PERANG YANG TAK TERLIHAT
PERANG YANG TAK TERLIHAT
Anggi selalu tampak baik-baik saja bagi orang lain. Senyumnya rapi. Tuturnya sopan. Pekerjaannya tetap. Tidak ada luka fisik yang bisa ditunjuk. Tidak ada keributan yang mencolok. Tidak ada drama yang berisik. Jika orang-orang memotretnya, ia akan terlihat seperti pria usia matang yang sedang berada di fase hidup paling stabil.
Padahal di dalam kepalanya, sebuah perang sedang berlangsung setiap hari.
Sebuah perang sunyi, tanpa suara tembakan, tapi penuh dengan ledakan pikiran yang membuat dadanya sesak. Ada hari-hari di mana Anggi bangun dengan perasaan kosong. Bukan sedih, bukan juga marah. Kosong. Seperti teko yang airnya telah habis, tapi tetap dipanaskan di atas api. Tidak ada yang keluar selain bunyi panas yang tersisa.
Di usia 34 tahun, Anggi sering bertanya pada diri sendiri, “Kenapa aku tidak merasa hidup?”
Bukan karena hidupnya buruk. Tapi justru karena segalanya terlihat baik, ia bingung mengapa jiwanya serasa mati.
Setiap pagi, alarm berbunyi seperti biasa. Ia membuka mata dengan berat, seolah baru saja pulang dari perjalanan panjang di dalam mimpi. Tapi tidak ada istirahat di sana. Bahkan tidur pun tak memberi jeda bagi pikirannya.
Ia duduk di ranjang, menatap dinding kusam kamar kontrakannya. Di dinding itu, tak ada foto keluarga. Tak ada hiasan berarti. Hanya kalender lama yang belum pernah diganti. Angka-angka merah yang menyilang hari-hari berlalu, seperti pengingat bahwa waktu terus berjalan, sementara ia merasa tertinggal.
Anggi bekerja di sebuah kantor kecil. Tidak terlalu buruk, tidak terlalu istimewa. Rekan-rekannya baik, tapi tidak ada yang benar-benar dekat. Ia bisa bercanda, bisa tertawa, bisa ikut makan siang bersama. Namun semua itu ia lakukan seperti seorang aktor yang hafal naskah. Begitu tirai turun dan ia kembali pulang, peran itu ikut menguap.
Di jalan pulang, ia sering menyetir dalam diam. Lagu di radio diputar, tapi tidak benar-benar terdengar. Matanya memandangi lampu-lampu kendaraan, seperti bintang yang jatuh ke bumi tapi tak pernah bisa disentuh.
Setiap malam, kepalanya kembali ramai. Ia mengingat hal-hal kecil yang dulu dianggap sepele, tapi kini terasa menghantui. Kesalahan-kesalahan lama. Ucapan yang tak sempat ditarik. Keputusan yang terasa terburu-buru. Peluang yang dilewatkan. Dan wajah-wajah orang yang pergi, entah karena jarak, salah paham, atau kematian.
Ia mencoba menghibur diri dengan berkata, “Semua orang juga begitu.”
Tapi jiwanya membalas, “Tidak semua orang merasa seberat ini.”
Anggi bukan selalu seperti ini.
Dulunya ia anak yang penuh semangat. Ia suka menggambar, menulis, dan bermimpi tentang hal-hal besar. Ia pernah percaya bahwa hidupnya akan berarti. Bahwa ia akan menjadi seseorang yang bangga ia lihat di cermin.
Namun kenyataan tidak pernah menepuk pundak sehalus mimpi.
Ayah Anggi meninggal saat ia berusia dua puluh tahun. Sebuah pukulan yang datang terlalu cepat, terlalu keras. Ayah adalah dindingnya, tempatnya bersandar. Setelah kepergian itu, dunia seakan kehilangan atap.
Ibunya menjadi lebih pendiam. Rumah yang dulu hangat berubah seperti museum kenangan. Anggi mengambil alih peran dewasa sebelum waktunya. Ia berhenti bermimpi dan mulai bertahan.
Ia kuliah setengah jalan sambil bekerja. Tengah malam lembur, pagi berangkat lagi. Tidak ada waktu untuk bersedih. Tidak ada ruang untuk jatuh. Jika ia runtuh, semuanya akan runtuh bersamanya.
Ia menjadi kuat, tapi lupa bagaimana caranya merasa.
Setahun demi setahun, ia terbiasa memendam. Terbiasa menjadi orang yang “nggak apa-apa”. Terbiasa mendengar keluhan orang lain, tapi tak pernah membicarakan lukanya sendiri.
Sampai memendam itu berubah menjadi sesak.
Pada suatu malam, hujan turun deras. Langit seolah tahu apa yang dirasakan Anggi. Ia pulang dalam keadaan basah, bukan hanya oleh air, tapi oleh pikirannya sendiri.
Ia duduk di tepi ranjang dan tidak langsung membuka baju yang kuyup. Ia hanya duduk, menatap lantai, mendengarkan tetes air dari bajunya yang jatuh satu per satu. Entah sejak kapan, ia mulai menangis.
Tangisnya pelan. Tidak berisik. Tidak dramatik. Tapi menyakitkan.
Ia menutup wajahnya dan berbisik, “Aku capek…”
Tak ada yang menjawab. Tapi keheningan terasa menghantam lebih keras daripada suara.
Malam itu, Anggi tidak tidur. Ia menyalakan lampu kecil di sudut kamar dan mengambil selembar kertas dari laci. Ia tidak tahu mengapa ia melakukannya. Mungkin karena tak tahu harus ke mana lagi.
Ia mulai menulis.
Tidak rapi. Tidak indah. Penuh coretan dan air mata yang menodai tinta.
“Aku iri pada orang yang bisa bahagia tanpa usaha sebesar ini...”
“Aku lelah berpura-pura kuat…”
“Aku takut bertambah tua tanpa pernah benar-benar hidup...”
“Aku merasa gagal…”
“Aku ingin berhenti, tapi tidak ingin mati…”
Ia terkejut membaca kalimat terakhir. Ia tidak ingin mati. Tapi ia juga tidak ingin hidup dengan rasa ini.
Ia terus menulis sampai tangannya gemetar. Dan ketika kertas itu tidak cukup lagi, ia mengambil yang lain. Kata demi kata keluar seperti racun yang selama ini membusuk di dalam dadanya.
Saat ia selesai, ia merasakan sesuatu yang aneh. Bukan bahagia. Bukan lega sepenuhnya. Tapi… ringan. Seperti membawa karung besi yang akhirnya diturunkan, walau hanya sebentar.
Ia duduk bersandar ke dinding, memejamkan mata.
Itu adalah pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia jujur.
Keesokan harinya, Anggi bangun dengan mata sembab, tapi dadanya tidak seberat biasanya. Ia tidak melompat ceria. Ia tidak tiba-tiba menjadi orang baru. Tapi ada celah kecil dalam dinding jiwanya.
Ia membawa kertas-kertas itu ke kantor, memasukkannya ke dalam tas. Ia tidak berniat menunjukkannya pada siapa pun. Namun keberadaannya saja sudah membuatnya merasa tidak sepenuhnya sendirian.
Saat makan siang, seorang rekan bernama Dina menatapnya sejenak dan berkata, “Mas Anggi, kamu kelihatan capek. Bener-bener capek.”
Itu bukan pertanyaan. Itu kalimat jujur.
Anggi terdiam. Dadanya sesak. Ia ingin menjawab seperti biasa: “Iya, nggak apa-apa.”
Tapi hari itu, untuk pertama kalinya, ia menjawab, “Iya… aku lagi nggak baik-baik aja.”
Dina tidak bertanya banyak. Ia hanya mengangguk pelan dan berkata, “Kalau mau cerita, aku mau denger.”
Kalimat itu sederhana. Tapi bagi Anggi, itu seperti pintu kecil di lorong panjang yang gelap.
Hari itu, mereka berbincang di bangku taman kecil dekat kantor. Anggi tidak menceritakan semuanya. Ia hanya bicara secukupnya: tentang lelah, tentang kosong, tentang kehilangan arah.
Dina tidak menggurui. Tidak menasihati panjang lebar. Ia hanya mendengarkan.
Dan Anggi menangis lagi.
Bukan karena sedih semata, tapi karena merasa dilihat.
Sejak hari itu, Anggi mulai membuat kebiasaan baru: menulis setiap malam. Entah itu satu baris, entah itu satu halaman penuh. Ia menulis tanpa target. Tanpa tata bahasa sempurna. Ia menulis isi hatinya sendiri.
Ia tidak selalu jujur setiap hari. Ada malam di mana ia terlalu capek untuk merasa. Ada hari di mana ia kembali murung. Tapi kini, ia punya tempat untuk menaruh luka.
Ia juga mulai melakukan satu hal kecil lainnya: berjalan kaki setiap pagi sebelum berangkat kerja.
Bukan olahraga berat. Bukan niat mengubah hidup seketika. Hanya berjalan, menghirup udara, menyadari bahwa matahari tetap terbit walau ia tidak bahagia.
Kadang ia hanya berdiri di pinggir jalan, memandangi orang-orang bersepeda, anak sekolah yang tertawa, ibu-ibu yang belanja pagi.
Hidup tetap berjalan.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus berlari mengejarnya. Ia hanya berdiri, mengamati, dan berkata pada diri sendiri, “Aku masih di sini.”
Bulan demi bulan berlalu.
Anggi mulai belajar memaafkan dirinya. Tidak sekaligus. Tidak tuntas. Tapi sedikit demi sedikit.
Ia menulis surat untuk dirinya di masa lalu. Tentang anak muda yang kehilangan ayah terlalu cepat. Tentang pemuda yang harus dewasa sebelum siap. Tentang pria yang memendam karena mengira itu adalah bentuk kekuatan.
Ia menulis:
“Kamu tidak lemah karena menangis. Kamu hanya manusia. Dan itu tidak salah.”
Kalimat itu ia baca berulang kali. Kadang sambil tersenyum getir. Kadang sambil menangis lagi.
Ia juga mulai berani berkata “tidak” pada hal-hal yang melelahkan jiwanya. Ia tidak lagi selalu mengiyakan lembur. Ia mengurangi pergaulan yang hanya menguras energi.
Ia belum menemukan kebahagiaan besar. Tapi ia menemukan batasannya.
Dan itu sudah sangat berharga.
Suatu sore, Anggi mengunjungi makam ayahnya. Sudah lama ia tidak datang. Setiap kali berniat, selalu ada alasan.
Di hadapan nisan yang dingin itu, ia akhirnya berlutut. Tangannya gemetar saat menyentuh tanah.
“Pak… aku capek,” katanya lirih.
Angin berhembus pelan. Daun-daun bergoyang seperti bisikan.
“Aku berusaha kuat… tapi aku juga takut… Aku takut hidupku cuma sampai di sini…”
Ia menangis. Bukan tangis anak kecil. Tapi tangis pria dewasa yang lelah memikul beban seorang diri.
“Aku cuma mau didengar sekali saja…”
Entah mengapa, hatinya terasa lebih tenang. Mungkin bukan karena ayahnya menjawab. Tapi karena untuk pertama kalinya, ia tidak menahan tangis itu.
Ia berdiri dengan tubuh gemetar, tapi dadanya tidak runtuh.
Ia pulang dengan perasaan seperti telah berbicara dengan langit.
Di usia 34, Anggi belum menjadi siapa-siapa yang luar biasa. Ia masih di kantor kecil. Masih di kontrakan sederhana. Masih dengan banyak ketakutan yang belum sembuh.
Tapi satu hal berubah besar:
Ia tidak lagi membenci dirinya.
Ia menerima bahwa sakitnya nyata. Bahwa lukanya sah. Bahwa bahagianya mungkin tidak berisik, tapi ia sedang menuju ke sana.
Ia berhenti membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain. Ia mengerti bahwa setiap orang punya luka yang tidak dipamerkan.
Dan ia mulai percaya satu kalimat baru:
“Aku tidak harus sempurna untuk layak bahagia.”
Ia menempelkan kalimat itu di dinding kamarnya. Di sebelah kalender lama.
Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, ia membacanya. Pelan. Dalam hati.
Sampai suatu malam, di kamar yang sama, tempat ia pernah ingin menghilang, Anggi duduk sambil menulis:
“Hari ini, aku tertawa. Tidak besar. Tidak lama. Tapi tulus.”
Ia terdiam sejenak. Lalu menambahkan:
“Aku tidak tahu ke mana hidup membawaku. Tapi aku ingin berjalan bersamanya, bukan melawannya.”
Ia menutup buku itu.
Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidur dengan rasa cukup.
Bukan bahagia yang meledak-ledak. Tapi damai.
Seperti hujan yang akhirnya reda.
Malam itu tidak datang dengan keajaiban. Tidak ada kabar besar. Tidak ada pintu takdir yang terbuka dramatis. Anggi hanya bangun seperti hari biasa lalu tersenyum kecil saat menyadari sesuatu yang asing tapi hangat:
ia baik-baik saja pagi ini.
Bukan berarti bebas masalah. Bukan berarti tanpa beban. Tapi ada Ruang. Ada napas.
Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap mata yang dulu selalu tampak lelah. Sekarang masih ada sisa letih, tapi tidak lagi putus asa. Anggi mengangkat sudut bibirnya pelan, mencoba berdamai dengan bayangannya sendiri.
Dalam hati ia berbisik,
"Terima kasih… karena tidak menyerah, meskipun kamu ingin."
Kalimat itu terasa aneh, tapi jujur. Seperti memeluk diri sendiri setelah bertahun-tahun menyakiti.
Pagi itu, Anggi menyeduh kopi sendiri. Ia membuka jendela agar udara masuk. Cahaya matahari menyentuh meja kecilnya, tempat buku tulis luka-lukanya biasa tergeletak. Ia duduk sebentar, memejamkan mata, mendengarkan suara pagi. Sepeda lewat. Anak kecil tertawa. Burung berkicau.
Dunia tidak berubah.
Tapi Anggi berubah.
PERTEMUAN KECIL YANG MENGUBAH BANYAK HAL
Beberapa hari kemudian, Anggi menerima pesan dari Dina.
"Mas, mau ikut aku ke acara komunitas baca? Nggak formal, cuma orang-orang yang suka cerita."
Normalnya, Anggi akan menolak hal semacam itu. Terlalu ramai. Terlalu melelahkan. Terlalu tidak perlu.
Tapi kali ini, ia menatap layar ponselnya lebih lama.
Lalu menjawab:
"Boleh. Aku ikut."
Bukan karena siap.
Tapi karena ia ingin mencoba hidup lagi.
Acara itu diadakan di sebuah kafe kecil di sudut kota. Lampunya hangat. Tidak terlalu ramai. Tidak terlalu sunyi. Ada meja-meja kayu kecil dan rak buku lama yang penuh lembaran cerita.
Anggi duduk di paling belakang. Mengamati orang-orang. Mendengarkan mereka membaca tulisan pribadi mereka. Cerita cinta. Cerita kehilangan. Cerita gagal.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa aneh karena tidak bahagia.
Ia merasa… normal.
Setelah beberapa orang tampil, seseorang menghampirinya. Seorang perempuan muda berkacamata, membawa secangkir teh.
“Kamu nggak baca apa-apa?” tanyanya lembut.
Anggi menggeleng.
“Aku cuma denger.”
Perempuan itu tersenyum kecil.
“Nggak harus tampil untuk jadi bagian.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi tepat mengenai hatinya.
SAAT LUKA MENJADI CERITA
Di tengah acara, seorang pria membacakan tulisan tentang ayahnya yang meninggal. Suaranya bergetar. Tapi ia membaca sampai selesai.
Dalam hati, Anggi goyah.
Ia meraih tasnya. Mengeluarkan buku kecil yang selalu ia bawa. Jari-jarinya dingin. Kakinya gemetar.
Ia berdiri.
Tidak direncanakan. Tidak masuk akal. Tapi seperti ada sesuatu yang mendorong dari dalam.
“Namaku Anggi…” katanya pelan.
Semua menoleh.
Ia menelan ludah. Menatap kertasnya. Dan mulai membaca.
Tentang rasa kosong.
Tentang pura-pura kuat.
Tentang kehilangan ayah.
Tentang ingin hidup, tapi lelah.
Suaranya pecah. Tapi ia terus membaca.
Beberapa orang terisak. Bukan karena tulisannya indah. Tapi karena jujur.
Saat Anggi selesai, ruangan hening sesaat.
Lalu tepuk tangan pecah.
Bukan tepuk tangan meriah.
Tapi tepuk tangan yang penuh rasa.
Anggi duduk kembali. Dadanya berdegup. Tangannya gemetar. Tapi ia tidak ingin menghilang lagi.
Ia merasa… terlihat.
HIDUP TIDAK HARUS BESAR UNTUK BERARTI
Sejak malam itu, Anggi rutin menghadiri komunitas tersebut. Tidak selalu membaca. Kadang hanya mendengar. Tapi setiap kehadiran itu seperti mengisi lubang kecil dalam dadanya.
Ia mulai menulis bukan hanya untuk meluapkan luka, tapi juga untuk menyimpan hal-hal baik:
hari di mana ia tertawa kecil
hari di mana hujan terasa indah
hari di mana ia tidak membenci dirinya
Ia tidak mendeklarasikan diri “sembuh”.
Ia hanya terus berjalan.
Ia juga mengunjungi makan ibunya lebih sering. Mereka tidak selalu berbicara tentang perasaan. Tapi mereka duduk bersama. Minum teh. Menonton berita.
Dan dalam kebersamaan itu, Anggi merasakan rumah kembali hidup.
PESAN UNTUK DIRI SENDIRI
Di usia 34, Anggi akhirnya menulis pesan akhir di buku catatannya:
Aku tidak datang ke dunia ini untuk sempurna.
Aku datang untuk hidup.
Untuk merasakan.
Untuk gagal.
Untuk bangkit.
Dan untuk mencintai siapa diriku hari ini bukan versi yang 'seharusnya' jadi
Ia membaca kalimat itu berulang.
Dan menangis.
Untuk terakhir kalinya dengan perasaan damai.
EPILOG: UNTUK KAMU YANG SEDANG BERPERANG DALAM DIAM
Jika kamu membaca ini dan merasa seperti Anggi,
ketahuilah satu hal:
Kamu tidak aneh.
Kamu tidak rusak.
Kamu hanya manusia yang sedang lelah.
Istirahatlah.
Bicara jika mampu.
Menangislah jika perlu.
Dan tetaplah tinggal…
Karena dunia lebih sepi tanpamu.Dr
Malam itu, Anggi berdiri kembali di depan jendela kamarnya. Jendela yang sama. Dinding yang sama. Lampu kota yang sama. Tidak ada yang berubah.
Yang berubah… adalah dirinya.
Ia memejamkan mata dan mengingat semua hari gelap yang pernah ia lewati. Malam-malam panjang dengan kepala penuh tanya. Air mata yang jatuh tanpa saksi. Dan doa-doa kecil yang ia ucapkan hanya untuk bertahan satu hari lagi.
Ia mengingat hari-hari di mana ia ingin menghilang.
Dan ia mendesah pelan, seolah baru saja selesai berlari jauh.
“Aku masih di sini…” bisiknya.
Untuk pertama kalinya, kalimat itu terasa bukan sebagai keluhan.
Tapi sebagai kemenangan.
Anggi menoleh pada meja kecilnya. Buku catatan luka itu masih ada. Tapi kini, isinya mulai dipenuhi hal-hal sederhana:
tawa kecil hari ini
teh hangat di sore hari
seseorang mendengar ceritaku
aku tidak membenci diriku hari ini
Ia menutup buku itu dan meletakkannya di samping tempat tidur.
Lalu duduk.
Dan untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, ia tidak merasa perlu melarikan diri dari hidupnya sendiri.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Tidak tahu apakah ia akan selalu kuat.
Tidak tahu apakah luka benar-benar akan hilang.
Tapi satu hal kini ia tahu:
Ia tidak ingin pergi.
Anggi berdiri, menatap cermin, lalu tersenyum bukan senyum palsu, tapi senyum yang lahir dari seseorang yang telah berdamai dengan dirinya.
Dan di hadapan pantulan wajahnya sendiri, ia berkata lirih:
*"Aku memilih tinggal.
Meski hidup tidak sempurna.
Meski aku masih terluka.
Karena hatiku…
masih ingin melihat matahari besok."*
Lampu kamar dimatikan.
Anggi berbaring.
Tidak lagi dengan hati yang ingin menghilang,
tapi dengan hati yang ingin hidup.
Pagi itu, Anggi tidak lagi terbangun dalam rasa takut.
Ia membuka mata perlahan dan membiarkan cahaya matahari mengisi kamarnya yang dulu sering terasa seperti ruang pengap. Udara pagi menyentuh wajahnya, seolah membisiki satu hal yang selama ini ia lupakan:
hidup masih berlangsung… dan ia masih ada di dalamnya.
Anggi duduk lama di tepi ranjang. Menatap lantai. Mengingat semua hari yang pernah ia lalui dengan air mata tersembunyi. Semua malam yang terasa terlalu panjang. Semua doa yang tak pernah ia ucapkan dengan suara.
Ia menarik napas panjang. Dan untuk pertama kalinya, napas itu tidak terasa seperti beban.
Ia mengambil buku kecil dari meja. Buku yang dahulu menyimpan luka. Sekarang, ia membuka halaman terakhir dan menulis:
Aku tidak sembuh karena hidupku berubah.
Aku sembuh karena aku berhenti membenci diriku sendiri.
Aku memilih tinggal.
Aku memilih hidup.
Anggi menutup buku itu perlahan, seakan menutup satu masa yang penuh gelap dengan kelembutan.
Ia berdiri di depan cermin.
Tidak ada wajah baru.
Tidak ada tubuh yang berbeda.
Tapi ada mata yang kini berani menatap dirinya sendiri tanpa benci.
Dan itu sudah cukup.
Ia membuka pintu kamarnya dan melangkah keluar.
Bukan sebagai pria yang bebas dari semua luka,
tapi sebagai manusia yang telah berdamai dengan dirinya sendiri.
Dan dunia menyambutnya…
tanpa pesta,
tanpa gemerlap,
tanpa janji palsu.
Hanya dengan satu hal yang nyata:
Hari baru.
Anggi melangkah pergi,
membawa masa lalunya bukan sebagai beban,
melainkan sebagai pengingat bahwa
ia pernah hampir menyerah…
dan ia memilih hidup.
TAMAT