Perempuan yang Bertahan Saat Doanya Belum Dijawab

 

Sebuah kisah tentang lelah yang dipendam, harap yang dijaga, dan hati yang memilih tetap tinggal

Setiap pagi, Siti selalu bangun sebelum matahari terbit. Tangannya terbiasa menanak nasi, menyiapkan dagangan, lalu mendorong gerobak kecil ke ujung gang. Tidak ada plang besar, tidak ada lampu terang, hanya keyakinan bahwa hari ini harus tetap dijalani.
Dulu, Siti punya mimpi besar. Ia ingin hidupnya berubah, ingin anak-anaknya sekolah tinggi, ingin keluarganya tak lagi dihitung sebagai “orang kecil”. Tapi hidup tak selalu ramah. Suaminya sakit bertahun-tahun, tabungan habis, dan perlahan satu per satu mimpi itu terasa menjauh.
Sering kali Siti bertanya dalam hati,
“Kenapa aku terus berusaha, tapi hidup tak juga mudah?”
Tak ada yang memuji kegigihannya. Tak ada yang tahu betapa sering ia menahan lapar agar anaknya bisa makan. Bahkan saat dagangannya tak laku, ia tetap tersenyum, seolah semuanya baik-baik saja.
Suatu hari, hujan turun deras. Gerobaknya basah, dagangan tersisa banyak. Siti duduk di teras rumah sambil menunduk. Air hujan bercampur air mata. Untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar lelah.
Namun di saat itulah anak bungsunya datang dan berkata pelan,
“Ibu jangan sedih ya… aku bangga punya ibu yang kuat.”
Kalimat itu sederhana. Tapi rasanya seperti cahaya di ruang gelap.
Siti tersadar, mungkin hidupnya belum berubah. Tapi dirinya telah menjadi alasan orang lain bertahan.
Hari demi hari berlalu. Dagangannya mulai dikenal. Pelan, tapi pasti. Tidak instan. Tidak viral. Tapi nyata. Siti belajar bahwa keberhasilan bukan selalu tentang tepuk tangan, melainkan tentang tetap berdiri saat tak ada yang melihat.
Kini, Siti masih mendorong gerobak yang sama. Tapi langkahnya berbeda. Ada keyakinan di dadanya bahwa setiap usaha yang jujur, setiap air mata yang ditahan, tidak pernah benar-benar sia-sia.
Karena terkadang,
kita tidak diciptakan untuk hidup mudah—
tetapi untuk hidup bermakna.

BAB 1 Hari-hari yang Tidak Pernah Dipilih

Tidak ada yang benar-benar tahu kapan hidup seseorang mulai terasa berat.
Bukan pada hari ia kehilangan.
Bukan pula saat ia jatuh miskin.
Melainkan saat ia bangun setiap pagi dengan dada sesak, tetapi tetap harus berjalan seolah semuanya baik-baik saja.
Begitulah hari-hari Siti dimulai.
Setiap subuh datang, ia selalu terjaga lebih dulu dibanding bunyi ayam di belakang rumah. Bukan karena ia rajin, bukan pula karena ia bersemangat. Tubuhnya hanya sudah terbiasa bangun sebelum rasa lelah benar-benar pergi. Tidurnya tipis. Pikirannya tidak pernah benar-benar istirahat.
Di dapur sempit yang dindingnya mulai mengelupas, Siti menyalakan kompor dengan hati-hati. Api biru menyala kecil. Sama kecilnya dengan harapan yang ia simpan pagi itu.
Ia menanak nasi.
Ia menyiapkan bahan dagangan.
Ia bekerja dalam diam.
Tak ada lagu. Tak ada radio. Tak ada suara lain selain gesekan sendok dan desis minyak panas. Keheningan itu bukan karena ia suka sunyi, melainkan karena sunyi sudah menjadi teman paling setia.
Kadang, dalam keheningan itu, Siti berhenti sejenak. Tangannya menggantung di udara. Matanya menatap kosong ke dinding.
Ia tidak sedang melamun.
Ia hanya sedang menahan sesuatu yang tidak bisa ia beri nama.
Hidupnya tidak selalu seperti ini.
Dulu, Siti juga pernah tertawa tanpa takut esok hari. Pernah bermimpi tanpa dihitung-hitung. Pernah percaya bahwa hidup akan berjalan lurus jika ia berbuat baik dan bekerja keras.
Tapi hidup tidak pernah bertanya apakah seseorang siap atau tidak.
Semuanya berubah perlahan, lalu sekaligus.
Saat suaminya mulai sering sakit.
Saat penghasilan tidak lagi cukup.
Saat tabungan menipis tanpa suara.
Saat satu per satu kebutuhan berubah menjadi beban.
Tidak ada peristiwa besar.
Tidak ada drama yang bisa diceritakan dengan bangga.
Hanya hari-hari yang makin berat.
Siti belajar satu hal penting:
kesulitan tidak selalu datang dengan gaduh.
Kadang ia datang diam-diam, lalu tinggal.
Pagi itu, setelah semuanya siap, Siti mendorong gerobaknya keluar rumah. Roda tua itu berdecit pelan, seolah ikut mengeluh bersama langkahnya. Jalanan masih basah oleh embun. Udara dingin menusuk, tapi Siti sudah terlalu terbiasa untuk mengeluh.
Ia berjalan menunduk.
Bukan karena rendah diri.
Tapi karena beban di kepalanya terlalu ramai.
Di kepalanya, selalu ada daftar panjang:
Uang belanja besok
Biaya sekolah
Obat suami
Dagangan yang belum tentu laku
Semua berputar tanpa henti.
Kadang Siti ingin berhenti sejenak dan bertanya pada hidup,
“Aku kurang apa?”
Tapi ia tahu, hidup tidak menjawab pertanyaan.
Hidup hanya menuntut dijalani.
Di tempat jualannya, Siti menata dagangan dengan rapi. Senyum kecil ia pasang, bukan untuk menarik pembeli, melainkan untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia sudah belajar bahwa wajah sedih tidak akan membuat dagangan laku.
Orang-orang lalu lalang.
Ada yang menoleh.
Ada yang membeli.
Banyak yang lewat begitu saja.
Setiap kali seseorang pergi tanpa membeli, dada Siti terasa sedikit lebih berat. Bukan karena kecewa, tapi karena ia mulai menghitung ulang: hari ini cukup atau tidak?
Menjelang siang, matahari mulai tinggi. Keringat membasahi pelipisnya. Punggungnya pegal. Tangannya mulai gemetar menahan lelah. Tapi ia tetap berdiri.
Karena berhenti bukan pilihan.
Di sela-sela itu, Siti sering melihat ibu-ibu lain tertawa, berbincang, atau sekadar mengeluh hal kecil. Ia ikut tersenyum, meski hatinya terasa jauh. Seolah ia berada di dunia yang sama, tapi dengan beban yang berbeda.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum itu, Siti sering merasa sendirian.
Ia tidak bercerita.
Bukan karena tidak ingin.
Tapi karena lelah menjelaskan.
Menjelaskan kenapa ia selalu tampak kuat.
Menjelaskan kenapa ia tidak pernah mengeluh.
Menjelaskan kenapa hidupnya seperti berhenti di tempat.
Sore hari, dagangan tersisa banyak. Langit mendung. Angin dingin kembali datang. Siti mulai membereskan barang. Langkahnya lebih berat dibanding pagi tadi.
Di perjalanan pulang, hujan turun tanpa aba-aba. Gerobaknya basah. Bajunya basah. Rambutnya basah. Tapi yang paling basah adalah matanya.
Ia berhenti di bawah atap kecil. Duduk. Menunduk.
Air hujan jatuh satu per satu.
Air mata jatuh tanpa suara.
Tidak ada isak.
Tidak ada teriakan.
Siti sudah terlalu sering menangis sendirian hingga tubuhnya tahu caranya menangis tanpa ribut.
Dalam diam itu, ada kalimat-kalimat yang ingin keluar, tapi tertahan di dada. Ia tidak marah. Ia tidak menyalahkan. Ia hanya lelah.
Kenapa rasanya aku selalu harus kuat?
Kenapa hidupku seperti ini terus?
Pertanyaan itu tidak ia ucapkan. Ia hanya membiarkannya lewat di hati, lalu tenggelam bersama hujan.
Tak lama kemudian, hujan reda. Siti mengusap wajahnya. Berdiri lagi. Mendorong gerobak pulang.
Karena anak-anak menunggu.
Karena suaminya menunggu.
Karena hidup tidak bisa ditunda hanya karena hati sedang rapuh.
Di rumah, Siti kembali ke perannya. Ia memasak. Ia membersihkan. Ia mendengarkan cerita anak-anaknya. Ia tersenyum lagi.
Malam datang.
Saat semua tertidur, Siti duduk sendiri di sudut rumah. Lampu temaram. Sunyi kembali datang. Tapi kali ini lebih berat.
Ia menatap lantai. Menarik napas panjang. Ada sesuatu di dadanya yang ingin keluar. Bukan keluhan. Bukan tuntutan.
Hanya rasa ingin dipahami.
Dalam sunyi itu, bibirnya bergerak pelan. Tidak ada kata keras. Tidak ada permintaan panjang. Hanya desahan hati yang lirih.
Ia tidak tahu apakah doanya benar.
Ia tidak tahu apakah ia layak meminta.
Ia hanya tahu satu hal:
ia sudah melakukan yang ia bisa.
Dan malam itu, Siti kembali tidur dengan hati yang masih berat.
Tapi besok pagi…
ia akan bangun lagi.
Karena inilah hari-hari yang tidak pernah ia pilih,
namun tetap ia jalani dengan segenap yang ia punya.


BAB 2 Ketika Kuat Bukan Pilihan, Tapi Kewajiban

Tidak semua orang menjadi kuat karena ingin.
Sebagian orang menjadi kuat karena tidak diberi ruang untuk rapuh.
Siti adalah salah satunya.
Ia tidak pernah bangun pagi dengan niat, “Hari ini aku akan kuat.”
Ia bangun karena ada yang harus disiapkan.
Ada yang harus diberi makan.
Ada hari yang tidak bisa ditunda.
Di rumah kecil itu, Siti adalah poros dari segalanya. Jika ia berhenti, semuanya ikut goyah. Jika ia lemah, tidak ada yang menggantikan.
Itulah mengapa ia belajar berdiri, bahkan ketika lututnya gemetar.
Pagi-pagi sekali, sebelum matahari benar-benar muncul, Siti sudah duduk di sisi ranjang suaminya. Ia merapikan selimut, memastikan napas itu masih teratur. Ada rasa cemas yang selalu datang setiap kali ia melihat wajah pucat itu. Rasa takut yang tidak pernah benar-benar pergi.
Ia tidak menangis.
Bukan karena tidak ingin.
Tapi karena takut kalau menangis akan membuatnya runtuh sepenuhnya.
Ia hanya menyentuh tangan suaminya sebentar. Diam. Lalu berdiri dan kembali ke dapur.
Anak-anak mulai bangun satu per satu. Suara kecil mereka memenuhi rumah. Ada tawa, ada rengekan, ada permintaan sederhana seperti, “Bu, sarapannya apa?”
Pertanyaan itu terdengar biasa. Tapi bagi Siti, pertanyaan itu adalah pengingat paling nyata bahwa hidup tidak boleh berhenti.
Ia menyajikan apa yang ada. Tidak selalu cukup. Tidak selalu lengkap. Tapi selalu ia usahakan hangat.
Saat anak-anak makan, Siti memperhatikan wajah mereka. Ada rasa bersalah yang sering muncul tiba-tiba. Bersalah karena merasa belum bisa memberi lebih. Bersalah karena hidup mereka harus ikut sederhana.
Kadang ia berpikir,
“Apa aku ibu yang gagal?”
Pikiran itu datang diam-diam, lalu menetap lebih lama dari yang ia inginkan.
Setelah semuanya berangkat—anak-anak ke sekolah, suaminya kembali beristirahat—Siti menyiapkan dagangan. Tubuhnya bekerja otomatis, tapi pikirannya penuh.
Ia menghitung bahan.
Ia menghitung uang.
Ia menghitung sisa hari.
Setiap angka seperti mengetuk dadanya pelan-pelan.
Tidak ada kemewahan dalam hidupnya. Bahkan waktu untuk mengeluh pun terasa seperti barang mewah. Ia pernah mencoba bercerita pada seseorang, tapi respon yang ia terima membuatnya diam.
“Sabar ya.”
“Namanya juga hidup.”
“Yang penting sehat.”
Kalimat-kalimat itu tidak salah. Tapi entah kenapa, tidak pernah benar-benar meringankan.
Sejak itu, Siti belajar satu hal lagi:
tidak semua beban perlu dibagi, karena tidak semua orang tahu cara memeluknya.
Di luar rumah, Siti dikenal sebagai perempuan yang tangguh. Tidak banyak bicara. Selalu tersenyum. Jarang mengeluh. Orang-orang sering berkata, “Siti mah kuat.”
Mereka tidak tahu bahwa setiap kata kuat itu seperti menambah satu batu di punggungnya.
Karena ketika semua orang menganggapnya kuat,
tidak ada yang bertanya, “Apa kamu capek?”
Siang hari di tempat jualan, panas menyengat. Siti berdiri berjam-jam. Kakinya pegal. Punggungnya nyeri. Tapi ia tetap melayani pembeli dengan ramah.
Ada hari-hari di mana dagangan habis cepat. Ada juga hari-hari di mana hampir tidak ada yang terjual. Hari-hari buruk itu terasa panjang. Setiap menit berjalan lambat.
Saat itu, Siti sering menunduk sambil berpikir,
“Besok bagaimana?”
Ia tidak takut bekerja. Ia takut ketidakpastian.
Ketika sore tiba, tubuhnya sudah hampir habis. Tapi pikirannya belum selesai bekerja. Ia pulang dengan langkah berat. Kadang membawa uang yang pas-pasan. Kadang membawa kekhawatiran yang lebih besar dari dagangan yang tersisa.
Di rumah, perannya tidak berubah. Ia kembali menjadi istri, menjadi ibu, menjadi penyangga. Tidak ada jeda.
Malam adalah waktu paling sunyi sekaligus paling berat.
Saat anak-anak tertidur dan rumah kembali diam, rasa lelah yang ditahan seharian mulai muncul satu per satu. Bukan di tubuh, tapi di hati.
Siti duduk sendirian. Lampu kecil menerangi ruang yang sederhana. Ia memijat kakinya pelan. Nafasnya berat. Matanya kosong.
Di saat seperti ini, Siti sering merasa ada jarak antara dirinya dan dunia. Seolah ia berjalan sendiri di lorong panjang yang tidak ia kenal ujungnya.
Ia ingin sekali bertanya,
“Sampai kapan?”
Tapi ia tidak pernah mengucapkannya dengan suara.
Karena ada rasa takut yang sulit dijelaskan. Takut dianggap tidak bersyukur. Takut dianggap lemah. Takut pada perasaannya sendiri.
Ia hanya diam. Menelan semuanya.
Kadang, saat benar-benar lelah, Siti membayangkan hidup yang berbeda. Bukan hidup mewah. Hanya hidup yang sedikit lebih ringan. Hidup di mana ia bisa bernapas tanpa menghitung.
Tapi bayangan itu cepat ia tepis.
Karena kenyataan selalu menunggu untuk dijalani.
Hari demi hari berlalu seperti itu.
Tidak ada kejadian besar.
Tidak ada perubahan drastis.
Hanya ketahanan yang diuji terus-menerus.
Siti mulai memahami bahwa kekuatan yang ia miliki bukanlah kekuatan yang lantang. Bukan keberanian yang terlihat. Melainkan keteguhan yang sunyi.
Ia tetap bangun meski hatinya berat.
Ia tetap tersenyum meski dadanya sesak.
Ia tetap melangkah meski tidak tahu arah akhirnya.
Dan di situlah letak perjuangan yang jarang dihargai.
Suatu malam, saat hujan turun lagi, Siti duduk di dekat jendela. Air hujan mengalir di kaca, seperti garis-garis waktu yang tidak bisa ia hentikan. Ia memeluk lututnya. Tubuhnya sedikit bergetar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membiarkan dirinya merasa lelah.
Bukan menangis keras.
Bukan mengeluh panjang.
Hanya membiarkan dada itu sesak tanpa ditahan.
Dalam hati, ada bisikan yang sangat pelan. Bukan tuntutan. Bukan kemarahan. Hanya pengakuan jujur yang selama ini ia sembunyikan.
“Aku capek.”
Kalimat itu tidak keluar dari mulut. Tapi terasa nyata.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya, Siti tidak merasa bersalah mengakuinya.
Karena ia mulai mengerti:
kuat bukan berarti tidak lelah.
Kuat berarti tetap bertahan meski lelah.
Malam itu, Siti tidur dengan tubuh yang remuk dan hati yang berat. Tapi ada satu hal yang berbeda. Ia tidak lagi menyangkal rasa capeknya.
Ia belum tahu, bahwa pengakuan kecil itu adalah awal dari sesuatu yang pelan-pelan berubah di dalam dirinya.
Karena kadang,
sebelum seseorang bangkit,
ia harus jujur pada lukanya sendiri.


BAB 3 Doa-doa yang Tak Pernah Lantang

Ada jenis lelah yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Bukan lelah di tubuh.
Bukan pula lelah karena pekerjaan.
Melainkan lelah yang tinggal di dada,
yang membuat seseorang diam terlalu lama,
dan bicara terlalu sedikit.
Siti mengenal lelah itu dengan sangat baik.
Di siang hari, ia masih bisa berdiri. Masih bisa tersenyum. Masih bisa menjawab pertanyaan orang dengan wajah tenang. Tapi saat malam datang dan rumah kembali sunyi, rasa itu muncul tanpa permisi.
Sunyi selalu punya cara sendiri untuk membesarkan perasaan.
Saat suara dunia berhenti, suara hati menjadi lebih keras.
Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Siti duduk sendirian di ruang kecil rumahnya. Anak-anak telah terlelap. Suaminya tidur dengan napas yang tidak selalu teratur. Lampu menyala redup. Bayangan benda-benda tampak panjang di dinding.
Ia duduk lama tanpa melakukan apa-apa.
Tangannya terlipat di pangkuan.
Punggungnya sedikit membungkuk.
Matanya menatap lantai.
Di dalam dirinya, ada percakapan yang terus berulang.
Tentang hidup yang terasa tidak bergerak.
Tentang usaha yang seperti jalan di tempat.
Tentang harapan yang dulu besar, kini terasa jauh.
Siti bukan perempuan yang rajin merangkai kata-kata indah. Ia juga bukan seseorang yang pandai mengungkapkan perasaan. Tapi malam-malam seperti ini membuatnya ingin jujur—setidaknya pada dirinya sendiri.
Ia merasa…
lelah berharap.
Bukan karena ia tidak percaya.
Bukan karena ia ingin menyerah.
Tapi karena berharap terlalu lama tanpa perubahan membuat hati belajar diam.
Ada masa di mana Siti sering berdoa dengan kata-kata panjang. Menyebutkan harapan satu per satu. Meminta dengan penuh keyakinan. Menunggu dengan sabar.
Namun waktu berlalu.
Dan hidupnya tetap berat.
Sedikit demi sedikit, doanya berubah.
Bukan lagi permintaan.
Bukan lagi harapan besar.
Hanya kalimat-kalimat pendek yang sering berhenti di tengah.
Kadang bahkan hanya tarikan napas panjang.
Siti sering bertanya dalam hati,
“Apakah aku salah meminta?”
“Atau aku memang tidak pantas berharap?”
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah ia ucapkan pada siapa pun. Karena ia tahu, sebagian orang akan menjawab dengan nasihat, bukan dengan pelukan.
Padahal yang ia butuhkan bukan jawaban.
Ia hanya ingin dimengerti.
Di sudut rumah itu, Siti menyandarkan kepalanya ke dinding. Matanya terpejam. Ia mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ia merasa benar-benar tenang.
Ia lupa.
Hari-harinya terlalu penuh dengan bertahan. Terlalu padat dengan tanggung jawab. Tidak ada ruang untuk merasa.
Kadang ia merasa bersalah karena hatinya sering terasa kosong. Ia takut perasaan itu adalah tanda kurangnya syukur. Takut jika kelelahan batinnya dianggap sebagai keluhan yang tidak pantas.
Padahal, ia sudah melakukan semua yang ia bisa.
Ia bekerja.
Ia menjaga keluarganya.
Ia tidak meninggalkan kewajiban.
Tapi tetap saja, ada ruang kosong yang tidak terisi.
Malam itu, tanpa sadar, bibir Siti bergerak pelan. Tidak ada suara. Tidak ada kalimat lengkap. Hanya gumaman yang bahkan ia sendiri tidak yakin apa maknanya.
Bukan doa yang rapi.
Bukan pula permintaan yang jelas.
Lebih mirip curahan hati yang terlalu lelah untuk dirangkai.
Ia tidak menengadah.
Ia tidak menadahkan tangan.
Ia hanya duduk. Diam. Dan jujur dalam sunyi.
Ada air mata yang jatuh, satu per satu. Tidak deras. Tidak dramatis. Hanya cukup untuk membasahi pipinya.
Tangisnya tidak memanggil siapa pun.
Tidak menuntut apa pun.
Seolah hatinya berkata,
“Aku masih di sini. Meski aku tidak tahu harus berkata apa.”
Di saat itu, Siti merasa sangat kecil.
Bukan kecil karena rendah diri,
tapi kecil karena hidup terasa terlalu besar untuk ditanggung sendirian.
Ia teringat pada dirinya yang dulu. Perempuan yang percaya bahwa selama ia berusaha dan bersabar, semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak menyalahkan versi dirinya yang dulu. Ia hanya… merindukannya.
Perlahan, Siti menarik napas panjang. Menghembuskannya pelan. Ada rasa hangat yang samar di dadanya. Bukan karena jawabannya datang, tapi karena ia akhirnya berhenti berpura-pura kuat.
Untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya tidak tahu apa-apa.
Tidak tahu kapan hidup akan berubah.
Tidak tahu apakah doanya didengar seperti yang ia bayangkan.
Tidak tahu apakah esok akan lebih ringan.
Dan anehnya, ketidaktahuan itu sedikit menenangkan.
Karena ia sadar, selama ini ia terlalu sibuk mencari kepastian, sampai lupa bahwa bertahan saja sudah merupakan bentuk keberanian.
Siti mengusap wajahnya. Menarik napas sekali lagi. Ia tidak mengucapkan janji apa pun. Tidak membuat resolusi. Tidak bertekad muluk-muluk.
Ia hanya berbisik dalam hati,
“Aku masih di sini.”
Kalimat itu sederhana. Tapi jujur.
Malam semakin larut. Siti beranjak ke tempat tidur. Tubuhnya masih lelah. Hidupnya masih berat. Tapi ada satu perbedaan kecil yang bahkan ia sendiri tidak sadari.
Ia tidak lagi memaksa doanya berbentuk kata.
Ia membiarkannya menjadi rasa.
Menjadi air mata.
Menjadi diam yang panjang.
Dan di situlah, tanpa ia sadari, harapannya belum benar-benar padam.
Karena orang yang benar-benar menyerah, tidak akan duduk lama dalam sunyi sambil menahan perasaan. Mereka akan pergi. Mereka akan berhenti.
Siti tidak.
Ia masih bangun setiap pagi.
Masih mendorong gerobak.
Masih menyiapkan makan.
Masih menjaga rumah.
Bukan karena ia yakin semuanya akan baik-baik saja.
Tapi karena di dalam dirinya, masih ada keyakinan kecil yang bertahan—meski tanpa suara, meski tanpa bentuk.
Malam itu berakhir tanpa kejadian apa pun.
Tidak ada keajaiban.
Tidak ada perubahan mendadak.
Namun ada sesuatu yang bergeser pelan di dalam hati Siti.
Ia mulai memahami bahwa doa tidak selalu berupa kata-kata lantang.
Kadang, doa adalah bertahan ketika hati ingin berhenti.
Dan tanpa ia sadari,
itulah doa terkuat yang sedang ia jalani.


 BAB 4 Ketika Hidup Pelan-Pelan Menjawab

Tidak ada pagi yang datang dengan suara gemuruh.
Tidak ada tanda di langit.
Tidak ada kabar besar yang mengubah segalanya dalam sekejap.
Pagi itu datang seperti pagi-pagi sebelumnya.
Siti bangun sebelum matahari. Tubuhnya masih lelah. Pikirannya masih penuh. Tapi langkahnya terasa sedikit berbeda. Bukan lebih ringan, hanya… tidak seberat kemarin.
Ia menyiapkan hari seperti biasa. Menanak nasi. Menyusun dagangan. Merapikan rumah. Tidak ada yang berubah dari luar.
Namun di dalam dirinya, ada sesuatu yang mulai bergeser—perlahan, hampir tak terasa.
Di jalan menuju tempat jualan, Siti memperhatikan sekeliling. Pohon-pohon yang selama ini ia lewati tanpa sadar tampak lebih hijau. Udara pagi terasa lebih segar. Langkahnya masih pelan, tapi tidak lagi tertatih.
Ia tidak tahu mengapa.
Ia juga tidak mencoba mencari alasan.
Ia hanya berjalan.
Hari itu, pembeli pertama datang lebih awal dari biasanya. Seorang ibu yang jarang ia lihat. Membeli cukup banyak. Mengucapkan terima kasih dengan senyum tulus.
Hal kecil.
Sederhana.
Tapi entah kenapa, dada Siti terasa hangat.
Ia tidak langsung berpikir jauh. Tidak berani berharap macam-macam. Ia hanya menerima momen itu apa adanya.
Lalu pembeli kedua datang.
Lalu yang ketiga.
Tidak ramai. Tidak heboh. Tapi cukup untuk membuat waktu bergerak lebih cepat.
Siti menyadari satu hal penting:
hidup tidak selalu berubah dengan lonjakan besar.
Kadang ia berubah dengan langkah-langkah kecil yang hampir tidak terlihat.
Siang itu, dagangannya habis lebih cepat. Siti duduk sebentar, mengusap keringat di dahi. Ia tersenyum kecil. Bukan senyum puas. Lebih seperti senyum lega.
Saat menghitung uang hasil jualan, ia terdiam. Jumlahnya tidak banyak. Tapi cukup. Untuk hari itu, cukup.
Kata cukup terasa asing dan menenangkan sekaligus.
Dalam perjalanan pulang, Siti berjalan lebih pelan dari biasanya. Ia tidak terburu-buru. Seolah ia ingin menikmati langkah itu.
Di rumah, suaminya tampak sedikit lebih baik hari itu. Nafasnya lebih teratur. Wajahnya tidak sepucat kemarin. Anak-anak pulang sekolah dengan cerita-cerita kecil yang sederhana tapi penuh tawa.
Siti mendengarkan dengan saksama.
Di tengah cerita anak-anaknya, ia tersenyum lebih sering. Tanpa dibuat-buat.
Malam datang lagi.
Siti duduk di tempat yang sama seperti malam-malam sebelumnya. Lampu temaram. Rumah sunyi. Tapi kali ini, sunyinya berbeda.
Tidak menghimpit.
Tidak menakutkan.
Ia duduk sambil memeluk lutut. Menatap ke depan. Ada rasa tenang yang belum pernah ia rasakan belakangan ini. Bukan karena masalahnya selesai. Bukan karena hidupnya tiba-tiba mudah.
Tapi karena ia merasa… tidak sendirian.
Ia tidak mengucapkan apa-apa. Tidak memanjatkan kalimat panjang. Hanya diam, sambil menarik napas pelan.
Dalam diam itu, ia teringat satu hal kecil dari siang tadi. Senyum pembeli. Dagangan yang habis. Tawa anak-anak.
Hal-hal kecil yang dulu sering ia abaikan karena terlalu sibuk merasa berat.
Siti mulai memahami sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya:
jawaban tidak selalu datang dalam bentuk yang kita minta.
Kadang ia datang dalam bentuk yang kita butuhkan, tanpa kita sadari.
Hari-hari berikutnya berjalan serupa.
Tidak selalu lancar.
Tidak selalu mudah.
Ada hari dagangan sepi. Ada hari tubuhnya kembali lelah. Ada malam-malam di mana kekhawatiran datang lagi tanpa diundang.
Tapi ada juga hari-hari kecil yang hangat.
Seorang pelanggan yang kembali.
Seorang tetangga yang menyapa.
Anak-anak yang tertawa tanpa beban.
Siti mulai belajar memperhatikan hal-hal itu.
Bukan sebagai tanda bahwa hidupnya sudah berubah,
melainkan sebagai pengingat bahwa hidup masih bergerak.
Ia berhenti menunggu perubahan besar.
Ia berhenti menghitung kapan segalanya akan selesai.
Ia mulai hidup di hari itu saja.
Dan anehnya, langkahnya terasa lebih kuat.
Siti menyadari bahwa selama ini ia mengira diam berarti ditinggalkan. Padahal mungkin, diam adalah cara hidup bekerja dengan pelan.
Bukan untuk menyakitinya.
Tapi untuk menguatkannya sedikit demi sedikit.
Suatu sore, saat matahari mulai tenggelam, Siti berdiri di depan rumahnya. Angin sejuk menyentuh wajahnya. Langit berwarna jingga.
Ia berdiri lama di sana.
Tidak merenung berlebihan.
Tidak memikirkan masa depan jauh-jauh.
Ia hanya berdiri dan bernapas.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa cukup berada di momen itu.
Tidak ada janji bahwa esok akan lebih mudah.
Tidak ada jaminan bahwa hidup tidak akan kembali berat.
Namun Siti tahu satu hal:
ia tidak lagi berjalan dalam kegelapan sepenuhnya.
Ada cahaya kecil.
Tidak terang.
Tidak menyilaukan.
Tapi cukup untuk melangkah satu hari lagi.
Dan bagi Siti, itu sudah lebih dari cukup.


BAB 5 Aku Tidak Kuat, Tapi Aku Bertahan

Siti tidak pernah bangun suatu pagi dan merasa dirinya telah berubah menjadi sosok yang kuat. Ia juga tidak pernah merasa telah menang atas hidup. Tidak ada momen di mana ia berdiri dengan dada tegap dan berkata bahwa semuanya telah terlewati.
Yang ada hanyalah hari-hari yang terus berjalan.
Dan dirinya yang terus ikut berjalan di dalamnya.
Ia masih bangun pagi dengan tubuh yang kadang terasa berat. Masih menyiapkan hari dengan perasaan yang tidak selalu utuh. Masih menghadapi hidup dengan kewaspadaan yang sama.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Ia tidak lagi bertanya kapan semua ini akan berakhir.
Ia tidak lagi menuntut dirinya untuk selalu kuat.
Ia hanya bertanya satu hal yang lebih sederhana:
“Hari ini, apa yang bisa aku lakukan?”
Dan jawaban itu selalu datang dengan pelan.
Hari ini, ia bisa bangun.
Hari ini, ia bisa bekerja.
Hari ini, ia bisa tersenyum meski tidak sempurna.
Dan itu cukup.
Siti mulai memahami bahwa hidup bukanlah garis lurus menuju kebahagiaan. Ia adalah perjalanan panjang yang penuh belokan, jeda, dan kelelahan. Tidak semua orang sampai di tujuan yang sama. Tidak semua orang sampai dengan cara yang sama.
Dan tidak apa-apa.
Ia berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain. Berhenti menakar hidupnya dengan standar yang tidak ia ciptakan. Ia berhenti merasa gagal hanya karena hidupnya tidak seperti yang ia bayangkan dulu.
Karena ia sadar, ia tidak pernah berhenti berusaha.
Ada hari-hari di mana Siti masih merasa rapuh. Masih ada malam-malam di mana dadanya terasa sesak tanpa sebab yang jelas. Ada waktu-waktu di mana ia ingin berhenti sejenak dari semuanya.
Dan kini, ia tidak lagi melawan perasaan itu.
Ia membiarkannya datang.
Ia mengakuinya.
Lalu ia tetap melangkah.
Karena ia tahu, kekuatan tidak selalu berarti tidak jatuh.
Kadang kekuatan adalah berdiri lagi tanpa sorak-sorai.
Siti masih perempuan yang sama. Hidupnya masih sederhana. Masalahnya belum semuanya selesai. Namun cara ia memandang dirinya sendiri telah berubah.
Ia tidak lagi menyebut dirinya lemah.
Ia menyebut dirinya bertahan.
Dan kata itu terasa jauh lebih jujur.
Ia bertahan ketika hatinya ingin menyerah.
Ia bertahan ketika harapan terasa tipis.
Ia bertahan ketika hidup tidak memberi penjelasan.
Setiap pagi yang ia jalani adalah bukti kecil dari keteguhan yang tidak pernah ia sadari sebelumnya.
Kadang, Siti memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Banyak di antara mereka juga membawa beban masing-masing. Tidak semuanya terlihat. Tidak semuanya diceritakan.
Dan di situlah ia mengerti satu hal penting:
setiap orang sedang berjuang, hanya saja tidak semua perjuangan terlihat.
Ia mulai lebih lembut—pada orang lain, dan pada dirinya sendiri.
Ia tidak lagi memaksa dirinya untuk selalu tersenyum. Ia membiarkan dirinya diam jika memang perlu. Ia memberi ruang bagi lelahnya, tanpa merasa bersalah.
Karena ia tahu, bertahan bukan tentang memaksa.
Bertahan adalah tentang menerima diri apa adanya, lalu tetap berjalan.
Suatu pagi, saat matahari naik perlahan dan cahaya masuk ke rumahnya, Siti berdiri di ambang pintu. Ia menatap hari yang baru. Tidak dengan harapan besar. Tidak dengan ketakutan berlebihan.
Hanya dengan kesediaan untuk menjalani.
Dan mungkin, di sanalah letak ketenangan yang selama ini ia cari.
Bukan di perubahan besar.
Bukan di akhir cerita.
Tapi di kesadaran bahwa ia telah melakukan yang terbaik dengan apa yang ia punya.
Jika hari ini terasa berat, Siti tidak lagi bertanya mengapa. Ia hanya menguatkan langkahnya sedikit lagi. Karena ia tahu, ia pernah melewati hari-hari yang jauh lebih berat, dan ia masih di sini.
Dan untuk siapa pun yang membaca kisahnya—
yang pernah merasa sendiri,
yang pernah lelah berharap,
yang pernah bertanya apakah dirinya cukup—
Ketahuilah ini:
Jika kamu masih bangun hari ini,
jika kamu masih menjalani hidup meski perlahan,
jika kamu masih bertahan meski hatimu lelah,
itu bukan hal kecil.
Kamu tidak harus kuat.
Kamu hanya perlu bertahan.
Karena terkadang,
bertahan adalah bentuk keberanian paling sunyi—
dan paling tulus—
yang bisa dimiliki seseorang.

Penutup untuk Pembaca

Jika kamu membaca kisah Siti sampai di titik ini, mungkin ada bagian dari hidupmu yang ikut teringat.
Bukan karena ceritanya luar biasa, tapi karena terlalu dekat dengan kenyataan.
Mungkin kamu juga pernah berada di posisi di mana hidup terasa berat tanpa alasan yang bisa dijelaskan. Pernah bangun pagi dengan dada sesak, tapi tetap melangkah karena tidak ada pilihan lain. Pernah merasa lelah, namun takut mengakuinya—bahkan pada diri sendiri.
Kisah ini tidak ditulis untuk mengatakan bahwa hidup akan selalu membaik.
Tidak juga untuk menjanjikan bahwa semua luka akan sembuh dengan cepat.
Kisah ini hanya ingin berkata pelan:
Kamu tidak sendirian.
Ada banyak orang yang tampak baik-baik saja, padahal sedang berjuang dalam diam. Ada banyak hati yang terlihat kuat, padahal hanya sedang bertahan sekuat yang mereka bisa.
Dan jika hari ini kamu masih bertahan—
meski tanpa sorak,
meski tanpa kepastian,
meski tanpa jawaban—
itu sudah lebih dari cukup.
Kamu tidak harus selalu kuat.
Kamu tidak harus selalu sabar tanpa jeda.
Kamu tidak harus selalu tersenyum agar dianggap baik-baik saja.
Cukup satu hal:
jangan berhenti berjalan, meski langkahmu kecil.
Karena hidup tidak selalu meminta kita untuk menang.
Kadang, hidup hanya meminta kita tetap tinggal—
tetap bernapas,
tetap hidup,
tetap menjadi manusia dengan segala rapuhnya.
Dan jika suatu hari nanti kamu merasa lelah lagi, ingatlah:
bertahan pun adalah bentuk keberanian.
Keberanian yang mungkin tidak terlihat,
namun sangat berarti.
Terima kasih sudah membaca dengan hati.
Semoga kisah ini menemukanmu di waktu yang tepat—
dan menjadi pengingat lembut bahwa kamu cukup, sebagaimana adanya. 




Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa