Pelarian Sementara Yang Menenangkan


"Pelarian Sementara yang Menenangkan"


Hari itu langit mendung, seperti suasana hati yang tak menentu. Kepala penuh oleh beban yang tak bisa diceritakan, dada sesak oleh hal-hal yang bahkan tak bisa dijelaskan. Rasanya seperti tenggelam dalam hiruk-pikuk dunia yang tak memberi jeda. Hingga akhirnya, satu keputusan kecil menjadi titik balik: pergi ke pantai.

Bersama kekasih  atau sahabat yang tahu diam lebih berarti daripada ribuan kata, perjalanan dimulai. Tak banyak bicara di dalam mobil. Hanya lagu-lagu lembut mengalun pelan, menyisakan ruang bagi hati untuk bernapas perlahan.

Saat tiba, suara ombak langsung menyapa. Laut terbentang luas, biru dan tak berbatas. Angin pantai menyentuh wajah seperti pelukan hangat yang lama dirindukan. Aroma garam dan pasir membaur, menciptakan kenyamanan yang tak bisa ditemukan di tempat lain.

Mereka duduk berdua di tepi pantai, membiarkan waktu mengalir perlahan. Tak ada deadline, tak ada notifikasi, tak ada tekanan. Hanya desir angin dan gelombang yang datang silih berganti. Kadang-kadang tertawa kecil karena ombak menyentuh kaki, atau hanya diam memandang horizon yang tak pernah habis.

“Tenang ya,” kata sahabat atau kekasih itu, lirih. “Kalau capek, istirahat. Kalau sedih, mari diam sama-sama. Enggak harus kuat terus.”

Kalimat sederhana itu seperti obat. Tidak menyelesaikan masalah, tapi memberi ruang untuk menerima semuanya perlahan.

Matahari perlahan turun, langit berubah jingga. Cahaya keemasan menyinari wajah mereka, membingkai momen itu seperti lukisan. Rasanya… damai. Untuk sesaat, dunia tak terasa seberat biasanya.

Pantai menjadi pelarian yang tak memaksa untuk lari. Hanya tempat untuk berhenti sejenak. Bersama seseorang yang mengerti tanpa harus dijelaskan.

Dan saat malam tiba, dengan kaki berpasir dan hati yang sedikit lebih ringan, mereka tahu: mereka akan baik-baik saja.

Malam merambat turun, perlahan-lahan menggantikan jingga dengan kelam yang bertabur bintang. Angin laut tetap setia berhembus, kini lebih dingin, tapi justru terasa menenangkan. Di kejauhan, lampu-lampu kapal nelayan berkedip pelan, seperti tanda kehidupan yang terus berjalan meski dunia tampak sunyi.

Mereka masih di sana, duduk berdampingan di atas tikar sederhana, kaki masih berlumur pasir yang belum sempat dibersihkan. Sesekali ombak datang lebih tinggi, membasahi ujung pakaian. Tapi mereka hanya tertawa kecil, tanpa tergesa.

"Lucu ya," gumamnya, "kadang kita terlalu sibuk mencari kebahagiaan di tempat yang jauh, padahal ketenangan bisa datang hanya dengan duduk di tepi laut, bersama orang yang kita percaya."

Sahabat atau kekasihnya menoleh, tersenyum samar. “Karena hati kita sering lupa, bahwa diam pun bisa menyembuhkan.”

Lalu hening kembali meraja. Tapi bukan hening yang canggung. Ini hening yang nyaman. Hening yang memberi ruang bagi luka untuk bernapas, bagi pikiran untuk pelan-pelan pulih.

Mereka mulai menggambar di pasir. Garis-garis tak beraturan, tulisan nama mereka, coretan hati yang hanya bisa dipahami oleh dua jiwa yang saling mengerti. Sesekali membahas masa lalu, rencana-rencana kecil di masa depan — tapi tidak ada tekanan. Hanya percakapan ringan yang mengalir seperti air laut, tak pernah dipaksa.

Jam tak terasa bergerak. Waktu seperti melambat, memberi mereka hadiah: momen damai yang begitu sederhana, tapi begitu berharga.

Sebelum pulang, mereka berjalan menyusuri bibir pantai. Membiarkan jejak kaki mereka tertinggal sebentar, lalu hilang ditelan ombak. Seperti kesedihan yang perlahan-lahan ikut tersapu malam.

Dan di tengah laut yang gelap, di bawah langit bertabur bintang, mereka tahu… bahwa mereka tidak sendirian. Bahwa dunia masih punya tempat yang memberi ketenangan. Bahwa pelarian kecil ke pantai malam itu bukan untuk lari dari masalah, tapi untuk belajar berdamai dengan hidup, dengan diri sendiri, dengan luka.

Malam itu, mereka pulang bukan dengan hati yang sepenuhnya sembuh. Tapi dengan hati yang lebih kuat, lebih tenang, dan lebih siap menghadapi hari esok.

Di perjalanan pulang, suara ombak masih terngiang di telinga mereka, seperti irama yang menenangkan batin. Jendela mobil sedikit terbuka, membiarkan angin laut masuk dan membawa sisa-sisa ketenangan dari pantai.

Tak banyak yang diucapkan. Tapi di antara keheningan itu, ada pemahaman. Bahwa tak semua luka harus sembuh hari ini, dan tak semua pertanyaan harus dijawab sekarang. Terkadang, cukup dengan hadir. Cukup dengan menjadi tempat bersandar, menjadi telinga yang mendengar tanpa menghakimi, menjadi mata yang memandang tanpa menuntut “Aku nggak nyangka, pantai bisa sedamai itu,” katanya pelan, menatap lampu jalan yang melintas satu per satu. “Rasanya seperti... dipeluk tanpa disentuh.”

Pasangannya  atau sahabatnya menoleh, senyum tipis di wajahnya.

“Karena laut itu jujur,” ucapnya, “ia nggak pernah pura-pura tenang. Kalau marah, ia ombak. Kalau tenang, ia peluk. Sama kayak kita. Kadang nggak harus kuat setiap waktu. Kadang... boleh kok cuma duduk dan diam.”

Mereka saling pandang sejenak, lalu kembali pada diam yang penuh makna. Tak butuh kata cinta atau janji besar. Malam itu, kebersamaan mereka cukup  lebih dari cukup. Sebab yang mereka cari bukan pelarian, tapi kehadiran. Bukan tempat untuk sembunyi, tapi tempat untuk pulih.

Saat kota mulai mendekat dan cahaya semakin terang, mereka tahu bahwa esok mungkin tidak akan langsung mudah. Masalah belum tentu selesai. Namun hati mereka kini lebih lapang.

Dan kenangan tentang malam itu  pasir di kaki, suara ombak, langit bertabur bintang, dan seseorang yang duduk di sebelah  akan selalu jadi tempat pulang dalam ingatan. Tempat mereka belajar bahwa kadang, keindahan tak datang dari sesuatu yang besar… tapi dari detik-detik sederhana yang dijalani dengan hati yang tulus.

Malam itu belum sepenuhnya larut saat mereka tiba di kota. Lampu-lampu jalan menyala redup, seperti menyambut dua jiwa yang baru saja kembali dari ruang sunyi yang menenangkan. Suasana mobil masih sepi, tapi damai. Tak perlu banyak kata. Kehadiran satu sama lain sudah cukup berbicara.

Sesampainya di rumah, mereka tak langsung berpisah. Masih ada sisa malam yang terasa sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Mereka duduk di teras. Dua gelas minuman hangat di tangan, dan sisa pasir pantai yang masih menempel di sela-sela sandal. Dari kejauhan, suara malam kota terdengar samar: deru motor, anjing menggonggong, dan angin yang sesekali menyapa ranting pohon. Tapi semua itu tak mengusik ketenangan yang mereka bawa pulang.

“Aku belum tahu ke mana langkahku besok,” gumamnya, matanya menatap langit gelap yang tak seindah langit pantai tadi.

Sahabat atau kekasihnya menoleh perlahan. “Nggak apa-apa. Kadang kita cuma perlu tahu ke mana melangkah hari ini. Besok, kita pikirkan besok.”

Ia mengangguk. Kata-kata itu sederhana, tapi menusuk pelan. Dunia tak selalu memberi ruang untuk ragu. Tapi malam itu, mereka menciptakan ruang itu sendiri ruang untuk tidak tahu arah, tapi tetap melangkah. Bersama.

Lalu, sejenak hening. Bukan hening yang canggung. Tapi hening yang memberi ruang bagi hati untuk bicara dengan tenangnya.

“Kalau aku capek nanti... boleh ke pantai lagi?” tanyanya lirih.

“Tentu,” jawab yang lain, pelan tapi pasti. “Atau kalau kamu nggak sempat ke pantai, cukup ke sini. Duduk diam, bareng aku.”

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian waktu... ia merasa aman. Bukan karena semua masalah selesai, tapi karena ia tahu, ada tempat untuk pulang  entah ke pantai, ke malam yang tenang, atau ke hati seseorang yang selalu sedia menerima.

Matahari baru saja muncul, menyembul malu-malu dari balik tirai awan tipis. Sinar hangatnya menyentuh jendela kamar perlahan, mengusir sisa gelap dari malam sebelumnya. Udara pagi itu bersih segar seakan dunia ikut bernapas lega setelah semalaman diam bersama dua hati yang saling menguatkan.

Ia membuka mata pelan. Di luar, terdengar suara burung-burung kecil saling bersahutan. Sesuatu yang biasanya tak ia perhatikan. Tapi pagi ini, berbeda. Ada kesadaran baru dalam dirinya  bahwa dunia tak sepenuhnya menekan. Ada ruang. Ada waktu. Ada jeda.

Di meja kecil dekat jendela, secangkir teh hangat sudah disiapkan. Bukan oleh pelayan, bukan oleh siapa pun tapi oleh dia, sosok yang semalam menemaninya di pantai, yang kini duduk bersila sambil membaca buku tipis, sesekali menyesap kopi.

“Pagi,” sapa orang itu tanpa menoleh, namun dengan senyum di suaranya.

Ia membalas dengan anggukan kecil, lalu duduk di sampingnya. Tak ada rasa canggung. Justru yang ada hanyalah kenyamanan yang jarang ia temukan dalam rutinitas hidup yang keras.

“Tidurmu nyenyak?” tanyanya lagi.

“Lumayan... mungkin karena ombak masih terasa di kepala,” jawabnya sambil tersenyum kecil.

Mereka tertawa pelan. Dan pagi pun mengalir seperti sungai tenang  tak deras, tak terburu-buru. Hanya dua manusia, duduk bersebelahan, membiarkan waktu melambat.

Obrolan kecil mulai tumbuh. Tentang masa kecil, tentang mimpi yang sempat terlupakan, tentang hal-hal sepele seperti makanan kesukaan atau lagu lama yang masih membuat hati bergetar. Semua mengalir tanpa beban. Seperti pantai semalam, kehadiran mereka adalah pelabuhan bukan untuk tinggal selamanya, tapi cukup untuk pulih sejenak.

“Lucu ya,” katanya tiba-tiba. “Dulu aku pikir tempat yang bisa menyembuhkan itu harus jauh, mahal, dan sepi. Tapi ternyata... bisa juga cuma sarapan bareng seseorang yang peduli.”

Sahabat  atau kekasihnya  meletakkan cangkir ke meja. Lalu menatapnya, tenang.

“Kamu nggak butuh dunia yang sempurna buat sembuh,” katanya. “Kamu cuma butuh seseorang yang mau duduk diam saat kamu belum kuat bicara.”

Dan pagi itu, dalam kesederhanaannya, terasa seperti doa yang dijawab pelan-pelan oleh semesta.

Hari-hari setelah perjalanan ke pantai berjalan lebih ringan. Tak ada perubahan besar, tapi ada yang berubah di dalam hati. Ia mulai belajar untuk tidak menekan semua luka, untuk memberi ruang pada perasaan, untuk mengizinkan dirinya rapuh tanpa merasa bersalah.

Ia kembali ke rutinitas  bekerja, beraktivitas, menyapa orang-orang, bahkan mulai tertawa kecil di sela-sela penat. Tapi di antara semua itu, ada satu hal yang terus ia nantikan: momen-momen bersama orang itu  dia yang menemaninya ke pantai, yang duduk bersamanya di teras, yang diamnya saja bisa menenangkan.

Dan hari itu, saat senja turun perlahan, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.

 "Kita bisa ketemu malam ini? Ada hal yang pengin aku omongin."

Deg.

Tak tahu kenapa, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasa. Ada firasat kecil, seperti kabut tipis yang menyelimuti cahaya hangat yang selama ini ia rasakan. Tapi ia jawab dengan sederhana.

"Tentu. Di tempat biasa?"

"Iya. Jam delapan ya."

Malam datang. Ia tiba lebih awal, duduk di bangku taman kecil dekat kafe favorit mereka  tempat yang sering jadi saksi tawa ringan, percakapan dalam, dan kadang, keheningan yang menyembuhkan.

Langit cerah malam itu. Tapi pikirannya tidak.

Tak lama kemudian, sosok itu datang. Masih dengan langkah tenang, masih dengan senyum tipis di wajah. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Sorot matanya. Cara ia menarik napas sebelum duduk.

“Terima kasih sudah datang,” katanya, membuka percakapan. Suaranya pelan, seperti takut mengganggu malam.

“Aku pasti datang,” jawabnya singkat. “Kamu kelihatan... serius.”

Senyum itu kembali, tapi hanya sebentar.

“Aku harus bilang ini sebelum terlambat,” katanya, menatap lurus ke depan, tidak langsung ke matanya. “Aku dapat tawaran kerja... di luar kota. Dan aku... mungkin harus pindah dalam waktu dekat.”

Diam.

Malam mendadak dingin. Suara daun bergesek tertiup angin terasa lebih keras dari biasanya. Ia ingin bicara, tapi lidahnya kelu.

“Maaf aku nggak cerita dari awal,” lanjutnya. “Aku juga kaget. Aku pikir kita masih punya waktu. Tapi sekarang… semuanya berubah cepat.”

Ia hanya mengangguk. Dalam hati, ada gemuruh  kecewa, takut, marah, bingung  tapi semuanya bertabrakan dalam diam. Karena bagaimana mungkin ia marah pada seseorang yang hanya sedang mengejar arah hidupnya?

“Lalu… kita?” tanyanya, nyaris seperti bisikan.

Sosok itu menoleh pelan, mata mulai basah.

“Aku nggak tahu. Tapi satu hal yang aku tahu... kamu bukan tempat singgah bagiku. Kamu rumah.”

Dan malam itu pun berubah. Bukan lagi tempat yang nyaman, tapi ruang di antara dua hati yang sedang diuji: oleh jarak, oleh waktu, oleh keputusan.

Namun anehnya… ia tidak menangis.

Karena bagian dari dirinya tahu, cinta yang tulus bukan soal siapa yang tinggal, tapi siapa yang tetap ada  dalam doa, dalam ingatan, dalam diam.

Hari-hari setelah malam itu berjalan lebih lambat. Waktu terasa enggan bergerak, seperti enggan membawa mereka semakin jauh. Namun kenyataan tetap melangkah: koper mulai dikemas, tiket sudah dipesan, dan kota baru sudah menanti di ujung peta.

Mereka bertemu sekali lagi sebelum perpisahan  di tempat yang sama, taman kecil yang jadi saksi banyak hal. Tidak ada pelukan berlebihan. Tidak ada air mata yang tumpah ruah. Hanya dua orang yang menatap satu sama lain, mencoba menyimpan semua dalam-dalam.

“Jaga dirimu, ya,” katanya, menatap wajah yang kini begitu akrab namun akan segera menjadi jauh.

“Aku akan,” jawabnya, memaksa senyum. “Dan kamu juga. Jangan lupa istirahat. Jangan lupa makan.”

Lalu hening.

Tak ada janji yang muluk. Tak ada sumpah setia yang diulang-ulang. Hanya satu genggaman tangan yang erat  lebih jujur dari ribuan kata.

Ketika ia pergi, hari-hari berubah. Tiba-tiba, kafe itu terasa sepi. Taman itu terlalu sunyi. Bahkan pantai, yang dulu terasa memeluk, kini seperti tempat yang penuh gema rindu.

Tapi mereka tetap berusaha.

Pesan singkat setiap pagi.

Panggilan video di malam hari, walau kadang hanya saling menatap tanpa banyak bicara.

Dan kiriman foto-foto kecil: langit kota baru, buku yang sedang dibaca, kopi dengan caption, “kamu pasti suka yang ini.”

Namun seiring waktu, mereka mulai tahu…

Bahwa rindu bukan hanya soal menahan jarak.

Tapi soal bertanya dalam hati:

Masihkah kita saling berjalan ke arah yang sama?

Masihkah keheningan kita terasa nyaman, meski tak lagi duduk berdampingan?

Suatu malam, saat hujan turun deras dan suara petir menggema, ia kembali ke pantai itu  sendiri.

Menatap laut, seperti dulu.

Ia menutup mata, dan membiarkan angin malam berbicara.

Dalam sunyi, ia sadar…

Cinta tak selalu harus memiliki.

Kadang, cinta adalah merelakan seseorang tumbuh di tempat yang jauh,

tapi tetap menyisakan ruang untuk pulang.

Dan jika suatu saat mereka bertemu lagi,

entah masih dengan cinta yang sama atau tidak,

mereka tahu, pernah ada satu masa,

di mana kehadiran saling menyembuhkan,

dan diam bisa menjadi pelukan paling hangat.

Dua tahun telah berlalu.

Waktu berjalan tanpa permisi. Daftar pekerjaan bertambah, jam tidur berkurang, dan kalender penuh coretan. Dunia terus menuntut, dan mereka… perlahan belajar untuk bertahan. Untuk hidup, meski tak lagi bersama.

Sesekali, rindu muncul tiba-tiba. Saat hujan turun. Saat melihat seseorang dengan gaya berjalan yang mirip. Atau saat membuka galeri lama ada foto mereka berdua, duduk di pasir pantai, tersenyum ke arah kamera dan ke arah satu sama lain.

Tapi tidak ada pesan yang dikirim. Tidak ada panggilan yang dilakukan.

Bukan karena lupa.

Tapi karena mereka sepakat untuk diam hingga waktu, jika memang masih berpihak, mempertemukan kembali.

Dan hari itu datang… tak terduga, seperti hujan di tengah musim kemarau.

Ia sedang duduk di pojok sebuah pameran seni kecil  sendirian, menatap lukisan laut yang begitu familiar. Ada warna biru kelam dan garis-garis ombak putih yang seperti menyapa kenangan.

Lalu sebuah suara menyapanya pelan dari belakang.

 “Kamu masih suka laut, ya?”

Deg.

Suara itu.

Ia berbalik. Dan di sana  berdiri seseorang yang pernah menjadi tempat pulang, yang wajahnya tak pernah benar-benar hilang dari ingatan.

Masih sama.

Tapi juga tidak sepenuhnya sama.

Mereka saling pandang. Hening, canggung, tapi juga hangat. Seperti dua buku yang pernah ditutup terburu-buru… kini dibuka kembali, pelan-pelan.

“Aku… enggak tahu kamu di sini,” katanya, berusaha mencari kata.

“Aku juga enggak sengaja datang. Temanku yang ngajak,” jawabnya.

Lalu tawa kecil, ringan tapi penuh getar. Seakan mereka sama-sama menyadari: semesta belum selesai bercerita.

Mereka berjalan keliling pameran. Berbicara tentang hal-hal kecil: pekerjaan, kota baru, kopi, buku. Tapi tak satu pun dari mereka menyebut soal "kita". Tidak ada tanya, tidak ada luka yang diungkit.

Sampai mereka berdiri lagi di depan lukisan laut itu.

Ia menoleh dan berkata,

 “Waktu itu… aku sempat balik ke pantai. Sendiri.”

Orang di sampingnya tersenyum, perlahan.

 “Aku juga. Tapi cuma sebentar. Rasanya terlalu banyak kenangan.”

Lalu diam. Tapi tidak lama.

 “Masih ada ruang?”

“Untuk apa?”

“Untukku. Di hidupmu. Meskipun bukan sebagai orang yang sama.”

Pertanyaan itu menggantung, seperti embun di ujung daun. Ragu, tapi tulus.

Ia menarik napas, lama. Menatap mata yang pernah membuatnya merasa tenang tanpa alasan.

 “Mungkin… bukan tentang ruang. Tapi tentang arah.”

“Kamu ke mana sekarang?”

“Entahlah. Tapi kalau kamu mau… kita bisa jalan bareng sebentar. Nggak harus buru-buru tahu tujuan.”

Dan senyum itu pun kembali muncul. Kali ini tanpa luka. Tanpa harap yang dipaksakan. Hanya dua orang yang saling menemukan kembali… dan mungkin, perlahan, membangun jalan pulang yang baru.

Mereka mulai lagi  bukan dari awal, tapi dari tempat terakhir mereka berdiri.

Bukan sebagai sepasang kekasih yang lama tak bertemu, bukan juga dua orang asing.

Tapi dua jiwa yang saling mengenal, lalu terpisah, dan kini… mencoba berjalan berdampingan kembali.

Tanpa janji. Tanpa label. Tanpa target. Hanya kebersamaan yang sederhana.

Mereka tidak buru-buru.

Tidak setiap hari mengirim pesan. Tidak memaksakan pertemuan. Tapi saat ada waktu, mereka bertemu. Ngopi di sudut kota. Menonton film tanpa banyak bicara. Duduk di taman yang pernah jadi saksi jeda.

Hari-hari itu dipenuhi keheningan yang hangat.

Mereka sudah bukan orang yang sama seperti dulu.

Tapi justru karena itu, mereka kini belajar melihat dengan mata baru.

“Aku dulu terlalu takut kehilangan,” katanya suatu hari. “Sampai lupa, bahwa orang yang dipaksa untuk tetap tinggal… bisa merasa terpenjara.”

Dia hanya tersenyum. “Dan aku dulu terlalu sibuk mencari arah, sampai lupa caranya diam.”

Mereka tertawa. Tidak getir. Tapi menerima.

Karena nyatanya, waktu memang mengubah banyak hal  termasuk cara mereka mencintai.

Dulu cinta mereka seperti ombak: kuat, emosional, sering kali tak terkendali.

Sekarang, cinta itu lebih seperti pasir hangat: tenang, sabar, dan setia menunggu di tempat yang sama.

Lalu, suatu sore, mereka memutuskan kembali ke pantai.

Bukan untuk mengenang. Tapi untuk menguji: apakah tempat itu masih terasa seperti rumah, atau hanya menjadi museum dari masa lalu?

Langit sore memerah lembut, angin laut menyambut mereka seperti sahabat lama.

Mereka berjalan tanpa sepatu, membiarkan pasir menyentuh kulit seperti dulu.

Lalu duduk berdampingan, tanpa kata.

“Dulu di sini… kita banyak diam,” katanya pelan.

“Iya,” jawabnya, “karena diam lebih jujur dari apapun.”

Ia menatap laut yang terus bergelombang, seperti hatinya  tapi kali ini tanpa takut.

Lalu dengan suara nyaris berbisik, ia berkata:

 “Kalau kamu masih ingin jalan bareng,

aku nggak janji akan selalu kuat,

tapi aku janji... nggak akan lari saat kamu butuh diam.”

Orang di sampingnya menoleh, tersenyum tipis, lalu menjawab:

 “Dan aku... nggak akan memaksa arah.

Kita pelan-pelan saja. Karena pulang nggak harus cepat.

Yang penting, saling tunggu.”

Mereka saling pandang. Tak ada pelukan, tak ada kata cinta meledak-ledak.

Tapi di antara pasir, laut, dan langit yang merah jingga,

dua hati yang pernah lelah itu tahu 

mereka tidak sedang jatuh cinta lagi.

Mereka sedang tumbuh dalam cinta yang baru.

Hari-hari mereka kini tidak dramatis.

Tidak ada kejutan besar, tidak ada pesan panjang penuh emosi di tengah malam.

Tapi ada hal-hal kecil yang tumbuh pelan-pelan:

Sapaan pagi yang sederhana.

Obrolan lepas tanpa tekanan.

Tawa ringan saat hal-hal sepele terasa menyenangkan.

Mereka tidak lagi saling menuntut untuk selalu hadir setiap saat.

Karena keduanya paham: menjadi tempat pulang bukan soal intensitas, tapi ketulusan.

Kadang mereka bertemu seminggu sekali. Kadang dua minggu tak bertemu.

Tapi saat duduk berdampingan, waktu terasa tidak pernah benar-benar memisahkan.

Mereka tetap ke pantai sesekali.

Bukan untuk bernostalgia, tapi untuk membiarkan diam berbicara.

Membiarkan laut mengingatkan: bahwa gelombang pun bisa tenang jika diberi ruang.

Pada suatu malam yang hening, mereka kembali duduk di teras.

Teh hangat. Musik pelan.

Dan bintang-bintang yang tak banyak, tapi cukup untuk membuat malam terasa penuh.

“Aku suka kita yang sekarang,” katanya tiba-tiba.

Dia menoleh. “Kenapa?”

“Karena kita nggak lagi saling mengejar,  saling menunggu.”

Mereka saling pandang.

Dan di balik kesederhanaan malam itu, ada makna yang jauh lebih dalam:

Cinta sejati bukan tentang selalu bersama, tapi tentang tetap memilih satu sama lain meski dunia menawarkan banyak jalan.

Mereka tidak tahu ke mana takdir akan membawa.

Apakah nanti akan benar-benar hidup bersama, atau tetap berjalan berdampingan sampai ujung waktu.

Tapi yang mereka tahu, untuk hari ini  dan mungkin untuk banyak hari setelahnya 

mereka sudah menemukan rumah.

Bukan dalam bentuk atap dan dinding.

Tapi dalam bentuk hati yang bisa diam bersama tanpa harus menjelaskan apa-apa



TAMAT









Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa