhirnya menemukan ujungnya di sini bukan karena rasa sakit hilang,
tapi karena ada tempat untuk pulang.
Mereka tahu, esok hari mungkin kembali berat.
Tapi kali ini, ada tangan yang siap digenggam saat langkah mulai goyah.
Dan di tengah suara hujan yang meredup,
mereka berdua mengerti:
kadang, akhir dari sebuah kisah lelah
bukan tentang hilangnya luka,
melainkan bertemunya dua hati
yang rela berjalan bersama melewati sisa jalan.
TAMAT