Di BALIK PUNGGUNG YANG LELAH
“DI BALIK PUNGGUNG YANG LELAH”
Hujan baru saja reda ketika Nadia menutup pintu rumahnya pelan-pelan. Udara sore terasa lembap, menyisakan aroma tanah basah yang biasanya menenangkan banyak orang. Tapi tidak bagi Nadia. Ia baru pulang dari jam kerja panjang di toko kelontong tempat ia bekerja selama empat tahun terakhir. Jaket tipisnya masih basah, ujung kerudungnya meneteskan sisa air, dan langkahnya berat seolah seluruh beban dunia menggantung di pundaknya.
Namun sebelum masuk lebih jauh, ia menarik napas panjang, menegakkan bahu, dan memaksa sudut bibirnya membentuk senyum senyum yang sudah terlalu sering ia palsukan. Senyum yang tidak ia ciptakan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk keluarganya.
Di dalam rumah itu, ada Raka suaminya. Dan dua anak mereka, Rafi dan Salsa. Dua cahaya kecil yang membuat Nadia tetap bertahan meski hatinya sering kali rapuh.
Ketika Nadia membuka pintu, rasa hangat menyambutnya. Bukan dari pelukan suami, bukan dari suara ceria anak-anak, melainkan dari panci di atas kompor yang tampaknya baru dimatikan. Raka duduk di sofa, memegang ponsel, tanpa menatap istrinya.
“Sudah pulang?” Raka bertanya tanpa mengangkat kepala.
“Hm. Iya.” Nadia tersenyum, meletakkan tasnya. “Terima kasih sudah masak untuk anak-anak.”
“Cuma goreng telor,” jawab Raka singkat.
Nadia mengangguk kecil. Ia sudah terbiasa dengan jawaban seperti itu. Bukan masalah. Bukan hal besar. Tapi hati kecilnya tetap terasa seperti disayat. Ada masanya Raka dulu sangat penuh perhatian, sangat peduli, sangat menghargai. Tapi itu dulu. Bertahun-tahun lalu.
Setelah kehilangan pekerjaannya, seakan sebagian jiwanya ikut hilang. Ia lebih banyak diam, lebih banyak duduk, lebih banyak menyerah. Dan Nadia… Nadia justru menjadi semakin kuat meski kekuatan itu datang sambil menahan air mata setiap malam.
Saat anak-anak sudah tidur, Nadia duduk di tepi ranjang sambil memijat kakinya sendiri. Bengkak. Sakit. Namun ia tetap berusaha tersenyum. Sementara itu, Raka masih di ruang tamu, menatap layar ponsel tanpa suara.
Ada satu suara kecil dalam hati Nadia yang selalu ia abaikan suara yang bertanya:
“Sampai kapan kamu harus begini, Nad? Sampai kapan kamu sendirian memikul semuanya?”
Tapi ia menepisnya. Ia tidak ingin memusuhi suaminya. Ia masih mencintanya. Walaupun… cinta itu sering terasa seperti luka yang tak sembuh.
Setiap pagi, sebelum subuh, Nadia bangun lebih dulu. Mempersiapkan sarapan, menyiapkan seragam anak-anak, memastikan semua berjalan baik. Sementara Raka… kadang baru bangun ketika Nadia sudah siap berangkat bekerja.
Namun Nadia tidak pernah marah. Ia hanya berkata dalam hati, “Dia masih suamiku. Dia masih ayah anak-anakku.”
Tapi apakah itu cukup? Ia tidak tahu.
Suatu pagi, sebelum berangkat kerja, Nadia menatap wajahnya di kaca. Ada garis-garis lelah yang tidak seharusnya ada di wajah perempuan seusianya. Usianya baru 32, tapi matanya tampak seperti 45. Namun ia tetap tersenyum, membetulkan kerudung, lalu mencium anak-anak sebelum pergi.
Di perjalanan menuju toko tempat ia bekerja, pikirannya melayang-layang.
Dulu, saat awal menikah, Nadia percaya hidupnya akan bahagia. Raka adalah lelaki yang ia kagumi cerdas, pekerja keras, penuh ambisi. Mereka membangun mimpi bersama. Raka pernah berkata, “Aku ingin kamu jadi ibu rumah tangga saja. Biar aku yang kerja. Kamu cukup fokus membesarkan anak-anak.”
Nadia mengangguk, merasa aman dalam lindungan suaminya.
Namun takdir berkata lain. Ketika perusahaan tempat Raka bekerja bangkrut, semuanya berubah. Raka bukan saja kehilangan pekerjaan, tapi juga kehilangan semangat. Ia mencoba melamar ke sana-sini, tapi setiap kali ia ditolak, semakin hancurlah kepercayaan dirinya. Sampai akhirnya… ia berhenti mencoba.
Saat itu, Nadia mengambil alih semuanya tanpa berpikir panjang. Ia bekerja demi memastikan dapur tetap mengepul. Demi membayar sekolah anak-anak. Demi membayar listrik dan air. Demi kehidupan.
Demi keluarga.
Tapi semakin lama ia bekerja keras, semakin sedikit ia merasa dihargai.
Nadia tidak pernah meminta banyak. Hanya ingin ditemani. Hanya ingin punya bahu untuk bersandar. Hanya ingin ada seseorang yang berkata, “Terima kasih, kamu hebat hari ini.”
Tapi ia tidak pernah mendengarnya.
Hari demi hari berlalu, dan beban itu semakin berat. Namun Nadia tetap bertahan. Setiap kali ia menatap anak-anaknya, ia berkata dalam hati:
“Aku kuat. Aku harus kuat.”
Namun kekuatan itu bukan tanpa batas.
Suatu malam, usai lembur, Nadia pulang dengan tubuh yang benar-benar lelah. Kepalanya pusing, kakinya gemetar, tetapi ia tetap memaksakan diri berjalan. Saat ia membuka pintu rumah, ia melihat Raka tertidur di sofa televisi masih menyala, ponsel masih di genggaman. Nadia mematikan TV pelan-pelan, menutup tirai, lalu meniup lilin kecil di meja.
Air mata turun tanpa bisa ia cegah.
“Ya Allah… apakah aku salah? Apakah aku kurang baik sebagai istri? Kenapa aku merasa sendirian, padahal aku punya suami?”
Nadia duduk di lantai, memeluk lututnya. Tubuhnya gemetaran. Ia tidak ingin membangunkan Raka. Ia tidak ingin bertengkar. Ia hanya ingin melepaskan seluruh beban yang ia simpan begitu lama.
Dalam isak tangis yang ia tahan rapat selama bertahun-tahun, ia berbisik lirih,
“Aku capek, Ya Allah… aku benar-benar capek…”
Tanpa ia sadari, Raka sebenarnya terbangun. Ia melihat istrinya menangis diam-diam di lantai. Dadanya tiba-tiba terasa sesak lebih sesak daripada rasa gagal yang ia simpan selama ini.
Namun ia diam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Tidak tahu bagaimana meminta maaf. Tidak tahu bagaimana memulai.
Laki-laki yang kehilangan harga diri sering kali kehilangan keberanian untuk memperbaiki keadaan.
Keesokan harinya, saat Nadia hendak berangkat kerja, hujan turun deras. Ia tidak punya jas hujan. Ia hanya menggunakan jaket tipis yang sudah sobek di bagian belakang. Raka melihatnya dari jauh, tanpa berkata apa-apa. Hanya mengikuti langkah istrinya dengan mata yang tiba-tiba panas.
Saat pintu rumah tertutup, ia merasakan sesuatu yang selama ini ia abaikan: rasa bersalah.
Rasa bersalah yang menusuk begitu dalam.
Ia teringat saat pertama kali ia menikahi Nadia. Ia berjanji akan menjaganya. Akan membuatnya tersenyum. Akan membuatnya merasa aman. Tapi apa yang ia lakukan sekarang? Membiarkan perempuan itu menghidupi keluarga sendirian, bekerja sekeras itu, sementara ia hanya terpuruk di rumah.
Raka duduk, menundukkan kepala, dan untuk pertama kalinya sejak lama… ia menangis.
Ia merasa tidak pantas. Ia merasa gagal sebagai suami. Sebagai ayah. Sebagai laki-laki.
Di dalam isak yang bergetar, ia berjanji pada dirinya sendiri:
“Aku akan berubah… aku harus bangkit… Nadia tidak pantas menjalani hidup seberat ini sendirian.
Malam itu, ketika Nadia pulang dalam keadaan basah kuyup, Raka sudah menunggunya di meja makan. Matanya tampak merah, wajahnya tegang. Nadia terkejut, apalagi melihat meja makan yang tertata lebih rapi dari biasanya.
“Kamu masak?” tanya Nadia lirih.
Raka mengangguk. “Aku coba.”
Nadia meletakkan tasnya. Ada rasa hangat tiba-tiba menyusup ke dadanya. Tapi ia juga takut. Takut berharap. Takut kecewa lagi.
“Ada apa?” tanya Nadia akhirnya.
Raka menghela napas panjang, lalu menatap mata istrinya tatapan yang sudah lama tidak Nadia lihat.
“Nad…” suara Raka serak, “Maafkan aku.”
Nadia terdiam. Kata itu terasa asing di telinganya. Sudah bertahun-tahun ia tidak mendengarnya.
Raka melanjutkan, suaranya bergetar,
“Selama ini aku membiarkan kamu memikul semuanya sendirian. Aku egois. Aku tenggelam dalam rasa gagal, sampai aku tidak melihat betapa kamu tersakiti. Betapa kamu lelah. Betapa kamu butuh aku.”
Nadia merasakan air mata menggenang, namun ia menahannya.
“Aku… aku lihat kamu menangis semalam,” lanjut Raka, menunduk. “Dan itu menghancurkan aku. Aku merasa seperti laki-laki paling bodoh di dunia.”
Hening beberapa detik.
“Aku janji akan bangkit, Nad. Aku janji mulai besok aku akan cari pekerjaan. Apa saja. Asal bisa bantu kamu. Asal kamu tidak sendirian lagi.”
Nadia tidak bisa menahan tangis. Tubuhnya bergetar. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Raka bangkit dan mendekatinya, ragu-ragu, lalu memegang bahu istrinya.
“Nad… maafkan aku…” bisiknya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nadia menemukan bahu untuk menangis. Bukan bahu yang sempurna. Bukan bahu yang kuat. Tapi bahu suaminya yang akhirnya mau bangkit.
Sejak hari itu, kehidupan perlahan berubah.
Tidak dalam sekejap. Tidak semudah membalik telapak tangan.
Tapi berubah.
Raka bangun lebih pagi, menyiapkan sarapan, membantu anak-anak bersiap sekolah. Ia mulai mencari kerja lagi ke warung, ke bengkel, ke proyek bangunan, ke toko manapun yang membutuhkan tenaga. Ia tidak gengsi. Ia tidak lagi takut. Ia hanya ingin meringankan beban istrinya.
Dan ketika ia pulang, meski capek, ia selalu berkata, “Nad, kamu istirahat. Biar aku yang cuci piring.”
Nadia pun bekerja dengan hati lebih ringan. Karena kali ini, ia merasa ditemani. Ia tidak sendirian lagi. Ia punya partner. Ia punya suami yang kembali hidup.
Dan setiap malam, sebelum tidur, mereka saling bercerita. Sesuatu yang dulu hilang, sekarang kembali.
Kebersamaan. Cinta. Pengertian.
Nadia belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah lelah. Menjadi kuat berarti tetap berjalan meski hati terluka. Dan ia telah melakukannya bertahun-tahun.
Sementara Raka belajar bahwa seorang istri bukan diciptakan untuk memikul dunia sendirian. Istri adalah hati rumah tangga. Bila hatinya rapuh, seluruh rumah ikut rapuh.
Pada akhirnya, kehidupan tidak selalu indah. Tapi ketika dua orang saling mau memperbaiki diri, saling mau bangkit, dan saling menggenggam meski tangan gemetar, maka selalu ada cahaya meski kecil dalam setiap gelap.
Dan di balik punggung yang pernah sangat lelah itu, Nadia kini membawa harapan yang baru. Bukan hanya karena ia kuat. Tapi karena sekarang… ia tidak lagi memikul semuanya sendirian.
Musim berganti. Kehidupan keluarga kecil itu memang tidak berubah secara drastis, tidak tiba-tiba menjadi kaya atau serba cukup. Namun satu hal yang nyata: suasana rumah mereka berubah. Lebih hangat. Lebih hidup. Lebih penuh harapan.
Raka kini bekerja di bengkel kecil tidak jauh dari rumah. Gajinya memang tidak besar, tapi ada kebanggaan yang kembali tumbuh di dadanya setiap kali ia pulang dengan tangan berlumur oli tanda bahwa ia berjuang, tanda bahwa ia tidak lagi membiarkan istrinya berjalan sendirian.
Nadia masih bekerja di toko kelontong. Tetapi setiap kali ia pulang sekarang, ada wajah suami yang menyambutnya di pintu dengan senyum kecil dan secangkir teh hangat. Ada suara anak-anak yang berlari memeluknya. Ada piring-piring yang sudah dicuci. Ada rumah yang terasa seperti rumah lagi.
Dan yang lebih penting:
Ada hati yang jauh lebih tenang.
Suatu malam, mereka duduk berdua di teras rumah, setelah anak-anak tidur. Hanya ditemani suara jangkrik dan langit penuh bintang. Hening, tapi hening yang nyaman.
“Nad…” Raka memecah keheningan. Suaranya pelan, tulus, dan dalam. “Terima kasih sudah bertahan selama ini.”
Nadia menatap suaminya. “Aku bertahan bukan karena aku kuat, Ka. Aku bertahan karena aku percaya suatu hari kamu akan kembali… seperti sekarang.”
Raka meraih tangan istrinya, menggenggamnya dengan lembut genggaman yang dulu pernah hilang, tapi kini hangat kembali.
“Aku janji,” katanya, “aku nggak akan lepasin lagi beban itu kamu tanggung sendirian. Aku ada di sini. Aku selalu akan ada.”
Nadia tersenyum, kali ini bukan senyum yang dipaksakan, bukan senyum yang ia buat demi menenangkan sekitar. Ini adalah senyum yang datang dari hati yang akhirnya lega. Hati yang akhirnya merasa ditemani. Hati yang akhirnya pulih.
Ia memandang langit malam, lalu berbisik dalam hati:
“Ya Allah… terima kasih. Aku tidak lagi berjalan sendirian.”
Malam itu, angin berhembus pelan. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Nadia tidur tanpa membawa air mata.
Keesokan paginya, ia bangun dengan perasaan berbeda. Bukan lagi perempuan yang berdiri sendirian di tengah badai. Tetapi perempuan yang kini berjalan bersama seseorang yang kembali mengenggam tangannya erat.
Dan begitulah kehidupan…
Tidak selalu mudah, tidak selalu sesuai harapan.
Namun ketika dua hati memilih saling memperbaiki, bukan saling menyalahkan…
Ketika dua jiwa memilih untuk kembali berpegangan, bukan saling meninggalkan…
Maka cinta akan menemukan jalannya sendiri.
Nadia bukan lagi satu-satunya tulang punggung dalam rumah itu. Ia kini adalah hati yang diperjuangkan. Dan Raka adalah bahu yang akhirnya kembali bisa ia sandarkan.
Dalam perjalanan hidup mereka yang masih panjang, keduanya tahu satu hal dengan pasti:
Keluarga bukan tentang siapa yang terkuat.
Tapi tentang siapa yang mau tetap bertahan meski pernah sama-sama jatuh.
Dan itulah akhir yang mereka pilih akhir yang mereka perjuangkan bersama.
Akhir yang bahagia bukan karena tanpa luka.
Tapi karena mereka memilih untuk menyembuhkan luka itu… berdua.