Persahabatan yang Hancur Karena Uang
PERSAHABATAN YANG HANCUR KARENA UANG
Ida dan Tia tidak lahir dari keluarga yang beruntung. Mereka lahir pada sisi dunia yang jarang diperhatikan, di lorong sempit yang lebih sering menjadi saksi tangis daripada tawa. Mereka bertemu sebagai dua anak kecil yang duduk berdampingan di sekolah dasar dengan seragam yang warnanya hampir sama dengan debu jalanan. Pertemuan itu bukan hal yang istimewa bagi orang lain, tapi bagi hidup mereka, hari itu adalah awal dari segalanya.
Ida adalah anak buruh cuci, sementara Tia adalah anak dari seorang ibu yang berjualan gorengan keliling dengan napas yang selalu berbunyi seperti pintu tua yang berkarat. Rumah Ida sempit dan pengap, berdinding kayu lapuk yang berbau lembap. Rumah Tia lebih menyedihkan lagi; sebuah gubuk triplek dengan seng yang berlubang-lubang seperti langit malam penuh bintang palsu. Jika hujan turun, mereka tidak lagi tahu mana suara air jatuh dari langit, mana air mata yang jatuh dari dada.
Hari pertama mereka duduk bersama, Tia datang tanpa pensil, tanpa penghapus, tanpa bekal. Ia menunduk malu ketika guru bertanya tentang alat tulisnya. Anak-anak lain mendengus kecil, sebagian tersenyum merendahkan. Ida tanpa banyak bicara mengeluarkan satu-satunya pensilnya, mematahkannya menjadi dua, lalu memberikannya separuh pada Tia. Tanpa disadari, saat pensil itu dipatahkan, hidup mereka pun akan terbelah menjadi dua arah yang tak pernah mereka bayangkan.
Sejak hari itu, mereka tidak pernah terpisah. Mereka berjalan pulang bersama, berbagi cerita tentang perut yang sering kosong, tentang ibu mereka yang pulang dalam keadaan tubuh lelah seperti kain peras, tentang ayah yang hilang atau mati sebelum sempat mengajari mereka cara hidup. Mereka mengerjakan PR bersama di bawah cahaya lampu minyak yang sering mati lebih dulu sebelum impian mereka benar-benar menyala. Mereka berbagi air minum dari botol yang sama, berbagi potongan roti terakhir, bahkan berbagi rasa takut tentang masa depan yang terasa seperti lubang gelap tanpa dasar.
Di usia di mana anak-anak lain sibuk bermain boneka atau bersepeda, Ida dan Tia justru sibuk menghitung hari sampai ibu mereka dibayar. Mereka tahu rasanya pulang dengan perut kroncongan. Mereka tahu rasanya menahan keinginan membeli jajan dengan menggenggam uang koin sampai telapak tangan sakit. Mereka terlalu kecil untuk memahami keadilan, tapi terlalu cepat belajar tentang ketidakadilan.
Di suatu malam hujan deras, ketika atap rumah Tia bocor di hampir setiap sudut, mereka duduk berdampingan di lantai yang penuh ember dan baskom, menahan dingin dengan pelukan tipis. Ida membagi sepotong roti kering menjadi dua. Rasanya hambar, tapi di tangan sahabat, roti itu terasa seperti makanan mahal. Dalam gelap yang redup, Tia berbisik dengan suara yang hampir mati oleh suara hujan, “Ida, kalau kita nanti berhasil… kalau kita punya segalanya… kamu jangan tinggalkan aku.”
Ida menelan ludah. Ia memeluk Tia lebih erat, seperti ingin menahan dunia agar tidak merenggut gadis kecil di sampingnya. “Aku bersumpah,” katanya sambil berusaha terdengar yakin. “Kalau aku punya apa pun nanti… setengahnya milikmu.”
Mereka tidak tahu bahwa janji di masa kecil bisa tumbuh menjadi duri yang menyakitkan di masa dewasa.
Waktu berjalan kejam. Keadaan tidak membaik, justru sebaliknya. Ibu Ida makin lemah dimakan usia dan pekerjaan. Ibu Tia makin sering sesak napas ketika mendorong pikulan gorengan. Hingga suatu sore, Tia pulang dan mendapati ibunya tergeletak di lantai, napasnya putus-putus seperti lilin yang hampir habis. Mereka berteriak minta tolong, tapi tetangga juga miskin, rumah sakit terlalu mahal, dan hidup terlalu pelit memberi kesempatan. Ibunya meninggal di pelukan Tia. Di detik itu, dunia Tia runtuh bukan perlahan, tapi sekaligus.
Ida masih punya ibu. Tia tidak lagi punya siapa-siapa.
Tak lama setelah itu, Ida mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke kota. Sebuah keajaiban yang datang seperti cahaya tiba-tiba di lorong gelap. Ia datang ke rumah Tia dengan mata berbinar dan suara gemetar antara bahagia dan takut. Tia tersenyum dan mengucapkan selamat. Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang patah.
Ida pergi membawa koper kecil pinjaman. Tia berdiri di pintu rumahnya yang sunyi, melambaikan tangan dengan senyum yang dipaksakan. Saat bus bergerak, ia tidak hanya kehilangan sahabat… ia kehilangan satu-satunya manusia yang membuat hidupnya terasa mungkin.
Di kota, dunia Ida berubah dengan cepat. Dari lorong sempit ke gedung tinggi, dari nasi kering ke restoran dengan menu tak habis dibaca, dari lampu minyak ke lampu kristal yang tidak pernah padam. Ia belajar banyak hal, termasuk cara berpikir seperti orang-orang yang tidak pernah merasakan lapar. Pesan-pesannya pada Tia dulu panjang, hangat, penuh cerita. Lalu makin singkat. Lalu sesekali. Lalu menghilang.
Sementara itu, Tia belajar bertahan hidup. Ia bekerja sebagai buruh cuci, mengepel lantai orang-orang yang hidupnya seperti mimpi. Ia menahan sakit punggung, menahan tangis, menahan rindu. Kadang ia menulis pesan panjang pada Ida, tapi dihapus sebelum dikirim. Ia takut mengganggu. Ia takut dianggap beban.
Waktu membuat jurang.
Dan jurang itu bernama uang.
Ketika Ida pulang suatu hari dengan mobil dan pakaian rapi, Tia menyambutnya dengan mata berkaca-kaca. Ia ingin memeluk, tapi ragu. Ia ingin bercanda seperti dulu, tapi malu. Ida tersenyum sopan, tapi bukan hangat. Mereka duduk berhadapan seperti orang asing yang pernah saling mengenal di kehidupan lain.
Beberapa bulan kemudian, tubuh Tia tidak sanggup lagi bekerja. Ia pingsan di rumah orang yang mencucikan pakaian padanya dan akhirnya diketahui bahwa ginjalnya bermasalah. Biaya rumah sakit seperti angka yang ditulis dalam bahasa lain. Ia tidak paham, yang ia tahu hanya satu: ia tidak punya.
Dengan sisa keberanian yang hampir mati, ia datang ke kantor Ida. Ia berdiri di depan gedung tinggi yang mengkilap seperti dunia yang tak ditakdirkan untuknya. Ia menunggu lama, menahan lapar, menahan goyah.
Saat akhirnya ia duduk di depan Ida, lututnya gemetar. “Aku… butuh bantuan,” katanya dengan suara sekecil dunianya sekarang.
Ida mendengarkan, wajahnya tegang. Ia bukan tidak mampu. Ia hanya tidak ingin terseret kembali ke masa lalu.
“Aku bisa bantu,” ucapnya akhirnya. “tapi ini pinjaman. Aku tidak bisa terus-menerus…”
Kalimat itu seperti pisau. Tia mengangguk. Ia tidak ingin berdebat. Yang ia butuhkan hanya hidup.
Uang ditransfer. Tapi tidak ada pelukan. Tidak ada doa. Tidak ada rumah.
Hari-hari berlalu. Penyakit itu tidak membaik. Tia tidak bisa bekerja seperti dulu. Uang menipis, rekening kosong, dan rasa bersalah makin besar. Sementara Ida mulai gelisah. Ia mengirim pesan demi pesan, menagih seperti menagih orang asing.
Tia membaca pesan itu dengan tangan gemetar. Tiap kata seperti memukul. Ia membalas, menjelaskan, memohon waktu. Tapi jawabannya dingin.
“Sampai kapan aku harus tunggu? Ini bukan uang kecil.”
Tia menangis tanpa suara.
Suatu malam, Ida datang ke rumah Tia. Wajahnya keras.
“Kalau kamu tidak bisa bayar, jual rumah ini.”
Tia terdiam. Rumah itu satu-satunya yang tersisa. Bukan bangunan… tapi kenangan.
“Apa uang segalanya buat kamu sekarang, Ida?” suaranya pecah
Ida tidak menjawab.
Jawaban itu tidak pernah datang.
Hari itu, Tia merasa benar-benar sendirian. Dunia seperti menutup pintu terakhir.
Beberapa minggu setelah itu, Tia menghilang. Teleponnya tak aktif. Ida tercekat oleh rasa bersalah yang tak diakuinya.
Hingga suatu pagi, kabar itu datang.
Tia ditemukan meninggal di kamar sempitnya. Tubuh kurus itu sudah dingin, seperti hidupnya yang terlalu lama merasa tak dihangatkan.
Ida datang. Terlambat.
Di atas meja kayu lapuk, ada satu amplop.
Untuk Ida.
Tangannya bergetar membuka.
“Aku tidak minta hidup enak…
Aku hanya tidak ingin mati sendirian…”
Tulisan itu berhenti.
Ida jatuh terduduk.
Ia memiliki segalanya.
Kecuali sahabatnya.
Uang yang ia banggakan kini hanya tumpukan kertas mati.
Tak ada yang bisa ia beli:
bukan waktu,
bukan maaf,
bukan nyawa.
Ida menangis di kamar mewahnya malam itu.
Sendirian.
Dan akhirnya ia tahu:
Beberapa hal tidak boleh diutang.
Termasuk persahabatan.
Ida tidak langsung pulang setelah pemakaman Tia. Ia berdiri lama di dekat liang yang masih basah. Tanah merah itu masih lembek, masih hangat oleh tubuh sahabat yang dulu menjadi dunianya. Angin berembus perlahan, seolah membawa bisikan yang hanya bisa didengar oleh hati yang terluka.
Di sekelilingnya, orang-orang membicarakan Tia dengan suara pelan.
“Astaga… kasihan sekali hidupnya…”
“Katanya pernah punya sahabat orang kota, tapi seperti tidak dipedulikan…”
“Pantas saja dia sering menangis sendirian…”
Kata-kata itu seperti paku yang menancap satu per satu ke tubuh Ida.
Orang kota.
Itu dirinya.
Ia orang kota yang memiliki segala hal tapi membiarkan sahabatnya mati dalam kesepian.
Ida jatuh duduk di tanah, tangannya gemetar menyentuh gundukan yang kini memisahkan mereka selamanya. Ia menangis sampai napasnya tersendat, sampai dada terasa seperti dihantam batu, sampai suara pun tidak lagi berbentuk.
“Maafin aku… maafin aku, Tia…” bisiknya pada tanah.
Tapi tanah tidak menjawab.
Ida pulang dengan tubuh yang masih hidup, tapi jiwa yang telah mati bersama Tia.
Malam pertama setelah pemakaman, Ida tidak bisa tidur. Ia berjalan mondar-mandir di rumah besarnya yang terasa lebih sempit dari kamar petak Tia. Setiap sudut rumah itu kini terasa menertawakannya.
Ia duduk di sofa empuknya, tapi yang terasa justru dingin lantai tanah rumah Tia.
Ia meminum air putih dari gelas kristalnya, tapi yang teringat justru botol plastik yang dulu mereka gantian minum di sekolah.
Ia masuk ke kamarnya yang luas, tapi yang terbayang justru dua anak kecil yang tidur berdempetan di atas tikar robek, saling melindungi dari dingin.
Ida tidak kuat.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis lagi.
Tangis yang bukan lagi tentang kehilangan.
Tangis itu adalah tentang penyesalan yang tidak bisa dibayar dengan seluruh harta dunia.
Hari-hari setelahnya, Ida mulai berubah.
Ia tidak lagi datang ke kantor dengan percaya diri. Wajahnya pucat, matanya cekung. Ia sering bengong di tengah rapat, pikirannya melayang ke satu nama yang tak pernah pergi dari kepalanya.
Tia…
Nama itu kini seperti jerat di lehernya.
Setiap rupiah yang masuk ke rekeningnya kini terasa seperti darah.
Suatu pagi, Ida pingsan di kantor.
Ketika ia siuman, dokter berkata tubuhnya terlalu lelah, stresnya tidak tertanggulangi. Namun Ida tahu… yang lelah bukan tubuhnya.
Yang rusak adalah jiwanya.
Ia mulai berkunjung ke rumah Tia diam-diam, seperti pencuri yang mencuri kenangan. Ia duduk di kamar sempit itu, memandangi dinding kusam yang penuh coretan angka dan gambar yang dulu mereka gambar bersama.
Ia menemukan satu kotak kecil di sudut kamar.
Di dalamnya, ada benda-benda yang seperti pecahan masa lalu:
— potongan pensil yang pernah ia patah dua di kelas
— foto mereka berdua di depan sekolah
— karet rambut yang dulu ia berikan pada Tia
— dan satu buku kecil berdebu…
Buku harian.
Tangan Ida gemetar.
Ia membuka halaman pertama…
"Hari ini Ida membagi pensilnya… aku senang. Mungkin ini arti sahabat."
Air mata jatuh di atas tulisan itu.
Ia membalik halaman demi halaman dan menemukan hidup Tia dituangkan dalam kata-kata yang penuh harap.
Tentang merindukan Ida.
Tentang bangga pada Ida.
Tentang menunggu pesan Ida.
Tentang cemburunya pada dunia Ida.
Tentang kecewanya yang tidak pernah ia ucapkan.
Hingga ia sampai di halaman terakhir…
*"Aku sakit. Aku takut mati.
Aku ingin Ida ada di sini.
Tapi mungkin aku hanya masa lalu baginya.
Kalau aku mati nanti,
aku ingin dia tahu…
aku tidak pernah marah.
Aku hanya lelah."*
Ida menjerit.
Suara itu keluar seperti hewan terluka.
Ia memeluk buku itu seolah memeluk tubuh Tia yang sudah dingin.
“Aku di sini sekarang… aku di sini…” ucapnya terisak.
Tapi seperti semua hal yang terlambat…
Tidak ada yang bisa diulang.
Ida mulai memberikan seluruh hartanya pada orang-orang miskin.
Ia membangun panti, memberi beasiswa, menyantuni.
Namun setiap kali seseorang mengucapkan terima kasih…
Yang ia dengar hanyalah:
“Seandainya…”
Setiap kebaikan kini hanyalah pengganti dosa.
Ia tidak pernah merasa cukup.
Karena satu orang tidak bisa ia bantu lagi.
Dan orang itu adalah satu-satunya yang seharusnya ia jaga.
Setahun kemudian, Ida kembali jatuh sakit.
Ia menjadi kurus, kehilangan nafsu makan, kehilangan semangat hidup.
Suatu malam, ia duduk sendiri di kamar dan berbicara seolah Tia duduk di hadapannya.
“Aku sudah lakukan semuanya… kenapa kamu tidak kembali?”
Ia menunggu.
Dan hanya sepi yang menjawab.
Ida menulis surat.
Bukan untuk siapa pun.
Untuk Tia.
“Aku ingin miskin lagi, Tia…
asal bersamamu.
Aku menukar hidupku sekarang dengan satu hari bersamamu yang dulu.
Tapi Tuhan tidak melayani penyesalan.”
Ia melipat surat itu dan meletakkannya di meja.
Dan malam itu…
Ida overdosis obat tidur.
Ia tidak ingin mati.
Ia hanya…
Tidak sanggup bangun.
Namun Tuhan tidak mengambilnya.
Ia ditemukan tak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit.
Ia hidup.
Dan itu lebih menyakitkan.
Setelah sadar, Ida tidak lagi menjadi Ida yang dikenal orang.
Ia menjual perusahaan.
Ia pindah ke kampung kecil mereka dulu.
Menempati rumah kayu reyot yang tak jauh dari makam Tia.
Setiap pagi ia berjalan ke sana.
Menyapu makam.
Menanam bunga.
Berbicara sendiri.
“Aku masih di sini…”
Dan sampai hari-hari terakhir hidupnya…
Ia menjadi penjaga sunyi satu kubur.
Ketika Ida akhirnya meninggal, tidak banyak orang yang datang.
Ia bukan lagi siapa-siapa.
Hanya seorang perempuan tua dengan satu nama di nisan:
IDA
dan tulisan kecil di bawahnya:
“Yang menebus dosa dengan seumur hidup penyesalan.”
Ia dimakamkan di sebelah Tia.
Dan untuk pertama kalinya…
Ia benar-benar pulang.
Ida menghabiskan sisa hidupnya di kampung kecil itu, di antara makam dan kenangan yang tak pernah benar-benar tidur. Rambutnya memutih jauh sebelum waktunya, tubuhnya mengurus bukan karena usia, tapi karena jiwa yang terlalu lama menanggung beban.
Ia dikenal warga sebagai perempuan tua pendiam yang setiap pagi datang ke satu makam yang sama.
Ia membersihkannya. Ia menyiram bunganya. Ia berbicara seolah seorang sahabat masih duduk mendengarkan.
Tak ada yang tahu apa yang ia ucapkan. Tak ada yang mengerti mengapa ia menangis setiap senja.
Ia menolak pindah. Ia menolak pergi. Ia seolah menunggu sesuatu yang tak siapa pun bisa lihat.
Sampai suatu sore, tubuh Ida ambruk di sisi nisan itu.
Seorang anak kecil menemukannya. Ia terbaring menghadap pusara. Tangannya menggenggam tanah seakan tak ingin berpisah.
Ida dibawa pulang. Tapi napasnya tak panjang.
Malam itu, Ida tersenyum. Bukan senyum kesakitan. Tapi senyum yang lama hilang.
Dengan suara hampir tak terdengar, ia berkata:
“Tia…
aku tidak kaya lagi…
aku pulang…”
Dan dadanya diam selamanya.
Ida dimakamkan tepat di samping Tia.
Dua nisan berdampingan. Tak ada lagi jarak. Tak ada lagi utang. Tak ada lagi waktu.
Di batu nisan Ida, seseorang menuliskan:
“Ia kembali sebagai sahabat, bukan sebagai orang kaya.”
Dan di situlah akhirnya…
Dua anak perempuan yang dulu berbagi satu pensil. Dua remaja yang berbagi satu mimpi. Dua perempuan yang dipisahkan oleh uang.
Akhirnya…
Dipertemukan… oleh kematian.
EPILOG SINGKAT
Persahabatan sejati tidak mati.
Ia hanya menunggu…
Untuk pulang.
Makam itu kini tak lagi satu.
Dua batu nisan berdiri berdampingan, sunyi, sederhana, tanpa kemewahan seperti hidup yang pernah mereka jalani.
Angin sore selalu singgah di sana.
Menyapu dedaunan.
Menyentuh bunga yang tumbuh dari tanah yang menyimpan dua cerita pilu.
Tak ada lagi tangisan.
Tak ada lagi amarah.
Tak ada lagi penyesalan yang berteriak.
Semua sudah tenang.
Orang-orang yang melintas hanya melihat dua nama:
TIA
dan
IDA
Tak ada yang tahu betapa eratnya dua nama itu dulu terikat.
Tak ada yang tahu betapa mahal harga yang harus dibayar untuk satu kesalahan kecil:
mengukur sahabat dengan uang.
Jika malam tiba, bintang menggantung tepat di atas dua pusara itu seolah langit sendiri sedang berjaga.
Dan mungkin… di alam yang tak terlihat,
dua anak perempuan itu kembali duduk berdampingan.
Seperti dulu.
Berbagi satu pensil.
Berbagi satu roti.
Berbagi satu tawa.
Tidak ada utang.
Tidak ada status.
Tidak ada perbedaan.
Hanya dua hati
yang akhirnya
pulang bersamaan.
SELESAI