Nita dan Pagi yang Tak Pernah Benar-Benar Sunyi
Kata Pengantar
Tidak semua orang diuji dengan kemewahan.
Sebagian justru diuji dengan kekurangan.
Tidak semua orang jatuh karena malas.
Ada yang jatuh karena hidup memang sedang tidak berpihak.
Kisah ini adalah tentang seorang perempuan bernama Nita, pedagang kecil yang kehilangan suami, kehilangan sandaran, dan perlahan kehilangan dukungan dari orang-orang terdekatnya.
Namun di balik kemiskinan yang menghimpit, hutang yang melilit, dan rasa hina yang menusuk…
masih ada satu hal yang tidak pernah benar-benar hilang:
Harapan.
Semoga kisah ini menjadi pengingat, bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang terus bertahan.
BAB 1 — Ketik Kemiskinan Membuat Dunia Menjauh
Pagi itu udara terasa lebih dingin dari biasanya.
Langit masih gelap, hanya sedikit cahaya yang menggantung malu-malu di ujung timur. Di sebuah rumah kecil yang dindingnya mulai rapuh dimakan usia, seorang perempuan duduk diam di sudut ruang tamu.
Namanya Nita.
Ia tidak sedang menangis. Tidak juga sedang marah. Ia hanya diam… terlalu diam, seperti seseorang yang sudah terlalu sering menelan luka sampai lupa bagaimana cara mengeluh.
Di tangannya ada secangkir teh hangat yang sudah tidak lagi hangat. Ia memandangnya lama, seolah berharap dari uap tipis itu muncul jawaban tentang hidupnya.
Tetapi hidup, seperti biasa, tidak pernah memberi jawaban dengan mudah.
Nita menarik napas panjang.
Ia menghirup udara pagi yang segar, satu-satunya hal yang masih terasa gratis dalam hidupnya. Tetapi bahkan udara segar itu pun tak mampu menghapus rasa sesak di dadanya.
Di luar rumah, suara ayam berkokok bersahutan. Orang-orang mulai bangun, bersiap bekerja, bersiap menjalani hidup yang mungkin terasa lebih ringan daripada hidupnya.
Nita menunduk.
Ia adalah seorang pedagang kecil.
Dulu ia pernah percaya hidupnya akan maju. Ia pernah yakin, jika ia bekerja keras, Allah pasti membuka jalan. Ia pernah bermimpi punya warung yang besar, rumah yang layak, dan anak-anak yang tumbuh dalam kebahagiaan.
Namun mimpi itu kini terasa seperti cerita orang lain.
Karena kenyataan menamparnya terlalu keras.
Kemiskinan…
adalah sesuatu yang tidak hanya menguras dompet, tapi juga menguras harga diri.
Dan Nita merasakannya setiap hari.
Hidup yang Berubah Dalam Sekejap
Dulu Nita tidak sendiri.
Ia punya suami. Ia punya keluarga. Ia punya tawa di rumah kecilnya. Meski sederhana, hidup terasa cukup.
Suaminya bekerja serabutan. Kadang jadi kuli bangunan, kadang ikut proyek kecil-kecilan. Nita membantu dengan berdagang gorengan dan sayur di pasar.
Mereka tidak kaya.
Tetapi mereka masih punya harapan.
Sampai suatu hari, semuanya runtuh.
Suaminya jatuh sakit.
Awalnya hanya demam biasa. Tetapi lama-lama tubuhnya melemah. Rumah sakit menjadi tempat yang sering mereka datangi, dan setiap kunjungan meninggalkan satu hal yang sama:
Tagihan.
Hutang.
Tekanan.
Nita masih ingat malam ketika suaminya menggenggam tangannya dengan lemah.
“Maafkan aku, Nita… aku belum bisa membahagiakanmu…”
Nita menangis.
“Jangan bicara begitu. Kita masih bisa berjuang.”
Tetapi takdir tidak selalu memberi kesempatan panjang.
Beberapa minggu kemudian, suaminya pergi.
Dan Nita menjadi janda.
Bukan janda yang hidup dalam kemewahan.
Tetapi janda yang hidup dalam kesunyian dan beban.
Ketika Dunia Mengukur Manusia Dari Uangnya
Setelah suaminya meninggal, Nita pikir keluarganya akan menjadi tempat pulang.
Ia pikir saudara-saudara akan menjadi pelindung.
Tetapi kenyataan membuatnya sadar:
Ketika seseorang jatuh miskin, dunia berubah wajah.
Awalnya mereka datang.
Mengucapkan belasungkawa.
Memberi sedikit bantuan.
Tetapi setelah hari-hari berlalu, bantuan itu menghilang. Telepon jarang dijawab. Pesan hanya dibaca.
Dan perlahan, Nita merasa…
ia sendirian.
Suatu hari, ia datang ke rumah salah satu saudaranya.
Dengan langkah pelan, membawa harapan kecil.
Ia hanya ingin meminjam sedikit uang untuk modal berdagang lagi.
Tetapi wajah saudaranya berubah dingin.
“Nita… kamu harusnya sadar. Kita juga punya kebutuhan. Jangan selalu bergantung.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi rasanya seperti pisau.
Nita pulang dengan dada hancur.
Bukan karena tidak diberi uang.
Tetapi karena ia merasa…
hina.
Kemiskinan membuatnya seperti beban.
Seperti kesalahan.
Menjadi Miskin Seperti Menjadi Tersangka
Nita tidak pernah menyangka menjadi miskin membuat seseorang dipandang berbeda.
Jika ia tersenyum, orang bilang ia pura-pura kuat.
Jika ia diam, orang bilang ia lemah.
Jika ia meminta bantuan, orang bilang ia merepotkan.
Jika ia tidak meminta, orang bilang ia sombong.
Serba salah.
Menjadi orang miskin itu seperti menjadi tersangka dalam hidup.
Apa pun yang dilakukan selalu dianggap salah.
Di pasar, beberapa pedagang lain mulai berbisik.
“Itu Nita ya… kasihan, suaminya meninggal. Sekarang hidupnya susah.”
Bisikan itu terdengar seperti belas kasihan, tapi terasa seperti hinaan.
Karena Nita tidak butuh dikasihani.
Ia hanya butuh kesempatan.
Ia hanya butuh seseorang berkata:
“Kamu tidak sendirian.”
Tetapi kalimat itu tidak pernah datang.
Hutang yang Melilit Seperti Rantai
Setiap malam, Nita tidur dengan pikiran penuh.
Tagihan rumah sakit masih ada.
Uang sekolah anak-anak harus dibayar.
Modal dagang habis.
Dan hutang… hutang itu seperti rantai yang melilit lehernya.
Kadang ia ingin berteriak.
Kadang ia ingin menyerah.
Tetapi ia tidak bisa.
Karena ia seorang ibu.
Dan ibu tidak punya pilihan untuk berhenti.
Anaknya masih membutuhkan makan.
Masih membutuhkan pelukan.
Masih membutuhkan kehidupan.
Nita sering duduk sendirian setelah anak-anak tidur.
Memandang langit dari celah jendela.
Dan bertanya dalam hati:
“Ya Allah… apakah hidupku akan selamanya begini?”
Pagi yang Membawa Secercah Harapan
Namun setiap pagi…
Nita selalu bangun.
Meski hatinya berat.
Meski tubuhnya lelah.
Meski hidup terasa sempit.
Ia tetap bangun.
Ia mengambil air wudhu.
Shalat dalam sunyi.
Dan setelah itu, ia duduk di depan rumah, menghirup udara segar.
Pagi selalu punya cara untuk memberi secercah harapan.
Meskipun kecil.
Meskipun samar.
Di dalam diamnya, Nita merindukan kedamaian.
Ia merindukan kebahagiaan sederhana.
Ia ingin terbebas dari jerat hutang.
Ia ingin hidup maju.
Ia ingin sukses.
Bukan untuk pamer.
Tetapi untuk bertahan.
Untuk membuktikan bahwa ia bukan beban.
Bahwa ia juga manusia yang layak dihargai.
Dan di dalam hatinya, ia berkata pelan:
“Hidup tidak berhenti sampai di sini…”
Janji Dalam Hati Seorang Nita
Hari itu, Nita berdiri.
Ia memandang jalanan pasar yang mulai ramai.
Ia menggenggam tas kecil berisi dagangan seadanya.
Dan ia berbisik pada dirinya sendiri:
“Aku mungkin jatuh… tapi aku tidak boleh berhenti.”
Karena di balik semua luka,
selalu ada jalan.
Di balik semua kesulitan,
selalu ada pertolongan Allah.
Dan kisah Nita…
baru saja dimulai.
BAB 2 — Saat Nita Hampir Menyerah, Tapi Allah Mengirim Jalan
“Kadang hidup menekan begitu keras, sampai kita lupa… bahwa Allah tidak pernah benar-benar pergi.”
Pagi itu Nita tetap bangun seperti biasa. Tetapi kali ini tubuhnya terasa lebih berat. Bukan karena ia sakit, melainkan karena hatinya terlalu penuh. Ada beban yang menumpuk semalaman, seperti batu besar di dada yang membuat napasnya pendek. Ia duduk di lantai, memandang sudut rumah yang sempit. Dindingnya kusam, lantainya dingin, dan rumah itu terasa semakin sunyi sejak suaminya tiada. Nita mengusap wajahnya pelan. Hari ini ia harus ke pasar. Hari ini ia harus tetap berdagang. Hari ini ia harus tetap kuat. Padahal, di dalam dirinya ada bagian yang mulai retak.
Ketika matahari mulai naik, terdengar suara ketukan keras di pintu. Tok… tok… tok… Nita terkejut. Jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Ketukan itu tidak seperti tetangga yang sekadar menyapa. Itu ketukan yang membawa sesuatu. Ketukan yang membawa tekanan. Ia berdiri pelan, membuka pintu. Di sana berdiri seorang pria dengan wajah datar. “Bu Nita?” Nita mengangguk lirih. “Iya…” Pria itu membuka catatan kecil. “Saya dari pihak penagih. Hutang rumah sakit suami ibu sudah jatuh tempo. Kapan bisa dibayar?” Nita menelan ludah. Tangannya dingin. “Pak… saya belum ada uang…” Wajah pria itu tetap dingin. “Sudah terlalu lama, Bu. Kami juga ada aturan. Kalau tidak dibayar, akan ada tindakan.” Kalimat itu seperti petir di siang bolong. Nita ingin menjelaskan, ingin berkata bahwa ia tidak lari, ia hanya belum mampu. Tapi kata-kata seolah terjebak di tenggorokan. Ia hanya bisa menunduk. Pria itu pergi, meninggalkan halaman rumah dengan langkah cepat. Dan Nita tertinggal dengan dada sesak. Ia menutup pintu pelan, lalu bersandar di belakangnya. Air matanya jatuh tanpa izin.
Nita sering berpikir, orang-orang selalu bilang: “Jadilah kuat.” Tetapi mereka tidak pernah bilang bahwa menjadi kuat itu melelahkan. Menjadi kuat berarti menahan tangis sendirian. Menjadi kuat berarti tersenyum padahal hati hancur. Menjadi kuat berarti tetap berjalan meski kaki gemetar. Ia mengusap air matanya cepat-cepat. Anak-anaknya belum bangun. Ia tidak ingin mereka melihat ibunya rapuh. Karena anak-anak tidak butuh ibu yang menangis, mereka butuh ibu yang tetap berdiri. Nita menarik napas panjang. Ia mengambil keranjang dagangan. Hari ini ia hanya punya sedikit gorengan dan beberapa ikat sayur. Modalnya semakin menipis. Namun ia tetap berangkat.
Pasar pagi selalu ramai. Orang-orang sibuk memilih barang. Pedagang sibuk menawarkan dagangan. Suara tawar-menawar bercampur dengan langkah kaki dan bunyi kendaraan. Tetapi bagi Nita, pasar terasa seperti tempat asing. Ia duduk di lapaknya, menatap orang-orang yang berlalu lalang. Beberapa membeli, beberapa hanya melihat, beberapa bertanya lalu pergi. Nita hanya tersenyum kecil, senyum yang dipaksakan. Di sela-sela keramaian, ia mendengar bisikan lagi. “Itu Nita ya…” “Kasihan, sekarang susah…” “Janda miskin…” Bisikan itu pelan, tapi cukup untuk menusuk. Nita menunduk. Ia ingin berkata: Aku masih manusia. Aku masih punya hati. Aku bukan bahan kasihan. Tapi ia diam, karena diam adalah satu-satunya cara agar ia tidak runtuh di depan semua orang.
Siang itu, setelah dagangan hampir habis, Nita memberanikan diri. Ia harus mencoba sekali lagi. Ia berjalan menuju rumah kakaknya. Langkahnya berat, bukan karena jauh, tetapi karena ia tahu harapan sering kali berakhir menjadi luka. Sesampainya di sana, ia mengetuk pintu pelan. Kakaknya membuka. “Nita?” Nita tersenyum kecil. “Kak… maaf ganggu…” Kakaknya menghela napas. “Ada apa lagi?” Nada itu membuat Nita langsung merasa kecil. Ia menunduk. “Kak… aku cuma mau minta tolong. Anak-anak butuh biaya sekolah. Aku sudah berusaha, tapi…” Belum selesai Nita bicara, kakaknya memotong. “Nita, aku juga punya hidup. Jangan terus datang seperti ini.” Nita membeku. “Tapi kak… aku tidak punya siapa-siapa…” Kakaknya menatap sebentar lalu berkata pelan tapi tajam: “Justru itu. Kamu harus belajar berdiri sendiri.” Kalimat itu seperti pintu yang ditutup keras di depan wajahnya. Nita menahan napas. Ia mengangguk pelan. “Iya kak… maaf.” Lalu ia berbalik pulang dengan langkah yang lebih berat dari saat datang. Hari itu, ia benar-benar merasa, kemiskinan bukan hanya soal uang, tapi soal kehilangan tempat pulang.
Malam datang. Anak-anak sudah tidur. Rumah kembali sunyi. Nita duduk sendirian. Lampu redup menggantung di atas. Ia memandang langit-langit lama. Untuk pertama kalinya ia berkata dalam hati: “Aku capek, Ya Allah…” Air matanya jatuh. Bukan tangis keras, hanya air mata diam. Tangis orang yang sudah terlalu lama menahan semuanya. “Aku sudah berusaha… aku sudah berdagang… aku sudah bertahan… tapi kenapa rasanya semua pintu tertutup?” Nita menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia merasa kecil, merasa hina, merasa kalah. Di titik itu, untuk sesaat, ia hampir menyerah.
Namun di tengah malam yang gelap, Nita bangkit pelan. Ia mengambil air wudhu. Airnya dingin, tetapi justru dingin itu membuatnya sadar. Ia berdiri, shalat dalam sunyi, dalam gemetar, dalam luka. Dan ketika sujud terakhir, ia berbisik: “Ya Allah… aku tidak punya siapa-siapa selain Engkau. Kalau semua manusia menjauh, jangan Engkau jauh. Aku mohon, beri aku jalan. Beri aku kekuatan. Beri aku harapan…” Air matanya membasahi sajadah. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nita merasa sedikit lega. Seolah Allah berkata pelan di dalam hatinya: Aku melihatmu. Aku mendengarmu. Sabar…
Keesokan paginya, Nita kembali duduk di depan rumah, menghirup udara segar. Masih dengan hati berat. Namun ia tidak tahu bahwa hari itu Allah mulai mengirim jalan dari arah yang tidak pernah ia sangka. Dan kisah Nita akan segera berubah.
BAB 3 — Pertolongan Datang dari Arah yang Tak Terduga
“Allah tidak selalu mengangkat beban kita sekaligus. Kadang Dia mengirim jalan kecil… satu demi satu.”
Pagi itu Nita kembali melangkah ke pasar dengan hati yang masih berat. Ia tidak membawa harapan besar. Ia hanya membawa tekad sederhana: hari ini harus tetap hidup. Dagangan yang ia bawa lebih sedikit dari biasanya, hanya beberapa bungkus gorengan dan sayur seadanya. Modalnya hampir habis. Namun ia tetap duduk di lapaknya, mencoba tersenyum kepada siapa pun yang lewat. Ia sadar, hidup tidak akan berhenti hanya karena ia sedang terluka.
Hari itu pasar terasa sama seperti kemarin. Ramai, riuh, dan penuh orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka sendiri. Tetapi bagi Nita, dunia seperti berjalan tanpa mempedulikannya. Ia melayani pembeli dengan tangan gemetar, menahan rasa malu yang selalu datang ketika orang-orang menatapnya dengan kasihan. Ia mencoba menutup rapat luka di hatinya, meski ia tahu luka itu terus menganga.
Menjelang siang, dagangannya tidak banyak terjual. Nita menatap keranjang yang masih setengah penuh. Ia menarik napas panjang. Dalam hati ia berkata, “Ya Allah… aku sudah berusaha. Tapi kenapa rasanya selalu kurang?” Saat ia menunduk, tiba-tiba sebuah suara lembut memanggil namanya.
“Nita?”
Nita mengangkat wajah. Di depannya berdiri seorang perempuan paruh baya dengan kerudung sederhana dan mata yang hangat. Nita merasa seperti pernah melihatnya, tetapi ia lupa.
“Iya bu… saya Nita.”
Perempuan itu tersenyum pelan. “Aku Bu Rahma. Dulu kita sering satu pengajian sebelum kamu sibuk berdagang.”
Nita terdiam. Nama itu seperti membawa kenangan lama. Pengajian kecil di kampung, tempat ia dulu masih datang bersama suaminya. Tempat ia dulu masih merasa hidupnya lengkap.
“Bu Rahma…” suara Nita lirih.
Bu Rahma menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Aku dengar kabar tentang suamimu. Aku turut berduka, Nak.”
Nita menunduk. “Iya bu… sudah lama…”
Bu Rahma tidak banyak bertanya. Tetapi dari sorot matanya, Nita tahu perempuan itu mengerti. Ada empati yang tidak dibuat-buat. Ada ketulusan yang sudah lama tidak Nita rasakan dari orang lain.
Bu Rahma kemudian duduk di samping lapaknya. “Nita, bagaimana kabarmu sekarang?”
Pertanyaan itu sederhana. Tetapi bagi Nita, pertanyaan itu seperti membuka pintu yang sudah lama terkunci. Ia ingin menjawab “baik-baik saja” seperti biasanya. Namun entah kenapa, kali ini ia tidak sanggup berbohong.
Air matanya jatuh.
“Saya capek, Bu…” suaranya pecah. “Saya benar-benar capek.”
Bu Rahma memegang tangan Nita erat. “Aku tahu. Kamu sudah terlalu lama menahan semuanya sendirian.”
Nita menangis lebih dalam. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ada orang yang menggenggam tangannya seperti itu, bukan untuk menghakimi, tapi untuk menguatkan.
Setelah Nita sedikit tenang, Bu Rahma berkata, “Nak, kamu tidak boleh terus begini. Kamu harus punya jalan keluar. Aku punya sesuatu untuk kamu.”
Nita menghapus air mata. “Apa bu?”
Bu Rahma tersenyum. “Di majelis pengajian kami, ada program kecil untuk membantu janda-janda yang sedang kesulitan. Bukan bantuan besar, tapi modal usaha. Kamu mau ikut?”
Nita membeku. “Saya… saya bisa?”
Bu Rahma mengangguk. “Kamu bukan orang malas, Nita. Aku lihat kamu berjuang. Allah tidak suka melihat hamba-Nya menyerah.”
Hati Nita bergetar. Ia merasa seperti mendengar jawaban dari doa-doanya semalam. Pertolongan itu datang bukan dari saudara yang ia harapkan, tetapi dari seseorang yang Allah kirim melalui jalan yang tak terduga.
“Tapi bu… saya malu…”
Bu Rahma menatapnya lembut. “Malu itu kalau kamu berhenti berusaha. Tapi meminta tolong untuk bangkit, itu bukan hina. Itu ikhtiar.”
Nita terdiam lama. Kemudian ia mengangguk pelan. “Saya mau bu… saya mau mencoba.”
Bu Rahma tersenyum lebih lebar. “Alhamdulillah. Besok datang ke rumahku. Kita bicarakan pelan-pelan.”
Hari itu, Nita pulang dengan langkah berbeda. Bebannya belum hilang. Hutangnya masih ada. Hidupnya masih sulit. Tetapi ada sesuatu yang kembali menyala di dalam dadanya: harapan.
Malamnya, setelah anak-anak tidur, Nita duduk kembali di sajadah. Ia menengadahkan tangan.
“Ya Allah… ternyata Engkau benar-benar mendengar…”
Air matanya jatuh lagi, tetapi kali ini bukan air mata putus asa. Ini air mata lega. Air mata seorang hamba yang akhirnya sadar bahwa ia tidak benar-benar sendirian.
Hari itu Nita belajar satu hal: ketika manusia menutup pintu, Allah selalu punya pintu lain. Ketika saudara menjauh, Allah mendekat melalui orang-orang yang tak disangka. Dan ketika hidup terasa gelap, mungkin itu karena Allah sedang menyiapkan cahaya dari arah yang paling tidak terduga.
Nita menatap langit malam dari jendela kecil rumahnya. Ia menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tersenyum pelan.
“Hidupku belum selesai…”
Dan di dalam hatinya, ia berjanji: ia akan bangkit, pelan-pelan, bersama pertolongan Allah.
BAB 4 — Bangkit Itu Pelan, Tapi Nyata
“Allah tidak menjanjikan jalan yang mudah. Tapi Allah menjanjikan, setiap langkah yang kita tempuh bersama-Nya tidak akan sia-sia.”
Keesokan harinya Nita datang ke
rumah Bu Rahma dengan langkah hati-hati. Perasaan di dadanya campur aduk. Ada harapan, tapi juga ada takut. Ia takut ini hanya angin lewat. Ia takut jika ia kembali berharap, lalu jatuh lagi. Namun ia ingat kata-kata Bu Rahma kemarin: meminta tolong untuk bangkit bukanlah hina. Itu ikhtiar.
Rumah Bu Rahma sederhana, tetapi hangat. Ada suara anak-anak mengaji dari ruang tengah. Ada aroma teh manis dan ketenangan yang sudah lama tidak Nita rasakan. Bu Rahma menyambutnya dengan senyum tulus, seolah Nita adalah keluarga sendiri.
“Masuk, Nak. Duduk sini.”
Nita duduk pelan, menunduk seperti biasa. Kebiasaan orang yang terlalu lama merasa kecil. Bu Rahma menuangkan teh, lalu menatap Nita dengan mata penuh kasih.
“Nita, aku tidak ingin kamu merasa sendirian. Banyak perempuan di luar sana yang diuji seperti kamu. Dan Allah selalu punya cara untuk menolong, lewat jalan-jalan kecil yang kadang tidak terlihat.”
Nita mengangguk. Tenggorokannya terasa sempit.
Bu Rahma lalu mengeluarkan sebuah amplop coklat. Tidak tebal, tetapi cukup berarti.
“Ini bukan sedekah untuk membuatmu bergantung,” kata Bu Rahma pelan. “Ini modal. Pinjaman tanpa bunga. Kamu cicil semampumu. Yang penting kamu bergerak.”
Tangan Nita gemetar saat menerima amplop itu. Air matanya jatuh lagi.
“Bu… saya… saya tidak tahu harus bilang apa…”
Bu Rahma menggenggam tangannya. “Bilang saja Alhamdulillah. Karena ini bukan dari aku. Ini dari Allah.”
Nita menunduk dalam-dalam. “Alhamdulillah…”
Hari itu, Nita pulang membawa sesuatu yang lebih besar dari uang: ia pulang membawa keyakinan bahwa hidupnya belum berakhir.
Malamnya ia tidak langsung tidur. Ia duduk di lantai rumah kecilnya, menghitung kemungkinan. Apa yang bisa ia jual? Apa yang bisa ia mulai dengan modal kecil ini? Ia tidak ingin gegabah. Ia tidak ingin gagal lagi. Tetapi ia juga tahu, ia tidak bisa diam.
Akhirnya ia memilih satu hal yang ia kuasai sejak dulu: makanan kecil. Gorengan, kue basah, dan jajanan pasar. Sesuatu yang selalu dicari orang, sesuatu yang bisa ia mulai dari dapur sendiri.
Pagi berikutnya, Nita bangun lebih awal dari biasanya. Ia menyiapkan adonan dengan tangan yang masih kaku, tetapi kali ini hatinya sedikit lebih hidup. Anak-anaknya bangun dan melihat ibunya sibuk.
“Ibu bikin apa?” tanya anaknya pelan.
Nita tersenyum kecil. “Ibu mau jualan lebih banyak. Doakan ya.”
Anaknya mengangguk polos. “Aku doain ibu biar sukses.”
Kalimat sederhana itu seperti vitamin bagi hati Nita. Ia sadar, ia harus kuat bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk anak-anak yang menggantungkan hidup pada pelukannya.
Hari itu Nita membawa dagangan lebih banyak ke pasar. Ia menata dengan rapi, mencoba menarik perhatian pembeli. Awalnya masih biasa saja. Tetapi perlahan, satu orang membeli. Lalu dua orang. Lalu seorang ibu berkata, “Gorengannya enak, Bu. Besok saya beli lagi ya.”
Nita hampir tidak percaya. Ia mengangguk cepat. “Iya bu… terima kasih…”
Untuk pertama kalinya setelah lama, Nita membawa pulang uang lebih dari sekadar cukup untuk makan hari itu. Tidak besar, tapi ada rasa lega. Ia menatap uang itu lama, lalu memeluknya seperti sesuatu yang sangat berharga.
Namun hidup tidak pernah membiarkan seseorang bangkit tanpa ujian.
Beberapa hari kemudian, saat dagangannya mulai dikenal, seorang penagih hutang kembali datang. Kali ini suaranya lebih keras.
“Bu Nita! Sudah ada uang atau belum?”
Nita menelan ludah. Ia ingin lari. Tetapi kali ini ia berdiri.
“Saya belum bisa lunas, Pak. Tapi saya sudah mulai usaha. Saya akan mencicil.”
Penagih itu menatap sinis. “Mencicil? Hutang itu tidak menunggu!”
Nita gemetar, tetapi ia menahan dirinya. “Saya tidak lari. Saya hanya butuh waktu.”
Penagih itu pergi dengan wajah tidak puas. Nita menutup pintu pelan. Dadanya sesak, tetapi ia tidak menangis seperti dulu. Ia sadar, ketakutan tidak akan menyelesaikan apa pun. Ia harus terus melangkah.
Malam itu, Nita duduk di sajadah lagi. Ia menatap lantai, lalu berbisik, “Ya Allah… aku sudah mulai berjalan. Tolong jangan biarkan aku berhenti.”
Hari-hari berlalu. Nita mulai rutin berdagang. Kadang untung, kadang sepi. Kadang ia pulang dengan senyum, kadang pulang dengan lelah. Tetapi satu hal berbeda: ia tidak lagi diam dalam putus asa. Ia bergerak.
Bu Rahma sering datang memberi semangat. “Nak, jangan lihat seberapa cepat kamu sampai. Lihat seberapa kuat kamu bertahan.”
Nita mengangguk. Ia mulai paham, bangkit itu bukan sekali loncat langsung tinggi. Bangkit itu pelan, tetapi nyata.
Suatu sore, anaknya memeluknya dari belakang.
“Ibu… aku senang ibu sekarang sering senyum.”
Nita terdiam. Air matanya hampir jatuh.
Ia membalikkan badan, memeluk anaknya erat.
“Ibu masih takut, Nak. Tapi ibu akan terus berusaha.”
Anaknya mengangguk. “Ibu hebat.”
Kalimat itu membuat Nita sadar, mungkin dunia pernah membuatnya merasa hina. Tetapi di mata anaknya, ia tetap ibu yang luar biasa.
Malam itu Nita menatap langit. Ia masih belum bebas dari hutang. Ia masih belum kaya. Tetapi ia sudah tidak berada di titik yang sama seperti kemarin. Ia sudah melangkah.
Dan dalam hati, ia berkata pelan:
“Ya Allah… terima kasih. Aku akan terus maju. Pelan-pelan. Sampai Engkau bukakan jalan sepenuhnya.”
BAB 5 — Ketika Hidup Hampir Meruntuhkan, Allah Menguatkan
“Allah tidak selalu menguji untuk menjatuhkan. Kadang Allah menguji karena Dia sedang menyiapkan kita untuk naik lebih tinggi.”
Hari-hari Nita mulai terisi dengan rutinitas baru. Bangun sebelum subuh, menyiapkan adonan, menggoreng dengan hati-hati, lalu berangkat ke pasar dengan keranjang yang lebih penuh daripada sebelumnya. Usahanya memang kecil, tetapi baginya itu seperti cahaya di ujung lorong gelap. Ia belum bebas dari hutang, belum hidup berkecukupan, tetapi ia sudah punya sesuatu yang dulu hampir hilang: harapan.
Setiap hari ia menabung sedikit demi sedikit. Kadang hanya dua ribu, kadang lima ribu. Namun Nita percaya, langkah kecil tetaplah langkah. Ia mulai mencicil hutang semampunya. Meski penagih masih sering datang dengan wajah keras, setidaknya kini ia bisa berkata, “Saya sedang berusaha.”
Namun hidup… selalu punya cara untuk menguji seseorang tepat ketika ia mulai merasa sedikit kuat.
Suatu pagi, saat Nita baru saja selesai menggoreng, tiba-tiba kompor minyaknya bermasalah. Api membesar tak terkendali. Minyak panas hampir tumpah. Nita panik. Ia buru-buru mematikan kompor, tetapi sebagian adonan sudah gosong. Beberapa bahan terbuang. Dagangan hari itu gagal setengahnya.
Nita duduk lemas di lantai dapur. Tangannya gemetar. Modalnya tidak banyak. Setiap bahan berarti. Setiap kerugian terasa seperti pukulan.
“Ya Allah…” suaranya lirih. “Kenapa sekarang…”
Ia tetap pergi ke pasar dengan dagangan seadanya. Tetapi hari itu pembeli sepi. Langit mendung. Orang-orang lebih memilih cepat pulang. Nita duduk lama, menatap gorengan yang tersisa. Hatinya mulai gelap lagi.
Saat sore tiba, ia pulang dengan uang yang bahkan tidak cukup untuk membeli beras.
Di rumah, anak-anak bertanya, “Bu, hari ini kita makan apa?”
Nita tersenyum tipis, menahan air mata. “Kita makan seadanya dulu ya…”
Malam itu, setelah anak-anak tidur, Nita duduk sendirian. Tangannya memegang uang receh yang tersisa. Ia menghitungnya berulang kali, berharap jumlahnya berubah. Tetapi tetap sama.
Ia menatap langit-langit rumah.
Dan rasa takut itu kembali.
Takut jatuh lagi.
Takut gagal lagi.
Takut semua perjuangannya sia-sia.
Di tengah sunyi, terdengar ketukan pintu.
Tok… tok… tok…
Jantung Nita berdegup keras.
Ia takut penagih hutang datang lagi.
Dengan langkah pelan, ia membuka pintu.
Di sana berdiri seorang perempuan muda, tetangganya, membawa wajah cemas.
“Nita… maaf malam-malam begini. Aku dengar besok ada acara pengajian besar di masjid. Mereka butuh konsumsi. Bu Rahma bilang kamu jualan gorengan dan kue…”
Nita terdiam.
Perempuan itu melanjutkan, “Mereka pesan banyak. Seratus bungkus. Kamu sanggup?”
Nita membeku.
Seratus bungkus?
Itu bukan pesanan kecil.
Itu kesempatan besar.
Tapi sekaligus…
risiko besar.
Modalnya hampir habis. Tenaganya pun terbatas.
Nita menelan ludah. “Saya… saya tidak tahu…”
Perempuan itu menggenggam tangannya. “Ini peluang, Nita. Bu Rahma bilang kamu bisa. Aku juga percaya.”
Setelah tetangganya pergi, Nita menutup pintu perlahan. Dadanya berdebar. Ia duduk di lantai, berpikir lama.
Kalau ia ambil pesanan itu, ia butuh modal bahan. Ia butuh tenaga ekstra. Tapi kalau ia berhasil, itu bisa jadi langkah besar untuk membayar hutang.
Di dalam hatinya, Nita berbisik, “Ya Allah… apakah ini jalan-Mu?”
Malam itu ia tidak langsung tidur. Ia shalat, lalu duduk lama dalam doa.
“Ya Allah… aku takut. Tapi aku juga tahu, aku tidak boleh terus hidup dalam ketakutan. Jika ini pintu dari-Mu, maka bukakanlah…”
Pagi-pagi sekali Nita pergi ke rumah Bu Rahma. Dengan wajah gugup ia menceritakan pesanan itu.
Bu Rahma tersenyum lebar.
“Nita… inilah yang aku bilang. Allah mengirim jalan lewat arah yang tak terduga.”
“Tapi bu… saya tidak punya modal cukup…”
Bu Rahma mengangguk pelan. “Aku bantu. Bukan dengan memberi, tapi dengan mendukung. Kita cari bahan bersama. Ibu-ibu majelis juga bisa membantu memasak.”
Nita terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang hangat.
Kebersamaan.
Dukungan.
Sesuatu yang dulu ia cari dari saudara, tetapi Allah kirim lewat orang lain.
Hari itu dapur Bu Rahma penuh dengan ibu-ibu yang membantu. Ada yang mengaduk adonan, ada yang membungkus, ada yang menggoreng. Suasana ramai dengan tawa kecil dan doa-doa.
Nita hampir menangis.
“Kenapa kalian mau bantu saya?” tanyanya lirih.
Bu Rahma menatapnya lembut. “Karena kamu saudara kami dalam iman. Dan Allah menyuruh kita saling menguatkan.”
Pesanan seratus bungkus itu selesai tepat waktu. Nita mengantarkannya ke masjid dengan tangan gemetar.
Saat panitia menerima, mereka tersenyum puas.
“Enak sekali, Bu. Kalau acara lain nanti, kami pesan lagi ya.”
Nita hampir tidak percaya.
Ketika uang pembayaran diberikan, tangannya gemetar lebih hebat.
Itu jumlah yang jauh lebih besar daripada dagangannya sehari-hari.
Di jalan pulang, air matanya jatuh.
Bukan karena sedih.
Tetapi karena lega.
Karena akhirnya, setelah sekian lama merasa dunia menutup pintu, Allah membukakan satu pintu yang nyata.
Malam itu Nita duduk di rumah, memandang uang itu lama. Ia memegangnya dengan hati-hati, seolah takut ini hanya mimpi.
Ia lalu bersujud.
“Ya Allah… Engkau benar-benar tidak pernah meninggalkanku…”
Ia menangis dalam sujud.
Tangis syukur.
Tangis seorang perempuan yang hampir menyerah, tetapi Allah kuatkan tepat di ujungnya.
Dan malam itu, Nita sadar satu hal:
Kadang hidup memang meruntuhkan kita sampai hampir habis.
Agar kita tahu…
yang membuat kita berdiri bukan uang.
Bukan manusia.
Tetapi Allah.
BAB 6 — Hidup Tidak Berakhir di Titik Jatuh
“Tidak ada doa yang benar-benar hilang. Semua akan kembali… dalam bentuk jalan, kekuatan, dan waktu yang Allah pilih.”
Hari-hari setelah pesanan besar itu terasa berbeda bagi Nita. Bukan karena hidupnya tiba-tiba berubah menjadi mudah, bukan pula karena hutangnya langsung lunas. Tetapi karena di dalam dirinya, ada sesuatu yang telah bergeser. Ia tidak lagi memandang hidup dengan mata seorang perempuan yang kalah. Ia mulai melihat hidup sebagai perjalanan panjang yang masih bisa diperjuangkan.
Pesanan dari masjid itu menjadi awal. Setelah acara itu, kabar tentang dagangan Nita menyebar pelan-pelan. Ada yang memesan untuk arisan, ada yang meminta untuk acara sekolah, ada yang ingin titip jual di warung. Nita tidak langsung kaya. Tidak. Tetapi ia mulai stabil. Ia mulai punya pemasukan yang lebih jelas.
Setiap kali ia menerima pesanan, ia selalu teringat malam-malam gelap ketika ia menangis sendirian. Ia teringat bagaimana ia merasa hina karena miskin, bagaimana saudara menjauh ketika ia butuh, bagaimana ia pernah berpikir bahwa hidupnya sudah selesai.
Namun Allah membuktikan sesuatu yang lain.
Allah membuktikan bahwa hidup tidak berhenti di titik jatuh.
Nita mulai mencicil hutang dengan lebih teratur. Meski sedikit demi sedikit, angka itu perlahan berkurang. Penagih hutang yang dulu datang dengan wajah keras, kini tidak lagi semarah sebelumnya. Mereka melihat Nita bukan lagi perempuan yang hanya menunduk dalam putus asa, tetapi perempuan yang sedang berusaha.
Suatu sore, ketika Nita sedang membereskan dagangan, anaknya duduk di sampingnya.
“Ibu…”
Nita menoleh. “Iya, Nak?”
Anaknya memegang tangan ibunya kecil-kecil. “Aku dulu takut ibu sedih terus…”
Nita terdiam.
Anaknya melanjutkan, “Tapi sekarang ibu sering senyum. Aku senang.”
Kalimat itu membuat dada Nita sesak. Ia memeluk anaknya erat.
“Ibu masih berjuang, Nak. Tapi ibu janji… ibu tidak akan menyerah.”
Anaknya mengangguk pelan, lalu berkata, “Aku bangga sama ibu.”
Dan Nita hampir menangis lagi. Karena ia sadar, mungkin dunia pernah membuatnya merasa tidak berharga. Tetapi bagi anak-anaknya, ia adalah segalanya.
Di suatu malam yang tenang, Nita kembali duduk di depan rumah, menghirup udara segar seperti dulu. Pagi dan malam selalu menjadi saksi renungannya. Tetapi kini renungannya berbeda.
Dulu ia duduk dengan luka dan pertanyaan: “Kenapa aku begini, Ya Allah?”
Sekarang ia duduk dengan rasa syukur: “Ternyata Engkau selalu ada, Ya Allah.”
Ia menatap langit, lalu tersenyum pelan.
Ia sadar, kemiskinan memang pernah membuatnya merasa hina. Tekanan ekonomi memang pernah membuatnya serba salah. Saudara memang pernah menjauh. Tetapi semua itu tidak menghancurkannya. Semua itu justru membentuknya.
Nita belajar bahwa manusia bisa pergi kapan saja. Dukungan bisa hilang kapan saja. Tetapi Allah tidak pernah pergi.
Allah selalu tinggal.
Di setiap air mata yang jatuh.
Di setiap sujud yang panjang.
Di setiap langkah kecil yang dilakukan dengan sabar.
Bu Rahma pernah berkata padanya, “Bangkit itu pelan, tapi nyata.”
Dan Nita sekarang mengerti.
Bangkit bukan berarti hidup langsung sempurna.
Bangkit adalah ketika seseorang tetap berjalan meski takut.
Bangkit adalah ketika seseorang tetap berusaha meski dunia menutup pintu.
Bangkit adalah ketika seseorang percaya bahwa pertolongan Allah pasti datang, meski tidak selalu cepat.
Nita menutup matanya sejenak, lalu berbisik dalam hati:
“Ya Allah… terima kasih karena Engkau tidak membiarkanku berhenti di titik jatuh.”
Dan untuk semua perempuan di luar sana yang sedang berada di posisi Nita dulu…
yang merasa hina karena miskin…
yang merasa sendiri karena ditinggalkan…
yang merasa hidup terlalu berat…
Nita ingin berkata:
Hidupmu belum selesai.
Kesulitanmu bukan akhir.
Air matamu tidak sia-sia.
Karena Allah melihat.
Allah mendengar.
Dan Allah selalu punya jalan.
Mungkin hari ini kamu masih di titik gelap.
Tetapi percayalah…
pagi akan datang.
Dan harapan akan kembali.
Seperti Nita…
yang akhirnya mengerti:
Hidup tidak pernah benar-benar sunyi…
selama Allah masih ada di hati.
Penutup untuk Pembaca
Terima kasih sudah membersamai kisah Nita sampai akhir.
Kisah ini mungkin hanya rangkaian kata, tetapi di luar sana… ada banyak “Nita” yang benar-benar hidup. Perempuan-perempuan yang berjuang dalam diam, menahan luka dalam senyum, dan tetap berdiri meski dunia terasa berat.
Jika Anda sedang berada di fase sulit seperti Nita—merasa sendiri, merasa gagal, merasa hidup tidak adil—ingatlah satu hal:
Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Kadang pertolongan tidak datang dalam bentuk yang kita minta. Kadang dukungan tidak muncul dari orang yang kita harapkan. Tetapi Allah selalu punya cara yang lembut dan tak terduga untuk membuka jalan.
Mungkin hari ini Anda masih berada di titik gelap.
Masih menangis dalam sujud.
Masih memikul beban yang tidak terlihat orang lain.
Namun percayalah…
Hidup tidak berhenti di titik jatuh.
Harapan tidak pernah benar-benar mati.
Dan setiap langkah kecil yang Anda lakukan hari ini adalah bagian dari perjalanan besar yang Allah siapkan.
Semoga kisah Nita menjadi pengingat, bahwa seberat apa pun ujian, selalu ada pagi setelah malam, selalu ada jalan setelah sempit, dan selalu ada rahmat Allah setelah sabar.
Tetaplah bertahan.
Tetaplah berdoa.
Tetaplah berjalan.
Karena Anda lebih kuat dari yang Anda kira.