Angelina: Ketika Kebenaran Menjadi Rumah Terakhir


Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang, dan kebenaran harus diperjuangkan dengan air mata

BAB 1 Rumah yang Berubah Menjadi Asing

Tidak ada satu pun anak yang membayangkan bahwa rumahnya suatu hari akan menjadi tempat paling menyakitkan untuk pulang. Rumah seharusnya menjadi pelindung, tempat teduh bagi jiwa yang lelah. Namun bagi Angelina, rumah itu perlahan berubah menjadi ruang asing yang tak lagi mengenalnya sebagai bagian dari kehidupan di dalamnya.

Angelina tumbuh dalam keluarga yang sederhana namun penuh kehangatan. Ibunya, Almarhumah Nur Aisyah, adalah perempuan lembut yang hidupnya diabdikan untuk keluarga. Ia bukan perempuan yang pandai bicara tentang dunia, tetapi sangat fasih berbicara tentang kasih sayang. Bagi Angelina kecil, ibunya adalah rumah yang sebenarnya. Setiap nasihat, setiap pelukan, setiap doa yang dibisikkan sebelum tidur, semuanya membentuk jiwanya.

“Apa pun yang terjadi dalam hidupmu nanti,” kata ibunya suatu malam, “jangan pernah menjual kebenaran demi kenyamanan. Lebih baik berjalan sendiri di jalan yang benar daripada ramai di jalan yang salah.”

Angelina tidak sepenuhnya mengerti kala itu. Ia hanya mengangguk sambil memeluk boneka kecilnya, tidak tahu bahwa kalimat sederhana itu suatu hari akan menjadi satu-satunya cahaya dalam gelapnya hidup.

Ayahnya, Pak Surya, adalah lelaki pendiam yang bekerja keras. Ia tidak banyak bicara, tetapi selalu hadir dalam setiap langkah keluarga. Kehidupan mereka mungkin tidak mewah, namun penuh dengan rasa cukup. Harta yang mereka miliki sebagian besar berasal dari usaha ibunya sebelum menikah, termasuk sebidang tanah dan beberapa aset kecil yang kelak atas nama Angelina—sebuah keputusan yang ibunya buat dengan niat melindungi masa depan putri semata wayangnya.

Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama.

Penyakit datang tanpa permisi. Awalnya hanya batuk ringan, lalu demam yang tak kunjung turun. Rumah sakit menjadi tempat yang terlalu sering mereka datangi. Angelina yang saat itu berusia empat belas tahun hanya bisa duduk di sudut ruangan, menatap ibunya yang kian hari kian melemah.

“Ibu nggak apa-apa, kan?” tanyanya suatu malam dengan suara bergetar.

Ibunya tersenyum lemah. “Ibu baik-baik saja. Kamu yang harus kuat. Apa pun yang terjadi, kamu harus tetap jadi anak yang jujur, ya.”

Itu adalah kalimat terakhir yang Angelina dengar dari ibunya.

Beberapa hari kemudian, dunia Angelina runtuh. Ibunya meninggal dunia dengan diagnosis sakit yang tak pernah dijelaskan secara rinci. Semua orang mengatakan bahwa takdir memang demikian. Bahwa kematian adalah rahasia Tuhan. Angelina menerima itu dengan tangis yang tak mampu ia bendung. Ia memeluk ayahnya erat-erat, merasa bahwa separuh dirinya ikut terkubur bersama ibunya.

Hari-hari setelah pemakaman berjalan seperti kabut. Rumah yang dulu hangat kini terasa kosong. Tidak ada lagi suara langkah ibu di dapur, tidak ada lagi panggilan lembut setiap pagi. Yang tersisa hanya kenangan dan sunyi yang tak bertepi.

Ayahnya berubah menjadi lebih pendiam dari sebelumnya. Ia mencoba menjadi kuat, tetapi kesedihan terlalu berat untuk ditanggung sendirian. Angelina mengerti itu. Ia mencoba membantu sebisanya, mengurus rumah, belajar lebih mandiri. Ia ingin menjadi alasan ayahnya untuk tetap berdiri.

Namun hidup kembali bergerak ke arah yang tak pernah ia bayangkan.

Dua tahun setelah kepergian ibunya, ayahnya memperkenalkan seorang perempuan bernama Ratna. Ia datang dengan penampilan rapi, tutur kata halus, dan senyum yang terlihat penuh empati. Ayah berkata bahwa ia tidak ingin hidup dalam kesendirian selamanya. Ia butuh teman, seseorang yang bisa mengurus rumah, dan mungkin—keluarga yang utuh kembali.

Angelina diam. Di satu sisi, ia ingin ayahnya bahagia. Di sisi lain, hatinya menolak menerima kehadiran orang baru dalam ruang yang dulu diisi penuh oleh ibunya.

Namun ia mencoba. Demi ayahnya, demi harapan bahwa hidup bisa kembali terasa normal.

Pernikahan itu berlangsung sederhana. Tidak ada pesta besar. Hanya keluarga dekat dan beberapa tetangga. Angelina berdiri di samping ayahnya, mengenakan kebaya sederhana, berusaha tersenyum meski hatinya terasa berat.

“Aku akan berusaha jadi ibu yang baik untukmu,” kata Ratna suatu hari setelah mereka resmi menjadi keluarga.

Angelina mengangguk pelan. “Terima kasih, Bu.”

Pada bulan-bulan pertama, semuanya tampak baik-baik saja. Ratna memasak, membersihkan rumah, dan sesekali bertanya tentang sekolah Angelina. Namun, seiring waktu, Angelina mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

Ratna tidak pernah benar-benar memandangnya sebagai anak. Tidak ada pelukan, tidak ada percakapan hangat, tidak ada perhatian yang tulus. Setiap interaksi terasa kaku, formal, dan penuh jarak.

Lebih dari itu, Ratna mulai sering bertanya tentang harta peninggalan ibunya.

“Rumah ini atas nama siapa?” tanyanya suatu sore saat mereka duduk di ruang tamu.

“Atas nama Angelina,” jawab ayahnya tanpa ragu. “Itu warisan dari ibunya.”

Angelina melihat perubahan di wajah Ratna. Senyumnya menegang. Matanya yang tadinya lembut seolah menyimpan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Sejak hari itu, sikap Ratna terhadap Angelina berubah.

Ia mulai memerintah dengan nada tinggi. Setiap kesalahan kecil menjadi alasan untuk memarahi. Angelina yang dulu jarang dimarahi kini merasa seperti tamu yang selalu salah di rumah sendiri.

“Kamu ini hidup numpang, tahu!” bentaknya suatu hari hanya karena Angelina lupa mencuci piring.

Angelina terdiam. Ia ingin membela diri, tetapi kata-kata seolah tersangkut di tenggorokan. Ia memilih diam, menunduk, dan mengerjakan apa yang diperintahkan.

Ayahnya sering tidak ada di rumah karena pekerjaan. Ketika Angelina mencoba bercerita, Ratna selalu memutarbalikkan keadaan.

“Dia keras kepala,” katanya. “Aku cuma ingin mendidiknya.”

Ayah menghela napas. “Angelina, kamu harus belajar menghormati ibu tirimu.”

Angelina mengangguk, meski hatinya perih. Ia merasa sendirian di rumah yang dulu menjadi tempat teraman dalam hidupnya.

Hari demi hari, perlakuan Ratna semakin tidak manusiawi. Kata-kata kasar, tuduhan tanpa dasar, bahkan larangan menggunakan beberapa fasilitas rumah. Angelina mulai merasa seperti orang asing yang tidak diinginkan.

Hingga suatu hari, saat ayah tidak di rumah, Ratna berkata dengan nada dingin:

“Lebih baik kamu pergi dari rumah ini. Aku tidak butuh anak yang hanya jadi penghalang.”

Angelina menatapnya, tak percaya. “Bu… ini rumah ayah saya.”

Ratna tersenyum sinis. “Justru itu. Selama kamu di sini, ayahmu tidak akan pernah sepenuhnya menjadi milikku.”

Kalimat itu menghantam hati Angelina lebih keras daripada tamparan.

Malam itu, Angelina mengemas barang-barangnya dengan tangan gemetar. Ia tidak membawa banyak—hanya pakaian secukupnya, beberapa buku, dan foto kecil ibunya yang selalu ia simpan di dalam dompet.

Ia menatap kamar yang sejak kecil menjadi saksi tumbuhnya. Dinding yang dulu dipenuhi tawa kini terasa dingin. Dengan air mata yang tak mampu ia tahan, ia berbisik pelan, “Ibu… aku pergi dulu.”

Ia keluar dari rumah tanpa menoleh lagi.

Angelina tidak tahu harus ke mana. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak bisa kembali ke rumah yang telah menolaknya.

Malam itu, ia tidur di rumah seorang teman sekolah. Pagi harinya, ia bangun dengan mata sembab dan hati yang masih terasa kosong. Ia tidak ingin menyusahkan siapa pun terlalu lama. Ia mulai mencari pekerjaan kecil-kecilan, membantu di warung, menjaga anak tetangga, apa pun yang bisa memberinya sedikit penghasilan.

Di tengah perjuangan itu, satu pertanyaan terus mengganggunya:

Mengapa ibu tirinya begitu membencinya?

Jawabannya perlahan mulai ia temukan dalam percakapan-percakapan yang tak sengaja ia dengar. Tentang harta yang seluruhnya atas namanya. Tentang keinginan Ratna menguasai semuanya. Tentang kecemburuan yang bukan soal kasih sayang, melainkan soal kekuasaan.

Angelina mulai mengerti bahwa ia tidak diusir karena dirinya, melainkan karena apa yang melekat pada namanya.

Namun ia juga menyadari sesuatu yang lebih besar:

Jika ia diam, maka bukan hanya dirinya yang diinjak, tetapi juga kehormatan ibunya.

Dan di situlah, di usia yang terlalu muda untuk memikul beban sebesar ini, Angelina memutuskan bahwa ia tidak akan lari.

Ia akan menuntut keadilan.

Bukan demi harta.

Bukan demi balas dendam.

Tetapi demi satu hal yang sejak kecil ditanamkan ibunya: kebenaran.

BAB 2 Perjuangan di Tengah Pengkhianatan

Angelina tidak pernah membayangkan bahwa usia remaja akan memaksanya belajar tentang dunia yang kejam. Dunia orang dewasa yang penuh kepentingan, kepalsuan, dan pengkhianatan. Sejak malam ia meninggalkan rumah, hidupnya tak lagi sama. Ia tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga rasa aman yang selama ini ia kenal.

Hari-hari pertamanya di luar rumah diisi dengan kebingungan. Ia menumpang sementara di rumah sahabatnya, Laila. Keluarga Laila menerima Angelina dengan hangat, namun Angelina tahu ia tidak bisa selamanya menjadi beban. Ia melihat ibunya Laila bangun lebih pagi, memasak lebih banyak, mengatur pengeluaran dengan lebih hati-hati. Angelina merasa bersalah.

Malam-malamnya dihabiskan dengan memandangi langit-langit kamar kecil yang ia tempati. Di dalam kesunyian itu, satu demi satu kenangan datang tanpa diminta. Tentang ibunya yang selalu memeluknya ketika ia takut. Tentang ayahnya yang dulu tak pernah meninggalkannya sendirian. Dan tentang rumah yang kini tak lagi membukakan pintu untuknya.

Ia tidak ingin menangis. Tetapi air mata sering kali datang tanpa bisa ia cegah.

“Kenapa hidup bisa berubah secepat ini, Bu?” bisiknya pada foto ibunya yang selalu ia simpan di bawah bantal.

Di sekolah, Angelina berusaha tetap terlihat normal. Ia tersenyum, mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas. Namun di dalam dirinya, ada kehampaan yang terus menganga. Teman-temannya tidak tahu bahwa ia pulang ke rumah orang lain. Mereka tidak tahu bahwa setiap sore ia bekerja membantu di warung kecil milik tetangga Laila demi mendapatkan sedikit uang.

Angelina tidak mengeluh. Ia hanya mencoba bertahan.

Namun, semakin ia mencoba melupakan masa lalunya, semakin keras masa lalu itu memanggilnya kembali.

Suatu sore, saat membantu membersihkan rak di warung, ia mendengar dua pelanggan berbincang.

“Kasihan anak Pak Surya itu. Katanya diusir ibu tirinya,” kata yang satu.

“Iya, tapi katanya anak itu juga nggak mau mengalah soal harta. Jadi ribut,” jawab yang lain.

Angelina terdiam. Tangannya berhenti bergerak. Ia ingin berkata bahwa itu tidak benar. Bahwa ia tidak pernah ingin merebut apa pun. Bahwa ia hanya ingin mempertahankan apa yang menjadi haknya dan amanah ibunya. Tetapi ia memilih diam. Hatinya terasa seperti diremas.

Malam itu, ia tidak bisa tidur. Kalimat-kalimat orang lain terus terngiang di kepalanya:

Anak durhaka… tamak… tidak tahu diri…

Ia menutup wajah dengan bantal, berusaha meredam isak yang tak ingin ia dengarkan oleh siapa pun.

Namun di balik semua itu, ada satu perasaan yang perlahan tumbuh: tekad.

Angelina mulai menyadari bahwa diam hanya akan membuat kebohongan semakin berani berdiri. Jika ia tidak bersuara, bukan hanya dirinya yang akan terus disalahkan, tetapi juga nama baik ibunya akan terkubur di bawah cerita yang diputarbalikkan.

Beberapa hari kemudian, ia memberanikan diri menemui seorang kerabat jauh dari pihak ibunya, Tante Rina, yang selama ini jarang berhubungan dengan keluarganya. Ia datang dengan langkah ragu, membawa satu map berisi dokumen-dokumen lama yang pernah disimpan ibunya: sertifikat tanah, surat perjanjian usaha, dan beberapa bukti kepemilikan atas nama Angelina.

Tante Rina membaca dokumen itu dengan wajah yang semakin serius.

“Ini semua memang milik ibumu,” katanya akhirnya. “Dan secara hukum, benar atas namamu. Ayahmu hanya sebagai wali, bukan pemilik.”

Angelina menunduk. “Tante… saya tidak ingin harta itu. Saya hanya tidak ingin ibu saya diperlakukan seolah-olah tidak pernah ada.”

Tante Rina menghela napas panjang. “Tapi kamu juga harus melindungi hakmu. Kalau kamu diam, mereka bisa mengambil semuanya.”

Kata-kata itu menancap di hati Angelina.

Sejak pertemuan itu, dunia yang selama ini terasa asing perlahan membuka wajah aslinya. Angelina mulai belajar tentang istilah-istilah hukum yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Tentang hak waris, tentang perwalian, tentang perlindungan anak. Semua terasa berat bagi seorang gadis yang seharusnya masih memikirkan ujian sekolah dan masa depan kuliah.

Namun ia tidak punya pilihan selain belajar.

Ia mengumpulkan keberanian untuk menemui ayahnya.

Hari itu, Angelina berdiri di depan rumah yang dulu ia tinggalkan dengan hati hancur. Tangannya bergetar saat mengetuk pintu. Beberapa detik terasa seperti menit. Hingga akhirnya pintu terbuka.

Ayahnya berdiri di sana, terkejut melihat putrinya.

“Angelina?” suaranya bergetar. “Kamu… kamu ke mana saja?”

Ada rindu di mata itu. Ada juga kebingungan.

Angelina ingin berlari memeluk ayahnya seperti dulu. Namun ada jarak yang tak terlihat namun terasa begitu nyata. Ia menahan diri.

“Ayah… aku ingin bicara.”

Mereka duduk di ruang tamu yang dulu selalu ramai oleh tawa ibunya. Kini terasa sunyi dan canggung. Ratna tidak ada di rumah saat itu.

Angelina mengeluarkan map dari tasnya, meletakkannya di atas meja.

“Ayah tahu semua ini?” tanyanya pelan.

Ayah membuka satu per satu dokumen itu. Wajahnya berubah. Matanya menatap kosong beberapa saat.

“Ini… ini memang benar,” katanya lirih. “Semua atas namamu.”

“Bu Ratna mengusir aku karena ini, Yah. Karena aku dianggap menghalangi keinginannya menguasai semuanya.”

Ayah terdiam. Ia memijat keningnya, seolah mencoba mengusir sesuatu yang mengganggu pikirannya.

“Dia bilang kamu tidak sopan… keras kepala… tidak mau menghormatinya sebagai ibu.”

Angelina menelan ludah. “Aku hanya ingin mempertahankan amanah ibu. Aku tidak pernah bermaksud melawan Ayah.”

Kesunyian menggantung di antara mereka.

Ayah akhirnya berkata dengan suara berat, “Angelina… Ayah terjebak di tengah. Ayah tidak ingin kehilangan kamu. Tapi Ayah juga tidak ingin rumah tangga Ayah hancur.”

Kalimat itu menghantam hati Angelina. Ia sadar, bagi ayahnya, persoalan ini bukan hanya tentang keadilan, tetapi juga tentang memilih antara anak dan istri.

“Ayah,” katanya dengan suara gemetar, “aku tidak meminta Ayah memilih. Aku hanya ingin Ayah tahu kebenarannya.”

Ia berdiri, menatap wajah ayahnya yang kini dipenuhi kelelahan.

“Jika mempertahankan hakku berarti aku harus berjalan sendiri… aku akan tetap melakukannya.”

Ia pergi sebelum air mata yang selama ini ia tahan jatuh di hadapan ayahnya.

Sejak hari itu, hubungan mereka berubah. Ayahnya masih sesekali menghubunginya, menanyakan kabar, menawarkan pulang. Namun selalu dengan syarat yang sama: Angelina harus “mengalah” dan “tidak memperpanjang masalah”.

Angelina tidak membenci ayahnya. Ia mengerti bahwa ayahnya adalah manusia biasa yang takut kehilangan. Namun ia juga sadar bahwa cinta tidak boleh menjadi alasan untuk mengorbankan kebenaran.

Perjuangan Angelina mulai memasuki tahap yang lebih berat ketika ia memutuskan membawa perkara ini ke jalur hukum.

Banyak yang menentangnya.

“Kamu masih anak-anak. Untuk apa ribut soal harta?”

“Sudahlah, terima saja nasib.”

“Kamu akan memalukan keluarga.”

Kata-kata itu datang dari orang-orang yang seharusnya melindunginya. Bahkan beberapa kerabatnya sendiri menjauh. Mereka tidak ingin terlibat. Ada yang takut pada Ratna, ada yang lebih memilih kenyamanan daripada kebenaran.

Angelina merasakan kesepian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Di sekolah, ia menjadi lebih pendiam. Di rumah Laila, ia berusaha terlihat kuat. Namun di dalam hatinya, ada luka yang semakin dalam. Ia sering bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah aku salah? Apakah memperjuangkan kebenaran memang harus sesakit ini?

Suatu malam, setelah hari yang sangat melelahkan, Angelina duduk sendirian di teras rumah Laila. Angin malam berembus pelan. Bintang-bintang bertaburan di langit.

Ia menatap ke atas dan berbisik, “Ibu… kalau Ibu di sini, apa yang akan Ibu lakukan?”

Kenangan tentang ibunya kembali. Tentang suara lembut yang selalu menenangkannya. Tentang kalimat yang dulu ia anggap sederhana:

Jangan pernah menjual kebenaran demi kenyamanan.

Angelina menarik napas dalam-dalam.

“Aku tidak akan berhenti, Bu.”

Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan pertemuan, dokumen, dan proses yang terasa asing. Ia didampingi oleh Tante Rina dan seorang pengacara yang bersedia membantunya dengan biaya minimal karena tergerak oleh kisahnya.

Setiap langkah terasa berat. Setiap kali ia datang ke kantor hukum, ia merasa kecil di antara orang-orang dewasa yang berbicara dengan istilah rumit. Namun ia belajar mendengarkan. Ia belajar bertanya. Ia belajar berdiri untuk dirinya sendiri.

Sementara itu, di sisi lain, Ratna mulai menunjukkan wajah yang berbeda. Ia tidak lagi hanya mengabaikan Angelina. Ia mulai menyerang secara halus: menyebarkan cerita bahwa Angelina adalah anak yang tamak, yang memanfaatkan nama ibunya untuk merebut harta, yang tidak tahu berterima kasih pada ayahnya.

Cerita itu menyebar cepat.

Angelina mendengar bahwa beberapa tetangga mulai membicarakannya. Bahwa ada keluarga yang menasihati ayahnya untuk “mengendalikan” putrinya. Bahwa ia dianggap sebagai penyebab keretakan rumah tangga ayahnya.

Sakit? Sangat.

Namun di balik semua itu, Angelina menemukan satu kekuatan yang tak pernah ia sadari sebelumnya: keteguhan.

Ia belajar bahwa menjadi benar tidak selalu membuatmu diterima. Terkadang, kebenaran justru membuatmu sendirian. Tetapi ia juga belajar bahwa sendirian di jalan yang benar jauh lebih mulia daripada ramai di jalan yang salah.

Hubungan keluarga semakin merenggang. Beberapa saudara berhenti menghubunginya. Ada yang terang-terangan memintanya mencabut tuntutan “demi nama baik keluarga”.

“Kamu ini perempuan. Untuk apa keras kepala?” kata seorang bibi suatu hari.

Angelina hanya tersenyum pahit. Dalam hatinya, ia menjawab:

Karena jika aku diam, aku ikut membiarkan ketidakadilan menang.

Di antara semua konflik itu, ada satu hal yang paling menyakitkan: melihat ayahnya perlahan menjauh. Bukan karena tidak sayang, tetapi karena terjebak dalam pilihan yang tidak ia mengerti.

Suatu malam, ayah menelepon.

“Angelina… Ayah mohon. Hentikan semua ini. Kembalilah ke rumah. Kita mulai lagi dari awal.”

Angelina memejamkan mata. Suara ayahnya terdengar lelah. Ada tangis yang tertahan.

“Yah… kalau aku pulang tanpa memperjuangkan kebenaran, aku pulang sebagai anak yang mengkhianati ibunya sendiri.”

Di seberang telepon, hening.

“Ayah tidak ingin kehilanganmu,” kata ayahnya pelan.

“Aku juga tidak ingin kehilangan Ayah,” jawab Angelina sambil menahan air mata. “Tapi aku juga tidak ingin kehilangan diriku sendiri.”

Telepon itu berakhir tanpa kesepakatan. Hanya keheningan dan luka yang sama-sama mereka bawa.

Angelina semakin menyadari bahwa perjuangan ini bukan sekadar soal hukum. Ini tentang harga diri. Tentang identitas. Tentang bagaimana ia memilih menjadi manusia.

Ia bisa saja memilih jalan mudah: menyerah, kembali ke rumah, berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tetapi ia tahu, luka yang ia kubur akan tumbuh menjadi kepahitan yang suatu hari akan menghancurkannya.

Maka ia terus melangkah, meski sendirian.

Di setiap malam yang sunyi, ia menuliskan perasaannya di buku kecil. Tentang lelah yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun. Tentang takut yang kadang datang tanpa diundang. Tentang harapan kecil bahwa suatu hari, kebenaran akan berbicara.

Ia menutup setiap tulisan dengan satu kalimat yang selalu sama:

“Aku mungkin lemah, tapi aku tidak salah.”

Perjuangan Angelina belum mencapai puncaknya. Ia belum tahu bahwa di balik semua kebencian dan fitnah itu, ada rahasia yang jauh lebih gelap, lebih mengerikan, dan akan mengguncang seluruh hidupnya.

Ia hanya tahu satu hal:

Ia telah memilih jalan yang tidak mudah, tetapi bermakna.Dan di jalan itu, meski harus kehilangan banyak hal, ia menemukan dirinya sendiri.

BAB 3 Kebenaran yang Mengguncang Segalanya

Angelina tidak tahu bahwa setiap langkah yang ia ambil di jalan keadilan sedang membawanya menuju sebuah kebenaran yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Ia mengira perjuangannya hanya akan berakhir pada pengakuan hak atas harta, pada pembuktian bahwa ibunya tidak pernah ingin dilupakan, pada pemulihan harga diri yang sempat diinjak-injak. Ia tidak pernah membayangkan bahwa di balik semua itu, ada rahasia kelam yang telah lama dikubur.

Hari itu, di ruang kecil kantor hukum yang mulai terasa akrab baginya, pengacaranya memanggilnya dengan wajah yang berbeda dari biasanya. Tidak ada senyum tipis yang menenangkan. Tidak ada nada ringan yang sering digunakan untuk menyederhanakan persoalan.

“Angelina,” katanya pelan, “kami menemukan sesuatu.”

Angelina mengangkat wajah. Jantungnya berdegup lebih cepat. “Tentang apa, Pak?”

Pengacaranya menggeser beberapa berkas ke hadapannya. Di antara tumpukan kertas itu, ada hasil laporan medis lama, keterangan saksi, dan salinan dokumen yang tampak sudah menguning dimakan waktu.

“Ini terkait dengan… kematian ibumu.”

Dunia seolah berhenti berputar.

“T-tentang apa?” suara Angelina nyaris tak terdengar.

“Selama ini, kematian ibumu dicatat sebagai akibat penyakit. Tapi ada kejanggalan dalam laporan medisnya. Kami menemukan catatan yang menunjukkan adanya zat asing dalam tubuh almarhumah yang tidak seharusnya ada.”

Angelina mematung. Tangannya bergetar saat menyentuh berkas-berkas itu. Kata-kata di dalamnya terasa seperti bahasa yang tak ia pahami, tetapi maknanya menghantamnya tanpa ampun.

“Zat… asing?” ia berbisik. “Maksudnya…?”

Pengacaranya menarik napas panjang. “Ada indikasi kuat bahwa ibumu… tidak meninggal secara alami.”

Kata-kata itu jatuh seperti palu yang menghancurkan kesadarannya.

Tidak… tidak mungkin.

Kenangan tentang ibunya di rumah sakit berkelebat di kepalanya: wajah pucat, tubuh yang melemah, napas yang semakin berat. Ia selalu percaya bahwa sakitlah yang merenggut ibunya. Ia tidak pernah meragukannya. Ia tidak pernah ingin meragukannya.

“Ini… ini salah,” katanya dengan suara gemetar. “Ibu saya sakit. Semua orang tahu itu.”

“Kami juga ingin memastikan kebenarannya, Angelina,” jawab pengacaranya lembut. “Tapi bukti-bukti ini… tidak bisa diabaikan.”

Angelina menunduk. Air matanya jatuh membasahi kertas di hadapannya. Dalam hatinya, ada dua perasaan yang saling bertabrakan: ketakutan untuk mengetahui kebenaran, dan kebutuhan yang tak bisa ditolak untuk menghadapinya.

Ia mengangguk pelan. “Lanjutkan penyelidikannya, Pak.”

Hari-hari berikutnya terasa seperti berjalan di atas kabut tebal. Setiap informasi baru yang datang, setiap panggilan dari pengacara, setiap dokumen yang diperlihatkan, seolah menambah beban di dadanya.

Saksi-saksi lama mulai bermunculan. Seorang perawat yang dulu merawat ibunya mengingat adanya perubahan mendadak pada kondisi kesehatan almarhumah setelah mengonsumsi minuman yang dibawakan dari rumah. Seorang tetangga lama mengaku pernah melihat ibunya bertengkar dengan seseorang beberapa hari sebelum sakitnya memburuk. Seorang kerabat mengingat bahwa ibunya sempat berkata, “Ada yang tidak beres… tapi aku tidak ingin mencurigai tanpa bukti.”

Potongan-potongan itu, satu per satu, membentuk gambaran yang mengerikan.

Dan pada akhirnya, semua arah menunjuk pada satu nama: Ratna.

Perempuan yang kini menjadi istri ayahnya. Perempuan yang membencinya. Perempuan yang sejak awal menaruh perhatian pada harta peninggalan ibunya.

Angelina menolak mempercayainya. Ia ingin berteriak bahwa ini pasti salah. Bahwa tidak mungkin seseorang tega merampas nyawa demi harta. Bahwa tidak mungkin seorang perempuan datang ke dalam hidup mereka dengan membawa niat sejahat itu.

Namun bukti terus berdatangan.

Analisis laboratorium menunjukkan adanya zat beracun dalam tubuh ibunya. Penelusuran asal zat itu mengarah pada obat tertentu yang hanya bisa diperoleh melalui jalur tertentu—jalur yang, secara mengejutkan, pernah diakses oleh Ratna sebelum menikah dengan ayahnya.

Angelina merasa seperti tenggelam dalam mimpi buruk yang tak kunjung usai.

Malam-malamnya kini dipenuhi oleh ketakutan yang berbeda. Bukan lagi takut kehilangan hak. Bukan lagi takut ditinggalkan keluarga. Tetapi takut pada kenyataan bahwa ibunya… dibunuh.

“Ibu… apakah selama ini aku salah?” ia berbisik di kamar kecilnya di rumah Laila. “Apakah aku terlalu naif? Apakah aku tidak cukup melindungimu?”

Ia menangis tanpa suara, menahan isak agar tidak didengar siapa pun. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menggerogoti hatinya—seolah-olah ia seharusnya lebih peka, lebih curiga, lebih waspada.

Namun di balik kesedihan itu, tumbuh pula perasaan lain: amarah yang sunyi.

Bukan amarah yang ingin menghancurkan. Bukan amarah yang mencari balas dendam. Tetapi amarah yang lahir dari cinta seorang anak kepada ibunya, dari rasa sakit karena seseorang telah merenggut nyawa perempuan yang paling ia sayangi di dunia.

Pengacaranya menjelaskan bahwa kasus ini bukan lagi sekadar sengketa hak. Ini telah menjadi perkara pidana yang serius: dugaan pembunuhan berencana.

“Kamu harus siap, Angelina,” katanya. “Jika ini berlanjut, dampaknya akan sangat besar. Untuk keluargamu. Untuk ayahmu. Untuk hidupmu sendiri.”

Angelina mengangguk, meski hatinya gemetar. “Saya siap. Kebenaran ibu saya… lebih penting dari segalanya.”

Kabar tentang penyelidikan ini tidak lama kemudian sampai ke telinga ayahnya.

Ayah datang menemui Angelina dengan wajah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya: pucat, lelah, dan dipenuhi kebingungan.

“Angelina… ini benar?” tanyanya dengan suara bergetar. “Tentang ibumu… tentang Ratna…?”

Angelina menatap ayahnya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia melihat ayahnya bukan sebagai sosok yang harus memilih, melainkan sebagai lelaki yang juga terluka, yang juga kehilangan.

“Yah… aku tidak ingin ini terjadi,” katanya lirih. “Tapi bukti-buktinya… semua mengarah ke sana.”

Ayah terduduk. Tangannya gemetar. “Tidak mungkin… tidak mungkin dia….”

Air mata jatuh dari mata lelaki yang selama ini selalu berusaha terlihat kuat.

“Ayah menikahinya… Ayah percaya padanya… Ayah membawanya ke dalam hidup kita….”

Angelina tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya mendekat dan menggenggam tangan ayahnya. Untuk pertama kalinya sejak lama, jarak di antara mereka seolah runtuh. Mereka tidak lagi berada di dua sisi yang berlawanan. Mereka berdiri di hadapan luka yang sama.

Proses hukum pun berjalan. Ratna dipanggil untuk diperiksa. Ia menyangkal segalanya pada awalnya. Ia menangis, bersumpah, memutarbalikkan cerita. Ia kembali menuduh Angelina sebagai anak yang tamak dan pendendam.

Tetapi kebenaran tidak bisa terus disembunyikan.

Satu demi satu, bukti menguat. Rekaman transaksi pembelian zat beracun. Kesaksian saksi-saksi. Analisis forensik. Semua membentuk lingkaran yang semakin sempit di sekelilingnya.

Di ruang sidang, Angelina duduk dengan jantung berdebar. Ia tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan sampai pada titik ini: menyaksikan proses hukum yang mengadili perempuan yang dulu ia panggil “ibu”.

Ratna akhirnya berdiri di hadapan hakim, bukan lagi sebagai istri yang berkuasa di rumah, tetapi sebagai terdakwa.

Ketika dakwaan dibacakan—tentang pembunuhan berencana, tentang motif harta, tentang upaya menguasai seluruh aset peninggalan ibunya—Angelina merasa seperti ada tangan tak terlihat yang meremas dadanya.

Ia ingin menutup telinga. Ia ingin berlari keluar. Tetapi ia tetap duduk di sana, memaksa dirinya untuk menyaksikan kebenaran yang selama ini ia cari.

Ratna akhirnya runtuh.

Di hadapan bukti yang tak terbantahkan, ia tidak lagi bisa menyangkal. Suaranya pecah saat ia mengakui perbuatannya. Tentang bagaimana ia iri pada kehidupan ibunya Angelina. Tentang bagaimana ia menginginkan semua yang dimiliki keluarga itu. Tentang bagaimana ia melihat ibunya sebagai penghalang.

“Aku… aku tidak bermaksud…” tangisnya terputus-putus. “Aku hanya ingin hidup yang lebih baik….”

Tidak ada kalimat yang mampu menjelaskan kejahatan yang telah terjadi.

Angelina mendengarkan pengakuan itu dengan air mata yang mengalir tanpa ia sadari. Ia tidak merasa menang. Ia tidak merasa lega. Yang ia rasakan hanyalah kehancuran yang sunyi: bahwa seseorang benar-benar telah merampas nyawa ibunya demi sesuatu yang fana.

Ayahnya duduk di sebelahnya, tubuhnya gemetar, wajahnya tertunduk dalam-dalam. Lelaki yang selama ini ia cintai itu kini harus menerima kenyataan bahwa perempuan yang ia nikahi, yang ia percaya, yang ia bawa masuk ke dalam hidup mereka… adalah pembunuh istri pertamanya.

“Ayah…” bisik Angelina, menahan tangis.

Ayah memejamkan mata. Air mata mengalir tanpa ia pedulikan siapa yang melihat. “Ayah… Ayah gagal melindungi ibumu… dan gagal melindungi kamu.”

Angelina menggenggam tangan ayahnya erat. “Ini bukan salah Ayah.”

Namun di dalam hati, ia tahu: tidak ada yang benar-benar keluar dari tragedi ini tanpa luka.

Putusan akhirnya dijatuhkan. Ratna dinyatakan bersalah dan harus menjalani hukuman penjara. Ketika palu hakim diketukkan, tidak ada sorak-sorai. Tidak ada rasa kemenangan. Yang ada hanyalah keheningan yang penuh beban.

Beberapa hari setelah putusan itu, Angelina mengunjungi Ratna di penjara. Banyak orang tidak mengerti keputusannya. “Untuk apa?” tanya mereka. “Bukankah dia sudah menghancurkan hidupmu?”

Angelina sendiri tidak sepenuhnya mengerti mengapa kakinya membawanya ke sana. Mungkin karena ada bagian dalam dirinya yang ingin menutup satu bab dengan caranya sendiri.

Di ruang kunjungan yang dingin, ia melihat Ratna duduk di seberangnya, tanpa riasan, tanpa pakaian rapi, tanpa aura kuasa yang dulu selalu ia tampilkan. Yang tersisa hanya seorang perempuan dengan mata sembab dan wajah penuh penyesalan.

“Aku… aku minta maaf,” suara Ratna bergetar. “Aku telah merusak segalanya. Aku telah mengambil ibumu darimu… dan ayahmu darimu.”

Angelina menatapnya lama. Ada amarah yang masih tersisa, ada luka yang belum sembuh. Tetapi ada juga sesuatu yang lain: kelelahan.

“Apa pun yang terjadi, ibuku tidak akan kembali,” kata Angelina pelan. “Aku tidak datang untuk memaafkan atau tidak memaafkan. Aku hanya ingin kamu tahu… bahwa hidupku, dan hidup ayahku, akan selalu membawa akibat dari pilihanmu.”

Ratna menangis tersedu. “Aku menyesal… setiap hari.”

Angelina mengangguk. “Penyesalan adalah milikmu sekarang. Semoga di sana… kamu benar-benar belajar tentang arti kehilangan.”

Ia bangkit dan pergi, meninggalkan ruang itu tanpa menoleh lagi.

Kehidupan Angelina dan ayahnya perlahan mulai disusun kembali. Mereka kembali tinggal bersama. Rumah itu masih sama secara fisik, tetapi atmosfernya berbeda. Tidak ada lagi kepalsuan. Tidak ada lagi ketakutan. Hanya dua jiwa yang mencoba berdamai dengan masa lalu.

Malam-malam mereka sering diisi dengan keheningan. Kadang mereka duduk bersama di ruang tamu, tanpa banyak bicara. Luka tidak bisa sembuh hanya dengan kebersamaan. Tetapi setidaknya, mereka tidak lagi sendirian.

Suatu malam, ayah berkata dengan suara berat, “Angelina… Ayah tidak tahu apakah Ayah pantas mendapatkan maafmu.”

Angelina menatap ayahnya. “Yah… mungkin kita tidak bisa menghapus masa lalu. Tapi kita bisa memilih bagaimana hidup setelahnya.”

Ayah mengangguk, air mata mengalir di pipinya.

Angelina menyadari bahwa kebahagiaan yang akan datang tidak akan pernah sama seperti dulu. Ia bukan kebahagiaan yang polos dan tanpa bayangan. Tetapi ia adalah kebahagiaan yang lahir dari luka yang dihadapi, bukan disangkal.

Ia belajar satu hal yang akan selalu ia pegang:

kebenaran mungkin menghancurkan dunia yang kita kenal, tetapi kebohongan akan menghancurkan jiwa kita.

Dan meski perjalanan ini telah merenggut banyak hal darinya—rumah, masa remaja yang tenang, hubungan keluarga yang utuh—Angelina tahu bahwa ia tidak kehilangan yang paling penting: dirinya sendiri.

EPILOG Memaafkan Tanpa Melupakan

Tidak semua luka meminta untuk disembuhkan dengan cara yang sama. Ada luka yang bisa pulih hanya dengan waktu, ada yang perlu air mata, dan ada pula yang hanya bisa dipeluk dengan keikhlasan. Angelina belajar bahwa hidup tidak selalu memberi akhir yang manis, tetapi selalu menawarkan makna—jika seseorang cukup berani mencarinya.

Hari-hari setelah putusan pengadilan berlalu dalam keheningan yang panjang. Rumah yang dulu terasa asing kini kembali menjadi tempat pulang, meski dengan wajah yang berbeda. Tidak ada lagi suara ibu di dapur, tidak ada lagi tawa kecil yang dulu mengisi pagi. Yang tersisa hanyalah dua jiwa: ayah dan anak, yang sama-sama belajar berdamai dengan kehilangan.

Angelina dan ayahnya tidak banyak bicara tentang masa lalu. Bukan karena ingin melupakannya, melainkan karena mereka tahu: beberapa hal tidak akan pernah bisa dihapus, hanya bisa diterima. Setiap sudut rumah masih menyimpan kenangan. Setiap benda seolah mengingatkan pada apa yang pernah ada, dan apa yang telah direnggut.

Namun di tengah kesunyian itu, tumbuh sesuatu yang perlahan menguat: kejujuran.

Tidak ada lagi kepalsuan. Tidak ada lagi topeng untuk menyenangkan siapa pun. Mereka belajar memandang satu sama lain dengan mata yang lebih jujur—mata yang mengakui luka, penyesalan, dan harapan yang masih tersisa.

Suatu sore, saat hujan turun tipis, Angelina duduk di beranda rumah. Ia memandangi halaman yang basah, menghirup udara yang terasa lebih bersih setelah hujan. Ayahnya datang membawa dua cangkir teh hangat dan duduk di sampingnya tanpa banyak kata.

“Kamu capek, Nak?” tanya ayahnya pelan.

Angelina tersenyum tipis. “Capek… tapi bukan seperti dulu. Dulu capek karena menahan. Sekarang capek karena belajar menerima.”

Ayahnya mengangguk, menatap hujan yang turun seperti doa yang jatuh dari langit. “Ayah banyak salah padamu.”

Angelina menoleh. Wajah ayahnya terlihat lebih tua dari yang ia ingat. Ada garis-garis lelah yang tak bisa disembunyikan.

“Aku tidak ingin hidup kita habis untuk menyalahkan masa lalu, Yah,” katanya lembut. “Kita sudah kehilangan terlalu banyak.”

Ayah memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, ia menangis tanpa menahan diri. Tangis seorang lelaki yang akhirnya mengakui kelemahan, kegagalan, dan kerinduan yang tak terucap.

Angelina meraih tangan ayahnya. Di dalam genggaman itu, tidak ada lagi tuntutan. Yang ada hanya dua manusia yang saling belajar memaafkan.

Memaafkan tidak berarti melupakan.

Memaafkan berarti memilih untuk tidak mengizinkan masa lalu terus mengendalikan masa depan.

Angelina tahu, luka ini akan selalu menjadi bagian dari hidupnya. Ia tidak akan pernah benar-benar lupa bagaimana ibunya pergi. Ia tidak akan pernah sepenuhnya bebas dari bayangan pengkhianatan. Tetapi ia juga tahu, jika ia membiarkan luka itu berubah menjadi kebencian, maka ia akan mengkhianati nilai yang ibunya tanamkan sejak kecil: kejujuran hati dan keberanian berdiri di sisi kebenaran.

Ia kembali melanjutkan sekolah dengan semangat yang berbeda. Bukan lagi semangat remaja yang polos, melainkan semangat seseorang yang telah ditempa oleh kehidupan. Ia belajar dengan lebih tekun. Ia membaca lebih banyak. Ia menulis—tentang rasa kehilangan, tentang keberanian, tentang bagaimana kebenaran sering kali datang dengan harga yang mahal.

Di antara lembar-lembar tulisannya, ia menemukan suaranya sendiri. Suara seorang anak yang pernah disingkirkan, tetapi tidak pernah menyerah. Suara seorang perempuan muda yang memilih berdiri, meski harus berjalan sendirian.

Harta peninggalan ibunya kini kembali menjadi tanggung jawabnya. Tetapi bagi Angelina, itu bukan sekadar aset. Itu adalah amanah. Simbol cinta seorang ibu yang pernah memikirkan masa depan anaknya, bahkan ketika ajal perlahan mendekat.

Ia tidak menggunakan harta itu untuk berfoya-foya. Sebagian ia gunakan untuk melanjutkan pendidikan. Sebagian lagi ia sisihkan untuk membantu orang-orang di sekitarnya—anak-anak yang bernasib serupa, yang kehilangan orang tua, yang tersisih, yang merasa tidak punya tempat di dunia.

Setiap kali ia melihat mata anak-anak itu, ia seperti melihat dirinya di masa lalu. Dan di dalam hatinya, ia berbisik, “Kamu tidak sendirian. Hidup boleh melukaimu, tapi kamu tidak harus menjadi pahit karenanya.”

Tentang Ratna—ibu tiri yang kini menjalani hukuman—Angelina tidak lagi menyimpan amarah yang membakar. Luka itu masih ada, tetapi ia memilih untuk tidak menjadikannya racun dalam jiwanya. Ia tahu, ada perbedaan besar antara menuntut keadilan dan memelihara kebencian.

Ia pernah bertanya pada dirinya sendiri: Apakah aku telah memaafkan?

Jawabannya tidak selalu jelas. Namun ia tahu satu hal: ia telah berhenti membiarkan peristiwa itu menentukan siapa dirinya.

Di malam-malam tertentu, ketika rindu pada ibunya datang tanpa peringatan, Angelina duduk di kamar, membuka kotak kecil berisi foto lama. Wajah ibunya tersenyum dari masa lalu—senyum yang lembut, penuh ketenangan.

“Ibu… aku tidak bisa mengembalikanmu,” bisiknya. “Tapi aku berjanji, aku tidak akan membiarkan kebenaranmu terkubur.”

Ia menutup kotak itu perlahan. Air mata mungkin masih jatuh, tetapi bukan lagi air mata yang penuh keputusasaan. Itu adalah air mata rindu, yang diterima sebagai bagian dari cinta.

Kebahagiaan Angelina tidak datang dalam bentuk tawa yang riuh. Ia datang dalam bentuk ketenangan yang dalam: pagi-pagi yang sederhana, percakapan kecil dengan ayahnya, doa yang dipanjatkan dalam sunyi, dan keyakinan bahwa hidupnya kini berjalan di atas nilai yang benar.

Ia memahami sesuatu yang tidak semua orang pahami:

bahwa kemenangan sejati bukan ketika kita mengalahkan orang lain, tetapi ketika kita tidak kehilangan diri sendiri dalam prosesnya.

Jika hari ini Angelina mampu tersenyum, itu bukan karena luka-lukanya telah menghilang. Itu karena ia memilih untuk tidak menjadikan luka itu sebagai alasan untuk berhenti mencintai hidup.

Ia memilih untuk hidup dengan jujur.

Ia memilih untuk berdiri di sisi kebenaran, meski harus menempuh jalan yang sepi.

Ia memilih untuk memaafkan, tanpa menghapus ingatan.

Dan ia memilih untuk melanjutkan hidup—bukan sebagai korban masa lalu, tetapi sebagai manusia yang belajar dari luka.

Catatan untuk Pembaca

Kisah Angelina bukan tentang harta, bukan pula tentang pengadilan semata. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang anak mempertahankan kebenaran, meski harus kehilangan banyak hal. Tentang bagaimana kejujuran bisa merobohkan dunia yang kita kenal, namun pada saat yang sama membangun jiwa yang lebih utuh.








Postingan populer dari blog ini

Dari Luka Menjadi Cahaya

Rangga: Dari Gerobak Somay Menuju Jalan Kebaikan

Aliran Rasa