"Kepercayaan Yang Terkoyak

"Kepercayaan yang Terkoyak"


Namanya Aruna, seorang wanita sederhana yang selalu percaya bahwa kebaikan akan selalu menemukan jalannya. Ia dibesarkan dalam keluarga yang tampak harmonis, dikelilingi oleh saudara-saudara yang selalu tersenyum di hadapannya. Ia punya sahabat karib sejak kecil dan juga kekasih hati yang telah ia perjuangkan bertahun-tahun. Hidupnya tampak utuh, sampai akhirnya satu per satu topeng itu terlepas.

Semua dimulai saat ia mengetahui bahwa saudaranya sendiri diam-diam menjual warisan peninggalan almarhum ayah tanpa sepengetahuannya, padahal itu adalah satu-satunya kenangan berharga yang ingin ia jaga. Aruna diam, bukan karena takut, tapi karena sakit. Sakit karena dikhianati oleh darah dagingnya sendiri.

Belum sembuh luka itu, sahabat terdekatnya menyebarkan cerita pribadi yang pernah ia ceritakan dalam tangis. Rahasia yang ia jaga rapat-rapat demi menjaga nama baik keluarganya, justru dijadikan bahan obrolan di belakang. Saat Aruna bertanya, sahabatnya hanya berkata, “Maaf, aku cuma cerita sedikit. Lagipula mereka sudah tahu dari orang lain.”

Dan yang paling menghancurkan… adalah kekasihnya. Lelaki yang telah ia percayai akan menjadi suaminya, ternyata menjalani hubungan lain di belakangnya selama ini. Bukan karena tidak cinta, katanya, tapi karena tak yakin Aruna bisa membahagiakannya kelak. Kata-kata itu menusuk lebih tajam dari pisau.

Hari-hari berlalu, dan Aruna mulai menutup diri. Ia menjadi asing di tengah orang-orang yang dulu ia peluk dengan kasih. Ia mulai berpura-pura bahagia, menebar senyum palsu di tengah luka yang ia pendam dalam diam. Berpura-pura baik itu melelahkan. Tapi bagi Aruna, itu satu-satunya cara bertahan tanpa harus membenci.

“Kepercayaan bukan sekadar memberi kesempatan kedua. Tapi soal hati yang telah patah dan tak tahu lagi bagaimana harus mempercayai dunia.”

Kini, Aruna lebih memilih kesendirian. Ia tidak membenci, tidak pula menyimpan dendam. Ia hanya belajar, bahwa tidak semua orang yang terlihat baik, benar-benar tulus. Dan tidak semua senyuman datang dari hati yang bersih.

Tapi jauh di lubuk hatinya, ia masih percaya… suatu saat nanti, akan datang seseorang yang tidak memakai topeng. Yang tidak akan membuatnya lelah berpura-pura kuat. Dan hari itu, ia akan kembali percaya.

Hari-hari Aruna kini sunyi. Ia tidak lagi rajin membuka pesan, tak lagi aktif di grup keluarga, tak ada lagi kopi sore bersama sahabat, atau tawa ceria saat bersama sang kekasih. Semuanya telah berubah. Tapi perubahan ini membuatnya lebih banyak berdialog dengan dirinya sendiri.

Di balik dinding kamarnya, Aruna berbicara dengan cermin.

"Kenapa aku selalu menjadi orang yang percaya penuh? Kenapa harus aku yang dibohongi, padahal aku tak pernah berbuat jahat?"

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggema. Bukan ingin mencari jawaban, tapi karena ia sendiri belum mampu menerima kenyataan.

Suatu malam, ia berjalan kaki menyusuri taman kecil di dekat rumah. Hujan rintik menyapa, dan langkahnya melambat. Ia duduk di bangku yang basah, membiarkan dingin menyentuh kulitnya. Lalu, ia menangis. Bukan karena lemah, tapi karena terlalu lama menahan segalanya sendiri.

 “Mereka tak tahu, berpura-pura baik itu bukan hal mudah.”

“Aku tersenyum, padahal hancur. Aku bilang gak apa-apa, padahal sangat sakit.”

Di momen itu, seorang perempuan tua duduk di sampingnya. Tanpa bertanya, tanpa basa-basi, ia hanya berkata pelan:

“Kadang, orang baik diuji dengan kehilangan kepercayaan, bukan untuk membuatnya keras… tapi agar ia belajar memilih kepada siapa ia layak percaya

“Aruna tertegun. Tak kenal siapa perempuan itu, tapi kata-katanya menampar lembut hatinya.

Sejak malam itu, Aruna mulai mengubah pandangannya. Ia tidak lagi mencari jawaban kenapa dikhianati. Ia berhenti menyalahkan siapa pun. Ia memilih memaafkan dalam diam, bukan untuk membenarkan mereka, tapi agar ia bisa hidup dengan lebih ringan.

Ia mulai menulis di buku kecilnya:

"Aku tidak lagi percaya pada mereka, tapi aku masih bisa percaya pada diriku sendiri. Dan mungkin, suatu hari, aku akan bertemu orang yang bisa membuatku percaya lagi."

Buku itu jadi teman setia Aruna. Ia menulis tentang kecewa, tentang luka, dan tentang harapan baru. Sampai suatu hari, tulisannya dibaca oleh seorang editor majalah. Tanpa diduga, kisahnya dimuat, dan dari sanalah ia mulai bertemu banyak orang yang pernah merasakan hal serupa.

Bukan… Aruna belum sepenuhnya sembuh. Tapi ia tahu satu hal:

"Aku patah, tapi tidak hancur. Aku kecewa, tapi masih punya harapan."

Dan itu cukup.

Beberapa bulan berlalu. Aruna perlahan mulai menjalani hari dengan lebih tenang. Ia menulis rutin di blog kecil yang dibacanya hanya oleh segelintir orang. Tapi entah bagaimana, tulisan-tulisannya yang jujur, penuh luka dan keikhlasan, menyentuh banyak hati. Komentar demi komentar masuk: dari perempuan yang diselingkuhi, dari pemuda yang dikhianati sahabat, dari ibu rumah tangga yang dikhianati keluarga.

Aruna merasa tidak sendiri.

Hingga suatu hari, ia mendapat undangan dari komunitas penulis untuk hadir dalam diskusi kecil di kota sebelah. Awalnya ia ragu, tapi setelah mempertimbangkan, ia pun berangkat. Ia ingin keluar dari ruang sempit kesedihan yang selama ini membelenggunya.

Di sana, ia bertemu seseorang Reyhan. Pria tenang, kalem, dengan mata yang dalam dan senyum sederhana. Reyhan adalah penulis puisi yang juga pernah mengalami patah kepercayaan dari sahabat dan pasangannya. Mereka tidak langsung akrab, tapi saling memahami tanpa banyak kata.

Suatu malam setelah sesi diskusi selesai, mereka duduk di kafe kecil, berbagi cerita.

 “Aku kehilangan kepercayaan, tapi aku gak kehilangan kemampuanku untuk mencintai,” kata Reyhan pelan.

Aruna menatapnya lama.

“Aku kehilangan kepercayaan... dan kupikir, aku juga kehilangan diriku sendiri.”

Reyhan hanya tersenyum.

“Kalau kamu masih bisa bilang itu, artinya kamu belum benar-benar hilang. Kamu hanya tersesat. Tapi kamu masih di sini, bernafas, dan menulis. Itu tandanya kamu sedang kembali pulang ke dirimu sendiri.”

Percakapan itu seperti tetesan air di tengah gurun yang panas. Tidak langsung menyembuhkan, tapi menumbuhkan harapan.

Setelah pertemuan itu, mereka sering berkabar. Bukan hubungan yang terburu-buru. Tidak ada janji-janji indah. Hanya dua orang yang sama-sama belajar untuk percaya kembali… pelan-pelan.

Namun hidup tak semudah itu.

Suatu malam, Aruna menerima pesan dari nomor tak dikenal. Ternyata... kekasih lamanya kembali. Membawa kata-kata penyesalan. Mengaku rindu. Meminta kesempatan kedua.

Hatinya terguncang. Luka lama yang sudah mulai kering kembali terbuka. Ia duduk lama di depan ponselnya. Jari-jari bergetar, kepala panas, tapi hati dingin.

Akhirnya ia hanya membalas:

 “Aku sudah memaafkanmu. Tapi memaafkan bukan berarti kembali. Kamu bagian dari masa lalu yang tak perlu lagi kuperjuangkan.”

Dan saat ia menekan tombol kirim, ia tahu:

Aruna telah benar-benar selesai dengan masa lalunya.

Kini, ia tak lagi mengharap siapa pun untuk menyembuhkannya. Karena ia telah berdamai dengan luka. Dan ketika ia sudah siap, cinta yang baru tak akan datang dengan topeng tapi dengan hati yang tulus.

Setelah semua yang terjadi, Aruna bukan lagi perempuan yang sama. Ia bukan lagi sosok yang mudah percaya, tapi juga bukan perempuan yang sinis terhadap dunia. Ia telah tumbuh menjadi sosok yang lebih bijak dalam memaknai luka dan hubungan.

Pertemuannya dengan Reyhan menjadi pintu menuju banyak hal baru. Mereka tidak buru-buru menjalin cinta. Tidak ada status, tidak ada paksaan. Hanya dua jiwa yang berjalan berdampingan, saling menjaga jarak aman, sambil terus tumbuh.

Aruna mulai kembali aktif menulis. Ia tidak hanya curhat, tapi mulai membuat karya tulis yang menyentuh tentang penyembuhan, kepercayaan, dan harapan. Ia mengunggahnya di media sosial, blog, dan komunitas. Responsnya luar biasa. Banyak orang yang tersentuh dan mengaku terbantu.

Dari situlah lahir ide besar:

 Komunitas "Pelan-Pelan Pulih".

Bersama Reyhan, Aruna membentuk komunitas ini sebagai ruang aman bagi siapa pun yang sedang mengalami kehilangan, pengkhianatan, atau krisis kepercayaan. Tidak ada syarat, tidak ada penghakiman. Hanya tempat untuk bercerita, saling menyembuhkan, dan tumbuh bersama.

Setiap minggu mereka mengadakan pertemuan. Aruna mengisi sesi berbagi kisah, Reyhan membacakan puisi. Kadang ada tangis, kadang ada tawa. Tapi satu hal yang selalu ada: kejujuran dan ketulusan.

Satu Tahun Kemudian

Hari itu, langit cerah. Aruna berdiri di depan cermin, mengenakan kebaya sederhana. Wajahnya bersinar tenang. Bukan karena makeup, tapi karena hatinya yang damai. Hari ini adalah hari yang dulu tak pernah ia bayangkan akan terjadi...

Hari pernikahannya.

Bukan dengan seseorang yang membuatnya ragu, tapi dengan Reyhan pria yang tidak pernah menjanjikan dunia, tapi selalu hadir tanpa topeng.

Sebelum melangkah ke pelaminan, Aruna menulis satu paragraf terakhir dalam buku harian yang dulu menjadi tempat ia menyimpan semua luka:

 “Kepercayaan memang bisa hancur, tapi bukan berarti tak bisa dibangun kembali. Aku belajar bahwa tak semua orang akan menyakitimu. Kadang, setelah badai yang panjang, Tuhan akan menghadirkan seseorang yang cukup sabar untuk menunggu hatimu sembuh… lalu berjalan bersamamu, bukan mendahuluimu.”

Aruna tak lagi berpura-pura kuat. Ia sungguh kuat.

Bukan karena tak pernah jatuh, tapi karena ia selalu memilih untuk bangkit… dan memaafkan.

Pernikahan bukan akhir cerita. Justru bagi Aruna, itulah awal dari perjalanan yang lebih besar. Setelah menikah dengan Reyhan, hidup mereka tidak penuh drama seperti masa lalunya. Tapi itu bukan berarti tanpa tantangan.

Mereka hidup sederhana.

Rumah kecil di pinggiran kota, dikelilingi tanaman yang Aruna rawat sendiri. Reyhan masih menulis, kadang menerima tawaran puisi untuk musikalisasi. Aruna mengajar kelas menulis online sambil tetap mengelola komunitas Pelan-Pelan Pulih.

Namun, suatu ketika, luka lama itu kembali muncul… bukan karena masa lalu, tapi karena rasa takut kehilangan yang tertanam begitu dalam di diri Aruna.

Rasa Takut yang Tertinggal

Pernah suatu malam, Reyhan pulang lebih larut dari biasanya. Ponselnya mati. Aruna diam, tapi di dalam dadanya bergemuruh. Ia duduk menatap pintu, matanya menatap kosong, pikirannya melayang ke masa lalu…

 "Bagaimana kalau dia juga mulai menyembunyikan sesuatu?"

"Bagaimana kalau dia seperti yang dulu-dulu?"

Begitu Reyhan tiba, ia melihat mata istrinya sedikit sembab, tapi senyumnya tetap terjaga. Reyhan tahu, Aruna sedang melawan monster di dalam kepalanya bukan dia, tapi luka yang belum benar-benar sembuh.

Reyhan mendekat, menggenggam tangan Aruna.

 “Aku tahu kamu masih takut. Aku tidak akan memaksamu percaya penuh. Tapi aku akan tetap di sini. Setiap hari. Menunggu sampai kamu siap… bahkan kalau itu butuh seumur hidup.”

Kata-kata itu membuat Aruna menangis. Bukan karena sedih, tapi karena akhirnya ia sadar:

 Tak semua orang akan menghukummu karena luka masa lalu. Ada yang bersedia menemanimu menyembuhkannya.

Membangun, Bukan Mengulang

Aruna tidak sembuh dalam semalam. Tapi ia terus belajar untuk berdamai. Ia tidak lagi berusaha menjadi perempuan yang selalu terlihat kuat. Ia terbuka pada Reyhan saat pikirannya mulai diracuni ketakutan. Dan Reyhan pun terbuka padanya ketika lelah menghampiri.

Mereka saling jujur. Saling menenangkan. Saling memperbaiki, bukan menyakiti.

Komunitas Pelan-Pelan Pulih juga makin berkembang. Banyak yang mulai berani terbuka. Aruna diundang ke berbagai kota untuk berbagi kisahnya. Bukan sebagai motivator, tapi sebagai manusia biasa yang pernah patah dan memutuskan untuk tetap berjalan.

Lalu… Apa Akhirnya?

Hidup Aruna tidak berakhir dengan satu kata: “bahagia”. Tapi berubah menjadi kalimat panjang:

 “Aku pernah hancur, tapi aku memilih untuk tidak tinggal di reruntuhannya.”

Dan itu lebih dari cukup.

Tiga tahun berlalu sejak pernikahan Aruna dan Reyhan. Waktu mengajarkan banyak hal tentang sabar, tentang menerima, dan tentang merawat kepercayaan yang tumbuh pelan-pelan.

Hari ini, Aruna berdiri di depan ratusan orang di sebuah auditorium. Ia bukan lagi perempuan yang bicara dengan suara gemetar. Di tangannya ada mikrofon, di belakangnya layar bertuliskan:

 “Luka Tak Membunuh, Tapi Mengajarkan Cara Bertahan”

Ia membuka seminar komunitas Pelan-Pelan Pulih, yang kini telah memiliki puluhan cabang di berbagai kota. Setiap kota memiliki kisah. Setiap peserta membawa kepedihan masing-masing dan Aruna hadir sebagai seseorang yang pernah di posisi mereka. Ia tidak menggurui. Ia hanya berkata jujur:

 “Saya pernah kehilangan semuanya keluarga, teman, cinta, dan terutama… kepercayaan. Saya pikir hidup saya berakhir saat itu. Tapi ternyata, itu adalah titik awal saya benar-benar mengenal diri saya sendiri.”

“Kalau kalian hari ini masih takut percaya, tidak apa-apa. Tidak semua orang bisa langsung sembuh. Tapi yang penting, kalian di sini… artinya kalian tidak menyerah.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan. Tapi Aruna tak menangis. Ia hanya menatap sejenak langit-langit aula, seolah berkata pada dirinya yang dulu:

 “Lihat, kita sampai juga.”

Di Rumah

Malam harinya, di rumah sederhana yang kini mulai terasa hangat oleh waktu dan kenangan, Reyhan menyeduh teh. Di pangkuannya duduk seorang anak perempuan kecil berusia 2 tahun Aluna, hadiah terindah dalam hidup mereka.

Aruna memandangi mereka dari pintu dapur. Tak ada kata yang bisa menggambarkan damai di hatinya. Dulu, ia begitu takut mempercayai siapa pun. Kini, ia justru menjadi tempat orang lain menaruh kepercayaannya.

 Ia telah menjadi pelita bukan karena ia tak pernah padam, tapi karena ia terus memilih menyala meski pernah dipadamkan.

Catatan Terakhir di Buku Harian Aruna:

“Aku pernah patah, hancur, dikhianati. Tapi hidup memberiku kesempatan untuk melihat bahwa kepercayaan yang retak pun bisa kembali utuh jika dirawat dengan kejujuran, kesabaran, dan cinta yang tulus. Terima kasih untuk luka, karena tanpamu… aku takkan jadi aku yang hari ini.”


TAMAT 








Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa