Postingan

Harga dari Sebuah Keputusan

Harga dari Sebuah Keputusan  BAB 1 — ANAK YANG LAHIR BERSAMA KEKURANGAN Rama dilahirkan di sebuah rumah reyot yang bahkan lebih pantas disebut gubuk. Dindingnya dari papan lapuk, lantainya tanah, atapnya bocor di banyak bagian. Bila hujan turun, ember dan panci adalah perabot yang paling sibuk di rumah itu menampung air rembesan dari langit. Ia lahir tanpa tangisan harapan. Yang terdengar hanya suara ibunya yang terisak dan ayahnya yang menghela napas panjang, seolah mengerti bayi ini datang ke dunia yang salah. Ibunya, Sari, hanyalah tukang cuci baju keliling. Ayahnya, Bima, buruh angkut di pasar tradisional. Pendapatan mereka tidak pernah tetap. Hari ini makan, besok belum tentu. Hari ini punya uang, besok utang. Rama kecil tumbuh mengenal rasa lapar lebih dulu sebelum mengenal rasa bahagia. Di usia lima tahun, ia sudah bisa membedakan rasa nasi basi dan nasi segar. Ia tahu perbedaan mie instan dengan kuah penuh dan kuah bening. Ia mengerti kapan harus pura-pura kenyang agar adik...

BANGKITNYA SEORANG IBU YAMG DI TERLANTARKAN ANAK KANDUNG

 BANGKITNYA SEORANG IBU YANG DITERLANTARKAN ANAK KNDUNG  Bagian 1 — Ibu yang Selalu Menunggu di Pintu Di sebuah desa bernama Sukajadi, tinggallah seorang perempuan paruh baya bernama Sariwati, yang biasa dipanggil Mak Sari oleh warga desa. Rumahnya kecil, hanya berdinding papan dan berlantai tanah yang sudah mulai mengeras seperti semen saking lamanya diinjak. Di dapur, tungku kayu selalu menyala setiap pagi, bukan karena memasak makanan enak, tetapi sekadar merebus air untuk teh hangat penahan dingin. Mak Sari hidup sendirian. Satu-satunya keluarga yang ia miliki hanyalah anak semata wayangnya, Reno, yang kini tinggal di kota bersama istrinya. Reno jarang pulang amat jarang. Tetapi Mak Sari setiap malam tetap membuka jendela kecil di depan rumah, berharap melihat siluet anaknya muncul di tikungan jalan desa yang gelap. Satu kursi rotan tua selalu ia letakkan dekat pintu. Itulah tempat ia duduk setiap malam, menunggu. Kadang sampai kantuk menamparnya, kaki kesemutan, atau huja...

Runtuh,Tali Tidak Pernah Kalah

Runtuh, Tapi Tidak Pernah Kalah Di sebuah kota kecil bernama Naruangin, di pinggiran jalan pasar malam, berdirilah sebuah gerobak martabak sederhana. Di sinilah seorang pria bernama Rizal menaruh seluruh harapan dan masa depannya. Rizal bukan berasal dari keluarga berada. Sejak kecil ia sudah terbiasa bekerja keras demi bertahan hidup. Ayahnya meninggal saat ia masih duduk di kelas 5 SD karena kecelakaan kerja di proyek bangunan. Sejak itu, hidup Rizal dan ibunya berubah drastis. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci baju dari rumah ke rumah. Terkadang, dalam sehari hanya ada satu rumah yang mau memakai jasanya. Rizal tumbuh dalam kondisi serba kekurangan, namun itu tidak membuatnya menyerah. Justru, ia semakin ingin sukses agar suatu hari keluarganya tidak perlu lagi hidup hanya untuk bertahan. Ketika remaja, ia bekerja serabutan mulai dari membantu bengkel, membawa barang di pasar, hingga menjadi pelayan warung. Rizal bukan orang yang banyak bicara, tapi ia tekun, sabar, dan punya mimpi....

Luka Yang Mengajarkan Dewasa

LUKA YANG MENGAJARKAN DEWASA Raka bukanlah seseorang yang lahir dari keluarga kaya. Ayahnya seorang pensiunan sopir angkot, sementara ibunya membuka warung kecil di depan rumah untuk membantu kehidupan keluarga. Meski hidup sederhana, Raka tumbuh dengan didikan yang kuat tentang kejujuran dan kerja keras. Sejak kecil ayahnya selalu berkata,  “Harta paling mahal itu bukan uang, Rak. Tapi kepercayaan. Kalau orang sudah percaya sama kamu, pintu kehidupan akan terbuka.” Kata itu selalu menempel dalam pikiran Raka. Setelah lulus kuliah, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan teknologi di kota Lampung. Awalnya ia minder karena banyak rekan kerjanya berasal dari keluarga berada dan lulusan universitas ternama. Tapi Raka bukan tipe yang menyerah. Ia memutuskan belajar lebih keras daripada orang lain. Di minggu ketiga, ia mulai dekat dengan seorang rekan kerja bernama Bima. Bima berbeda dengan yang lain ia supel, lucu, tegas, dan pandai berbicara. Ia pula yang pertama kali menyapa Raka ke...

Perjuangan Seorang Ibu untuk Anaknya

Perjuangan Seorang Ibu untuk Anaknya  Namanya Mira, seorang wanita berusia 27 tahun yang sedang hamil 8 bulan. Perutnya semakin membesar, punggungnya sering sakit, dan kakinya membengkak setiap hari. Meski begitu, ia tetap bangun pukul 4 pagi untuk berjualan nasi uduk di pinggir jalan dekat terminal kota. Bukan karena ia ingin tapi karena ia harus. Suaminya, Rafi, pergi meninggalkannya sejak ia hamil 4 bulan. Alasan yang ia tinggalkan sangat menyakitkan Rafi memilih perempuan lain, perempuan yang katanya lebih “membahagiakan”. Sejak hari itu, Mira tidak pernah lagi menerima nafkah bahkan sekedar telepon. Bahkan keluarganya sendiri hanya berkata:  "Kalau kamu yang memilih menikah, kamu juga harus tanggung akibatnya." Tak ada yang peduli. Tak ada yang membantu.  Malam-Malam Menangis, Siang Tetap Bekerja Kadang saat malam, saat bayi dalam kandungan bergerak, Mira menangis sambil memegang perutnya. "Nak… hanya kamu yang membuat Mama bertahan." Ia ingin melahirkan normal...

Penjual Aneka Keripik yang Sukses dengan Banyak Cabang

 Penjual Aneka Keripik yang Sukses dengan Banyak Cabang Di sebuah kampung kecil di pinggiran kota Lampung, hiduplah seorang pria sederhana bernama Ardiansyah, atau biasa dipanggil Ardi. Ia berasal dari keluarga pas-pasan. Sejak kecil, ia sudah terbiasa membantu orang tuanya berdagang di pasar agar dapur tetap mengepul. Ibunya pandai membuat berbagai macam olahan makanan, terutama keripik pisang, keripik singkong balado, dan keripik kaca yang renyah. Namun, selama bertahun-tahun, makanan itu hanya dimakan untuk kebutuhan sendiri atau dijual sedikit-sedikit ke tetangga. Sampai suatu hari, ketika Ardi bekerja sebagai buruh harian, ia mendengar seorang pelanggan berkata: “Keripik Lampung terkenal enak, tapi susah sekali cari yang kualitas bagus.” Kalimat itu membekas di pikirannya. Awal Perjuangan Malam itu, Ardi pulang dan berbicara pada ibunya:  “Bu, bagaimana kalau keripik buatan ibu kita jual serius? Kita coba kemas rapi dan tawarkan ke toko-toko.” Ibunya ragu, tetapi cinta se...