Rasa Yang Mati

"Rasa yang Mati"


Tia duduk di tepi ranjang, memandang kosong ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka. Dari luar, terdengar suara suaminya, Ardi, berbicara di telepon dengan nada tinggi. Ia sudah hafal nada itu keras, dingin, dan selalu menyakitkan hati.

Dulu, setiap kali mendengar suaranya, hati Tia berdebar. Ada rasa kagum, ada rasa bangga. Tapi kini, setiap kata yang keluar dari mulut Ardi hanyalah pengingat luka-luka lama yang belum sembuh.

Bukan sekali dua kali Tia mencoba bertahan. Ia pikir, pernikahan memang butuh perjuangan. Ia pikir, setiap pasangan pasti punya badai yang harus dilewati. Namun badai itu tidak pernah mereda. Ardi terlalu sering berjanji untuk berubah, tapi tak pernah benar-benar melakukannya.

Tia pernah menangis, marah, bahkan berteriak namun lama-kelamaan ia hanya diam. Diam karena lelah. Diam karena tak lagi berharap.

Yang tersisa hanyalah tubuhnya di rumah itu, sementara hatinya sudah lama pergi.

Malam itu, saat Ardi masuk kamar tanpa menyapa, Tia sadar... perasaan hormatnya pada laki-laki itu sudah mati. Tidak ada lagi kagum, tidak ada lagi percaya, tidak ada lagi cinta. Yang ada hanyalah ruang kosong yang dingin.

Ia bukan lagi Tia yang dulu perempuan yang mudah memaafkan dan selalu memberi kesempatan. Kini ia hanyalah seseorang yang hidup berdampingan, tapi hatinya sudah berjalan sendirian.

Dan di dalam hatinya, ia berbisik pada diri sendiri:

"Mungkin ini bukan rumahku lagi… hanya tempat singgah sampai aku berani pergi."

Beberapa minggu berlalu, Tia menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia menyiapkan sarapan, mencuci pakaian, membersihkan rumah semua dilakukan tanpa rasa. Bukan karena ia ingin melayani Ardi, tapi karena sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri.

Suatu sore, hujan turun deras. Tia duduk di ruang tamu sambil memandangi tetesan air di jendela. Ardi pulang dalam keadaan marah-marah karena macet. Sepatu dilempar sembarangan, jaket digeletakkan di kursi.

“Kenapa nggak nyiapin makan malam? Aku capek, tahu!” bentak Ardi.

Tia menatapnya tanpa ekspresi. Dulu, hatinya pasti bergetar, takut. Kini, ia hanya merasa asing. Seakan laki-laki di depannya bukan lagi suaminya, melainkan orang yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.

“Mas… aku cuma pengin nanya,” suara Tia tenang, “apa Mas masih lihat aku sebagai istri, atau cuma pembantu di rumah ini?”

Ardi terdiam, lalu menatapnya dengan mata yang penuh ego. “Jangan mulai drama, Tia. Semua ini demi kita. Aku kerja keras, kamu tinggal di rumah. Harusnya kamu bersyukur.”

Kata bersyukur itu menancap di hati Tia seperti pisau. Ia sudah lama tidak merasakan kebahagiaan, tapi diminta untuk terus bersyukur.

Malam itu, saat Ardi tertidur, Tia duduk di meja makan sendirian. Ia menulis sesuatu di secarik kertas:

 "Aku pernah mencintaimu dengan sepenuh hati. Aku pernah menghormatimu melebihi siapa pun. Tapi rasa itu mati karena terlalu sering kau kecewakan. Aku pergi bukan karena membenci, tapi karena aku ingin kembali menghargai diriku sendiri."

Keesokan paginya, Tia meninggalkan rumah itu dengan membawa satu koper kecil. Tidak ada teriakan, tidak ada air mata. Hanya langkah ringan dari seorang perempuan yang akhirnya memilih kebebasan daripada bertahan di dalam sangkar yang tak lagi ia sebut rumah.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama… Tia merasa hidup kembali.

Kilasan Awal

Dulu, Tia menikah dengan Ardi penuh keyakinan. Ia jatuh cinta pada caranya berbicara, caranya melindungi, dan janji-janjinya yang terdengar meyakinkan. Ardi pernah berkata, “Aku akan selalu jaga kamu. Nggak akan pernah bikin kamu kecewa.”


Awal pernikahan memang indah. Mereka tertawa bersama, makan malam berdua, dan bermimpi punya rumah kecil dengan taman bunga di belakang. Tapi semua itu hanya bertahan sebentar.


Perubahan Ardi dimulai ketika pekerjaannya mulai sibuk. Jam pulangnya semakin larut, nada bicaranya semakin singkat, dan senyumnya jarang sekali muncul. Tia mencoba memahami, berpikir bahwa tekanan kerja membuatnya berubah.

Namun perlahan, masalahnya bukan sekadar pekerjaan. Ardi mulai sering berbohong tentang lembur yang ternyata nongkrong dengan teman-temannya, tentang uang yang entah kemana perginya, dan tentang janji-janji kecil yang tidak pernah ditepati.

Rasa yang Terkikis

Setiap kali Tia mengutarakan kecewa, Ardi menanggapinya dengan kalimat yang selalu sama, “Kamu terlalu sensitif. Aku kan cuma manusia.”

Lama-kelamaan, Tia merasa tidak dihargai. Ia mulai membungkam isi hatinya, karena setiap kali bicara, yang ia dapat hanyalah debat tanpa akhir.

Puncaknya terjadi pada ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Tia menunggu di rumah dengan meja makan penuh makanan kesukaan Ardi. Ia ingin membuat momen hangat seperti dulu. Namun Ardi pulang lewat tengah malam dengan aroma alkohol dan wajah lelah yang tak menyisakan sedikit pun antusiasme.

Tanpa rasa bersalah, ia hanya berkata, “Maaf lupa. Banyak urusan.”

Di situlah hati Tia retak untuk terakhir kalinya.

Hari Keputusan

Saat Tia memutuskan pergi, ia tidak menangis. Bahkan saat mengemasi barang-barangnya, hatinya justru terasa ringan. Ia sadar, yang berat selama ini bukan barang yang ia bawa, tapi beban batin yang ia pikul.

Ketika pintu rumah tertutup di belakangnya, Tia menghirup udara pagi yang segar.

Ia berjanji pada dirinya sendiri: “Mulai hari ini, aku akan belajar mencintai diriku lagi. Aku akan mencari rumah di mana hatiku juga bisa pulang.”

Dan untuk pertama kalinya, senyum itu kembali ke wajahnya.

Tiga bulan setelah meninggalkan rumah itu, Tia mulai membangun kehidupannya dari nol. Ia menyewa kamar kecil di lantai dua sebuah rumah kos sederhana. Tidak mewah, tapi di sanalah ia merasakan ketenangan yang sudah lama hilang.

Pagi-pagi, Tia membuka jendela dan membiarkan cahaya matahari masuk. Tidak ada teriakan, tidak ada suara bentakan. Hanya suara burung dan langkah kaki orang yang lewat di bawah.

Tia mulai bekerja di sebuah toko bunga milik sahabat lamanya, Rani. Awalnya ia ragu, takut tidak sanggup memulai lagi. Tapi setiap merangkai bunga, ia merasa seperti sedang menyusun kembali serpihan hatinya sendiri. Warna-warna bunga itu mengajarkannya bahwa hidup selalu punya ruang untuk keindahan, meski hati pernah hancur.

Suatu sore, saat sedang menata mawar putih di etalase, Rani berkata pelan,

“Tia… kamu kelihatan lebih hidup sekarang. Dulu matamu selalu kosong, tapi sekarang ada cahaya lagi.”

Tia tersenyum, kali ini tulus. “Aku belajar satu hal, Ran… kadang kita harus berani kehilangan orang yang kita sayang demi menemukan diri kita sendiri.”

Ia tidak lagi sibuk mencari siapa yang akan mengisi hatinya. Bagi Tia, saat ini ia hanya ingin memastikan hatinya tidak lagi kosong karena kecewa. Cinta akan datang lagi nanti entah dari orang baru, atau dari hidup itu sendiri.

Dan di malam yang tenang itu, di kamar kecilnya, Tia menulis di buku catatan:

 “Rumah bukan sekadar bangunan tempat kita tinggal. Rumah adalah tempat hati kita merasa pulang. Hari ini, aku menemukan rumah itu… di dalam diriku sendiri.”

Tia menutup buku, mematikan lampu, dan tidur dengan damai tanpa takut akan hari esok.

Hari itu, Tia memutuskan pulang sebentar untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal. Ardi sedang duduk di ruang tamu, menonton televisi sambil memainkan ponselnya. Saat melihat Tia masuk, ia menatap sekilas lalu berkata,

“Kamu pulang juga. Udah puas ngambek?”

Tia meletakkan kunci di meja, menatapnya dengan tatapan yang dingin namun tenang.

“Aku nggak ngambek, Mas. Aku pergi… karena aku lelah.”

Ardi menghela napas kesal. “Lelah? Semua orang juga lelah. Kamu pikir aku nggak capek cari uang?”

“Capek cari uang itu beda, Mas… sama capek dihancurin hati setiap hari,” jawab Tia pelan tapi tegas.

Ardi diam sejenak, lalu berdiri mendekat. “Jadi, semua ini salah aku? Kamu nggak ingat aku pernah berjuang buat kita?”

Tia menatap matanya dalam-dalam. “Aku ingat, Mas. Tapi aku juga ingat semua janji yang nggak pernah ditepati. Semua kata-kata yang berubah jadi luka. Aku kehilangan rasa hormat sama Mas… dan itu nggak bisa dipaksa balik lagi.”

Suasana menjadi hening. Hanya suara televisi yang masih menyala, kontras dengan dinginnya udara di antara mereka.

“Jadi kamu bener-bener mau pergi?” tanya Ardi, suaranya terdengar getir untuk pertama kalinya.

Tia mengangguk. “Aku nggak pergi karena benci… aku pergi karena mau nyelametin sisa diriku yang masih utuh. Kalau aku terus di sini, aku takut aku bakal benci Mas… dan aku nggak mau sampai ke titik itu.”

Tanpa menunggu jawaban, Tia mengambil tasnya. Langkahnya mantap, tidak lagi ragu. Saat pintu tertutup di belakangnya, Ardi berdiri mematung baru menyadari bahwa kali ini, Tia benar-benar tidak akan kembali.

Malam itu hujan turun tanpa henti, membasahi seluruh kota. Tia duduk di meja makan yang penuh dengan hidangan hangat. Ia sudah menyiapkan semuanya sejak sore sup ayam kesukaan Ardi, sambal terasi buatan sendiri, dan teh hangat yang masih beruap.

Hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Tia berharap, meski hubungan mereka sudah hambar, momen ini bisa jadi awal baru. Ia ingin mencoba lagi, meski hatinya sudah lelah berkali-kali.

Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam. Makanan di meja sudah dingin, lilin kecil yang ia nyalakan sejak pukul 7 sudah habis. Teleponnya berdering sebentar, pesan singkat masuk:

“Pulang nanti. Lembur.”

Tia tersenyum pahit. Ia ingin percaya, tapi instingnya berkata lain. Dan benar saja, pukul 1 dini hari, Ardi pulang dengan langkah gontai, aroma alkohol menyengat dari tubuhnya. Matanya merah, senyum tipisnya bukan senyum yang Tia kenal.

“Maaf… lupa. Banyak urusan,” ucapnya singkat sebelum langsung menuju kamar tanpa menoleh ke meja makan yang penuh hidangan.

Tia berdiri mematung, memandangi kursi yang kosong di seberang meja. Saat itu, ia merasakan sesuatu di dalam dirinya patah… patah untuk terakhir kalinya.

Bukan karena Ardi tidak datang, tapi karena ia sadar ia tidak lagi berarti di mata suaminya.

Malam itu, Tia tidak menangis. Ia hanya duduk lama di kursi, memandang sisa lilin yang padam, lalu menghela napas panjang.

Di dalam hati, ia berkata pada dirinya sendiri:

“Cukup. Aku tidak mau mengemis perhatian dari seseorang yang sudah tidak peduli. Aku harus pergi… sebelum aku hancur sepenuhnya.”

Keesokan paginya, saat matahari baru terbit, Tia mengemasi pakaian dan beberapa barang penting. Ia menulis sepucuk surat singkat di meja:

 “Mas, aku pergi. Bukan karena aku benci, tapi karena aku ingin kembali menghargai diriku sendiri. Jaga dirimu… meski tanpa aku.”

Tanpa menoleh ke belakang, Tia meninggalkan rumah itu.

Di luar, udara pagi terasa berbeda dingin tapi menenangkan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa bebas.

Tiga bulan setelah meninggalkan rumah itu, Tia mulai terbiasa dengan hidupnya yang sederhana namun tenang. Ia menyewa kamar kos di pinggir kota, dengan jendela kecil yang menghadap ke pohon mangga tetangga.

Pagi-pagi ia berjalan kaki ke toko bunga milik sahabatnya, Rani. Di sana, ia merangkai bunga dengan hati yang perlahan sembuh. Warna-warna mawar, lili, dan tulip membuatnya ingat bahwa hidup selalu punya ruang untuk keindahan.

Suatu sore, saat sedang menyapu lantai toko, Rani berkata,

“Tia… kamu kelihatan beda. Lebih ringan, lebih hidup.”

Tia tersenyum kecil. “Aku nggak tahu bisa merasa senang lagi, Ran. Ternyata… bahagia itu kadang cuma butuh jauh dari orang yang bikin kita hancur.”

Hari itu, Tia pikir hidupnya akan terus tenang seperti ini. Sampai suatu pagi, ia menerima pesan singkat dari Ardi:

 “Kita bisa ketemu sebentar? Aku cuma mau ngobrol.”

Awalnya Tia ragu, tapi akhirnya ia setuju. Mereka bertemu di sebuah kafe yang dulu sering mereka kunjungi. Saat Tia datang, Ardi sudah duduk di sudut ruangan, terlihat lebih kurus dari terakhir kali ia lihat.

“Tia…” suara Ardi pelan, ada sedikit gugup di dalamnya. “Kamu bener-bener nggak mau balik?”

Tia menatapnya, kali ini tanpa marah, tanpa rindu. “Mas… waktu aku pergi, aku bawa semua kecewa yang Mas kasih. Aku pikir… mungkin kalau kita ketemu lagi, aku bisa lihat alasan untuk kembali. Tapi yang aku rasain sekarang cuma… damai. Dan aku nggak mau kehilangan rasa ini.”

Ardi menunduk, jemarinya mengetuk pelan meja. “Aku nyesel, Tia.”

“Aku tahu, Mas,” jawab Tia lembut, “tapi penyesalan nggak selalu cukup untuk memperbaiki sesuatu yang sudah hancur.”

Mereka terdiam lama. Tak ada air mata, tak ada teriakan. Hanya dua orang yang dulu saling mencintai, kini duduk sebagai dua dunia yang berbeda.

Saat Tia berdiri untuk pergi, ia tersenyum tipis. “Jaga diri, Mas. Aku juga akan jaga diriku.”

Keluar dari kafe itu, Tia berjalan di bawah sinar matahari pagi. Tidak ada lagi beban di pundaknya, hanya langkah ringan menuju hidup yang ia pilih sendiri.

Dan di hatinya, ia tahu… rumah yang ia cari selama ini, ternyata ada di dalam dirinya sendiri.

Tiga bulan setelah meninggalkan rumah itu, Tia sudah benar-benar memulai hidup baru. Ia tinggal di kamar kos sederhana di lantai dua sebuah rumah tua, dengan jendela kecil menghadap pepohonan. Tidak ada perabot mewah, hanya ranjang, meja, dan lemari kecil. Tapi di sanalah ia merasa tenang sesuatu yang tak pernah ia dapatkan di rumah lamanya.

Pagi hari, ia berjalan kaki ke toko bunga milik sahabatnya, Rani. Pekerjaan itu sederhana: menyiram bunga, merangkai buket, dan menjaga toko. Tapi bagi Tia, itu seperti terapi. Setiap kelopak bunga yang ia sentuh seolah merapikan luka-luka di hatinya.

Suatu sore, Rani memperhatikannya sambil tersenyum.

“Kamu kelihatan lebih hidup, Ti. Matamu nggak kosong lagi,” katanya.

Tia tersenyum, menatap rangkaian mawar merah di tangannya. “Mungkin karena sekarang aku bebas, Ran. Bebas dari rasa takut, bebas dari kecewa.”

Hari-hari berlalu dengan damai… sampai suatu pagi, teleponnya berdering. Nama yang muncul di layar membuat dadanya terasa berat.

Ardi.

Dengan ragu, ia mengangkatnya.

“Tia… kita bisa ketemu sebentar? Aku cuma mau bicara,” suara di ujung sana terdengar lebih pelan dari biasanya.

Tia terdiam sesaat, lalu menjawab singkat, “Baik.”

Mereka bertemu di sebuah kafe kecil yang dulu sering mereka datangi. Saat Tia masuk, Ardi sudah menunggunya di sudut ruangan. Ia tampak lebih kurus, matanya lelah.

“Tia…” Ardi membuka pembicaraan. “Kamu bener-bener nggak mau pulang?”

Tia menatapnya, kali ini tanpa kemarahan, tanpa kerinduan. “Mas… aku pergi bukan karena nggak cinta. Aku pergi karena aku nggak bisa lagi menghargai Mas seperti dulu. Dan kalau rasa hormat itu hilang… aku nggak bisa memaksanya kembali.”

Ardi menunduk. “Aku nyesel, Tia. Aku… bodoh.”

Tia tersenyum tipis. “Aku tahu, Mas. Tapi penyesalan nggak selalu cukup buat memperbaiki yang sudah rusak.”

Hening sejenak. Tak ada air mata, tak ada teriakan. Hanya dua orang yang pernah saling mencintai, kini duduk di meja yang sama namun hatinya di dunia yang berbeda.

Saat Tia berdiri, Ardi hanya bisa menatapnya. “Jaga diri kamu, Ti…”

Tia membalas dengan senyum kecil. “Mas juga.”

Keluar dari kafe itu, Tia melangkah di bawah sinar matahari pagi. Tidak ada beban di pundaknya, hanya rasa lega. Ia tahu, kali ini ia benar-benar sudah merdeka.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa… pulang bukan ke rumah, tapi ke dirinya sendiri.

Setelah pertemuan terakhir dengan Ardi, Tia tidak lagi menoleh ke masa lalu. Ia tidak menunggu pesan, tidak menunggu kabar, tidak menunggu perubahan.

Ia memilih untuk berjalan ke depan.

Tahun berikutnya, hidup Tia berkembang pelan-pelan. Ia mulai belajar kursus merangkai bunga secara profesional, lalu membuka toko kecil di dekat pasar. Tokonya sederhana, tapi selalu dipenuhi aroma segar bunga yang membuat siapa pun yang lewat ingin berhenti sejenak.

Setiap pagi, ia menyambut matahari dengan senyum. Bukan karena semua masalah hidupnya hilang, tapi karena ia sudah berdamai dengan dirinya sendiri.

Suatu kali, saat sedang merapikan rak bunga, seorang pelanggan bertanya,

“Mbak Tia, kalau bunga ini buat apa?”

Tia tersenyum, menatap mawar putih di tangannya.

“Bunga ini… buat mengingatkan kita, kalau setelah musim dingin yang panjang, selalu ada musim yang baru.”

Di dalam hatinya, Tia tahu, musim dinginnya sudah berakhir.

Rumah yang selama ini ia cari, ternyata bukan tempat, bukan orang…

Rumah itu adalah dirinya sendiri—tempat di mana ia akhirnya bisa pulang dengan hati yang utuh.

Dan kali ini, Tia berjanji… ia tidak akan pernah meninggalkannya lagi.


Tamat.

Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa