Putri Kecil yang Tak Pernah Menyerah

Bagian 1 – Rumah Kecil di Ujung Gang

Di sebuah ujung gang kecil yang tidak semua orang tahu, berdiri sebuah rumah sederhana yang cat temboknya mulai memudar. Di terasnya yang sempit, terdapat kursi plastik biru yang warnanya sudah pudar, namun tetap setia menjadi tempat ayah Anggun beristirahat sepulang kerja. Di sanalah sebuah keluarga kecil menjalani hidupnya keluarga yang mungkin tampak biasa saja bagi orang lain, tetapi memiliki kisah luar biasa yang jarang diketahui siapa pun.

Putri kecil bernama Anggun tinggal di rumah itu. Usianya baru menginjak sepuluh tahun, namun keteguhan hatinya jauh melampaui anak-anak seumurannya. Matanya jernih, rambutnya selalu diikat dua, dan senyumnya hampir selalu hadir meski keadaan hidupnya jauh dari kata mudah. Ia lahir dalam keluarga sederhana: ayahnya seorang tukang bangunan, ibunya seorang buruh cuci baju yang bekerja dari rumah ke rumah.

Pagi itu, seperti biasa, matahari baru saja naik ketika Ayah bersiap berangkat. Suara gesekan sendal jepitnya terdengar jelas di lantai semen yang dingin. Di tangan kirinya ada kotak makan berisi nasi dan sambal sederhana buatan ibu. Sedangkan tangan kanannya membawa helm butut yang sudah lama tidak diganti.

“Yah, hari ini pulangnya cepat, ya?” tanya Anggun sambil memandang ayahnya yang memakai sepatu lusuh.

Ayah menatapnya sambil tersenyum lemah. “Ayah usahakan, Nak. Kalau kerjaannya nggak sampai malam.”

Di balik senyumnya, Anggun tahu ayahnya sangat lelah. Setiap hari ayah harus mengangkat semen, mengaduk pasir, memasang bata, bahkan kadang bekerja di bawah panas terik tanpa tempat berteduh. Tapi ayahnya tidak pernah mengeluh. Tidak di depan anak-anaknya, apalagi di depan istrinya. Ayah selalu mengatakan, “Lelah itu biasa. Yang penting keluarga bisa makan.”

Sementara itu, ibu sudah mulai menyiapkan ember berisi pakaian yang harus dicuci hari itu. Ada pakaian milik Bu Marsih, milik Pak Darto, dan beberapa keluarga lain di sekitar kampung. Pekerjaan itu memang berat, tetapi ibu selalu mengerjakannya sepenuh hati. Tangannya yang dulu halus kini menjadi kasar karena sabun dan air sabun yang digunakan setiap hari. Namun, jika ditanya apakah ia lelah, ibu hanya akan menggeleng dan berkata, “Yang penting halal.”

Anggun duduk di kursi plastik biru sambil menatap ibu. Ada sesuatu yang mengganggu hatinya selama beberapa hari terakhir. Ia sering melihat ibunya memegangi pinggang, seolah ada rasa sakit yang tidak hilang-hilang.

“Bu, sini deh. Anggun pijitin,” katanya sambil menghampiri.

Ibu terkekeh, meski wajahnya tetap menunjukkan rasa lelah. “Anak kecil kok mijitin orang tua.”

“Boleh dong… Anggun kan sudah besar,” jawabnya bangga.

Ibu akhirnya duduk dan membiarkan Anggun memijat pinggangnya pelan. Gerakan anak kecil itu tidak begitu kuat, tapi penuh dengan kasih. Ibu memejamkan mata beberapa detik, menikmati perhatian kecil dari putrinya.

“Bu…” kata Anggun pelan. “Kalau Ibu capek, bilang ya.”

Ibu membuka mata, menatap Anggun dengan lirih. “Ibu capek itu biasa, Nak. Yang penting kamu dan Kakak-kakakmu bisa sekolah.”

Ucapan sederhana itu selalu menancap dalam hati Anggun. Baginya, ibunya adalah sosok paling kuat yang pernah ia kenal. Meskipun hidup serba pas-pasan, ibunya selalu memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi semampunya.

Tak lama kemudian, suara adzan Dzuhur terdengar dari masjid kecil di ujung gang. Anggun bergegas mengambil tas sekolahnya. Ia baru saja pulang, dan kini waktunya membantu sedikit pekerjaan rumah sebelum bersiap menjual kue sore nanti.

Awal Dari Sebuah Tekad

Anggun bukan anak yang suka merengek. Sejak kecil, ia sudah belajar mandiri. Tetapi satu hal yang tidak pernah hilang dari dirinya adalah keinginannya untuk membantu orang tuanya. Dalam hatinya, ada sebuah rasa yang tidak bisa dijelaskan: rasa ingin membalas seluruh kerja keras ayah dan ibunya.

Sore itu, ketika matahari perlahan mulai turun, Anggun mendekati ibunya yang sedang membuat adonan kue cucur. Tepung dicampur dengan gula merah cair, lalu diaduk hingga rata.

“Bu, Anggun boleh bantu bikin kue?” tanyanya pelan.

Ibu meliriknya. “Kenapa mau bantu? Capek habis sekolah?”

“Enggak. Anggun kuat.”

Anak kecil itu menunjukkan otot kecil di lengannya sambil tertawa.

Ibu akhirnya tersenyum. “Ya sudah, bantu Ibu aduk.”

Anggun mengambil alat pengaduk kayu dan mulai mengaduk adonan dengan serius. Meskipun gerakannya masih kurang stabil, ia tampak bersungguh-sungguh. Dari adonan hingga memasukkan kue ke dalam wajan minyak panas, ia memperhatikan semua prosesnya dengan penuh minat.

Saat kue matang, aroma manis langsung memenuhi dapur kecil mereka. Kue cucur itu berwarna coklat keemasan, dan meski bentuknya tidak selalu sempurna, rasanya tetap lezat.

“Ibu…” Anggun menatap kue-kue itu sambil tersenyum bangga. “Nanti Anggun yang jual ya?”

Ibu terdiam sejenak. “Jual? Kamu mau jualan keliling? Bukannya capek?”

Anggun menggeleng cepat. “Nggak capek, Bu. Anggun mau bantu. Biar bisa bantu beli beras.”

Mendengar itu, hati ibu langsung sesak. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Ia merengkuh bahu Anggun dan memeluknya erat.

“Anggun… kamu itu masih kecil. Nggak usah mikirin yang berat-berat.”

“Tapi Anggun sayang Ibu. Sayang Ayah juga.”

Ibu menahan air mata yang hampir jatuh. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa putri kecilnya akan memiliki tekad sebesar itu.

“Kalau begitu… ya sudah. Tapi janji?” kata ibu sambil mengangkat wajah Anggun.

“Janji apa?”

“Jangan tinggalkan sekolah. Jangan berhenti belajar.”

Anggun mengangguk kuat-kuat. “Anggun janji.”


Dan itulah hari pertama ketika seorang putri kecil bernama Anggun memilih untuk menjadi lebih kuat dari dirinya sendiri. Hari itu menjadi awal tekad yang membuatnya berbeda dari anak-anak seusianya.

Kampung Tempat Semua Orang Saling Mengenal

Sore berikutnya, Anggun memulai petualangan kecilnya. Dengan sepeda kecil berwarna merah yang sudah mulai karatan, ia menggantungkan sebuah wadah plastik besar berisi kue cucur, kue talam, dan onde-onde buatan ibunya. Mengenakan sandal jepit dan kaos bergambar karakter kartun, ia siap keliling komplek.

Saat pedal pertama diinjak, wajahnya penuh keyakinan. Jalan di kompleknya tidak rata, beberapa bagian berlubang, namun ia tetap mengayuh dengan semangat.

“Assalamualaikum! Ada kue sore! Baru mateng!”

Suara kecilnya menggema di gang-gang kampung.

Warga kampung yang sudah mengenalnya sering tersenyum ketika melihat Anggun lewat. Mereka tahu keluarganya hidup pas-pasan. Mereka tahu ayahnya bekerja keras. Mereka tahu ibunya mencuci pakaian untuk banyak rumah. Dan sekarang, mereka tahu putri kecil itu berkeliling mencari rezeki dengan cara paling jujur yang bisa dilakukan anak kecil.

“Anggun, sini. Tante beli dua,” kata Bu Sulastri sambil meraih dompet.

Anggun berhenti, tersenyum lebar. “Ini, Bu. Tadi baru mateng. Masih hangat.”

“Wah, pinter banget kamu jualan begini,” puji Bu Sulastri sambil menepuk bahu Anggun.

Anggun hanya menunduk malu. “Buat bantu Ibu aja, Bu.”

Dari satu rumah ke rumah lainnya, Anggun terus menawarkan kue. Kadang ia pulang dengan wadah kosong menjual semuanya. Kadang hanya laku sebagian. Kadang bahkan tidak laku banyak ketika hujan turun atau warga sedang sibuk.

Tapi satu hal yang tidak pernah berubah: ia tidak pernah mengeluh.

Bagi Anggun, menjajakan kue bukan tugas. Bukan beban. Tapi bentuk cinta.

Ketika ia pulang ke rumah membawa uang kecil hasil dagangannya, ia akan menyerahkannya pada ibu sambil berkata,

“Nih, Bu. Buat besok.”

Ibu selalu terharu. Ayah pun selalu bangga. Tetapi jauh di dalam hati, mereka juga merasa sedih karena anak kecil mereka harus merasakan beratnya hidup terlalu cepat.

Bagian 2 – Angin Sore, Kaki Kecil, dan Mimpi Besar

Hari-hari Anggun menjadi lebih sibuk sejak ia mulai berjualan kue. Ia bangun lebih pagi, membantu menyiapkan adonan, lalu pergi ke sekolah. Sepulang sekolah, ia membantu ibu di dapur, kemudian mulai berkeliling komplek dengan sepeda kecilnya. Meski tubuhnya kecil, semangatnya selalu besar setiap kali pedal sepeda itu berputar.

Ketika sebagian anak seusianya menghabiskan sore dengan bermain kejar-kejaran atau menonton kartun, Anggun memilih menghabiskannya dengan berjualan kue. Ia tidak pernah merasa dipaksa. Justru, ada kebahagiaan tersendiri setiap kali ia berhasil menjual kue dan melihat wajah ibu sedikit lebih lega.

Namun perjalanan itu tentu tidak selalu mulus. Ada hari-hari ketika cuaca hujan dan kue tidak laku banyak. Ada hari-hari ketika ia diminta pulang cepat karena pekerjaan rumah sekolah menumpuk. Ada juga hari-hari ketika tubuhnya lelah setelah pelajaran olahraga di sekolah, tetapi ia tetap mengambil sepeda dan pergi berjualan karena merasa sudah memiliki tanggung jawab sendiri.

Hari Hujan yang Menguji Tekad

Suatu sore, awan gelap menggantung rendah. Angin dingin berhembus pelan. Menandakan hujan sebentar lagi akan turun. Ibu memandang langit sambil bergumam pelan.

“Kayaknya hujan, Gun. Hari ini nggak usah jualan, ya?”

Anggun menatap wajah ibunya. Ia tahu betul beberapa hari terakhir ayah tidak mendapat proyek bangunan karena cuaca yang buruk. Pendapatan keluarga menurun. Dan ia tahu ibunya masih harus membayar utang kecil di warung.

“Biar Anggun coba dulu, Bu,” jawabnya pelan.

“Tapi nanti kebasahan…”

“Anggun bawa jas hujan, Bu. Kalau hujan banget, Anggun pulang.”

Ibu ingin melarang. Tapi ia juga tahu bahwa menghalangi niat baik anaknya justru akan menambah beban di hati. Akhirnya ia menghela napas dan hanya mengangguk.

“Ya sudah. Tapi hati-hati, Nak.”

Dengan jas hujan kecil berwarna kuning yang kebesaran, Anggun mulai berkeliling komplek. Suara rantai sepeda berdecit tiap kali ia mengayuh. Meski langit mendung, wajahnya tetap ceria.

“Assalamualaikum! Ada kue sore!”

Beberapa warga keluar untuk melihat. Ada yang membeli dua, ada yang membeli satu. Beberapa hanya tersenyum sambil berkata, “Nanti aja ya, Dik. Hujan nih.”

Ketika Anggun berada di tengah komplek, hujan mulai turun. Rintiknya kecil, lalu membesar. Anggun mempercepat kayuhan sepedanya. Tapi bukan untuk pulang.

Ia justru berhenti di sebuah warung depan gang yang teduh.

Di sana, ia mengeluarkan kotak kuenya dan menatanya rapi. Hujan tidak menghalanginya untuk tetap menawarkan dagangannya.

“Bu, beli kuenya satu, ya,” katanya pada pemilik warung.

Pemilik warung yang dikenal ramah langsung tersenyum. “Ih, kamu ini. Udah hujan begini masih juga jualan? Kasihan, basah-basahan.”

“Nggak apa-apa, Bu. Anggun kuat,” jawabnya sambil tertawa kecil.

Beberapa orang yang berteduh di warung itu akhirnya ikut membeli. Mereka terharu melihat keteguhan gadis kecil itu. Bahkan seorang bapak yang sedang menunggu hujan reda membeli lima sekaligus.

“Buat semangat kamu, ya, Dek,” katanya.

Anggun tersenyum lebar. Hatinya hangat meski tubuhnya dingin.

Hujan deras terus mengguyur. Setelah seluruh kue terjual, Anggun segera bergegas pulang. Sepedanya berjalan pelan karena jalanan licin.

Ketika ia sampai di depan rumah, ibu sudah berdiri menunggu dengan wajah cemas.

“Ya Allah, basah semua kamu!” ibu langsung menariknya masuk.

Anggun hanya tersenyum sambil menggenggam uang hasil jualan. “Laku semua, Bu…”

Ibu tidak tahu harus senang atau sedih. Melihat putrinya berjuang seperti itu membuat hatinya perih, tetapi juga bangga. Ia memeluk Anggun erat, membiarkan air mata yang ditahannya jatuh diam-diam.

Ayah, Pahlawan yang Jarang Mengeluh

Ayah adalah sosok yang jarang berbicara banyak. Ia lebih banyak diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Namun cinta dan perjuangannya tidak pernah berkurang.

Setiap pagi, ayah berangkat sebelum matahari terbit. Mengayuh motor tuanya yang sering mogok, membawa peralatan bangunan di belakang. Kadang ia mendapat proyek besar, kadang kecil, kadang sama sekali tidak ada. Pendapatan yang tidak menentu membuat kehidupannya tidak pernah stabil.

Namun meski lelahnya luar biasa, ayah selalu mencoba pulang dengan tersenyum.

Suatu malam, Anggun mendengar ayah dan ibu berbicara dengan suara rendah di ruang depan.

“Pak, uang buat bayar listrik tinggal sedikit. Besok jatuh tempo.”

Ayah diam sejenak. “Iya... Ayah tadi cuma dibayar setengah. Proyeknya berhenti dulu soalnya bahan bangunan telat datang.”

Ibu mengangguk, wajahnya muram. “Kalau gitu besok Ibu tambahin dari hasil cucian.”

Ayah menghela napas panjang. Nada pasrah terdengar dalam suaranya.

Sementara di balik pintu, Anggun berdiri memegangi dadanya sendiri. Ia bukan belum pernah melihat orang tuanya kesulitan. Tapi mendengar hal itu langsung membuat hatinya terasa sesak. Ia ingin sekali masuk dan berkata, “Anggun bisa bantu kok, Bu…”, tapi ia tahu orang tuanya akan melarang.

Sejak malam itu, tekadnya semakin kuat.

Ia berjanji pada dirinya sendiri:

Ia akan berjualan lebih rajin. Ia akan membantu sebisanya. Ia tidak mau melihat ibu dan ayah terus terbebani.

Keesokan harinya, ia bangun lebih pagi dari biasanya. Membantu ibu menyiapkan kue, lalu pergi sekolah dengan semangat baru.

Hari Ketika Langkahnya Hampir Terhenti

Ada sebuah hari yang menjadi salah satu ujian terbesar bagi Anggun.

Sore itu, setelah berjualan di blok A dan blok B, ia menuju blok C yang terkenal lebih sepi. Penduduknya jarang keluar rumah, sehingga sering kali kue tidak laku banyak di sana. Namun Anggun tetap mencoba.

Ketika ia melewati tikungan, tiba-tiba roda depan sepedanya masuk ke lubang jalan yang cukup dalam.

Brak!

Tubuh Anggun terpental ke depan, jatuh ke tanah bersama kotak kuenya. Tangannya terluka, lututnya tergores, dan beberapa kue berjatuhan ke tanah yang kotor.

Ia terdiam. Ada rasa perih di lututnya. Ada rasa panas di mata. Ada rasa sesak di dada.

Untuk pertama kalinya, ia hampir menangis.

Bukan karena jatuh.

Bukan karena sakit.

Tapi karena pikirannya langsung melayang ke wajah ibu dan ayah.

Bagaimana jika kue tidak laku?

Bagaimana jika pendapatan hari itu tidak ada?

Bagaimana jika ibu kecewa?

Ia duduk di pinggir jalan, menahan tangis sambil membersihkan kue yang masih bisa dipisahkan dari tanah. Namun ada beberapa yang tidak bisa diselamatkan lagi.

Hatinya hancur.

“Sakit ya, Dik?”

Tiba-tiba suara seorang ibu terdengar dari balik pagar. Bu Narti, tetangga lama yang sedang menyapu halaman, melihat kejadian itu. Ia segera menghampiri.

“Ya Allah, lututnya berdarah…”

Anggun buru-buru berdiri. “Nggak apa-apa, Bu… Anggun nggak sakit.”

Padahal suaranya bergetar menahan tangis.

Bu Narti lalu melihat kue-kue yang jatuh. Ia langsung menghela napas panjang, kemudian berdiri dan berkata, “Ayo sini. Biar Tante bantu.”

Ia mengantar Anggun ke rumahnya, membersihkan lukanya, menempelkan obat merah, lalu berkata:

“Kamu ini anak kecil, tapi hatinya besar sekali.”

Anggun menunduk, menahan air mata yang masih menggenang. “Anggun cuma mau bantu Ibu…”

Tiba-tiba, Bu Narti memeluknya erat.

“Dik… kamu itu sudah melakukan lebih dari cukup. Ibu kamu pasti bangga, Nak.”

Setelah luka selesai diobati, Bu Narti membeli sisa kue yang masih ada semuanya dengan harga lebih dari biasanya.

“Bilang ke Ibu kamu, ini rezeki hari ini,” katanya sambil menepuk bahu Anggun.

Anggun tersenyum, matanya berbinar. Bukan karena uangnya. Tapi karena kebaikan hati seseorang membuatnya kembali kuat.

Dengan langkah pelan, ia pulang. Kali ini lebih hati-hati. Tapi semangatnya tidak padam.

Malam Ketika Ibu Menangis Diam-Diam

Ketika Anggun pulang dan memberikan uang hasil jualannya, ibu langsung tertegun.

“M-Mana kuenya? Habisss?” tanya ibu tak percaya.

Anggun mengangguk. “Iya, Bu. Ada yang beli banyak.”

Ibu tersenyum.

Tapi ketika Anggun mandi, ibu duduk di ruang tengah sambil menahan isak. Bukan karena sedih. Tapi karena bangga dan terharu pada putri kecilnya yang begitu kuat meski hidup dalam kekurangan.

Ayah yang baru pulang kerja melihat istrinya menangis.

“Ada apa?” tanya ayah.

Ibu mengusap air mata. “Anak kita, Pak… Hebat sekali. Dia jualan meski hujan, meski jatuh. Aku… aku sedih dia harus ngerasain beratnya hidup.”

Ayah terdiam lama, lalu memegang tangan istrinya.

“Justru itu, Bu. Anak kita akan tumbuh jadi orang hebat. Lihat saja nanti.”

Ibu hanya mengangguk sambil menghela napas panjang.

Dan di kamar mandi kecil, Anggun mandi sambil memandang luka di lututnya. Rasa sakit masih ada. Tapi rasa di hatinya jauh lebih kuat.

Ia berbisik pada dirinya sendiri:

“Besok harus lebih semangat… Besok Anggun harus lebih kuat…”

Bagian 3 – Cahaya Kecil di Balik Gelapnya Kesulitan

Waktu berjalan cepat. Hari demi hari, Anggun semakin terbiasa dengan rutinitasnya sekolah di pagi hari, membantu ibu siang hari, dan berjualan kue menjelang sore. Meski tubuhnya kecil, ia selalu terlihat kuat dan penuh tekad. Seolah Tuhan memberikan kekuatan ekstra untuk putri kecil itu.

Namun sebenarnya, tidak semua orang tahu apa yang sering ia rasakan diam-diam. Ada kalanya ia merasa lelah sampai kaki bergetar. Ada kalanya ia ingin bermain seperti anak-anak lain. Ada kalanya ia ingin tidur lebih lama. Tetapi setiap kali ia melihat wajah ibu yang letih atau ayah yang pulang dengan baju penuh debu, semangatnya kembali menyala.

Baginya, menyenangkan hati orang tua jauh lebih penting daripada apa pun.

Sekolah: Tempat Ia Berlari dan Menahan Air Mata

Anggun merupakan murid yang rajin. Ia tidak pernah terlambat, selalu mengerjakan PR, dan dikenal sopan oleh semua guru. Tetapi ada satu hal yang tidak diketahui banyak orang: sepatu hitamnya sudah bolong di bagian ujung.

Ia menutupi bagian yang bolong itu dengan cara sederhana menghitamkan kulitnya dengan spidol agar tidak terlihat jelas. Setiap kali hujan turun dan air masuk, ia hanya menahan dingin.

Suatu hari di sekolah, guru Bahasa Indonesia mengumumkan bahwa akan ada lomba menulis cerita pendek.

“Hadiah untuk juara pertama akan mendapat alat tulis lengkap dan buku,” kata gurunya.

Mata Anggun langsung berbinar. Ia memang gemar menulis. Di rumah, ia sering mencoret-coret buku bekas kakaknya, menuliskan cerita tentang mimpinya, tentang keluarganya, dan tentang masa depan yang ia inginkan.

Saat teman-temannya bersorak, Anggun menunduk sambil membayangkan sesuatu.

Kalau menang, Anggun bisa dapat buku tulis baru untuk sekolah.

Ibu nggak perlu beli lagi…

Malamnya, setelah semua kue terjual dan ia selesai membersihkan piring, ia duduk di lantai dekat lampu remang-remang ruang tengah. Sepasang buku catatan tipis ia buka, dan ia mulai menulis.

Judul cerpennya:

“Cahaya di Gang Kecil”

Ia menulis tentang seorang anak yang berjuang membantu orang tuanya, tentang keluarga miskin tapi saling menyayangi, tentang rumah kecil yang penuh harapan meski diliputi banyak kekurangan. Tetapi tentu saja ia tidak menuliskan namanya. Ia hanya menulis sebagai “anak perempuan kecil”.

Saat ibu lewat dan melihatnya menulis, ibu bertanya pelan, “Tugas sekolah?

Anggun mengangguk. “Iya, Bu.”

Ia tidak bilang bahwa itu lomba. Ia tidak ingin orang tuanya berharap terlalu banyak.

Hari Yang Tak Terduga di Sekolah

Seminggu kemudian, guru mengumumkan pemenang lomba menulis cerita. Semua siswa berkumpul. Hati Anggun berdegup cepat, tetapi ia menahan diri agar tidak terlihat terlalu berharap.

“Juara pertama adalah… cerita berjudul Cahaya di Gang Kecil.”

Semua murid bertepuk tangan.

“Penulisnya adalah… Anggun!”

Anggun terpaku. Ia sampai bingung apakah telinganya salah dengar.

Teman-temannya menoleh ke arahnya sambil tersenyum.

Guru memanggil namanya sekali lagi.

“Anggun, ke depan ya.”

Dengan langkah pelan dan jantung yang berdetak tak karuan, ia maju. Guru memberikan hadiah berupa satu set alat tulis, beberapa buku tulis baru, dan sebuah buku cerita anak. Hadiah sederhana, tapi bagi Anggun, itu rasanya seperti menerima emas.

“Ceritamu sangat menyentuh, Anggun,” kata guru.

“Bu guru menangis waktu baca.”

Anggun menunduk, wajahnya memerah. “Terima kasih, Bu.”

Saat ia duduk kembali, ia membuka sedikit plastik hadiah itu. Melihat buku-buku baru, ia menahan air mata. Ia membayangkan wajah ibu yang pasti senang ketika melihatnya pulang membawa barang-barang itu.

Reaksi Ibu dan Ayah

Ketika pulang sore itu, Anggun masuk ke rumah dengan langkah cepat.

“Bu! Lihat ini!”

Ia meletakkan alat tulis dan buku-buku baru di meja. Ibu yang sedang menjemur pakaian basah berhenti seketika.

“Ya Allah… ini dari mana, Nak?”

“Anggun menang lomba cerita, Bu,” katanya sambil tersenyum lebar. “Dikasih hadiah buku sama alat tulis.”

Ibu mendekat dan memeluknya erat.

“Anggun… pinter banget, Nak. Ibu bangga sama kamu.”

Ayat yang baru pulang kerja kemudian ikut menghampiri. Bajunya masih penuh debu. Wajahnya lelah. Tapi ketika melihat hadiah itu, ia tersenyum besar senyuman yang jarang muncul.

“Coba sini Ayah lihat,” katanya sambil membuka kotak alat tulis.

“Wah… lengkap banget ini. Kapan lagi ya Ayah bisa beliin kamu yang kayak gini…”

Anggun memeluk pinggang ayahnya.

“Anggun nggak mau dibeliin. Anggun mau bantu Ayah terus.”

Ayah mengelus kepala putrinya.

“Bukan kamu yang bantu Ayah, tapi kamu yang jadi kekuatan Ayah.”

Semakin Banyak Orang Mengenal Semangatnya

Waktu terus berjalan, dan semangat Anggun menyebar seperti kabar baik di kampung kecil itu. Semakin banyak orang yang membeli kue, bukan hanya karena enak, tapi karena ingin mendukung gadis kecil yang luar biasa ini.

Tetapi Anggun tidak pernah merasa dirinya hebat. Ia merasa justru orang-oranglah yang baik padanya.

Suatu sore, ketika ia sedang berhenti di tikungan untuk menawarkan kue, seorang ibu muda keluar dari rumah membawa sebuah tas kecil.

“Anggun, sini sebentar,” panggil ibu itu.

Anggun menghampiri dengan cepat.

“Saya punya baju sekolah anak saya yang sudah kecil. Masih bagus. Mau buat kamu?”

Anggun terdiam. Bingung. “Buat… Anggun, Bu?”

“Iya. Sayang kalau dibuang. Kamu kan seumuran anak saya dulu.”

Anggun menatap baju-baju itu. Ada dua pasang seragam, beberapa kaos kaki, dan satu sweater kecil berwarna pink.

Ia menggigit bibir bawahnya. “Terima kasih banyak, Bu…”

“Ah, jangan nangis dong,” kata ibu itu sambil menepuk bahu kecil Anggun.

Anggun menggeleng. Tapi matanya berkaca-kaca. Ia tidak menangis sedih. Ia menangis karena kebaikan orang selalu datang ketika keluarganya hampir kehabisan harapan.

Satu Hari Ketika Ayah Jatuh Sakit

Namun sebagaimana hidup selalu berjalan naik turun, kebahagiaan tidak selamanya bertahan. Suatu hari, ayah jatuh sakit. Ia terkena demam tinggi dan batuk berat setelah bekerja di proyek yang penuh debu.

Ayah tidak bisa bekerja selama seminggu.

Pendapatan keluarga mendadak nol.

Ibu berusaha bekerja dua kali lebih keras, menerima cucian dari empat rumah tambahan agar dapur tetap bisa berasap. Namun pekerjaan itu sangat berat. Tangannya semakin kasar, punggungnya semakin sakit, tetapi ia tidak pernah berhenti.

Anggun memperhatikan semua itu dari dekat.

Ia semakin ingin membantu.

Ia semakin yakin bahwa dirinya harus menjadi cahaya kecil bagi keluarganya.

Malam itu, ketika ayah tertidur dan ibu menyetrika pakaian, Anggun duduk di samping ibunya.

“Bu…” katanya pelan.

“Hm?”

“Besok Anggun jualan lebih lama ya. Boleh?”

Ibu menatapnya tajam. “Kamu itu anak kecil. Capek nanti.”

Anggun menggeleng cepat. “Anggun kuat, Bu.”

Ibu menghela napas. “Ibu tahu kamu kuat. Tapi Ibu nggak mau kamu merasa hidup ini terlalu berat buat kamu.”

Anggun memegang tangan ibunya. Tangannya mungil, tetapi hangat.

“Ibu selalu bilang ‘yang penting halal’. Nah… ini cara Anggun bantu yang halal.”

Ibu tidak bisa menahan air mata. Ia memeluk putrinya erat.

“Ya Allah, kenapa kamu bisa seteguh ini, Nak…”

Hari di Mana Anggun Menjadi Kebanggaan Banyak Orang

Keesokan harinya, Anggun berjualan lebih lama. Ia bahkan berkeliling dua kali dalam satu sore. Ia pulang dalam keadaan kelelahan, tapi wajahnya bahagia. Ia menyerahkan hasil jualan pada ibu sambil berkata.

“Buat beli obat Ayah.”

Ibu tidak bisa menjawab. Ia hanya menelan tangis dan memeluk Anggun, membiarkan air matanya jatuh di bahu putri kecil itu.

Ayah yang melihat dari kejauhan hanya bisa menutup wajahnya. Bukan karena malu, tapi karena tak tahu harus bangga seperti apa.

Dalam hatinya ia berkata:

“Anak kecil ini yang membuat Ayah bertahan…”

Bagian 4 — Luka yang Dipendam Anggun

Hari-hari berikutnya berjalan tidak jauh berbeda bagi Anggun. Setiap pagi, sebelum jam masuk sekolah, ia sudah membantu ibunya menyapu halaman, menjemur pakaian cucian pelanggan, atau sekadar menata ember-ember besar yang dipakai ibunya untuk mencuci.

Kadang Anggun merasa kasihan pada ibunya. Tangan ibunya mulai keriput sebelum waktunya, kuku-kuku jarinya retak karena terlalu sering terendam sabun. Namun ibunya selalu berkata dengan senyum paling tabah yang pernah Anggun lihat:

“Kalau ibu berhenti, kita makan apa, Nak? Gak apa-apa capek, yang penting kamu tetap sekolah.”

Kalimat itu seperti paku yang menancap jauh di hati Anggun. Ia ingin menjawab, “Biar aku aja yang kerja, Bu.” Tapi ia tahu ibunya tak akan mengizinkan itu. Jadi, tanpa banyak bicara, ia memilih melakukan apa yang ia bisa berjualan kue sepulang sekolah, membantu ayah dan ibu, bahkan diam-diam menyisihkan uang jajannya sendiri yang sebenarnya sangat minim.

Suatu sore, sepulang dari berkeliling komplek, Anggun pulang membawa hanya beberapa lembar uang ribuan. Hari itu dagangannya tidak terlalu laku karena hujan turun siang-malam. Jalan kompleks becek, sepi, dan banyak orang memilih tidak keluar rumah.

Anggun masuk ke kamar kecilnya sambil menahan tangis.

Ia merasa gagal.

Ia merasa belum cukup membantu.

Ia merasa lelah, tapi lebih dari itu… ia merasa kecil sekali.

Di kamar itu, hanya ada satu kasur busa tipis, lemari kayu reyot, dan dinding yang sedikit berjamur. Tapi di situlah Anggun sering berbicara dengan dirinya sendiri. Ia duduk sambil memeluk lutut, menatap celengan plastik berbentuk ayam yang sudah mulai kusam.

“Maaf ya, Bu… hari ini Anggun cuma dapat segini…” gumamnya.

Air matanya jatuh satu-satu.

Ia menangis pelan, tidak ingin ibunya mendengar. Ia tidak ingin dicap manja. Tidak ingin membebani keluarga yang sudah terbebani banyak hal.

Di momen itulah, ia sering bertanya dalam hatinya:

“Kenapa hidup keluarga kami harus seperti ini? Kenapa harus sesulit ini?”

Ayah Pulang dengan Luka Baru

Jam menunjukkan pukul enam sore ketika pintu rumah diketuk. Ternyata ayahnya yang baru pulang kerja. Celananya penuh semen, bajunya basah karena keringat, dan tangannya tampak semakin kasar.

Ayahnya duduk di lantai, membuka sepatu dengan wajah lelah.

Ibu menghampirinya.

“Ayah kecapean ya? Mau makan dulu?”

Ayah mengangguk. “Iya, Bu. Tadi di proyek ada adukan semen jatuh… ayah sempat kena tangan, panas banget.”

Anggun mendekat.

“Yah, sini… Anggun tiupin ya.”

Ayah tersenyum kecil, meskipun wajahnya terlihat menahan sakit. “Nggak apa-apa, Nak. Ayah sudah biasa.”

Namun Anggun tahu, tidak ada manusia yang “biasa” dengan luka.

Tidak ada tubuh yang “biasa” dengan rasa sakit.

Yang ada hanya orang-orang yang terpaksa terbiasa.

Ayahnya mengelus kepala Anggun pelan.

“Dagangannya laku semua?”

Anggun menatap lantai. “Nggak semua, Yah. Tadi hujan…”

“Gak apa-apa. Yang penting kamu sudah usaha. Ayah bangga.”

Kalimat itu…

Sederhana.

Tapi menghantam Anggun seperti angin hangat yang menenangkan.

Tidak sering ayahnya mengungkapkan perasaan secara langsung. Bukan karena tidak sayang, tapi karena pria itu memikul terlalu banyak beban hingga rasa sayangnya sering terkunci rapat di balik kepenatan hidup.

Anggun tersenyum kecil. “Makasih, Yah…”

Ia duduk di antara ayah dan ibunya. Momen seperti ini jarang terjadi mereka bertiga duduk bersama, bercerita kecil-kecilan. Kebanyakan waktu ayah pulang, ia terlalu lelah untuk mengobrol panjang. Sedangkan ibu biasanya masih mencuci hingga larut demi mengejar tambahan cucian pelanggan.

Tapi malam itu, meski letih, ayah ingin memastikan Anggun merasa cukup.

Dan di situlah, tanpa mereka sadari, rumah kecil itu terasa hangat.

Cobaan Baru: Ibu Jatuh Sakit

Beberapa hari setelahnya, angin dingin malam membuat tubuh ibu menggigil. Awalnya hanya batuk kecil, lalu tubuh ibu mulai terasa panas. Namun meski sakit, ibu tetap memaksakan diri mencuci baju pelanggan.

“Bu, istirahat aja… biar nanti mereka ngerti,” pinta Anggun sambil menahan air mata.

Ibu tersenyum sambil mengusap keringat di keningnya.

“Kalau ibu berhenti satu hari… besok-besok mereka cuci di tempat lain, Nak.”

Anggun tahu itu benar.

Dalam pekerjaan buruh cuci seperti ibunya, pelanggan mudah pindah ke orang lain. Pendapatan kecil bisa hilang seketika.

Tapi melihat ibu menggigil begitu, hati Anggun serasa diremas.

Sore itu, Anggun mengambil keputusan berani.

Ia mengambil wadah kue yang masih tersisa dan kembali berkeliling komplek. Padahal ia baru pulang sekolah, dan tubuhnya sendiri pun capek.

Namun ia tidak peduli.

Yang ia tahu hanya satu:

“Aku harus bantu ibu.”

Ia berjalan dari rumah ke rumah, mengetuk pagar satu per satu. Hujan masih gerimis, tapi Anggun terus melangkah. Sandalnya becek, rambutnya basah, kakinya dingin.

Beberapa orang membelinya karena kasihan.

Beberapa menolak karena hujan.

Beberapa mendiamkannya.

Dan beberapa memuji keteguhan hati seorang anak kecil yang tidak menyerah.

Hingga seorang ibu-ibu komplek berkata,

“Anggun, kamu sendirian aja jualan jam segini? Ini masih hujan, Nak. Kamu gak apa-apa?”

Anggun menunduk. “Ibu sakit… Anggun mau bantu.”

Ibu itu terdiam. Ada rasa sedih di balik matanya. Ia membeli banyak kue, lebih banyak dari biasanya. Bahkan ia menambah dengan uang tip.

“Sampaikan salam ibu ya. Bilang segera sembuh.”

Anggun mengangguk, menahan tangis agar tidak tumpah.

Kadang, kebaikan kecil dari seseorang terasa seperti sinar hangat yang menerobos gelap.

Kejadian yang Mengubah Semuanya

Malam itu, ketika ayah pulang, ibu sudah berbaring lemah di kasur. Ayah panik, memegang kening ibu yang panas sekali.

“Kamu demam tinggi begini kok gak bilang ayah?!”

Ibu tersenyum tipis. “Ayah kan capek kerja… ibu gak mau bikin pusing…”

Ayah langsung menggendong ibu untuk dibawa ke puskesmas.

Anggun mengejar sambil menahan tangis.

Di puskesmas, dokter mengatakan ibu kelelahan, kurang istirahat, dan terkena infeksi saluran pernapasan karena terlalu sering terkena air dingin.

“Bu, pekerjaan ibu terlalu berat. Ibu harus benar-benar istirahat beberapa hari,” kata dokter.

Ibu menatap ayah dan Anggun dengan wajah yang dipenuhi rasa bersalah. “Tapi… kalau ibu istirahat… uang kita”

Ayah menatap ibu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Biarlah ayah yang pikirkan soal itu. Sekarang kamu sembuh dulu.”

Anggun memegangi tangan ibunya. “Bu… Anggun ada uang tabungan sedikit… gak banyak, tapi bisa buat beli obat.”

Ibu terkejut. “Dari mana kamu dapat?”

Anggun menunduk malu. “Dari jualan… dari uang jajan juga Anggun sisihin… tapi jangan bilang ibu suruh simpen, ya. Ini buat ibu.”

Air mata ibu langsung jatuh.

Ia memeluk Anggun dengan sisa tenaga yang ia punya.

“Anakku… kamu masih kecil, tapi kamu punya hati yang besar sekali…”

Anggun menangis dalam pelukan itu Untuk pertama kalinya, ia merasa apa yang ia lakukan berarti. Ia merasa tidak hanya sekadar membantu, tapi benar-benar menjadi bagian dari perjuangan keluarganya.

Bagian 5 — Tanggung Jawab Kecil di Pundak yang Kian Besar

Setelah kejadian malam itu, suasana rumah Anggun berubah. Ibu harus benar-benar istirahat dan tidak boleh melakukan pekerjaan berat. Dokter memberi obat serta anjuran untuk menjaga tubuh agar tidak terus-menerus terkena air dingin.

Ayah kebingungan.

Kalau ia pulang kerja sore, cucian pelanggan ibu sudah menumpuk. Kalau ia membantu, ia tak sanggup mengejar pekerjaan rumah dan mencari uang sekaligus. Namun jika ia hanya bekerja, siapa yang mengurus kebutuhan rumah?

Sementara Anggun, masih berusia kecil, tapi hatinya seolah jauh lebih dewasa dibanding usianya. Melihat ibunya berbaring lemah, ia merasakan beban itu bukan memaksa, tetapi tumbuh sendiri dari empati.

Pagi itu, sebelum berangkat sekolah, ia mendekat ke ayah.

“Yah, nanti biar Anggun bantu nyuci dikit, ya? Yang ringan-ringan aja.”

Ayah langsung geleng. “Kamu masih kecil, Nak. Itu kerjaan berat.”

“Tapi kalau gak ada yang bantu… nanti ibu gimana?”

Ayah terdiam. Ia menatap wajah Anggun lama sekali, seakan tak percaya seorang anak sekecil itu mampu berbicara dengan begitu serius. Hati seorang ayah selalu ingin melindungi, tapi kadang hidup memaksa seseorang menerima kenyataan pahit: keluarga mereka ada dalam keadaan terjepit.

Akhirnya ayah mengusap kepala Anggun.

“Nggak usah yang berat. Setelah pulang sekolah, kalau kamu mau bantu jemur atau angkat yang ringan, boleh… tapi cuma kalau kamu kuat.”

Anggun mengangguk mantap.

Di hatinya ia berkata:

“Anggun kuat… Anggun harus kuat.”

Hari-hari Penuh Lelah

Beberapa hari berjalan seperti badai yang tak ada hentinya. Sekolah, pulang, menaruh tas, menggulung lengan baju, dan langsung bergerak membantu ibunya. Ia mencuci piring, menyapu lantai, bahkan sesekali mengelap pakaian pelanggan yang sudah selesai dibilas.

Kemudian, setelah ibunya tidur, barulah Anggun mengambil dus kue dan keliling komplek untuk berjualan.

Tok… tok… tok…

“Permisi, Bu… mau beli kue? Masih hangat,” ucapnya sambil tersenyum, meskipun tubuhnya sudah sangat letih.

Orang-orang komplek perlahan mulai mengenalnya si anak kecil yang selalu datang dengan sopan dan wajah lelah tapi tabah. Mereka tahu Anggun bukan sekadar berjualan demi uang jajan, tetapi berjuang demi keluarganya.

Beberapa tetangga mulai sering membeli hanya agar bisa membantu. Ada yang memberi uang lebih. Ada juga yang menolak, tapi dengan cara baik menyuruhnya berhenti karena hari sudah gelap.

Namun Anggun tetap berjalan.

Kadang ketika ia pulang, malam sudah sangat larut. Tubuhnya pegal, kakinya gemetar, dan matanya berat sekali. Tapi ketika ia melihat ibunya tertidur tenang di kamar, lelah itu seperti lenyap sejenak.

Ia selalu berkata dalam hati:

“Gak apa-apa capek. Yang penting ibu dan ayah tidak sendirian.”

Saat Anggun Mulai Goyah

Meski kuat, Anggun tetaplah seorang anak kecil. Suatu sore, sepulang berjualan, tubuhnya terasa sangat panas. Tanpa ia sadari, ia mengalami demam karena terlalu sering kehujanan dan kelelahan.

Namun ia tetap mendorong pintu rumah pelan, berusaha menahan tubuhnya agar tidak terlihat lemah di depan ibu yang sedang sakit.

Tapi ibu cepat menyadari perubahan wajah putrinya.

“Nak… kok wajahmu pucat begitu? Sini ibu pegang.”

Tangan ibu menyentuh kening Anggun dan langsung terkejut.

“Anggun, kamu panas sekali!”

Ayah yang baru pulang pun panik. Ia menggendong Anggun ke kamar, memberi kompres, dan mencoba menurunkan panasnya.

Anggun menggigil. “Maaf, Yah… Anggun cuma mau bantu…”

Ayah memeluknya erat.

“Kamu udah bantu banyak sekali, Nak. Ayah gak pernah minta kamu kerja keras seperti ini. Ayah yang harusnya lindungi kamu.”

Air mata ayah jatuh. Untuk pertama kalinya, Anggun melihat ayahnya menangis. Seorang lelaki yang biasanya kuat seperti batu, kini rapuh sekali.

Melihat itu, Anggun justru merasa hatinya terenyuh lebih dalam.

“Yah… jangan nangis. Anggun kuat… Anggun bisa.”

Ayah menggeleng, suaranya pecah.

“Kamu masih kecil… seharusnya kamu main, belajar, tidur cukup… bukan keliling komplek hujan-hujanan. Ayah harusnya bisa jadi ayah yang lebih baik…”

Tapi Anggun tersenyum lemah.

“Yah, Anggun gak apa-apa. Anggun sayang ayah… sayang ibu…”

Ia menggenggam tangan ayah. Dan tangan kecil itu terasa begitu hangat sekaligus dingin hangat oleh cinta, dingin oleh demam.

Malam itu, Anggun tidur dengan tubuh menggigil.

Ayah dan ibu bergantian menjaganya.

Untuk pertama kalinya, beban yang biasanya ada di pundak anak kecil itu terasa kembali dipikul kedua orang dewasa yang seharusnya memang menjaganya.

Pertolongan Tak Terduga dari Warga Komplek

Keesokan harinya, ketika orang-orang komplek tidak melihat Anggun berkeliling, beberapa tetangga bertanya-tanya. Mereka sudah terbiasa melihat sosok kecil itu menyusuri jalanan dengan keranjang kue dan senyum tulus.

Salah satu ibu-ibu komplek akhirnya datang ke rumah Anggun.

Ia melihat ibu Anggun yang tampak pucat dan ayah Anggun yang sedang menjaga putrinya di kamar.

“Aduh, Bu… saya dengar Anggun sakit? Biasanya dia keliling jualan. Kasihan, padahal dia anak baik.”

Ibu Anggun mengangguk sedih. “Iya, Bu… mungkin kecapean. Dia terlalu memaksakan diri bantu kami.”

Tak lama, beberapa tetangga lain menyusul datang. Ada yang membawa buah, makanan, ada yang memberi sedikit uang. Mereka tidak banyak bicara, tapi kebaikan mereka terasa begitu hangat di rumah kecil itu.

Seorang bapak komplek bahkan berkata, “Pak, kalau ibu gak bisa mencuci dulu, gak apa-apa. Biar kami antar cucian ke tempat lain dulu sementara. Kesehatan lebih penting.”

Ayah mengangguk terharu. “Terima kasih banyak, Pak… kami benar-benar gak bisa balas… tapi terima kasih…”

Tetangga itu tersenyum.

“Hei, jangan begitu. Kita semua hidup saling bantu. Anak sekecil Anggun saja bisa bantu keluarganya… masa kita yang dewasa gak bisa bantu sedikit?”

Kata-kata itu membuat ayah menunduk sambil menyeka mata.

Sembuhnya Anggun, Tapi Ada Tekad Baru

Tiga hari kemudian, demam Anggun turun. Tubuhnya masih lemah, tapi ia sudah bisa bangun dan duduk di tepi kasur.

Ibu memeluknya.

“Nak… mulai sekarang jangan terlalu memaksakan diri. Ibu gak mau lihat kamu sakit lagi.”

Ayah menambahkan, “Ayah juga bakal cari kerja tambahan. Kamu cukup sekolah dan jualan kalau benar-benar mau, tapi jangan sampai kamu lupa jadi anak kecil.”

Anggun menatap kedua orang tuanya.

Wajah kecil itu tersenyum, tapi sorot matanya lebih dewasa daripada sebelumnya.

“Yah… Bu… Anggun mau terus bantu. Tapi Anggun janji gak akan terlalu capek. Tapi… Anggun juga mau sesuatu.”

Ayah dan ibu saling pandang.

“Iya, Nak… apa?”

Anggun menggenggam tangan mereka berdua.

“Anggun mau lihat Ayah sama Ibu bahagia. Mau lihat kita gak kesusahan terus. Anggun mau belajar lebih giat… biar nanti Anggun bisa jadi orang yang sukses dan bisa banggakan Ayah Ibu…”

Air mata ibu langsung jatuh. Ayah menunduk, memendam tangis.

Perjuangan orang tua selalu berat. Tapi yang lebih menggetarkan adalah ketika anak kecil ikut berjuang meski seharusnya dunia belum menuntutnya begitu.

Beberapa minggu telah berlalu sejak masa tersulit itu. Ibu perlahan pulih, ayah mendapatkan tambahan pekerjaan harian dari pemilik proyek yang kasihan melihat kesungguhannya, dan Anggun kembali sehat sepenuhnya.

Namun ada sesuatu yang berubah.

Bukan situasi mereka karena hidup mereka masih sangat sederhana, masih pas-pasan, masih penuh perjuangan.

Yang berubah adalah cara mereka memandang kehidupan.

Hari itu, ketika matahari sore mulai miring, Anggun duduk di depan rumah dengan keranjang kecil berisi kue buatan ibunya. Tubuhnya sudah tidak selemah dulu, senyumnya kini jauh lebih cerah. Ia sudah siap berkeliling lagi, namun kini dengan batasan: tidak larut malam, tidak memaksakan diri saat hujan, dan tidak akan berangkat jika tubuh terasa tidak enak.

Ayah duduk di kursi kayu sambil memperbaiki alat kerja. Ibu duduk di sampingnya, merapikan adonan kue sambil tersenyum melihat anaknya.

Ada kedamaian aneh yang mengalir sore itu kedamaian yang lahir dari rasa syukur meski masih hidup serba kekurangan.

Sebelum Anggun pergi berjualan, ibu memanggilnya.

“Anggun, sini sebentar…”

Anggun mendekat. Ibu berlutut, merapikan rambut putrinya.

“Nak… ibu mau kamu tahu sesuatu. Kamu boleh bantu ibu dan ayah, tapi jangan pernah jadikan hidup ini beban di pundakmu. Kamu masih kecil. Kamu pantas bahagia, pantas belajar, pantas main, pantas mengejar cita-cita. Jangan pikir kamu harus terus memikul semuanya sendirian.”

Ayah ikut bicara, suaranya lembut namun tegas.

“Kita adalah keluarga. Saling bantu, iya… tapi beban ini bukan beban kamu saja. Ayah dan Ibu yang orang tua, kami yang harus lebih kuat. Kamu boleh bantu… tapi jangan sampai kamu kehilangan masa kecilmu.”

Anggun menatap kedua orang tuanya, matanya berkilat oleh air mata yang ditahan. Ia memeluk mereka berdua.

“Tapi Anggun sayang sama Ayah dan Ibu… Anggun cuma mau lihat kita gak susah terus…”

Ibu mencium keningnya.

“Soal susah atau tidak… itu urusan orang dewasa, Nak. Kamu cukup jadi dirimu. Anak baik yang selalu berusaha. Itu sudah lebih dari cukup.”

Pelukan itu hangat, sekaligus menyembuhkan luka-luka yang tidak terlihat luka lelah, luka takut, luka yang terpendam setiap hari di dalam dada seorang anak kecil yang terlalu cepat dewasa.

Sebuah Perubahan Kecil yang Menggetarkan

Hari itu Anggun tetap pergi berjualan, tapi alih-alih hujan, matahari bersinar hangat. Warga komplek menyambutnya dengan lebih ramah dari biasanya.

“Anggun, kamu sudah sehat? Alhamdulillah!”

“Nak, sini… ibu beli dua ya. Kuenya enak banget soalnya.”

“Ayah ibumu gimana? Semoga sehat ya.”

Anggun mengangguk dan tersenyum pada setiap orang. Ia tidak tahu apakah orang-orang ini kasihan padanya atau memang tulus ingin membantu. Yang ia tahu, ia merasakan hal yang belum pernah ia rasakan selama ini: dunia tidak sekelam yang ia pikirkan.

Ada kebaikan.

Ada tangan-tangan yang mau menolong.

Ada senyum yang tak sekadar basa-basi.

Dan sedikit demi sedikit, uang hasil jualannya hari itu terkumpul cukup banyak. Ketika ia pulang ke rumah, ayah dan ibu menyambutnya dengan bangga.

“Banyak yang beli, ya?” tanya ayah.

“Iya, Yah… tapi Anggun senang bukan karena itu.”

“Terus karena apa?”

“Karena ternyata banyak orang baik.”

Ayah dan ibu saling pandang, lalu tersenyum.

Mereka tahu, di balik kata-kata polos itu, ada kedewasaan yang tumbuh dari luka dan cinta.

Malam Itu, Ada Doa yang Menembus Langit

Setelah makan malam seadanya, keluarga kecil itu duduk bersama. Angin malam berhembus lewat celah dinding, membawa aroma tanah dan ketenangan.

Ayah memimpin doa sederhana.

Ibu mengamini dengan mata berkaca-kaca.

Anggun menunduk dengan hati yang penuh harapan.

“Ya Allah, terima kasih atas hari ini. Terima kasih karena masih Kau beri kami tenaga. Masih Kau beri kami rezeki. Masih Kau beri kami kesempatan untuk bersama.”

Ayah berhenti sejenak, suaranya bergetar.

“Dan terima kasih… karena Kau titipkan kepada kami anak sekuat dan sebaik Anggun.”

Tangis ibu pecah. Ia memegang tangan ayah, lalu mengelus rambut Anggun yang duduk di antara mereka.

Dalam hati kecilnya, Anggun ikut berdoa. Bukan untuk minta kekayaan, bukan untuk minta hidup yang mewah.

“Yang penting… jangan pisahkan keluarga kecil ini…

Yang penting… beri Ayah dan Ibu kesehatan…

Yang penting… biarkan Anggun terus bisa bantu…”

Doa anak kecil memang terdengar sederhana.

Namun justru kesederhanaannya membuatnya begitu kuat.

Beberapa Tahun Kemudian…

Waktu berjalan cepat. Anggun tumbuh menjadi remaja dengan hati tangguh dan pikiran cerdas. Ia tetap membantu orang tuanya, tetapi kini tidak lagi dengan beban hati, melainkan dengan rasa bangga.

Ayahnya dipromosikan menjadi mandor kecil karena kerajinannya.

Ibu tidak mencuci sebanyak dulu karena sudah cukup sehat dan mulai membuat pesanan kue.

Tetangga-tetangga setia membeli kue buatan ibu karena “rasanya seperti dibuat dengan cinta.”

Dan Anggun?

Ia terus sekolah dengan rajin. Nilai-nilainya tidak selalu sempurna, tapi tekadnya selalu kuat. Guru-guru sering kagum melihat disiplin dan ketabahannya.

Kadang, ketika ia berjalan pulang sekolah dan melihat anak-anak kecil bermain di pinggir jalan, ia tersenyum pelan.

Ia pernah tidak punya kesempatan untuk bermain seperti itu.

Namun ia tidak menyesal.

Karena semua yang ia lakukan lelah, hujan, tangis, perjuangan telah membentuknya menjadi seseorang yang berbeda. Seseorang yang mengerti arti kerja keras, arti syukur, arti keluarga, dan arti cinta.

Kisah Anggun bukan tentang kemiskinan.

Bukan tentang kesulitan hidup.

Bukan pula tentang perjuangan seorang anak kecil saja.

Kisah ini adalah tentang harapan.

Tentang keluarga yang saling menjaga saat paling rapuh.

Tentang anak kecil yang hatinya jauh lebih besar dari usianya.

Tentang kebaikan kecil yang bisa mengubah hidup seseorang.

Anggun tumbuh dari luka

tapi ia juga tumbuh dari cinta.

Dan itulah yang membuatnya bersinar,

seperti namanya: Anggun.

TAMAT.

Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa