Motor Dicuri Saat Belanja Sayur di Pasar, Kisah Sundari Menghidupi 3 Anak yang Menginspirasi


Ketika satu-satunya motor yang menjadi alat mencari nafkah hilang dicuri, Sundari harus memulai semuanya dari nol demi tiga anaknya.

Opening Kisah 
Pagi itu sebenarnya tidak ada yang istimewa.
Matahari baru saja naik sedikit di balik atap-atap rumah. Udara masih terasa sejuk, belum terlalu panas. Di ujung gang kecil itu, beberapa ibu sudah mulai menyapu halaman rumah masing-masing. Ada yang sesekali berhenti untuk berbincang sebentar dengan tetangga. Ada juga yang sibuk menjemur baju di tali jemuran yang dibentangkan dari pagar ke pohon jambu di samping rumah.
Suasana pagi berjalan seperti biasanya.
Di sebuah rumah kecil dengan cat tembok yang sudah mulai memudar, seorang perempuan sedang menata sayuran di teras.
Keranjang plastik berisi bayam, kangkung, cabai, dan tomat diletakkan di lantai. Tangannya bergerak cepat memilah sayuran yang masih segar dan yang mulai layu.
Namanya Sundari.
Usianya empat puluh lima tahun. Tubuhnya tidak besar, tetapi gerakannya lincah. Ia sudah terbiasa bangun sangat pagi dan memulai pekerjaan sebelum kebanyakan orang benar-benar memulai hari.
Di teras rumah itu juga, dua anak laki-laki sedang duduk di bangku kecil sambil mengenakan sepatu sekolah.
Yang satu sudah agak besar. Yang satu lagi sedikit lebih kecil.
Sementara anak bungsunya yang masih berusia tiga tahun duduk di lantai memainkan mobil-mobilan plastik. Rodanya sudah agak miring, tetapi anak itu tetap terlihat asyik mendorongnya ke sana kemari.
Sundari menoleh sebentar.
“Cepat dipakai sepatunya, Nak. Nanti telat,” katanya lembut.
Anak yang lebih besar mengangkat kepala.
“Bu… uang jajan?”
Sundari tersenyum kecil.
“Iya… sebentar.”
Ia merogoh kantong kecil di dasternya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan yang sudah agak kusut.
“Ini cukup ya. Jangan jajan yang aneh-aneh.”
“Iya Bu.”
Pagi seperti itu sudah menjadi rutinitas bagi Sundari.
Sederhana. Hampir tidak ada yang berubah dari hari ke hari.
Ia memang tidak punya banyak. Tetapi setidaknya kehidupan mereka masih berjalan seperti biasa.
Namun pagi itu, ada sesuatu yang belum Sundari ketahui.
Sebuah kejadian yang hanya berlangsung beberapa menit saja… nantinya akan mengubah cara hidupnya.

Bab 1 – Perkenalan Tokoh dan Kehidupan Awal

Sundari sudah menjadi janda hampir lima tahun.
Suaminya meninggal setelah sakit cukup lama. Awalnya hanya batuk yang tidak kunjung sembuh. Mereka sempat mengira itu hanya penyakit biasa. Namun lama-kelamaan kondisinya semakin melemah hingga akhirnya harus beberapa kali dirawat.
Saat itu Sundari dan suaminya sudah berusaha semampunya. Mereka berobat ke puskesmas, ke dokter, bahkan sempat dirawat di rumah sakit. Tabungan yang mereka miliki sedikit demi sedikit habis untuk biaya pengobatan. Beberapa barang di rumah juga sempat dijual.
Namun semua usaha itu ternyata tidak mampu mengubah keadaan.
Suaminya akhirnya meninggal, meninggalkan Sundari dengan tiga anak yang masih kecil.
Sejak saat itu, Sundari harus belajar menjalani hidup dengan cara yang berbeda.
Anak pertamanya waktu itu baru kelas empat SD. Anak kedua masih kelas tiga. Sementara anak bungsunya bahkan belum masuk sekolah.
Mereka juga tinggal cukup jauh dari keluarga besar. Orang tua Sundari berada di kampung yang jaraknya tidak dekat, sementara saudara-saudara suaminya sudah menyebar ke berbagai kota.
Karena itulah, dalam kesehariannya Sundari lebih banyak mengandalkan dirinya sendiri.
Untungnya sebelum meninggal, suaminya sempat membeli sebuah motor bekas.
Motor itulah yang kemudian menjadi awal dari usaha kecil Sundari untuk bertahan hidup.

Bab 2 – Awal Munculnya Masalah
Suatu pagi, seperti hari-hari sebelumnya, Sundari bersiap pergi ke pasar.
Langit masih agak gelap ketika ia bangun. Setelah salat subuh, ia langsung menyiapkan beberapa keranjang kosong yang biasa ia bawa untuk belanja sayur. Sementara itu anak bungsunya yang masih kecil sudah bangun lebih dulu dan terus menempel di dekatnya.
Hari itu Sundari tidak punya pilihan selain membawa anaknya ke pasar. Biasanya ada tetangga yang sesekali membantu menjaga, tetapi pagi itu semua orang tampaknya sedang sibuk dengan urusan masing-masing.
Anak kecil itu duduk di bagian depan motor, di antara setang dan badan Sundari. Supaya lebih aman, Sundari menaruh bantalan kecil agar anaknya tidak terlalu dekat dengan setang.
“Pegangan yang kuat ya,” kata Sundari sambil memastikan anaknya duduk dengan benar.
Anak itu hanya mengangguk kecil.
Motor tua itu kemudian melaju pelan meninggalkan gang rumah mereka. Jalanan masih relatif sepi. Hanya beberapa orang yang terlihat sedang berjalan menuju warung atau bersiap membuka toko.
Tidak lama kemudian Sundari sampai di pasar.
Seperti biasa, suasana pasar sudah ramai. Pedagang mulai menata barang dagangan mereka. Suara orang yang sedang tawar-menawar bercampur dengan teriakan pedagang yang menawarkan dagangannya.
“Ayo cabainya murah!”
“Bayam segar… bayam segar!”
Sundari sudah sangat terbiasa dengan suasana seperti itu.
Ia memarkir motornya di depan toko grosir sayur yang selama ini menjadi langganannya. Biasanya di sekitar tempat itu ada penjaga parkir yang membantu mengawasi kendaraan para pembeli.
Karena merasa tempat itu cukup aman, Sundari memarkir motornya begitu saja tanpa mengunci setang. Ia kemudian menggendong anak bungsunya dan masuk ke dalam toko.
“Pak, saya ambil bayam sama kangkung seperti biasa ya,” kata Sundari kepada pemilik toko.
“Oh iya Bu Sundari, silakan,” jawab pria itu sambil menunjuk tumpukan sayur di pojok toko.
Sundari mulai memilih sayuran yang akan ia bawa untuk berjualan hari itu. Ia mengambil bayam yang masih segar, kangkung yang batangnya masih hijau cerah, lalu beberapa cabai dan bawang.
Sambil memilih, ia juga sesekali menawar harga seperti biasanya.
Waktu berjalan cukup cepat.
Belum sampai sepuluh menit Sundari berada di dalam toko.
Tiba-tiba dari luar terdengar suara orang berteriak.
“Maling! Maling!”
Sundari sempat menoleh ke arah pintu, tetapi ia tidak terlalu memperhatikannya.
Di pasar, keributan kecil seperti itu kadang memang terjadi. Kadang ada orang yang berselisih, kadang juga ada yang kehilangan barang.
Namun beberapa detik kemudian suara itu

 terdengar semakin ramai.
“Motor! Motor dibawa maling!”
Kali ini Sundari mulai merasa tidak enak.
Entah kenapa, hatinya tiba-tiba terasa tidak tenang.
Ia segera meletakkan sayuran yang sedang ia pilih, lalu berjalan cepat menuju pintu toko.
Anaknya yang masih digendong ikut terbangun dari kantuknya karena suasana di luar mulai ribut.
Sundari melangkah keluar dengan cepat.
Matanya langsung mencari ke arah tempat ia memarkir motor tadi.
Dan saat itulah dadanya terasa seperti kosong.
Tempat parkir itu terlihat sama seperti tadi.
Namun satu hal yang berbeda.
Motor miliknya sudah tidak ada lagi.

Bab 3 – Konflik Mulai Berkembang
Sundari berdiri terpaku.
Seperti ada bagian dari dirinya yang tiba-tiba kosong. Beberapa detik ia hanya menatap tempat parkir itu tanpa benar-benar percaya dengan apa yang dilihatnya.
Penjaga parkir berlari mendekat dengan wajah panik.
“Ibu… tadi ada orang bawa motor ibu.”
Sundari menoleh perlahan.
“Motor saya?” suaranya pelan, hampir seperti bisikan.
“Iya Bu… saya tadi ke kamar mandi sebentar. Pas keluar, orang itu sudah hidupkan motor. Saya kira pemiliknya.”
Kaki Sundari terasa lemas.
Ia memegang tiang di depan toko supaya tidak jatuh. Anak kecil yang masih digendongnya mulai rewel karena suasana di sekitar tiba-tiba menjadi ramai.
Beberapa pedagang di sekitar toko ikut mendekat.
“Astaghfirullah…”
“Baru saja ya?”
“Iya… baru saja.”
Seorang bapak yang berdiri di dekat warung rokok berkata, “Tadi orangnya pakai jaket hitam. Cepat sekali bawa motornya.”
“Tadi lewat ke arah depan pasar,” tambah orang lain.
Namun semua informasi itu terasa seperti suara yang datang dari jauh. Sundari masih berdiri di tempat yang sama, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
Motor itu bukan sekadar kendaraan.
Motor itu adalah alatnya mencari nafkah.
Dengan motor itulah ia berkeliling menjual sayur setiap pagi. Tanpa motor itu, ia tidak tahu bagaimana harus bekerja.
Di kepalanya hanya ada satu pertanyaan yang terus berputar.
Kalau motor tidak ada… bagaimana aku kerja?
Penjaga parkir terlihat sangat gelisah.
“Saya benar-benar tidak lihat jelas, Bu. Saya kira itu ibu yang bawa motor.”
Sundari tidak menjawab.
Ia hanya mengangguk pelan.
Beberapa orang menyarankan agar Sundari melapor ke pos keamanan pasar. Ada juga yang berkata mungkin motornya masih bisa ditemukan jika segera dicari.
Namun pada saat itu Sundari merasa sangat bingung.
Ia bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.
Salah satu pedagang perempuan yang mengenalnya sejak lama mencoba menenangkan.
“Bu Sundari, coba ke pos satpam dulu. Siapa tahu ada yang lihat.”
Sundari mengangguk pelan.
Dengan langkah yang terasa berat, ia berjalan menuju pos keamanan pasar sambil tetap menggendong anaknya.
Di dalam pos itu ada dua petugas keamanan yang sedang duduk.
“Ada apa Bu?” tanya salah satu dari mereka.
Sundari mencoba menjelaskan.
“Motor saya… tadi diparkir di depan toko sayur. Sekarang sudah tidak ada.”
Petugas itu saling berpandangan.
“Kapan hilangnya?”
“Baru saja.”
Salah satu dari mereka keluar dari pos dan melihat ke arah parkiran. Beberapa orang yang tadi menyaksikan kejadian itu juga ikut menjelaskan apa yang mereka lihat.
Namun setelah beberapa menit, tidak ada perkembangan apa pun.
Motor itu sudah terlanjur dibawa pergi.
Pasar pagi seperti itu sangat ramai. Jalan di sekitar pasar juga memiliki banyak arah keluar.
Kalau seseorang sudah membawa motor pergi beberapa menit sebelumnya, akan sangat sulit untuk mengejarnya.
Sundari duduk di kursi kayu di depan pos keamanan.
Anaknya yang tadi rewel sekarang mulai tertidur di pelukannya.
Ia menatap lantai dengan pikiran yang terasa penuh.
Ia tidak tahu harus pulang dengan apa.
Sayuran yang tadi ia pilih juga masih tertinggal di toko.
Dan yang paling membuatnya takut adalah satu hal yang terus muncul di kepalanya.
Besok pagi… ia tidak punya motor untuk berjualan.
Seorang pedagang yang tadi ikut melihat kejadian itu mendekat.
“Bu Sundari, sabar ya. Mungkin nanti ada kabar.”
Sundari hanya mengangguk pelan.
Beberapa orang juga mencoba membantu menanyakan ke pedagang lain di sekitar pasar. Namun tidak ada yang benar-benar melihat dengan jelas siapa yang membawa motor itu.
Semua terjadi terlalu cepat.
Akhirnya Sundari kembali ke toko tempat ia tadi membeli sayur.
Pemilik toko langsung menyapanya.
“Motornya belum ketemu?”
Sundari menggeleng.
Pria itu menghela napas pelan.
“Sayurnya masih di sini, Bu.”
Sundari melihat tumpukan sayur yang tadi sudah ia pilih. Namun saat itu ia tidak lagi memikirkan sayuran itu.
Ia bahkan tidak tahu bagaimana harus membawanya pulang.
Untuk beberapa saat ia hanya berdiri di depan toko.
Pasar masih ramai seperti biasa.
Orang-orang tetap berbelanja, pedagang tetap berteriak menawarkan dagangan mereka, dan kehidupan berjalan seperti tidak ada yang berubah.
Namun bagi Sundari, pagi itu terasa sangat berbeda.
Dalam waktu hanya beberapa menit, sesuatu yang selama ini menjadi pegangan hidupnya tiba-tiba hilang begitu saja.

Bab 4 – Titik Terendah
Hari itu Sundari pulang dari pasar dengan langkah pelan.
Tangannya menggandeng anak bungsunya yang masih kecil. Anak itu berjalan di sampingnya sambil sesekali menoleh ke arah ibunya yang tampak lebih diam dari biasanya.
Jalan menuju rumah terasa lebih panjang dari biasanya.
Biasanya Sundari pulang dari pasar dengan motor yang penuh dengan sayur. Keranjang di belakang motor sering kali sudah penuh dengan bayam, kangkung, cabai, dan berbagai bahan dapur lainnya.
Namun hari itu berbeda.
Tangannya kosong.
Motor yang biasanya ia dorong keluar dari parkiran pasar sudah tidak ada lagi.
Sepanjang perjalanan pulang, Sundari hampir tidak banyak berbicara. Pikirannya terasa penuh, tetapi sekaligus kosong. Ia mencoba memahami apa yang baru saja terjadi, namun semuanya terasa seperti mimpi buruk yang datang terlalu cepat.
Anaknya yang kecil sesekali bertanya dengan suara polos.
“Bu… kita jalan terus?”
Sundari hanya mengangguk.
“Iya Nak.”
Ia tidak tahu harus menjelaskan apa.
Bahkan untuk dirinya sendiri pun, kejadian tadi masih terasa sulit dipercaya.
Beberapa orang yang lewat di jalan sempat memperhatikan Sundari. Ada yang mengenalnya sebagai penjual sayur yang sering berkeliling di sekitar perumahan.
Namun tidak ada yang benar-benar tahu apa yang baru saja terjadi.
Sundari akhirnya sampai di depan rumah kecilnya.
Ia membuka pintu dengan pelan lalu masuk ke dalam.
Rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Biasanya setiap pagi setelah pulang dari pasar, Sundari akan langsung menata sayur-sayuran yang baru dibelinya. Ia memisahkan mana yang akan dibawa berkeliling dan mana yang akan disimpan terlebih dahulu.
Namun hari itu tidak ada yang bisa ia lakukan.
Ia hanya duduk di kursi kayu di ruang depan.
Tangannya terkulai di pangkuannya.
Anak bungsunya kemudian duduk di lantai sambil memainkan mobil-mobilan plastik yang biasa ia bawa ke mana-mana.
Rodanya sudah agak miring, tetapi anak itu tetap terlihat asyik mendorongnya ke sana kemari.
Sundari memandang ruangan kecil itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Rumah yang sederhana itu selama ini selalu terasa cukup baginya.
Tidak mewah, tetapi masih bisa menjadi tempat mereka berteduh.
Namun pagi itu, ia merasa seperti ada sesuatu yang hilang dari kehidupannya.
Beberapa jam kemudian, anak-anaknya pulang dari sekolah.
Mereka masuk ke rumah dengan wajah ceria seperti biasa.
“Bu… Bu!”
Anak yang paling besar langsung mencari ibunya.
“Bu, hari ini ada tugas dari sekolah,” katanya sambil membuka tas.
Namun kemudian ia berhenti.
“Bu… motornya mana?”
Biasanya motor Sundari selalu terparkir di depan rumah.
Sundari tidak langsung menjawab.
Beberapa detik ia hanya menatap anak-anaknya.
Lalu dengan suara pelan ia berkata,
“Motor kita… hilang.”
Anak-anak itu saling berpandangan.
Mereka belum sepenuhnya mengerti apa arti kehilangan itu. Namun mereka bisa merasakan dari wajah ibunya bahwa itu bukan kabar baik.
Anak kedua bertanya pelan,
“Hilang bagaimana, Bu?”
“Dicuri di pasar,” jawab Sundari singkat.
Ruangan itu menjadi lebih sunyi.
Anak-anaknya tidak banyak bertanya lagi.
Mereka hanya duduk di dekat ibunya.
Malam hari tiba lebih cepat dari biasanya.
Lampu rumah dinyalakan ketika langit mulai gelap.
Sundari masih duduk di tempat yang sama.
Ia mencoba menghitung kembali uang yang tersisa di rumah.
Jumlahnya tidak banyak.
Beberapa lembar uang puluhan ribu yang disimpan di dalam dompet kecil.
Itu pun sebenarnya sudah dipakai sebagian untuk kebutuhan sehari-hari.
Di kepalanya mulai muncul berbagai pertanyaan.
Kalau tidak berjualan… mereka makan dari mana?
Ia mencoba memikirkan kemungkinan lain.
Namun semua terasa sulit.
Motor yang hilang itu bukan sekadar alat transportasi.
Motor itu adalah alatnya bekerja.
Tanpa motor itu, ia tidak bisa pergi ke pasar setiap pagi.
Ia juga tidak bisa berkeliling menjual sayur ke komplek perumahan seperti biasanya.
Belum lagi kebutuhan anak-anak.
Biaya sekolah.
SPP yang bulan lalu saja masih tertunda.
Buku pelajaran.
Uang jajan.
Semua terasa menumpuk di pikirannya.
Malam itu Sundari hampir tidak tidur.
Ia berbaring di kasur tipis di kamar bersama anak bungsunya.
Langit-langit rumah terlihat gelap.
Suara kipas angin kecil berputar pelan di sudut ruangan.
Namun pikirannya terus berjalan ke mana-mana.
Ia teringat suaminya.
Jika suaminya masih ada, mungkin semuanya tidak akan terasa seberat ini.
Namun sekarang ia harus memikirkan semuanya sendiri.
Ia memejamkan mata beberapa kali, tetapi tetap sulit untuk benar-benar tidur.
Kadang ia terbangun hanya karena memikirkan hal yang sama berulang kali.
Motor itu.
Pekerjaan.
Anak-anak.
Dan masa depan mereka.
Untuk pertama kalinya sejak suaminya meninggal, Sundari merasa benar-benar bingung harus memulai dari mana lagi.
Selama ini ia selalu mencoba kuat.
Setelah suaminya pergi, ia belajar berdiri sendiri.
Ia berjualan sayur.
Bangun pagi.
Pergi ke pasar.
Bekerja setiap hari demi anak-anaknya.
Namun kehilangan motor itu seperti memutus satu-satunya jalan yang selama ini ia punya.
Sundari memandang wajah anak-anaknya yang sudah tertidur.
Mereka tidur dengan tenang tanpa mengetahui seberapa berat pikiran ibunya malam itu.
Sundari menarik napas pelan.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok pagi.
Namun satu hal yang ia tahu.
Besok ia tetap harus bangun.
Tetap harus mencari cara.
Apa pun caranya.

Bab 5 – Usaha untuk Bangkit
Beberapa hari setelah kejadian di pasar itu, kehidupan Sundari terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.
Pagi hari yang dulu selalu dimulai dengan kesibukan menyiapkan keranjang sayur, kini terasa jauh lebih sepi. Tidak ada lagi suara motor yang dipanaskan di depan rumah, tidak ada lagi rutinitas berangkat ke pasar sebelum matahari benar-benar terbit.
Beberapa hari pertama, Sundari lebih banyak berada di rumah.
Ia masih mencoba menenangkan pikirannya yang sejak kejadian itu terasa penuh. Sesekali ia duduk di teras sambil memandang jalan kecil di depan rumah. Jalan yang biasanya ia lewati setiap pagi untuk memulai pekerjaannya.
Anak-anaknya tetap berangkat sekolah seperti biasa.
Sundari berusaha tetap terlihat tenang di depan mereka, meskipun sebenarnya di dalam hatinya masih ada rasa khawatir yang belum hilang.
Suatu pagi, ketika Sundari sedang menyapu halaman rumah, seseorang memanggil dari depan pagar.
“Bu Sundari…”
Sundari menoleh.
Di depan rumah berdiri seorang perempuan yang cukup ia kenal. Namanya Bu Rini, salah satu pelanggan lama yang sering membeli sayur darinya.
“Masuk Bu,” kata Sundari sambil membuka pagar.
Bu Rini masuk dan duduk di kursi plastik yang ada di teras.
“Saya dengar dari tetangga… motornya hilang ya?” katanya pelan.
Sundari mengangguk.
“Iya Bu. Dicuri di pasar.”
Bu Rini menghela napas pelan.
“Ya Allah… kasihan sekali.”
Beberapa saat mereka hanya duduk diam.
Bu Rini kemudian berkata dengan hati-hati.
“Bu Sundari… kalau ibu tidak keberatan, sebenarnya saya ingin menawarkan sesuatu.”
Sundari menatapnya.
“Di rumah saya sekarang lagi butuh orang untuk membantu cuci dan setrika. Biasanya saya kerjakan sendiri, tapi sekarang pekerjaan di rumah agak banyak.”
Sundari tidak langsung menjawab.
Pekerjaan seperti itu tentu berbeda dari berjualan sayur keliling seperti yang biasa ia lakukan.
Namun saat itu, ia sadar bahwa ia tidak punya banyak pilihan.
“Kerjanya tidak terlalu lama,” lanjut Bu Rini. “Pagi sampai siang saja.”
“Berapa kali seminggu, Bu?” tanya Sundari pelan.
“Tiga kali. Senin, Rabu, sama Jumat.”
Sundari berpikir sejenak.
Ia membayangkan kebutuhan anak-anaknya. Beras di rumah yang semakin menipis. Uang yang tersisa juga tidak banyak.
Akhirnya ia mengangguk.
“Iya Bu… saya mau.”
Bu Rini tersenyum lega.
“Alhamdulillah. Nanti mulai minggu depan saja ya.”
Sejak hari itu, Sundari mulai menjalani rutinitas yang berbeda.
Setiap pagi ia berjalan ke rumah Bu Rini yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. 
Pekerjaannya tidak terlalu berat, tetapi tetap membutuhkan tenaga.

Ia mencuci pakaian, menyetrika, kadang juga membantu membersihkan rumah.
Bu Rini memperlakukannya dengan baik.
Sesekali ia juga memberikan makanan untuk dibawa pulang.
Walaupun upah yang diterima Sundari tidak terlalu besar, tetapi setidaknya cukup untuk membeli kebutuhan dapur.
Hari demi hari mulai berjalan.
Sundari juga mulai membantu di rumah tetangga Bu Rini yang sesekali membutuhkan bantuan mencuci atau membersihkan rumah.
Pekerjaan itu tidak selalu ada setiap hari.
Namun setiap kali mendapatkan upah, Sundari selalu melakukan satu hal yang sama.
Ia menyisihkan sedikit uang.
Seribu rupiah.
Kadang dua ribu.
Kadang lima ribu jika sedang ada lebih.
Uang itu tidak ia gunakan untuk belanja.
Ia menyimpannya di dalam sebuah kaleng biskuit yang ada di lemari kecil di kamarnya.
Setiap kali memasukkan uang ke dalam kaleng itu, Sundari selalu menutupnya dengan hati-hati.
Seolah-olah ia sedang menyimpan sesuatu yang sangat berharga.
Beberapa minggu berlalu.
Kaleng itu mulai terasa sedikit lebih berat.
Suatu malam setelah anak-anaknya tidur, Sundari membuka kaleng itu di atas meja kecil.
Ia mengeluarkan uang yang sudah terkumpul lalu menghitungnya satu per satu.
Jumlahnya memang belum terlalu banyak.
Namun cukup membuatnya merasa sedikit lebih tenang.
Sundari menatap uang itu beberapa saat.
Dalam pikirannya mulai muncul sebuah harapan yang selama ini ia simpan.
“Mungkin… kalau ditambah sedikit lagi, bisa beli motor bekas,” gumamnya pelan.
Ia tahu motor itu mungkin tidak akan sebagus motor yang dulu hilang.
Namun baginya, yang penting motor itu masih bisa dipakai untuk bekerja.
Setelah menghitung uang itu, Sundari memasukkannya kembali ke dalam kaleng biskuit.
Ia menutupnya dengan perlahan lalu menyimpannya kembali di dalam lemari.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah kejadian di pasar, Sundari merasa sedikit lebih tenang.
Perjalanannya memang belum selesai.
Namun setidaknya ia mulai menemukan satu langkah kecil untuk bangkit kembali.

Bab 6 – Perubahan Mulai Terlihat
Waktu berjalan pelan.
Hari berganti minggu, dan minggu perlahan berubah menjadi bulan. Kehidupan Sundari tidak lagi sama seperti sebelumnya, tetapi ia mulai terbiasa dengan rutinitas barunya.
Setiap pagi ia bangun lebih awal, seperti kebiasaan yang sudah melekat sejak lama. Bedanya, kini ia tidak lagi menyiapkan keranjang sayur atau memanaskan motor di depan rumah.
Setelah salat subuh, Sundari biasanya menyiapkan sarapan sederhana untuk anak-anaknya. Kadang hanya nasi dengan telur dadar atau tempe goreng. Bagi Sundari, yang penting anak-anaknya bisa berangkat sekolah dengan perut yang terisi.
Setelah anak-anak berangkat, Sundari berjalan menuju rumah Bu Rini.
Jaraknya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari rumahnya. Jalan kecil yang ia lewati sudah sangat familiar. Beberapa tetangga bahkan sering menyapanya ketika ia lewat.
“Pagi Bu Sundari,” kata seorang ibu yang sedang menyiram tanaman di depan rumah.
“Pagi Bu,” jawab Sundari sambil tersenyum.
Di rumah Bu Rini, pekerjaan Sundari sudah menunggunya. Tumpukan pakaian yang harus dicuci, pakaian yang harus disetrika, atau lantai yang perlu dibersihkan.
Sundari menjalani semuanya dengan sabar.
Ia tidak pernah mengeluh, meskipun pekerjaannya kadang cukup melelahkan.
Bu Rini juga memperlakukannya dengan baik. Sesekali ia mengajak Sundari berbincang di dapur setelah pekerjaan selesai.
Kadang Bu Rini juga memberikan makanan yang bisa dibawa pulang.
“Ini bawa saja untuk anak-anak di rumah,” katanya sambil menyerahkan beberapa potong lauk yang masih hangat.
Sundari selalu menerimanya dengan rasa terima kasih.
Pekerjaan di rumah Bu Rini memang tidak membuatnya langsung memiliki banyak uang. Namun setidaknya ia masih bisa memenuhi kebutuhan dasar keluarganya.
Selain membantu di rumah Bu Rini, Sundari juga mulai dikenal oleh beberapa tetangga di sekitar sana.
Ada yang memintanya membantu mencuci pakaian.
Ada juga yang sesekali meminta bantuan membersihkan rumah.
Pekerjaan itu tidak selalu ada setiap hari, tetapi Sundari tidak pernah menolaknya selama ia masih sanggup melakukannya.
Sedikit demi sedikit, ia mulai kembali merasakan bahwa hidup masih bisa berjalan.
Setiap kali menerima upah dari pekerjaannya, Sundari tetap melakukan kebiasaan yang sama seperti sebelumnya.
Ia menyisihkan sebagian kecil dari uang yang ia terima.
Seribu rupiah.
Kadang dua ribu.
Kadang lima ribu.
Jumlahnya memang kecil, tetapi Sundari tidak pernah melewatkan kebiasaan itu.
Uang tersebut selalu ia simpan di dalam kaleng biskuit yang ada di lemari kamarnya.
Kaleng itu kini menjadi semacam tempat menyimpan harapan.
Setiap kali menutup kaleng itu, Sundari merasa seperti sedang menjaga sesuatu yang penting untuk masa depannya.
Bulan demi bulan berlalu.
Suatu sore, ketika matahari mulai turun dan anak-anaknya sudah selesai bermain di halaman, Sundari membuka kembali kaleng biskuit itu.
Ia mengeluarkan uang yang sudah terkumpul.
Lembar demi lembar ia hitung dengan pelan.
Jumlahnya memang belum terlalu besar.
Namun lebih banyak dari yang ia bayangkan sebelumnya.
Sundari terdiam sejenak.
Di dalam pikirannya mulai muncul sebuah keberanian yang sebelumnya hanya menjadi angan-angan.
“Mungkin… sudah cukup untuk mencari motor bekas,” gumamnya pelan.
Pikiran itu membuat hatinya sedikit berdebar.
Ia tahu motor itu mungkin tidak akan sebagus motor yang dulu hilang. Bisa jadi kondisinya sudah cukup tua.
Namun bagi Sundari, yang penting motor itu masih bisa digunakan.
Motor itu akan menjadi jalan baginya untuk kembali bekerja seperti dulu.
Malam itu, setelah anak-anak tidur, Sundari masih duduk di ruang depan sambil memikirkan rencana itu.
Ia tidak ingin terlalu terburu-buru.
Namun untuk pertama kalinya sejak kejadian di pasar beberapa bulan lalu, ia merasa ada harapan yang mulai terlihat.
Bukan harapan yang besar.
Hanya sebuah langkah kecil.
Tetapi bagi Sundari, langkah kecil itu sudah cukup untuk membuatnya kembali percaya bahwa hidup masih bisa bergerak ke arah yang lebih baik.

Bab 7 – Akhir Kisah
Beberapa minggu setelah malam ketika Sundari menghitung uang di dalam kaleng biskuit itu, ia mulai berani mengambil langkah berikutnya.
Pagi itu ia bangun lebih awal dari biasanya. Setelah menyiapkan sarapan sederhana untuk anak-anaknya, ia duduk sebentar di ruang depan sambil memandangi kaleng biskuit yang kini terasa lebih berat dari sebelumnya.
Ia membuka kaleng itu perlahan.
Lembar demi lembar uang yang sudah ia kumpulkan selama beberapa bulan terakhir ia keluarkan dengan hati-hati. Sebagian adalah uang ribuan, sebagian lagi uang lima ribuan dan sepuluh ribuan yang ia sisihkan dari hasil bekerja di rumah Bu Rini dan beberapa tetangga lainnya.
Sundari menghitung semuanya sekali lagi.
Jumlahnya memang tidak terlalu banyak, tetapi cukup untuk membuatnya berani mencoba mencari motor bekas.
Ia menarik napas pelan.
Hari itu ia memutuskan untuk pergi ke pasar motor bekas yang tidak terlalu jauh dari daerah tempat tinggalnya.
Sundari tidak pergi sendirian. Ia meminta bantuan seorang tetangga yang memiliki sepeda motor untuk mengantarnya ke sana.
Perjalanan menuju tempat itu terasa cukup menegangkan baginya.
Selama di perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia khawatir uang yang ia bawa tidak cukup. Ia juga takut jika motor yang dijual ternyata tidak layak dipakai.
Namun ketika mereka sampai di sana, Sundari mencoba menenangkan dirinya.
Beberapa motor bekas diparkir berjajar di halaman sebuah bengkel kecil.
Ada yang terlihat masih cukup bagus. Ada juga yang sudah terlihat tua dan kusam.
Sundari berjalan pelan di antara motor-motor itu.
Seorang pria yang tampaknya pemilik tempat tersebut mendekatinya.
“Mau cari motor, Bu?” tanyanya ramah.
Sundari mengangguk pelan.
“Iya Pak… yang penting masih bisa dipakai.”
Pria itu kemudian menunjukkan beberapa pilihan motor bekas yang ada di sana.
Setelah melihat beberapa motor, akhirnya perhatian Sundari tertuju pada sebuah motor yang terlihat sederhana namun masih cukup terawat.
Warnanya tidak terlalu mencolok. Catnya juga sudah sedikit pudar di beberapa bagian.
Namun ketika mesin motor itu dinyalakan, suaranya masih terdengar cukup halus.
Sundari berdiri di dekat motor itu sambil memandanginya beberapa saat.
Di dalam hatinya muncul perasaan yang sulit dijelaskan.
Motor itu mungkin tidak sempurna.
Namun bagi Sundari, motor itu terlihat seperti sebuah kesempatan baru.
Setelah berbicara cukup lama dengan pemilik bengkel, akhirnya mereka sepakat dengan harga yang masih bisa dijangkau oleh Sundari.
Uang yang selama ini ia kumpulkan dengan sabar akhirnya ia keluarkan dari dalam tas kecil yang ia bawa.
Tangannya sedikit gemetar ketika menyerahkan uang itu.
Namun di dalam hatinya ada perasaan lega yang perlahan muncul.
Hari itu Sundari pulang dengan sebuah motor bekas yang kini menjadi miliknya.
Ketika motor itu sampai di depan rumah, anak-anaknya langsung berlari keluar.
“Bu! Kita punya motor lagi!” teriak anak yang paling besar dengan wajah sangat gembira.
Sundari tersenyum melihat mereka.
Ia tidak berkata banyak, tetapi hatinya terasa hangat melihat kebahagiaan anak-anaknya.
Beberapa hari setelah itu, Sundari mulai mencoba kembali ke rutinitas lamanya.
Ia pergi ke pasar pagi-pagi sekali.
Langkahnya masih terasa sedikit canggung pada awalnya, tetapi lama-lama semuanya terasa kembali familiar.
Suasana pasar yang ramai.
Suara pedagang yang saling menawarkan barang.
Dan tumpukan sayur yang kembali ia pilih satu per satu.
Namun kali ini ada satu perbedaan kecil.
Sundari tidak lagi merasa setakut dulu.
Ia sudah melewati masa yang jauh lebih sulit.
Setelah membeli sayur, Sundari kembali berjualan seperti dulu.
Awalnya ia hanya berkeliling di sekitar gang tempat tinggalnya.
Namun perlahan-lahan pelanggan lamanya mulai kembali membeli.
“Ibu Sundari jualan lagi ya?” tanya salah satu ibu yang biasa membeli sayur darinya.
“Iya Bu,” jawab Sundari sambil tersenyum.
Beberapa orang bahkan terlihat senang melihatnya kembali berjualan.
Hari demi hari berjalan.
Perlahan kehidupan Sundari mulai kembali ke jalurnya.
Suatu hari, seorang tetangga yang sedang membeli sayur berkata kepadanya,
“Bu Sundari, kenapa tidak buka warung sayur saja di rumah?”
Sundari sempat terdiam.
Ide itu sebenarnya cukup menarik.
Jika ia membuka warung kecil di rumah, ia tidak harus selalu berkeliling setiap hari.
Beberapa hari kemudian, Sundari mencoba menata meja kecil di teras rumahnya.
Di atas meja itu ia menyusun sayuran yang baru ia beli dari pasar.

Bayam.
Kangkung.
Cabai.
Bawang.
Tomat.
Tidak banyak, tetapi cukup untuk memulai.
Pagi pertama ketika warung kecil itu dibuka, beberapa ibu dari sekitar rumah mulai datang.
“Bu Sundari, ada bayam?”
“Ada Bu, baru dari pasar,” jawab Sundari.
Sedikit demi sedikit, warung kecil itu mulai dikenal oleh tetangga sekitar.
Beberapa bulan kemudian, meja kecil itu tidak lagi cukup.
Sundari menambahkan beberapa rak sederhana untuk menaruh barang dagangan.
Kini bukan hanya sayur yang dijual.
Ada telur.
Minyak goreng.
Mie instan.
Bahkan beras dalam kemasan kecil.
Suatu pagi seorang pelanggan berkata sambil tersenyum,
“Bu Sundari sekarang sudah sukses ya.”
Sundari hanya tertawa kecil.
“Sukses apa, Bu… masih belajar hidup saja.”
Ia tahu hidupnya tidak selalu mudah.
Namun dari semua yang sudah ia lalui, Sundari belajar satu hal yang tidak pernah ia lupakan.
Kadang sesuatu yang hilang memang terasa sangat menyakitkan.
Namun di balik kehilangan itu, sering kali ada jalan baru yang perlahan terbuka.

Epilog 
Beberapa tahun setelah kejadian itu, kehidupan Sundari memang tidak berubah menjadi mudah sepenuhnya.
Ia masih bangun pagi, masih pergi ke pasar, dan masih bekerja hampir setiap hari seperti dulu. Namun sekarang ada satu hal yang berbeda.
Ia tidak lagi merasa sendirian menghadapi hidup.
Warung kecil di teras rumahnya perlahan menjadi tempat yang ramai setiap pagi. Beberapa tetangga datang membeli sayur, ada juga yang sekadar mampir untuk berbincang sebentar sebelum memulai aktivitas mereka.
Anak-anak Sundari juga tumbuh semakin besar.
Mereka mulai membantu ibunya menata barang dagangan atau menjaga warung ketika Sundari harus pergi ke pasar.
Motor yang dulu hilang memang tidak pernah kembali.
Namun dari kejadian itu, Sundari justru menemukan jalan baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Kadang hidup memang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Namun selama seseorang masih mau berusaha, selalu ada kemungkinan bagi kehidupan untuk bergerak ke arah yang lebih baik.

Pesan untuk Pembaca
Kisah Sundari mengingatkan kita bahwa hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita rencanakan.
Kadang sesuatu yang selama ini menjadi pegangan hidup bisa hilang dalam waktu yang sangat singkat. Saat itu terjadi, wajar jika seseorang merasa bingung, takut, bahkan hampir menyerah.
Namun dari perjalanan Sundari, kita bisa melihat bahwa kekuatan seseorang sering kali muncul justru ketika keadaan terasa paling sulit.
Ia tidak memiliki banyak pilihan, tetapi ia tetap mencoba melakukan apa yang bisa ia lakukan—meskipun hanya langkah kecil setiap hari.
Sedikit demi sedikit, langkah kecil itulah yang akhirnya membawa perubahan dalam hidupnya.
Karena pada akhirnya, selama seseorang masih mau berusaha dan tidak berhenti mencoba, selalu ada kemungkinan bagi kehidupan untuk menemukan jalannya kembali.








Postingan populer dari blog ini

Listia dan Seni Berdamai dengan Diri Sendiri

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan